You are on page 1of 18

PENDAHULUAN

Secara umum persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup dari uterus kedunia luar. Sebab-sebab terjadinya persalinan sampai kini masih
merupakan teori yang kompleks. Pengaruh prostaglandin, faktor humoral, struktur uterus,
sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-fakotor

yang

mengakibatkan partus.
Persalinan dimulai ( Inpartu ) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan
perubahan pada serviks dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Dalam
persalinan terdiri dari empat kala yaitu kala I atau kala pembukaan, kala II atau kala
pengeluaran, kala III atau kala uri, dan kala IV atau masa 1 jam setelah plasenta lahir.

BAB II
PARTUS LAMA

1. Pengertian
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau
lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24jam pada primigradiva,
dan lebih dari 18 jam pada multigradiva.

2. Epidemiologi
A. Orang
Penelitian Gessesssew dan Mesfin di RS Adigrat Zonal tahun 2001 diperoleh 195 kasus
partus tak maju, 114 kasus terjadi pada wanita usia 20-34 tahun dengan proporsi 58,4%, 60
kasus terjadi pada wanita usia > 34 tahun dengan proporsi 30,8% dan 21 kasus terjadi pada
wanita usia < 20 tahun dengan proporsi 10,8%. Sedangkan pada paritas diperoleh 90 kasus
terjadi pada paritas 1-4 dengan proporsi 46,2%, 59 kasus terjadi pada paritas 0 dengan
proporsi 30,2% dan 46 kasus terjadi pada paritas 5 dengan proporsi 23,6%.
Penelitian Simbolon di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang tahun 2007 diperoleh
273 kasus partus tak maju, 201 kasus terjadi pada wanita usia 20-35 tahun dengan proporsi
73,6%, 63 kasus terjadi pada wanita usia > 35 tahun dengan proporsi 23,1% dan 9 kasus
terjadi pada wanita usia < 20 tahun dengan proporsi 3,3%.
Sedangkan pada paritas diperoleh 118 kasus terjadi pada paritas 0 dengan proporsi
43,2%, 98 kasus terjadi pada paritas 1-3 dengan proporsi 35,9% dan 57 kasus terjadi pada
paritas > 3 dengan proporsi 20,9%.

B. Tempat dan Waktu


Di negara-negara maju panggul kecil telah berkurang sebagai penyebab distosia. namun
pada kelompok ekonomi lemah di negara maju dan penduduk kota yang miskin di negara
berkembang, panggul kecil masih ada dan menyebabkan partus tak maju. Di negara-negara
maju 70% wanita bentuk panggul normal dan di Asia 80% wanita bentuk panggul normal.
Penelitian Adhikari dkk di RS di India tahun 1993-1998 diperoleh 43.906 persalinan terdapat
245 kasus partus tak maju dengan proporsi 1%. Penelitian Ikojo dkk di RS Pendidikan Enugu
Nigeria tahun 1999-2004 diperoleh 4.521 persalinan terdapat 120 kasus partus tak maju
dengan proporsi 2,7%.
Di Indonesia proporsi partus tak maju 9% dari penyebab kematian ibu langsung.
Penelitian Olva di RSU Unit Swadana Subang Jawa Barat tahun 2001 diperoleh 400
persalinan terdapat 200 kasus partus tak maju dengan proporsi 50%. Hasil penelitian
Sidabutar di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2000-2004 diperoleh proporsi partus tak maju
19,7% yaitu 1.418 kasus dari 7.163 persalinan. Hasil penelitian Idriyani di RSIA Fatimah
Makasar tahun 2006 diperoleh proporsi partus tak maju 2,9% yaitu 74 kasus dari 2.552
persalinan.

