You are on page 1of 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Semangka atau tembikai (Citrullus lanatus, suku ketimun-ketimunan atau

Cucurbitaceae) adalah tanaman merambat yang berasal dari daerah setengah


gurun di Afrika bagian selatan. Tanaman ini masih sekerabat dengan melon
(Cucumis melo) dan ketimun (Cucumis sativus). Semangka biasa dipanen buahnya
untuk dimakan segar atau dibuat jus. Biji semangka yang dikeringkan dan
disangrai juga dapat dimakan isinya (kotiledon) sebagai kuaci.
Semangka merupakan tanaman buah berupa herba yang tumbuh merambat
yang dalam bahasa Inggris disebut Water Mellon. Berasal dari daerah kering
tropis dan subtropis Afrika, kemudian berkembang dengan pesat ke berbagai
negara seperti: Afrika Selatan, Cina, Jepang, dan Indonesia. Semangka termasuk
dalam keluarga buah labu-labuan (Cucurbitaceae) pada daerah asalnya sangat
disukai oleh manusia/binatang yang ada di benua tersebut, karena banyak
mengandung air, sehingga penyebarannya menjadi cepat.
Kuliah Kerja Profesi didasarkan pada falsafah pendidikan yang didasarkan
pada undang-undang dasar 1945 dan undang-undang nomor 20 tahun 2003
tentang sistim pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan susana belajar dan proses pembelajaran
agar pesrta didik secara aktif mengembagnkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian dirinya, kepribadian, kecerdasan,

akhlak muliya, serta keteramppilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa


dan negara .
Dalam rangka mengenal Kuliah Kerja Profesi merupakan bagian intergral
dari kurikulum pendidikan tinggi. Penetapan ini didasarkan pada amanat presiden
republik indonesia pada februari 1972. Yang menganjurkan dan mendorong setiap
mahasiswa bekerja di desa dalam jangka waktu tertentu untuk tinggal dan
membantu msyarakat pedesaan memecahkan masalah Budidaya Tanaman
Semangka Non Biji sebagai bagian dari kurikulumnya di lapangan.
Kuliah Kerja Profesi merupakan bentuk salah satu Kampus unigha
perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, Program ini dilakukan
mahasiswa mahasiswa Unigha Fakultas Pertanian Jurusan Aribibisnis Diharapkan
dengan program ini mahasiswa mampu menempatkan diri dan memberi motivasi
kepada masyarakat didalam penerapan pengetahuan yang diterima di jenjang
pendidikan melalui bangku perkuliahan serta mahasiswa dapat memperoleh
pengetahuan dan pengalaman tentang fenomena, keadaan, kesulitan serta masalah
yang dihadapi oleh masyarakat dan pemerintahan khususnya di Kabupaten Pidie
Jaya.
1.2

Maksud dan Tujuan Kuliah Kerja Profesi

Secara umum Kuliah Kerja Profesi mempunyai 4 (empat) tujuan, yaitu :


1. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar

yang

berharga melalui

keterlibatan dalam masyakarat yang secara langsung menemukan,

merumuskan,

memecahkan

dan

menanggulangi

permasalahan

pembangunan secara pragmatis interdisipliiner.


2. Mahasiswa dapat memberikan pemikiran berdasarkan ilmu, tekhnologi dan
seni dalam upya menumbuhkan, mempercepat gerak serta mempersiapkan
kader pembangunan terutama mahasiswa pertanian.
3. Supaya perguruan tinggi dapat mencetak sarjana pengisi tekhnologi
pertanian dalam masyarakat yang lebih menghayati kondisi gerak dan
permaslahan yang komplek dihadapi masyarakat dalam melaksanakan
budidaya semangka non biji. Dengan demikian out put perguruan tinggi
secara relatif menjadi siap pakai dan terlatih dalam menaggulangi
permasalahan pembangunan yang lebih pragmatis dan interdisipliner.
4. Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi dengan pemerintah
daerah, instasi terkait dan masyarakat sehingga perguruan tinggi lebih
dapat berperan dan menyesuaikan pendidikan dan penelitiannya dengan
tuntutan realistis dari masyarakat yang sedang membangun.
1.3

Kegunaan Kuliah Kerja Profesi

Adapun kegunaan Kuliah Kerja Profesi yang bisa dirasakan oleh :


1.

Bagi Mahasiswa
a.

Menambah pemahaman tentang cara berpikir dan bekerja secara


praktis dalam menanggulangi berbagai permasalahan di masyarakat.

b.

Menambah pemahaman dan penghayatan tentang Budidaya Tanaman


Semangka non Biji.

c.

Mahasiswa dapat memahami dan menghayati kesulitan yang di hadapi


masyarakat dalam melaksanaka budidaya Semangka Non Biji.

d.

Mendewasakan cara berpikir dan daya nalar mahasiswa dalam


melakukan telaah, perumusan dan pemecahan masalah.

e.

Membina mahasiswa menjadi inovator, motivator, dinamisator,


problem solver dan Religions counselor.

f.Membentuk sikap, rasa cinta serta rasa tanggung jawab mahasiswa


terhadap kemajuan masyarakat.
g.

2.

Menumbuhkan sifat profesionalisme dalam diri mahasiswa.

Bagi Masyarakat
a.

Memperoleh bantuan tenaga dan pikiran dalam merencanakan dan


melaksanakan pembangunan.

b.

Cara berpikir, bersikap dan bertindak dari masyarakat akan lebih


sesuai dengan pembagunan.

c.

Terbentuknya kader-kader penerus pembangunan di masyarakat


sehingga terjamin kelangsungan pembangunan bangsa dan negara.

3.

Bagi Perguruan Tinggi.


a.

Memperoleh umpan balik sebagai hasil integrasi mahasiswa dengan


masyarakat sehingga kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan
pertanian.

b.

Para dosen atau pengajar akan memperoleh berbagai pengalaman yang


berharga dan menemukan berbagai masalah untuk pengembangan
kegiatan penelitian.

c.

Mempererat kerja sama antara Kampus Unigha Khususnya Fakultas


Pertanian dengan instansi lain dalam pelaksanaan Pertanian.

4.

Bagi Universitas Jabal Ghafur


a.

Secara langsung mahasiswa Unigha, selalu baik dengan masyarakat


setempat.

b.

Menjalankan tujuan dari unigha itu sendiri yaitu mengusahakan


terciptanya akademisi yang berakhlak mulia

c.

Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Profesi


sebagai

aktualisasi

peran

mahasiswa

di desa berarti juga

unigha

sebagai

kader

persyarikatan dalam rangka mengamalkan ilmu amaliah dan amal


ilmiah.
1.4

Waktu dan Tempat Kegiatan


Kuliah Kerja Profesi(Kuliah Kerja Profesi ) Mahasiswa Unigha fakultas

Pertanian dilaksanakan di Gampong Raya kecamatan Trienggadeng kabupaten


Pidie Jaya mulai tanggal 10 April 2013 sampai dengan 10 mei 2013, adapun
Posko Kuliah Kerja Profesi yang ditempati mahasiswa bertempat ditengahtengah masarakat tepatnya di di Gampong Raya kecamatan Trienggadeng
kabupaten Pidie Jaya mengikuti kegiatan dalam budidaya semangka non biji.

