You are on page 1of 58

Pembimbing:

Dr. Agah Gadjali, Sp.M


Dr. Gartati Ismail, Sp.M
Dr. Henry A.W, Sp.M
Dr. Hermansyah, Sp.M
Dr. Mustafa, Sp.M

PRESENTASI KASUS
UNIVERSITAS YARSI RS POLRI SAID SUKANTO

Hordeolum
Asri Alifa Sholehah (1102010037)
KEPANITERAAN KLINIK STASE MATA

Periode Oktober November 2014

IDENTITAS PASIEN
No. Rekam Medis: 618836
Nama

: Nn. D

Umur

: 22 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Tanggal lahir

: 11 Agustus 1992

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Pelajar/Mahasiswi

Alamat

: Kp. Jati rt 02/03 Parung

Status

: Belum menikah

Tanggal pemeriksaan : 3 November 2014

ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis
Hari/Tanggal : Senin, 3 November 2014
Tempat
: Poli Mata RS POLRI Said Sukanto
Jam
: 10.00 WIB

KELUHAN UTAMA
Benjolan di kelopak mata kanan atas

KELUHAN TAMBAHAN
Nyeri sentuh
Gatal
Rasa mengganjal pada pada mata kanan

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke Poliklinik Mata RS Polri dengan keluhan
ada benjolan di mata kanan atas sejak 4 bulan lalu sebelum
masuk rumah sakit.
Awalnya berupa bintik dalam kelopak mata kanan atas yang
sakit dan tidak bisa di pencet kemudian semakin lama
semakin membesar sehingga kelopak mata kanan atas merah
dan bengkak.

Benjolan disertai rasa sakit, terutama bila benjolan tersentuh


dan terasa gatal.
Pasien juga merasa seperti ada yang mengganjal pada mata
kanan atas.
Keluar kotoran, mata kabur dan demam disangkal oleh
pasien.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien tidak pernah menderita penyakit yang sama seperti ini
sebelumnya.
Riwayat penyakit diabetes melitus disangkal
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Riwayat pernah mengalami benturan atau trauma benda lain
disangkal
Riwayat menggunakan kacamata disangkal
Riwayat alergi disangkal
Riwayat menggunakan obat nyeri/ pegel linu dalam jangka waktu
yang lama disangkal

RIWAYAT KELUARGA
Tidak terdapat anggota keluarga dengan riwayat yang sama
dengan pasien.

RIWAYAT KONSUMSI OBAT


Selama sakit pasien memakai obat-obatan yaitu salep mata
lamesitin dan antibiotik 2x1, namun lupa nama obatnya.

RIWAYAT TRAUMA
Riwayat trauma, terkena benda asing, atau bahan kimia pada
mata disangkal oleh pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
Diperiksa pada 3 November 2014 pukul 10.00 WIB
Status generalis:
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80
Nadi
: 80 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu
: afebris (36.5 C)

STATUS OFTALMOLOGI
INSPEKSI

OD

OS

5/5

Visus Dasar

5/5

Gerakan bola mata baik

Posisi / Hirschberg

Gerakan bola mata baik

kesegala arah

kesegala arah
Ortoforia

Madarosis (-)

Super cilia

Sikatrik (-)

Madarosis (-)
Sikatrik (-)

Palpebra
Edema (+)

Superior

Edema (-)

Nyeri tekan (+)

Nyeri tekan (-)

Hiperemis (+)

Hiperemis (-)

Benjolan (+)

Benjolan (-)

Edema (-)

Inferior

Edema (-)

Konjungtiva Tarsal
Hiperemis

Superior

Tenang

Tenang

Inferior

Tenang

Injeksi Siliar (-)

Konjungtiva Bulbi

Tenang

Kornea

Jernih

Benjolan (+)

Injeksi konjungtiva (-)


Jernih
Infiltrat (-)

Infiltrat (-)

Ulkus (-)

Ulkus (-)

Sikatriks (-)

