Вы находитесь на странице: 1из 9

##################>###

###################################################################
##############

#[
###################
n####bjbj##################
###8
#####;####6#############################################################
##################0####&#####*######*######*##################*######
*######*##8###3+##T###0#####*#######&#####C4#####4######4##p###]5######]5##
####L6##N###6##$###6######%######%######%######%######%######%######
%######(#####G+##:###
%######################*######6######################L6######L6######6######6##
####%##############*######*######]5##############]5#####
%######bd######bd######bd######6####*######]5######*######]5######
%##############bd######################################################6######
%##############bd######bd##R######
#################################################################################]
5###########8K#########*######)##.################%######
%##0####&######\###*###+######fX##.###+##<######################################
#######################################J###+##############*############6#####
#6######bd######6######6######################################6######6######6
######%######
%######################################^#####################################6##
####6######6#######&######6######6######6######6#####################
#############################################
########################+######6######6######6######6##
####6######6##############################################################6#####
#6######6#########

#####:#########
###################################################################################
###################################################################################
###################################################################################
###################################################################################
###################################################################################
########BAB I PENDAHULUANLatar Belakang Tuntutan terhadap penyelesaian kasus
pelang g aran hak asasi manusia telah mendorong lahirnya Undang -Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang kemudian diikuti oleh Undang -Undang Nomor
26 tahun 2000 meng enai Peng adilan Hak Asasi Manusia yang dimaksudkan untuk menjawab
berbag ai persoalan pelang g aran hak asasi manusia khususnya pelang g aran hak asasi
manusia berat.Delapan belas (18) perkara yang telah dihadapkan ke peng adilan hak
asasi manusia, yang terdiri atas Dua belas (12) perkara pelang g aran hak asasi
manusia berat di Timor-Timur, empat (4) Perkara peristiwa Tanjung Priok dan dua
(2) Perkara pelang g aran hak asasi manusia berat di Abepura ,Papua tidak
meng hasilkan keputusan yang memuaskan rasa keadalan khususnya bag i para korban
pelang g aran hak asasi manusia berat tersebut.
Peng adilan hak asasi manusia
terbentuk tidak terlepas dari dinamika politik yang terjadi saat itu, baik politik
nasional maupun internasional.#Dinamika politik yang terjadi pada saat itu
meng hendaki ag ar pelang g aran hak asasi manusia berat yang terjadi di I ndonesia
diselesaikan deng an peng adilan hak asasi manusia.Pembentukan undang -undang tersebut
merupakan perwujudan tang g ung jawab bang sa I ndonesia sebag ai ang g ota perserikatan
bang sa-bang sa, serta sebag ai tang g ung jawab moral dan hukum dalam melaksanakan
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang ditetapkan oleh Perserikatan Bang saBang sa, serta yang terdapat dalam instrumen hukum lainnya yang meng atur hak asasi
manusia yang telah disahkan dan atau diterima oleh Neg ara Republik I ndonesia.#
Pelang g aran hak asasi manusia dalam pandang an para pakar dapat diselesaikan
melalui mekanisme peng adilan, dan komisi kebenaran, untuk menyelesaikan
pelang g aran hak asasi manusia deng an peng adilan dimaksudkan untuk menjunjung rule
of law dan keadilan.#Undang -Undang No 26 tahun 2000 mempunyai mandat untuk
menyelesaiakan pelang g aran hak asasi manusia di I ndonesia, deng an kewenang annya
untuk meng adili pelang g aran hak asasi manusia barat di I ndonesia, tetapi pada
tatanan das sein tidak ada satupun pelang g aran Hak Asasi Manusia Berat yang
dijatuhkan sanksi oleh Peng adilan HAM , yang secara hukum berarti tidak pernah
terjadi Pelang g aran HAM, sedang kan pada tatanan das sollen diatur apa saja yang
merupakan Pelang g aran HAM Berat yang dituang kan dalam Undang -Undang No 26 tahun
2000, yang meliputi kajahatan terhadap kemanusiaan dan g enosida. Deng an unsur-unsur
kejahatannya yang diatur dalam Undang -Undang No 26 tahun 2000.Perbedaan pandang an
dalam penyelesaian pelang g aran hak asasi manusia berat selalu terjadi antara
Komnas HAM, Jaksa Penuntut Umum, serta Hakim dalam menyikapi pelang g aran HAM Berat