1.5

Langkah-langkah dan Metode Kegiatan


Pelaksanaan Kuliah Kerja Profesiyang dilaksanakan di di Gampong Raya

kecamatan Trienggadeng kabupaten Pidie Jaya mulai tanggal 10 April 2013


sampai dengan 10 mei 2013 memiliki langkah dan metode yang dijadikan bahan
rujukan.
Kegiatan tersebut mencakup tiga hal pokok yaitu pengabdian masarakat,
pemerintahan dan pengaajaran, adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam
program Kuliah Kerja Profesi tersebut adalah dengan membuat rencana kegiatan
yang akan dilaksanakan selama Kuliah Kerja Profesi

dengan menggunakan

metode sebagai berikut:


1. Pendekatan Persuatif
Pendekatan ini menitikberatkan kepada ide, sikap, dan usaha-usaha
masarakat atas dasar perubah kontak terarah dan selektif yang datangnya
dari pihak luar sehingga menimbulkan motivasi, kreasi dan inovasi bagi
masarakat untuk mampu berpikir dan berbuat sesuai dengan kebenaran.
2. Pendekatan Empirik, Normatik dan Edukatif
Yaitu kepedulian terhadap norma-norma yang berlaku baik norma tersirat
maupun norma yang tersurat di masarakat.
3. Pendekatan Andragogi
Yaitu system pembelajaran dengan membudidayakan tanaman semangka
non biji

untuk mambantu masarakat setempat dalam belajar dan

membelajarkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Syarat Tumbuh Tanaman Semangka
2.1.1. Keadaan Iklim

Secara teoritis curah hujan yang ideal untuk areal penanaman


semangka adalah 40-50 mm/bulan.

Seluruh areal pertanaman semangka perlu sinar matahari sejak


terbit sampai tenggelam. Kekurangan sinar matahari menyebabkan
terjadinya kemunduran waktu panen.

Tanaman semangka akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah


dengan optimal pada suhu 25 derajat C (siang hari).

Suhu udara yang ideal bagipertumbuhan tanaman semangka adalah


suhu harian rata-rata yang berkisar 2030 mm.

Kelembaban udara cenderung rendah bila sinar matahari menyinari


areal penanaman, berarti udara kering yang miskin uap air. Kondisi
demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman semangka, sebab di
daerah asalnya tanaman semangka hidup di lingkungan padang
pasir yang berhawa kering. Sebaliknya, kelembaban yang terlalu
tinggi akan mendorong tumbuhnya jamur perusak tanaman.

2.2. Keadaan Tanah


Kondisi tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah yang
cukup

gembur,

kaya

bahan

organik,

kebun/persawahan yang telah dikeringkan.

bukan

tanah

asam

dan

tanah

Keasaman tanah (pH) yang diperlukan antara 6-6,7. Jika pH < 5,5 (tanah
asam) maka diadakan pengapuran dengan dosis disesuaikan dengan tingkat
keasaman tanah tersebut.
Tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah porous (sarang)
sehingga mudah membuang kelebihan air, tetapi tanah yang terlalu mudah
membuang air kurang baik untuk ditanami semangka.
2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang ideal untuk areal penanaman semangka adalah:
100-300 m dpl. Kenyataannya semangka dapat ditanam di daerah dekat pantai
yang mempunyai ketinggian di bawah 100 m dpl dan di atas perbukitan dengan
ketinggian lebih dari 300 m dpl.
2.2. Teknik Budidaya
2.2.1. Persemaian

Persyaratan Benih : Pemilihan jenis benih semangka yang


disemaikan adalah: Hibrida import, terutama benih jenis Triploid
(non biji) yang mempunyai kulit biji yang sangat keras dan jenis
Haploid (berbiji).

Penyiapan Benih : Jenis benih Hibrida impor, terutama


jenis bibit triploid setelah dipilih disiapkan alat bantu untuk
menyayat/merenggangkan sedikit karena tanpa direnggangkan
biji tersebut sulit untuk berkecambah, alat bantu tersebut
berbentuk gunting kuku yang mempunyai bentuk segitiga panjang
berukuran kecil dan disediakan tempat kecil yang mempunyai
8

permukaan lebar. Jenis Haploid dengan mudah disemai karena


bijinya tidak keras sehingga mudah membelah pada waktu
berkecambah.

Teknik Penyemaian Benih : Teknik penyemaian benih


semangka dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :

Perenggangan bibit biji semangka terlebih dahulu supaya


untuk mempermudah dalam proses pertumbuhannya;

Perendaman biji dalam suatu satuan obat yang diramu dari


bahan-bahan: 1 liter air hangat suhu 20-25 derajat C; 1 sendok
teh hormon (Atornik, Menedael, Abitonik); 1 sendok peres
fungisida (obat anti jamur) seperti: Difoldhan 4T, Dacosnil 75
WP, Benlate; 0,5 sendok teh bakterisida (Agrept 25 WP).
Setelah direndam 10-30 menit, diangkat dan ditiriskan sampai
air tidak mengalir lagi dan bibit siap dikecambahkan.

Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian: Kantong-kantong


persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh
sejak terbit hingga tenggelam. Diberi perlindungan plastik
transparan serupa rumah kaca mini dan untuk salah satu ujungnya
terbuka dengan pinggiran yang terbuka. Pemupukan dilakukan
lewat daun untuk memacu perkembangan bibit dicampur dengan
obat, dilakukan rutin setiap 3 hari sekali. Pada usia 14 hari, benihbenih dipindahkan ke lapangan yang telah matang dan siap
ditanami benih tersebut.
9

Pemindahan Bibit : Setelah pengecambahan dilakukan


penyemaian

bibit

menggunakan

kantong-kantong

plastik

berukuran: 12 cm x (0, -0,3) mm. Satu kantong ditanam satu


benih (sudut kantong dipotong secukupnya untuk pengurangan
sisa air) dan diisi campuran tanah dengan pupuk organik
komposisi: 1 bagian tanah kebun, 1 bagian kompos/humus, 1
bagian pupuk kandang yang sudah matang. Setelah bibit berumur
12-14 hari dan telah berdaun 2-3 helai, dipindahkan ke areal
penanaman yang telah diolah.
2.2.2. Pengolahan Tanah
1. Persiapan : Bila areal bekas kebun, perlu dibersihkan dari tanaman
terdahulu yang masih tumbuh. Bila bekas persawahan, dikeringkan
dulu beberapa hari sampai tanah itu mudah dicangkul, kemudian
diteliti pH tanahnya.
2. Pembukaan Lahan : Lahan yang ditanami dilakukan pembalikan
tanah untuk menghancurkan tanah hingga menjadi bongkahanbongkahan yang merata. Tunggul bekas batang/jaringan perakaran
tanaman terdahulu dibuang keluar dari areal, dan juga segala jenis
batuan

yang

ada

dibuang,

sehingga

tidak

mempengaruhi

perkembangan tanaman semangka yang akan ditanam di areal


tersebut.
3. Pembentukan Bedengan : Tanaman semangka membutuhkan
bedengan supaya air yang terkandung di dalam tanah mudah

10

mengalir keluar melalui saluran drainase yang dibuat. Jumlah


bedengan tergantung jumlah baris tanam yang dikehendaki oleh si
penanam (bentuk bedengan baris tanaman ganda, bedengan
melintang pada areal penanaman). Lebar bedengan 7-8 meter,
tergantung tebal tipis dan tinggi bedengan (tinggi bedengan
minimum 20 cm).
4. Pengapuran : Dilakukan dengan pemberian jenis kapur pertanian
yang me-ngandung unsur Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang
bersifat menetralkan keasaman tanah dan menetralkan racun dari
ion

logam

yang

terdapat

didalam

tanah.

