You are on page 1of 4

JURNAL PENELITIAN SAINS

VOLUME 15 NOMOR 4(D) OKTOBER 2012

Korelasi Konsetrasi Logam Berat Cu Pada Daun Avicennia sp


Terhadap Gonad Scylla serrata di Tanjung Api-Api,
Sumatera Selatan
Anna Ida Sunaryo Purwiyanto
Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA Universitas Sriwijaya
Intisari: Logam berat Cu merupakan salah satu jenis methalothionein esensial yang sangat
mempengaruhi aktifitas reproduksi organisme dan akan bersifat toksik bila konsentrasinya melebihi
ambang batas. Secara alami, logam Cu tersebar di berbagai ekosistem, baik ekosistem perairan
maupun sedimen, salah satunya adalah ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove merupakan salah
satu perangkap alami Cu yang akumulasinya akan mempengaruhi biota yang berasosiasi dengan
ekosistem ini, termasuk juga kepiting yang memanfaatkan daun mangrove sebagai pakan alami. Organ
pada Scylla serrata yang paling terpengaruh adalah gonad, sehingga adanya kandungan Cu pada daun
mangrove akan mengakibatkan gonad juga terkontaminasi. Hubungan akumulasi pada mangrove
tersebut diduga memiliki korelasi positif dengan akumulasi pada organ reproduksi kepiting. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa korelasi konsentrasi Cu pada daun Avicennia sp
dan Cu yang terdapat dalam gonad kepiting. Pengukuran konsentrasi Cu dilakukan dengan
menggunakan metode AAS-flame. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam Cu pada
gonad jantan (0,0064 ppm) ternyata lebih tinggi dibandingkan gonad betina (0,0059 ppm) dan
konsentrasi Cu tersebut memiliki kaitan yang cukup tinggi terhadap konsentrasi Cu yang terkandung
dalam daun mangrove api-api (0,00075-0,0022 ppm).
Kata Kunci: Cu, gonad, Scylla serrata, daun Avicennia sp
Abstract: Heavy metals Cu is one of the essential methalothionein which influence reproductive
activity of organisms and will be toxic when its concentration exceeds a threshold. Naturally, Cu spread
in various ecosystems, both aquatic and sediment ecosystems, one of example is a mangrove
ecosystem. Mangrove ecosystem is one of the natural trap which accumulate Cu and affecting
associated organism, including mangrove crabs that use leaves as a natural food. One of the most
affected organ of Scylla serrata is the gonad, so that the Cu content in the leaves of mangroves will
result contaminated in gonads. These relationship suspected has a positive correlation. Therefore, this
study aims to determine the correlation between Cu which contains in the leaves of mangroves and Cu
contained in the gonad crab. Cu concentration measurements performed using AAS-flame method. The
results showed that Cu metal content in the male gonads (0,0064 ppm) were higher than female
gonads (0,0059 ppm) and those Cu content has a high correlation to the concentration of Cu contained
in mangrove leaf ((0,00075-0,0022 ppm).
Keywords: Cu, gonad, Scylla serrata, Avicennia sp leaves
Email: anna.ida3@gmail.com

1 PENDAHULUAN

umatera Selatan memiliki daerah mangrove yang


luas, salah satunya adalah daerah mangrove di
Tanjung Api-Api. Mangrove di Tanjung Api-Api ini
sangat bermanfaat bagi biota-biota, terutama kepiting
bakau (Scylla serrata) yang meng-gunakan daerah
mangrove sebagai feeding ground dan habitat dalam
siklus hidupnya. Seiring dengan waktu, daerah
mangrove ini mengalami perubahan, baik dari segi
jumlah dan luasan, maupun ling-kungan. Hal ini

2012 JPS MIPA UNSRI

terlihat dari adanya perkembangan industri dan


makin tingginya aktifitas di wilayah perairannya
sendiri. Industri dan aktifitas-aktifitas tersebut pada
akhirnya tentu saja akan meng-hasilkan limbah, baik
limbah yang sudah mengalami pengolahan terlebih
dulu maupun limbah yang dibuang begitu saja.
Limbah-limbah tersebut terdiri atas berbagai
kandungan, termasuk juga logam berat tembaga (Cu).
Tembaga (Cu) merupakan contoh logam berat
yang banyak terdapat di dalam limbah. Jenis logam
berat ini merupakan logam berat yang bersifat
15432-160

