Вы находитесь на странице: 1из 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asyariyah merupakan salah satu nama dari beberapa nama corak pemikiran dalam ilmu
kalam, disebut asyariyah sebagai nisbat kepada seorang yang pertama kali memunculkan dan
mengembangkan paham tersebut. Dialah Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asyari yang lahir dari
keturunan seorang yang dijadikan utusan perdamaian dalam peperangan antara Ali dengan
Muawiyah pada peristiwa tahkim. Aliran Asyariyah ini juga yang disebut-sebut sebagai bagian
dari aliran Ahlussunnah Wa al-jamaah yang menjadi aliran yang diikuti oleh mayoritas umat
Islam.
Al-Asyariyah adalah pengikut Abu Hasan Ali bin Isma'il al-Asyariy, (al-Syahrastani,
1986: 94) yang kemudian berkembang menjadi salah satu aliran teologi yang penting dalam
Islam, yang selanjutnya dikenal dengan aliran al-Asyariyah, yaitu nama yang dinisbahkan
kepada Abu Hasan al-Asyariy sebagai peletak dasar-dasar aliran ini. Al-Asyariy hidup antara
tahun 260-324 H. (Ibnu Katsir, 1996: 581) atau lahir akhir abad III dan awal abad IV H. Pada
abad ini dikenal ada tiga aliran dalam peta sejarah pemikiran Islam, yaitu pertama, Aliran
Salafiah, yang dipelopori oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal. Aliran ini dikenal sangat tekstual,
yaitu menjadikan nash sebagai satu-satunya poros dan alat dalam memahami aqidah-aqidah
Islam; kedua, Aliran Filosof Islam yang memahami aqidah-aqidah Islam dan membelanya harus
berdasarkan akal dan naql dengan bertolak pada kebenaran-kebenaran akal sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan; ketiga, aliran Mu'tazilah, aliran yang memadukan antara akal dan naql
dengan tetap menjadikan akal sebagai penentu bila lahiriah nash bertentangan dengan kebenarankebenaran akal (dalil-dalil logika). (Imarah, 1991: 165).
Al-Asyariy pada mulanya termasuk pengikut aliran Mu'tazilah sampai beliau berumur 40
tahun. (Shubhi, 1992: 45) dan pada akhirnya beliau membentuk corak pemikiran yang berbeda
dari ketiga aliran tersebut, beliau berusaha memadukan keduanya dengan tetap berpedoman
bahwa akal harus tunduk pada nash.
Di Indonesia, aliran ini diklaim oleh para kiai tradisional sebagai kelompok yang selamat
(al-firgt al-nsajiyah), meskipun banyak para cendekiawan muslim lebih cenderung untuk
menyalahgunakannya dengan alasan bahwa aliran ini menyempitkan umat karena hanya banyak
membahas tentang sepiritual dan akhirat belaka, sementara umat yang ada di Indonesia sampai
sekarang ini mempunyai etos kerja yang sangat lemah.
Makalah ini dibuat untuk membahas tentang aliran Asyariyah yang meliputi sejarah dan
latar belakang lahirnya, doktrin-doktrinnya, mengenal para tokoh dan implikasinya pada
kehidupan sosial umat islam.
1

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sejarah berdirinya Aliran Asyariyah?
2. Siapa saja tokoh-tokoh yang ikut mengembangkan Aliran Asyariyah dan bagaimana ajaranajarannya?
3. Apa saja doktrin-doktrin dalam Teologi Asyariyah?
4. Bagaimana implikasinya Aliran Asyariyah pada kehidupan sosial?
1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.

Untuk memgetahui sejarah berdirinya aliran asyariyah.


Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang ikut mengembangkan aliran asyariyah dan ajarannya.
Untuk mengetahui doktrin dalam teologi Asyariyah.
Untuk mengetahui implikasinya aliran asyariyah pada kehidupan sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
2