3. Faktor resiko partus lama


Host
A. Usia
Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu untuk hamil dan melahirkan adalah 2035 tahun karena pada usia ini secara fisik dan psikologi ibu sudah cukup matang dalam
menghadapi kehamilan dan persalinan. Usia <20 tahun organ-organ reproduksi belum
sempurna secara keseluruhan dan perkembangan kejiwaan belum matang sehingga belum
siap menjadi ibu dan menerima kehamilannya. Usia >35 tahun organ reproduksi mengalami
perubahan yang terjadi karena proses menuanya organ kandungan dan jalan lahir kaku atau
tidak lentur lagi. Selain itu peningkatan umur seseorang akan mempengaruhi organ yang vital
seperti sistim kardiovaskuler, ginjal dll (pada umur tersebut mudah terjadi penyakit pada ibu
yang akan memperberat tugas organ-organ tersebut sehingga berisiko mengalami komplikasi
pada ibu dan janin).
3

Sesuai dengan hasil penelitian di Makassar yang dilakukan oleh Idriyani tahun 2006
dengan menggunakan desain penelitian case control study menemukan ibu yang mengalami
partus tak maju kemungkinan 1,8 kali lebih besar berumur < 20 tahun dan > 35 tahun
dibandingkan umur 20-35 tahun.41

B. Paritas
Paritas 1-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal.
Paritas 0 dan paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian maternal yang lebih tinggi.
Lebih tinggi paritas lebih tinggi kematian maternal. Ibu hamil yang memiliki paritas 4 kali
atau lebih, kemungkinan mengalami gangguan kesehatan, kekendoran pada dinding perut dan
kekendoran dinding rahim sehingga berisiko mengalami kelainan letak pada janin, persalinan
letak lintang, robekan rahim, persalinan macet dan perdarahan pasca persalinan.
Sesuai dengan hasil penelitian di Subang Jawa Barat yang dilakukan oleh Olva tahun
2001 dengan menggunakan desain penelitian case control study menemukan ibu yang
mengalami partus tak maju kemungkinan 1,3 kali lebih besar yang paritasnya 0 dan > 3
dibandingkan paritas 1-3.

C. Riwayat Persalinan
Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan persalinan prematur, seksio caesarea,
bayi lahir mati, persalinan lama, persalinan dengan induksi serta semua persalinan tidak
normal yang dialami ibu merupakan risiko tinggi pada persalinan berikutnya.
Sesuai dengan hasil penelitian di Medan yang dilakukan oleh Sarumpaet tahun 19981999 dengan menggunakan desain penelitian case control study menemukan ibu yang
mengalami komplikasi persalinan kemungkinan 7,3 kali lebih besar mempunyai riwayat
persalinan jelek dibandingkan yang tidak mempunyai riwayat persalinan jelek. Riwayat
persalinan jelek pada kasus didapatkan partus tak maju 24,6%.
Hasil penelitian di Kasongo Zaire tahun 1971-1975, Ibu yang memiliki riwayat
persalinan yang buruk kemungkinan 10 kali lebih besar untuk mengalami persalinan macet
dari pada ibu yang tidak memiliki riwayat persalinan buruk.
4

D. Anatomi Tubuh Ibu Melahirkan


Ibu bertubuh pendek < 150 cm yang biasanya berkaitan dengan malnutrisi dan
terjadinya deformitas panggul merupakan risiko tinggi dalam persalinan, tinggi badan < 150
cm berkaitan dengan kemungkinan panggul sempit. Tinggi badan Ibu < 145 cm terjadi
ketidakseimbangan antara luas panggul dan besar kepala janin.
Sebagian besar kasus partus tak maju disebabkan oleh tulang panggul ibu terlalu sempit
sehingga tidak mudah dilintasi kepala bayi waktu bersalin. Proporsi wanita dengan rongga
panggul yang sempit menurun dengan meningkatnya tinggi badan, persalinan macet yang
disebabkan panggul sempit jarang terjadi pada wanita tinggi.
Penelitian di Nigeria Utara dari seluruh ibu yang mengalami persalinan macet, proporsi
wanita dengan panggul sempit memiliki tinggi badan < 145 cm sebesar 40%, tinggi badan
150 cm sebesar 14% dan tinggi badan 160 cm sebesar 1%.

E. Pendidikan
Ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi lebih memperhatikan kesehatannya selama
kehamilan dibandingkan dengan ibu yang tingkat pendidikannya rendah. Pendidikan ibu
merupakan salah satu faktor penting dalam usaha menjaga kesehatan ibu, anak dan juga
keluarga. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu semakin meningkat juga pengetahuan dan
kesadarannya dalam mengantisipasi kesulitan kehamilan dan persalinan sehingga termotivasi
untuk melakukan pengawasan kehamilan secara berkala dan teratur.