ANNA/KORELASI KONSENTRASI LOGAM BERAT CU

essensial bagi organisme. Keberadaan logam berat ini


dalam jumlah yang berlebih dapat mengaki-batkan
kematian organisme. Apalagi Cu merupakan salah satu
jenis methalothionein yang sangat mem-pengaruhi
aktifitas reproduksi organisme. Secara alami, perairan
memang mengandung Cu, namun pasokan dari limbah
yang masuk ke dalam perairan mengakibatkan
konsentrasinya
semakin
bertambah.
Bila
konsentrasinya telah melebihi ambang batas maka
keberadaannya akan membahayakan.
Mangrove yang memiliki fungsi sebagai salah satu
perangkap alami polutan, dapat juga menjadi
perangkap bagi Cu yang terdapat di perairan. Hal
tersebut mengakibatkan kepiting bakau (Scylla
serrata) yang memanfaatkan ekosistem mangrove
tersebut juga akan terpengaruh kehidupannya. Sirait
(1997) dalam Chairunnisa (2004) mengemukakan
bahwa makin tinggi kerapatan mangrove, maka makin
tinggi kelimpahan kepiting bakau yang terdapat di
ekosistem tersebut. Makin tinggi kerapatan mangrove
maka daun mangrove yang menjadi makanan alami
kepiting tentu akan makin banyak pula, sehingga
kepiting memiliki suplai makanan yang banyak untuk
kelangsungan hidup dan populasinya. Konsumsi daun
mangrove oleh kepiting juga dipertegas oleh
penelitian yang dilakukan di berbagai wilayah.
Kepiting yang hidup di hutan mangrove di Hong Kong
mengkonsumsi > 59% daun mangrove, di Australia
kepiting mengkonsumsi 71-79%, sedangkan di Barzil
kepiting bakau mengkonsumsi daun mangrove 81%
dari total makanannya (Lee, 1989 ; Robertson dan
Daniel, 1989 ; Nordhaus et al., 2006 ; dalam Thongtam
et al, 2008).
Konsumsi serasah daun yang dilakukan kepiting
bakau tersebut mengakibatkan terjadinya transfer
akumulasi Cu yang terkandung dalam serasah. Salah
satu organ pada kepiting bakau yang paling
terpengaruh adalah organ reproduksi. Kandungan Cu
pada daun mangrove akan mengakibatkan organ
reproduksi juga terkontaminasi.
Hubungan akumulasi pada mangrove tersebut
diduga memiliki perbandingan positif dengan
akumulasi pada organ reproduksi kepiting, dimana
semakin tinggi Cu yang disimpan oleh mangrove,
terutama daun, maka akan makin tinggi pula Cu pada
gonad kepiting bakau. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kandungan logam
tembaga (Cu) yang terdapat dalam gonad kepiting dan
melihat benar atau tidaknya dugaan penyerapan dan
penyimpanan logam tembaga (Cu) pada gonad
kepiting bakau dan daun mangrove.

JPS VOL. 15 NO. 4(D) OKTOBER 2012

pengambilan sampel dilakukan di Tanjung Api-Api


(Gambar 1). Analisis Cu pada sampel dilakukan di
Baristand (Balai Riset dan Standarisasi Industri)
Palembang.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

Prosedur Penelitian
Sampel kepiting bakau diperoleh dengan meminta
bantuan nelayan setempat, yaitu pemasangan dan
pengangkatan bubu kepiting yang dilakukan pada saat
pasang. Kepiting yang digunakan sebagai objek
penelitian adalah kepiting bakau yang telah memiliki
ukuran konsumsi, yaitu 250-300 gr dan berjumlah 10
ekor. Sampel daun mangrove yang digunakan adalah
daun-daun tua pada pohon mangrove. Hal ini
dilakukan dengan asumsi bahwa daun-daun tua telah
mengakumulasi Cu dalam kurun waktu tertentu, selain
itu serasah mangrove yang akan menjadi pakan alami
kepiting berasal dari daun-daun tua tersebut. Daundaun mangrove diambil sebanyak 100 gr, lalu
dimasukkan dalam kantong dan cool box. Kedua
sampel yang diperoleh kemudian langsung dibawa ke
laboratorium untuk dianalisa kandungan Cu. Analisa
Cu dilakukan dengan menggunakan metode AAS flame
pada panjang gelombang 324,7 nm.

