You are on page 1of 30

Arlita Mirza Dian P

1102013043
LI 1. Memahami dan menjelaskan saluran pernapasan atas
LO 1.1 Memahami dan menjelaskan makroskopis (Anatomi) saluran pernapasan atas.
Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O2) yang dibutuhkan tubuh
untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari
metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru.
Sistem Respirasi
1. Saluran Nafas Bagian Atas, pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh
dihangatkan, disarung dan dilembabkan.
2. Saluran Nafas Bagian Bawah, bagian ini menghantarkan udara yang
masuk dari saluran bagian atas ke alveoli.
3. Alveoli, terjadi pertukaran gas anatara O2 dan CO2
4. Sirkulasi Paru, pembuluh darah arteri menuju paru, sedangkan pembuluh
darah vena meninggalkan paru.
5. Paru, terdiri atas :
a. Saluran Nafas Bagian Bawah
b. Alveoli
c. Sirkulasi Paru
6. Rongga Pleura, terbentuk dari dua selaput serosa, yang meluputi dinding
dalam rongga dada yang disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru
atau pleura veseralis
7. Rongga dan Dinding Dada, merupakan pompa muskuloskeletal yang
mengatur pertukaran gas dalam proses respirasi
Saluran Nafas Bagian Atas

a. Rongga hidung
Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami tiga hal :
Dihangatkan
Disaring

Dilembabkan
Ketiga hal di atas merupakan fungsi utama dari selaput lendir respirasi,
yang terdiri atas Psedostrafied Ciliated Columnar Epitelium yang
berfungsi menggerakkan partikel-partikel halus ke arah faring sedangkan
partikel yang besar akan disaring oleh bulu hidung, sel golbet dan kelenjar
serous yang berfungsi melembabkan udara yang masuk, pembuluh darah
yang berfungsi menghangatkan udara. Ketiga hal tersebut dibantu dengan
concha.
b. Nasofaring (terdapat Pharyngeal Tonsil dan Tuba Eustachius)
c. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, terdapat
pangkal lidah)
d. Laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)
(Daniel S.W, 2008; Raden Inmar, 2009)
Hidung
Organ pertama yang berfungsi dalam saluran napas. Terdapat vestibulum nasi
yang terdapat cilia kasar yang berfungsi sebagai saringan udara. Bagian dalam
rongga hidungada terbentuk terowongan yang disebut cavum nasi mulai dari
nares anterior sampai ke nares posterior lalu ke nasofaring.
Sekat antara kedua rongga hidung dibatasi dinding yang berasal dari tulang
dan mucusa yaitu septum nasi yang dibentuk oleh :
a. Cartilago septi naso
b. Os vomer
c. Lamina perpendicularis os ethmoidalis

Merupakan organ berongga yang terdiri atas tulang, tulang rawan hyalin otot bercorak
dan jaringan ikat
Fungsi :

Menyalurkan udara
Menyaring udara dari benda asing
Menghangatkan udara pernafasan
Melembabkan udara pernafasan
Alat pembau
Cavum nasi dipisahkan oleh septum nasi, yang
berhubungan dengan nasofaring melalui choana
(nares posterior)

Memiliki bagian terlebar yang disebut dengan vestibulum nasi


Fossa Nasalis

Dinding superior rongga hidung sempit, dibentuk lamina cribroformis


ethmoidalis yang memisahkan rongga tengkorak dengan rongga hidung.
Dinding inferior dibentuk os maxilla dan os palatinum.
Ada 2 cara pemeriksaan hidung yaitu rhinoscopy anterior dan posterior. Kalau
yang anterior, di cavum nasi di sisi lateral ada concha nasalis yang terbentuk
dari tulang tipis dan ditutupi mukusa yang mengeluarkan lendir dan di medial
terlihat dinding septum nasi. Kalau pada posterior, dapat terlihat nasofaring,

choanae, bagian ujung belakang conchae nasalis media dan inferior, juga
terlihat OPTA yang berhubungan dengan telinga.

Ada 3 buah concha nasalis, yaitu :


a. Concha nasalis superior
b. Concha nasalis inferior
c. Concha nasalis media
Di antara concha nasalis superior dan media terdapat meatus nasalis superior.
Antara concha media dan inferior terdapat meatus nasalis media. Antara
concha nasalis inferior dan dinding atas maxilla terdapat meatus nasalis
inferior.
Fungsi chonca :
Meningkatkan luas permukaan epitel respirasi
Turbulensi udara dimana udara lebih banyak kontak dengan
permukaan mukosa
Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi disebut sinus paranasalis :
a.
b.
c.
d.

Sinus sphenoidalis mengeluarkan sekresinya melalui meatus superior


Sinus frontalis ke meatus media
Sinus maxillaris ke meatus media
Sinus ethmoidalis ke meatus superior dan media.

Di sudut mata terdapat hubungan antara hidung dan mata melalui ductus
nasolacrimalis tempat keluarnya air mata ke hidung melalui meatus inferior.
Di nasofaring terdapat hubungan antara hidung dan rongga telinga melalui
OPTA (Osteum Pharyngeum Tuba Auditiva) eustachii. Alurnya bernama torus
tobarius.