yang terjadi di I ndonesia, yang dapat dilihat dari proses berg ulirnya kasus
pelang g aran HAM dari proses penyelidikan di Komnas HAM sampai deng an putusan
peng adilan HAM di Peng adilan.Tahapan penyelidikan dalam pelang g aran hak asasi
manusia adalah kewenang an Komnas HAM
berdasarkan Undang -Undang No 39 tahun 1999
yang hasilnya selalu merekomendasisan adanya pelang g aran HAM. Komnas HAM dalam
menjalankan perannya melakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus pelang g aran HAM
yang dibuktikan deng an rekomendasi-rekomendasi Komnas HAM dalam kasus-kasus hak
asasi manusia khususnya Kasus Timor-Timur, Tanjung Priok, dan Abepura yang selalu
menyatakan adanya pelang g aran HAM berat dalam kasus-kasus tersebut.Kejaksaan selalu
menuntut adanya pelang g aran hak asasi manusia berat dalam tuntutannya dan selama
ini dikarenakan tidak ada
pilihan bag i kejaksaan dalam menang ani kasus
pelang g aran hak asasi manusia berat selain deng an tuntutan atas kejahatan terhadap
kemanusiaan, dikarenakan hanya hal tersebut yang dapat diperg unakan dalam Undang Undang No 26 tahun 2000, selain ketentuan meng enai Genosida yang tidak dapat
diterapkan dalam kasus-kasus pelang g aran Hak Asasi Manusia di I ndonesia.Proses
penuntutan kasus-kasus pelang g aran HAM berat para terdakwa selalu dituntut
melakukan pelang g aran Hak Asasi Manusia Berat berupa kejahatan terhadap kemanusiaan
dalam kasus-kasus pelang g aran HAM Berat mulai kasus Timor-Timur, Tanjung Priok dan

Abepura, yang berarti dari pihak penuntut umum, melihat adanya pelang g aran hak
asasi manusia berat, tetapi dalam kasus Adam Damiri Jaksa Penuntut Umum menuntut
bebas Adam Damiri, yang dapat diartikan bahwa dalam tuntutan Jaksa tidak melihat
adanya pelang g aran hak asasi manusia berat yang dilakukan oleh Adam Damiri dalam
kasus Timor-Timur, yang sekalipun dituntut bebas oleh Jaksa, tetapi Hakim pada
peng adilan ting kat pertama menjatuhkan hukum 3 tahun atas tuntutan bebas jaksa,
yang kemudian dalam proses banding di Peng adilan Ting g i dibatalkan dan Adam Damiri
dinyatakan bebas dari seg ala tuduhan.Peng adilan Hak Asasi Manusia sendiri dalam
berbag ai ting katan kemudian membebaskan semua terdakwa yang diadili di Peng adilan
HAM ad hoc deng an kesemuanya dinyatakan tidak bersalah dan dinyatakan bebas dari
seg ala tuduhan.Pada sisi lain penyelesaian persoalan melalui komisi kebenaran dan
persahabatan yang laporan akhirnya dinamakan Per Memoar A Spem yang berarti
melalui kenang an menuju harapan dipandang meng abaikan prinsip-prinsip dalam
penyelesaian pelang g aran berat hak asasi manusia.Hal yang jug a mendorong penulis
untuk menulis disertasi ini adalah adanya peng akuan pelang g aran hak asasi manusia
berat dalam laporan akhir komisi kebenaran dan persahabatan , tetapi tang g ung jawab
terhadap pelang g aran hak asasi manusia berat tersebut diambi alih oleh neg ara.
Bag aimana meletakan tang g ung jawab pidana pada neg ara, sebag ai contoh dalam hal
terjadinya pembunuhan yang dalam Laporan Akhir Komisi Kebenaran dan Persahabatan
I ndonesia Timor-Leste yang diberi judul Per Memoar ad Spem yang berarti melalui
kenang an menuju harapan, diakui adanya pembunuhan yang dilakukan dalam konteks
kejahatan terhadap kemanusiaan, sebag aimana yang terdapat dalam keempat dokumen
yang ditelaah oleh Komisi Kebenaran dan persahabatan yang meliputi Laporan Komisi
Penyelidik Pelang g aran HAM di Timor-Timur ( KPP HAM ) yang ditunjuk oleh Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM ); dokumen-dokumen persidang an Peng adilan
HAM Ad Hoc Jakarta,termasuk BAP-BAP Kejaksaan Ag ung RI ;Laporan Komisi Penerimaan
Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste (CAVR/Commissao De Acolhimento, Verdade e
Reconciliacao) dan; dokumen persidang an dan penyidikan yang dijalankan oleh panel
khusus untuk kejahatan Berat pada Peng adilan Distrik Dili (SPSC/Special Panel for
Srious Crimes-Panel Khusus untuk Kejahatan Berat) serta Unit Kejahatan Berat
( SCU/Serious Crimes Unit) di Dili, menemukan bahwa Pelang g aran HAM berat terjadi
di Timor-Timur.Dalam Laporannya ketika membicarakan Partisipasi Pelaku I ndividual
Komisi meng atakan :Tidak ada lembag a yang dapat berfung si tanpa ang g ota atau tanpa
kepemimpinan. Tindakan-Tindakan kelembag aan yang berujung pada kekerasan tahun 1999
merupakan puncak dari aksi-aksi individu yang turut serta dalam kekerasan.
Sesung g uhnya, setiap pelang g aran HAM tahun 1999 disebabkan oleh tindakan masing masing individu. Akan tetapi penentuan tang g ung jawab individual atau bahkan
tang g ung jawab komando, bukan tug as yang diamanatkan kepada komisi. Terlebih lag i
pelaku-pelaku individu dalam bentuk kekerasan terorg anisasi dan termotivasi
politik yang terjadi di Timor-Timur tahun 1999 bertindak dalam konteks kelembag aan.
