You are on page 1of 47

PANDUAN MAHASISWA KEPERAWATAN

KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Appendisitis
dan Divertikular)

2012

WWW.SAKTYAIRLANGGA.WORDPRESS.COM

Apendisitis
Anatomi dan Fisiologi
Usus besar atau kolon dalam
anatomi adalah bagian usus antara
usus buntu dan rektum. Usus Fungsi
utama organ ini adalah menyerap air
dari feses. Pada mamalia, kolon
terdiri

dari

kolon

menanjak

(ascending),

kolon

melintang

(transverse),

kolon

menurun

(descending), kolon sigmoid, dan


rektum. Bagian kolon dari usus buntu
hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan "kolon kanan", sedangkan
bagian sisanya sering disebut dengan "kolon kiri" (longo, 2010)
Fungsi usus besar:
1. Mengabsorbsi 80%-90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah
kimus dan cairan menjadi massa semipadat.
2. Memproduksi kimus.
3. Mengeksresikan zat sisa dalam bentuk feses.
Usus besar dibedakan menjadi:
a. Coecum. Merupakan pembatas antara ileum dengan kolon.
b. Kolon. Pada kolon terjadi gerakan mencampur isi kolon dengan gerakan
mendorong. Pada kolon ada tiga divisi yaitu:
 Kolon asendens; yang merentang dari coecum sampai ke tepi bawah hati
disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.
 Kolon transversum ; merentang menyilang abdomen ke bawah hati dan
lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah pada
fleksura spienik.
 Kolon desendens; merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi
kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rectum (boulton 2011).

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 2

Gerakan usus besar, di bagi menjadi dua gerakan, yaitu:


1. Gerakan Mencampur (Haustrasi)
Gerakan segmentasi dengan konstriksi sirkular yang besar pada kolon, 2.5 cm
otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen hampir tersumbat.
Saat yang sama, otot longitudinal kolon (taenia koli) akan berkontraksi. Kontraksi
gabungan tadi menyebabkan bagian usus yang tidak terangsang menonjol keluar
(haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas puncak dalam waktu 30 detik,
kemudian menghilang 60 detik berikutnya, kadang juga lambat terutama sekum
dan kolon asendens sehingga sedikit isi hasil dari dorongan ke depan. Oleh karena
itu bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan dicampur sehingga
bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar,
dan cairan serta zat terlarut secara progresif diabsorbsi hingga terdapat 80-200 ml
feses yang dikeluarkan tiap hari (boulton 2011)..
2. Gerakan Mendorong (Pergerakan Massa)
Banyak dorongan dalam sekum dan kolon asendens dari kontraksi haustra yang
lambat tapi persisten, kimus saat itu sudah dalam keadaan lumpur setengah padat.
Dari sekum sampai sigmoid, pergerakan massa mengambil alih peran
pendorongan untuk beberapa menit menjadi satu waktu, kebanyakan 1-3 x/hari
gerakan.
Selain itu, kolon mempunyai kripta lieberkuhn tapi tidak ber-vili.
Menghasilkan mucus (sel epitelnya jarang mengandung enzim). Mucus
mengandung ion bikarbonat yang diatur oleh rangsangan taktil , langsung dari sel
epitel dan oleh refleks saraf setempat terhadap sel mucus Krista lieberkuhn.
Rangsangan n. pelvikus dari medulla spinalis yang membawa persarafan
parasimpatis ke separuh sampai dua pertiga bagian distal kolon. Mucus juga
berperan dalam melindungi dinding kolon terhadap ekskoriasi, tapi selain itu
menyediakan media yang lengket untuk saling melekatkan bahan feses. Lebih
lanjut, mucus melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang berlangsung
dalam feses, ion bikarbonat yang disekresi ditukar dengan ion klorida sehingga
menyediakan ion bikarbonat alkalis yang menetralkan asam dalam feses.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 3

Mengenai ekskresi cairan, sedikit cairan yang dikeluarkan melalui feses (100
ml/hari). Jumlah ini dapat meningkat sampai beberapa liter sehari pada pasien
diare berat (boulton 2011).
Absorpsi dalam Usus Besar
Sekitar 1500 ml kimus secara normal melewati katup ileosekal, sebagian besar
air dan elektrolit di dalam kimus diabsorbsi di dalam kolon dan sekitar 100 ml
diekskresikan bersama feses. Sebagian besar absorpsi di pertengahan kolon proksimal
(kolon pengabsorpsi), sedang bagian distal sebagai tempat penyimpanan feses
sampai akhirnya dikeluarkan pada waktu yang tepat (kolon penyimpanan) (boulton
2011).
Absorbsi dan Sekresi Elektrolit dan Air.
Mukosa usus besar mirip seperti usus halus, mempunyai kemampuan absorpsi
aktif natrium yang tinggi dan klorida juga ikut terabsorpsi. Ditambah taut epitel di
usus besar lebih erat dibanding usus halus sehingga mencegah difusi kembali ion
tersebut, apalagi ketika aldosteron teraktivasi. Absorbsi ion natrium dan ion klorida
menciptakan gradien osmotic di sepanjang mukosa usus besar yang kemudian
menyebabkan absorbsi air. Dalam waktu bersamaan usus besar juga menyekresikan
ion bikarbonat (seperti penjelasan diatas) membantu menetralisir produk akhir asam
dari kerja bakteri didalam usus besar (boulton 2011).
Kemampuan Absorpsi Maksimal Usus Besar
Usus besar dapat mengabsorbsi maksimal 5-8 L cairan dan elektrolit tiap hari
sehingga bila jumlah cairan masuk ke katup ileosekal melebihi atau melalui sekresi
usus besar melebihi jumlah ini akan terjadi diare (Boulton, 2011).
Definisi Apendisitis
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks. Apendiks disebut juga umbai
cacing. Kita sering salah kaprah dengan mengartikan apendisitis dengan istilah usus
buntu, karena usus buntu sebenarnya adalah sekum. Organ apendiks pada awalnya
dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi tetapi saat ini diketahui
bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 4

dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh). Organ ini cukup sering
menimbulkan masalah kesehatan dan peradangan akut apendiks yang memerlukan
tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumya berbahaya.
Etiologi Apendistis
Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun
faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat
diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan
saluran (lumen) appendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hyperplasia
(pembesaran) jaringan limfoid, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur,
penyakit cacing atau parasit . Berikut akan dijelaskan tentang hal hal tersebut :
1. Obstruksi lapisan saluran lumen appendiks
Obstruksi lapisan saluran lumen appendiks dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain : benda asing misalnya biji cabai, pembesaran jaringan limfoid, kanker.
Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk
berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat
mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang
sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.
2. Penyakit cacing atau parasit
Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), cacing atau parasit yang
masuk ke dalam sistem pencernaan melalui makanan yang dikonsumsi. Cacing
yang beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat
menimbulkan penyakit radang usus buntu.
Patofisiologi Apendisitis
Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan
oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi
normal dari mukosa apendiks yang distensi. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus
yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin
banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan peningkatan intralumen.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 5

Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia,


menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi (luka) mukosa dan invasi bakteri. Infeksi
menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena
terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada saat inilah terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas
dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien
karena ditentukan banyak faktor. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus
meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding.
Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah (Mc.burney), keadaan ini disebut dengan
apendisitis supuratif akut. Bila arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks
yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila
dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses
diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah
apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis.
Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.

Infiltrat

apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan


melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama, ini
merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup
apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa
periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat
mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa
periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara
lambat.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan
membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya.
Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu
ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.
(Jehan, E., 2003).
Klasifikasi Apendisitis
1. Apendisitis Akut
a. Apendisitis Akut Sederhana (Cataral Appendisi)

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 6

proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa
menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang
mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan. Gejala
diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam
ringan. Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia,
edema, dan tidak ada eksudat serosa.
b. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis.
Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme
yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan
infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.
Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen
terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal
seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri
pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh
perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
c. Appendicitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai
terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda
supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks
berwarna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut
gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 7

2.

Appendicitis Infiltrat
Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat

dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk
gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.
1. Appendicitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus),
biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.
2. Appendicitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada
dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
3. Appendicitis Kronis
Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses
radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya
obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika
ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang
kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis, dinding
appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat
infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia, dan
serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi.

