You are on page 1of 8

JURNAL KEDOKTERAN INDONESIA, VOL. 1/NO.

1/JANUARI/2009

Korelasi Penilaian Asma Terkontrol Pada Penderita Asma Persisten Sesudah


Pemberian Kortikosteroid Inhalasi dengan Menggunakan Asthma Control
Scoring System dan Asthma Control Test
Correlation of Controlled Asthma Assessment in Persistent Asthma Patients After Corticosteroid
Inhalation Using Asthma Control Scoring System and Asthma Control Test
Allen Widysanto*, Eddy Surjanto**, Suradi**, Faisal Yunus***
*Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUPH-RS Siloam Karawaci, Tangerang
** Bagian Pulmonologi FKUNS-RSUD Dr Moewardi, Surakarta
*** Departemen Pulmonogi dan Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan, Jakarta

ABSTRACT
Background: The individual parameters to define asthma severity and asthma control overlap significantly. Validated measures, such as ACT, ACS, ACQ, for assessing asthma control are now available, but
no comparison among the existing measures has been performed. This study aimed to assess the
correlation between ACT and ACS either before of after inhaled corticosteroid ( ICS ).
Methods: This was a cohort study. Samples were collected by consecutive sampling. Two asthma
control questionnaires, ACS and ACT, must be filled-up by the patients. Spirometry was performed
after asthma control questionnaires were completely filled-up. The certain dose of inhaled corticosteroid (ICS ) was given for 2 months, and patients have to repeat the same procedure as they have
done after 2 months inhaled corticosteroid administered.
Results: The correlation of ACS score based on ACT category score before ICS showed no agreement.
In contrary, the correlation of ACS score based on ACT category score after ICS showed significantly
moderate agreement
Conclusion: There was a moderate correlation statistically significant agreement between ACS and
ACT assessment when ACS score of 60% was used as the cut off point. Jurnal Kedokteran Indonesia: 1 (1):
56-63
Keywords: asthma, persistent, ACS, ACT

PENDAHULUAN
Teori interaksi antara sistem imun dan epitel saluran
napas, pengaruh lingkungan dan patofisiologi yang
mendasari sindrom klinik asma masih kurang jelas,
akibatnya beberapa kasus dapat ditangani dengan
mudah tetapi beberapa diantaranya sulit dikontrol
secara adekuat (Holgate et al., 2000). Tujuan utama
pengelolaan asma untuk mencapai kontrol optimum,
yaitu, meminimalisasi gejala dan penggunaan b2
agonis kerja singkat, mencegah bronkokonstriksi
sehingga mengurangi risiko eksaserbasi yang
mengancam jiwa (Junniper et al., 1999).
Cockroft dan Swystun menegaskan bahwa kontrol
asma berbeda dengan derajat asma. Kontrol asma
menitikberatkan pada adekuasi terapi, sedangkan
derajat asma menitikberatkan pada proses yang
56

mendasari penyakit. Persepsi umum dan salah yang


berkembang sampai saat ini adalah asma yang terkontrol baik, dianggap sama dengan asma ringan
sedangkan yang tidak terkontrol sama dengan asma
berat (Cockroft dan Swystun, 1996)
Kriteria asma terkontrol sebagai berikut
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2004; National Institute of Health, 2005).: Gejala klinik
termasuk gejala malam hari minimal (sebaiknya tidak
ada),tidak ada keterbatasan aktiviti termasuk exercise,
kebutuhan bronkodilator (b2 agonis kerja singkat)
minimal (idealnya tidak diperlukan ),variasi harian
APE kurang dari 20%, nilai APE normal atau
mendekati normal, efek samping obat minimal (tidak
ada), tidak ada kunjungan ke Unit Gawat Darurat.
Menurut The Gaining Optimal Asthma Control (GOAL ) study, asma terkontrol dibagi menjadi