Persarafan hidung
Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung :
1. Depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan sensoris dari cabang
nervus opthalmicus
2. Bagian lainnya termasuk mucusa hidung cavum nasi dipersarafi ganglion
sfenopalatinum. Nasofaring dan concha nasalis mendapat persarafan
sensorik dari cabang ganglion pterygopalatinum.
Nervus olfactorius memberikan sel-sel reseptor untuk penciuman. Proses
penciuman : pusat penciuman pada gyrus frontalis, menembus lamina cribrosa
ethmoidalis ke traktus olfactorius, bulbus olfactorius, serabut n. olfactorius
pda mucusa atas depan cavum nasi.
Vaskularisasi hidung
Berasal dari cabang a. Opthalmica dan a. Maxillaris interna
1. Arteri ethmoidalis dengan cabang-cabang : arteri nasalis externa dan
lateralis, arteri septalis anterior
2. Arteri ethmoidalis posterior dengan cabang-cabang : arteri nasalis
posterior, lateralis dan septal, arteri palatinus majus
3. Arteri sphenopalatinum cabang arteri maxillaris interna. Ketiga pembuluh
tersebut membentuk anyaman kapiler pembuluh darah yang dinamakan
Plexus Kisselbach. Plexus ini mudah pecah oleh trauma/infeksi sehingga
sering menjadi sumber epistaxis pada anak.
NASOFARING

LARING
Daerah yang dimulai dari aditus laryngis sampai batas bawah cartilago cricoid.
Rangka laring terbentuk dari tulang rawan dan tulang.
1. Berbentuk tulang adalah os hyoid
2. Berbentuk tulang rawan adalah : tyroid 1 buah, arytenoid 2 buah, epiglotis
1 buah. Pada arytenoid bagian ujung ada tulang rawan kecil cartilago
cornuculata dan cuneiforme.
Laring adalah bagian terbawah dari saluran napas atas.
Os hyoid
Mempunyai 2 buah cornu, cornu majus dan minus. Berfungsi untuk perlekatan
otot mulut dan cartilago thyroid
Cartilago thyroid
Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolan yang disebut prominess
laryngis atau lebih disebut jakun pada laki-laki. Jaringan ikatnya adalah
membrana thyrohyoid. Mempunyai cornu superior dan inferior. Pendarahan
dari a. Thyroidea superior dan inferior.
Cartilago arytenoid
Mempunyai bentuk seperti burung penguin. Ada cartilago corniculata dan
cuneiforme. Kedua arytenoid dihubungkan m.arytenoideus transversus.
Epiglotis
Tulang rawan berbentuk sendok. Melekat di antara cartilago arytenoid.
Berfungsi untuk membuka dan menutup aditus laryngis. Saat menelan
epiglotis menutup aditus laryngis supaya makanan tidak masuk ke laring.
Cartilago cricoid

Batas bawah adalah cincin pertama trakea. Berhubungan dengan thyroid


dengan ligamentum cricothyroid dan m.cricothyroid medial lateral.
Otot-otot laring :
a. Otot extrinsik laring
1. M.cricothyroid
2. M. thyroepigloticus
b. Otot intrinsik laring
1. M.cricoarytenoid posterior yang membuka plica vocalis. Jika terdapat
gangguan pada otot ini maka bisa menyebabkan orang tercekik dan
meninggal karena rima glottidis tertutup. Otot ini disebut juga safety
muscle of larynx.
2. M. cricoarytenoid lateralis yang menutup plica vocalis dan menutup
rima glottdis
3. M. arytenoid transversus dan obliq
4. M.vocalis
5. M. aryepiglotica
6. M. thyroarytenoid

Dalam cavum laryngis terdapat :


Plica vocalis, yaitu pita suara asli sedangkan plica vestibularis adalah pita
suara palsu. Antara plica vocalis kiri dan kanan terdapat rima glottidis
sedangkan antara plica vestibularis terdapat rima vestibuli. Persyarafan daerah
laring adalah serabut nervus vagus dengan cabang ke laring sebagai n.laryngis
superior dan n. recurrent.

LO 1.2 Memahami dan menjelaskan mikroskopis (histology) saluran pernapasan atas.


Rongga hidung

Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum di
sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di
dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis.
Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh septum nasi pada garis
medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing dinding
lateralnya. Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan
konka superior ditutupi oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk fungsi
menghidu/membaui. Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel
sustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di
permukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan
memiliki akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak), sel basal
(berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar
Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius
sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa,
konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara
yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum
masuk lebih jauh.

Silia berfungsi untuk mendorong lendir ke arah nasofaring untuk tertelan atau
dikeluarkan (batuk) .Sel goblet dan kelenjar campur di lamina propria
mnghasilkan sekret, untuk menjaga kelembaban hidung dan menangkap
partikel debu halus . Di bawah epitel chonca inferior terdapat swell bodies,
merupakan fleksus vonosus untuk menghangatkan udara inspirasi

epitel

olfaktori, khas pada konka superior


Sinus paranasalis
Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan sinus sphenoid,
semuanya berhubungan langsung dengan rongga hidung. Sinus-sinus tersebut dilapisi
oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit
serta lamina propria yang mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang
menyatu dengan periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.
Faring
Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak dengan palatum
mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa/gepeng.
Terdiri dari :
Nasofaring (epitel bertingkat torak bersilia,
dengan sel goblet)
Orofaring (epitel berlapis gepeng dengan
lapisan tanduk)
Laringofaring (epitel bervariasi)

Laring
Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina
propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai
katup yang mencegah masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada

fungsi fonasi. Epiglotis merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan
memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi
oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel
respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar
campuran mukosa dan serosa.
Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen
laring: pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang
terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita
suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat
elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu
terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.