2.1 Sejarah Aliran Asyariyah


Asyariyah adalah satu firqah yang dinisbatkan kepada pemahaman Abul Hasan Al-Asyari
rahimahullahu. Nama asli beliau adalah `Ali bin Isma`il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma`il
bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Burdah bin Musa Al Asy`ary, lebih dikenal dengan Abu Al
Hasan Al Asy`ary. Sejak kecil dilahirkan di kota bashrah (irak) pada tahun 260 Hijriyah atau 873
Masehi, pada akhir masa daulah Abbasiyah yang waktu itu berkembang pesat berbagai aliran ilmu
kalam, seperti: al Jahmiyah, al Qadariyah, al Khawarij, al Karamiyah, ar Rafidhah, al Mu`tazilah, al
Qaramithah dan lain sebagainya. Sejak kecil Abul Hasan telah yatim. Kemudian ibunya menikah
dengan seorang tokoh Mu`tazilah bernama Abu `Ali Al Jubba`i. Beliau (Abul Hasan) seorang yang
cerdas, hafal Al Qur`an pada usia belasan tahun dan banyak pula belajar hadits. Pada akhirnya beliau
berjumpa dengan ulama salaf bernama al Barbahari (wafat 329 H). inilah yang akhirnya merubah
jalan hidupnya sampai beliau wafat pada tahun 324 H atau 939 M dalam usia 64 tahun.
Sejak kecilnya samapai usia 40 tahun, dia belajar kepada seorang ulama yang mashur yaitu
Abu Ali al-Jubai (yang menjadi tokoh mutazilah). Karena kemahirannya, ia sering diutus oleh
gurunya itu untuk mewakilinya dalam ceramah-ceramah dan diskusi-diskusi. Meskipun begitu, pada
perkembangan berikutnya tepat pada usia ke 40 tahun, ia menjauhkan diri dari pemikiran mutazilah
itu dan berkiblat kepada pemikiran-pemikiran fuqaha dan ahli hadits yang dipelopori oleh Imam
Ahmad bin Hanbal, padahal ia sama sekali tidak pernah mengikuti majelis mereka dan tidak pernah
pula mempelajari aqidah berdasarkan metode mereka1.
Menurut suatu riwayat, ketika ia mencapai usia 40 tahun ia mengasingkan diri dari orang
banyak di rumahnya selama lima belas hari, kemudian ia pergi ke masjid besar di Bashrah untuk
menyatakan di hadapan orang banyak, bahwa ia mula-mula memeluk aliran mutazilah yang
emepunyai paham bahwa al-quran itu makhluk dan Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata kepala
kelak di hari kiamat dan lain sebagainya, kemudian ia mengatakan sebagai berikut: saya tidak lagi
mengikuti paham tersebut dan saya akan meninggalkan dan harus menunjukkan keburukankeburukan dan kelemahan-kelemahan aliran mutazilah itu.
Beberapa faktor yang menyebabkan keluarnya Abu Hasan Ali bin Ismail AL-Asyari ini
dari aliran mutazilah:
1. Setelah mengadakan perdebatan dengan ahli Hadits, dan Asyari sendiri merasa khawatir
jika al-quran dan hadits akan menjadi korban kaum mutazilah.
2. Kekhawatiran terhadap sikap ahli hadits yang hanya memgang nash-nash dan meninggalkan
jiwanya, ia khawatir Islam menjadi beku dan lemah karenanya, maka ia lebih baik
mengambil jalan tengah antara faham rasional (mutazilah) dan tekstual (ahli Al-Hadits).
1 Prof.Dr. Imam Muhammad Abu Zabrah. Aliran politik dan aqidah dalam Islam. Hal. 190. Logos 1996.
3