WIDYSANTO, et al./ KORELASI PENILAIAN ASMA TERKONTROL PADA PENDERITA ASMA PERSISTEN

dua yaitu terkontrol baik (well controlled) dan


terkontrol total (total controlled). Asma terkontrol total
jika pada pengamatan selama delapan minggu
berturutan, tercatat tujuh minggu terkontrol total
tanpa eksaserbasi, tidak ada kunjungan ke Unit Gawat
Darurat (UGD) atau tidak ditemukan efek samping
obat untuk tiap hari setiap minggu. Asma terkontrol
baik jika tercatat tujuh minggu dari delapan minggu,
asma terkontrol baik yaitu masih diperkenankan
terdapat gejala klinis dan penggunaan medikasi secara
ringan (Bateman et al., 2004; Bousquet, 2004).
Juniper, dkk., menulis bahwa kontrol asma dapat
diskrining dalam bentuk kuesioner. Berbagai macam
kuesioner sudah dipublikasikan antara lain Asthma
Control Test (ACT), Asthma Control Questionnaire
(ACQ), Asthma Control Scoring System (ACS) dan
sebagainya (Juniper, 1999; Boulet et al., 2002; ALA,
2005). Boulet dkk., melakukan penelitian pada tahun
2002, menggunakan kuesioner kontrol asma
berdasarkan sistem skoring (ACS). Sistem ini memakai
3 parameter pengukur asma yaitu gejala klinis, fungsi
paru dan inflamasi saluran napas sebagai parameter
opsi. Hasilnya digunakan sebagai metode praktis
untuk menentukan kontrol asma berdasarkan nilai
persentase global (kuantitatif ) (Boulet, 2002).
Asthma Control Test adalah suatu uji skrining
berupa kuesioner tentang penilaian klinis seorang
penderita asma untuk mengetahui asmanya
terkontrol atau tidak. Kuesioner ini terdiri dari lima
pertanyaan, dikeluarkan oleh American Lung Association bertujuan memberi kemudahan kepada
dokter dan pasien untuk mengevaluasi asma penderita
yang berusia diatas 12 tahun dan menetapkan terapi
pemeliharaannya. Berbeda dengan ACS, ACT tidak
memakai kriteria faal paru untuk menilai kontrol
asma (Nathan et al., 2004). Interpretasi hasil yaitu
apabila jumlah nilai sama atau lebih kecil dari 19
adalah asma tidak terkontrol sedangkan bila nilai lebih
besar dari 19 adalah asma terkontrol (ALA, 2005).
Tujuan Asthma Control Test adalah menyeleksi
asma yang tidak terkontrol, mengubah pengobatan
menjadi lebih efektif, melaksanakan pedoman pengobatan secara lebih tepat dan memberikan pendidikan
atau pengetahuan tentang bahaya asma yang tidak
terkontrol. Kuesioner ini telah diteliti dan divalidasi
sehingga dapat dipakai secara luas untuk menilai dan
memperbaiki kondisi asma seseorang.(Nathan et al.,

2004a); Yunus, 2005). Berdasarkan keterangan di


atas, maka untuk mengetahui korelasi antara ACT
dan ACS yang memiliki kekurangan dan kelebihan,
maka dilakukan penelitian pada asma persisten sebelum dan sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi.
SUBJEK DAN METODE
Desain penelitian
Penelitian menggunakan metode kohor dan
dilakukan analisis statistik untuk mengetahui korelasi
antara Asthma Control Scoring System dan Asthma
Control Test pada penderita asma persisten sebelum
dan sesudah pemberian steroid inhalasi.
Sampel penelitian
Sampel penelitian adalah semua penyandang asma
persisten yang berobat jalan di Poliklinik Paru RSUD
Dr. Moewardi, Surakarta yang memenuhi kriteria
inklusi . Pengambilan sampel secara consecutive sampling sampai jumlah sampel terpenuhi.
Kriteria inklusi
Kriteria inklusis sebagai berikut: (1) Penyandang asma
persisten ( ringan, sedang dan berat); (2) Usia 1845 tahun; (3) Tidak memakai steroid sistemik dalam
2 minggu terakhir; (4) Tidak memakai steroid inhalasi
dalam 3 hari terakhir; (5) Bersedia mengisi kuesioner
secara lengkap dan benar; (6) Bersedia ikut dalam
penelitian dan menandatangani lembar persetujuan
Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi sebagai berikut: (1) Asma yang
disertai infeksi pernapasan akut (ISPA,
bronkopneumonia, abses paru, empiema) maupun
infeksi saluran napas kronik (tuberkulosis dan
bronkiektasis ); (2) Perokok; (3) Riwayat penyakit
paru kronik selain asma (Penyakit Paru Obstruksi
Kronis, tumor paru); (4) Hamil/menyusui; (4) Asma
dengan penyakit jantung.
Instrumen
Penelitian ini menggunakan dua macam kuesioner
asma kontrol yaitu ACS dan ACT dan satu kuesioner
untuk menilai kejujuran subjek.
1. Asthma Control Scoring System
Kuesioner ACS yang diteliti menggunakan 2 parameter yaitu klinis dan fisiologis (Volume Ekspirasi Paksa