Tulang rawan yang lebih besar (tulang rawan hyalin):


Thyroid
Cricoid
Arytenoid
Tulang rawan yang kecil (tulang rawan elastis):
Epiglottis
Cuneiform
Corniculata
Ujung arytenoid

epitel epiglotis, pada pars lingual berupa epitel gepeng berlapis dan para pars laringeal
berupa epitel respiratori

Epiglottis
Memiliki permukaan lingual dan laringeal
Seluruh permukaan laringeal ditutupi oleh epitel berlapis gepeng, mendekati
basis epiglottis pada sisi laringeal, epitel ini mengalami peralihan menjadi
epitel bertingkat silindris bersilia

Trakea
Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Terdapat kelenjar serosa pada
lamina propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana
ujung bebasnya berada di bagian posterior trakea. Cairan mukosa yang dihasilkan
oleh sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan
silia untuk mendorong partikel asing. Sedangkan tulang rawan hialin berfungsi untuk

menjaga lumen trakea tetap terbuka. Pada ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan
hialin yang berbentuk tapal kuda tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan
berkas otot polos yang memungkinkan pengaturan lumen dan mencegah distensi
berlebihan.

epitel trakea dipotong memanjang


epitel trakea, khas berupa adanya tulang rawan hialin yang berbentuk tapal kuda ("cshaped")

LI 2. Memahami dan menjelaskan fisiologi pernapasan


LO 2.1 Memahami dan menjelaskan fungsi pernapasan.
Proses pernapasan dibagi menjadi 2,yaitu:
1. Pernapasan luar (eksternal)
Dimana terjadi penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara
keseluruhan.

2. Pernapasan dalam (internal)


Akan terjadi penggunaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel-sel serta
pertukaran gas antara sel-sel tubuh dengan media cair sekitarnya.
fungsi pernapasan

Mengeluarkan air dan panas dari tubuh


Proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dalam paru
Meningkatkan aliran balik vena
Mengeluarkan dan memodifikasikan prostaglandin

LO 2.2 Memahami dan menjelaskan Mekanisme pernafasan.


A. Mekanisme pernapasan berdasarkan antomi
Pada waktu inspirasi udara masuk melalui kedua nares anterior
vestibulum nasi cavum nasi lalu udara akan keluar dari cavum nasi
menuju nares posterior (choanae) masuk ke nasopharynx,masuk ke
oropharynx (epiglottis membuka aditus laryngis) daerah larynx
trakea.masuk ke bronchus primer bronchus sekunder bronchiolus
segmentalis (tersier) bronchiolus terminalis melalui bronchiolus
respiratorius masuk ke organ paru ductus alveolaris alveoli.pada
saat di alveoli terjadi pertukaran CO2 (yang dibawa A.pulmonalis)lalu
keluar paru dan O2 masuk kedalam vena pulmonalis.lalu masuk ke atrium
sinistra ventrikel sinistra dipompakan melalui aorta ascendens
masuk sirkulasi sistemik oksigen (O2) di distribusikan keseluruh sel
dan jaringan seluruh tubuh melalui respirasi internal,selanjutnya CO2
kembali ke jantung kanan melalui kapiler / vena dipompakan ke paru
dan dengan ekspirasi CO2 keluar bebas.
B. Mekanisme pernapasan berdasarkan fisiologinya
Inspirasi merupakan proses aktif ,akan terjadi kontraksi otot otot
,inspirasi akan meningkatkan volume intratorakal,tekanan intrapleura di
bagian basis paru akan turun dari normal sekitar -2,5 mm Hg (relatif
terhadap tekanan atmosfer) pada awal inspirasi menjadi 6 mm
Hg.jaringan paru semangkin tegang ,tekanan di dalam saluran udara
menjadi sedikit lebih negatif dan udara mengalir kedalam paru.pada akhir
inspirasi daya rekoil paru mulai menarik dinding dada kembali ke
kedudukan ekspirasi ,sampai tercapai keseimbangan kembali antara daya
rekoil jaringan paru dan dinding dada.tekanan didalam saluran udara
menjadi sedikit positif dan udara mengalir meninggalkan paru,selama
pernapasan tenang,ekspirasi merupakan proses pasif yang tidak
memerlukan kontraksi otot untuk menurunkan volume inratorakal,namun
pada awal ekspirasi masih terdapat kontraksi ringan otot

inspirasi,kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya rekoil paru dan


memperlambat ekspirasi.

menjelaskan mekanisme / proses batuk dan bersin


Batuk diawali dengan inspirasi dalam dan diikuti oleh ekspirasi kuat
melawan glotis yang tertutup,hal ini meningkatkan tekanan intrapleura
mencapai 100 mm Hg / lebih,glotis terbuka secara tiba-tiba mengakibatkan
ledakan aliran udara ke luar dengan kecepatan mencapai 965 km(600
mil) / jam.bersin merupakan hal yang serupa dengan glotis yang terus
terbuka ,kedua reflex ini membantu pengeluaran iritan dan menjaga
saluran udara tetap bersin.

