You are on page 1of 3

Pengaruh Temperatur Terhadap Kelistrikan Elektrolit Tomat (Lycopersium

Esculentum Mill ) Bio-Baterai


Eko Saputro*, Teguh Maulana Mukromin, Agus Yulianto, dan Mahardika Prasetya Aji
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
*

Email: lushifersaputro@gmail.com

Abstrak. Dalam penelitian ini untuk mencari pengaruh antara perubahan temperatur dengan beda
potensial atau tegangan dan kuat arus yang dihasilkan buah tomat (lycopersium esculentum mill) sebagai
larutan elektrolit pada bio-baterai. Kita ambil air buah tomat tersebut dengan volum sebesar 125 ml sebelum
dipanaskan, kemudian dimasukan kedalam wadah yang sudah diberikan elektroda-elektroda sebagai kutub
baterai. Larutan tersebut dipanaskan diatas lilin kemudian kita mengukur suhu, tegangan, dan kuat arus yang
dihasilkan. Larutan tersebut dipanaskan dengan temperatur awal
samapai
. Setelah diperoleh data
tempeartur, tegangan, dan kuat arus, data tersebut dibuat dalam bentuk grafik. Dari grafik tersebut dapat
dilihat bagaimanakah hubungan temperatur dengan tegangan dan hubungan temperatur dengan kuat arus pada
larutan tomet tersebut. Dari hasil pengolahan data dapat diambil kesimpulan bahwa temperatur
mempengaruhi tegangan dan kuat arus yang dihasilkan larutan tomat sebagai elektrolit pada bio-baterai.
Semakin tinggi temperatur, semakin bsar pula tegangan dan kuat arus yang dihasilkan oleh larutan tomat
tersebut.
Kata kunci: tomat, temperatur, elektrolit, tegangan, kuat arus, bio-baterai

PENDAHULUAN
Baterai
adalah
suatu
alat
electrochemical yang dapat merubah energi
kimia menjadi energi listrik melalui reaksi
kimia kelistrikan[1]. Baterai merupakan sel
elektrokimia yang mengubah energi kimia
yang disimpan menjadi energi listrik [2].
Energi listrik dapat dihasilkan dari buahbuahan khususnya buah yang mengandung
banyak asam sitrat[3]. Pada dasarnya suatu
larutan asam dapat menghantarkan elektron
dan menghasilkan arus listrik yang dapat
digunakan sebagai bio-baterai.
Dalam
kelistrikan
kita
sering
mendengar
beberapa
kata
yang
berhubungan
dengan
listrik,
yakni
konduktivitas listrik, daya listrik, arus
listrik, beda potensial dan beberapa alat
yang digunakan dalam mengukur besar dari
listrik tersebut
seperti
ampermeter,
voltmeter dan ohmmeter. Konduktivitas
larutan sangat bergantung pada konsentrasi
ion dan suhu air. Semakin besar nilai daya
hantar listrik berarti kemampuan dalam
menghantarkan listrik semakin kuat [4].
Dan menurut F. Icier (2004), hubungan
konduktivitas listrik dan temperatur untuk
setiapkonsentrasi dan tegangan adalah
linear[5].
Kebutuhan
akan
sumber
energi
terbarukan saat ini sangat sangat dibutuhkan
mengingat semakin berkurangnya energi
yang tidak dapat diperbaharui di alam
semakin berkurang setiap tahunnya. Hal ini

tidak menutup kemungkin akan energi


terbarukan dari sektor energi listrik. Banyak
penelitian tentang sumber energi listrik
tersebut dengan memanfaatkan berbagai
ketersediaan bahan di alam ini. Salah
satunya tentang adanya penelitian tentang
sumber energi listrik dari limbah buah yang
banyak terdapat di sekitar kita.
Limbah buah yang tersedia disekitar kita
ini tidak terhitung lagi jumlahnya. Hal ini
memicu bagaimana kita bisa memanfaatkan
limbah buah yang tidak terpakai menjadi
salah atu sumber energi listrik yang dapat
kita manfaatkan untuk keperluan kita seharihari. Limbah yang berupa buah-buahan dan
sayur-sayuran yang sudah membusuk
banyak terlihat di pasar sayur dan buah.
Limbah merupakan suatu bahan yang
terbuang atau dibuang dari suatu sumber
hasil aktivitas manusia atau proses-proses
alam, yang tidak atau belum mempunyai
nilai ekonomi, bahkan limbah dapat
mempunyai nilai ekonomi yang negatif
apabila penanganan untuk membuang atau
membersihkannya memerlukan biaya yang
cukup besar, disamping limbah juga bisa
mencemari lingkungan[ 6 ] .
Energi listrik yang dihasilkan dari
limbah buah ini memang masih terbilang
kecil tegangan maupun kuat arus yang
dihasilkan. Untuk itu diperlukan penelitian
lebih lanjut tentang faktor- faktor yang bias
dilakukan untuk memperbesar tegangan

maupun kuat arus yang dihasilkan. Salah


satunya yaitu ditinjau dari faktor temperatur.

dalam larutan sehingga semakin besar pula


energi listrik yang dihasilkan.