Dengan

kapur

Karbonat/kapur dolomit. Penggunaan kapur per 1000 m 2 pada pH


tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit, untuk antara pH 5-6
dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit
sebanyak 50 kg.
5. Pemupukan : Pupuk yang dipakai adalah pupuk organik dan pupuk
buatan. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang
yang berasal dari hewan sapi/kerbau dan dipilih pupuk kandang
yang sudah matang. Pupuk kandang berguna untuk membantu
memulihkan kondisi tanah yang kurang subur, dengan dosis 2 kg/
bedengan. Caranya, ditaburkan disekeliling baris bedengan secara
merata. Pupuk tersebut terdiri atas:

11

1. Pupuk Makro yang terdiri dari unsur Nitrogen, Phospor,


Kalsium (dibuat dari pupuk ZA, TSP dan KCl);
2. Pupuk Mikro yangterdiri dari Kalsium (Ca) Magnesium (Mg)
Mangaan (Mn), Besi (Fe), Belerang (S), Tembaga (Cu), Seng
(Zn) Boron (Bo) dan Molibden (Mo). Pupuk tersebut, dijual
dengan beberapa merek seperti Mikroflex, Microsil dll.
Penggunaannya, dicampur 1% obat anti hama penggerek batang.
3. Lain-lain : Tahap penghalusan dan perataan bongkahan tanah
pada sisi bedengan pada tempat penanaman semangka dilakukan
dengan cangkul. Di bagian tengah, sebagai landasan buah pada
bedengan, diratakan dan diatas lapisan ini diberi jerami kering
untuk perambatan semangka dan peletakan buah. Bedengan
perlu disiangi, disiram dan dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm
dan plastik mulsa dengan lebar plastik 110-150 cm agar
menghambat

penguapan

air

dan

tumbuh

tanaman

liar.

Pemakaian plastik lebih menguntungkan karena lebih tahan


lama, sampai 8-12 bulan pada areal terbuka (2 - 3 kali periode
penanaman).

Plastik

sisa

yang

berwarna

perak

yang

memantulkan sinar matahari dan secara tidak langsung


membantu tanaman banyak mendapat sinar matahari untuk
pertumbuhannya.
2.2.3. Teknik Penanaman

12

1.

Penentuan Pola Tanaman : Tanaman semangka merupakan


tanaman semusim dengan pola tanam monokultur.

2.

Pembuatan Lubang Tanaman : Penanaman bibit semangka pada


lahan lapangan, setelah persemaian berumur 14 hari dan telah
tumbuh daun 2-3 lembar. Sambil menunggu bibit cukup besar
dilakukan pelubangan pada lahan dengan kedalaman 8-10 cm.
Persiapan pelubangan lahan tanaman dilakukan 1 minggu
sebelum bibit dipindah ke darat. Berjarak 20-30 cm dari tepi
bedengan

dengan

jarak

antara

lubang

sekitar

80-100

cm/tergantung tebal tipisnya bedengan. Lahan tertutup dengan


plastik mulsa, maka diperlukan alat bantu dari kaleng bekas cat
ukuran 1 kg yang diberi lubang-lubang disesuaikan dengan
kondisi tanah bedengan yang diberi lobang.
3.

Cara Penanaman : Setelah dilakukan pelubangan, areal


penanaman disiram secara massal supaya tanah siap menerima
penanaman bibit sampai menggenangi areal sekitar tinggi
bedengan, dan dibiarkan sampai air meresap. Sebelum batang
bibit ditanam dilakukan perendaman, agar mudah pelepasan bibit
menggunakan kantong plastik yang ada. Langkah imunisasi
dilakukan dengan perendaman selama 5-10 menit disertai
campuran larutan obat obatan. Susunan obat terdiri dari: 1 sendok
teh hormon Atonik, Abitonik, dekamon, menedael, 1 sendok teh
peres bakterisida tepung, 1 sendok teh peres fungisida

13

serbuk/tepung

(Berlate,

dithane

M-45,

Daconiel).

Urutan

penanaman adalah sebagai berikut:


1. Kantong plastik diambil hati-hati supaya akar tidak rusak.
2. Tanam dengan tanah posisi kantong dan masukkan ke lubang yang
sudah disiapkan
3. Celah-celah lubang ditutup dengan tanah yang telah disiapkan
4. Lubang tanaman yang tersisa ditutup dengan tanah dan disiram
sedikit air agar media bibit menyatu dengan tanah disekeliling
dapat bersatu tanpa tersisa.
2.2.4. Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman : Tanaman semangka yang berumur
3-5 hari perlu diperhatikan, apabila tumbuh terlalu lebat/tanaman
mati dilakukan penyulaman/diganti dengan bibit baru yang telah
disiapkan dari bibit cadangan. Dilakukan penjarangan bila tanaman
terlalu lebat dengan memangkas daun dan batang yang tidak
diperlukan, karena menghalangi sinar matahari yang membantu
perkembangan tanaman.
2. Penyiangan : Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja,
dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak.
Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu
penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung.cabang

14

sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder


yang tumbuh pada ruas yang ada buah ditebang karena
mengganggu pertumbuhan buah. Pengaturan cabang utama dan
cabang primer agar semua daun pada tiap cabang tidak saling
menutupi, sehingga pembagian sinar merata, yang mempengaruhi
pertumbuhan baik pohon/buahnya.
3. Pembubunan: Lahan penanaman semangka dilakukan pembubunan
tanah agar akar menyerap makanan secara maksimal dan dilakukan
setelah beberapa hari penanaman.
4. Pengairan dan Penyiraman : Sistim irigasi yang digunakan sistem
Farrow Irrigation: air dialirkan melalui saluran diantara bedengan,
frekuensi pemberian air pada musim kemarau 4-6 hari dengan
volume pengairan tidak berlebihan. Bila dengan pompa air sumur
(diesel air) penyiraman dilakukan dengan bantuan slang plastik
yang cukup besar sehingga lebih cepat. Tanaman semangka
memerlukan

air

secara

terus

menerus

dan

tidak

kekurangan air.
5. Waktu Penyemprotan Pestisida : Selain pupuk daun, insktisida dan
fungisida, ada obat lain yaitu ZPZ (zat perangsang tumbuhan);
bahan perata dan perekat pupuk makro (Pm) berbentuk cairan.
Dosis ZPT: 7,5 cc, Agristik: 7,5 cc dan Metalik (Pm): 10 cc untuk
setiap 14-17 liter pelarut. Penyemprotan campuran obat dilakukan