LI 3. Memahami dan menjelaskan rhinitis alergi.


LO 3.1 Memahami dan menjelaskan definisi rhinitis alergi.
Rhinitis merupakan reaksi yang terjadi mata, hidung, tenggorokan saat
allergen merangsang pelepasan histamin. Histamin menyebabkan inflamasi
dan pengeluaran cairan di saluran hidung, kelopak mata, dan sinus. Pada
rhinitis alergi, jika alergi pada pollen, maka sistem imun akan beranggapan
bahwa pollen adalah alergen. Sistem imun akna mengeluarkan IgE. Antibodi
pergi ke sel menghasilkan zat kimia yang menghasilkan reaksi alergi dengan
gejala.
Sedangkan pada thinitis non alergi, biasanya karena pollutan, irritan,
merokok dan efek samping pengobatan, temperatur. Salah satu contoh rhinitis
non alergi adalah rhinitis vasomotor dan rhinitis medikamentosa.

LO 3.2 Memahami dan menjelaskan etiologi rhinitis alergi.


Rhinitis alergi disebabkan alergen dari luar seperti pollen, tungau debu,
binayang pengerat, kecoa,
jamur(misalnya Alternaria, Cladosporium,
Aspergillus, Penicillium), binatang peliharaan , rumput, pohon(misalnya
chedar, elm, oak, olive, maple, dan birch). Jika orangtua memiliki alergi

serupa, maka berkemungkinan memiliki alergi juga secara genetik.

LO 3.3 Memahami dan menjelaskan klasifikasi rhinitis alergi.


Rhinitis alergi terbagi menjadi 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya:
1. Rhinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis). Hanya
terdapat di negara dengan 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik
yaitu pollen dan spora jamur.
2. Rhinitis alergi sepanjang tahun (perennial).

Penyebab yang paling sering adalah alergi inhalan. Alergen ini adalah
alergen dalam rumah dan alergen di luar rumah.
Saat ini digunakan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan rekomendasi
WHO Inisiative ARIA (Allergic Rhinitis and Its impact on Asthma) 2001
berdasarkan sifat berlangsungya :
1. Intermiten, bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4
minggu
2. Persisten/menetap, bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4
minggu.

Tingkat berat ringannya penyakit, rhinitis alergi terbagi menjadi :


a. Ringan, jika tidak ada gangguan tidur, bersantai, aktivitas harian,
belajar, bekerja
b. Sedang-berat jika ada satu atau lebih gangguan di atas

LO 3.4 Memahami dan menjelaskan epidemiologi rhinitis alergi.


Studi scandavian telah menunjukkan tingkat prevalensi 15% pada pria dan
wanita 14 %. Tiap negara akan berbeda karena lingkungan geografi yang
berbeda.
Rhinitis alergi tidak mengacam nyawa kecuali jika disertai asma yang parah
dan anafilaksis. Dari rhinitis alergi bisa juga terdapat komplikasi di antaranya
otitis media, disfungsi tuba eustachius, sinusitis akut dan sinusitis kronik.
Telah terbukti bahwa rhinitis alergi yang tidak terkontrol yang berhubungan
dnegan asma bisa memperparah inflamasi. Ini bisa menyebabkan morbiditas
bahkan kematian.
Ras
Rhinitis alergi bisa terjadi pada ras manapun
Jenis kelamin
Pada masa kanak-kanak, laki-laki lebih mudah terkena rhinitis alergi
dibandingkan anak perempuan. Tapi saat dewasa, prevalensinya hampir sama.
Usia
Rhinitis alergi bisa terjadi pada usia berapapun. 80% kasus, rhintis alergi
meningkat saat usia 20 tahun.
LO 3.5 Memahami dan menjelaskan patofisiologi rhinitis alergi.

kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit
yang berperan sebagai APC akan menangkap alergen yang menempel di
permukaan mukosa hidung. Setelah diproses antigen akan membentuk
fragmen pendek peptida dan bergabung dengan HLA II membentuk kompleks
peptoda MHC II yang dipresentasikan pada sel T helper (Th0). APC akan
melepas interleukin 1 yang mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi T
helper 1 dan T helper 2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL 3,
IL 4, IL 5, IL 13. IL 4 dan IL 13 diikat reseptornya di permukaan limfosit B
sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi Ig E. Ig E di
sirkulasi darah masuk ke jaringan dan diikat reseptor Ig E di permukaan sel
mastosit atau basofil sehingga kedua sel ini aktif.
Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama, kedua
rantai Ig E mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi mastosit dan
basofil dengan terlepasnya mediator kimia terutama histamin. Selain histamin
juga dikeluarkan prostaglandin, leukostrin D4, leukotrin C4, bradikinin, PAF
dan berbagai sitokin. Terjadilah reaksi alergi fase cepat.
Histamin merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin
menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan
permeabilitas kapiler meningkat sehingga rinore.