3. Asyari pernah bermimpi melihat Rasulullah dan beliau mengatakan kepadanya untuk
kembali kepada al-quran dan as-sunnahnya.
4. Setelah melakukan perdebatan dengan gurunya yang juga pendiri mutazilah (Al-Jubair)
tentang al- Ashlah wa al-ashlah yang memperjelas status ketiga orang manusia yakni orang
mukmin, orang kafir dan anak kecil (bayi). Berikut kutipan perdebatan tersebut:
Wahai Syekh! Bagaimana pendapatmu mengenai tiga orang ini? Orang mukmin,
orang kecil dan anak kecil. Al-Jubai menjawab: orang mukmin termasuk orang yang
mempunyai derajat tinggi dan orang kafir termasuk orang yang akan binasa sedangkan anak
kecil dia akan beruntung atau selamat. Abu Hasan bertanya lagi mungkinkah anak kecil naik
menjadi ahli derajat? Tidak mungkin (kata Al-jubai) karena akan dikatakan kepadanya
bahwa orang mukmin selamat karena ketaatannya, sedangkan kamu tidak memiliki ketaatan
serupa itu. Asyari berkata lagi: bagaimana jika anak kecil itu berkata: kesalahan bukan
berada pada diriku, karena kalau aku diberi kesempatan untuk hidup lama pasti aku akan
mengisinya dengan ketaatan seperti orang mukmin. Al-Jubai berkata: allah akan berkata
kepada anak kecil itu: Aku mengetahui jika dipanjangkan usiamu, niscaya engkau akan
durhaka dan akan disiksa, maka Aku menjaga keselamatanmu dan ibumu sebelum engkau
mencapai usia baligh, Asyari berkata lagi jika orang kafir itu berkata Ya Robbi engkau
mengetahui keadaan si kecil seperti mengetahui keadaanku, mengapa engkau tidak menjaga
kemaslahatn seperti engkau menjaga anak kecil itu, setelah itu tunduklah Al-Jubai (diam
tidak bisa menjawab).
Ternyata akal tidak dapat diandalkan.Abu al Hasan Al Asy`ary dalam meninjau masalah
ini selalu berdasar kepada sunnah Rasulullah. Itulah sebabnya maka madzhab yang dicetuskannya
lebih dikenal dengan Ahlus Sunnah wal Jama`ah.
2.2 Tokoh-tokoh Asyariyah dan Ajaran-Ajarannya
Dalam perkembangannya aliran Asyariyah semakin lama semakin meningkat dan pesat,
terutama setelah banyak yang jadi pengikutnya berdatangan dari kalangan orang-orang terkemuka
dan sekaligus menjadi tokoh dalam aliran tersebut. Unsur-unsur utama bagi kemajuan Asyariyah,
ialah karena aliran ini memiliki tokoh-tokoh yang kenamaan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain2:

2.2.1 Muhammad Ibn al-Thayyib Ibn Muhammad Abu Bakr al-Baqillani.

2 Joessafira,Aliran Asyariyah . (http://delsajoesafira.blogspot.com/20)0/04/aliran-asyariyah.html), 14


oktober 2012.
4

Ia adalah tokoh Asyariyah yang mendapat ajaran-ajaran Al-Asyari dari dua murid AlAsyari, yaitu Ibn Mujahid dan Abu Al-Hasan Al-Bahili. Beliau wafat di Bagdad pada tahun 1013
Masehi.
Ajaran-ajaran yang disampaikannya tidak selalu selaras dengan ajaran Al-Asyari,
misalnya bahwa sifat Allah itu bukan sifat melainkan hal. Selanjutanya ia juga tidak sepaham dengan
Al-Asyari mengenai perbuatan manusia. Menurut Al-Asyari perbuatan manusia adalah diciptakan
Tuhan seluruhnya, sedangkan menurut Al-Baqillani, manusia mempunyai sumbangan yang efektif
dalam perwujudan perbuatannya. Yang diwujudkan Tuhan ialah gerak yang terdapat dalam diri
manusia, adapun bentuk atau sifat dari gerak itu dihasilkan oleh manusia itu sendiri.
Pernyataan-pernyataannya mengarah pada extrim, dalam mengikuti suatu pendapat dan
dalam memberikan dukungan dan pembelaan, sebab premis rasional tidak pernah disebutkan dalam
al-Quran maupun sunnah, ruang geraknya luas dan pintunya terbuka lebar. Metode yang
ditempuhnya juga banyak. Boleh saja seseorang sampai kepada bukti-bukti dari berbagai penalaran
akal dan menghasilkan berbagai konklusi melalui berbagai eksperimen yang tidaklah buruk selama
tidak bertentangan dengan konklusi yang dicapainya dan pemikiran yang dihasilkannya.
Al-Baqillani dikenal sebagai seorang ulama bermadzhab Maliki dan cendekiawan yang
ulung. Karyanya banyak membahas aliran-aliran sesat yang berkembang di masanya, seperti
Rafidhah, Mutazilah, Khawarij, Jahamiyah dan karamiyah. Dimasjid Basra, beliau membina
halaqah kajian yang dijual beli para pecinta ilmu.
2.2.2 Abd al-Malik al-Juwaini
Beliau lahir di Khurasan tahun 419 Hijriyah dan wafat pada tahun 478 Hijriyah. Nama
aslinya tidak begitu dikenal malah ia terkenal dengan nama Iman Al-Haramain.
Hampir sama dengan Al-Baqillani, ajaran-ajaran yang disampaikannya banyak yang
bertentangan dengan ajaran Al-Asyari. Misalnya Tangan Tuhan diartikan (tawil) kekuasaan Tuhan,
mata Tuhan diartikan penglihatan Tuhan dan wajah Tuhan diartikan Wujud Tuhan, sedangkan
mengenai Tuhan duduk diatas takhta kerajaan diartikan Tuhan berkuasa dan Maha Tinggi.
Mengenai soal perbuatan manusia, ia mempunyai pendapat yang lebih jauh dari AlBaqillani. Daya yang ada pada manusia itu mempunyai efek, tetapi efeknya serupa dengan efek yang
terdapat antara sebab dan musabab. Wujud perbuatan manusia tergantung pada daya yang ada pada
manusia, wujud daya itu bergantung pada sebab yang lain dan wujud sebab itu bergantung pula pada
sebab yang lain dan demikianlah seterusnya hingga sampai pada sebab dari segala sebab yaitu
Tuhan3.
2.2.3 Abu Hamid al-Ghazali
3 Indiannoch,Aliran Al-Asyariyah dan Al-maturidiyah, (http://www.indiannoch.co.oc/) 43 Asyariyah-danMaturidiyah.html),14 oktober 2012.
5