15

setelah tanaman berusia >20 hari di lahan. Selanjutnya dilakukan


tiap 5 hari sekali hingga umur 70 hari. Penyemprotan dilakukan
dengan sprayer untuk areal yang tidak terlalu luas dan
menggunakan mesin bertenaga diesel bila luas lahan ribuan hektar.
Penyemprotan dilakukan pagi dan sore hari tergantung kebutuhan
dan kondisi cuaca.
6. Pemeliharaan Lain : Seleksi calon buah merupakan pekerjaan yang
penting untuk memperoleh kualitas yang baik (berat buah cukup
besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman), calon
buah yang dekat dengan perakaran berukuran kecil karena umur
tanaman relatif muda (ukuran sebesar telur ayam dalam bentuk
yang baik dan tidak cacat). Setiap tanaman diperlukan calon buah
1-2 buah, sisanya di pangkas. Setiap calon buah 2 kg sering
dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari, sehingga warna kurang menarik
dan menurunkan harga jual buah itu sendiri.
2.2.5. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
1. Hama
Hama tanaman semangka dapat digolongkan dalam 2 kelompok:
hama yang tahan dan tidak tahan terhadap peptisida. Hama yang tidak tahan
terhadap pestisida (Kutu daun, bentuk seperti kutu), umumnya berwarna hijau
pupus, hidup bergelombol, tidak bersayap, dan mudah berkembang biak. Gejala

16

yang terjadi daun berberecak kuning, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian


dilakukan secara non kimiawi dan kimiawi dengan obat-obatan. Hama kedua
adalah hama yang tahan terhadap pestisida seperti: tikus,binatang piaraan (kucing,
anjing dan ayam). Pengendallian: menjaga pematang selalu bersih, mendirikan
pagar yang mengelilingi tanaman, pemasangan suatu alat yang menghasilkan
bunyi-bunyian bila tertiup angin dan diadakan pergiliran jaga
1. Thrips
o

Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman,


mempunyai sungut badan beruas-ruas. Cara penularan secara
mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak.

Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida sampai tanaman


basah dan merata.

2. Ulat perusak daun


o

Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning,


tanda serangan daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan
terlihat dari jauh seperti berlubang.

Pengendalian: dilakukan secara non kimiawi dan secara kimiawi.

3. Tungau
o

Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan


berukuran kecil mengisap cairan tanaman, membela diri dengan
menggigit dan menyengat. Tandanya, tampak jaring-jaring sarang

17

binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan


pucat.
o

Pengendalian: dilakukan secara non-kimiawi dan dengan pestisida.

4. Ulat tanah :
o

Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5


cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun,
terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal
tanaman.

Pengendalian:
1. penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan
untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan
sarang ngengat disekitarnya;
2. pengendalian secara kimiawi, dengan obat-obatan sesuai
dengan aturan penanaman buah semangka.

5. Kutu putih dan Lalat buah


o

Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan


bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan :
terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging
buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar.

18

Pengendalian : dilakukan secara non kimiawi (membersihkan


lingkungan terutama pada kulit buah, tanah bekas hama dibalikan
dengan dibajak/dicangkul). Secara kimiawi : dengan obat-obatan.
3. Penyakit

Layu Fusarium
Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh

jamur (hawa yang terlalu lembab).


Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat

dan subur, lambat laun akan.


Pengendalian:

secara non kimiawi dengan pergiliran masa tanam dan


menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru
yang belum ditanami, atau menanam benih yang sudah
direndam obat;

secara kimiawi dilakukan penyemprotan bahan fungisida


secara periodik.

Bercak daun
o

Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman


lain yang terserang.

19

Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan

selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati,


atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu.
Pengendalian:

secara non kimiawi seperti pada penyakit layu fusarium;


tanaman disemprot dengan fungisida yang terdiri dari
Dithane M 45 dosis 1,8-2,4 gram/liter; Delsene MX 200
dengan dosis 2-4 gram/liter, Trimoltix 65 Wp dosis 2-3
gram/liter dan Daconil 75 Wp dosis 1-1,5 gram/liter.

Antraknosa
o

Penyebab: seperti penyakit layu fusarium.

Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya


berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila
menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu
yang lama kelamaan semakin meluas.

Pengendalian:

dilakukan secara non kimia sepeti pengendalian penyakit


layu fusarium;

menggunakan fungisida Velimex 80 WP dosis 2-2,5


gram/liter air.

20

Busuk semai
o

Menyerang pada benih yang sedang disemaikan.

Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah


kemudian mati.

Pengendalian: benih direndam di dalam obat Benlate 20 WP


dosis 1-2 gram/liter air dan Difolathan 44 FF dosis 1-2
cc/liter air.

Busuk buah
o

Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah


menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik.

Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit


buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan,
pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak
berawan/hujan.

Karat daun
o

Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang


berkembang pada daun tanaman.

Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah


bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada
batang.

21

Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium. Belum


ditemukan

obat

yang

tepat,

sehingga

tanaman yang terlanjur terkena harus, supaya tidak menular


pada tanaman sehat.
3. Gulma
Selain gangguan oleh hama dan penyakit, gangguan juga disebabkan
kekurangan/kelebihan unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Pohon semangka yang kekurangan dan kelebihan unsur
hara tersebut, menderita akibat adanya gulma (tanaman pengganggu).
2.2.6. Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: setelah
terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah
tersebut bisa dipetik (dipanen). Masa panen dipengaruhi cuaca, dan jenis bibit
(tipe hibrida/jenis triploid, maupun jenis buah berbiji).

4. Cara Panen
Dalam pemetikan buah yang akan dipanen sebaiknya dilakukan pada saat
cuaca cerah dan tidak berawan sehingga buah dalam kondisi kering permukaan
kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer.
Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya
4. Periode Panen

22

Panen dilakukan dalam beberapa periode. Apabila buah secara serempak


dapat dipanen secara sekaligus, tetapi apabila tidak bisa bersamaan dapat
dilakukan 2 kali. Pertama dipetik buah yang sudah tua, ke-dua semuanya sisanya
dipetik semuanya sekaligus. Ke-tiga setelah daun-daun sudah mulai kering karena
buah sudah tidak dapat berkembang lagi maka buah tersebut harus segera dipetik.
4. Prakiraan Produksi
Hasil produksi dari masing-masing pohon semangka perlu diadakan
pembatasan hasil buahnya, sehingga dapat diperkirakan jumlah produksinya.
Secara wajar, jumlah buah berkisar antara 2-3 buah setiap pohon (1 buah pada
cabang pohon dan 2 buah pada batang utama dari pohon), dengan berat buahnya
6-8 kg per pohon.