57

JURNAL KEDOKTERAN INDONESIA, VOL. 1/NO. 1/JANUARI/2009

Detik Pertama/ VEP1).Total skor dihitung dengan


menjumlahkan kedua parameter kemudian dibagi
dua. Belum ada cut off point untuk menentukan asma
terkontrol maupun tidak terkontrol.

HIPOTESIS PENELITIAN

2. Asthma Control Test

2. Terdapat korelasi antara ACS dan ACT pada


pasien asma persisten sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi.

Kuesioner ACT hanya mencakup parameter klinis,


tanpa ada pemeriksaan fungsi paru. Total skor
diperoleh dengan menjumlahkan 5 pertanyaan yang
sudah diberi bobot nilai. Nilai lebih kecil atau sama
dengan 19 disebut asma tidak terkontrol sedangkan
nilai lebih besar 19 disebut asma terkontrol.
3. Le Minnesota Multiphasic personality Inventory
(MMPI )
Instumen ini digunakan untuk menguji keseriusan
subyek penelitian dalam menjawab pertanyaan
kuesioner penelitian.
Penelitian dilakukan untuk melihat korelasi antara ACS dan ACT baik sebelum dan sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi. Subyek penelitian diberi
penjelasan tentang tujuan penelitian dan apabila bersedia ikut dalam penelitian diminta menandatangani
lembar persetujuan. Setelah menandatangani lembar
persetujuan, dilakukan pemeriksaan foto toraks dan
elektrokardiografi.
Subjek penelitian diedukasi kemudian mengisi
kuesioner ACT, ACS dan MMPI. Setelah itu,
dilakukan pemeriksaan spirometri untuk menilai
VEP1. Kortikosteroid inhalasi 200 mcg diberikan
dengan dosis sesuai derajat asma yang direkomendasikan GINA selama dua bulan. Pelega kerja singkat
inhalasi juga diberikan dan dosis sesuai kebutuhan.
Kontrol subyek penelitian dilakukan tiap bulan
atau bila terjadi eksaserbasi. Kortikosteroid inhalasi
dosis tertentu digunakan selama penelitian berlangsung, evaluasi ulang setelah dua bulan. Pengisian
kuesioner ACT , ACS dan MMPI serta pemeriksaan
fungsi paru diulangi pada akhir bulan ke-2. Kuesioner
dikumpulkan ke peneliti dan dilakukan analisis.
CARA PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Data diolah dengan menggunakan komputer program STATA versi 7.0 dan SPSS 10.0 for windows.
Analisis statistik memakai uji beda , korelasi dengan
menggunakan Kappa Cohen. Nilai kemaknaan uji
statistik pada penelitian ini adalah p < 0.01.

58

1. Terdapat korelasi antara ACS dan ACT pada


pasien asma persisten sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi.