Al-Ghazali merupakan tokoh yang terkenal dalam mengikuti aliran Asyariyah, terutama
dalam bidang pemikiran Islam, Fiqh, Ushul fiqih, Ilmu Kalam dan Taswwuf yang disertai dengan
buku-bukunya yang sangat terkenal. Dalam hal ilmu kalam, ia masih tetap setia kepada pokok-pokok
persoalan yang dibahas oleh gurunya yaitu Asyari, disamping memperluas wawasannya, metode
yang dipaki oleh Al-Ghazali ini ialah logika aristoteles.
Beliau adalah murid dari Abd al-Malik al-Juwaini yang lahir pada tahu 1058-1111
Masehi. Paham teologi yang dianutnya tidak jauh berbeda dengan paham-paham Al-Asyari. Dia
mengakui bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan dzat Tuhan dan
mempunyai wujud diluar dzat. Juga Al-Quran bersifat qadim dan tidak diciptakan. Mengenai
perbuatan manusia ia juga berpendapat bahwa Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan. Dan
daya untuk berbuat lebih menyerupai impotensi. Selanjutnya ia menyatakan bahwa Tuhan dapat
dilihat, sebab setiap yang mempunyai wujud dapat dilihat. Selanjutnya ajaran yang disampaikannya
adalah penolakan tentang paham keadilan yang diajarkan oleh Mutazilah. Tuhan tidak berkewajiban
menjaga kemashlahatan (al-salah wa al-ashlah) manusia, tidak wajib memberi upah atau ganjaran
kepada manusia atas perbuatan-perbuatannya, bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tidak
mungkin dikerjakan manusia.
Pada mulanya ajaran atau aliran Asyariyah ini tidak diakui aliran Ahlussunnah, sebab
dianggap telah menyimpang dan sesat (bidah), sehingga banyak sekali aktifitas-aktifitasnya
mengalami kemunduran, namun setelah munculnya salah seorang mentri bernama Nidzamul Mulk
(W.485 H) yang mendirikan dua sekolah terkenal di Naisabur dan Baghdad, dia menetapkan bahwa
teologi dan ajaran yang boleh diajarkan hanyalah aliran Asyariyah, sejak itulah aliran Asyariyah
bangkit kembali (selain menjadi teologi resmi negara, aliran ini menjadi masuk kepada aliran
ahlusunnah).
Pada perkembangannya, Asyariyah ini dimulai sejak Abu Hasan Ali Al-Asyari
meninggalkan dan mengeluarkan diri sekaligus menentang aliran mutazilah, kemudian membentuk
aliran teologi yang dikembangkan di daerah Bukhara 4. Selain aliran Asyariyah ini, di daerah
Samarkhand muncul suatu aliran teologi yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dengan
Asyariyah untuk menentang aliran mutazilah. Aliran ini dipimpin oleh Abu Mansur Muhammad alMaturidi (w.944 M)5.
Ketika menyerang aliran mutazila, kedua aliran tersebut (asyariyah dan maturidiyah)
berada di tempat yang berbeda Asyariyah berada di dekat musuh, ia berdomisili di Bashrah,
tempat domisili pertumbuhan mutazilah. Sementara Abu Mansur Al-Maturidi berada di tempat yang
4 Prof. Dr. Harun Nasution. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah dan Perbandingan, Hal. 9, 1972.
5 Ibid, hal.8.
6