Seperti tersebut diatas, kekerasan tahun 1999 bukan merupakan sesuatu yang acak,
terisolasi atau spontan.Sifat yang terorg anisasi dan terkoordinasi menunjukan
bag aimana masing -masing tindakan individu tertentu perlu dilihat dalam konteks
kelembag aan lebih luas ketika peristiwa-peristiwa tahun 1999.# berkembang . Konteks
ini menjadi dasar untuk menilai tang g ung jawab kelembag aan. Deng an melihat apa yang
diung kapkan oleh komisi Kebenaran dan persahabatan tersebut, maka dapat dikatakan
bahwa sesung g uhnya komisi meng etahui bahwa dalam hal adanya kejahatan terhadap
kemanusiaan, ada tang g ung jawab individu yang melekat pada pelaku kejahatan
kemanusiaan tersebut, akan tetapi komisi tidak memasuki kajian tang g ung jawab
individu, karena komisi berpendapat bahwa persoalan tang g ung jawab individu
bukanlah kewenang an dari komisi kebenaran dan persahabatan untuk membahasnya,
sehing g a komisi hanya menyatakan adanya tang g ung jawab neg ara dalam kasus TimorTimur 1999 tersebut.Sehing g a seandainya persoalan Timor-Timur sudah selesai bag i
kedua neg ara yaitu Republik I ndonesia deng an Timor Leste, maka tidak ada tang g ung
jawab individu, berarti kedua belah pihak telah memulai suatu babak dalam hubung an
kedua neg ara kedepan deng an menerapkan impunitas deng an tidak meminta
pertang g ung jawaban terhadap individu pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan
tersebut.Karena prinsip utama dalam penyelesaian pelang g aran Berat Hak Asasi
manusia adalah peng g antian kerug ian yang dialami korban dan hukuman melalui

peng adilan terhadap pelakunya, dan kedua belah pihak telah sepakat untuk menerima
laporan komisi kebenaran dan persahabatan sebag ai suatu proses akhir dalam
penyelesaian konflik timor-timur tanpa membawa pelaku individu ke depan peng adilan
yang berarti telah menerapkan impunitas sebag ai landasan penyelesaian persoalan
Timor-Timur.Dalam kajian hukum, Pembunuhan adalah Delik Materil, Delik materil
adalah delik yang dalam perumusannya terdapat akibat yang dilarang , karena
ditemukan akibat yang dilarang , maka
dicari perbuatan yang menjadi sebab
dari timbulnya akibat, dalam hal ini andaikan ditemukan perbuatan yang menjadi
sebab dari timbulnya akibat, misalkan menembak,menusuk dan lain sebag ainya, baru
kemudian dicari dan ditemukan orang yang melakukan perbuatan tersebut.Ketika
ditemukan orang tersebut seharusnya proses hukum berlanjut sejak penyelidikan,
penyidikan hing g a penuntutan. Per Memoar ad Spem meng hasilkan bahwa semua perbuatan
individu tersebut diambil alih tang g ung jawabnya oleh neg ara. Bag aimana meletakan
tang g ung jawab tersebut pada neg ara, dalam kaitannya deng an sang si pidana yang
harus diiberikan pada individu yang melakukan pelang g aran terhadap hukum humaniter
tersebut.Dalam hukum internasional, timbulnya tang g ung jawab neg ara apabila
terdapat internationally wrong ful act , sebag aimana yang terdapat dalam pasal 1
Rancang an tentang Tang g ung Jawab Neg ara atas Tindakan-Tindakan Salah Secara
I nternasional (Draft Articles on Responsibility of States for I nternational
Wrong ful ACT), yang dibuat oleh I nternasional Law Commission, yang berbunyi Every
I nternationally Wrong ful Act of State Entails the international responsibility of
that state.#Dalam hal adanya internasionally wrong ful act maka neg ara bertang g ung
jawab atas kesalahan tersebut. Akan tetapi menjadi tidak lazim dalam hukum
internasional apabila tang g ung jawab yang seharusnya melekat pada individu diambil
alih oleh neg ara, deng an meniadakan tang g ung jawab pidana pada individu.Dalam hal
neg ara meniadakan tang g ung jawab pidana pada individu, maka neg ara telah melakukan
impunity, yaitu ketidak mampuan neg ara untuk meng hukum pelaku pelang g aran hukum
khususnya hukum humaniter dan hukum hak asasi manusi.Pada sisi lain apabila neg ara
memutuskan untuk bertang g ung jawab secara pidana terhadap pelang g aran hukum
humaniter yang terjadi , maka bag aimana meng hukum neg ara secara pidana. Bukankah
personifikasi neg ara terletak pada individu-individu yang bertang g ung jawab atas
pelang g aran hukum humaniter tersebut.Katakanlah sebag ai wujud tang g ung jawab
neg ara, neg ara melakukan berbag ai hal seperti kompensasi, rehabilitasi dan
restitusi terhadap korban pelang g aran hukum humaniter, bag aimana deng an sang si
pidana yang umumnya terdapat dalam hukum pidana, baik hukum pidana nasional maupun
hukum pidana internasional seperti hukuman penjara. Sudah pasti neg ara tidak dapat