2.1.6

Manifestasi Klinis
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari mual, muntah
dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai
di perut sebelah atas atau di sekitar umbilikus. Hal ini disebabkan oleh pembengkakan
akibat inflamasi. Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua
bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah
ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Ruptura pada appendix bisa memicu
peningkatan nyeri.
Mual dan muntah bisa mucul dalam apendisitis sebagai akibat dari nyeri yang
muncul. Mual dan muntah umumnya muncul terutama bila terjadi nyeri sekitar
umbilikus.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 8

Sebagai hasil dari akumulasi bakteri di apendix terjadilah inflamasi. Hal ini
memicu peningkatan sel darah putih dan peningkatan suhu hingga 38.8 celsius.
Penurunan nafsu makan juga muncul akibat adanya nyeri, mual, dan muntah tersebut.
(Hurst, 2008)
Pemeriksaan Diagnostik
1. Sel darah putih: tinggi dengan pergeseran ke kiri 10,000 sampai 16,000/cmm,
neutrophilis 75%.
2. Abdominal films: munculnya fecalith di kuadran kanan bawah atau lokal ileus.
3. Barium enema (di bawah tekanan rendah): mengosongkan usus buntu dan massa
(berguna dalam kasus atipikal dan bayi); tidak umum dipakai dalam kasus-kasus
rutin
4. Pyelogram intravena (IVP): untuk membedakan penyakit usus buntu yang diduga
dari penyakit saluran kemih.
5. Urinalisis: sedikitnya jumlah erytrosit dan leukosit

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendektomi.
Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi. Penggunaan
ligasi ganda pada setelah appendektomi terbuka dilakukan dengan jahitan yang mudah
diserap tubuh. Ligasi yang biasa dilakukan pada apendektomi adalah dengan purse
string (z-stich atau tobacco sac) dan ligasi ganda. Pada keadaan normal, digunakan
jahitan purse string. Ligasi ganda digunakan pada saat pembalikkan tunggul tidak dapat
dicapai dengan aman, sehingga yang dilakukan adalah meligasi ganda tunggul dengan
dua baris jahitan. Dengan peningkatan penggunaan laparoskopi dan peningkatan teknik
laparoskopik, apendektomi laparoskopik menjadi lebih sering. Prosedur ini sudah
terbukti menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat
dan angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah, akan tetapi terdapat peningkatan
kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu
dikerjakan untuk diagnosis dan terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada
wanita. Beberapa studi mengatakan bahwa laparoskopi meningkatkan kemampuan
dokter bedah untuk operasi.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 9

Insisi Grid Iron (McBurney Incision)


Insisi Gridiron pada titik McBurney.
Garis insisi parallel dengan otot oblikus
eksternal, melewati titik McBurney
yaitu

1/3

laterall

garis

yang

menghubungkan spina liaka anterior


superior kanan dan umbilikus.
Figure 3.1
Lanz transverse incision
Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah
pusat, insisi transversal pada garis
miklavikula-midinguinal.
midinguinal.

Mempunyai

keuntungan kosmetik yang lebih baik


dari pada insisi grid iron.

Figure 3.2
Rutherford Morissons incision (insisi
suprainguinal)
Merupakan insisi perluasan dari insisi
McBurney. Dilakukan jika apendiks
terletak di parasekal atau retrosekal dan
terfiksir.
Figure 3.3

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 10

Low Midline Incision


Dilakukan jika apendisitis sudah terjadi
perforasi dan terjadi peritonitis umum.

Figure 3.4
Insisi paramedian kanan bawah
bawa
Insisi vertikal paralel dengan midline,
2,5 cm di bawah umbilikus sampai di
atas pubis.

Figure 3.5
Tabel 3.1 Macam-macam
macam Insisi untuk apendiktomi

Diverticular Disease
Anatomi Fisiologi
Usus besar atau kolon dalam
anatomi adalah bagian usus antara
usus buntu dan rektum. Usus Fungsi
utama organ ini adalah menyerap air
dari feses. Pada mamalia, kolon
terdiri

dari

kolon

menanjak

(ascending),

kolon

melintang

(transverse),

kolon

menurun

(descending), kolon sigmoid, dan


rektum. Bagian kolon dari usus buntu
hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan "kolon kanan", sedangkan
bagian sisanya sering disebut dengan
de
"kolon kiri" (longo, 2010)

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 11

Fungsi usus besar:


4. Mengabsorbsi 80%-90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah
kimus dan cairan menjadi massa semipadat.
5. Memproduksi kimus.
6. Mengeksresikan zat sisa dalam bentuk feses.
Usus besar dibedakan menjadi:
c. Coecum. Merupakan pembatas antara ileum dengan kolon.
d. Kolon. Pada kolon terjadi gerakan mencampur isi kolon dengan gerakan
mendorong. Pada kolon ada tiga divisi yaitu:
 Kolon asendens; yang merentang dari coecum sampai ke tepi bawah hati
disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.
 Kolon transversum ; merentang menyilang abdomen ke bawah hati dan
lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah pada
fleksura spienik.
 Kolon desendens; merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi
kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rectum (boulton 2011).
Gerakan usus besar, di bagi menjadi dua gerakan, yaitu:
3. Gerakan Mencampur (Haustrasi)
Gerakan segmentasi dengan konstriksi sirkular yang besar pada kolon, 2.5 cm
otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen hampir tersumbat.
Saat yang sama, otot longitudinal kolon (taenia koli) akan berkontraksi. Kontraksi
gabungan tadi menyebabkan bagian usus yang tidak terangsang menonjol keluar
(haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas puncak dalam waktu 30 detik,
kemudian menghilang 60 detik berikutnya, kadang juga lambat terutama sekum
dan kolon asendens sehingga sedikit isi hasil dari dorongan ke depan. Oleh karena
itu bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan dicampur sehingga
bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar,
dan cairan serta zat terlarut secara progresif diabsorbsi hingga terdapat 80-200 ml
feses yang dikeluarkan tiap hari (boulton 2011)..

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 12

4. Gerakan Mendorong (Pergerakan Massa)


Banyak dorongan dalam sekum dan kolon asendens dari kontraksi haustra yang
lambat tapi persisten, kimus saat itu sudah dalam keadaan lumpur setengah padat.
Dari sekum sampai sigmoid, pergerakan massa mengambil alih peran
pendorongan untuk beberapa menit menjadi satu waktu, kebanyakan 1-3 x/hari
gerakan.
Selain itu, kolon mempunyai kripta lieberkuhn tapi tidak ber-vili.
Menghasilkan mucus (sel epitelnya jarang mengandung enzim). Mucus
mengandung ion bikarbonat yang diatur oleh rangsangan taktil , langsung dari sel
epitel dan oleh refleks saraf setempat terhadap sel mucus Krista lieberkuhn.
Rangsangan n. pelvikus dari medulla spinalis yang membawa persarafan
parasimpatis ke separuh sampai dua pertiga bagian distal kolon. Mucus juga
berperan dalam melindungi dinding kolon terhadap ekskoriasi, tapi selain itu
menyediakan media yang lengket untuk saling melekatkan bahan feses. Lebih
lanjut, mucus melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang berlangsung
dalam feses, ion bikarbonat yang disekresi ditukar dengan ion klorida sehingga
menyediakan ion bikarbonat alkalis yang menetralkan asam dalam feses.
Mengenai ekskresi cairan, sedikit cairan yang dikeluarkan melalui feses (100
ml/hari). Jumlah ini dapat meningkat sampai beberapa liter sehari pada pasien
diare berat (boulton 2011).
Absorpsi dalam Usus Besar
Sekitar 1500 ml kimus secara normal melewati katup ileosekal, sebagian besar
air dan elektrolit di dalam kimus diabsorbsi di dalam kolon dan sekitar 100 ml
diekskresikan bersama feses. Sebagian besar absorpsi di pertengahan kolon proksimal
(kolon pengabsorpsi), sedang bagian distal sebagai tempat penyimpanan feses sampai
akhirnya dikeluarkan pada waktu yang tepat (kolon penyimpanan) (boulton 2011).
Absorbsi dan Sekresi Elektrolit dan Air.
Mukosa usus besar mirip seperti usus halus, mempunyai kemampuan absorpsi
aktif natrium yang tinggi dan klorida juga ikut terabsorpsi. Ditambah taut epitel di usus

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 13

besar lebih erat dibanding usus halus sehingga mencegah difusi kembali ion tersebut,
apalagi ketika aldosteron teraktivasi.