F. Agent
Partus tak maju disebabkan faktor mekanik pada persalinan yaitu terhambatnya jalan
lahir janin. Terhambatnya jalan lahir disebabkan ketidakseimbangan bentuk dan ukuran
panggul (passage), besarnya janin (passenger) dan kontraksi uterus (power). Bentuk dan
ukuran panggul yang sempit menghambat jalan lahir janin, panggul yang sempit dipengaruhi
faktor nutrisi dalam pembentukan tulang panggul, penyakit dan cedera pada tulang panggul.

G. Enviroment
Keadaan Sosial ekonomi
Derajat sosial ekonomi masyarakat akan menunjukan tingkat kesejahteraan dan
kesempatannya dalam menggunakan pelayanan kesehatan. Jenis pekerjaan ibu maupun
suaminya akan mencerminkan keadaan sosial ekonomi keluarga. Berdasarkan jenis pekerjaan
tersebut dapat dilihat kemampuan mereka terutama dalam pemenuhan makanan bergizi,
khususnya bagi ibu hamil, pemenuhan kebutuhan makanan bergizi sangat berpengaruh
terhadap kehamilannya. Kekurangan gizi dapat berakibat buruk pada ibu dan anak, misalnya
terjadi anemia, keguguran, perdarahan saat hamil. sesudah hamil, infeksi dan partus macet.
Perbedaan pemukiman antara daerah perkotaan dan pedesaan ternyata mempengaruhi
tinggi rendahnya kematian maternal. Kemiskinan, ketidaktahuan, kebodohan, transportasi
yang sulit, ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik, kurangnya fasilitas pelayanan
kesehatan, jarak rumah yang jauh untuk mendapatkan bantuan tenaga ahli juga
mempengaruhi persalinan, kebiasaan kawin muda, kepercayaan masyarakat dan praktik
tradisional, pantangan makanan tertentu pada wanita hamil merupakan faktor ikut berperan.

Ketersediaan Tenaga Ahli dan Rujukan


Angka kematian maternal yang tinggi disuatu negara sesungguhnya mencerminkan
rendahnya mutu pelayanan. Pelayanan kesehatan mempunyai peran yang sangat besar dalam
kematian materal. Faktor tersebut meliputi : kurangnya kemudahan untuk pelayanan
kesehatan maternal, asuhan medik yang kurang dan kurangnya tenaga yang terlatih. Petugas
kesehatan yang tidak terlatih untuk mengenali persalinan macet (partograf tidak digunakan).
Kegagalan dalam bertindak terhadap faktor risiko dan penundaan dalam merujuk ke tingkat
pelayanan yang lebih tinggi (misalnya untuk seksio caesarea) merupakan fakor partus tak
maju.

4. Etiologi
Sebab terjadinya partus kasep ini adalah multikomplek, dan tentu saja bergantung
pada pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan yang baik, dan penatalaksanaannya.
Faktor-faktor penyebab antara lain:
-

Kelainan letak janin

Kelainan-kelainan panggul

Kelainan his

Pimpinan partus yang salah

Janin besar atau ada kelainan kongenital

Primitua

Perut gendut, grandemulti

Ketuban pecah dini.

5. Gejala klinik
Gejala utama yang perlu diperhatikan pada persalinan kasep:
1.

Dehidrasi.

2.

Tanda infeksi:

Temperatur tinggi

Nadi dan pernafasan cepat

Abdomen meteorismus

3.

Pemeriksaan abdomen:

Meteorismus

Lingkaran bandle tinggi

Nyeri segmen bawah rahim

4.

Pemeriksaan lokal vulva-vagina:

Edema vulva

Cairan ketuban berbau

Cairan ketuban bercampur mekonium

5.

Pemeriksaan dalam :

Edema serviks

Bagian terendah sulit didorong keatas


7

6.

Terdapat kaput pada bagian terendah


Keadaan janin dalam rahim:

Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif

Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau

Kaput suksedaneum yang besar

Moulage kepala yang hebat

Asfiksia sampai terjadi kematian

7.

Akhir dari persalinan kasep adalah:

Ruptura uteri imminen sampai ruptura uteri

Kematian karena perdarahan, dan atau infeksi

6. Akibat persalinan yang lama:


Janin:
Akibat untuk janin meliputi trauma, asidosis, kerusakan hipoksik, infeksi dan peningkatan
mortalitas serta morbiditas perinatal.
Ibu:
Akibat untuk ibu adalah penurunan semangat, kelelahan, dehidrasi, asidosis, infeksi dan
resiko ruptura uteri. Perlunya intervensi bedah meningatkan mortalitas dan morbiditas.
Ketoasidosis dengan sendirinya dapat mengakibatkan aktivitas uterus yang buruk dan
memperlama persalinan.