dipenjara, keculai individu-individu yang merupakan personifikasi neg ara yang bisa
bertang g ung jawab di depan hukum baik hukum pidana nasional, maupun hukum pidana
internasional.Peniadaan tang g ung jawab individu merupakan suatu kemunduran dibidang
hukum, terlepas dari kesepakatan para pihak untuk tidak meletakan tang g ung jawab
pidana pada individu dan membebankan tang g ung jawab pada neg ara.Pembebanan tang g ung
jawab pelang g aran hak asasi manusia pada neg ara, sekalipun diakui merupakan
penyelesaian politik, tetapi jang an lupakan bahwa apa yang merupakan produk neg ara
merupakan faktor pembuat hukum dan merupakan suatu contoh bag aimanan neg ara
bersikap dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.Suka atau tidak suka
deng an per memoar ad spem neg ara telah meletakan landasan impunity dalam proses
berneg ara. Dan hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang lazim dalam hukum
internasional.Per memoar ad spem tentunnya menimbulkan ketidakpuasan pada
korban,tetapi pada para pelaku yang seharusnya bertang g ung jawab tentunya akan
merasa sang at setuju deng an proses penyelesaian yang direkomendasikan dalam per
memoar ad spem, karena tidak memasukan tang g ung jawab pidana pada individu sebag ai
rekomendasi yang harus dilakukan neg ara.Per Memoar ad Spem telah diterima oleh
kedua neg ara, yaitu Timor Leste dan I ndonesia. Deng an demikian persoalan Timor
leste secara keneg araan sudah selesai dan kedua neg ara akan memulai lang kah baru
deng an melupakan masa lalu yang bisa dibaca sebag ai lupakan masa lalu yang jug a
bisa diartikan bahwa tidak ada apa apa deng an deng an masa lalu, bag aimana deng an
tang g ung jawab hukumnya baik hukum pidananya, ataupun hukum pidana internasional
yang berkaitan deng an pelang g aran hukum perang , kejahatan terhadap kemanusiaan,
Akhirnya permasalahan Timpr-Leste sudah selesai tetapi bukan tidak mung kin akan

merupakan suatu persoalan yang akan kembali datang di kemudian hari karena
secara hukum masih mening g alkan persolan khususnya terhadap tindak pidana yang
berkaitan deng an hak asasi manusia, karena tindakan-tindakan yang berkaitan deng an
hak asasi manusia tidak meng enal daluarsa. Komisi Kebenaran dan Persahabatan
berdasarkan hasil Telaah Ulang Dokumen dan hasil analisis atas fakta-fakta yang
telah diulas dalam temuan berdasarkan Kerang ka Acuan 14 a (i) dan (ii), Komisi
berkesimpulan bahwa telah terjadi pelang g aran HAM berat berupa kejahatan terhadap
kemanusiaan. Kesimpulan Komisi ini jug a didasarkan analisis bahwa kejahatan
terhadap kemanusiaan yang terjadi telah dilakukan sebag ai bag ian dari serang an yang
meluas dan sistematis terhadap penduduk sipil. Jenis tindak kekerasan tersebut
antara lain: (1) Pembunuhan; (2) Deportasi atau pemindahan paksa penduduk; (3)
Penahanan ileg al (4) Kekerasan seksual lainnya; (5) Peng hilang an paksa; dan (6)
Perbuatan tak manusiawi lain, yaitu peng hancuran dan pembakaran harta benda. Untuk
dapat menyimpulkan bahwa pelang g aran HAM berat dalam bentuk kejahatan terhadap
kemanusiaan terjadi, Komisi pertama-tama melihat apakah kekerasan tersebut
diarahkan terhadap warg a sipil. Kekerasan ini dapat berupa seg ala bentuk
kekerasan fisik, pemaksaan, ancaman, intimidasi, atau peng hilang an kemerdekaan
fisik. Warg a sipil yang diserang harus dalam jumlah yang cukup untuk menunjukkan
bahwa penyerang an tersebut tidak hanya ditujukan terhadap perorang an sipil dalam
jumlah yang sedikit, terbatas, atau terpilih secara acak, namun sekelompok orang
yang sig nifikan. Pemikiran dasarnya di sini adalah untuk menentukan apakah ada
bukti kredibel meng enai peng aniayaan atau peng g unaan kekuatan, pemaksaan, atau
kekerasan terhadap sejumlah substansial warg a sipil. Jika kekerasan (1) diarahkan
hanya terhadap sedikit warg a sipil terpisah, atau (2) diarahkan terutama terhadap
lawan militer yang sah namun terdapat beberapa warg a sipil yang terbunuh dalam
suatu insiden yang acak dan terpisah, maka ini tidak dig olong kan sebag ai
pelang g aran HAM berat berupa kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun di Timor Timur
tahun 1999 dimensi politik konflik dan fokusnya pada jajak pendapat, jenis-jenis
kejahatan dan status para korban, terutama penarg etan warg a sipil yang dipandang
memiliki hubung an deng an keyakinan atau tujuan politik tertentu, secara jelas
menunjukkan bahwa serang an terhadap penduduk sipil telah terjadi. Komisi
berkesimpulan bahwa bukti meng enai hal ini sang at banyak dan definitif.Selain
temuan Komisi bahwa terjadi serang an terhadap penduduk sipil, penting jug a untuk