3. Nilai Asthma Control Scoring System sesudah


pemberian kortikosteroid inhalasi lebih tinggi
dibanding sebelum pemberian kortikosteroid
inhalasi.
4. Nilai Asthma Control Test sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi lebih tinggi dibanding
sebelum pemberian kortikosteroid inhalasi.
HASIL-HASIL
Penelitian dilakukan pada pasien asma persisten yang
berobat jalan di Poli Paru RSUD Dr. Moewardi,
Surakarta, mulai bulan Mei 2006 sampai dengan Juli
2006.
A. Karakteristik subyek penelitian
Secara keseluruhan diperoleh 32 orang subyek penelitian yang terdiri dari 11 orang laki-laki (34%) dan
21 orang perempuan (66%) (Tabel 1). Rentang umur
mulai dari 18 tahun hingga 45 tahun. Tingkat pendidikan bervariasi dari Sekolah Dasar gingga Pascasarjana. Tidak ada korelasi antara tingkat pendidikan
dengan skor ACT dan ACS baik sebelum dan sesudah
pemberian kortikosteroid inhalasi.
Diagnosis asma persisten terdiri dari asma persisten ringan sebesar 17 orang (53%), asma persisten
sedang 14 orang (44%) dan asma persisten berat 1
orang (3%). Seluruh subyek penelitian sebelumnya
tidak menggunakan kortikosteroid inhalasi dengan
benar karena alasan yang berbeda. Terdapat 12 orang (37.5%) yang tidak menggunakan kortikosteroid
inhalasi karena takut efek samping, 7 orang ( 21.9%
) karena alasan biaya, 5 orang (15.6%) karena alasan
efek kortikosteroid yang lambat, 4 orang (12.5% )
karena merasa sudah sembuh dan 4 orang (12.5% )
karena tidak mengerti manfaat kortikosteroid. Tabel
1 menunjukkan karakteristik subyek penelitian.

WIDYSANTO, et al./ KORELASI PENILAIAN ASMA TERKONTROL PADA PENDERITA ASMA PERSISTEN

Tabel 1. Data dasar subyek penelitian

B. Rentang skor ACT dan ACS sebelum


pemberian kortikosteroid inhalasi
Skor klinis ACS sebelum perlakuan berkisar 20%
(terendah) hingga 80% (tertinggi). Nilai VEP 1
berkisar 31.6% (terendah) hingga 100% (tertinggi).
Skor fisiologis ACS berkisar antara 20% hingga
100%. Skor ACS diperoleh dari penjumlahan skor
klinis dan skor fisiologis dibagi 2. Hasil penelitian
ini menunjukkan skor ACS sebelum perlakuan
sebesar 20% (nilai terendah) hingga 80% (nilai
tertinggi). Skor ACT berkisar antara 6 sebagai nilai
terendah hingga 21 sebagai nilai tertinggi.
C. Rentang skor ACT dan ACS sesudah
pemberian kortikosteroid inhalasi
Skor klinis ACS berkisar antara 50% (nilai terendah)
hingga 100% (nilai tertinggi) sedangkan nilai VEP1
berkisar antara 38.5% (nilai terendah) hingga 100%
(nilai tertinggi). Skor fisiologis ACS berkisar antara
20% sebagai nilai terendah hingga 100% sebagai nilai
tertinggi. Total skor ACS yang dihasilkan berada dalam rentang 30 % (terendah) hingga 95% (tertinggi).
Hasil penelitian skor ACT menampilkan nilai terendah sebesar 6 dan nilai tertinggi sebesar 25. Tabel 2
menunjukkan rincian rata-rata skor ACT dan ACS
baik sebelum maupun sesudah perlakuan.
Tabel 2. Rentang skor ACT dan ACS sebelum dan sesudah
perlakuan di poli paru RSUD Dr. Moewardi , tahun 2006

D. Distribusi skor kategori ACT pada pasien


asma persisten berdasarkan derajat asma
sebelum dan sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi
Sebelum pemberian kortikosteroid inhalasi , asma
tidak terkontrol (skor ACT 19) pada APR, APS
dan APB berturut-turut adalah 16 orang (50%), 14
orang (43.8%) dan 1 orang (3.1%) sedangkan hanya
terdapat 1 orang (3,1% ) asma terkontrol pada APR.
Sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi, skor
ACT 19 pada APR, APS dan APB berturut-turut
adalah 3 orang (9.4%), 5 orang (15.6%) dan 1 orang ( 3.1% ) sedangkan skor ACT > 19 adalah 14
orang (43.8%) pada APR, 9 orang (28.1% ) pada
APS dan tidak ditemukan asma terkontrol pada APB.
Tabel 3 menunjukkan distribusi skor ACT pada asma
persisten berdasarkan derajat asma sebelum dan
sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi.
E. Perbedaan rata-rata skor klinis ACS menurut
kategori ACT sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi.
Terdapat 31 orang (96.9%) yang mengidap asma
tidak terkontrol (skor ACT 19) pada awal penelitian
dan hanya 1 orang (3,1%) yang menunjukkan
keadaan terkontrol (skor ACT > 19) (Tabel 4).
Tabel 3. Distribusi skor ACT pada asma persisten
berdasarkan derajat asma sebelum dan sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi di poli paru RSUD Dr Moewardi,
tahun 2006

