Вы находитесь на странице: 1из 10

BACK MASAGE DAN KOMPRES PANAS TERHADAP PENURUNAN

INTENSITAS NYERI PADA LANSIA DENGAN OSTEOARTRITIS


IGA Ari Rasdini
I Wayan Githa
Eva Juli Widiantari
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar
Arirasdini59@gmail.com
Abstract: The Effectiveness of Back Massage and Hot Pack Techniques to Reduce
Intensity of Osteoarthritis Pain in Elderly . This research aim to identified the effectiveness
of back massage and hot pack technique to reduce intensity of osteoarthritis pain in elderly.
This research applied pra experiment one group pra-post tes design with approach cross
sectional. The sample consist of 40 respondents who is selected by purposive sampling. The
data was collected by using interview method numerical rating scale. Result of statistic test
independent t-test P=0,288 > 0,05. This is mean there are no different effectiveness back
massage and hot pack techniques to reduce intensity of osteoarthritis pain in elderly.

Abstrak: Efektifitas Back Masage Dan Kompres Panas Terhadap Penurunan Intensitas
Nyeri Pada Lansia Dengan Osteoartritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
efektifitas pemberian teknik back massage dan teknik kompres panas terhadap penurunan
intensitas nyeri pada lansia dengan osteoarthritis. Jenis penelitian yang digunakan adalah pra
experiment dengan rancangan one group pra-post tes design dengan pendekatan cross
sectional. Sampel sebanyak 40 orang dengan menggunakan metode purposive sampling.
Hasil uji statistik menggunakan independent t-test didapatkan nilai P adalah 0,228 maka nilai
tersebut > dari nilai (= 0,05). Ini berarti Ho diterima. Dengan demikian, tidak terdapat
perbedaan signifikan antara efektifitas teknik back massage dengan teknik kompres panas
terhadap penurunan intensitas nyeri pada lansia dengan osteoartritis.
Kata kunci : Back Massage, Kompres Panas, Intensitas Nyeri, Osteoartritis

Jumlah
cenderung

lansia

meningkat

di

Indonesia

Osteoartritis merupakan penyakit sendi

dengan

degeneratif yang paling sering ditemukan

seiring

bertambahnya usia harapan hidup. Pada

dan

lansia terjadi penurunan fungsi sistem

ketidakmampuan pada lansia (Smeltzer,

tubuh,

lansia

2002). Pada osteoarthritis, nyeri sendi

mudah mengalami gangguan kesehatan.

adalah gejala yang paling menonjol. dan

sehingga

menyebabkan

kerapkali

menimbulkan

merupakan alasan yang paling sering bagi

seseorang. Selain itu, teknik ini juga

seorang penderita

mudah dilakukan oleh penderita sehari-

memperoleh

osteoarthritis

pengobatan

untuk

medis/terapi

farmakologis

hari (Potter & Perry, 2006).


Penelitian ini bertujuan

untuk

Salah satu terapi nonfarmakologis

mengetahui efektifitas pemberian teknik

guna menurunkan intensitas nyeri yaitu

back massage dan teknik kompres panas

stimulasi masase kutaneus dan kompres

terhadap penurunan intensitas nyeri pada

panas,

lansia dengan osteoarthritis .

(Price

Penanganan

&

Wilson,

nyeri

farmakologis

2006).

secara

non

bertujuan

untuk

meminimalkan efek samping. Secara alami

METODE
Jenis penelitian ini

adalah pra

tubuh sudah memiliki suatu substansi

eksperimen

untuk mengatasi nyeri yaitu enkefalin.

diberikan

Salah satu terapi yang dapat menstimulasi

pertama diberi perlakuan teknik back

pengaktifan

massage

enkefalin

ini

adalah

pemberian masase (Smeltzer, 2002).


Back massage dan terapi panas

dimana kedua kelompok


perlakuan

yaitu

kelompok

dan kelompok kedua diberi

perlakuan

teknik

Dilakukan

pengukuran

panas.

sebelum

sesudah

digunakan dalam mengurangi intensitas

menguji efektifitasnya dilakukan dengan

nyeri pada osteoarthritis.

uji T.tes.

panas

(kompres

hangat)

Populasi

selanjutnya

dan

merupakan terapi nonfarmakologis yang

Terapi

perlakuan,

kompres

dalam

untuk

penelitian

ini

merupakan salah satu modalitas terapi fisik

adalah lansia yang mengalami nyeri

yang menggunakan sifat fisik panas secara

osteoarthritis di Banjar Kepisah Desa

konduksi

kulit

Sumerta Kelod. Sampel yang digunakan

sehingga dapat menurunkan persepsi nyeri

adalah lansia yang mengalami nyeri

untuk

menstimulasi

osteoartritis lutut dengan skala nyeri

HASIL DAN PEMBAHASAN

ringan sampai sedang di Banjar Kepisah

Karakteristik responden berdasarkan

Desa Sumerta Kelod yaitu pada bulan Mei

jenis kelamin :

2012, sebanyak 40 orang lansia.