menentukan bahwa serang an tersebut bersifat meluas atau sistematis. I stilah
meluas mencakup dimensi kuantitatif, cakupan, dan sifat serang an. I stilah
sistematis terutama berkaitan deng an aspek kualitatif serang an deng an
meng indikasikan misalnya, bahwa serang an tersebut bukan terdiri dari tindak
kekerasan yang acak, terpisah dan individual, namun mencakup banyak tindakan deng an
jumlah atau skala korban yang sig nifikan, atau terdapat peng org anisasian,
perencanaan, koordinasi, atau keg iatan terpola. Di sini sekali lag i Komisi
berkesimpulan bahwa bukti secara kuat menunjukkan serang an terhadap penduduk sipil
di Timor Timur terjadi secara meluas maupun sistematis. Bukti ini meng indikasikan
bahwa jumlah korban dan insiden, jug a skalanya, cukup besar.Bukti jug a menunjukkan
bahwa serang an sering menjadikan sasaran orang -orang yang dipandang memiliki
afiliasi politik tertentu dan serang an ini terjadi berulang kali dalam rentang
waktu, pada banyak tempat, serta meng ikuti pola perbuatan yang terorg anisasi.
Deng an hasil dari Komisi Kebenaran dan Persahabatan I ndonesia dan Timor Leste yang
tidak meletakan tang g ung jawab pidana pada individu maka Pemerintah I ndonesia
telah melakukan impunity dalam penyelesaian pelang g aran hak asasi manusia di TimorTimur, dan meng abaikan hak untuk mendapatkan remedy dari korban pelang g aran hak
asasi manusia, dan beberapa ketentuan dalam hukum internasional berikut ini dapat
menjelaskan bahwa seharusnya Pemerintah I ndonesia tidak melepaskan tang g ung jawab
pidana individu dari pelaku pelang g aran hak asasi manusia berat di Timor-Timur.
Hak untuk mendapatkan remedi atas pelang g aran hak asasi manusia merupakan cerminan
dari hak asasi manusia yang bersifat universal. Sebag aimana disebutkan oleh Martha
Meier:I mpunitas adalah ketidakmampuan de jure dan de facto, untuk membawa para
pelaku kejahatan dan kekerasan untuk mempertang g ung jawabkan perbuatannya baik
dalam proses persidang an pidana,perdata, administrasi atau disipliner karena
mereka tidak tunduk pada penyidikan yang bisa meng arahkan mereka pada alasan

meng apa mereka dituduh,ditang kap, diadili dan, jika ditemukan bersalah, dihukum
deng an hukuman yang tepat, dan untuk melakukan reparasi bag i para korban. #
I mpunity dalam hukum internasional tidak dikenal, impunity adalah suatu keadaan
dimana pelaku tidak terjang kau oleh hukum, dan neg ara tidak meng hukum pelaku,
sehing g a pelaku tidak diminta pertang g ung jawabannya atas pelang g aran HAM yang
dilakukannya. Sebag ai konsekuensi dari adanya hak tersebut, sebag ai suatu hak yang
bersifat universal, tentunya setiap pelang g aran hak asasi manusia, harus dilakukan
proses remedy yang tidak saja meliputi proses peradilan atas pelang g aran HAM
tersebut, tetapi jug a dapat meliputi, rehabilitasi, restitusi dan kompensasi.Latar
belakang yang demikian penulis tertarik untuk menulis I mplementasi I nstrumen Hak
Asasi Manusia dalam Pelang g aran Hak Asasi Manusia Berat dihubung kan deng an Sistem
Peradilan Pidana di I ndonesia , karena deng an latar belakang yang penulis sampaikan
diatas dalam
pandang an penulis sistem perdilan pidana I ndonesia tidak mampu menjang kau
pelang g aran HAM berat yang terjadi di I ndonesia yang terlihat dari tidak adanya
satupun terdakwa dari kasus-kasus pelang g aran Hak Asasi Manusia di I ndonesia yang
dijatuhi sanksi pidana.Bebasnya seluruh terdakwa kasus pelang g aran HAM berat
khususnya yang terjadi di Timor-Timur, mendorong seg enap komponen masyarakat
I ndonesia khususnya Pemerintah untuk mencari suatu solusi yang dapat menyelesaikan
persoalan hak asasi manusia, khususnya yang berkaitan deng an pelang g aran ham
berat.Komisi kebenaran dan rekonsiliasi menjadi pilihan sebag ai suatu solusi yang
mung kin dicapai sebag ai suatu upaya untuk menyelesaikan persoalan pelang g aran hak
asasi manusia khususnya pelang g aran ham berat yang terjadi di I ndonesia, yang
dalam pembentukannya yang tentunya tidak dapat dilepaskan dari standarisasi HAM
yang bersifat universal.Pembentukan Komisi Kebenaran dan Persahabatan I ndonesia dan
Timor leste yang diprakarsai oleh pemerintah kedua neg ara yaitu I ndonesia dan
Timor leste, dilakukan sebag a upaya untuk menyelesaikan persoalan Timor-Timur
secara mendasar dan menyeluruh untuk mendapatkan penyelesaiaan menyeluruh dan untuk
mendapatkan kebenaran yang fundamental meng enai apa yang terjadi di Timor-Timur
Pasca jejak pendapat tahun 1999.Penulis berpandang an hak asasi manusia yang
universal dapat terjawab deng an melihat kepada bag aimana I ndonesia menyelesaikan
