You are on page 1of 43

I.

PETUNJUK PELAKSANAAN PEKERJAAN EKSTRAKSI (Extractable Organic Matter)


1.

Kenali terlebih dahulu jenis batuan yang akan di ekstraksi. Hal ini panting untuk menenmkan
bobot dalam ekstraksi. Berikut ini adalah bobot contoh yang dianjurkan untuk Setiap jenis
batuan sebagal berikut:

2.

Jenis Batuan

Kisaran Bobot (gram)

Sandstone (Batupasir)

30-50

Shale (Serpih)

10-20

Claystone (Lempung)

20-30

Coal (Batubara)

2-10

Siltstone (Lanau)

20-30

Persiapkan labu ekstraksi, soxhlet extractor, extraction thimble yang terlebih dahulu di praekstraksi.

3.

Timbang contoh sesuai ad. l ke dalam extraction thimble, bobot dicatat dalatn konaskerja, lalu
tempatkan pada rak thimble yang tersedia. Tutup dengan glasswool secukup- nya (glasswool
tersebut hams sudah dibersihkan lebih dahulu).

4.

Labu ekstraksi diisi dengan zat pelamt (chloroform atau dichloromethane) sebanyak 250 ml.

5.

Extractor dalam keadaan siap dan thermostat diputar sehingga menunjukkan angka 150,
dimana proses ekstraksi ini berjalan selama 24 jam

6.

Hasil ekstraksi lalu disaring dengan menggunakan penyaring fiber glass

7.

Zat pelarut diuapkan sehingga volume menjadi tepat 100 ml dalam labu ukur

8.

Pipet hasil ekstraksi tersebut sebanyak 5 ml. Ingat filtrat tidak boleh dalam keadaan kering
sampai berat konstan.

9.

Persiapkan vial glass (bobot kosong), lalu pindahkan ke dalamnya, filtrat lalu dikeringkan
kemudian ditimbang lagi bersama-sama dengan vial maka akan didapatkan berat filtrat = (vial _
filtrat) vial (bobot kosong) x 1000 atau G = [F-E] x 1000.
Lihat lembar kerja!

Perhitungan EOM adalah sebagai berikut:


Dalam notasi: D = B/C
Dimana:

D = Faktor Pengali
B = Volume ekstraksi mula-mula
C = Aliquot (Jumlah filtrat yang diambil).

H = GxD
Dimana:

H = total filtrat yang didapatkan

I = [H/A] x 1000
Dimana:

I = EOM
A = bobot contoh yang diekstraksi

II. LIQUID CHROMATOGRAPHY (Asphaltene Fraction)


1. Preparasi liquid chromatography untuk fraksi asphaltene adalah dengan mentransfer EOM ke
dalam tabung reaksi sebanyak 25 ml dengan memakai zat pelarut (chloroform dan
dichloromethane).
2. Dihembus secara perlahan dengan nitrogen hingga tinggal sedikit tapi tidak kering.
3. Tambahkan larutan pentane sehingga volume menjadi 2/3 tabung reaksi.
4. Dinginkan dalam refrigerator selama 1 malam
5. Pusingkan selama 20 menit dengan mesin sentrifugal pada kecepatan 2500 rpm
6. Pindahkan kedalam labu didih kecil lalu tambahkan 5 ml iso-octane
7. Di evaporasi dengan menggunakan water bath. Suhu 60-70oC sisa 5 ml, lalu tutup dengan baik
8. Timbang vial glass kosong, lalu pindahkan ad. 7 lalu dikeringkan kemudian ditimbang lagi
F4= asphaltene adalah (glass vial + filtrat bobot kosong glass vial). Ini adalah fraksi F4 yang
harus dikalkulasi dengan fraksi F1, F2, F3 dalam normalisasi persent (akan dihitung kemudian)

III. LIQUID CHROMATOGRAPHY (Full Coloumn)


1. Persiapkan glass coloumn yang bersih ( bilas dengan zat pelarut bersih atau dichloromethane),
lalu dikeringkan. Setelah kering, ujung coloumn diisi dengan glasswool yang bersih.
2. Isi glass coloumn dengan silika gel 200 mesh yang sudah diaktifkan sampai mencapai 2/3 bagian
dari column sambil dipadatkan dengan dipukul-pukul dengan memakai kardus stick
3. Basahkan lebih dulu (pro-wet) gengan 15 ml hexane dan filtratnya ditampung dengan botol
ukuran 8 Dram Vial.
4. Ambil filtrat (extract) dengan menggunakan pasteur pipet sesuai ukuran yang tersedia ke dalam
column, lalu tambahkan S ml nHexanes, tahap berikutnya tambahkan 10 ml nHexanes
selanjutnya tambahkan lagi 10 ml flHexanes. Terakhir tambahkan 5 ml dichlorornethane. Proses
ini apabila telah selesai mempakan El (saturates fraction).