Tabel 4. Karakteristik skor ACT sebelum perlakuan di poli


paru RSUD Dr.Moewardi, tahun 2006.

Skor ACT dengan interpretasi tidak terkontrol


( 19) memberikan rentang skor klinis ACS sebesar
20% hingga 75% dengan rata-rata skor ACS sebesar
53.1%. Skor ACT dengan interpretasi terkontrol (>

59

JURNAL KEDOKTERAN INDONESIA, VOL. 1/NO. 1/JANUARI/2009

19) memberikan skor klinis ACS sebesar 70% dengan


rata-rata skor ACS sebesar 70%. Gambar 1
menunjukkan perbedaan skor rata-rata klinis ACS
menurut kategori ACT sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi.
F.

dibandingkan dengan sebelum pemberian (64.5%),


namun, tidak terdapat korelasi antara VEP1 dengan
skor ACT sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi
(Gambar 2).

Perbedaan rata-rata skor klinis ACS menurut


kategori ACT sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 orang


(28.1%) pengidap asma yang tidak terkontrol sesuai
dengan skor ACT ( 19) dan 23 orang (71,9%)
subyek yang terkontrol sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi, seperti tampak pada Tabel 5.
Tabel 5. Karakterisitik skor ACT sesudah perlakuan di poli
paru RSUD Dr.Moewardi, tahun 2006

Gambar 2. Korelasi antara Volume Ekspirasii Paksa Detik 1


(%) dengan skor Asthma Control Test sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi (r=0.30; p=0.10)

I.
G. Korelasi antara Volume Ekspirasi Paksa detik
pertama dengan skor ACT sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi.
Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat korelasi
antara VEP1 dengan skor ACT sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi (Gambar 1).

Gambar 1. Korelasi antara Volume Ekspirasi Paksa Detik 1


(%) dengan skor Asthma Control Test sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi (r=0.02; p=0.90)

H. Korelasi antara Volume Ekspirasi Paksa Detik


Pertama dengan skor ACT sesudah pemberian
kortikosteroid inhalasi.
Skor VEP 1 menunjukkan sedikit peningkatan
(68.1% ) sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi

60

Korelasi antara skor ACS dan skor kategori


ACT sebelum pemberian kortikosteroid
inhalasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada median


47.5% terdapat 14 orang (93.3%) yang tidak terkontrol menurut ACT juga dinilai tidak terkontrol menurut ACS. Tidak ada subyek (0%) yang terkontrol
menurut ACT dan terkontrol menurut ACS. Terdapat
17 subyek (100%) yang tidak terkontrol menurut
ACT namun dinilai terkontrol menurut ACS dan ada
1 subyek (6.7%) yang terkontrol menurut ACT namun dinilai tidak terkontrol menurut ACS. Koefisien
kesepakatan (k) antar dua kuesioner adalah lemah
( = 0.1 ; p= 0.860), sehingga disebutkan terdapat
kesepakatan lemah dan tidak bermakna antara skor
kategori ACT dengan skor ACS sebelum pemberian
kortikosteroid inhalasi. Penjelasan ini terangkum pada
tabel 6.
Tabel 6. Korelasi antara skor ACS dan skor kategori ACT
sebelum pemberian kortikosteroid inhalasi

WIDYSANTO, et al./ KORELASI PENILAIAN ASMA TERKONTROL PADA PENDERITA ASMA PERSISTEN

J.