persoalan Hak Asasi Manusia yang dialaminya khususnya yang berkaitan deng an
pelang g aran HAM berat, lebih khusus lag i bag aimana standarisasi hak asasi manusia
yang universal diterapkan dalam kasus pelang g aran HAM berat, khususnya dalam kasus
Timor-Timur sebag ai ukuran universal dalam peneg akan hak asasi manusia di
I ndonesia.Penelitian ini melihat bahwa Peng adilan HAM, Komisi Kebenarran dan
Rekonsiliasi yang dalam tulisan ini dig unakan Komisi Kebenaran dan Persahabatan
I ndonesia dan Timor Leste merupakan bag ian dari suatu sistem untuk menjawab
persoalan pelang g aran HAM berat di I ndonesia yang tidak dapat dipisahkan dari
sistem peradilan pidana, yang diharapkan dapat menyelesaikan persoalan pelang g aran
Hak Asassi Manusia di I ndonesia dalam hal ini pelang g aran hak asasi manusia berat.
Sebag aimana penulis sadari, tulisan yang membicarakan meng enai Hak Asasi Manusia
sang atlah banyak, dalam penelitian ini peneliti hendak melihat suatu rang kaian
pemikiran meng enai hak asasi manusia, sejak hak asasi manusia dipandang perlu
untuk diatur dalam undang -undang dasar sebag ai bentuk perlindung an terhadap hak
asasi manusia, dan kenyataan yang harus dihadapi ketika berhadapan deng an
pelang g aran hak asasi manusia, serta mekanisme alternatif yang perlu dilakukan
ketika dirasakan mekanisme peng adilan hak asasi manusia dirasakan tidak memberikan
jawaban atas persoalan hak asasi manusia, yang diwujudkan dalam komisi kebenaran
dan rekonsiliasi, deng an memperhatikan standarisasi hak asasi manusia yang bersifat
universal.B. I dentifikasi MasalahDalam penelitian ini yang menjadi pokok
permasalahan adalah :Bag aimana peng aturan tentang Pelang g aran Hak Asasi Manusia
Berat dalam Peraturan Perundang -Undang an di I ndonesia? Bag aimana Penyelesaian
Pelang g aran Hak Asasi Manusia Berat dalam Sistem Peradilan Pidana di I ndonesia? C.
Tujuan PenelitianAdapun tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan :
Peng aturan tentang Pelang g aran Hak Asasi Manusia Berat dalam Peraturan Perundang Undang an di I ndonesia.
2.
Penyelesaian Pelang g aran Hak Asasi Manusia
Berat dalam Sistem Peradilan Pidana di I ndonesia.D. Keg unaan PenelitianKeg unaan
penelitian ini diharapkan:Secara Teoritis meng embang kan disiplin hukum Hak Asasi

Manusia yang diperkaya oleh hasil penelitian para peneliti dan pendapat para ahli
terdahulu. Secara praktis memberikan sumbang an pemikiran meng enai konsep Asasi
Manusia dalam Sistem Hukum Pidana I ndonesia.E. Kerang ka Pemikiran
Sebag ai
neg ara yang berdasarkan hukum, dimana salah satu pola yang harus ada didalam neg ara
berdasarkan hukum adalah adanya peng hormatan dan perlindung an terhadap hak asasi
manusia, selain dari adanya mekanisme kelembag aan neg ara yang demokratis, adanya
suatu tertib hukum dan adanya kekuasaan kehakiman yang bebas.# I ndonesia jug a
meng atur hak asasi manusia dalam Konstitusinya dan perundang -undang an yang
menunjukkan bahwa I ndonesia memperhatikan persoalan hak asasi manusia dan
bertang g ung jawab atas peng hormatan terhadap hak asasi manusia. Konsep hak asasi
manusia yang diperg unakan oleh I ndonesia dalam meng atur hak asasi manusia baik
dalam Konstitusinya ataupun dalam peraturan perundang -undang an yang lain, idealnya
sebag ai konsep yang diikuti oleh peraturan perundang -undang an yang meng atur secara
teknis meng enai hak asasi manusia, atau terjadi perubahan konsep dalam peng aturan
yang terdapat pada peraturan perundang -undang an yang meng atur HAM.Hak asasi manusia
adalah suatu konsep yang sifatnya universal, idealnya Konstitusi dan peraturan
perundang -undang an di I ndonesia jug a meng g unakan konsep yang bersifat universal,
tetapi peraturan perundang -undang an sering kali menjadi sumber perdebatan meng enai
hak asasi manusia, yang meng urang i makna universal dari hak asasi manusia
dikarenakan perbedaan pandang an meng enai hak asasi manusia, sehing g a meng urang i
makna universal dari hak asasi manusia yang seharusnya dapat diterima oleh semua
orang , karena HAM yang sifatnya universal tidak akan menimbulkan perdebatan.Dalam
peraturan perundang -undang an nasional terdapat peraturan perundang -undang an yang
bermuatan hak asasi manusia ketika akan dikeluarkan atau sudah dikeluarkan
menimbulkan perdebatan yang sang at kuat membicarakan meng enai peraturan perundang an
tersebut, sebag ai contoh konsep hak asasi manusia yang terdapat dalam Undang -Undang
No 26 tahun 2000 tentang Peng adilan HAM, Undang -Undang No 27 Tahun 2004 meng enai