2.2.7. Pascapanen
1. Pengumpulan
Pengumpulan hasil panen sampai siap dipasarkan, harus diusahakan sebaik
mungkin agar tidak terjadi kerusakan buah, sehingga akan mempengaruhi mutu
buah dan harga jualnya. Mutu buah dipengaruhi adanya derajat kemasakan yang
tepat, karena akan mempengaruhi mutu rasa, aroma dan penampakan daging buah,
dengan kadar air yang sempurna.
2. Penyortiran dan Penggolongan
Penggolongan ini biasanya tergantung pada pemantauan dan permintaan
pasaran. Penyortiran dan penggolongan buah semangka dilakukan dalam beberapa
klas antara lain

23

Kelas A: berat =4 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak.


Kelas B: berat 2-4 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak.
Kelas C: berat < 2 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak.
3. Penyimpanan
Penyimpanan buah semangka di tingkat pedagang besar (sambil menunggu
harga lebih baik) dilakukan sebagai berikut:
Penyimpanan pada suhu rendah sekitar 4,4 derajat C, dan kelembaban udara
antara 80-85%;
1. Penyimpanan pada atmosfir terkontrol (merupakan cara pengaturan kadar
O2 dan kadar CO2 dengan asumsi oksigen atau menaikan kadar karbon
dioksida (CO2), dapat mengurangi proses respirasi;
2. Penyimpanan dalam ruang tanpa pengatur suhu: merupakan penyimpanan
jangka pendek dengan cara memberi alas dari jerami kering setebal 10-15
cm dengan disusun sebanyak 4-5 lapis dan setiap lapisnya diberi jerami
kering.

4. Pengemasan dan Pengangkutan

Di dalam mempertahankan mutu buah agar kondisi selalu baik sampai pada
tujuan akhir dilakukan pengemasan dengan proses pengepakan yang secara benar
dan hati-hati
1. Menggunakan tempat buah yang standar untuk mempermudah
pengangkutan.

24

2. Melindungi buah saat pengangkutan dari kerusakan mekanik dapat


dihindari.
3. Dibubuhi label pada peti kemas terutama tentang mutu dan berat buah.
5.

Penanganan Lain
Pemasaran merupakan salah satu faktor penting, maka perlu diperhatikan

nilai harga dan jalur-jalur pemasaran mulai dari produsen (petani) sampai
konsumen. Semakin cepat dikonsumsi semakin tinggi harga jualnya. Pemasaran
biasa dilakukan melalui sistem borongan dengan harga yang lebih rendah, atau
melalui beberapa tahapan (seperti produsen, pengumpul, pengecer).

BAB III
METODE PELAKSANAAN KEGIATAN KULIAH KERJA PROFESI

2.1

Lokasi Kuliah Kerja Profesi


Kabupaten Pidie Jaya adalah salah satu kabupaten yang baru terbentuk

berada dalam wilayah

provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dengan ibukota

25

Kabupaten adalah Kota Meureudu. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 7 Tahun 2007, pada tanggal 2 Januari 2007, dengan luas wilayah
Kabupaten Pidie Jaya 1.162,84 km2, yang terdiri dari 8 kecamatan, 34 Mukim, 9
kelurahan dan 213 desa.
Batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka,

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Samalanga Kabupaten


Bireuen,

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pidie (Kecamatan Tangse,


Kecamatan Geumpang dan Kecamatan Mane),

Sebelah

Barat

berbatasan

dengan

Kabupaten

Pidie

(Kecamatan

Geuleumpang Tiga, Kecamatan Geuleumpang Baro, dan Kecamatan


Keumbang Tanjong).
Kabupaten Pidie Jaya juga merupakan salah satu wilayah yang terkena
dampak tsunami dan mengakibatkan sebagian wilayah pesisir luluh lantak,
struktur perekonomian, infrastruktur dan prasarana lainnya. Wilayah kabupaten
ini terdiri dari 8(delapan) wilayah kecamatan, yaitu: Bandar Baru, Pante Raja,
Trienggadeng, Meureudu, Meurah Dua, Ulim, Jangka Buya, dan Kecamatan
Bandar Dua. Secara keseluruhan wilayah Kabupaten Pidie Jaya memilki luas
1.162,85 Km, dengan wilayah yang terluas di Kecamatan Meurah Dua dan
Bandar Baru, masing-masing luasan 25,13% dan 24,19% dari luas wilayah
Kabupaten Pidie Jaya.

26

Faktor alam adalah kondisi geografis yang secara inheren dimiliki suatu
daerah yang mana apabila terjadi bencana, manusia sebagai penghuninya tidak
dapat sepenuhnya mengendalikan. Faktor alam tersebut antara lain wilayah
Kabupaten Pidie Jaya seluas 1.162,84 Km2 yang terdiri dari luas wilayah darat
952,0 Km2 dan Wilayah laut 210,84 Km2, dengan koordinat 4,91 - 5,30 Lintang
Utara dan 96,02 - 96,36 Bujur Timur.
Permasalahan banjir dan tanah longsor merupakan persoalan alam yang
tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya,
karena hulu sungai seperti Sungai Krueng Kala yang daerah penyangga berada di
luar kewenangan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, melainkan dibawah
kewenangan Kabupaten Pidie. Adapun sungai-sungai yang berada diwilayah
Kabupaten Pidie Jaya adalah Sungai Krueng Kala di Kecamatan Bandar Baru
perbatasan dengan Kabupaten Pidie, Sungai Krueng Cubo berada di Kecamatan
Panteraja dan Kecamatan Trienggadeng, Krueng Meureudu yang membelah
Kecamatan Meureudu dengan Kecamatan Meurah Dua dan Krueng Jeulangan
yang melintasi kecamatan Bandar Dua dan Jangka Buya. Sungai-sungai tersebut
sangat rawan terjadinya banjir karena perilaku masyarakat masih membuang
sampah dan limbah rumahtangga ke sungai dan banyaknya pohon penyangga
sungai yang telah mati akibat penebangan dan tidak optimalnya fungsi irigasi
yang ada serta eksploitasi sumberdaya sungai berupa Bahan Galian C (pasir dan
batu).
Secara topografi Kabupaten Pidie Jaya berada pada ketinggian 0,80 m s/d
125,0 m di atas permukaan laut dengan tingkat kemiringan lahan antara 0 sampai

27

40%, dimana untuk kota kota kecamatan seperti Panteraja, Treinggadeng, dan
Meureudu berada dipesisir pantai laut Malaka.
Secara keseluruhan Kabupaten Pidie Jaya rawan terhadap banjir dan erosi.
Kecamatan Ulee Glee yang merupakan wilayah yang berada ditempat yang lebih
tinggi dari daerah lainnya dan wilayah selatan dari kecamatan Bandar Baru,
Panteraja, Trienggadeng dan Merah Dua dari Kabupaten Pidie Jaya

juga

merupakan kawasan hutan yang selama ini terjadi penebangan hutan yang tidak
terkendalinya dan kurang berhasilnya reboisasi kawasan hutan berpotensi untuk
terjadinya erosi.
Dari klasifikasi lereng, Kabupaten Pidie Jaya merupakan daerah dataran
tinggi yang memiliki daerah kelas lereng lebih besar dari 40 % dan daerah pesisir
pantai yang memiliki klasifikasi lereng 0 - 3 %. Bila dilihat dari jenis tanah
kabupaten Pidie Jaya, jenis tanah podzolit merah kuning merupakan jenis terluas
dengan beberapa jenis tanah lainnya.
Keadaan tanah efektif di Kabupaten Pidie Jaya mencapai 94,78 % untuk
kedalaman lebih dari 90 cm, sedangkan sisanya 5,22 % tersebar ke dalaman
lainnya.
Penggunaan lahan di Kabupaten Pidie Jaya terbagi atas beberapa
bagian/fungsi yaitu daerah daratan yang berfungsi sebagai daerah permukiman
dan lahan perkebunan serta pertanian, dan daerah rawa/tambak yang terdapat di
sepanjang pantai.
Paska tsunami terjadi pergeseran fungsi lahan yang sebelumnya
berorientasi ke pantai, sekarang ini mengarah menjauhi pantai, hal ini terjadi