5.

Ganti botol 8 dram vial ke botol yang baru untuk menampung aromatic fractions caranya ialah
dengan menambahkan 10 ml dichloromethane kemudian apabila teiah surut tambahkan lagi 10
ml dichloromethane. Sebagai penutup proses ini tambahkan 5 ml dichloromethane plus 5 ml
methanol. Proses ini dapat dikontrol dengan meuyalakan lampu ultra violet, akan terlihat
didalam column fraksi aromatic bergerak perlahan-lahan masuk ke dalam botol penampungan
dengan memberikan warna putih kekuningan. Hasil proses tersebut adalah E2 (aromatic
fraction).

6.

Tukar botol F2 dengan botol lain untuk menampung F3 (NS0 fractious). Tambahkan 5
ml dichloromethane + 5 ml methanol. Tunggu sampai kedua larutan tersebut menyusut pada
batas yang sudah ditentukan lalu ditambahkan lagi 10 ml methanol. Bilamana fraksi NSO belum
habis, maka tambahkan lagi 10 ml. Proses ini dilakukan untuk mendapat F3, NSO resin.

7.

Fraksi F1, F2, F3 dan asphaltene (didapatkan sebelumnya) lalu diuapkan solventnya
sehingga menjadi sedikit dengan menggunakan sistim peniupan memakai gas nitrogen.

8.

Timbanglah gelas via] kosong kecil untuk menampung F1, F2 dam F3 sampai berat tetap,
lalu pindahkan masing fraksi ke dalam botol tersebut. Proses selanjutnya adalah
mengeringkannya sampai berat konstan tapi tidak terlalu kering lalu ditimbang sampai
dicapai berat konstan.

9.

Hitunglah F l , F2, F3 dan F4 berclasarkan faktor pengali lalu dibagi berat masing-masing
dengan normalisasi persentase berat semula dikali 100%.

10. Liquid chromatography untuk crude oil adalah sauna prosesnya dengan memakai ekstrak
(filtrat) perbedaannya hanya terletak pada jumlah contoh yang diperlukan adalah +- 0,10
gram oil.
IV. PETUNJUK PELAKSANAAN UNTUK MOLECULAR SIEVE.
1. Ambil fraksi saturated dari full column dalam 8 dram vial.
2. Tambahkan material molecular sieve kira-kira 1/3 bagian dari botol 8 dram vial. Jika contoh
melebihi 40 mg, isi 3 dram vial kira-klra 1/2 isi botol.
3. Basahi molecular sieve tersebut dengan kira-kira 1/2 inchi iso-octane.
4. Tutupi botol dengan aluminium foil secara tidak ketat.
5.

Tempatkan ke dalam sand bath dengan pemanasan sampai ke titik didih iso-octane dan biarkan
selama 4-5 jam. Akan terjadi gelembung-gelembung dengan kecepatan 1 gelembung/detik.

6. Dinginkan botol, lalu saring dengan menggunakan petalatan penyaringan EOM, guna
menghilangkan debu dari molecular sieve.
7. Tempatkan filtrat ke botol yang sebelumnya ditimbang (botol kosong) lalu timbang berat
filtrat dan hotel.
8. Jangan biarkan terlalu kering tapi contoh sedikit kering saja sudah cukup.