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang berdasarkan keputusan mahkamah
konstitusi pada tang g al 7 Desember 2006 membatalkan Undang -Undang tentang Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi yang menunjukkan konsep yang berbeda dalam melihat
persoalan hak asasi manusia di I ndonesia.Pembentukan Komisi Kebenaran dan
Persahabatan (KKP) antara Republik I ndonesia dan Timor Leste dapat dijadikan
kajian penelitian dalam mencari jawaban konsep hak asasi manusia dan
implementasinya dalam sistem hukum nasional I ndonesia.Perbedaan dalam memandang
hak asasi manusia, tentunya dilandasi atas perspektif berbeda terhadap hak asasi
manusia , yang dapat diartikan terdapat perbedaan konsep meng enai hak asasi
manusiaHak asasi manusia filosofinya adalah menjamin peng hormatan terhadap setiap
orang , martabat dan kemerdekaan manusia dari semua bentuk tindakan yang tidak
sesuai deng an harkat martabat manusia dalam menjalankan hidupnya di masyarakat.#
Pemikiran meng enai hak asasi manusia yang sifatnya universal diawali deng an
situasi dunia pada perang dunia kedua yang menimbulkan penderitaan yang sang at
besar bag i masyarakat dunia sehing g a mendorong perlunya tatanan universal yang
meng atur masyarakat dunia ag ar lebih dapat meng hormati hak asasi manusiaGag asan
meng enai Deklarasi I nternasional Hak Asasi Manusia muncul ketika perang dunia I I
berlang sung , dan semakin kuat saat Piag am PBB dirancang dan PBB dibentuk.Para
pendiri PBB tidak bisa tidak, harus memasukkan upaya pemajuan hak-hak asasi
manusia ke dalam tujuan-tujuan PBB, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk
Deklarasi yang menuang kan kebiasaan-kebiasaan hukum internasional.#Kutipan di
atas menunjukan diperlukannya suatu tatanan yang bersifat universal yang meng atur
hak asasi manusia. Hak asasi manusia merupakan isu yang tidak pernah selesai
untuk dibicarakan, karena membicarakan hak asasi manusia, berarti membicarakan
suatu pemahaman konsep yang universal. Konsep dalam Kamus
Umum Bahasa I ndonesia
Badudu Zain diartikan sebag ai ide yang direncanakan dalam pikiran.#Dalam Websters
Dictionary, Concept diartikan sebag ai: an idea terj: suatu g ag asan, especially a
g eneralized idea of a class of objects terj: secara khusus adalah suatu pemikiran
umum meng enai sekelompok obyek ; a thoug ht terj: pemikiran.# Deng an demikian
konsep diartikan sebag ai suatu pemikiran, yang dalam hal ini tentunya pemikiran
terhadap hak asasi manusia. Dalam kaitannya deng an konsep hak asasi manusia yang
universal dapat diartikan sebag ai pemikiran hak asasi manusia yang bisa diterima

di semua tempat dan di semua waktu. Deng an kata lain, pemahaman tentang konsep
yang universal dari hak asasi manusia, maka seharusnya tidak akan ada lag i
pandang an yang berbeda meng enai hak asasi manusia karena konsep hak asasi manusia
yang universal berarti suatu pemahaman yang sama dalam memandang hak asasi
manusia.#Sebag ai sesuatu yang universal hak asasi manusia dipandang sebag ai
standar internasional yang melintasi batas budaya dan merupakan sistem hukum
internasional yang berlaku dalam masyarakat neg ara.#Melintasi batas budaya dalam
hal ini dimaksudkan bahwa seharusnya tidak ada lag i perbedaan dalam peng aturan dan
pelaksanaan hak asasi manusia dikarenakan perbedaan budaya tidak mempeng aruhi
berlakunya hak asasi manusia, karena universalitas dari hak asasi manusia.Dalam
kenyataannya persoalan budaya yang selalu meng hambat berlakunya hak asasi manusia
yang dipandang universal, bahkan konsep hak asasi manusia yang sudah menjadi suatu
hukum kebiasaan internasional dapat diperlakukan berbeda dalam suatu neg ara deng an
pertimbang an sosial dan budaya dari neg ara tersebut, yang sebenarnya tidak sesuai
deng an hak asasi manusia yang bersifat universal.Universal dalam kamus umum
Bahasa I ndonesia WJS Poerwadarminta diartikan sebag ai umum yang meliputi
(berlaku di, terdapat di) seluruh dunia (termasuk, dilakukan oleh) semua orang ;
berakibat pada semua orang #. Deng an meng g unakan pedoman yang terdapat dalam kamus
WJS Poerwadarminta,
maka deng an demikian hak asasi manusia Universal diartikan sebag ai hak asasi
manusia yang berlaku di seluruh dunia. Dalam Websters Ninth New Colleg iate
Dictionary, #Universal: 1. including or covering all or a whole collectively or
distributively without limit or exceptions; 2. a present or occuring everywhere b:
existent or operative everywhere or under all condition.Universality: 1. the
quality or state of being Universal; 2. Universal Comprehensiveness in rang e.