Sikatriks (-)

Dalam

Bilik Mata Depan

Dalam

Bentuk bulat, sentral,

Pupil

Bentuk bulat, sentral,

reguler

reguler

Refleks cahaya

Refleks cahaya

langsung / tidak

langsung / tidak

langsung (+) / (+)

langsung (+) / (+)

Miosis (+)

Miosis (+)

Kripti (+)

Iris

Kripti (+)

Sinekia anterior dan

Sinekia anterior dan

posterior (-) / (-)

posterior (-) / (-)

Jernih

Lensa

Shadow test (-)


Refleks fundus (+)

Jernih
Shadow test (-)

Funduskopi

Refleks fundus (+)

RESUME
Pasien perempuan berumur 22 tahun datang dengan keluhan :
Benjolan pada mata kanan atas sejak 4 bulan lalu smrs yang awalnya
berupa bintik dalam kelopak mata kanan atas kemudian semakin lama
semakin membesar sehingga kelopak mata kanan atas menjadi merah dan
bengkak.
Benjolan disertai rasa sakit, terutama bila benjolan tersentuh dan terasa
gatal.
Seperti ada yang mengganjal pada kelopak mata kanan atas.
Pada pemeriksaan fisik
: Visus ODS : 5/5
Palpebra superior
: Edema (+)
Nyeri tekan (+)
Konjungtiva tarsalis superior : Hiperemis (+)
Benjolan (+)

DIAGNOSIS BANDING
Hordeolum eksterna OD
Hordeolum interna OD
Kalazion OD
Tumor palpebra OD
Selulitis preseptal OD

DIAGNOSIS KERJA
Hordeolum eksternum OD

TATALAKSANA
Rencana terapi :
Insisi hordeolum eksterna
Antibiotik sistemik : Cefradoxil 3x500 mg
Analgetik : Asam mefenamat 3x500 mg
Antibiotik topikal : Cloramfenicol zalf 5xq.s
Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup. Jangan
mencoba memecahkan hordeolum, biarkan pecah sendiri.
Bersihkan kelopak mata dengan air bersih
Kontrol ke poliklinik mata 3 hari mendatang

PROGNOSIS

Quo Ad Vitam
: Ad Bonam
Quo Ad Fungsionam : Dubia Ad Bonam
Quo Ad Sanactionam : Dubia Ad bonam
Quo Ad Cosmetican : Ad Bonam

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI PALPEBRA
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit
yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior.
Berkedip melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi.
Palpebra superior berakhir pada alis mata; palpebra inferior
menyatu dengan pipi.
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial
ke dalam terdapat lapisan kulit, lapisan otot rangka (orbikularis
okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapisan
membran mukosa (konjungtiva palpebrae).

Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan)


menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari
bulu mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah
modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel
rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi
kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu
mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang
tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasea yang
telah dimodifikasi (glandula Meibom dan tarsal).

Retraktor palpebra berfungsi membuka palpebra. Di palpebra


superior, bagian otot rangka adalah levator palpebra superior, yang
berasal dari apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang
menjadi sebuah aponeurosis dan bagian yang lebih dalam yang
mengandung serat-serat otot polos dari muskulus Muller (tarsalis
superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus
rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk
membungkus muskulus obliqus inferior dan berinsersio ke dalam
batas bawah tarsus inferior dan obrikularis okuli. Otot polos dari
retraktor palpebra disarafi oleh nervus simpatis. Levator dan
muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotorius.

Fisura palpebra adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang


dibuka. Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis.
Kanthus lateralis kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan
membentuk sudut tajam.
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebra adalah a. Palpebra.
Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal
nervus V, sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V.

DEFINISI
Hordeolum adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi
kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan
oleh bakteri, biasanya oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus
aureus). Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau
lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom,
kelenjar Zeiss dan Moll.
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar
Meibom yang terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut
hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna yang lebih kecil
dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.