jauh dari pusat perselisihan. Kendati demikian, gaung perselisihan bergema juga sampai ketempat
dimana ia berada.
Sampai sekarang ini, kedua aliran tersebut bergabung menjadi satu yang terhimpun
dalam satu wadah yang disebut dengan ahlusunnah wa al-Jamaah. Kendati aliran asyariyah dianut
oleh umat islam Sunni, sementara maturidiyah dianut oleh umat islam yang bermadzhab dalam
fiqihnya kepada Imam Hanafi.
2.3 Pandangan-pandangan Asyariyah
Adapun pandangan-pandanga Asyariyah yang berbeda dengan Mutazilah, diantaranya ialah:
1. Bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kalau Tuhan mempunyai sifat, seperti yang melihat,
yang mendengar, dan sebagainya, namun tidak dengan cara seperti yng ada pada makhluk.
Artinya harus ditakwilkan lain.
2. Al-quran itu qadim, dan bukan bukan ciptaan Allah, yang dahulunya tidak ada.
3. Tuhan dapat dilihat kelak diakhirat, tidak berarti bahwa Allah itu adnya karena diciptakan.
4. Perbuatan-perbuatan manusia bukan aktualisasi diri manusia, melainkan diciptakan oleh
Tuhan.
5. Keadilan Tuhan terletak pada keyakinan bahwa Tuhan berkuasa mutlak dan berkehendak
mutlak. Apapun yang dilakukan Allah adalah adil. Mereka menentang konsep janji dan
ancaman (al-wad wa al-waid).
6. Mengenai anthropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan
makhluk, jangan dibayangkan bagaimananya, melainkan tidak seperti apapun.
7. Menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah bainal manzilataini), sebab tidak mungkin
pada diri seseorang tidak ada iman dan sekaligus tidak ada kafir. Harus dibedakan antara
iman, kafir, dan perbuatan.
Koreksi Atas Pandangan Asyari
Beberapa tokoh pengikut dan penerus Asyari, banyak yang mengkritik paham Asyari
diantaranya ialah sebagai berikut:
Muhammad Abu Baki al-Baqillani (w.1013 M), tidak begitu saja menerima ajaran-ajaran
Asyari. Misalnya tentang sifat allah dan perbuatan manusia, menurut al-Baqillani yang tepat bukan
sifat Allah, melainkan hal Allah, sesuai dengan pendapat Abu Hasyim dari Mutazilah. Selanjutnya ia
beranggapan bahwa perbuatan manusia bukan semata-mata ciptaan Allah, seperti pendapat Asyari.
Menurutnya, manusia mempunyai andil yang efektif dalam perwujudan perbuatannya, sementara
Allah hanya memberikan potensi dalam diri manusia.
Pengikut Asyari lain yang juga menunjukkan penyimpangan adalah Abdul Malik al-Juwaini
yang dijuluki al-Huramain (419-478 H). Misalnya tentang Anthropomorfisme al-Juwainin
beranggapan bahwa yang disebut tangan Allah harus diartikan (ditakwilkan) sebagai kekuasaan
Allah. Mata Allah harus dipahami sebagai penglihatan Allah, wajah Allah harus diartikan wujud
Allah, dan seterusnya.
7

Pengikut Asyari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat islam yang beraliran
Ahli sunnah wa-Jamaah ialah imam Al-Ghazali. Tampaknya paham teologi cenderung kembali pada
paham-paham Asyari. Al-Ghazali meyakini bahwa:
1. Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan zat Tuhan dan mempunyai
wujud diluar zat.
2. Al-Quran bersifat qadim dan tidak diciptakan.
3. Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan Tuhan dapat
dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
4. Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (ash-shalah wal ashlah) manusia, tidak
wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tak
dapat dipikul kepada manusia.
Berkat Al-Ghazali paham Asyari dengan sunnah Wal-Jamaahnya berhasil berkembang
ke manapun, meski pada masa itu aliran mutazilah amat kuat du bawah dukungan para khalifah
Abasiyah. Sementara itu paham mutazilah mengalami pasang surut selama masa Daulat Bagdad
tergantung dari kecenderungan paham para khalifah yang berkuasa.
Diantara para ulama besar dunia yang berpaham akidah ini dan sekaligus juga menjadi
tokohnya antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)


