Вы находитесь на странице: 1из 16

BIOLOGI

OSTEOPOROSIS
Tugas ini dibuat untuk melengkapi tugas makalah Biologi

Disusun Oleh Kelompok 1 Kelas XI MIA 1 :


1.
2.
3.
4.

Bibin Ambarwati
Maulana Yusuf H
Muanniqotul Fadhila
Reang Aji W

(10)
(19)
(20)
(25)

SMA NEGERI 1 REMBANG


TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Jalan Gajah Mada 5, Rembang 59201, Telepon& Fax.( 0295 ) 691375
e-mail :sma1rbg@yahoo.co.id website : www.smansarbg.com

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN
1.1.1 Untuk mengetahui pengertian osteoporosis.
1.1.2 Untuk mengetahui penyebab osteoporosis.
1.1.3 Untuk mengetahui stadium osteoporosis.
1.1.4 Untuk mengetahui gejala osteoporosis.
1.1.5 Untuk mengetahui faktor risiko osteoporosis.
1.1.6 Untuk mengetahui cara pencegahan osteoporosis.
1.2 LATAR BELAKANG
Di indonesia kesadaran akan osteoporosis masih rendah, terutama dalam
pencegahannya. Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degeneratif di mana
terjadi proses pengurangan kepadatan tulang yang mengakibatkan terjadinya
kerapuhan dan mudah patah pada tulang. Kebutuhan zat gizi merupakan salah satu
faktor penentu dalam proses terjadinya kepadatan tulang.
Pada atlet, kebutuhan zat gizi olahraga merupakan bagian yang penting
karena menjadi salah satu faktor penentu prestasi atlet. Mengkonsumsi zat gizi yang
benar

akan membantu

menyempurnakan

proses

dalam menyediakan
pertumbuhan

dan

energi saat
perkembangan

berolahraga dan
tubuh.

Karena

metabolisme di dalam tubuh atlet lebih tinggi maka kebutuhan zat gizi seorang atlet
akan lebih besar dibandingkan non-atlet.
Dalam beberapa studi kasus mengenai konsumsi zat gizi atlet khususnya atlet
remaja masih menggambarkan asupan gizi yang tidak adekuat. Hal ini terjadi
terutama pada atlet senam, volly, figure skatersdan renang. Berdasarkan penelitian
dari Michigan State University, pada pelari, perenang, dan penyelam diketahui
memilki kepadatan tulang yang lebih rendah dibandingkan dengan atlet di cabang
olahraga lainnya. Hasil analisa data risiko Osteoporosis pada tahun 2005 oleh
Puslitbang Gizi Depkes RI dengan metode pemeriksaan DMT (Densitas Massa
Tulang) menggunakan alat diagnostic clinicalbone sonometer, menunjukkan angka
prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) sebesar 41,7% dan prevalensi osteoporosis
sebesar 10,3%. Pada atlet, tingkat kepadatan mineral tulang atlet volley 24% lebih
besar dibandingkan atlet renang. Dari studi yang dilakukan pada 298 atlet yang
mengikuti Senior Olympic Atlet tahun 2005 ditemukan bahwa atlet cabang olahraga
seperti renang dan senam, nilai BMD (Bone Mineral Density) berkisar antara -1
sampai dengan -1,4.

Kepadatan mineral tulang meningkat selama masa pubertas, puncaknya


dicapai pada usia di atas 10 hingga permulaan 20 tahun, kemudian mendatar, setelah
usia 30 tahun terjadi kehilangan massa tulang dengan kecepatan 0,5%-1% pertahun,
kemudian masuk masamenopause turun 1%-2% pertahun berlangsung hingga 5
sampai 10 tahun. Umumnya massa tulang pria lebih besar daripada wanita. Selama
hidup, tulang yang tua disingkirkan (resorpsi) dan tulang yang baru dibentuk pada
rangka (formasi). Selama masa anak-anak dan remaja, tulang baru di bentuk lebih
cepat daripada tulang lama (yang disingkirkan), sehingga tulang menjadi lebih besar,
berat dan padat. Formasi tulang lebih cepat dibandingan resorpsi tulang sampai
massa tulang puncak (kekuatan dan kepadatan tulang maksimum) yang dicapai
sekitar usia 30. Setelah usia ini, resorpsi tulang akan melampaui formasi tulang.
Masa remaja merupakan masa kritisdi mana terjadinya perubahan secara fisik,
biokimia, dan emosional yang sangat cepat. Pada periode ini juga terjadi puncak
pertumbuhan tinggi badan (Peak High Velocity) dan berat badan (Peak Weight
Velocity)yang sangat pesat , serta pertumbuhan massa tulang