28

akibat kerusakan di kawasan pesisir pantai dan terjadinya penurunan permukaan


daratan.
Tabel 2.1. Luas Lahan Sawah berdasarkan Sistem Pengairan di Kabupaten
Pidie Jaya Tahun 2012
Sistem Pengairan
Luas Lahan
No. Kecamatan
Sawah

Tadah
Sederhana Non PU
Teknis
Hujan
(Ha)
Teknis
1
Bandar Baru
1.365
1.150
61
95
59
2
Pante Raja
204
50
50
50
54
3
Trienggadeng
1.376
1.30
76
4
Meureudu
1.100
1.100
5
Meurah Dua
650
650
6
Ulim
1.002
900
76
67
7
Bandar Dua
1.834
1.834
8
Jangka Buya
466
466
Jumlah
7.997
1.350 3.850
2.437
145
256
Sumber : Bapeda Pidie Jaya tahun 2013

2.2

Karakteristik Wilayah

2.2.1

Kondisi Sumbaer Daya Alam daerah Gampong Raya

1.

Batas wilayah
Sebelah Utara

: berbatasan dengan Gampong Embeu

Sebelah Selatan

: berbatsan dengan Gampong Sagoe

Sebelah Timur

: berbatasan dengan Gampong Paya

Sebelah Barat

: berbatrasan dengan Kidee Trienggadeng

Jarak dari ibu kota Meureudu kecamatan Trienggadeng : 6


Jarak dari ibu kota Meureudu kabupaten Pidie Jaya : 1

Km

Km

Jarak dari ibu kota Meureudu provinsi Aceh : 173 Km


2. Keadaan Wilayah Berdasarkan Pemanfaatannya
Tabel 2.1 Kondisi Wilayah Gampong Raya Berdasarkan Pemanfaatan
Tanah Pada Tahun 2012
29

NO
1
2
3
4
5
6

URAIAN
Pemukiman
Persawahan
Pemkaman
Pekarangan/Tegalan
Perkantoran
Prasarana umum

LUAS (Ha)
192,95
471,122
6,625
1300,120
1,75
120,220

Sumber : Dinas Pertanian dan Perkebunan tahun 2013

2.2.2 Kondisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin


a.

Jumlah Penduduk Desa Raya Kecamatan Trienggadeng


1.

Penduduk laki-laki

: 312 Orang

2.

Penduduk perempuan

: 425 Orang

3.

Jumlah keseluruhan

: 737 Orang

4.

Jumlah kepala keluarga

: 204 KK

(Sumber: Kantor Gechik Gampong Raya Kecamatan Trienggadeng)


2.3. Prosedur Kuliah Kerja Profesi
2.3.1. Tempat dan Waktu Kegiatan
Pelaksanaan kuliah kerja nyata yang dilaksanakan di di Gampong Raya
kecamatan Trienggadeng kabupaten Pidie Jaya mulai tanggal 10 April 2013
sampai dengan 10 mei 2013 memiliki langkah dan metode yang dijadikan bahan
rujukan.
2.3.2. Metode Pelaksanaan Kegiatan KKP
Kegiatan Kuliah Kerja Profesi tersebut adalah dengan membuat rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan selama Kuliah Kerja Profesi
menggunakan metode sebagai berikut:
4. Pendekatan Persuatif

30

dengan

Pendekatan ini menitikberatkan kepada ide, sikap, dan usaha-usaha


masarakat atas dasar perubah kontak terarah dan selektif yang datangnya
dari pihak luar sehingga menimbulkan motivasi, kreasi dan inovasi bagi
masarakat untuk mampu berpikir dan berbuat sesuai dengan kebenaran.
5. Pendekatan Empirik, Normatik dan Edukatif
Yaitu kepedulian terhadap norma-norma yang berlaku baik norma tersirat
maupun norma yang tersurat di masarakat.
6. Pendekatan Andragogi
Yaitu system pembelajaran dengan membudidayakan tanaman Jagung
untuk mambantu masarakat setempat dalam belajar dan membelajarkan.
2.4

Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data yang dilakukan dalam kuliah profesi ini adalah

bersumber dari data primer (Primery Data) dan data skunder (Secondary Data).
Data Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber
asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek
(orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda
(fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Metode yang digunakan untuk
mendapatkan data primer yaitu : (1) metode survei dan (2) metode observasi
sedangkan Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh
peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh
pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis

31

yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang
tidak dipublikasikan.
Sebelum proses pencarian data sekunder dilakukan, kita perlu melakukan
identifikasi kebutuhan terlebih dahulu. identifikasi dapat dilakukan dengan cara
membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1) Apakah kita memerlukan data
sekunder dalam menyelesaikan masalah yang akan diteliti? 2) Data sekunder
seperti apa yang kita butuhkan? Identifikasi data sekunder yang kita butuhkan
akan membantu mempercepat dalam pencarian dan penghematan waktu serta
biaya.
Data sekunder dapat dipergunakan untuk hal-hal sebagai berikut:
a.

Pemahaman Masalah: Data sekunder dapat digunakan sebagai sarana


pendukung untuk memahami masalah yang akan kita teliti. Sebagai
contoh apabila kita akan melakukan penelitian dalam suatu perusahaan,
perusahaan menyediakan company profile atau data administratif
lainnya yang dapat kita gunakan sebagai pemicu untuk memahami
persoalan yang muncul dalam perusahaan tersebut dan yang akan kita

b.

gunakan sebagai masalah penelitian.


Penjelasan Masalah: Data sekunder

bermanfaat

sekali

untuk

memperjelas masalah dan menjadi lebih operasional dalam penelitian


karena didasarkan pada data sekunder yang tersedia, kita dapat
mengetahui

komponen-komponen

situasi

lingkungan

yang

mengelilinginya. Hal ini akan menjadi lebih mudah bagi peneliti untuk
memahami persoalan yang akan diteliti, khususnya mendapatkan
32

pengertian yang lebih baik mengenai pengalaman-pengalaman yang


c.

mirip dengan persoalan yang akan ditelit


Formulasi Alternative-Alternative Penyelesaian Masalah yang Layak
Sebelum kita mengambil suatu keputusan, kadang kita memerlukan
beberapa alternative lain. Data sekunder akan bermanfaat dalam
memunculkan beberapa alternative lain yang mendukung dalam
penyelesaian masalah yang akan diteliti. Dengan semakin banyaknya
informasi yang kita dapatkan, maka peneyelesaian masalah akan

d.

menjadi jauh lebih mudah.