Korelasi antara skor ACS dengan skor kategori


ACT sesudah pemberian kortikosteroid
inhalasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada median 60% terdapat 9 orang (56.3%) yang tidak
terkontrol menurut ACT juga dinilai tidak terkontrol
menurut ACS. Terdapat 16 orang (100%) yang
dinilai terkontrol, baik oleh ACT maupun oleh ACS.
Ada 7 orang (43.8%) dinilai terkontrol menurut ACT
namun tidak terkontrol menurut ACS dan tidak
terdapat subyek yang dinilai tidak terkontrol menurut
ACT namun dinilai terkontrol menurut ACS.
Penjelasan ini terangkum pada Tabel 7. Koefisien
kesepakatan yang dicapai oleh kedua kuesioner adalah
sedang ( = 0.6; p= 0.001), sehingga disebutkan
terdapat kesepakatan sedang dan bermakna antara
skor kategori ACT dengan skor ACS sesudah
pemberian kortikosteroid inhalasi.
PEMBAHASAN
Secara keseluruhan terdapat 32 orang subyek penelitian yang mayoriti perempuan (66%). Surjanto dalam
penelitian di Poliklinik Asma Bagian Pulmonologi
dan Kedokteran Respirasi RSUP Persahabatan, Jakarta
mendapat sampel perempuan lebih banyak dibanding
laki-laki (Suryanto, 2004). Studi kontrol asma di Asia
Pasifik oleh Zainudin dkk dan Lai dkk juga memperoleh sampel yang mayoritas perempuan. Derajat asma
terbanyak berturut-turut adalah asma persisten ringan, asma persisten sedang dan asma persisten berat.
Karakteristik derajat asma pada penelitian ini serupa
dengan dua penelitian terpisah yang dilakukan di
Asia Pasifik oleh Zainudin dan Lai (Lai et al., 2003;
Zainuddin et al., 2005).
Seluruh subyek penelitian tidak menggunakan
kortikosteroid inhalasi secara rutin karena berbagai
alasan. Takut terhadap efek samping kortikosteroid
menjadi alasan utama, diikuti mahalnya biaya obat.
Alasan serupa juga ditemukan pada penelitian Lai di
Asia Pasifik pada tahun 2003 dan Humbert di Paris
pada tahun 2006 (Lai et al., 2003; Humbert, 2006).
Nilai rata-rata VEP1 sesudah pemberian kortikosteroid
inhalasi sebesar 68.1% prediksi. Hasil ini hampir
sama dengan penemuan Masoli dkk (69% prediksi)
pada suatu studi metaanalisis tahun 2004 (Masoli
et al., 2004)

A. Korelasi antara Volume Ekspirasi Paksa Detik


Pertama dengan skor ACT
Sebelum perlakuan
Tidak ada korelasi antara VEP1 dengan skor ACT
sebelum pemberian kortikosteroid inhalasi. Hasil
penelitian yang dilakukan Nathan dkk., pada tahun
2004 disimpulkan bahwa walaupun terdapat korelasi
lemah antara skor ACT dan VEP1, namun penilaian
kontrol asma sebaiknya dilakukan berdasarkan
kombinasi kedua variabel ini (Nathan et al., 2004b).
Menurut Shingo (2001), tidak ada korelasi antara
klinis dan VEP 1 disebabkan oleh dimensi yang
berbeda oleh kedua variabel ini.
Volume Ekspirasi Paksa Detik Pertama adalah
parameter untuk menilai derajat obstruksi saluran
napas (objektif ) sedangkan penilaian klinis lebih melukiskan beban perasaan penyandang asma (subjektif )
(Rabe et al., 2004). Menurut peneliti, hasil yang
diperoleh disebabkan oleh dimensi berbeda antara
klinis dan derajat obstruksi seperti yang telah diuraikan sebelumnya (Shingo , 2001). Peneliti menduga
bahwa rentang waktu untuk menilai parameter klinis
adalah 4 minggu sedangkan nilai VEP1 dinilai hanya
pada satu saat yaitu pada keadaan stabil. Hal ini menyebabkan tidak ada korelasi antara skor klinis dan
VEP1.
Sesudah perlakuan
Tidak ada korelasi antara VEP1 dengan skor ACT
sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi. Beberapa
faktor yang diduga sebagai penyebab adalah airway
remodeling, keterlambatan penggunaan kortikosteroid
inhalasi seperti yang diteliti Humbert tahun 2006
di Paris dan overpersepsi mengenai kontrol asma
(Rabe, 2004; Humbert, 2006 ).
Menurut peneliti, hasil yang diperoleh lebih
disebabkan oleh airway remodeling dan keterlambatan
penggunaaan kontroler. Peneliti tidak melihat
pengaruh kortikosteroid inhalasi terhadap persepsi
asma yang berlebihan.
B. Korelasi antara skor ACS dengan skor kategori
ACT
Sebelum perlakuan
Tidak ada korelasi antara skor ACS dengan skor
kategori ACT sehingga hipotesis pertama ditolak.
Belum ada kepustakaan yang mengkorelasikan