Analytical Program for Hydrocarbon Characterization


Nickel, Vandium
Content

Whole Oil
Chromatography

Gasoline Range
C4-C7 HC

API
Gravity

OIL SAMPLE

Wt%
Sulfur

Pour
Point

Wax
Content

GAS SAMPLE

Chromatographic
Separation

Saturated
Hydrocarbons

Aromatic
Hydrocarbons

Resin (NSO)
Compounds

Asphaltenes

Gas
Chromatography

Gas
Chromatography

Carbon
Isotopes

Quantitative
Ptolysis - GC

GC-MS
Biomarkers

GC-MS
Biomarkers

Carbon
Isotopes

Carbon
Isotopes

Carbon
Isotopes

C1-C5+
Gas Analysis

Carbon & Hydrogen


Isotopes

GAS
CHARACTERISATION

OIL CHARACTERISATION

Gambar 3.6
Kolom Kromatografi Cair

( Size / Quality / Selection)


Outcrop Rock Samples
Size
o Full Screening (TOC/Rock-Eval/VR) ~ 50 gr (min. 1-5 gr)
o Extraction ~ 10-15 gr ( if rich, 5-10 gr ; e.g. coal )
Quality
o Whole core > SWC > Outcrop
o Removal of contaminants (& OBM)
o Sample Picking ( bulk, or hand picking +ve/-ve)
Selection
o Source Screening ( TOC/Rock-Eval) Shales or coal
o Bitumen Characterisation
(Extraction / LC /GC/ GC-MS / 13C ) > 1% TOC

1. Aktifkan molecular sieves, difurnace temp 500oC +- 12 jam, simpan di dessicator


2. Bilas botol yang digunakan dengan iso-octane
3. Set hot plate pada temp 80o-100oC
4. Transfer fraction saturates ke dalam botol yang sudah dibilas
5. Masukan molecular sieves ke dalam botol yang sudah berisi sampel ( kira-kira
botol)
6. Tambahkan solvent iso-octane sampai molecular sieves terendam
7. Panaskan 2 jam
8. Dikocok +- 30 menit
9. Panaskan kembali selama 2 jam
10. Dinginkan, disaring, masukkan ke dalam vial

BIOMARKER PARAMETERS
A. SOURCE FACIES
The balance of biomarker groups resent within an oil is a good guideline to its Facies
Type.
1. Resins and 18 Oleanane 2.

3.
4.
5.
6.

Terngeous organic matter input. Oleanane


present in Tertiary age oils only
C27, C28, C29 , 20R Streranes - Balance of distribution between C27 to
C29 Steranes indicate Environment of
Deposition.
Dominance of C27 Steranes Marine Algal.
Dominance of C29 Steranes - Terresterial
C30 and C30 4 Methyl Streanes Algal Source input, Lacustrine
Carotane Algal source input, Lacustrine.
Tricyclic Triterpanes Algal source input, marine / non-marine, Maturity (?)
Tm/Ts Facies and Maturity

B. MATURITY
1. C31 22s/22s Hopanes Ratio Equibriate at circa 1.5 1.6 at Early Maturity
(0.6 0.7 % RO)
2. C29 Moretane / C29 Hopane Ratios Equilibrate at circa 0.17 at Middle
Maturity.
3. C29 aa 20S / C29 aa 20R Ratios Equibilirate at circa 1.0 to 1.1 at Middle Oil
Window Maturity
4. Methylphenanthrene Index (MPI-1) Equivalent VR Value provided

(SATURATES)
Sediment samples

Oil samples
+60ml C5H12
(Pentane)

Solvent Extraction
+60ml C5H12
Maltene + actived Silicagell
Liquid Chromatography
Saturates
Elute w/ 35 ml
Petroleum Ether
Mol Sieve w/ iso-octane
Branced & Cyclic
GC-MS INSTRUMENT

Ultra 2 Capillary Coloumn 950m, 0.02mm, 0.11 ul


Column head Pressure : 20 Psi
Carrier Flow Helium : 10 ml/20sec
AUTOTUNE
LOAD METHODS
Saturates
oC

80 to 320 C
@4 C/min

1-2 ul inject to GC-MS


DATA ANALYSIS
IDENTIFICATION

PRINT FRAGMENTOGRAMS
CALCULATED DATA TABLES

Fragmentogram m/z 191 Menunjukan Puncak Trisiklik


Fragmentogram: m/z 191 (Extended Triterpanes)

PENAMAAN PUNCAK TERPANA


Peak
No.
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
1
2
M
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
OL
Gm
R
X

Carbon
No.
19
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
27
27
30
28
29
29
30
30
31
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
30
30
30
24