LO

3.6

Memahami dan menjelaskan manifestasi klinik rhinitis alergi.


Secara umumnya, gejala berupa bersin, hidung mampat, hidung meler, telinga,
hidung, mata, tenggorokan yang gatal, tidak bisa mencium, batuk, lelah,
pusing, lingkaran hitam di bawah mata, mata berair, sakit tenggorokan.
Gejala yang tampak pada rhinitis alergi musiman adalah mata merah, gatal,
lakrimasi.

Gejala yang tampak pada rhinitis alergi


perennial adalah urtikaria, gangguan pencernaan. Gangguan fisiologik pada
golongan perennial lebih ringan dibandingkan dengan yang musiman tapi
karena lebih persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan.

LO 3.7 Memahami dan menjelaskan diagnosis rhinitis alergi.


Ditegakkan berdasarkan :
a. Anamnesis
Gejala rhinitis alergi yang khas adalah bersin berulang. Bersin
merupakan mekanisme fisiologi yang berfungsi membersihkan sendiri.
Gejala lain adalah keluar ingus, hidung tersumbat, mata gatal, banyak
keluar air mata.
b. Pemeriksaan fisik
Pada rinoskopi anterior terdapat mukosa, edema, basah, berwarna
pucat atau livid dengan sekret encer banyak. Jika gejala persisten,
mukosa inferior tanpak hipertrofi. Gejala lain pada anak yang spesifik
yaitu ada bayangan gelap di bawah mata yang terjadi karena stasis
vena sekunder akibat obstruksi hidung. Disebut juga allergic shiner.
Karena gatal, dengan punggung tangan mengosok-gosok hidung.
Disebut juga allergic salute. Keadaan menggosok hidung akan
mengakibatkan garis melintang di dorsum nasi bagia sepertiga bawah
yang disbut allergic crease. Dinding posterior faring tanpak granuler
dan edema (cobblestone appearance). Dinding lateral faring menebal.
Lidah seperti gambaran peta.

allergic shiner
c. Pemeriksaan penunjang
1. In vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi bisa normal atau meningkat.
Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST
(Radio Immuno Sorbent Test). Pemeriksaan sitologi hidung

walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai


pemeriksaan pelengkap. Jika basofil >5 sel/lap mungkin karena
alergi makanan. Jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya
infeksi bakteri.
2. In vivo
Alergen penyebab bisa dicari dengan pemeriksaan tes cukit kulit,
uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End
point Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan
menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi. Keuntungan
SET adalah selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis
inisial untuk desensitisasi dapat diketahui. Pada alergi makanan, uji
kulit yang akhir ini banyak digunakan adalah intracutaneus
provocative dilutional food test (IPDFT), tapi sebagai baku emas
bisa dilakukan diet eleminasi dan Challenge test.
Alergen ingestan akan lenyap dalam 5 hari secara tuntas. Pada
challenge test, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien
setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya.
Pada diet eliminasi, jenis menu makanan dihilangkan, gejala juga
menghilang.
Diagnosis banding
Rinitis nonalergi
rinitis infeksi
common cold.
LO 3.8 Memahami dan menjelaskan tatalaksana rhinitis alergi.
1. Pengobatan yang paling baik adalah menghindari alergen.
2. Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H1 yang bekerja inhibitor
kompetitif pada reseptor H1 sel target. Merupakan lini pertama yang
sering dipakai pada rhinitos alergi. Antihistamin terbagi menjadi 2 :
generasi 1 dan generasi 2. Generasi 1 bersifat lipofilik sehingga bisa
menembus sawar darah ota dan plasenta. Contohnya adalah difenhidramin,
klorfeniramin, prometasin, siproheptadin, yang bisa diberikan secara
topikal adalah azelastin.
Antihistamin generasi 2 bersifat lipofobik sulit memembus sawar darah otak.
Tidak punya efek kolinergik seperti pada generasi 1, non sedati dan
antiadrenergik. Antihistamin secara oral diabsorpsi cepat untuk mengatasi
gejala pada respon fase cepat seperti rinore, bersin, gatal tapi tidak efektif
untuk mengatasi obstruksi hidung pada fase lambat. Antihistamin non sedatif
terbagi menjadi 2 menurut keamanannya. Kelompok pertama adalah astemisol
dan terfenadin. Dapat menyebabkan aritmia ventrikel, henti jantung dan
kematian mendadak. Kelompok kedua adalah loratadin, setirisin, fexofenadin,
desloratadin, levosetirisin

Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai sebagai


dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi antihistamin atau
topikal. Pemakaian secara topikal hanya boleh beberapa hari karena bisa
menyebabkan rhinistis medikamentosa.
Kortikosteroid (nasal corticosteroid spray) paling efektif untuk rhinitis alergi.
3. Tidakan operatif. Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian
konka inferior), konkoplasti, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan jika
konka inferior hipertrofi berat dan tidak bisa dikecilkan dengan kauterisasi
memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
4. Imunoterapi
Tujuan : penurunan Ig E dan pembentukan IgG blockin antibody. Yang
umum digunakan adalah intradermal dan sublingual.
Operatif
Konkotomi parsial ( pemotongan sebagian konka inferior), konkoplasti atau
multiple outfractured, inferior turbinoplasty bila konka inferior hipertrofi
berat dan tidak berhasil dikecilkan dgn kauterisasi menggunakan AgNO3 25%
atau triklor asetat.
Imunoterapi
Dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala berat dan sudah berlangsung
lama serta dengan pengobatan lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Bertujuan untuk membentuk IgG Blocking antibody dan penurunan IgE.
antihistamin.
Suatu zat atau obat untuk menekan reaksi histamin sebagai faktor alergen bagi
tubuh.
-

Mekanisme
Menahan aktifitas sel mast untuk tidak mengalami degranulasi
Terdapat 2 blocker : AH1 dan AH2

Antihistamin 1
o Farmakodinamik :
Antagonis kompetitif pada pembuluh darah, bronkus dan bermacammacam otot polos. Selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi
hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pengelepasan histamin
endogen berlebihan.
o Farmakokinetik :

Setelah pemberian oral atau parenteral, AH1 diabsorpsi secara baik. Kadar
tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot,
dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat utama biotransformasi AH1
adalah hati.
o Penggolongan AH1
AH generasi 1
Contoh : etanolamin
Etilenedamin
Piperazin
Alkilamin
Derivat fenotiazin
Keterangan : AH1 = - sedasi ringan-berat
- antimietik dan komposisi obat flu
- antimotion sickness
Indikasi AH1 berguna untuk penyakit :
1. Alergi
2. Mabuk perjalanan
3. Anastesi lokal
4. Untuk asma berbagai profilaksis
- Efek samping
Vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, insomnia, tremor, mulut
kering, disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat, lemah pada
tangan.

Antihistamin golongan 1 lini pertama


-

Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan


dekongestan secara peroral.
Bersifat lipofilik, dapat menembus sawar darah otak, mempunyai efek
pada SSP dan plasenta.
Kolinergik
Sedatif :
Oral : difenhidramin, klorfeniramin, prometasin, siproheptadin
Topikal : Azelastin

Antagonis Reseptor H2 (AH2)


Contoh : simetidin dan ranitidin
-

Farmakodinamik

Menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel. Perangsangan


reseptor H2 akan merangsang sekresi asam lambung, sehingga pada
pemberian simetidin atau ranitidin sekresi asam lambung dihambat.
-

Farmakokinetik
1. Bioavibilitas oral simetidin sekitar 70%, sama dengan setelah
pemberian intravena atau intramuskular. Ikatan absorpsi simetidin
diperlambat oleh makanan, sehingga simetidin diberikan segera setelah
makan.
2. Bioavibilitas ranitidin yang diberikan secara oral sekitar 50% dan
meningkat pada pasien penyakit hati.
- Indikasi : efektif untuk mengatasi gejala tukak duodenum.
- Efek samping : pusing, mual, malaise, libido turun, disfungsi
seksual.

LO 4.2 Memahami dan menjelaskan dekongestan.


Dekongestan nasal adalah alfa agonis yang banyak digunakan pada pasien
rinitis alergika atau rinitis vasomotor dan pada pasien ISPA dengan rinitis akut.
Obat ini menyebabkan venokonstriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor
alfa 1 sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi
penyumbatan hidung.
Obat golongan ini disebut obat adrenergik atau obat simptomimetik, karena
obat ini merangsang saraf simpatis. Kerja obat ini digolongkan 7 jenis :
1. Perangsangan organ perifer : otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa,
misal : vasokontriksi mukosa hidung sehingga menghilangkan
pembengkakan mukosa pada konka.
2. Penghambatan organ perifer : otot polos usus dan bronkus, misal :
bronkodilatasi.
3. Perangsangan jantung : peningkatan denyut jantung dan kekuatan
kontraksi.
4. Perangsangan Sistem Saraf Pusat : perangsangan pernapasan dan aktivitas
psikomotor.
5. Efek metabolik : peningkatan glikogenolisis dan lipolisis.
6. Efe endokrin : modulasi sekresi insulin, renin, dan hormon hipofisis.
7. Efek prasipnatik : peningkatan pelepasan neurotransmiter.

Obat Dekongestan Oral


1. Efedrin
Adalah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan efedra. Efektif pada
pemberian oral, masa kerja panjang, efek sentralnya kuat. Bekerja pada
reseptor alfa, beta 1 dan beta 2.

Efek kardiovaskular : tekanan sistolik dan diastolik meningkat, tekanan


nadi membesar. Terjadi peningkatan tekanan darah karena vasokontriksi
dan stimulasi jantung. Terjadi bronkorelaksasi yang relatif lama.
Efek sentral : insomnia, sering terjadi pada pengobatan kronik yanf dapat
diatasi dengan pemberian sedatif.
Dosis.