Beberapa buah yang sebelumnya


sudah dilakukan dilakukan penelitian antara
lain:
1. Mangga
Buah mangga dapat hidup di iklim
tropis seperti di Indonesia. Buah ini sering
kita jumpai di pasar maupun toko buah.
Bahkan, hampir setiap rumah di pedesaan
maupun di perkantoran terdapat pohon
mangga. Mangga yang mengandung
HNO3,
bila
dihubungkan
dengan
tembaga/Cu dan seng/Zn maka akan
menghasilkan energi listrik[7].
2. Jeruk
Jeruk adalah semua tumbuhan
berbunga anggota marga Citrus dari
suku Rutaceae
(suku
jeruk-jerukan).
Anggotanya berbentuk pohon dengan
buah yang berdaging dengan rasa masam
yang segar, meskipun banyak di antara
anggotanya yang memiliki rasa manis[8].
Daniel J. Swartling dan Charlotte Morgan
menyatakan bahwa kita dapat menghasilkan
potensial
sekitar
1
volt
dengan
menempelkan uang sen dan paku ke buah
jeruk[9].

METODE PENELITIAN

Tomat (Lycopersicum esculentum


Mill) termasuk tanaman setahun (annual)
yang berarti umurnya hanya untuk satu kali
periode panen. Tanaman ini berbentuk perdu
atau semak dengan panjang bisa mencapai 2
meter. Buah tomat terdiri dari 5-10% berat
kering tanpa air dan 1 persen kulit dan biji.
Jika buah tomat dikeringkan, sekitar 50%
dari berat keringnya terdiri dari gula-gula
pereduksi (terutama glukosa dan fruktosa),
sisanya asam-asam organik, mineral,
pigmen, vitamin dan lipid[10].
Dalam suatu larutan semakin tinggi
temperature yang dberikan terhadap larutan
tersebut maka pergerakan ion larutan
tersebut akan semakin cepat,
khususnya
pada larutan asam. Pada penelitian ini,
penelitian
bermaksut
memanfaatkan
temperature pemanasan larutan asam limbah
tomat untuk mempercepat pergerakan ion
didalam larutan asam limbah tomat tersebut.
Menurut peneliti, semakin cepat ion larutan
bergerak maka semakin cepat pula reaksi
antara katoda dan anoda dengan larutan
asam limbah tomat tersebut. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya reaksi yang cepat

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium


Fisika, Universitas negeri Semarang. Bahan
yang digunakan pada penelitian yaitu buah
tomat sebagai bahan larutan, tembaga dan
seng sebagai elektroda, resistor 100 k, dan
lilin sebagai pemanasnya. Sedangkan alat
yang digunakan berupa wadah untuk larutan
buah tomat, termometer, 2 buah multimeter,
dan tungku pemanas untuk menampung
wadah larutan.
Tahap awal penelitian ini dilakukan
pengambilan air buah tomat dengan volum
sebesar 125 ml. Larutan tersebut sebagai
elektrolit pada bio-baterai. Selanjutnya
larutan elektrolit diberikan seng dan
tembaga sebagai anoda dan katoda.
Kemudian anoda dan katoda tersebut
dihubungkan dengan resistor yang telah
disiapkan.
Kemudian
dalam
larutan
dimasukkan termometer untuk pengukuran
temperatur. Langkah selanjutnya diukur
tegangan dan kuat arus yang dihaasilkan dari
reaksi tersebut. Setelah didapatkan data
temperatur awal, tegangan, dan kuat arus,
larutan dilakukan pemanasan. Kemudian
diukur kembali tegangan dan kuat arus
dengan rentang temperatur 5 . Variasi
dilakukan sampai diperoleh 6 data.
Selanjutnya data tersebut diolah kedalam
bentuk grafik.
HASIL dan PEMBAHASAN
Penelitian ini mencakup pengaruh
temperatur elektrolit dengan tegangan dan
kuat arus yang dihasikan oleh larutan
elektrolit tomat. Penelitian ini mengunakan
resistor 100 k dan dengan jarak elektroda
sejauh 2 cm. Elektrolit yang digunakan
berasal dari buah tomat yang sudah
membusuk.
Data data yang peroleh dibuat dalam
bentuk grafik. Hal ini untuk memudahkan
dalam pembacaan data yang diperoleh dalam
penelitian.
Hasil dari penelitian ini adalah sebagai
berikut.