(Peak Bone

Mass/PBM) yang menyebabkan kebutuhan zat gizi remaja meningkat. Banyak faktor
yang dapat meningkatkan proses pertumbuhan tulang di antaranya adalah konsumsi
kalsium, aktivitas fisik, dan paparan matahari yang cukup.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN OSTEOPOROSIS


Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan
porousberarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang
keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah
atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas
jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang.
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference,di
Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa
tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan
kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya
kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang.
Menurut National Institute of Health(NIH), 2001 Osteoporosis adalah
kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang yang mengkhawatirkan dan
dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang
merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang
(Junaidi, 2007). Tulang adalah jaringan yang hidup dan terus bertumbuh. Tulang
mempunyai struktur, pertumbuhan dan fungsi yang unik. Bukan hanya memberi
kekuatan dan membuat kerangka tubuh menjadi stabil, tulang juga terus mengalami
perubahan karena berbagai stres mekanik dan terus mengalami pembongkaran,
perbaikan dan pergantian sel.
Untuk mempertahankan kekuatannya, tulang terus menerus mengalami proses
penghancuran dan pembentukan kembali. Tulang yang sudah tua akan dirusak dan
digantikan oleh tulang yang baru dan kuat. Proses ini merupakan peremajaan tulang
yang akan mengalami kemunduran ketika usia semakin tua.Pembentukan tulang
paling cepat terjadi pada usia akil balig atau pubertas, ketika tulang menjadi makin
besar, makin panjang, makin tebal, dan makin padat yang akan mencapai puncaknya
pada usia sekitar 25-30 tahun. Berkurangnya massa tulang mulai terjadi setelah usia
30 tahun, yang akan makin bertambah setelah diatas
40 tahun, dan akan berlangsung terus dengan bertambahnya usia, sepanjang
hidupnya. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang yang
berakibat pada osteoporosis.

2.2 PENYEBAB OSTEOPOROSIS


Beberapa penyebab osteoporosis, yaitu:
1. Osteoporosis Pascamenopause
Terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama pada wanita),
yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala
timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih
cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun
sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini
berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama
setelah menopause.
2. Osteoporosis Senilis
Kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan
dengan

usia

dan

ketidakseimbangan

antara

kecepatan

hancurnya

tulang

(osteoklas)dan pembentukan tulang baru (osteoblas).Senilis berarti bahwa keadaan


ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang
berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali
menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan
oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan
adrenal) serta obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, antikejang, dan
hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok
dapat memperburuk keadaan ini.
4. Osteoporosis Juvenil Idiopatik
Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini
terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadardan fungsi hormon
yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas
dari rapuhnya tulang.
2.3 STADIUM OSTEOPOROSIS
1. Pada stadium 1, tulang bertumbuh cepat, yang dibentuk masih lebih banyak
dan lebih cepat daripada tulang yang dihancurkan. Ini biasanya terjadi pada
usia 30-35 tahun.
2. Pada stadium 2, umumnya pada usia 35-45 tahun, kepadatan tulang mulai
turun (osteopenia).

3. Pada stadium 3, usia 45-55 tahun, fraktur bisa timbul sekalipun hanya
dengan sentuhan atau benturan ringan.
4. Pada stadium 4, biasanya diatas 55 tahun, rasa nyeri yang hebat akan timbul
akibat patah tulang. Anda tidak bisa bekerja, bergerak , bahkan mengalami
stres dan depresi.
2.4 GEJALA OSTEOPOROSIS
Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai
puluhan tahun tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga
tulang menjadi kolaps atau hancur, akan timbul nyeri dan perubahan bentuk tulang.
Jadi, seseorang dengan osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan atau gejala
sebagai berikut:
1. Tinggi badan berkurang
2. Bungkuk atau bentuk tubuh berubah
3. Patah tulang
4. Nyeri bila ada patah tulang.

2.5 FAKTOR RISIKO OSTEOPOROSIS


Osteoporosis dapat menyerang setiap orang dengan faktor risiko yang
berbeda. Faktor risiko Osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak
dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan. Berikut ini faktor risiko
osteoporosis yang tidak dapat dikendalikan:
1. Jenis kelamin
Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar
dibandingkan kaum pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai
menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
2. Usia
Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara
alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Osteoporosis pada
usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan
menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium.
3. Ras
Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis.
Karena itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih
tinggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam. Ras Afrika memiliki massa
tulang lebih padat dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot

yang lebih besar sehingga tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar
hormon estrogen yang lebih tinggi pada ras Afrika.
4. Pigmentasi dan tempat tinggal
Mereka yang berkulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa, mempunyai
risiko terkena osteoporosis yang lebih rendah dibandingkan dengan ras kulit putih
yang tinggal di wilayah kutub seperti Norwegia dan Swedia.
5. Riwayat keluarga
Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa
tulang yang rendah, maka keturunannya cenderung be risiko tinggi terkena
osteoporosis.
6. Sosok tubuh
Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena osteoporosis.
Demikian juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih berisiko terkena
osteoporosis dibanding yang bertubuh besar.
7. Menopause
Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena tubuh
tidak

lagi

memproduksinya.