Tabel 1. Karakteristik Responden


Berdasarkan Jenis Kelamin

Kriteria inklusi adalah : Lansia


berumur 60 tahun.,tinggal di Banjar
Kepisah Desa Sumerta Kelod., mengalami
nyeri persendian pada area lutut dan
dengan skala nyeri ringan-sedang, bisa
berkomunikasi, melihat dan mendengar,
menyatakan

bersedia

menjadi

sampel

Kriteria eksklusi adalah: Lansia


dengan nyeri lutut skala nyeri berat, lansia
yang mengalami luka pada punggung,
lansia yang menderita nyeri pinggang.
yang

mengalami

iritasi

pada

punggung seperti kulit kemerahan.


lansia

dengan

Frekuensi

Persentase

19
21
40

47,5%
52,5%
100%

Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa


dari

40

responden,

sebagian

besar

responden berjenis kelamin perempuan


yaitu berjumlah 21 orang (52,5%).

dalam penelitian.

lansia

Jenis
Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

keadaan

kontraindikasi

Karakteristik responden berdasarkan


umur:
Tabel 2 Karakteristik Responden
Berdasarkan Umur
Umur
60-69 tahun
70-79 tahun
80 tahun
Total

Frekuensi Persentase
21
52,5%
15
37,5%
4
10%
40
100%

Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa

pemberian teknik kompres panas.

karakteristik responden berdasarkan usia

Uji hipotesa digunakan uji non-parametrik

menunjukkan sebagian besar responden

yaitu T-test dengan tingkat kemaknaan

berusia 60-69 tahun sebanyak 21 orang

atau kesalahan 5% (0,05).

dengan persentase 52,5%.

Gambaran intensitas nyeri sebelum dan


sesudah diberikan teknik back massage
Tabel 3 Tendensi Sentral Intensitas Nyeri
Sebelum dan Sesudah Diberikan
Teknik Back

Mean
Median
Modus

IntensitaNyeri
Sebelum
Back
Massage
4,70
5
6

Intensitas
Nyeri Sesudah
BackMassage
3,45
3
3

Intensitas
Nyeri
Sebelum
Back
Massage
Freku Perse
ensi n tase
(n)
(%)
4
20

Intensit
as
Nyeri

Ringan
(1-3)
Sedang
(4-6)
Total

Intensitas
Nyeri Sesudah
Back
Massage
Freku
ensi
(n)
12

Perse
n tase
(%)
60

16

80

40

20

100

20

100

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa

rata-rata intensitas nyeri sebelum diberikan

sebelum pemberian teknik back massage

teknik back massage adalah 4,70 dan

sebanyak 4 lansia mengalami nyeri ringan

setelah diberikan teknik back massage

dengan

dengan rerata skor nyeri 3,45. Intensitas

sebagian besar lansia yaitu 16 orang yang

nyeri yang paling banyak dialami sebelum

mengalami

diberikan teknik back massage adalah

persentasenya

pada skala 6 (nyeri sedang). Setelah

pemberian teknik back massage sebanyak

diberikan teknik back massage adalah

12 lansia mengalami nyeri ringan dengan

skala 3 (nyeri ringan). Dapat disimpulkan

persentase 60 %, sedangkan 8 lansia yang

bahwa

mengalami

intensitas

terjadi
nyeri

penurunan
pada

lansia

rata-rata
dengan

osteoarthritis setelah diberikan teknik back


massage.

Tabel 4

persentase

nyeri

20%,

sedang,

dimana

80%.