Absorbsi ion natrium dan ion klorida

menciptakan gradien osmotic di sepanjang mukosa usus besar yang kemudian


menyebabkan absorbsi air. Dalam waktu bersamaan usus besar juga menyekresikan
ion bikarbonat (seperti penjelasan diatas) membantu menetralisir produk akhir asam
dari kerja bakteri didalam usus besar (boulton 2011).
Kemampuan Absorpsi Maksimal Usus Besar
Usus besar dapat mengabsorbsi maksimal 5-8 L cairan dan elektrolit tiap hari
sehingga bila jumlah cairan masuk ke katup ileosekal melebihi atau melalui sekresi
usus besar melebihi jumlah ini akan terjadi diare (Boulton, 2011).
Definsi Diverticular Disease
Penyakit divertrikel usus besar adalah penyakit fungsional yang dihasilkan dari
aktivitas neuromuskuler diubah dalam usus besar. Terjadinya akibat dari peradangan
sekitar divertikulum tunggal. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan abses pericolic
atau panggul. Perforasi bebas dari purulen menyebabkan peritonitis. Komunikasi asli
dengan lumen usus biasanya lenyap. Lebih jarang, dengan baik evolusi cepat atau
kegagalan leher divertikular untuk melenyapkan, mengembangkan komunikasi bebas
antara lumen usus dan rongga peritoneal, menyebabkan peritonitis tinja. Peritonitis
fecal hasil dalam tingkat kematian sangat tinggi. \Pendekatan operasi untuk pasien
dengan penyakit divertikular berlubang harus individual dan tergantung pada tahap
penyakit yang hadir, kondisi umum pasien, pengalaman ahli bedah di operasi usus besar
dan ketersediaan fasilitas dan personil untuk memberikan perawatan intensif. Dalam
lembaga yang lebih besar bila kondisi yang optimal, reseksi primer dari usus yang sakit
dengan atau tanpa anastomosis menjadi prosedur pilihan. Dalam lembaga yang lebih
kecil atau jika kondisi tidak optimal, kolostomi transversal kanan dengan drainase
segmen berlubang dapat diandalkan untuk mengendalikan penyakit dengan tingkat
kematian dibandingkan dengan reseksi primer. Jika perforasi bebas dan peritonitis fecal
yang hadir, exteriorization atau reseksi segmen utama berlubang harus dilakukan. Kami
tidak akan merekomendasikan anastomosis primer dalam situasi seperti ini (Hinchey,
1978)
Etiologi Diverticular

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 14

Diverticular terjadi bila makanan dan bakteri tertahan di suatu divertikulum yang
menghasilkan infeksi dan inflamasi yang dapat membentuk drainase dan akhirnya
menimbulkan perforasi atau pembentukan abses.
Diverticula juga bisa diakibatkan oleh connective-tissue diseases seperti Ehlers
Danlos syndrome, Marfans syndrome, and autosomal-dominant polycystic kidney
disease.
Patofisiologi
a. Diverticulosis
Diet rendah serat mengakibatkan feces sulit dikeluarkan karena feces cenderung
keras serta mempersulit motilitas kolon. Keadaan ini memicu peningkatan tekanan
intra luminal sebagai kompensasi. Peningkatan yang terlalu tinggi ini bisa
mengakibatkan protrusi dari lapisan mukosa dan submukosa, colon artery, dan vasa
recta menembus musculus propia serta bagian lemah lain pada dinding kolon. Protrusi
inilah yang kemudian menjadi diverticula (Black, 2005).
Connective-tissue diseases menyebabkan perubahan structural dinding kolon
sehingga mudah robek sehingga memicu diverticulosis (World Gastroenterology
Organization, 2007).
Dalam

pembentukannya

ada

type

diverticula

true

diverticula

dan

pseudodivertivula. True diverticula adalah herniasi mukosa, colon artery, dan vasa
recta sehingga menimbulkan bentukan mirip kantung diseluruh dinding colon.
Sedangkan psudodiverticula hanya protrusi mukosa melewati musculus propia (longo,
2010).
b. Diverticulitis.
Adanya diverticula menurunkan motilitas colon. Ditambah dengan menyempitnya
saluran colon akibat diverticula membuat feces terperangkap antara diverticula.
Keadaan ini rentan terhadap infeksi. Bila terjadi infeksi pada diverticula maka terjadi
reaksi inflamasi pada diverticula dan disebut diverticulitis (Longo, 2010).
Adanya diverticulitis bisa sangat berbahaya karena rupture pada diverticula bisa
memicu haemorrhage, abcess, fistula bahkan perforasi pada kolon.
Manifestasi Klinis

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 15

Seringkali divertikular tidak menimbulkan gejala, meskipun Anda mungkin


mengalami penyimpangan dalam kebiasaan buang air besar. Jika gejala muncul, mereka
mungkin termasuk yang berikut:
a. Nyeri perut, terutama setelah makan di sisi kiri bawah perut
b. Dubur tidak nyeri perdarahan atau lewat darah dalam tinja
c. Demam
d. Mual
e. Muntah
f. Tidak teratur buang air besar, termasuk sembelit atau diare
g. Gas
h. Kembung (Hurst, 2008)
Beberapa orang dengan diverticulitis mengembangkan fistula, atau lorong-lorong
abnormal dari usus ke dalam perut atau ke organ lain seperti kandung kemih. Hal ini
dapat menyebabkan infeksi saluran kemih gas, dalam urin, nyeri saat kencing, atau
kebutuhan lebih sering buang air kecil.
Beberapa orang mengembangkan peritonitis, suatu peradangan selaput perut.
Gejala peritonitis mungkin termasuk nyeri perut tiba-tiba, kejang otot, menjaga
(kontraksi otot tak sadar untuk melindungi daerah yang terkena), dan mungkin sepsis,
istilah untuk infeksi yang telah menyebar ke darah. Peritonitis dapat mengancam
kehidupan jika tidak diobati.
Tanpa komplikasi penyakit divertikular biasanya tidak berhubungan dengan
gejala. Gejala terkait dengan komplikasi penyakit divertikular termasuk diverticulits
dan perdarahan. Penyakit divertikular adalah penyebab umum dari perdarahan yang
signifikan dari usus besar.
Divertikulitis - infeksi pada divertikula - dapat menyebabkan satu atau lebih dari
gejala berikut: nyeri di perut, menggigil, demam dan perubahan kebiasaan buang air
besar. Gejala yang lebih intens berhubungan dengan komplikasi serius seperti perforasi
(pecah), abses atau pembentukan fistula (koneksi abnormal antara usus besar dan organ
lain atau kulit).
Pemeriksaan Diagnosis Diverticular

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 16

1. Barium enema: menunjukkan divertikulum dan pemendekan, penyempitan, dan


deformitas haustral.
2. Ultrasonography: menunjukkan masa atau abses.
3. Sigmoidoscophy atau colonoscopy: lubang di diverticula mungkin tampak (risiko
tinggi perforasi jika instrument masuk divertikulum).
4. Pyelogram intravena (IVP): untuk menyingkirkan massa pada ureter kiri atau
fistula usus vesikalis.
5. Sel darah putih: meningkat dengan pergeseran ke kiri di diverticulitis.
6. Urinalisis: beberapa sel darah merah mungkin ditemukan di urin jika ureter
terpengaruh

Penatalaksanaan
Usus di istirahatkan dengan menunda asupan oral, memberikan cairan
intravena, dan melakukan pengisapan nasogastrik bila ada muntahan atau distensi.
Antibiotic spectrum luas diberikan selama 7 sampai 10 hari. Pemeridin (Demoral)
diberikan untuk menghilangkan nyeri. (Morfin tidak digunakan karena preparat ini
akan meningkat segmentasi dan tekanan intraluminal.Asupan oral ditingkatkan bila
gejala berkurang. Diet rendah serta mungkin tetap diperlukan sampai tanda infeksi
berkurang.
Antipasmodik

seperti

propantelinm

bromide

(Pro-Ban-thine)

dan

oksifensiklimin (Daricon)dapat diberikan. Feses normal dapat dicapai dengan


menggunakan preparat bulk (Metamucil)atau pelunak feses (Colane),dengan mengisi
minyak hangat ke dalam rectum, atau dengan memasukkan supositoria evakuan
(dulcolax).Rencana profil laktik ini akan mengurangi bakteri flora usus, menurunkan
bulk feses, dan melunakkan massa feses, sehingga feses bergerak lebih mudahmelalui
area obstruksi inflamasi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 17

ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan Apendisitis
Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan yang meliputi aspek biopsiko-sosio-spiritual secara komperhensif. Maksud dari pengkajian adalah untuk
mendapatkan informasi atau data tentang paasien . data tersebut berasal dari pasien
(data primer), dari keluarga (data keluarga), dan data dari catatan yang ada (data
tersier). Pengkajian dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan melalui
wawancara, observasi langsung , dan melihat catatan medis, adapun data yang
diperlukan pada klien apendisitis adalah sebagai berikut
a. Data dasar
Adapun data dasar yang dikumpulkan meliputi :
1. Identitas klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin,status perkawinan,
per suku bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat tanggal masuk
rumah sakit, pendapatan, nomor register, diagnosa medis. Apendisitis sering
ditemukan pada orang berusia antara 20-40 tahun. Orang yang terlalu muda
atau terlalu tua memiliki bentuk apendiks yang berbeda.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Meliputi perjalanan penyakitnya, awal dari gejala yang dirasakan klien,
keluhan timbul secara mendadak atau bertahap, factor pencetus, upaya yang
dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
3. Riwayat kesehatan masa lalu
Berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang,pemeriksaan
fisik,keadaan umum.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi adakah keluarga yang mempunyai penyakit keturunan
5. Riwayat psikososial
Meliputi mekanisme koping yang digunakan klien untuk mengatasi
masalah dan bagaimana motivasi kesembuhan dan cara klien menerima
keadaannya.
6. Pola kebiasaan sehari-hari

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 18

Meliputi cairan, nutrisi, eliminasi, personal hygine, istirahat tidur,


aktivitas dan latihan secara kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Inspeksi: Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya
yang sakit,kembung bila terjadi perforasi, penonjolan perut kanan bawah
terlihat pada appendikuler abses. Pemeriksaan pada anak, perhatikan posisi
anak yang terbaringpada meja periksa. Anak menunjukkan ekspresi muka
yang tidak gembira. Anaktidur miring ke sisi yang sakit sambil melakukan
fleksi pada sendi paha, karena setiap ekstensi meningkatkan nyeri.
2. Palpasi
Tujuan palpasi adlah untuk menentukan apakah penderita sudah
mengalami iritasi peritoneum atau belum.Pada pemeriksaan abdomen pada
anak dengan permukaan tangan yang mempunyai suhu yang sama dengan
suhu abdomen anak.Biasanya cukup dipanaskan dengan dengan menggosokgosok tangan dengan pakaian penderita.Tangan yang dingin akan
merangsang otot dinding abdomen untuk berkontraksi sehingga sulit menilai
keadaan intraperitoneal.Abdomen biasanya tampak datar atau sedikit
kembung.Palpasi dinding abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan
sedikit tekanan,dimulai dari tempat yang jauh dari lokasi nyeri.Palpasi
dengan permukaan dalam (volar) dari ujung-ujung jari tangan,dengan
tekanan yang ringan dapat ditentukan adanya nyeri tekan.
3. Perkusi
Pada pemeriksaan ini biasanya didapatkan nyeri saat dilakukan perkusi.
4. Auskultasi
Peristaltik normal,peristaltic menghilang pada illeus paralitik karena
peritonitis generalisata akibat perforasi apendiks. Auskulatasi tidak banyak
membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis,tetapi kalau sudah
terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltic usus.
5. Rectal toucher dan Vaginal Toucher
Colok dubur juga tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis
apendisitis pada anak kecil karena biasanya menangis terus menerus.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 19

Walaupun pemeriksaan colok dubur dan colok vagina seringkali tidak


didapatkan kelainan, namun pada apendisitis dengan posisi pelvis tidak
jarang didapatkan nyeri tekan pada jam 9-12 pada pemeriksaan colok dubur
dan vagina.Nyeri tekan pada pemeriksaan colok dubur dan vagina dapat
memperkuat diagnosis namun tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis
apendisitis akut.
6. Per-Sistem (B1-B6)
a. B1 (Breath)

: Takipnoe, pernapasan dangkal

b. B2 (Blood)

: Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit


yang

merupakan

tanda

adanya

infeksi

dan

pendarahan, mimisan splenomegali.


c. B3 (Brain)

:-

d. B4 (Bladder) : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan


sakit pinggang.
e. B5 ( Bowel) :Distensi

abdomen,nyeri

tekan

atau

nyeri

lepas,kekakuan,pomen sekitar penurunan atau tidak


danya bising usus,nyeri abdomen sekitar epigastrium
dan sekitar umbilikus yang meningkat berat dan
terlokalisasi pada titik Mc.Burney,meningkat karena
berjalan,bersin,batuk,atau nafas dalam,nyeri pada
kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki
kanan atau posisi duduk tegak.
f. B6 (Bone)

: Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam


pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat
fraktur atau tidak.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang terdiri atas pemeriksaan laboratorium, radiologis,
danhistopatologis. Secara umum pemeriksaan penunjang biasanya diperlukan pada
kasuskasus yang meragukan. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap dan CReactive Protein bertujuan untuk melihat adanya tanda-tanda inflamasi. Pemeriksaan
lain seperti urin lengkap bertujuan untuk mencari kelainan lain atau diagnosis banding
dari apendisitis akut.Pemeriksaan radiologis tidak selalu diperlukan dan disesuaikan
dengan fasilitas yang tersedia.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 20

1. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium masih merupakan bagian penting untuk
menilai awal keluhan nyeri kwadran kanan bawah dalam menegakkan
diagnosis apendisitis akut. Pada pasien dengan apendisitis akut, 70-90% hasil
laboratorium nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat, walaupun hal ini
bukan hasil yang karakteristik.Penyakit infeksi pada pelvis terutama pada
wanita akan memberikan gambaran laboratorium yang terkadang sulit
dibedakan dengan apendisitis akut.Pemeriksaan laboratorium merupakan alat
bantu diagnosis. Pada dasarnya peradangan merupakan reaksi lokal dari
jaringan hidup terhadap suatu jejas. Reaksi tersebut meliputi reaksi vaskuler,
neurologik, humoral dan seluler.
2. Foto Polos Abdomen
Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak
membantu. Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan
bawah yang sesuai dengan lokasi apendiks, gambaran ini ditemukan pada
20% kasus.1,5 Kalau peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka
usus pada bagian kanan bawah akan kolaps. Dinding usus edematosa,
keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan bawah abdomen kosong
dari udara. Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain. Proses
peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot
sehingga timbul skoliosis ke kanan.Gambaran ini tampak pada penderita
apendisitis akut.1 Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak
akan tampak udara bebas di bawah diafragma.Pemeriksaan radiologi dengan
kontras barium enema hanya digunakan pada kasuskasus menahun.
Pemeriksaan radiologi dengan barium enema dapat menentukan penyakit lain
yang menyertai apendisitis. Barium enema adalah suatu pemeriksaan x-ray
dimana barium cair dimasukkan ke kolon dari anus untuk memenuhi kolon.
Tes ini dapat seketika menggambarkan keadaan kolon di sekitar dimana
peradangan yang terjadi juga didapatkan pada kolon.
3. Ultrasonografi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 21

Ultrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis apendisitis


akut maupun apendisitis dengan abses.Untuk dapat mendiagnosis apendisitis
akut diperlukan keahlian,ketelitian, dan sedikit penekanan transduser pada
abdomen. Apendiks yang normal jarang tampak dengan pemeriksaan
ini.Apendiks yang meradang tampak sebagai lumen tubuler,diameter lebih
dari 6 mm, tidak ada peristaltik pada penampakan longitudinal, dan gambaran
target pada penampakan transversal.Keadaan awal apendisitis akut ditandai
dengan perbedaan densitas pada lapisan apendiks, lumen yang utuh, dan
diameter 911 mm.Keadaan apendiks supurasi atau gangren ditandai dengan
distensi lumen oleh cairan,penebalan dinding apendiks dengan atau tanpa
apendikolit.Keadaan apendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding
apendiks yang asimetris, cairan bebas intraperitonial, dan abses tunggal atau
multipel.Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada apendisitis akut,
ditemukan adanya fekalit, udara intralumen, diameter apendiks lebih dari 6
mm,penebalan dinding apendiks lebih dari 2 mm dan pengumpulan cairan
perisekal.Apabila apendiks mengalami ruptur atau perforasi maka akan sulit
untuk dinilai, hanya apabila cukup udara maka abses apendiks dapat
diidentifikasi.
4. Computed Tomography Scanning (CT-Scan)
Pada keadaan normal apendiks, jarang tervisualisasi dengan
pemeriksaan skening ini.Gambaran penebalan dinding apendiks dengan
jaringan lunak sekitar yang melekat,mendukung keadaan apendiks yang
meradang.CT-Scan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu
90100% dan 9697%, serta akurasi 94100%.Ct-Scansangat baik untuk
mendeteksi apendiks dengan abses atau flegmon.
5. Laparoskopi (Laparoscopy)
Dibidang bedah, laparoskopi dapat berfungsi sebagai alat diagnostik
dan terapi. Disamping dapat mendiagnosis apendisitis secara langsung,
laparoskopi juga dapat digenakan untuk melihat

keadaan organ

intraabdomen lainnya. Hal ini sangat bermanfaat terutama pada pasien


wanita. Pada apendisitis akut laparoskopi diagnostik biasanya dilanjutkan
dengan apendektomi laparoskopi.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 22

Diagnosis dan Intervensi Keperawatan


a. Pre-operatif
Diagnosis : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
Tujuan

: Nyeri akan berkurang atau teratasi

Kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mengontrol


nyeri,penggunaan agen farmakologi diharapkan dapat menghentikan atau mengurangi nyeri

Intervensi

Rasional

1. Kaji tingkat nyeri, lokasi


dan karasteristik nyeri.

1. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan


merupakan

indiaktor

secara

dini

untuk

dapat

memberikan tindakan selanjutnya.


2. Anjurkan

untuk

2. Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara

melakukan pernapasan da

adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi dan

lam,masase,atur

dapat mengurangi rasa nyeri

yang

posisi

nyaman,ajarkan

metode distraksi,ajarkan
teknik relaksasi.
3. Beri analgetik

3. Profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri


(apabila sudah mengetahui gejala pasti).

4. Tingkatkan istirahat

4. Istirahat yang cukup dapat mengurang nyeri

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 23

Diagnosis : Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan
muntah.

Diagnosa :Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah pre
opersi
Tujuan

: Mempertahankan keseimbangan volume cairan

Kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan keseimbangan cairan pasien dapat
terpenuhi
Intervensi

Rasional

1. Monitor

tanda-tanda

1. Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.

vital
2. Monitor intake dan out
put

dan

2. Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan

konsentrasi

meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu

urine.

kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan


cairan.

3. Beri

cairan

demi

sedikit

sedikit

3. Dengan

tapi

memberikan

cairan

yang

sering

akan

meminimalkan hilangnya cairan.

sering.

Diagnosis : Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit


Tujuan

: Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya

Kriteria hasil : Pasien mengetahui tentang proses penyakit dengan indicator pasien dapat
mendiskripsikan faktor penyebab,mendeskripsikan faktor resiko,mendeskripsikan tindakan
pencegahan untuk komplikasi.
Intervensi

Rasional

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 24

1.

klien

1. Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta

latihan-latihan

dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat

Jelaskan
tentang

pada

yang akan digunakan

mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh

setelah operasi

2. Menganjurkan aktivitas
yang

progresif

sabar

dan

2. Mencegah

luka

baring

dan

dapat

mempercepat

penyembuhan

menghadapi

periode istirahat setelah


operasi
3. Disukusikan kebersihan
insisi

yang

pergantian

meliputi

3. Mau

bekerja

sama

melalui

teraupeutik

dapat

mempercepat proses penyembuhan.

verband,

pembatasan mandi, dan


penyembuhan latihan

Diagnosis
Tujuan

: Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun.


: Setelah dilakukan perawatan nutrisi pasien dapat terpenuhi sesuai kebutuhan

Intervensi
1. Kaji

Hasil yang diharapkan

Rasional
sejauh

mana

ketidakadekuatan nutrisi

1. Menganalisa

penyebab Status

melaksanakan intervensi

nutrisi

pasien

kembali normal dengan


indikator: intake nutrient

klien
2. Mengidentifikasi

2. Perkirakan/hitung

adekuat, intake makanan

pemasukan kalori, jaga

kekurangan

kebutuhan dan

komentar tentang nafsu

nutrisi

makan sampai minimal

masalah membuat suasana

berfokus

minuman

normal,

pada berat badan normal.

negatif dan mempengaruhi


masukan.
3. Timbang

berat

badan

sesuai indikasi

3. Mengawasi

keefektifan

secara diet.

4. Beri makan sedikit tapi

4. Tidak memberi rasa bosan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 25

sering

dan

pemasukan

nutrisi

dapat ditingkatkan.
5. Anjurkan kebersihan oral

5. Mulut

sebelum makan

yang

bersih

meningkatkan nafsu makan

6. Tawarkan minum saat

6. Dapat

mual

dan menghilangkan gas

makan bila toleran.


7. Konsul

mengurangi

tetang

7. Melibatkan pasien dalam

kesukaan/ketidaksukaan

perencanaan, memampukan

pasien

pasien

memiliki

kontrol

dan

yang

menyebabkan distress

rasa

mendorong

untuk makan.

Diagnosis

: Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan

Tujuan

: klien mampu merawat diri sendiri


Hasil yang diharapkan

Intervensi

Rasional

1. Mandikan pasien setiap

1. Agar badan menjadi segar,

hari

sampai

mampu

klien

melaksanakan

sendiri serta cuci rambut

melancarkan
darah

dan

peredaran
meningkatkan

kesehatan

dan potong kuku klien.


2. Ganti

pakaian

yang

kotor

dengan

yang 2.

Untuk

melindungi

dari

bersih.
3. Berikan HE pada klien

kuman

klien
dan

meningkatkan rasa nyaman

dan keluarganya tentang 3. Agar klien dan keluarga


pentingnya

kebersihan

termotivasi

tindakan

dilakukan
keperawatan

pasien dapat melakukan


kebersihan

diri,dapat

melakukan

aktivitas

sehari-hari

secara

mandiri,
misalnya:berpakaian,toi
leting

untuk

menjaga personal hygiene.

diri
4. HE

dapat

Setelah

pada

keluarganya
pentingnya

klien

dan

tentang 4. Agar
kebersihan

tersanjung

klien
dan

merasa
lebih

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 26

diri

kooperatif dalam kebersihan

5. Bimbing keluarga / istri


klien memandikan
6. Bersihkan

5. Agar

dan

atur

keterampilan

diterapkan

posisi serta tempat tidur 6. Klien


klien

dapat

merasa

nyaman

dengan tenun yang bersih


serta mencegah terjadinya
infeksi

Perencanaan
1. Persiapan umum operasi
Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum
operasi:
a.

Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit


untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).

b.

Mengukur tanda-tanda vital.

c.

Mengukur berat badan dan tinggi badan.

d.

Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa,


Urinalisa).

e.

Wawancara.

2. Persiapan klien malam sebelum operasi


Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :
a. Persiapan kulit
Kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit.
Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko
terjadinya infeksi.Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut
karena bisa mengganggu prosedur operasi.
b. Persiapan saluran cerna.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 27

Persiapan yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :


7. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.
8. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus.
9. Mencegah infeksi faeses saat operasi.
Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :
1. Puasa dan pembatasan makan dan minum.
2. Pemberian enema jika perlu.
3. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.
4. Jika klien menerima anastesi umum tidak boleh makan dan minum selama
8 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro
intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk
mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
b. Persiapan untuk anastesi
Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi
untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini
akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi.
c. Meningkatkan istirahat dan tidur
Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada
gangguan fisik, tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup.
3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obatobatan Pre-operasi :
a. Mencatat tanda-tanda vital
b. Cek gelang identitas klien
c. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik
d. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus
e. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir
f. Anjurkan klien untuk buang air kecil
g. Perawatan mulut jika perlu