Penyulit Persalinan pada ibu


a. Ketuban pecah dini
Apabila pada panggul sempit, pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh janin
ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil. Bila kepala tertahan pada pintu atas panggul,
seluruh tenaga dari uterus diarahkan ke bagian membran yang menyentuh os internal,
akibatnya ketuban pecah dini lebih mudah terjadi.
b. Pembukaan serviks yang abnormal
8

Pembukaan serviks terjadi perlahan-lahan atau tidak sama sekali karena kepala janin
tidak dapat turun dan menekan serviks. Pada saat yang sama, dapat terjadi edema serviks
sehingga kala satu persalinan menjadi lama.
Namun demikian kala satu dapat juga normal atau singkat, jika kemacetan persalinan
terjadi hanya pada pintu bawah panggul. Dalam kasus ini hanya kala dua yang menjadi lama.
Persalinan yang lama menyebabkan ibu mengalami ketoasidosis dan dehidrasi. Seksio
caesarea perlu dilakukan jika serviks tidak berdilatasi. Sebaliknya, jika serviks berdilatasi
secara memuaskan, maka ini biasanya menunjukan bahwa kemacetan persalinan telah teratasi
dan kelahiran pervaginam mungkin bisa dilaksanakan (bila tidak ada kemacetan pada pintu
bawah panggul).
c. Bahaya ruptur uterus
Ruptur uterus, terjadinya disrupsi dinding uterus, merupakan salah satu dari
kedaruratan obstetrik yang berbahaya dan hasil akhir dari partus tak maju yang tidak
dilakukan intervensi. Ruptur uterus menyebabkan angka kematian ibu berkisar 3-15% dan
angka kematian bayi berkisar 50%.
Bila membran amnion pecah dan cairan amnion mengalir keluar, janin akan didorong
ke segmen bawah rahim melalui kontraksi. Jika kontraksi berlanjut, segmen bawah rahim
akan merengang sehingga menjadi berbahaya menipis dan mudah ruptur. Namun demikian
kelelahan uterus dapat terjadi sebelum segmen bawah rahim meregang, yang menyebabkan
kontraksi menjadi lemah atau berhenti sehingga ruptur uterus berkurang.
Ruptur uterus lebih sering terjadi pada multipara jarang terjadi, pada nulipara terutama
jika uterus melemah karena jaringan parut akibat riwayat seksio caesarea. Ruptur uterus
menyebabkan hemoragi dan syok, bila tidak dilakukan penanganan dapat berakibat fatal.
d. Fistula
Jika kepala janin terhambat cukup lama dalam pelvis maka sebagian kandung kemih,
serviks, vagina, rektum terperangkap diantara kepala janin dan tulang-tulang pelvis mendapat
tekanan yang berlebihan. Akibat kerusakan sirkulasi, oksigenisasi pada jaringan-jaringan ini
menjadi tidak adekuat sehingga terjadi nekrosis, yang dalam beberapa hari diikuti dengan
pembentukan fistula. Fistula dapat berubah vesiko-vaginal (diantara kandung kemih dan
vagina), vesiko-servikal (diantara kandung kemih dan serviks) atau rekto-vaginal (berada
9

diantara rektum dan vagina). Fistula umumnya terbentuk setelah kala II persalinan yang
sangat lama dan biasanya terjadi pada nulipara, terutama di negara-negara yang kehamilan
para wanitanya dimulai pada usia dini.
e. Sepsis puerferalis
Sepsis puerferalis adalah infeksi pada traktus genetalia yang dapat terjadi setiap saat
antara awitan pecah ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan
atau abortus dimana terdapat gejala-gejala : nyeri pelvis, demam 38C atau lebih yang diukur
melalui oral kapan saja cairan vagina yang abnormal, berbau busuk dan keterlambatan dalam
kecepatan penurunan ukuran uterus.
Infeksi merupakan bagian serius lain bagi ibu dan janinya pada kasus partus lama dan
partu tak maju terutama karena selaput ketuban pecah dini. Bahaya infeksi akan meningkat
karena pemeriksaan vagina yang berulangulang.