Setelah

adalah

nyeri

sedangkan

sedang,

dimana

persentasenya adalah 40 %
Gambaran intensitas nyeri sebelum dan
sesudah diberikan teknik kompres panas

Distribusi Frekuensi Intensitas


Nyeri Sebelum dan Setelah
Diberikan
Teknik
Back
Massage

Tabel 5 Tendensi Sentral Intensitas


Nyeri Sebelum dan Sesudah
Diberikan Teknik Kompres
Panas
Intensitas

Intensitas

Nyeri
Sebelum
Kompres
Panas
4,60
4
4

Mean
Median
Modus

Nyeri Sesudah
Kompres Panas
as Nyeri
3,05
3
3

Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa


rata-rata intensitas nyeri sebelum diberikan

Ringan
(1-3)
Sedang
(4-6)
Total

Nyeri
Sebelum
Kompres
Panas
Freku Perse
ensi n tase
(n)
(%)
3
15

Sesudah
Kompres Panas
Freku
ensi
(n)
14

Per
sentase
(%)
70

17

85

30

20

100

20

100

teknik kompres panas adalah 4,60 dan


Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa
setelah diberikan teknik kompres panas
sebelum pemberian teknik kompres panas
dengan rerata skor nyeri 3,05. Intensitas
sebanyak 3 lansia mengalami nyeri ringan
nyeri yang paling banyak dialami sebelum
dengan

persentase

15%,

sedangkan

diberikan teknik kompres panas adalah


sebagian besar lansia yaitu 17 orang yang
pada skala 4 (nyeri sedang). Setelah
mengalami

nyeri

sedang,

dimana

85%.

Setelah

diberikan teknik kompres panas adalah


persentasenya

adalah

skala 3 (nyeri ringan). Dapat disimpulkan


pemberian teknik kompres panas sebanyak
bahwa

terjadi

penurunan

rata-rata
14 lansia mengalami nyeri ringan dengan

intensitas

nyeri

pada

lansia

dengan

diberikan

teknik

persentase 70%, sedangkan 6 lansia yang


osteoarthritis

setelah

mengalami

nyeri

sedang,

dimana

kompres panas.
persentasenya adalah 30%.
Tabel 6 Distribusi FrekuensiIntensitas
Nyeri Sebelum dan Setelah
Diberikan Teknik Kompres
Panas

Intensit

Intensitas

Intensitas Nyeri

Tabel 7. Efektivitas Teknik Back


Massage Dan Teknik Kompres
Panas Terhadap Penurunan
Intensitas Nyeri

Levene's

t-test for Equality

Test
for of Means
Equality of
Variances
F
Sig.
T
df
Selisih 2.246 142
intense
tas
nyeri

P
value
228

1.227 38

Sesuai dengan tabel 7, hasil analisis data


dengan menggunakan uji independent
t-test didapatkan hasil analisis efektifitas
teknik back massage dan teknik kompres
panas terhadap penurunan intensitas nyeri :
nilai p=0,228 maka nilai tersebut > dari
nilai (= 0,05). Ini berarti Ho diterima.
Dengan

demikian,

tidak

terdapat

perbedaan efektifitas teknik back massage


dan

teknik

kompres

panas

terhadap

penurunan intensitas nyeri.


Berikut
intensitas

ini

disajikan

Gambar 1 Rata-rata Intensitas Nyeri


Sebelum dan Setelah
Diberikan Teknik Back
Massage dan Teknik
Kompres Panas
Berdasarkan gambar 1 dapat dilihat
bahwa rata-rata intensitas nyeri sebelum
diberikan teknik back massage sebesar
4,70 dan setelah diberikan teknik back
massage rata-rata intensitas nyeri yaitu
3,45. Rata-rata intensitas nyeri sebelum
diberikan teknik kompres panas adalah

diagram

nyeri sebelum dan setelah

diberikan intervensi yaitu teknik back


massage dan teknik kompres panas.

4,60 dan setelah diberikan teknik kompres


panas, rata-rata intensitas nyeri menjadi
3,05. Dari data di atas dapat disimpulkan
bahwa teknik back massage dan teknik

kompres

panas

sama-sama

efektif

suku bangsa dan genetik, kegemukan dan

menurunkan intensitas nyeri pada lansia

penyakit

dengan osteoarthritis.

pekerjaan dan olah raga. Dijelaskan lebih

Berdasarkan hasil analisis menggunakan

lanjut

paired t-test diperoleh nilai p =0,000

perempuan risiko osteoartritis berkaitan

(p<0,05),

dapat dikatakan bahwa Ho

dengan hormon estrogen yang mengatur

terdapat perbedaan yang

adanya keseimbangan pembentukan tulang

ditolak atau

signifikan intensitas

metabolik,

oleh

cidera

Smeltzer

(2002)

sendi,

pada

nyeri sebelum dan

dan penyerapan kalsium dari tulang oleh

sesudah diberi teknik back massage.