Dewasa
: 60 mg/4-6 jam
Anak-anak 6-12 tahun
: 30 mg/4-6 jam
Anak-anak 2-5 tahun
: 15 mg/4-6 jam
2. Fenilpropanolamin
Dekongestan nasal yang efektif pada pemberian oral. Selain menimbulkan
konstriksi pembuluh darah mukosa hidung, juga menimbulkan konstriksi
pembuluh darah lain sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan
menimbulkan stimulasi jantung.
Efek farmakodinamiknya menyerupai efedrin tapi kurang menimbulkan
efek SSP.
Harus digunakan sangat hati-hati pada pasien hipertensi dan pada pria
dengan hipertrofi prostat.
Kombinasi obat ini dengan penghambat MAO adalah kontraindikasi. Obat
ini jika digunakan dalam dosis besar (>75 mg/hari) pada orang yang
obesitas akan meningkatkan kejadian stroke, sehingga hanya boleh
digunakan dalam dosis maksimal 75 mg/hari sebagai dekongestan.
Dosis.
Dewasa
: 25 mg/4 jam
Anak-anak 6-12 tahun
: 12,5 mg/4 jam
Anak-anak 2-5 tahun : 6,25 mg/4 jam
3. Fenilefrin
Adalah agonis selektif reseptor alfa 1 dan hanya sedikit mempengaruhi
reseptor beta. Hanya sedikit mempengaruhi jantung secara langsung dan
tidak merelaksasi bronkus. Menyebabkan konstriksi pembuluh darah kulit
dan daerah splanknikus sehingga menaikkantekanan darah.

Obat Dekongestan Topikal


Derivat imidazolin (nafazolin, tetrahidrozolin, oksimetazolin, dan
xilometazolin).
Dalam bentuk spray atau inhalan. Terutama untuk rinitis akut, karena tempat
kerjanya lebih selektif. Tapi jika digunakan secara berlebihan akan
menimbulkan penyumbatan berlebihan disebut rebound congestion. Bila
terlalu banyak terabsorpsi dapat menimbulkan depresi Sistem Saraf Pusat
dengan akibatkoma dan penurunan suhu tubuh yang hebat, terutama pada bayi.
Maka tidak boleh diberikan pada bayi dan anak kecil.

LO 4.3 Memahami dan menjelaskan kortikosteroid.


KORTIKOSTEROID INHALASI

Kortikosteroid terdapat dalam beberapa bentuk sediaan antara lain oral,


parenteral, dan inhalasi. Ditemukannya kortikosteroid yang larut lemak (lipidsoluble) seperti beclomethasone, budesonide, flunisolide, fluticasone, and
triamcinolone, memungkinkan untuk mengantarkan kortikosteroid ini ke
saluran pernafasan dengan absorbsi sistemik yang minim. Pemberian
kortikosteroid secara inhalasi memiliki keuntungan yaitu diberikan dalam dosis
kecil secara langsung ke saluran pernafasan (efek lokal), sehingga tidak
menimbulkan efek samping sistemik yang serius. Biasanya, jika penggunaan
secara inhalasi tidak mencukupi barulah kortikosteroid diberikan secara oral,
atau diberikan bersama dengan obat lain (kombinasi, misalnya dengan
bronkodilator). Kortikosteroid inhalasi tidak dapat menyembuhkan asma. Pada
kebanyakan pasien, asma akan kembali kambuh beberapa minggu setelah
berhenti menggunakan kortikosteroid inhalasi, walaupun pasien telah
menggunakan kortikosteroid inhalasi dengan dosis tinggi selama 2 tahun atau
lebih. Kortikosteroid inhalasi tunggal juga tidak efektif untuk pertolongan
pertama pada serangan akut yang parah.
Berikut ini contoh kortikosteroid inhalasi yang tersedia di Indonesia antara lain:
Nama generik

Nama dagang diBentuk SediaanDosis dan Aturan


Indonesia
pakai
Beclomethasone Becloment
Inhalasi aerosolInhalasi
aerosol:
dipropionate
(beclomethasone
200g , 2 kali
dipropionate 200g/
seharianak: 50-100
dosis)
g 2 kali sehari
Budesonide
Pulmicort
Inhalasi
Inhalasi
aerosol:
(budesonide
aerosolSerbuk 200 g, 2 kali
inhalasi
sehariSerbuk
100 g, 200 g, 400
inhalasi: 200-1600
g / dosis)
g / hari dalam
dosis terbagianak:
200-800 g/ hari
dalam dosis terbagi
Fluticasone
Flixotide (flutikasonInhalasi aerosolDewasa dan anak >
propionate50 g ,
16 tahun: 100-250
125 g /dosis)
g,
2
kali
sehariAnak
4-16
tahun; 50-100 g, 2
kali sehari