Hordeolum eksternum adalah infeksi kelenjar sebaceous


dari Zeiss di dasar bulu mata, atau infeksi pada kelenjar
keringat apokrin dari Moll. Hordeolum eksternum terbentuk
pada bagian luar palpebra dan dapat dilihat sebagai benjolan
merah kecil.

Gambar Hordeolum Eksternum

Hordeolum internum adalah infeksi kelenjar sebaceous Meibom


yang melapisi bagian dalam kelopak mata. Penyakit ini juga
menyebabkan benjolan merah di bawah palpebra (pada konjungtiva
tarsalis) dan tampak dari luar sebagai bengkak dan kemerahan.
Hordeolum internum mirip dengan kalazion, tetapi cenderung
lebih kecil dan lebih menyakitkan dan biasanya tidak menghasilkan
kerusakan permanen. Hordeolum internum ditandai dengan onset akut
dan biasanya pendek durasinya (7-10 hari tanpa pengobatan)
dibandingkan dengan kalazion yang kronis dan biasanya tidak
sembuh tanpa intervensi.

Gambar Hordeolum Internum

Pada hordeolum eksternum benjolan ikut bergerak dengan


pergerakan kulit, benjolan menonjol ke arah kulit, dan bila
mengalami supurasi benjolan pecah dengan sendirinya ke arah kulit.
Sedangkan pada hordeolum internum benjolan tidak ikut bergerak
dengan pergerakan kulit, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan
karena letaknya dalam tarsus jarang pecah dengan sendirinya.

EPIDEMIOLOGI
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa
hordeolum merupakan penyakit infeksi kelopak mata yang paling
sering ditemukan. Insidensinya tidak bergantung pada ras dan
jenis kelamin. Dapat mengenai semua usia, tapi lebih sering
menyerang pada dewasa muda.

ETIOLOGI
Hordeolum merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus dan Streptococcus pada kelenjar sebasea kelopak
mata. Staphylococcus aureus merupakan agent infeksi pada 9095% kasus hordeolum.

PATOFISIOLOGI
Hordeolum eksternum timbul dari blokade dan infeksi dari
kelenjar Zeiss atau Moll. Sedangkan hordeolum internum timbul
dari infeksi pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus.

MANIFESTASI KLINIS

Pembengkakan
Rasa nyeri pada kelopak mata
Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata
Riwayat penyakit yang sama

Tanda
Keluhan
Eritema utama dapat berupa bengkak dan kemerahan pada
kelopak
mata yang terasa nyeri untuk hordeolum internum, dan
Edema
bisul
atau bila
benjolan
kemerahan
dapat disertai
nanah atau tidak pada
Nyeri
ditekan
di dekat pangkal
bulu mata
hordeolum eksternum.
Seperti gambaran abses kecil

Gejala tambahan
Selain keluhan utama diatas, hordeolum juga dapat disertai dengan
beberapa gejala tambahan seperti:

Benjolan pada kelopak mata atas atau bawah


Pembengkakan lokal kelopak mata
Nyeri lokal kelopak mata
Kemerahan pada kelopak mata
Nyeri sentuh
Pengerasan kulit dari margo kelopak mata
Sensasi terbakar di mata
Terasa berat pada kelopak mata
Gatal pada bola mata
Penglihat kabur
Sekret purulen di mata
Iritasi pada mata

DIAGNOSIS
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan
tanda klinis yang muncul pada pasien dan dengan
melakukan pemeriksaan mata yang sederhana. Karena
kekhasan dari manifestasi klinis penyakit ini, pemeriksaan
penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis
hordeolum.

DIAGNOSIS BANDING
Kalazion
Tumor palpebra
Selulitis preseptal

PENATALAKSANAAN
Biasanya hordeolum dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 5-7
hari.
Umum
Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.
Bersikan kelopak mata dengan air bersih ataupun dengan sabun atau sampo
yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat
mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.
Jangan menekan atau menusuk hordeolum, karena kemungkinan hal itu
menjadi lebih serius.
Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu
menjadi penyebab infeksi.
Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebabkan infeksi ke
kornea.