osteoklas. Penurunan kadar estrogen saat

Analisis

lansia menyebabkan aktivitas osteoklas

perbedaan

intensitas

nyeri

sebelum dan sesudah diberikan kompres

meningkat

panas : nilai p=0,000, maka nilai tersebut

ketidakseimbangan antara pembentukan

< dari nilai (= 0,05). Ini berarti Ho

dan penyerapan tulang. Hal ini berimbas

ditolak.

pada

Dengan

demikian,

terdapat

sehingga

pembentukan

terjadi

kartilago

sendi

perbedaan yang signifikan intensitas nyeri

sehingga terjadi kerapuhan dan penipisan

sebelum

pada kartilago sendi. Selain itu, adanya

dan

sesudah

diberi

teknik

kompres panas.

faktor kebudayaan yang mempengaruhi

Berdasarkan hasil penelitian yang

respon seseorang terhadap nyeri, dimana

telah dilakukan terhadap 40 responden

perempuan

didapatkan

52,5%

mengungkapkan rasa nyeri yang dirasakan,

responden adalah perempuan dan 52,5%

dibandingkan laki-laki yang dituntut harus

responden berumur 60-69 tahun. Menurut

berani dan tidak boleh menangis terhadap

Sudoyo (2009) terdapat beberapa faktor

nyeri yang dirasakan ( Potter & Perry,

risiko

2006).

bahwa

yang

sebanyak

berhubungan

dengan

osteoarthritis seperti usia, jenis kelamin,

lebih

cenderung

Menurut Kozier & Erb (2009) respon


nyeri

setiap

berbeda

mengalami

nyeri

ringan.

dan

Berdasarkan hasil analisis intensitas nyeri

dipengaruhi oleh faktor usia dan tahap

sebelum dan sesudah diberikan tindakan

perkembangan salah satunya. Faktor usia

back massage dengan menggunakan uji t

dan

sangat

sampel berpasangan (paired t-tes) dengan

mempengaruhi respon terhadap nyeri.

derajat kesalahan mencapai 5% didapatkan

Pada lansia, nyeri dianggap suatu bagian

hasil bahwa nilai p=0,000, maka nilai

dari proses penuaan dan mengakui rasa

tersebut < dari nilai (= 0,05). Dengan

nyeri adalah hal yang sulit diterima

demikian,

sehingga terkadang diabaikan dan kurang

signifikan intensitas

mendapat penanganan. Sejalan dengan

sesudah diberi teknik back massage pada

penjelasan Smeltzer (2002) bahwa pada

lansia dengan osteoarthritis di Banjar

lansia terjadi beberapa penurunan persepsi

Kepisah Desa Sumerta Kelod.

tahap

individu

lansia

perkembangan

terhadap nyeri yang dirasakan.

terdapat

perbedaan

yang

nyeri sebelum dan

Perbedaan Nyeri Sebelum dan

Perbedaan Nyeri Sebelum dan

Sesudah Diberikan Kompres Panas pada

Sesudah Diberikan Teknik Back Massage

Lansia. Sesuai hasil analisis data yang

pada Lansia dengan Osteoarthritis, seperti

telah dipaparkan dapat dilihat bahwa

analisis data yang telah dipaparkan dapat

sebelum pemberian teknik kompres panas

dilihat bahwa sebelum pemberian teknik

intensitas nyeri pada lansia meliputi 85%

back massage intensitas nyeri pada lansia

dengan intensitas nyeri sedang dan 15 %

meliputi 80% dengan intensitas nyeri

dengan intensitas nyeri ringan. Setelah

sedang dan 20 % dengan intensitas nyeri

diberikan

ringan. Setelah diberikan perlakuan berupa

kompres panas didapatkan 30% lansia

tindakan back massage didapatkan 40%

mengalami nyeri sedang dan 70% lansia

lansia mengalami nyeri sedang dan 60%

mengalami nyeri ringan.