Pengaruh Partus Lama Pada Bayi


a. Perubahan-perubahan tulang-tulang kranium dan kulit kepala
Akibat tekanan dari tulang-tulang pelvis, kaput suksedaneum yang besar atau
pembengkakan kulit kepala sering kali terbentuk pada bagian kepala yang paling dependen
dan molase (tumpang tindih tulang-tulang kranium) pada kranium janin mengakibatkan
perubahan pada bentuk kepala. Selain itu dapat terjadi sefalhematoma atau penggumpalan
darah di bawah batas tulang kranium, terjadi setelah lahir dan dapat membesar setelah lahir.
b. Kematian Janin
Jika partus tak maju dibiarkan berlangsung lebih dari 24 jam maka dapat
mengakibatkan kematian janin yang disebabkan oleh tekanan yang berlebihan pada plasenta
dan korda umbilikus. Janin yang mati, belum keluar dari rahim selama 4-5 minggu
mengakibatkan pembusukan sehingga dapat mencetuskan terjadinya koagulasi intravaskuler
diseminata (KID) keadaan ini dapat mengakibatkan hemoragi, syok dan kematian pada
maternal.

10

7. Tanda Partus tak maju


Pada kasus persalinan macet/tidak maju akan ditemukan tanda-tanda kelelahan fisik dan
mental yang dapat diobservasi dengan :
a. Dehidrasi dan Ketoasidosis (ketonuria, nadi cepat, mulut kering)
b. Demam
c. Nyeri abdomen
d. Syok (nadi cepat, anuria, ekteremitas dingin, kulit pucat, tekanan darah
rendah) syok dapat disebabkan oleh ruptur uterus atau sepsis.

Kala Persalinan,
Kala 1 (kala pembukaan)
Dibagi atas 2 Fase
a) Fase Laten: dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm
berlangsung dalam 7-8 jam.
b) Fase Aktif: berlangsung 6 jam dan dibagi atas 3 sub fase:
(1) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm
(2) Periode dilatasi maksimal : selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm
(3) Periode deselerasi : berlangsung lambat dalam 2 jam, pembukaan menjadi 10 cm atau
lengkap
Pada primigravida kala 1 berlangsung 13 jam sedangkan pada multigravida 7 jam

Kala II (Kala Pengeluaran Janin)


Kepala telah turun memasuki ruang panggul sehingga terjadilah tekanan padaotot-otot dasar
panggul yang menimbulkan rasa ingin mengejan. Tekanan pada rektum akibat penurunan

11

kepala tersebut, menyebabkan ibu ingin mengejan seperti mau buang air besar, dengan tanda
anus membuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perinium
meregang. Adanya his yang terpimpin, akan lahirlah kepala yang diikuti seluruh badan bayi.
Kala II pada primi
berlangsung 1 jam dan pada multi jam.

Kala III (Kala Pengeluaran Uri)


Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus
uteri setinggi pusat dan berisi plasenta. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan
pengeluaran uri. Proses biasanya berlangsung selama 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir
dan keluar spontan atau dengan tekanan.

Kala IV (Kala Pengawasan)


Kala IV yaitu 1 jam setelah plasenta lahir lengkap. Ada 7 pokok hal penting yang harus
diperhatikan:
a) Kontraksi uterus
b) Tidak ada perdarahan dari jalan lahir
c) Plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap
d) Kandung kemih kosong
e) Luka perinium terawat
f) Bayi dalam keadaan baik
g) Ibu dalam keadaan baik

12

8. Diagnosis kelainan partus lama


Tabel diagnosis Kelainan Partus Lama
Tanda dan Gejala

Diagnosis

Serviks tidak membuka

Belum inpartu

Tidak didapatkan His/His tidak teratur


Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm Fase Laten memanjang
sesudah 8 jam in partu dengan his yang
teratur
Pembukaan, serviks melewati kanan garis Fase aktif memanjang
waspada partograf
Frekuensi his kurang dari 3 his per 10 menit Inersia uteri
dan lamanya kurang dari 40 detik
Pembukaan serviks dan turunnya bagian Disporposi sefalopervik
janin

yang

dipresentasi

tidak

maju,

sedangkan his baik

Obstruksi kepala

Pembukaan serviks dan turunnya bagian


janin yang dipresentasikan tidak maju
dengan kaput, terdapat moulase hebat, edema Malpresentasi atau malposisi
seviks, tanda ruptura uteri imminens, gawat
janin
Kelainan presentasi (selain verteks dengan
oksiput anterior)
Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin

Kala II lama

mengejan, tetapi tidak ada kemajuan


penurunan

13

PEMBAHASAN
Penanganan partus lama
a. False labor (Persalinan Palsu/Belum inpartu)
Bila his belum teratur dan porsio masih tertutup, pasien boleh pulang. Periksa adanya infeksi
saluran kencing, KPD dan bila didapatkan adanya infeksi obati secara adekuat. Bila tidak
pasien boleh rawat jalan.
b. Prolonged laten phase (fase laten yang memanjang)
Diagnosis fase laten memanjang dibuat secara retrospektif. Bila his berhenti disebut
persalinan palsu atau belum inpartu. Bilamana kontraksi makin teratur dan pembukaan
bertambah sampaim 3 cm, dan disebut fase laten. Dan apabila ibu berada dalam faselaten
lebih dari 8 jam dan tak ada kemajuan, lakukan pemeriksaan dengan jalan melakukan
pemeriksaan serviks. :
1) Bila didapat perubahan dalam penipisan dan pembukaan serviks, lakukan drip oksitosin
dengan 5 unit dalam 500 cc dekstrose (atau NaCl) mulai dengan 8 tetes permenit, setiap 30
menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (maksimal 40 tetes/menit) atau berikan preprat
prostaglandin, lakukan penilaian ulang setiap 4jam. Bila ibu tidak masuk fase aktif setelah
dilakukan pemberian oksitosin, lakukan secsio sesarea.
2) Bila tidak ada perubahan dalam penapisan dan pembukaan serviks serta tak didapat tanda
gawat janin, kaji ulang diagnosisnya kemungkinan ibu belum dalam keadaan inpartu.
3) Bila didapatkan tanda adanya amnionitis, berikan induksi dengan oksitosin 5U dan 500 cc
dekstrose (atau NaCl) mulai dengan 8 tetes permenit, setiap 15 menit ditambah 4 tetes sampai
adekuat (maksimal 40 tetes/menit) atau berikan preprat prostaglandin, serta obati infeksi
dengan ampisilin 2 gr IV sebagai dosis awal dan 1 gr IV setiap 6 jam dan gentamicin 2x80
mg.
c. Prolonged active phase (fase aktif memanjang)
Bila tidak didapatkan tanda adanya CPD (chepalo Pelvic Disporportion) atau adanya
obstruksi :

14

1) Berikan berikan penanganan umum yang kemungkinan akan memperbaiki kontraksi dan
mempercepat kemajuan persalinan
2) Bila ketuban intak, pecahkan ketuban. Bila kecepatan pembukaan serviks pada waktu fase
aktif kurang dari 1 cm/jam, lakukan penilaian kontraksi uterusnya.
d. Kontraksi uterus adekuat
Bila kontraksi uterus adekuat (3 dalam 10 menit dan lamanya lebih dari 40 detik)
pertimbangkan adanya kemungkinan CPD, obstruksi, malposisi atau malpresentasi.
e. Chefalo Pelvic Disporpotion (CPD)
CPD terjadi karena bayi terlalu besar atau pelvis kecil. Bila dalam persalinan terjadi CPD
akan kita dapatkan persalinan yang macet. Cara penilaian pelvis yang baik adalah dengan
melakukan partus percobaan (trial of labor) kegunaan pelvimetri klinis terbatas.
1) Bila diagnosis CPD ditegakkan, lahirkan bayi dengan SC
2) Bila bayi mati lakukan kraniotomi atau embriotomi (bila tidak mungkin lakukan SC)
f. Obstruksi (Partus Macet)
Bila ditemukan tanda-tanda obstruksi :
1) Bayi hidup lahirkan dengan SC
2) Bayi mati lahirkan dengan kraniotomi/embriotomi.
g. Malposisi/Malpresentasi
Bila tejadi malposi atu malpresentasi pada janin secara umum :
1) Lakukan evaluasi cepat kondisi ibu (TTV)
2) Lakukan evaluasi kondisi janin DJJ, bila air ketuban pecah lihat warna air ketuban :
a) Bila didapatkan mekoneum awasi yang ketat atau intervensi
b) Tidakada cairan ketuban pada saat ketuban pecah menandakan adanya pengurangan
jumlah air ketuban yang ada hubungannya dengan gawat janin.