Al-Imam Al-Fakhurrazi (544-606 H/1150-1210 M)
Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/ 1027)
Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/1003-1083 M)
Mereka yang berakidah ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah adalah paling dekat diantara yang lain kepada ahlusunnah wal Jamaah. Aliran mereka
adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat6.
2.4 Metode Kalam dan Doktrin Ajaran asyariyah
1. Wujud dan Sifat Tuhan
Para ulama ilmu Kalam, baik Asyariyah maupun Mutazilah, dan para filosof, dalam
pembahasan penting ini menyepakati urgensi akal dalam menetapkan keberadaan Tuhan serta
menumbuhkan keyakinan kepadaNya. Berbeda dengan ahlal Dzahir, para Mutakalimin
menyerahkan segala kemampuan logika mereka dalam menetapkan kebenaran tuhan
sebagaimana yang diinginkan dzahir teks agama. Dari sini, jelas Nampak adanya keterlibatan
manusia atau setidaknya aspek kemanusiaan dalam berbagai kajian ketuhanan (Teologi).
Meskipun asyari telah keluar dan menentang dari aliran mutazilah, tetapi tetap saja
masih mempunyai bekas pemikiran mutazilah yang mendampinginya dalam gerak dan corak
pemikirannya. Dengan demikian pemakaian akal pikiran dan argumentasi rasional tetap
6 Rudi Arlan Al-Farisi,Aliran asyariyah, (http://kalamslai.blogspot.com/2009/03/aliran-aliran
-asyariyah.html), 14 oktober 2012.
8

dijadikan landasan oleh Asyariyah, bahkan sampai-sampai ia menentang keras terhadap


mereka yang tidak mau menggunakan akal pikirannya dalam soal agama dan ketika
membicarakan masalah yang tidak pernah disinggung oleh Rosul.
Sebagai contoh bahwa Asyari masih mempunyai bekas kemutazilahannya, Al-asyari
mengemukakan bahwa sifat-sifat Tuhan sama abadinya dengan dia, dan bahwa sifat-sifat
Tuhan ini sama sekali tidak termasuk di dalam dzatNya, begitu pula terhadap kebebasan
berkehendak (free wiil) diambilnya jalan tengah. Para pengikut sifatisme, seperti golongan
jabariyah, berpendapat bahwa semua perbuatan diatur oleh Tuhan dan manusia tidak
mempunyai kebebasan berbuat, manusia hanyalah alat kekuasaan Tuhan yang memaksanya
untuk melakukan apa saja yang telah diaturNya untuk dilakukan oleh manusia. Sementara
kaum mutazilah berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan manusia itu tidak terikat, dan secara
keseluruhan manusia bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
Asyari sebagai penengah diantara kedua paham tersebut, mengajarkan bahwa
perbuatan-perbuatan manusia tidak sah lagi, telah diatur oleh yang maha kuasa, namun
manusia pun mempunyai sedikit kuasa yang memungkinkannya dapat menyelesaikan
perbuatan-perbuatan sesuai dengan aturan yang telah digariskan Tuhan. Setiap perbuatan,
sebelumnya telah diatur oleh Tuhan agar dapat dilaksanakan oleh manusia sesuai dengan
kemampuan atau kemahirannya, sehingga pekerjaan itu selesai, oleh karena itu, diketahui
bahwa sumber perbuatab bukan dari manusia, tetapi menyempurnaannyalah yang datang dari
manusia karena diberi sedikit kemampuan7.
Dalam hal ini Asyari membangun suatu metode pemikirannya dengan memadukan
antara aliran rasionalisme (mutazilah) dan sufisme, atau antara ortodoksi. Pada awalnya, dia
dan para pengikutnya ditentang oleh aliran itu, baik orang-orang mutazilah maupun oleh
muslim ortodoks. Para pengikut dari keempat madzhab pertamanya menaruh curiga terhadap
pola pikir ini, bahkan seorang pengikut Abu Hanifah yang menjadi pendiri dinasti Saljuk yaitu
Sultan Tughril mengusir semua pengikut Asyari dari kerajaannya. Dan menterinya yang
menjadi seorang pengikut mutazilah yaitu Abu Nashr Manshur pernah menyiksa banyak ulama
dari golongan Asyari, meskipun penyiksaan ini tidak berlangsung lama8.
Penalaran Asyari yang disebut dengan paham ortodoks, dikarenakan Asyari lebih
setia terhadap sumber0sumber Islam sendiri seperti Kitab Allah dan Sunnah Nabi dari pada
penalaran kaum Mutazilah dan para Failasuf. Meskipun mereka ini semuanya, dalam analisa