Solusi Masalah Data sekunder disamping memberi manfaat dalam
membantu mendefinisikan dan mengembangkan masalah, data sekunder
juga kadang dapat memunculkan solusi permasalahan yang ada. Tidak
jarang persoalan yang akan kita teliti akan mendapatkan jawabannya
hanya didasarkan pada data sekunder saja.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Kegiatan KKP


4.1.1

Teknik Membudidayakan Semanggaka Non Biji di Gampong


Raya, Kecamatan Trieng Gadeng

Semangka merupakan salah satu jenis buah-buahan yang mudah


dibudidayakan di Gampong Raya. Akan tetapi tetap ada beberapa hal-hal penting

33

yang harus diperhatikan dalam menanam semangka, sehingga mendapatkan hasil


tumbuh sesuai harapan masyarakat gampong raya tersebut.
1. Pemilihan Tanah
Semangka bisa tumbuh dengan mudah pada dataran tinggi maupun rendah,
antara 0-1000 meter di atas permukaan laut. Akan tetapi, dataran yang paling ideal
adalah antara 0 - 400 meter dpl saja sesuai dengan di Daerah Gampong Raya
Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya.
Tanah yang baik untuk menanam semangka harus memiliki keasaman tanah
pH 5,5-6,5. Tetapi tanaman ini masih bisa tumbuh di bawah pH 5, sehingga
tanaman ini dapat tumbuh dilahan gambut.
Tanah yang dipilih untuk penanaman terlebih dahulu diolah, seperti biasa
sebelum menanam terlebih dahulu membersihkan lahan yang akan diolah
kemudian lahan dibajak atau dicangkul serta diberikan bahan organik (pupuk
kanadang).
Setelah proses penggemburan tanah, selanjutnya kami dan pemilik kebun
membuat bedengan dengan panjang 12-15 m, lebar 1,5-2 m atau sekitar 3-4 m.
setelah bedengan siap kemudian buat lubang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 30
cm. jarak tanamnya didalam baris sekitar 1,2-1,5 m. setelah itu, lubang tanam
diberi pupuk dasar yang terdiri dari 4 kg pupuk kandaang, 28 gram pupuk DS, 22
gram pupuk ZK, dan 15 gram pupuk ZA.
2. Proses Persemaian Benih Semangka

34

Penanaman semangka dilakukan dengan menggunakan biji (benih).


Sebelum menjadi bibit yang siap ditanam, benih disemai terlebih dahulu dalam
pot plastic atau polybag dengan media tanah dan pupuk kandang yang steril.
Cara penyemaian benih yaitu, pertama bibit biji semangka direnggakan
supaya mempermudah proses pertumbuhan, tahap selanjutnya rendam benih biji
semangka dalam 1 liter air dengan campuran 1 sendok the hormone (Atronik,
Menedael, Abitonik), 1 sendok feres fungisida (obat anti jamur), 0,5 sendok the
peres bakterisida. Setelah direndam 10-30 menit, diangkat dan ditiriskan sampai
air tidak mengalir lagi dan bibit siap dikecambahkan.
Kantong-kantong pesemaian diletakan berderet agar terkena sinar matahari.
Lakukan pemupukan dilakukan lewat daun supaya cepat berkembang dan pupuk
di campur obat. Lakukan pemupukan 3 kali sekali.
Bibit semagka baru dipindahkan ke lapangan setelah berumur 4 minggu atau
telah memiliki daun 2 lembar.
3.

Penanaman Bibit Semangka Non Biji.

Penentuan pola tanam pada tanaman semangka dilakukan dengan pola


monokultur. Pembuatan pembuatan lubang tanam penanaman bibit semangka
pada lahan lapangan, setelah persemaian berumur 14 hari dan telah memiliki 2
helai daun.
Sambil menunggu bibit cukup besar, dilakukan pelubangan pada lahan
dengan kedalaman 8-10 cm. persiapan pelubangan lahan tersebut dilakukan 1
minggu sebelum bibit dipindahkan ke darat.

35

Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antar lubang sekitar
80-100 cm atau tergantung tebal atau tipisnya bedengan. Setelah dilakukan
pelubangan, lahan selanjutnya digenangi air sekitar tinggi bedengan, dan
dibiarkan sampai air meresap.
Sebelum bibit batang ditanam, lakukan terlebih dahulu perendaman, agar
mudah melepaskan polybag yang dipakai. Langkah imunisasi dilakukan dengan
cara merendam selama 5-10 menit dan disertai campuran larutan obat-obatan.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman semangka meliputi penyiangan, penyulaman/
penjarangan, pembumbunan,

penyiraman, pemangkasan, pemupukan dan

pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Penyiangan

Penyiangan tanaman semangka dilakukan jika ditemukan pertumbuhan


gulma. Kegiatan penyiangan yang dilakukan pada kegiatan ini dilakukan disekitar
piringan tanaman (0,5 1,0) m dari lubang tanam.

Penyulaman dan Penjarangan

Setelah tanaman berumur 3-5 hari di lapangan, maka perlu dilakukan


penyulaman jika ada tanaman yang mati. Penjarangan dilakukan jika ada lebih 2
tanaman dalam 1 lubang tanam.

Pembumbunan

36

Pembubunan tanah dilakuka agar akar menyerap makanan secara


maksimal dan dilakukan setelah beberapa hari penanaman

Penyiraman

Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Sumber utama
air adalah air hujan, jika tidak ada hujan maka sumber air adalah air irigasi atau
air sumur dengan menggunakan water pump. Tanaman memerlukan air terus
menerus selama siklus hidupnya.

Pemangkasan

Pemangkasan tanaman semangka dilakukan terhadap cabang tanaman.


Setiap tanaman semangka cukup mempunyai dua buah cabang primer saja. Setiap
cabag primer dipelihara 2-3 sekunder.
Ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang
sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong, karena akan
mempengaruhi pertumbuhan buah.
Pengaturan cabang primer dilakukan agar semua daun pada tiap cabang
tidak saling menutupi, sehingga pembagian sinar merata, yang mempengaruhi
pertumbuhan baik pohon/buahnya.

Pemupukan

Bagaimana :
cara memberikan pupuk?
jenis pupuk yang digunakan?
jumlah pupuk yang diberikan?
waktu pembrian pupuk dilakukan?

37

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman

Pengendalian organisme pengganggu tanaman meliputi hama dan


penyakit tanaman. Hama yang sering mengganggu tanaman meliputi hama kecil
(jenis serangga) dan hama besar (aves dan rodent).
Untuk memperkecil resiko kerusakan akibat gangguan hama tersebut,
maka dilakukan sanitasi terhadap lingkungan pertumbuhan tanaman semangka
seperti pada bedeng dan parit, serta pembuatan pagar.
5. Pemanenan
Berapa hasil panen yang diperoleh?
Dibandingkan dengan teori, bagus mana hasil yang diperoleh?
4.2. Pembahasan
Apakah ada masalah yang dihadapi petani di Gampong Raya dalam
kegiatan budidaya tanaman semangka tanpa biji? Apa solusinya untuk
meningkatkan produktifitas usahatani mereka?