61

JURNAL KEDOKTERAN INDONESIA, VOL. 1/NO. 1/JANUARI/2009

langsung kedua kuesioner ini, namun peneliti


menduga bahwa mayoriti penyandang asma yang
tidak terkontrol dan skor ACT yang rendah
dibanding ACS, menyebabkan tidak ada korelasi
antara kedua skor ini. Tujuan untuk menilai korelasi
ini adalah untuk melihat validiti kriteria kedua
kuesioner.
Sesudah perlakuan
Terdapat korelasi sedang dan bermakna pada hasil
sesudah perlakuan sehingga hipotesis kedua diterima.
Suatu penelitian hampir serupa ditampilkan Schatz
tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat nilai
sensitiviti dan spesifisiti yang hampir sama antara
kuesioner ACT dan ACQ (Sorkness, 2005).
Pencapaian hasil yang berlawanan dengan sebelum
pemberian kortikosteroid inhalasi, diduga disebabkan
oleh kenaikan skor ACT dan skor ACS yang bermakna
sedangkan nilai VEP1 tidak mengalami kenaikan yang
bermakna. Hasil ini dapat dipakai sebagai tolak ukur
penilaian sifat ACT yang reliabel .
C. Perbedaan rata-rata skor ACT dan perbedaan
rata-rata skor ACS sebelum dan sesudah
pemberiankortikosteroid inhalasi
Terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor ACS dan
rata-rata skor ACT sebelum dan sesudah perlakuan.
Rata-rata skor ACS sesudah pemberian kortikosteroid
inhalasi lebih tinggi dibanding sebelumnya, demikian
juga rata-rata skor ACT lebih tinggi sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi dibanding sebelum pemberian. Hasil ini menyebabkan hipotesis ketiga dan
keempat diterima. Tujuan peneliti untuk melihat
perbedaan skor yaitu untuk menguji sifat evaluatif
dan sifat responsif pada masing-masing kuesioner.
Penelitian ini menyimpulkan, tidak terdapat
korelasi antara skor ACS dan skor kategori ACT
sebelum pemberian kortikosteroid inhalasi. Terdapat
korelasi antara skor ACS dan skor kategori ACT
sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi. Terdapat
perbedaan bermakna antara rata-rata skor ACS sebelum dan sesudah pemberian kortikosteroid inhalasi
menunjukkan sifat evaluatif dan responsif yang
dimiliki ACS. Nilai rata-rata skor ACS sesudah
perlakuan lebih tinggi. Terdapat perbedaan bermakna
antara rata-rata skor ACT sebelum dan sesudah
pemberian kortikosteroid inhalasi menunjukkan sifat