7 Dr. Muzaffaruddin Nadvu, pemikiran Muslim dan sumbernya, hal 56, 1984
8 Ibid, hal.57
9

terakhir harus dipandang secara sebenarnya tetap dalam lingkaran islam, namun yang mereka
sangat banyak menggunkan bahan-bahan dan filsafat yunani.
Para ahlussunah memberikan pendapat, bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di
bumi ini kecuali dengan kehendak Allah, dan segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah,
sebagaimana dalam firman-Nya yang menjelaskan bahwa:
Manusia tidak mampu menghendaki sesuatu jika Allah tidak menghendakinya,
dan sebagaimana diucapkan oleh orang-orang muslim Apapun yang dikehendaki Allah,
pasti akan terjadi dan apapun tidak dikehendaki Allah maka tidak akan terbukti.
Allah berkuasa untuk membuat orang-orang kafir itu menjadi sholeh, mengasihi
mereka sehingga membuat mereka menjadi beriman; tetapi dia tidak berkehendak untuk
membuat dia menjadi shaleh, dia mengasihi mereka sehingga dia menjadi orang yang beriman,
melainkan Dia berkehendak bahwa mereka itu kafir adanya seperti dia ketahui, menghinakan
dan menyesatkan mereka.
Asyari dan para pengikutnya pun berpendapat untuk tidak mengkafirkan terhadap
seorangpun dari kaum muslimin karena sesuatu dosa yang dikerjakannya, seperti mencuri,
berzina meminum minuman keras (dosa-dosa besar) seperti kaum khawarij yang memberikan
hukum dengan pengafirannya. Mereka berpendapat bahwa seorang yang melakukan dosa-dosa
besar dan menganggapnya sebagi perbuatan yang halal serta tidak mempercayai
keharamannya, maka barulah ia menjadi kafir. Menurutnya Asyari, bahwa kelak Allah akan
mengeluarkan suatu kaum dari neraka setelah menerima ujian disebabkan syafaat yang
diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.
2. Keadilan Manusia dan Perilaku Manusia
Diantara tema-tema sentral teologi Asyariyah, topik keadilan Tuhan (al Adl) dalam
hal ini adalah standar nilai kebaikan dan keburukan menempati deretan yang paling penting.
Topik ini, disamping merupakan pembahasan yang cukup luas dan sangat berkaitan dengan
segi-segi fundamental dalam bangunan ideologi Islam, juga sangat mempengaruhi corak
perilaku umat penganutnya. Pada awal kemunculannya, konsep ini hanya merupakan respons
terhadap teologi Mutazilah yang ekstrem-rasionalistik. Dan pada perkembangan selanjutnya,
konsep keadilan Asyariyah ini tidak dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh Jabariyah
(Fatalisme).
Asyariyah mencoba menampilkan pemikirannya tentang keadilan dengan beranjak
dari konsep kemutlakan iradah(keinginan) Tuhan. Mereka beranggapan bahwa Tuhan telah
menciptakan kebaikan (al khair) dan keburukan (al-syarr) serta sekaligus menghendaki
keberadaan keduanya sebagai dualisme nilai yang dianut manusia. Kemudian, dari sisi lain
mereka menegaskan bahwa kebaikan dan keburukan itu merupakan sesuatu yang relatif
10