Semakin tinggi temperatur larutan elektrolit


semakin besar pula kuat arusnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1]Soedojo, P. 1998. Azas-Azas Ilmu Fisika Jilid
2 Listrik Magnet. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada.

Gb. 3.1. grafik hubungan antara temperatur dan


tegangan serta hubungan antara temperatur dan kuat
arus

Dari grafik diatas terlihat bahwa


hubungan antara temperatur dengan
tagangan maupun temperatur dengan kuat
arus adalah linier. Hal ini berarti tegangan
maupun kuat arusnya akan selalu bertambah
seiring dengan penambahan temperatur
sampai batas tertentu.
Pada bio-baterai, cara kerja bio-baterai
mengadopsi cara kerja sel Galvani-Volta.
Jika ada dua elektroda yang berbeda dan
dimasukkan ke elektrolit maka dapat
menghasilkan energi listrik yang merupakan
hasil reaksi kimia yang berlangsung secara
spontan. Elektroda yang digunakan yaitu
seng (Zn) sebagai anoda dan tembaga (Cu)
sebagai katoda. Reaksi pada anoda
menghasilkan
elektron
yang
bebas,
sedangkan pada katoda electron yang bebas
akan diikat. Elektron- elektron bebas yang
terjadi harus dialirkan keluar melalui
penghantar menuju anoda, agar proses
listrik-kimiawi
dapat
berlangsung[11].
Elektron mengalir melalui sirkuit luar
menuju ke katoda dan berpindah ke zat
elektrolit. Zat yang menerima elektron
mengalami reduksi. Dalam elektrolit (sirkuit
dalam), muatan diangkut oleh kation ke
katoda dan anion ke anoda. Begitu reaksi
tersebut terjadi berulang-ulang sehingga
menghasilkan energy listrik[12]. Karena
energi listrik yang dihasilkan berlangsung
secara spontan maka untuk tegangan dan
kuat arus yang dihasilkan memiliki
intensitas peningkatan yang berbeda pula.
KESIMPULAN
Dari hasil yang diperoleh dalam
penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa
semakin tinggi temperatur yang diberikan
pada elektrolit (mendidih) semakin besar
pula tegangan yang dihasilkan. Sedangkan
untuk kuat arus juga berlaku hal yang sama.

[2]Jayashantha, N., Jayasuriya, K.D., dan


ijesundera, R.P. 2012. Biodegradable
Plantain Pith for Galvanic Cells. Srilanka.
Proceedings
W
of
the
Technical
Sessions(28):92-99.
[3]Kartawidjaja, M., Abdurrocman, A., dan
Rumeksa, E. 2008. Pencarian Parameter
Bio-Baterai Asam Sitrat (C6H8O7). Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II:
105-115.
[4]Saeni, M.S. 1989. Kimia Lingkungan. Bogor:
Institusi Pertanian Bogar.
[5]Icier, F., dan Ilicali. 2004. The Effects of
concentration on Electrical Conductivity of
Orange Juice Concentrates During Ohmic
Heating.Springer-Verleg.
[6]Santoso, B. 1998. Pupuk Kompos. Yogyakarta:
Kanisius.
[7]Rifan, T.A.S., Iswanto. 2012. Implementasi
Buah Mangga Sebagai Tenaga.Prosiding
Seminar Nasional Aplikasi Sains dan
Teknologi (SNAST) periode III ISSN:1979911X.Yogyakarta, 3 November 2012.
[8] Pracaya. 2002. Jeruk Manis. Jakarta : Penebar
Swadaya
[9]Daniel J.S., dan Charlotte Morgan. 1998.
Lemon Cells Revisited- The Lemon-Powered
Calculator.Tennessee
Technological
University. Journal of Chemical Education
Vol. 75.
[10]Wiryanta, B. 2002. Bertanam Tomat. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
[11]Suhada, Hendrata. 2001. Full Cells Sebagai
Pengganti Energi Abad 21. Universitas
Kristen Petra. Jurnal Teknik Mesin Vol. 3,
NO. 2, Oktober 2001:92-100.
[12]Hiskia, A. 1992. Elektrokimia dan Kinetika
Ilmiah. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.