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Dari kegiatan KKP yang dilakukan, dapat disimpulan bahwa Gampong

Raya Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya adalah desa yang mayoritas
38

usahatani masyarakatnya adalah budidaya tanaman semagka non biji, terutama


yang berdekatan dengan kawasan pesisir.
Teknik budidaya semangka non biji yang dilakukan umumnya masih
konvensional, meskipun ada juga petani yang telah menerapkan teknik budidaya
semangka non biji yang semi intensif.
Penyuluhan teknik budidaya yang lebih intensif perlu dilakukan terus agar
produktifitas usaha tani masyarakat lebih meningkat.
5.2

Saran
Kami harapkan kepada pemerintha Kabupaten Pidie Jaya untuk lebih

mendukung dalam program pertanian di wilayah trienggadeng supaya masyarakat


yang lebih makmur di bidang pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S., 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press,


Jakarta.
Bangun, M.K., 1991. Perancangan Percobaan. Bagian I. Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan.

39

Cahyanti, W.R., 2002. Peranan Konsentrasi dan Interval Pemberian Giberellin


(GA3) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Paprika
Duljapar, K. dan R.N. Setyowati, 2000. Petunjuk Bertanam Semangka Sistem
Turus. Penebar Swadaya, Jakarta.
Fletcher, W.W. and R.C. Kirkwood, 1982. Herbicides and Plant Growth
Regulators. Published in Great Britain by Granada Publishing Ltd, New
York.
Heddy, S., 1986. Hormon Tumbuhan. CV. Rajawali, Jakarta.
Kalie, M.B., 2001. Bertanam Semangka. Penebar Swadaya, Jakarta.
Kusumo, S., 1984. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. CV Yasaguna, Jakarta.
Annisah : Pengaruh Induksi Giberelin Terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi
Pada Beberapa Varietas

DAFTAR ISI

ABSTRAK..............................................................................................
KATA PENGANTAR..............................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................

40

I
II
III

BAB I

PENDAHULUAN....................................................................

1.1 Latar Belakang........................................................................

1.2 Maksud dan Tujuan Kuliah Kerja Profesi...............................

1.3 Kegunaan Kuliah Kerja Profesi .............................................

1.4 Waktu dan Tempat Kegiatan...................................................

1.5 Langkah-langkah dan Metode Kegiatan.................................

BAB II METODE KULIAH KERJA PROFESI ...............................

2.1 Lokasi Kuliah Kerja Profesi ..................................................

2.2 Karakteristik Wilayah.............................................................

11

2.2.1Potensi Sumbaer DayaAlam daerah Gampong Raya. . .

11

2.2.2Potensi Sumber Daya Manusia ......................................

12

2.3 Prosedur Kuliah Kerja Profesi................................................

13

2.4 Metode Pengumpulan Data.....................................................

14

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................

17

3.1 Deskripsi Program..................................................................

17

3.2 Teknik Membudidayakan Semanggaka Non Biji...................

17

3.3 Mahasiswa Belajar cara Menanam Semangka Non Biji........

19

3.3.1 Syarat Pertumbuhan3.3.2Pedoman Budidaya...............

20

3.3.3 Pengolahan Media Tanam.............................................

21

3.3.4 Teknik Penanaman........................................................

24

3.3.5 Pemeliharaan Tanaman.................................................

25

3.3.6 Hama Dan Penyakit .....................................................

27

3.3.7 Panen.............................................................................

31

3.3.8 Pascapanen....................................................................

32

3.4 Analisis Budidaya Tanaman Semangka Non Biji...................


II
3.5 Standar Produksi.....................................................................

34

3.5.1 Ruang Lingkup.............................................................

37

3.5.2 Diskripsi........................................................................

38

3.5.3 Klasifikasi dan Standar Mutu.......................................

38

3.5.4 Pengambilan Contoh.....................................................

39

41

37

3.5.5 Pengemasan..................................................................

39

BAB III PENUTUP................................................................................

40

3.1 Kesimpulan.............................................................................

40

4.2 Saran.......................................................................................

40

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................

41

III
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan berkat rahmat dan karunia-NYA kepada penulis sehingga dengan
Ridha-Nya dapat menyelesaikan Laporan Kuliah Kerja Profesi ini dengan judul

42

Teknik Budidaya Semangka Non Biji Gampong Raya

Kecamatan

Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya. Shalawat beriring salam kepangkuan Nabi


Besar Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari zaman
Jahiliyah kemasa ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Penulis tidak akan sanggup membalas jasa baik dan semua bantuan yang
telah diberikan tersebut. Semoga Allah SWT memberikan balasan setimpal atas
amal baiknya, Amin. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Laporan Kuliah Kerja
Profesiini masih banyak kekurangan dan jauh kesempurnaan. Untuk itu kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan penulis demi kesempurnaan penulisan
Laporan Kuliah Kerja Profesi ini.
Demikian mudah-mudahan Laporan Kuliah Kerja Profesi ini dapat
bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan guna menambah ilmu
pengatahuan dan memperluan wawasan pemikiran tentang hal yang berhubungan
dengan materi penulisan ini, penulis berharap dan berdoa semoga Allah SWT
memberikan balasan yang setimpal Amin Ya Rabbal Alamin.
Meureudu,

Laporan Kuliah Kerja Profesi

2013
Penulis

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN SEMANGKA NON BIJI DI


GAMPONG RAYA KECAMATAN TRIENGGADENG
KABUPATEN PIDIE JAYA

43

OLEH
RIDWANSYAH
NPM: 09103211071

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JABAL GHAFUR
GLEE GAPUI SIGLI
2013
ABSTRAK

Kegiatan Kuliah Kerja Profesi ini dilaksanakan di Desa Raya Kecamatan


Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya, selama satu bulan yang dimulai dari minggu
pertama bulan Juni sampai juli. Kuliah kerja profesi ini bertujuan untuk
menambah waawasan ilmu lapangan serta mamantapkan teori yang telah
ditetapkan selama dibangku kuliah. Dengan demikian saya tertarik mengambil
laporan Kulaih kerja Profesi ini dengan judul Teknik Budidaya tanaman jagung

44

di Gampong Raya Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya yang


dibimbing oleh Bapak Ir. Agam Ihsan Hereri, MP Tanaman Semangka Non Biji
Semangka atau tembikai (Citrullus lanatus, suku ketimun-ketimunan atau
Cucurbitaceae) adalah tanaman merambat yang berasal dari daerah setengah
gurun di Afrika bagian selatan. Tanaman ini masih sekerabat dengan melon
(Cucumis melo) dan ketimun (Cucumis sativus). Semangka biasa dipanen buahnya
untuk dimakan segar atau dibuat jus., dalam usaha menanam budidaya semangka
Non biji di desa tampui dapat menghasilkan produksi secara maksimal
sebagaimana yang diharapkan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah
teknik pengumpulan data primer dan data skunder. Teknik pengumpulan data
primer diperoleh dari pengamatan di lapangan dan wawancara terhadap petani
setempat.

Kata kunci : Budidaya Tanaman Semangka Non Biji

45