Universalism: 1. often cap a: a theolog ical doctrine that all men will
eventually be saved b: the principles and practises of a liberal christian
denomination founded in the 18th century orig . .to uphold belief in universal
salvation and know united with unitarianisme 2. something that is universal in
scope
Berpedoman kepada Websters Ninth New Colleg iate Dictionary, maka
universal diartikan sebag ai berlaku umum, Universality atau Universalitas diartikan
sebag ai sesuatu yang berlaku umum, dan universalisme diartikan sebag ai suatu paham
yang bersifat universal, dalam kaitan deng an penelitian ini maka hak asasi manusia
adalah berlaku Universal yang artinya berlaku umum, di setiap tempat dan di setiap
waktu, dan hak asasi manusia sebag ai suatu obyek yang berlaku umum, yang kemudian
meng akibatkan paham atau pandang an bahwa hak asasi manusia berlaku secara
universal. Dalam praktik neg ara-neg ara sering kali menimbulkan perdebatan di
kalang an para ahli hukum bahwa penerapan universalitas dari hak asasi manusia ke
dalam hukum nasional atau pelaksanaan hak asasi manusia oleh neg ara tidak sesuai
deng an prinsip universalitas, dan cenderung disesuaikan deng an bag aimana pandang an
neg ara meng enai hak asasi manusia itu sendiri.Sebag ai bang sa yang merupakan bag ian
(sub-sistem) masyarakat g lobal, tanpa meng abaikan unsur-unsur partikularistik yang
dominan, berbag ai kecenderung an g lobal harus dilihat sebag ai kecenderung an
nasional. Hal ini khususnya apabila berkaitan deng an hak asasi manusia yang
bersifat absolute (absolute rig hts) yang tidak dapat dikesamping kan, sekalipun
suatu neg ara dalam keadaan darurat.#Konsep hak asasi manusia secara universal,
tentunya tidak dapat terlepas dari hukum internasional dimana sumber hukum
internasional adalah:#international conventions, whether g eneral or particular,
establishing rules expressly recog nized by the contesting states;I nternational
custom, as
evidence of a g eneral practice accepted as law.The General Principles
of Law Recog nized by civilized nation.Judicial decisions and the teaching of the
most hig hly publicist of the various nations, as subsidiary means for the
determinations of rules of law.Sebag ai suatu tatanan nilai yang telah diterima
masyarakat internasional sebag aimana peng ertian hukum internasional, hukum
internasional ialah keseluruhan kaidah dan asas yang meng atur hubung an atau
persoalan yang melintasi batas Neg ara antara :1. Neg ara deng an Neg ara2. Neg ara
deng an subyek hukum lain bukan neg ara atau subyek hukum bukan neg ara satu sama
lain.# Deng an demikian Neg ara telah menerima konsep universalitas itu sebag ai suatu
konsep yang berlaku secara universal. Bahkan dalam hal ini adanya pandang an yang

lebih moderat dan menafsirkan kecenderung an g lobal lebih luas yang mencakup pula
pelbag ai resolusi badan-badan PBB, model perjanjian (model treaties), code of
conduct, g uidelines, basic principles, safeg uard, standar minimum rules, dan
berbag ai deklarasi yang disusun oleh badan-badan internasional serta hasil-hasil
pertemuan ilmiah yang diseleng g arakan oleh profesi internasional:#Globalisasi
semakin memperkuat pemikiran-pemikiran untuk mempersoalkan nilai-nilai dasar HAM,
yang bersifat universal, indivisible and interdependent and interelated. Bahkan
sering diteg askan ag ar masyarakat internasional memperlakukan hak asasi secara
g lobal in a fair and equal manner, on the same footing , and with the