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 28

h. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala


i. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih
mudah.
3.1.4 Evaluasi
a. Gangguan rasa nyaman teratasi
b. Tidak terjadi infeksi
c. Gangguan nutrisi teratasi
d. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya
e. Tidak terjadi penurunan berat badan
f. Tanda-tanda vital dalam batas normal (Doengoes,2000)
Asuhan Keperawatan Klien dengan Penyakit Divertikular
Pengkajian
1. Anamnesa
a. Data demografi
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
dan alamat
b. Keluhan utama
Keluhan utama yang terjadi pasien dengan gangguan divertikulum adalah
konstipasi, nyeri, mual, muntah, diare dan kram pada kuadran kiri bawah dari
abdomen
c. Riwayat penyakit dahulu
Adanya penyakit konstipasi dan disassociative tissue disease bisa mengarah pada
munculnya diverticular disease.
d. Onset: biasanya nyeri datangnya mendadak walaupun harus dibedakan, apakah
sebelumnya ada riwayat buang air besar tidak seperti biasanya
e. Riwayat penyakit sekarang

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 29

Riwayat penyakit sekarang adalah perjalanan penyakit mulai dari keluhan atau
gejala, proses berjalannnya penyakit sampai masuk rumah sakit dan mendaptkan
terapi apa aja sebelumnya.
f. Riwayat penyakit keluarga
Meliputi penyakit yang mungkin saj menurun, misalkan: kanker, diabetes melitus,
hipertensi dan lain-lain.
2. Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar X, dengan barium enema ditemukan tumor dan kolon yang kolaps
2. CT Scan ditemukan tumor dan kolon yang kolaps
3. Kolonoskopi, ditemukan tumor di dalam kolon
4. Test Laboratorium
3. Pemeriksaan Fisik
B1 (Breath)

: Takipnea

B2 (Blood)

: Anemia: keadaan sirkulasi (denyut nadi, TD postural): adanya syok


harus dikenali dan ditangani sedini mungkin takikardi.

B3 (Brain)

: Pucat, gangguan kesadaran.

B4 (Bladder) : Oliguri.
B5 (Bowel)

: Kejang perut, Sembelit, Sedikit diare, melena, mual, muntah,


anoreksia, nyeri abdomen (walaupun nyeri kolik ringan merupakan
gejala non spesifik, nyeri yang berat menunjukkan adanya iskemia
intestinal),

tidak

terabanya

massa

pada

abdomen

belum

menyingkirkan kemungkinan keganasan.


B6 (Bone)
i.

: lemas.

Diagnosis Keperawatan dan Intervensi


A. Asuhan Keperawatan Pre-operatif
1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit
a. Data Subjektif:
1. Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan dengan isyarat.
2. Mengomunikasikan penggambaran nyeri, seperti ketidaknyamanan, mual, rasa
sakit menjalar ke belakang, kadang-kadang merasa mulas.
b. Data Objektif
1. Klien tampak menghindari nyeri

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 30

2. Terlihat respon-respon otonomik seperti diaforesis, perubahan tekanan darah dan


pulsasi nadi, serta terjadi dilatasi pupil.
3. Klien tampak melakukan perilaku distraksi seperti mondar-mandir, mencari orang
dan/atau aktivitas lain, mupun melakukan aktivitas berulang.
4. Klien terlihat menyeringai
c. Tujuan:
a. Nyeri berkurang atau hilang
b. Pasien dapat mengatasi nyeri secara mandiri
d. Kriteria Hasil
Klien akan:
1. Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai
kenyamanan.
2. Mempertahankan tingkat nyeri pada (sebutkan skala 0-10) atau kurang.
3. Mengenali penyebab dan menggunakan tindakan yang mampu mencegah
nyeri.
4. Melaporkan nyeri pada penyedia perawatan kesehatan
e. Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi
Lakukan

Rasionalisasi
pengkajian

nyeri

yang Dengan mengetahui kelima faktor

komprehensif meliputi PQRST (Provoke, yang berhubungan dengan timbulnya


Quality, Region, Severity, Time)

nyeri

pada

intervensi

klien,

yang

diharapkan

dilakukan

tepat

untuk mengatasi nyeri.


Observasi

isyarat

ketidaknyamanan Untuk klien nyeri dengan skala 10,

nonverbal, khususnya pada mereka yang klien dapat saja tidak mengikuti
tidak

mampu

secara efektif

mengomunikasikannya perintah,

mengejan

dikendalikan,

tanpa

dapat

menarik-narik,

memukul benda di sekitarnya, tidak


responsif terhadap tindakan, tidak
dapat menunjukkan lokasi nyeri
yang dirasakan, oleh karena itu
perawat

harus

peka

terhadap

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 31

ekspresi klien.

Ajarkan klien untuk penggunaan hipnosis, Untuk

melaksanakan

manajemen

relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi nyeri secara nonfarmakologis.


musik,

distraksi,

akupresur,

hangat

sebelum,

setelah,

kompres
dan

bila

memungkinkan saat nyeri berlangsung.


Kendalikan faktor lingkungan yang dapat Suhu ruangan yang panas, cahaya
memengaruhi respon klien terhadap nyeri

yang terlalu terang, atau suara yang


gaduh dapat memicu respon nyeri
pada klien.

Laporkan kepada dokter jika tindakan Perawat dapat berkolaborasi dengan


tidak berhasil atau jika keluhan saat ini dokter

untuk

pemberian

agens

merupakan perubahan yang bermakna dari analgesik sebagai pereda nyeri.


pengalaman nyeri klien yang lain.

5. Gangguan rasa nyaman, hipertermi berhubungan dengan peradangan dan infeksi


a. Data subjektif:
Pasien mengeluhkan adanya peningkatan suhu tubuh.
b. Data objektif:
1. Kulit memerah
2. Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal
3. Frekuensi napas meningkat
4. Kejang
5. Kulit hangat bila disentuh
6. Takikardia
c. Tujuan
1. Suhu badan normal (36,5-37,5 derajat celcius)
2. Rekuensi napas normal.
3. Tidak terjadi kejang.
d. Kriteria hasil
1. Klien akan menunjukkan termoregulasi dibuktikan dengan:
a. Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan
b. Suhu tubuh dalam batas normal

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 32

c. Nadi dan pernapasan dalam rentang yang diharapkan


d. Tidak ada perubahan warna kulit
e. Tidak tampak keletihan
2. Klien atau keluarga akan:
a. Menunjukkan metode yang tepat untuk mengukur suhu
b. Menjelaskan tindakan untuk mencegah atau mengurangi peningkatan suhu
tubuh.
c. Melaporkan tanda dan gejala dini hipertermia
e. Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi

Rasionalisasi

1. Pantau suhu minimal setiap dua jam Dengan memantau suhu klien secara
atau sesuai kebutuhan.

kontinu

dapat

mengetahui

apakah

2. Pantau suhu basal secara kontinu, tindakan yang dilakukan efektif untuk
sesuai kebutuhan.

menunjukkan termoregulasi.

3. Pantau warna kulit dan suhu.


Ajarkan indikasi keletihan karena panas Panas
dan

tindakan

kedaruratan

yang tinggi

dapat

memicu

yang keletihan

diperlukan sesuai dengan kebutuhan.


Tindakan kolaboratif: Berikan agens

Asetaminofen bekerja secara langsung

antipiretik seperti asetaminofen sesuai

pada

kebutuhan

hipotalamus

sel

termoregulasi
yang

dalam

menyebabkan

pengeluaran keringat dan vasodilatasi.


Hal ini menyebabkan pelepasan panas
dan penurunan demam (Karch, 2003).

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia


a. Data subjektif:
1. Kram abdomen
2. Nyeri abdomen
3. Merasa kenyang segera setelah mengingesti makanan
b. Data objektif
1. Tidak tertarik untuk makan
2. Kurangnya minat pada makanan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 33

3. Konjungtiva dan membran mukosa pucat


4. Menolak untuk makan
c. Tujuan:
4. Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
5. Berat badan pasien meningkat ke arah normal
6. Nafsu makan pasien meningkat
d. Kriteria Hasil:
Klien akan:
1. Menunjukkan peningkatan status nutrisi yang dapat ditunjukkan dengan status
gizi, diukur dengan ABCD, yaitu:
a. Antropometri
Mengukur besar dan komposisi tubuh. Efektif untuk mengetahui status
protein dan kalori. Meliputi pengukuran TB, BB, lipatan kulit dan lingkar
lengan.
b. Biokimia
Deteksi malnutrisi subklinis. Sampel urin dan darah dapat dibuat untuk
mengukur nutrien atau metabolit (produk akhir enzim).
c. Clinical
1.

Membran mukosa basah dan berwarna merah muda

2.