perlakuan

berupa

tindakan

Berdasarkan

hasil analisis intensitas nyeri sebelum dan

Teknik back massage dan teknik kompres

sesudah diberikan tindakan kompres panas

panas

dengan

sampel

peredaan nyeri nonfarmakologis yaitu

berpasangan (paired t-test) dengan derajat

dengan stimulasi kutaneus. Menurut teori

kesalahan mencapai 5% didapatkan hasil

nyeri Gate Kontrol mekanisme gerbang

bahwa nilai P=0,000, maka nilai tersebut <

spinal dipengaruhi oleh jumlah relatif

dari nilai (= 0,05). Dengan demikian,

aktivitas

terdapat

berdiameter

menggunakan

intensitas

perbedaan

uji

yang

signifikan

nyeri sebelum dan sesudah

merupakan

di

sama-sama

serat
besar,

afferent
maka

teknik

primer

pemberian

rangsangan pada serat berdiameter besar

diberi teknik kompres panas pada lansia

dengan

dengan osteoarthritis .

menghambat transmisi nyeri atau menutup

Efektifitas Teknik Back Massage


dan Teknik Kompres Panas terhadap

stimulasi

kutaneus

dapat

gerbang, sehingga nyeri dapat dikurangi.


SIMPULAN

Intensitas Nyeri pada Lansia dengan

Tidak terdapat perbedaan efektivitas

Osteoarthritis seperti hasil analisis data

teknik back massage dan teknik kompres

yang telah dipaparkan dapat dilihat bahwa

panas

efektifitas teknik back massage dengan

nyeri ,namun back massage dan kompres

teknik kompres panas terhadap intensitas

panas sama-sama

nyeri didapatkan hasil : nilai P adalah

intensitas nyeri.

0,288 maka nilai tersebut > dari nilai (=


0,05). Dengan demikian, tidak terdapat
perbedaan efektifitas teknik back massage
dengan teknik kompres panas terhadap
intensitas

nyeri

osteoarthritis .

pada

lansia

dengan

terhadap

penurunan

intensitas

efektif menurunkan

DAFTAR RUJUKAN
Badan Pusat Statistik ProvinsiBali.2010.
Bali dalam Angka 2010. Denpasar:
BPS Provinsi Bali.
Ganong, W.F. 2008. Buku AjarFisiologi
Kedokteran, Edisi 22. Jakarta :
EGC.
Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Terjemahan oleh

Setiawan dkk.. Edisi 11. Jakarta :


EGC.
Kozier & Erb. 2009. Buku Ajar Praktik
Keperawatan Klinis. Edisi 5.
Jakarta : EGC.
Kumar & Cotran (Eds.). 2007. Buku Ajar
Patologi Robbins. Edisi 7. Jakarta:
EGC.
Kusyati, E. 2006. Keterampilan dan
Prosedur Laboratorium. Jakarta :
EGC.
McCaffery. 2008, Cutaneous Stimulation,
(online), (www.wikipedia.org ,
diakses 15 Januari 2012)
McChance, K.L. 2007. Pathophysiologi.
Third Edition. United States of
America : Mosby.
Nugroho. 2008. Keperawatan Gerontik
dan Geriatrik. Jakarta: EGC.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan
Metodelogi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Edisi kedua, Jakarta:
Salemba Medika.
Pearce, E.C. 2002. Anatomi dan Fisiologi
untuk Paramedis. Jakarta : PT.
Gramedia.
Potter dan Perry. 2006. Buku Ajar
Fundamental
Keperawatan
Konsep, Proses dan Praktik. Edisi
4. Volume 2. Jakarta : EGC.
Price, & Wilson ( 2006). Patofisiologi:
Konsep Klinis Proses Proses
Penyakit. Jilid I dan II. Edisi 6.
Jakarta: EGC.
Purnajaya. 2011. Pengaruh kompres panas
terhadap intensitas nyeri lutut
osteoarthritis pada lansia di Panti
Sosial Tresna Wredha Wana Sraya
Denpasar. Skripsi tidak diterbitkan.
Denpasar: Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana

Smeltzer, S.C & Bare, B. G. 2002. Buku


Ajar Keperawatan Medical-Bedah.
Volume 3. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Stanley & Beare, 2007. Buku Ajar
Keperawatan
Gerontik.
Edisi
kedua, Jakarta: EGC.
Sudibyo. 2002. Perbandingan efek terapi
panas dengan terapi dingin
terhadap pengurangan nyeri pada
penderita osteoarthritis lutut di
Instalasi
Rehabilitasi
Medik
RSUPNDR Kariadi Semarang.
Thesis tidak diterbitkan. Semarang:
Program Studi Rehabilitasi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro.
Sudoyo, . 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid
III. Jakarta :EGC.
Tamsuri, A. 2007. Konsep dan
Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta
: EGC.