Obat
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak
ada perbaikan, dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah
hordeolum.
Antibiotik topikal
Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10
hari. Dapat juga diberikan eritromicin salep mata untuk kasus hordeolum
eksterna dan hordeolum interna ringan.
Antibiotik sistemik
Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda
pembesaran kelenjar limfe di preauricular. Pada kasus hordeolum
internum dengan kasus yang sedang sampai berat, dapat diberikan
cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari.
Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan clindamicin 300
mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2 kali sehari
selama 7 hari.

Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur
pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada
hordeolum.
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anastesi topikal dengan
pantokain tetes mata. Dilakukan anastesi filtrasi dengan prokain atau
lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi bila:
Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak
lurus pada margo palpebra.
Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.
Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi
jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep
antibiotik.

KOMPLIKASI

Mata kering
Simblefaron
Abses
Selulitis palpebra

PROGNOSIS
Walaupun hordeolum tidak berbahaya dan komplikasinya sangat
jarang, tetapi hordeolum sangat mudah kambuh. Hordeolum
biasanya sembuh sendiri atau pecah dalam beberapa hari sampai
minggu. Dengan pengobatan yang baik hordeolum cenderung
sembuh dengan cepat dan tanpa komplikasi. Prognosis baik apabila
hordeolum tidak ditekan atau ditusuk karena infeksi dapat menyebar
ke jaringan sekitar.

PENCEGAHAN
Jaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum
menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.
Usap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat
untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak.
Jaga kebersihan paralatan makeup mata agar tidak terkontaminasi
oleh kuman.
Gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.

RINGKASAN
Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada
kelopak mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum
internum, sedangkan bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka
disebut hordeolum eksternum. Staphylococcus aureus adalah agent infeksi
pada 90-95% kasus hordeolum. Gejala dan tanda hordeolum antara lain
bengkak, nyeri pada kelopak mata, perasaan tidak nyaman dan sensasi
terbakar pada kelopak mata, memiliki riwayat penyakit yang sama, eritema,
edema, nyeri bila ditekan di dekat pangkal bulu mata, seperti gambaran
abses kecil. Penatalaksanaan terdiri dari perawatan umum seperti kompres
hangat, antibiotik topikal ataupun sistemik dan pembedahan.

PEMBAHASAN
Mengapa pasien didiagnosis hordeolum eksternum OD?
Pasien didiagnosis hordeolum eksternum OD dikarenakan pada
anamnesis ditemukan:
Benjolan di kelopak mata kanan atas sejak 4 bulan smrs yang awalnya
berupa bintik dalam kelopak mata kanan atas yang sakit dan tidak bisa di
pencet kemudian semakin lama semakin membesar sehingga kelopak
mata kanan atas merah dan bengkak.
Benjolan disertai rasa sakit, terutama bila benjolan tersentuh dan terasa
gatal.
Seperti ada yang mengganjal pada mata kanan atas.
Gejala-gejala diatas merupakan manifestasi klinis pada hordeolum

Pada pemeriksaan fisik ditemukan:


Visus ODS : 5/5
Palpebra superior OD : Edema (+),
Nyeri tekan (+)
Konjungtiva tarsalis superior : Hiperemis (+)
Benjolan (+)
Benjolan terdapat pada konjungtiva tarsal superior OD hordeolum
eksternum OD

Mengapa didiagnosis banding dengan hordeolum internum,


kalazion, tumor palpebra dan selulitis preseptal?
Hal tersebut dikarenakan keluhan yang sama terdapat pada
hordeolum eksternum, hordeolum internum, kalazion, tumor
palpebra dan selulitis praseptal adalah benjolan di kelopak mata.