Identification
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
Tricyclic diterpane
18(H),21(H)-22,29,30-trisnorneohopane(Ts)
17(H) ,21 ( H) -22 ,29,30-trisnorhopane (Tm)
Tricyclic diterpane
17(H),21(H)-28,30-bisnorhopane
17(H) ,21(H)-30-norhopane
17(H),21(H)-30-normoretane
17(H),21(H)-hopane
17(H) ,21(H)-moretane
17( H) ,21 ( H) -30-homohopane (22S)
1 7( H) ,21 (H)-30-homohopane (22R)
17 (H) ,21(H) -homomoretane
17(H) ,21(H)-30,31-bishomohopane(22S)
17(H) ,21 (H)-30,31-bishomohopane(22R)
17(H),21(H)-30,31,32-trishomohopane(22S)
17(H),21(H)-30,31,32-trishomohopane{22R)
17(H),21(H)-30,31,32,33-tetrahomohopane (22S)
17( H) ,21(H)-30, 31 ,32 ,33-tetrahomohopane (22R)
17(H),21(H)-30,31,32,33,34-pentahomohopane(22S)
17(H),21(H)-30,31,32,33,34-pentahomohopane(22R)
18( H) -Oleanane
Gammacerane
Cyclic Alkane
Tetracyclic Terpane

HUBUNGAN ANTARA
JUMLAH KARBON STEROL DAN EKOSISTEM

Perbandingan distribusi Triterpana pada sampel yang kurang matang (atas)


dan sampel yang matang (bawah)
H= hopana, M = Moretana, OL = Oleanana

HUBUNGAN ANTARA
PARAMETER KEMATANGAN DENGAN STERANA & Ro

Kromatogram massa m/z 217 menunjukkan distribusi Sterane dari


sedimen kurang matang (atas) dan sedimen matang (bawah)

Fragmentogram m/z 217 Menunjukkan Puncak C27 C29 Sterana

Kromatogram massa m/z 217 menunjukkan distribusi Sterane dari


sedimen kurang matang (atas) dan sedimen matang (bawah)

Compound
Class

Ion
Scan

Principle Uses

Terpanes

m/z 191

Ring A/B fragment for all tricyclic,


tetracyclic and pentacyclic
terpenoids. Ring D/E fragment for
C30 pentacyclios.

163 Ring D/E fragment for C28

pentacyclics; Base peak for


resinous" compounds, Ts and C27
Trisnormoretane.
177 Ring D/E fragment for C29

pentacyclics; Ring A/B fragment


for demethylated (25-Nor-)
terpenoids (generally hopanes).
205 Ring D/E fragment for C31

pentacyclics; Ring A/B fragment


for methylated (2(H)- and 3(H))terpenoids (generally hepanes).
370 Molecular ion for C27

pentacyclics.
412 Molecular ion for C30

pentacyclics (including resinous"


species, 18(H)-oleanane and
Gammacerane
Steranes

217 Ring A/B/C fragment for all types


218
231
259
372
386
400
414

Bicyclic Alkanes

123
193

of stranes
Displays enhancement of 5(H),
14(H), 17(H)-steranes
Ring A/B/C fragment for
methylated steranes species.
Displays enhancement of
rearranged (dia-)steranes.
Molecular ion for C27 steranes.
Molecular ion for C28 steranes.
Molecular ion for C29 steranes.
Molecular ion for C30 steranes.
Base peak for C15 Drimane and
C16 Homodrimane
Enhancement of C15 and C16
rearranged Dtimanes; Base peak
for other C15 Bicyclics.

Perbandingan distribusi Triterpana pada sampel yang kurang matang


(atas) dan sampel yang matang (bawah).
H = hopana, M= Moretana, OL = Oleanana

HUBUNGAN ANTARA
PARAMETER KEMATANGAN DENGAN STERANA & Ro

HEAD SPACE GAS ANALYSIS


Cuttings + bacteriocide
Gas Chromatography
Methane (C1 ) Penthane (C5)
Identification
o Hydrocarbon Richness
o Hidrocarbon Type
o Thermal Maturity
o Migrated Hydrocarbon

INTERPRETATION
C1 C4 Total Gas : Graphic trend
Wetness Gas:
0 30 %
Immature
30 100%
Mature

Late Mature

Migration Hydrocarbon

Ratio iC4/nC4 :
1.0 2.0

Immature

0.4

Mature

1.0

Late Mature

0.4 0.6

Mature Condensate

0.8 1.8

Immature Condesate

C5+ : Liquid Hydrocarbon

Gambar 2. Kromatogram Hidrokarbon Biodegradasi (Kelompok B)

Comparison of Oil Base Mud Gas Chromatograms

Gambar 4.10
Diagram Pristane/nC17 vs. Phytane/nC18 3)