15

3) Pemberian bantuan secara umum pada ibu inpartu akan memperbaiki kontraksi atau
kemajuan persalinan
4) Lakukan penilaian kemajuan persalinan memakai partograf
5) Bila terjadi partus lama lakukan penatalaksanaan secar spesifik sesuai dengan keadaan
malposisi atau malpresentasi yang didapatkan.
h. Kontraksi uterus tidak adekuat (inersia uteri)
Bila kontraksi uterus tidak adekuat dan disporporsi atau obstruksi bias disingkirkan,
penyebab paling banyak partus lama adalah kontraksi yang tidak adekuat
i.

Kala II memanjang (prolonged explosive phase)

Upaya mengejan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah oksigen ke
plasenta, maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan, mengedan dan
menahan nafas yang terlalu lama tidak dianjurkan. Perhatikan DJJ bradikardi yang lama
mungkin terjadi akibat lilitan tali pusat. Dalam hal ini lakukan ekstraksi vakum / forcep bila
syarat memenuhi.
Bila malpresentasi dan tanda obstruksi biasa disingkirkan, berikan oksitosin drip. Bila
pemberian oksitosin drip tidak ada kemajuan dalam 1 jam, lahirkan dengan bantuan ekstraksi
vacuum / forcep bila persyaratan terpanuhi. Lahirkan dengan secsio sesarea

16

KESIMPULAN
Partus lama merupakan persalinan yang sulit yang ditandai adanya hambatan kemajuan
dalam persalinan, kemajuan persalinan dinilai dari kemajuan pembukaan serviks, kemajuan
bagian terendah janin, dan bila janin sudah sampai dibidang hodge III atau lebih rendah
dinilai dari ada atau tidaknya putaran paksi dalam.
Penyebab dari persalinan lama dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu: Persalinan
lama karena kekutan kekuatan yang mendorong anak tidak memadai, seperti: kelainan his,
kekuatan mengejan kurang kuat, adanya kelainan letak atau fisik janin, adanya kelinan pada
jalan lahir.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas penilaian faktor-faktor penyebab partus lama
dan atas dasar pemeriksaan radiologis.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan partus lama bisa berupa infeksi intra partum, ruptur
uteri, cincin retraksi patologis, pembentukan fistula, cedera otot dasar panggul,kaput
suksedaneum dan moulase kepala janin.
Pengelolaan partus lama terdiri dari pengelolaan umum dan khusus.

17

DAFTAR PUSTAKA
1.

A.C Agudelo, J.M Belizan Maternal morbidity and mortality, 2000

2.

B. Murti, Prinsip dan metode riset epidemiologi, 1997.

3.

B.S Soekiman, M. Hakimi, M. Arrianto, Tinjauan Partus lama, 1976.

4.

B.W Soeprono Index prediktif untuk partus lama, 1997

5.

D.G Kleinbum, L.L Kupper, H. Morgaenstern, Epidemiologic Research:


Principles and 1982.

6.

D.G. Kleinbum, Logistic Regression: A Self-learning test, 1994.

7.

Depkes R.I, Pedoman Pelayanan Kesehatan Perinatal Di Wilayah Kerja


Puskesmas, 1994.

8.

E. Royston, Armstrongs, Preventing Maternal Deaths, 1994.

9.

E.F. Hamilton, E. Bujold, H. McMamara, R Gauthier, R.W. Platt Dystocia


Among

Women With Symptomatic Uterine Rupture, 1899.

10.

F.A Moeloek, Partograf (Who) Rekan Medik Grafik Dan Catatan, 1991

11.

F.D. Malone, M. Greary, D.Chelmow, J. Stronge, D. Boylan, M. Dalton,


Prolonged Labour In Nuliparas: Lesson Fro Mthe Active Management Of
Labour, 1996

12.

F.G. Cunnningham, P.C. Macdonal, N.E Gant, K.J. Leveno, Gilstrap, Williams
Obstetric, 1997

18