3 HASIL PEMBAHASAN
Mangrove yang digunakan dalam penelitian adalah
mangrove api-api (Avicennia sp), karena jenis
mangrove ini merupakan mangrove yang terdapat di
zona luar, sedangkan kepiting yang diambil adalah
kepiting bakau (Scylla serrata) yang hidup di lokasi
mangrove tersebut. Analisis yang dilakukan di
laboratorium
menunjukkan
bahwa
ternyata
kandungan Cu pada gonad jantan lebih tinggi
dibandingkan pada gonad betina (Gambar 2)

2 METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2009, dengan

15432-161

ANNA/KORELASI KONSENTRASI LOGAM BERAT CU

JPS VOL. 15 NO. 4(D) OKTOBER 2012

lebih sulit dihitung dibandingkan mengukur diameter


telur dalam gonad betina.
Kandungan logam Cu yang diperoleh pada daun

Avicennia berkisar antara 0,00075-0,0022 ppm. Pada

Gambar 2. Konsentrasi Cu pada gonad jantan dan betina


kepiting bakau

dasarnya, kandungan Cu pada daun tersebut diduga


masih dalam kisaran normal Cu. Pendugaan tersebut
dilakukan dengan membandingkan kandungan Cu
pada daun mangrove api-api di lokasi lain. Hamzah
dan Setiawan (2010) memperoleh kandungan Cu pada
daun Avicennia yang di Muara Angke, Jakarta berkisar
antara 2,07-10,07 ppm. Kandungan Cu yang tinggi juga
diperoleh pada daun tua Avicennia di Perairan Dumai,
yaitu 5,180-9,250 ppm (Amin, 2001).

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa konsentrasi Cu


pada gonad betina rata-rata mencapai 0,0059 ppm
lebih rendah dibandingkan Cu pada gonad jantan
(rata-rata 0,0064 ppm). Perbedaan tersebut terjadi
karena fungsi tembaga (Cu) pada tubuh organisme
sendiri. Arifin (2007) menjelaskan bahwa secara
umum, Cu sebagai mineral mikro dimanfaatkan oleh
tubuh sebagai katalisator dalam sel, berfungsi dalam
sintesa hemoglobin, sebagai bagian dari enzim tubuh,
dan terlibat dalam transportasi/aliran darah, serta
berikatan dengan albumin. Selain itu, Cu dalam tubuh
juga berperan penting membantu absorbsi unsur besi
(Fe), memelihara fungsi sistem saraf, dan terutama
juga dalam sintesis substansi hormon (Biologi Media
Centre, 2012).
Perbedaan kandungan Cu dalam tubuh jantan dan
betina tersebut tidak hanya ditemukan pada kepiting.
Namun secara umum pada hewan-hewan darat pun
jantan membutuhkan Cu lebih tinggi dibandingkan
betina. Little (1985) dalam Delima (2008)
mengemukakan adanya perbedaan aktifitas, serta
komposisi tubuh biota jantan dan betina turut menjadi
penyebab perbedaan kandungan Cu dalam tubuh.
Pada hewan betina, umumnya Cu lebih dibutuhkan
pada proses fisiologisnya, terutama saat betina sedang
aktif reproduksi, misalnya bunting, melahirkan dan
menyusui (Gurdogan et al., 2006 dalam Delima, 2008).
Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada biota
betina, kandungan Cu akan meningkat seiring dengan
pertambahan tingkat kematangan gonadnya. Gonad
betina yang diperoleh pada penelitian ini memiliki
warna kuning keputihan. Menurut Karsy (1996)
dalam Serosero (2008), ciri gonad tersebut
menunjukkan fase gonad yang masih berada pada
awal pertumbuhan gonad atau TKG 1.
Fase gonad betina tersebut mengakibatkan
kandungan Cu pada betina lebih kecil dibandingkan
gonad jantan, meskipun secara visual fase pada gonad
jantan tidak diketahui secara pasti. Hal tersebut
disebabkan perkembangan gonad betina lebih mudah
diketahui dibandingkan gonad jantan, karena menurut
Retnowati (1991) jumlah sperma dalam testis jantan

(a)

(b)
Gambar 3. (a) Grafik korelasi kandungan Cu (ppm) pada
gonad betina dan daun Avicennia ; (b) Grafik korelasi
kandungan Cu (ppm) pada gonad jantan dan daun Avicennia

Hasil uji statistik regresi yang dilakukan


menunjukkan bahwa Cu pada daun tua memberikan
kontribusi yang cukup besar terhadap asupan Cu pada
gonad jantan dan betina Scylla serrata (Gambar 3).
Pada Gambar 3 terlihat bahwa Cu yang terdapat dalam
daun tua Avicennia memiliki pengaruh yang cukup
besar terhadap Cu yang terdapat dalam gonad
kepiting, baik gonad betina (R2 = 0,906) dan gonad
jantan (R2 = 0,972). Arifin (2207) menjelaskan bahwa
daun mangrove merupakan salah satu pakan alami