Dosis untuk masing-masing individu pasien dapat berbeda, sehingga harus


dikonsultasikan lebih lanjut dengan dokter, dan jangan menghentikan
penggunaan kortikosteroid secara langsung, harus secara bertahap dengan
pengurangan dosis.
MEKANISME AKSI
Kortikosteroid bekerja dengan memblok enzim fosfolipase-A2, sehingga
menghambat pembentukan mediator peradangan seperti prostaglandin dan
leukotrien. Selain itu berfungsi mengurangi sekresi mukus dan menghambat
proses peradangan. Kortikosteroid tidak dapat merelaksasi otot polos jalan
nafas secara langsung tetapi dengan jalan mengurangi reaktifitas otot polos
disekitar saluran nafas, meningkatkan sirkulasi jalan nafas, dan mengurangi
frekuensi keparahan asma jika digunakan secara teratur.
INDIKASI
Kortikosteroid inhalasi secara teratur digunakan untuk mengontrol dan
mencegah gejala asma.
KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi bagi pasien yang hipersensitifitas terhadap kortikosteroid.
EFEK SAMPING
Efek samping kortikosteroid berkisar dari rendah, parah, sampai mematikan.
Hal ini tergantung dari rute, dosis, dan frekuensi pemberiannya. Efek samping
pada pemberian kortikosteroid oral lebih besar daripada pemberian inhalasi.
Pada pemberian secara oral dapat menimbulkan katarak, osteoporosis,
menghambat pertumbuhan, berefek pada susunan saraf pusat dan gangguan
mental, serta meningkatkan resiko terkena infeksi. Kortikosteroid inhalasi
secara umum lebih aman, karena efek samping yang timbul seringkali bersifat
lokal seperti candidiasis (infeksi karena jamur candida) di sekitar mulut,
dysphonia (kesulitan berbicara), sakit tenggorokan, iritasi tenggorokan, dan
batuk. Efek samping ini dapat dihindari dengan berkumur setelah
menggunakan sediaan inhalasi. Efek samping sistemik dapat terjadi pada
penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi yaitu pertumbuhan yang
terhambat pada anak-anak, osteoporosis, dan karatak.
RESIKO KHUSUS
Pada anak-anak, penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi menunjukkan
pertumbuhan anak yang sedikit lambat, namun asma sendiri juga dapat

menunda pubertas, dan tidak ada bukti bahwa kortikosteriod inhalasi dapat
mempengaruhi tinggi badan orang dewasa.
Hindari penggunaan kortikosteroid pada ibu hamil, karena bersifat teratogenik.
CARA PENGGUNAAN INHALER

Sebelum menarik nafas, buanglah nafas seluruhnya, sebanyak mungkin

Ambillah inhaler, kemudian kocok

Peganglah inhaler, sedemikian hingga mulut inhaler terletak dibagian


bawah

Tempatkanlah inhaler dengan jarak kurang lebih dua jari di depan


mulut (jangan meletakkan mulut kita terlalu dekat dengan bagian
mulut inhaler)

Bukalah mulut dan tariklah nafas perlahan-lahan dan dalam,


bersamaan dengan menekan inhaler (waktu saat menarik nafas dan
menekan inhaler adalah waktu yang penting bagi obat untuk bekerja
secara efektif)

Segera setelah obat masuk, tahan nafas selama 10 detik (jika tidak
membawa jam, sebaiknya hitung dalam hati dari satu hingga sepuluh)

Setelah itu, jika masih dibutuhkan dapat mengulangi menghirup lagi


seperti cara diatas, sesuai aturan pakai yang diresepkan oleh dokter

Setelah selesai, bilas atau kumur dengan air putih untuk mencegah efek
samping yang mungkin terjadi.

LO 3.9 Memahami dan menjelaskan pencegahan rhinitis alergi.


Ada 3 tipe pencegahan yaitu primer, sekunder dan tersier.Pencegahan primer
ditujukan untuk mencegah terjadinya tahap sensitisasi. Halyang dapat
dilakukan adalah menghindari paparan terhadap alergen inhalanmaupun
ingestan selama hamil, menunda pemberian susu formula dan makanan padat
sehingga pemberian ASI lebih lama. Pencegahan sekunder adalah
mencegahgejala timbul dengan cara menghindari alergen dan terapi
medikamentosa.Sedangkan pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah
terjadinya komplikasiatau berlanjutnya penyakit.

LO 3.10 Memahami dan menjelaskan komplikasi rhinitis alergi


Komplikasi rinithis alergi yang sering adalah

Polip Hidung
Alergi hidung merupakan salah satu factor penyebab terbentuknya
polip hidung dan kekambuhan polip hidung.

Otitis Media
Efusi yang sering residif terutama pada anak.
Sinusitis Paranasal

LO 3.11 Memahami dan menjelaskan prognosis rhinitis alergi.

Terjadi pada kebanyakan diusia muda


50%-70% dapat menyebabkan iritasi
Pada umum nya baik apabila ditangani dengan cepat dan memburuk
jika dibiarkan berlanjut.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/70948213/Penggunaan-Nasal-Steroid-Dalam-PenatalaksanaanRinitis-Alergi

Bloom danFawchett. 1994. Buku Ajar Histologi,ed.12.Jakarta :EGC


LeesondanPaparo. 1996. BukuAjarHistologi, ed. 5.Jakarta : EGC
http://www.nasal.net/allergy/rhinitis.htm
Sheikh, Javed. http://emedicine.medscape.com/article/134825-overview#a0199
tanggal 15 febdruari 2015)
http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/at-a-glance/rhinitis.aspx
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000813.htm
Harrisons Principle of Internal Medicine, 16th edition. 2003

Sulistia Gan Gunawan al. 2009. Farmakologi Dan Terapi Edisi V. Jakarta : FKUI
Sherwood lauralee.2001. Fisiologi Manusia dari sel ke system.Jakarta.EGC

(diakses