Hordeolum internum adalah infeksi kelenjar sebaceous Meibom yang


melapisi bagian dalam kelopak mata. Penyakit ini juga menyebabkan
benjolan merah di bawah palpebra (pada konjungtiva tarsalis) dan tampak
dari luar sebagai bengkak dan kemerahan. Hordeolum internum mirip
dengan kalazion, tetapi cenderung lebih kecil dan lebih menyakitkan dan
biasanya tidak menghasilkan kerusakan permanen. Hordeolum internum
ditandai dengan onset akut dan biasanya pendek durasinya (7-10 hari
tanpa pengobatan) dibandingkan dengan kalazion yang kronis dan
biasanya tidak sembuh tanpa intervensi.

Pada hordeolum eksternum benjolan ikut bergerak dengan


pergerakan kulit, benjolan menonjol ke arah kulit, dan bila
mengalami supurasi benjolan pecah dengan sendirinya ke arah
kulit. Sedangkan pada hordeolum internum benjolan tidak ikut
bergerak dengan pergerakan kulit, benjolan menonjol ke arah
konjungtiva dan karena letaknya dalam tarsus jarang pecah
dengan sendirinya.

Kalazion merupakan suatu peradangan granulomatosa kelenjar


Meiobom yang tersumbat. Kalazion memberikan gejala benjolan
pada kelopak mata, tidak hiperemis, dan tidak nyeri tekan, serta
adanya pseudoptosis. Hal yang membedakan antara kalazion dan
hordeolum adalah pada hordeolum terdapat hiperemis palpebra
dan nyeri tekan.

Tumor palpebra merupakan suatu pertumbuhan sel yang


abnormal pada kelopak mata. Adapun gejala yang membedakan
antara tumor palpebra dengan hordeolum adalah tidak adanya
tanda-tanda peradangan seperti hiperemis dan hangat. Tumor
palpebra harus ditegakan diagnosisnya dengan pemeriksaan
biopsy.

Selulitis preseptal merupakan infeksi umum pada kelopak mata


dan jaringan lunak periorbital yang dikarakteristikkan dengan
adanya eritema pada kelopak mata yang akut dan edema. Yang
membedakan selulitis preseptal dengan hordeolum adalah
perjalanan penyakitnya, yang ditandai dengan adanya demam
yang diikuti oleh pembengkakan.

Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?


Pasien ini sudah mengkonsumsi obat sendiri seperti salep mata lamesitin
dan antibiotik 2x1, namun lupa nama obatnya.
Pasien dianjurkan insisi hordeolum eksternum, namun pasien belum
kembali kontrol.

Bagaimana prognosis pasien ini?


Prognosis pada penderita ini adalah baik, karena pada kasus ini
hordeolum masih berukuran 2x1 cm sehingga proses peradangan
pada hordeolum masih bisa mengalami penyembuhan dengan
sendirinya. Secara fungsional, penderita masih dapat melakukan
pekerjaannya atau aktifitasnya sehari-hari dengan baik dan masih
dapat memiliki hubungan social yang baik dengan orang lain
disekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Raftery AT, Lim, Eric. 2010Churchills Pocketbook of Differential Diagnosis.

2.

Sidarta I. 2004. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI, Jakarta. Hal 92-94

3.

Sidarta I, dkk. 2003. Sari Ilmu Penyakit Mata, Cetakan III, Balai Penerbit FK UI, Jakarta. Hal 15-16

4.

Vaughen DG. 2000. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika, Jakarta. Hal 17-20

5.

Yanoff M, Ducker J. 2010. Textbook Of Ophtalmology.

6.

http://www.aafp.org.afp/980600ap/articles.html

7.

http://www.emedicine.com/oph/LID.html

8.

http://www.emedicine.com/emerg/OPHTHALMOLOGY.html

9.

http://www.3-rx.com/stye/default.php

10.

http://www.emedicinehealth.com/script.main/art.asp?articlekey=58821&page=1

11.

http://www.prod.hopkins-abxguide.org/diagnosis/heent/hordeolum_stye_chalazion.html

12.

http://dermatlas.med.jhml.edu/derm