You are on page 1of 5

Peraturan Mengenai Tindakan Menonton Video Porno

Muhammad Arif Hartavian


20140610493
Abstrak
Kata pornografi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu porne yang artinya
pelacur dan graphein yang artinya ungkapan (expression) sehingga pornografi
berarti suatu pengungkapan dalam bentuk tulisan atau lukisan tentang kehidupan
erotik, dengan tujuan untuk menimbulkan rangsangan seks kepada yang
membacanya atau melihatnya.
Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang yang berkaitan dengan
Pornografi. DPR Republik Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang Nomor
44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Larangan dan pembatasan mengenai
pornografi diatur dalam Pasal 4 14 Undang-Undang Pornografi. Untuk
ketentuan pidana dari penlanggaran tersebut diatur dalam Pasal 29 41 UndangUndang Pornografi.
Kata Kunci

: hukum pornografi, teknologi, dan internet

Pendahuluan
Pada era sekarang ini teknologi telah berkembang dengan sangat pesat.
Akses data di dunia semakin cepat, mudah, dan tentunya murah berkat
ditemukannya internet sejak tahun 19691 dan mulai dinikmati oleh masyarakat
Indonesia pada tahun 1990.2 Internet merupakan teknologi paling populer saat ini.
Internet dapat menghubungkan negara satu dengan yang laininya. Dengan internet
user (pengguna) dapat mencari berbagai macam informasi yang mereka perlukan.

1 http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Internet diunduh tanggal 09 Januari 2015 pukul


15:09:23 WIB
2 http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Internet_Indonesia diunduh tanggal 09 Januari
2015 pukul 15:10:32 WIB

Berkembangnya teknologi menyebabkan banyak file (berkas) yang dapat diakses


oleh semua pengguna internet dengan bebas. Sebab itu pornografi tidak dapat
dihindari perkembangannya. Padahal era sekarang ini, banyak anak kecil sudah
dapat menggunakan internet dengan lancar. Bahkan mereka lebih pintar daripada
orang tua yang mengajarinya menggunakan internet. Akhirnya, tidak hanya orang
dewasa sekarang ini yang telah kecanduan dengan pornografi, namun termasuk
anak-anak sekarang ini yang masih dibawah umur telah kecanduan dengan
pornografi. Mereka dapat mengakses dan menonton pornografi dengan mudah
hanya dengan sekali klik.

Permasalahan
1. Apakah penonton video porno dapat di kenakan hukuman?
Pembahasan
Istilah pornografi berasal dari dua kata asal, yaitu porno dan grafi. Porno
berasal dari kata Yunani porne yang artinya pelacur, sedangkan grafi berasal dari
kata graphein yang artinya ungkapan (expression).3 Dengan demikian maka
pornografi berarti suatu pengungkapan dalam bentuk tulisan atau lukisan tentang
kehidupan erotik, dengan tujuan untuk menimbulkan rangsangan seks kepada
yang membacanya atau melihatnya.4 Menurut Undang-Undang yang dimaksud
dengan pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi,
gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan
lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka
umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma
kesusilaan dalam masyarakat.5
3 A. Hamzah, Pornografi dalam Hukum Pidana, Jakarta : Bina Mulia. 1987. h. 7
4 Ibid.
5 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornograf

Dalam Undang-Undang Pornografi diatur mengenai tindakan-tindakan yang


dilarang yang terdapat pada pasal 4 pasal 14 Undang-Undang Pornografi.
Namun dalam pasal-pasal tersebut tidak ditemukan peraturan yang jelas melarang
seseorang untuk menonton atau mengakses situs yang memuat pornografi.
Akan tetapi jika orang tersebut mengakses situs bermuatan pornografi
untuk mengunduh gambar atau video yang mengandung unsur pornografi, maka
orang tersebut dapat dipidana berdasarkan pasal 31 jo. Pasal 5. Dalam Pasal 5
Undang-Undang Pornografi dikatakan bahwa setiap orang dilarang meminjamkan
atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1).
Kemudian, yang dimaksud pornografi dalam Pasal 4 ayat (1) adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;


kekerasan seksual;
masturbasi atau onani;
ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan
alat kelamin; atau
pornografi anak.

Kemudian dalam Pasal 31 Undang-Undang Pornografi mengatur


mengenai pelanggaran atas Pasal 5 Undang-Undang Pornografi, yaitu dapat
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana
denda palingbanyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Dalam Pasal 6 Undang-Undang Pornografi diatur bahwa setiap orang
dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau
menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1),
kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan. Akan tetapi
perlu dilihat kembali pada penjelasan Pasal 6 Undang-Undang Pornografi, bahwa
larangan "memiliki atau menyimpan" tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan
kepentingan sendiri.
Hal tersebut berarti walaupun orang tersebut menyimpan hal-hal yang
termasuk kategori pornografi sebagaimana terdapat dalam Pasal 4 ayat (1)
Undang-Undang Pornografi, selama orang tersebut hanya menyimpan untuk

dirinya sendiri atau untuk kepentingannya sendiri, maka orang tersebut tidak
dapat dipidana atas pelanggaran Pasal 6 Undang-Undang Pornografi.

Simpulan
Indonesia memang telah mengesahkan Undang-Undang yang mengatur
tentang pornografi. Menurut Undang-Undang yang dimaksud dengan pornografi
adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak,
animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui
berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang
memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan
dalam masyarakat.
Dari pasal-pasal Undang-Undang tersebut tidak satupun pasal yang
menyebutkan secara jelas pelarangan menonton video porno. Menonton video
porno tidaklah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Sehingga
menurut asas hukum legalitas (Nullum Delictum, Nulla poena sine praevia lege
poenali) yang berarti tidak ada suatu perbuatan yang dapat dipidana sebelum ada
aturan yang mengaturnya perbuatan tersebut bukan merupakan penlanggaran
hukum maka tidak dapat dipidanakan. Namun berbeda jika seseorang menonton
video porno untuk menontonkan kepada orang banyak. Maka hal tersebut
melanggar Pasal 6 Undang-Undang Pornografi dan diatur dalam Pasal 31 yang
menyatakan bahwa Setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama
4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua
miliar rupiah).

Daftar Pustaka