A-1 (ASTM-D2887) Kromatogram

A-1 (KMR-STD) Kromatogram

Gambar 1. Kromatogram Hidrokarbon Sumur Minyak (kelompok A)

TYPE OF GAS DEPOSIT


PERCENTAGE OF METHANE AS
TOTAL HYDROCARBON GAS
COMPOSITION
13

EXPECTED C METHANE
VALUES

BIOGENIC / DIAGENIC

THERMOGENIC/CATAGENIC

METAGENIC

97 % - 99 %

48 % - 97 %

90 % - 98 %

MAINLY DRY GAS

HIGH WET GAS

MAINLY DRY GAS

-55 %O TO -85%O

-35%O TO -55%O

LESS THAN 30 %O

Air, Sludge (Lumpur) &


Padatan berwarna gelap
Air, Sludge (Lumpur) &
Padatan berwarna gelap

Air, Sludge (Lumpur) &


Padatan berwarna gelap

Preparasi perconto
(ASTM D-96-88)
Separator Funnel + DCM

Separator Funel +
Petroleum Ether
Liquid (Zat Cair)

Kromatografi Gas
(ASTM D-2887)

Kromatogram

ANALISA SIDIKJARI MINYAK MENTAH DAN KORELASINYA


Dengan menggunakan teknik GC dan GC/MS resolusi tinggi, korelasi dari ceceran minyak mentah atau deposit sumber asalnya dapat dihitung. Untuk
menghitung nilai korelasi minyak yang terbiodegradasi cepat dengan sumber asalnya, analisa biomarker dari polycyclic steranes dan triteranes yng di
dalam fraksi memiliki berat molekul tingkat tinggi dapat digunakan.
UJI SIDIKJARI DENGAN MENGGUNAKAN GC DARI 2 JENIS MINYAK MENTAH

Rasio dari biomarker dapat diplotkan pada diagram korelasi


sehingga korelasi antara ceceran minyak dan deposit ter bisa
diketahui

M/Z 191 MASS FRAGMENTOGRAMS DARI 2 JENIS MINYAK YANG MEMILIKI


KESAMAAN GENETIK DAN SUDAH TERDEGRADASI

DIAGRAM KORELASI BINTANG DARI RASIO BIOMARKER

Pembuangan hidrokarbon ke lingkungan bisa menyebabkan kerusakan yang cukup serius, dan bagi perusahaan yang bertanggung jawab terhadap proses pembuangan
tersebut akan berhadapan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Di alam, hidrokarbon minyak bumi, memiliki sifat yang komplek, sehingg uji korelasi yang jelas antara minyak mentah dan produk minyak bumi dengan sumbernya cukup
sulit sehingga membutuhkan analisa yang mendalam dengan menggunakan uji analisa statistik
Untuk bisa membedakan senyawa hidrokarbon yang memiliki sifat komplek tersebut, maka diperlukan teknik GC dan GC-MS. Pemilih prosedur analisa tergantung sasaran data
analisis, sifat dari hidrokarbon dan sample metrik
DAERAH SIDIKJARI DARI PRODUK MENYAK BUMI DAN KORELASINYA
Produk dari minyak bumi seperti gasoline, karosene dan minyak diesel dapat disidikjarikan secara jelas dengan menggunakan teknik Gas Chromotography beresolusi tinggi
dengan menurut sumber asalnya, dengan membandingkan komponen terhitung nyala minyak bumi dan korelasinya dan dilanjutkan dengan perhitungan analisa statistik.
Sebaran dari kerusakan akibat pelapukan lingkungan dapat juga dianalisa dan direkomendasikan untuk proses remediasi
HIDROKARBON DIESEL

Analisa kimia yang dipakai untuk penomoran grup sampel berdasarkan persamaan dan
perbedaannya. Analisa ini berguna untuk mengetahui karakteristik pelumas dalam
tanah dan sumber hidrokarbon

DENDOGRAM DARI ANALISIS KELOMPOK KIMIA

Dengan memplot rasio puncak akan sangat membantu dalam hubungannya dengan
produk hidrokarbon yang sangat mirip seperti gasoline, dimana kontaminasi lingkungan
dapat dirunut berdasarkan masing-masing rasio puncak

DIAGRAM KORELASI BINTANG DARI GC DENGAN RASIO PUNCAK