dalam artian, tidak ada sesuatu yang pada hakikatnya baik dan buruk dan selanjutnya
mengembalikan kedua nilai tersebut kepada kemutlakansyara sebagai standar utama. Segala
yang diakui oleh syara sebagai kebaikan, maka hal itu pastilah baik. Dan demikian pula
sebaliknya, bahwa keburukan hanyalah yang diakui oleh syara sebagai keburukan.
Sesungguhnya, argumentasi Asyariyah yang demikian itu hanya ditujukan untuk
menolak pendapat Mutazilah (ahlaladl) yang menempatkan akal sebagai satu-satunya
standar nilai baik dan buruk. Dengan sangat responsif, mereka menegaskan bahwa syaralah
satu-satunya sumber nilai yang berwenang menentukan segalanya, dan dengan sendirinya
menafikan fungsi akal dalam menilai suatu perbuatan. Dengan kata lain, sebelum
syaraditurunkan, akal manusia tidak mampu mengetahui bahwakejujuran adalah baik dan
bohong itu adalah buruk. Bahwa seandainya Tuhan memerintahkan manusia untuk
berbohong, maka tentunya hukum pun akan berubah,sesuatu yang awalnya buruk berubah
nilai menjadi baik, atau seandainya Tuhan melarang manusia untuk berlaku jujur maka
kejujuran akan berubah menjadi perbuatan tercela.
Untuk membuktian kebenaran pendapatnya, Asyariyah beralasan bahwa akal manusia
sangat relatif dalam menilai sesuatu dan sangat dipengaruhi oleh unsur subyektivitas serta
kepentingan pribadi. Maka tanpa keterlibatan otoritas syara, nilai kebaikan dan keburukan
akan sangat relatif. Secara global Asyariyah mengakui relativitas akal manusia pada
perbedaan- perbedaan yang ada dalam berbagai adat dan aturan konvensional antar
komunitas tertentu. Disamping itu, nilai moral merupakan dasar utama adanya perbedaan
yang menyolok dalam berbagai ajaran agama.
Sekilas nampak kebenaran argumentasi diatas. Tapi sebaliknya argumen tersebut
cukup keliru, sebab pendapat yang mengatakan tentang kenisbian nilai moral tidak mutlak
benar. Para ahli telah mengakui adanya prinsip-prinsip moral dasar yang selamanya sejalan
dengan ketetapan-ketetapan syariat dan hukum konvensional. Prinsip-prinsip dasar ini tidak
mengalami perubahan sepanjang kehidupan manusia. Dan manusia hanya berbeda dan
berselisih sekitar hal-halyang parsial dan tidak prinsipil. Nilai dasar akan berubah jika
dipengaruhi atau dituntut oleh kondisi tertentu, yang pada hakikatnya bersifat temporal.

BAB III
PENUTUP
11

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan tentang aliran Asyariyah ini, bisa diambil suatu kesimpulan bahwa
Asyariyah merupakan aliran yang didirikan oleh Abu Al-Hasan Ali bin Ismail al-Asyari yang
dilahirkan dikota Bashrah Irak pada tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M,
keturunan Abu Musa al-Asyari seorang sahabat dan perantara dalam sengketa antara Ali r.a dan
Muawiyah r.a. aliran ini merupakan aliran yang terpecah dari aliran mutazilah. Aliran ini
memisahkan diri dari aliran mutazilah dan sering berdebat dengan tokoh aliran mutazilah yang
berakhir dengan terlihatnya kelemahan aliran mutazilah. Tokoh-tokoh aliran ini diantaranya adalah
al-baqillani, Al-Ghazali, dan Al-Juwaini.
Asyariyah mempunyai pola pikir yang diwarnai oleh pola pikir kaum mutazilah, karena mau
tidak mau dia sendiri pada mulanya sebagai seorang mutazili. Namun dalam pembatasan ajaran
akidahnya yang selanjutnya pada lapisan masyarakat awam terjadi distorsi, yang pada akhirnya
menimbulkan suatu kesan bahwa aliran Asyariyah membuat sempit pandangan.
Aliran Asyariyah ini telah memberikan warna pada aqidah sebagian besar umat Islam.
Secara Politis, ajaran Asyariyah ini mempunyai implikasi terhadap lahirnya corak pemikiran
realisme. Tetapi ketika dihadapkan kepada masyarakat yang awam ajaran ini mengalami distorsi dan
menimbulkan sifat fatalistis dalam menjalani kehidupan dan apatis terhadap perilaku pigur atau
pemimpin mereka. Dalam ajarannya, aliran Asyariyah mempunyai ajaran pokok yaitu tentang
aqidah, dimana Tuhan diposisikan sebagai yang serba maha secara mutlak, artinya kurang memberi
posisi terhadap kehendak dan kemampuan manusia.

12