62

evaluatif dan responsif yang juga dimiliki ACT. Nilai


rata-rata skor ACT sesudah perlakuan lebih tinggi.
Penelitian ini menyarakan perlunya dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk membandingkan kualiti
hidup (menggunakan kuesioner kualiti hidup) dan
kontrol asma (menggunakan ACT dan ACS ),
sehingga diperoleh data mengenai pengaruh faal paru
pada asma terkontrol terhadap kualiti hidup
penyandang asma. Berdasarkan sifat kuesioner yang
telah dipenuhi ACT, maka penggunaan ACT sebagai
suatu alat untuk menilai kontrol asma dapat
disosialisasikan terutama di pusat kesehatan
masyarakat dan sarana kesehatan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
ALA (2005). Take the asthma control test and know
your asthma score. http://Wellness.Ndsu. nodak.
edu/education/asthmaConTest-web.pdf. Diakses
9 September, 2005.
Bateman ED, Boushley HA, Bousquet J, Busse WW,
Clark T, Pauwels RA (2004). Can guideline-defined asthma control be achieved? Am J Respir
Crit Care Med; 170: 836-44.
Boulet LP, Boluet V, Milot J (2002). How should we
quantify asthma control? Chest;122: 2217-23.
Bousquet J (2004). Is asthma control achievable? Eur
Respir Rev; 13: 102-4.
Cockroft DW, Swystun VA (1996).Asthma control
versus asthma severity. J Allergy Clin Immunol;
98: 1016-8.
Holgate ST, Boushley HA, Fabbri LM (2000). Difficult asthma. NEJM; 342: 363-4.
Humbert M (2006). The right tools at the right
time. Chest; 130: 29S-40S.
Juniper Ef, OByrne PM, Guyatt GH, Ferrie PJ, King
DR (1999). Development and validation of a
questionnaire to measure asthma control. Eur
Respir J; 14: 902-7.
Lai CKW, De Guia TS, Kim YY, Kuo SH,
Mukhopadhyay A, Soriano JB, et al (2003).
Asthma control in the Asia-Pasific region: The
asthma insight and reality in Asia-Pacific study.
J Allergy Clin Immunol; 111: 263-8.
Masoli M, Holt S, Weatherall M, Beasley R (2004).
Dose-response relationship of inhaled

WIDYSANTO, et al./ KORELASI PENILAIAN ASMA TERKONTROL PADA PENDERITA ASMA PERSISTEN

budesonide in adult asthma; a meta-analysis. Eur


Respir J; 23: 552-8.
Nathan RA, Sorkness CA, Kosinski M, schatz M, Li
JT, et al (2004a). Development of the asthma
control test: a survey for assessing asthma control. J Allergy Clin Immunol; 113 (1): 59-65.
Nathan RA, Sorkness CA, Kosinski M, Schatz M, Li
JT, Marcus P, et al (2004b). Development of
the asthma control test: a survey for assessing
asthma control. J Allergy Clin Immunol; 113:
59-65.
National Institutes of Health National (2005) Heart,
Lung and Blood Institiute. Definition. Dalam:
Clark TJH, Cagnani CB, Bousquet J, Busse J,
Fabbri L, Grouse L, editors. Global Initiative For
Asthma. Glaxo Smith Kline. hal..2-9.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2004). Program penatalaksanaan asma. Dalam:
Mangunnegoro H, Widjaja A, Sutoyo DK,
Yunus F, Pradjaparamita , dkk, editors. Asma.
Jakarta:Balai Penerbit UI: hal. 28-72.
Rabe KF, Adachi M, Lai CKW, Soriano JB, Vermeire
PA, Weiss KB (2004). Worldwide severity and

control of asthma in children and adults: The


global asthma insights and reality surveys. J Allergy Clin Immunol, 114: 40-7.
Shingo S, Zhang J, Reiss TF (2001). Correlation of airway obstruction and patient-reported endpoints
in clinical studies. Eur Respir J; 17: 220-4.
Sorkness CA (2005). Assessing asthma control in day
to day practice. Partnerships for change in asthma
management. Singapore, hal. 1-16.
Surjanto E (2004). Klasifikasi imunologis derajat asma
alergi kronik berdasarkan Il-4, IL-5 dan eosinophil cationic protein (ECP) dalam sputum.
Disertasi. Program Pasca Sarjana Universitas
Airlangga, Surabaya.
Yunus F (2005). The asthma control test, a new tool
to improve the quality of asthma management.
Dalam: Surjanto E, Suradi, Reviono, Rima A,
Widysanto A,Widiyawati, editors. Proceeding
Book Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Edisi
ke 1. Surakarta: Indah C omp, hal..361.
Zainuddin BM, Lai CKW, Soriano JB, Horng WH,
de Guaia TS (2005). Asthma control in adults
in Asia-Pasific. Respirology; 10: 579-86.

63