15432-161
15432-162

ANNA/KORELASI KONSENTRASI LOGAM BERAT CU

kepiting, disamping kepiting memiliki kemampuan


dalam mengakumulasi logam berat. Cu dibutuhkan
dalam proses kerja organ dan jaringan tubuh
kepiting meskipun dalam jumlah yang sedikit.
Perolehan Cu bagi kepiting bakau berasal dari
asupan makanan, terutama daun mangrove. Hal
tersebut mengingat tingginya jumlah daun mangrove
yang mampu dikonsumsi. Daun mangrove merupakan
makanan utama kepiting bakau dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisinya. Mchenga dan Tsuchiya (2010)
menjelaskan
sebanarnya
kepiting
mengambil
kandungan nitrogen dan karbon yang terdapat dalam
daun mangrove. Namun demikian, kandungan lain
yang terdapat dalam daun tentu saja akan ikut
terkonsumsi. Sehingga sumber mineral mikro tembaga
yang dibutuhkan oleh kepiting dapat diperoleh dari
tembaga yang terkandung dalam daun-daun tua
mangrove yang nantinya akan jatuh dan menjadi
serasah.

4 KESIMPULAN
Pada kepiting bakau (Scylla serrata) di Tanjung ApiApi Sumatera Selatan, kandungan Cu pada gonad
jantan (0,0064 ppm) lebih tinggi dibandingkan gonad
betina (0,0059 ppm). Adanya korelasi konsentrasi Cu
yang cukup tinggi daun tua Avicennia sp terhadap
gonad Scylla serrata.

Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang
kandungan Cu pada serasah daun Avicennia sp dan
kandungan Cu pada TKG gonad Scylla serrata yang
berbeda.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penelitian ini di danai oleh DIPA UNSRI Bidang MIPA Tahun
2009. Peneliti juga mengucapkan terimakasih kepada Tuti
Afridanelly yang telah membantu pelaksanaan penelitian.

JPS VOL. 15 NO. 4(D) OKTOBER 2012

DAFTAR PUSTAKA
1.

Chairunnisa R. 2004. Kelimpahan Kepiting Bakau


(Scylla sp) di Kawasan Hutan Mangrove KPH Batu
Ampar, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.
[Skripsi]. Institut Pertanian Bogor
2. Thongtham N, Kristensen E, Puangprasan SY. 2008.
Leaf removal by sesarmid crabs in Bangrong
mangrove forest, Phuket, Thailand; with emphasis on
the feeding ecology of Neoepisesarma versicolor.
Estuarine, Coastal and Shelf Science Journal, 80: 583
590
3. Arifin Z. 2008. Beberapa Unsur Mineral Esensial Mikro
Dalam Sistem Biologi Dan Metode Analisisnya. Jurnal
Litbang Pertanian, 27(3) : 99-105
4. Biologi Media Centre. 2012. Sistem Pencernaan (2) :
Jenis dan Fungsi Mineral.
http://biologimediacentre.com/sistem-pencernaan-2jenis-dan-fungsi-mineral/ (Online : 20 November
2012)
5. Delima M. 2008. Gambaran Kadar Mineral Tembaga,
Magnesium, Dan Besi Dalam Serum Kambing Lokal
Ditinjau Dari Pola Pemeliharaan. Jurnal Kedokteran
Hewan, 2(1) : 117-123
6. Serosero RH. 2008. Tingkat Kematangan Gonad
Kepiting Bakau (S. serrata, S. paramamosain dan S.
olivacea) di Perairan Pantai Desa Mayangan Kab.
Subang Jawa Barat. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan
Perikanan, 1 : 40-43
7. Retnowati T. 1991. Menentukan Tingkat Kematangan
Gonad Kepiting Bakau Scylla serrata (Forskal) Segara
Morfologis Dan Kaitannya Dengan Perkembangan
Gamet. Institut Pertanian Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/1234567
89/40031/C91TRE.pdf?sequence=1 (Online : 20
November 2012
8. Hamzah F, Setiawan A. 2010. Akumulasi Logam Berat
Pb, Cu, Dan Zn Di Hutan Mangrove Muara Angke,
Jakarta Utara. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan
Tropis, 2 (2) : 41-52
9. Amin B. 2001. Akumulasi Dan Distribusi Logam Berat
Pb Dan Cu Pada Mangrove (Avicennia marina) Di
Perairan Pantai Dumai, Riau. Jurnal Natur, 4(1) : 85-90
10. Mchenga ISS, Tsuchiya M. 2010. Feeding Choice and
the Fate of Organic Materials Consumed by Sesarma
Crabs Perisesarma bidens (De Haan) When Offered
Different Diets. Journal of Marine Biology, 2010 : 1-10

15432-161
15432-163