Nafsu makan baik

d. Dietary History
Umumnya terdiri dari data tentang pola dan kebiasaan makan, pemilihan
makanan, pembatasan-pembatasan, intake cairan setiap hari, penggunaan
suplemen vitamin dan mineral termasuk masalah diet seperti kesulitan
mengunyah atau meneguk, aktivitas fisik, riwayat kesehatan dan cara
penyediaan makanan untuk memperoleh data tentang pola dan kebiasaan
makan.
2. Melaporkan keadekuatan tingkat energi
e. Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi

Rasionalisasi

1. Ketahui makanan kesukaan klien Memberi


untuk
makanan.

mengubah

nutrisi

sesuai

dengan

kebiasaan makanan yang disukai klien akan


meningkatkan nafsu makan, sehingga

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 34

2. Tentukan kemampuan klien untuk tidak ditemukan adanya anoreksia.


memenuhi kebutuhan nutrisi.
3. Pantau

kamdungan

nutrisi

dan

kalori pada catatan asupan.


4. Timbang klien pada interval yang
tepat.
Berikan informasi yang tepat tentang Memberi
kebutuhan

nutrisi

dan

pendidikan

kepada

klien

bagaimana maupun keluarganya mengenai nutrisi

memenuhinya.

yang tepat membuat klien mandiri


dalam hal pemenuhan kebutuhan nutrisi
dan mengatasi anoreksia

Tawarkan kudapan, misalnya minuman Buah-buahan segar dapat meningkatkan


dan buah-buahan segar atau jus bila nafsu makan karena rasanya yang
memungkinkan

manis dan segar sehingga membuat


klien tidak merasakan mual.

Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi Agar makanan terserap optimal di
sering

sistem pencernaan dan lambung tidak


cepat

penuh,

sehingga

kebutuhan

nutrisi klien terpenuhi.


Berikan asuhan keperawatan berupa

Untuk menjaga kebersihan mulut dan

oral hygiene pada klien

menjaga kelembaban mukosa.

Kolaborasi dengan ahli gizi: tentukan Agar makanan yang masuk dalam
jumlah kalori dan jenis zat gizi yang tubuh klien tidak sembarangan karena
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan memiliki kandungan gizi yang adekuat
nutrisi

sesuai dengan kebutuhannya.

4. Ansietas berhubungan dengan defisit pengetahuan proses penyakit


a. Data subjektif: Mengungkapkan masalahnya secara verbal.
b. Data Objektif:
1. Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat
2. Tidak tepat atau terlalu berlebihannya perilaku, misalnya: histeris, agitasi, dan
apatis.
c. Kriteria Hasil:

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 35

Klien atau keluarga akan:


1. Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan
yang dianjurkan, misalnya informasi tentang diet.
2. Menunjukkan kemampuan (sebutkan keahlian atau perilakunya)
d. Tujuan:
Kecemasan klien berkurang atau hilang karena mengetahui proses penyakitnya
e. Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi
Membantu

Rasionalisasi
klien

dalam

memahami Agar klien dapat memahami kondisi

informasi yang berhubungan dengan yang terjadi dalam tubuhnya sehingga


proses

timbulnya

penyakit

khusus.

secara dapat

bekerjasama

dengan

tenaga

kesehatan untuk peningkatan kualitas


kesehatannya.

Membantu klien untuk memahami dan Dengan

mengetahui

seluk

beluk

mengetahui secara mental mengenai pembedahan, diharapkan klien dapat


pembedahan serta metode pemulihan memiliki mental yang kuat untuk
pascaoperasi.

dilakukan pembedahan.

Mengikutsertakan keluarga atau anggota Bila perawat telah memberikan edukasi


keluarga lain bila memungkinkan

kepada klien namun tidak memberikan


dampak

yang

keluarga
kepercayaan

signifikan,

maka

menjadi

orang

yang

dapat

dapat
klien

diandalkan.

5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif (diare)
a. Data Subjektif:
1. Pasien mengeluh Haus.
2. Pasien mengeluh lemas.
b. Data Objektif
1. Penurunan output urine dan peningkatan konsentrasi urine
2. Penurunan tekanan darah dan peningkatan nadi.
3. Penurunan turgor kulit.
4. Penurunan status mental

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 36

c. Tujuan: Mempertahankan keseimbangan volume cairan


d. Kriteria Hasil
Klien akan:
1.

Mampu mempertahankan volume cairan pada level fungsional yang ditandai


dengan output urine yang adequate (2 liter/hari), ttv stabil, turgor kulit baik. CRT
2 detik.

2.

Mampu

menunjukkan

kemampuan

untuk

memonitor

dan

pemperbaiki

kekurangan cairan sesuai indikasi

a. Intervensi dan Rasionalisasi


Intervensi

Rasionalisasi

Monitor tanda-tanda vital

Merupakan indicator secara dini


tentang hypovolemia.

Monitor intake dan out put dan

Menurunnya out put dan

konsentrasi urine.

konsentrasi urine akan


meningkatkan
kepekaan/endapan sebagai salah
satu kesan adanya dehidrasi dan
membutuhkan peningkatan
cairan.

Pertahankan asupan cairan minimal 2,5 cc Asupan


/hari

menghindarkan

yang
dari

adequate
kekurangan

cairan
Kolaborasi dengan dokter pemberian obat Bila diare berhenti maka proses aktif
untuk menghentikan diare

kehilangan cairan juga terhenti

Ajarkan klien mengenai pemberian asupan Klien dapat memenuhi kebutuhan


cairan yang benar

cairannya sendiri secara mandiri

B. Tahap Operasi
1. Persiapan umum operasi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 37

Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum
operasi:
f.

Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit


untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).

g.

Mengukur tanda-tanda vital.

h.

Mengukur berat badan dan tinggi badan.

i.

Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (H&H, Serum Glukosa,


Urinalisa).

j.

Wawancara.

2. Persiapan klien malam sebelum operasi


Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :
c. Persiapan kulit
Kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit.
Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko
terjadinya infeksi.Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut
karena bisa mengganggu prosedur operasi.
d. Persiapan saluran cerna.
Persiapan yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :
1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.
2. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus.
3. Mencegah infeksi faeses saat operasi.
Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :
6. Puasa dan pembatasan makan dan minum.
7. Pemberian enema jika perlu.
8. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.
9. Jika klien menerima anastesi umum tidak boleh makan dan minum selama
8 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 38

intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk


mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
d. Persiapan untuk anastesi
Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi
untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini
akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi.
e. Meningkatkan istirahat dan tidur
Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada
gangguan fisik, tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup.
3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obatobatan Pre-operasi :
j. Mencatat tanda-tanda vital
k. Cek gelang identitas klien
l. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik
m. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus
n. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir
o. Anjurkan klien untuk buang air kecil
p. Perawatan mulut jika perlu
q. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala
r. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih
mudah.

C. Asuhan Keperawatan Post-Operatif


1. Risiko infeksi berhubungan dengan diskontinuitas jaringan sekunder terhadap
pembedahan
1. Tujuan: Tidak terjadi infeksi postoperasi
2. Kriteria hasil:
Klien akan:
a. Terbebas dari gejala atau tanda infeksi
b. Menunjukkan higiene pribadi yang adekuat

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 39

c. Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan


d. Mengindikasikan status gastrointestinal dalam batas normal
3. Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi

Rasionalisasi

1. Memberikan

edukasi

kepada Pasien

yang

mengalami

defisit

pengunjung untuk mencuci tangan nutrisi mempunyai risiko yang lebih


sewaktu masuk dan meninggalkan tinggi
ruangan pasien.

terhadap

infeksi

setelah

dilakukan pembedahan. Oleh karena

2. Mengajarkan pasien dan keluarganya itu diharapkan pengunjung menjaga


tentang tanda dan gejala infeksi dan higiene pribadi saat berinteraksi
kapan harus melaporkannya kepada dengan pasien agar tidak terjadi
petugas kesehatan.

kontaminasi.

1. Aktivitas kolaboratif:
2. Berikan

terapi

Tujuan
antibiotik

terapi

antibiotik

adalah

bila untukk menurunkan populasi bakteri

diperlukan

penginfeksi sampai ke titik yang


memungkinkan

sistem

imun

manusia

secara

efektif

dapat

menghadapi bakteri tersebut (Karch,


2003).
Memberi

asuhan

keperawatan

berupa Untuk mencegah infeksi dan invasi

rawat luka postoperasi dengan teknik bakteri.


steril.
1. Bersihkan lingkungan dengan benar Untuk mengendalikan infeksi.
setelah dipergunakan pasien.
2. Pertahankan

teknik

isolasi

bila

diperlukan
3. Terapkan kewaspadaan universal
4. Batasi

jumlah

pengunjung

bila

diperlukan

2. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik keluarga


1. Data subjektif

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 40

a. Pengungkapan secara verbal keinginan untuk mengelola pengobatan


penyakit dan mencegah gejala sisa.
b. Pengungkapan secara verbal kesulitan pengaturan dari salah satu atau
lebih efek atau pencegahan komplikasi.
c. Pengungkapan secara verbal bahwa keluarga tidak dapat bertindak
untuk mengurangi faktor risiko perkembangan penyakut dan gejala
sisa.
2. Data objektif
a. Percepatan gejala-gejala penyakit dari anggota keluarga
b. Aktivitas keluarga yang tidak tepat dalam mencapai tujuan program
pengobatan.
c. Kurangnya perhatian terhadap penyakit dan gejala sisa.
3. Tujuan:
Keluarga klien dapat membantu klien untuk mematuhi regimen terapeutik
yang sudah diprogramkan untuk klien.
4. Kriteria Hasil
Keluarga akan:
a. Menunjukkan keinginan untuk mengekola regimen terapeutik
b. Mengidentifikasi faktor-faktor pengganggu program terapeutik
c. Mengatur kegiatan yang biasa dibutuhkan ke dalam program
pengobatan anggota keluarga, misalnya diet
5. Intervensi dan Rasionalisasi
Intervensi
Identifikasi
keluarga

Rasionalisasi
kemampuan
untuk

terlibat

perawatan pasien

anggota Untuk menentukan anggota keluarga


dalam yang

mana

tanggungjawab

yang
untuk

dapat

diberi

melaksanakan

program terapeutik secara mandiri


Berikan keterampilan yang dibutuhkan Agar keluarga pasien dapat melaksanakan
untuk terapi pasien kepada pemberi program terapeutik kepada pasien secara
perawatan

mandiri di rumah

Dukung perawatan yang dilakukan Perawat

dapat

membantu

pemberi

oleh anggota keluarga selama dirawat perawatan agar hasil yang dicapai lebih
pada saat yang tepat

maksimal

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 41

Evaluasi
g. Nyeri teratasi
h. Gangguan rasa nyaman hyperthermia teratasi
i. Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
j. Ansietas teratasi
k. Kekurangan volume cairan teratasi
l. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya
m. Tidak terjadi infeksi
n. Tidak terjadi penurunan berat badan
o. Tanda-tanda vital dalam batas normal (Doengoes,2000)

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 42

KESIMPULAN
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks. Penyebab paling umum inflamasi
akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum
untuk bedah abdomen darurat. Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang
terdiri dari mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa
secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual
dan muntah. Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi pada satu atau beberapa
divertikula. Diverticular paling umum terjadi pada kolon sigmoid (95%). Hal ini
diperkirakan bahwa kira-kira 20% pasien dengan divertikulosis mengalami diverticular
pada titik yang sama. Seringkali divertikula tidak menimbulkan gejala, meskipun nanti
mungkin mengalami penyimpangan dalam kebiasaan buang air besar.
Asuhan keperawatan pada pasien apendisitis meliputi pengkajian dilakukan
dengan pendekatan proses keperawatan melalui wawancara, observasi langsung , dan
melihat catatan medis, adapun data yang diperlukan pada klien gastritis. Diagnosa yang
muncul pada pasien dengan apendisitis terbagi menjadi 2 diagnosa yaitu diagnosa preoperatif yang meliputi gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
jaringan intestinal, resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya
mual dan muntah, dan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan
dengan informasi kurang. Ada juga diagnosa post-operatif yang meliputi : resiko
terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh, nutrisi
kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun, dan defisit perawatan diri
berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. Diagnosa yang muncul pada pasien
dengan diverticular juga terbagi menjadi 2 yaitu diagnosa pre-operatif meliputi nyeri
berhubungan dengan proses penyakit, gangguan rasa nyaman, hipertermi berhubungan
dengan peradangan dan infeksi, dan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
berhubungan dengan anoreksia. Juga diagnosa post-operatif yang meliputi risiko infeksi
berhubungan dengan malnutrisi dan ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik
keluarga.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 43

Daftar Pustaka
Hinchey EJ, Schaal PG, Richards GK. (1978)
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth. Vol. 2. E/8. Jakarta: EGC.
Doenges, Marilyn E. 2008. Nurses Pocket Guide: Diagnosis, Prioritized, Interventions, and
Rationales, Philadelphia: F.A Davis Company.
Karch, Amy M. & Ariani, Fruoriolina et al. (Ed.). 2010. Buku Ajar Farmakologi
Keperawatan. Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. & Meiliya, Eny et al. (Ed.). 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.
Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta.
Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC. Jakarta. 4.Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah,
Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Black, Patricia K. 2005. Diverticular disease. Philadelphia: Whurr Publishers.
Hurst, Marlene. 2008. Pathophysiology Review. New York, USA: McGraw Hill.
Longo, Dan L. 2010. Horrisons Gastroenterology and hepatology. New York: McGraw-hill
company
Travis, Simon P.L. 2005. Gastroenterology. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.World
Gastroenterology Organisation. 2007. World Gastroenterology Organisation Practice
Guidelines: Diverticular Disease. Diakses tanggal 19 november 2011. URL:
Http://www.worldgastroenterology.org/assets/downloads/en/pdf/guidelines/07_divertic
ular_disease.pdf
Temple CL, Huchcroft SA, Temple WJ. The natural history of appendicitis in adults. A
prospective study. Ann Surg 1995 Mar; 221: 278-81.
Birnbaum BA, Wilson SR. Appendicitis at the millennium. Radiology 2000 May; 215:
337e48

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 44

WOC APPENDISITIS
Benda asing,
misalnya biji
cabai

Pembesaran
jaringan
limfoid

kanker

Obstruksi lumen
Apendiks
sekresi normal
mukosa apendiks

Bendungan mucus
dan elastisitas
dinding appendiks

Apendiksitis

Edema appendiks
Tekanan
intralumen

trombosis pembuluh
darah intramural
MK: gangguan
rasa nyaman nyeri

Iskemik

Appendiks
hipoxia

apendisitis
akut fokal

Nyeri
epigastrum

MK: resiko
gangguan
pemenuhan nutrisi

Aliran limfe
terhambat
Ulserasi
mukosa dan
invasi bakteri

infeksi
MK : Hipertermi,
reaksi defend of
infeksi

Anorexia

Bakteri
menembus
peritonium

Peritonitis

apendisitis
supuratif akut.

Nyeri di titik
Mc. Burney

Aliran arteri
terganggu

MK: gangguan
rasa nyaman nyeri

Nekrosis
apendisitis
gangrenosa
Abses

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 45

WOC DIVERTICULAR
Precursor factors:Diet
rendah serat tinggi lemak,
usia.

connective-tissue diseases: (Ehlers


Danlos syndrome, Marfans
syndrome, and autosomaldominant polycystic kidney disease)

Penurunan motilitas colon

Perubaham structural
dinding kolon

Penebalan lapisan otot sircular


(kompensasi penurunan motilitas)

Peningkatan
tekanan luminal
colon

Penurunan
tegangan dinding
colon

Protrusi dan atau herniasi


submukosa dan mukosa, vasa
recta
DIVERTICULOSIS

Terjadi obstruksi colon, fecal


terhambat diverticula

infeksi pada diverticula

Inflamasi pada
diverticula

DIVERTICULITIS

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 46

DIVERTICULITIS

Penyerapan
cairan di colon
menurun
Feces
encer

Radang mukosa kolon

Penekanan
jaringan

MK. nyeri
MK.
DIARE

Rupture
diverticula

Lower
gastrointes
tinum

Peningkata
n suhu
tubuh
MK.
hyperther
mia

Infeksi
menyebabkan
absess

Penumpukan
absess di
peritoneum

Rasa begah

hemmorha
ge

hypo
vole
mic

Spasme
saluran
colon

MK,
konstip
asi

MK. KECEMASAN

MK.
Kekuranga
n volume
cairan

MK. defisit
pengetahuan

anoreksia

MK. Gangguan
nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh

www.saktyairlangga.wordpress.com

Perubahan
status
kesehatan

Page 47