Padahal

hormon

estrogen

dibutuhkan

untuk

pembentukan tulang dan mempertahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon


estrogen seiring dengan bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan
tulang sehingga terjadi pengeroposan tulang, dan tulang mudah patah. Menopause
dini bisa terjadi jika pengangkatan ovarium terpaksa dilakukan disebabkan adanya
penyakit kandungan seperti kanker, mioma dan lainnya. Menopausedini juga
berakibat meningkatnya risiko terkena osteoporosis.
Berikut ini faktor faktor risiko osteoporosis yang dapat dikendalikan.
Faktor-faktor ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup.
1. Aktivitas Fisik
Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak terlatih
dan menjadi kendor. Otot yang kendor akan mempercepat menurunnya kekuatan
tulang. Untuk menghindarinya, dianjurkan melakukan olahraga teratur minimal tiga
kali dalam seminggu (lebih baik dengan beban untuk membentuk dan memperkuat
tulang).
2. Kurang Kalsium

Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang maka
tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh
lain, termasuk yang ada di tulang. Kebutuhan akan kalsium harus disertai dengan
asupan vitamin D yang didapat dari sinar matahari pagi, tanpa vitamin D kalsium
tidak mungkin diserap usus.
3. Merokok
Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan
perokok. Telah diketahui bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen lebih
rendah dan mengalami masa menopause 5 tahun lebih cepat dibanding wanita bukan
perokok. Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam
hal

penyerapan

dan

penggunaan

kalsium.

Akibatnya,

pengeroposan

tulang/osteoporosis terjadi lebih cepat.


4. Minuman Keras/Beralkohol
Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding
lambung. Dan ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium
(yang ada dalam darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan pada gilirannya
menyebabkan osteoporosis.
5. Minuman Soda
Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein (caffein). Fosfor
akan mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang, sedangkan kafein
meningkatkan pembuangan kalsium lewat urin. Untuk menghindari bahaya
osteoporosis, sebaiknya konsumsi soft drink harus dibarengi dengan minum susu
atau mengonsumsi kalsium ekstra.
6. Stres
Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang
diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan
meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan
tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis.
7. Bahan Kimia
Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan
(sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah

industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat
merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan
membuat pengeroposan tulang.

2.6 PENCEGAHAN OSTEOPOROSIS


Pencegahan penyakit osteoporosis sebaiknya dilakukan pada usia muda
maupun masa reproduksi. Berikut ini hal-hal yang dapat mencegah osteoporosis,
yaitu:
1. Asupan Kalsium Cukup
Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan
dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan vitamin D
setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang
sebelumya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap
hari. Dosis yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari,
sedangkan untuk lansia 1200mg per hari. Kebutuhan kalsium dapat terpenuhi dari
makanan seharihari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacangkacangan.
2. Paparan Sinar Matahari
Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang
dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Berjemurlah dibawah sinar
matahari selama 20-30 menit, 3x/minggu. Sebaiknya berjemur dilakukan pada pagi
hari sebelum jam 9 dan sore hari sesudah jam 4. Sinar matahari membantu tubuh
menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa
tulang.
3. Melakukan Olahraga dengan Beban
Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat
berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olahraga beban
misalnya senam aerobik, berjalan dan menaiki tangga. Olahraga yang teratur
merupakan upaya pencegahan yang penting. Tinggalkan gaya hidup santai, mulailah
berolahraga beban yang ringan,kemudian tingkatkan intensitasnya. Yang penting
adalah melakukannya dengan teratur dan benar.

Latihan fisik atau olahraga untuk penderita osteoporosis berbeda dengan


olahraga untuk mencegah osteoporosis. Latihan yang tidak boleh dilakukan oleh
penderita osteoporosis adalah sebagai berikut:
Latihan atau aktivitas fisik yang berisiko terjadi benturan dan pembebanan pada
tulang punggung. Hal ini akan menambah risiko patah tulang punggung karena ruas
tulang punggung yang lemah tidak mampu menahan beban tersebut. Hindari latihan
berupa lompatan, senam aerobik dan joging.
Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan membungkuk kedepn dengan
punggung melengkung. Hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan cedera ruas
tulang belakang. Juga tidak boleh melakukan sit up, meraih jari kaki, dan lain-lain.
Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan menggerakkan kaki kesamping
atau menyilangkan dengan badan, juga meningkatkan risiko patah tulang, karena
tulang panggul dalam kondisi lemah.

Berikut ini latihan olahraga yang boleh dilakukan oleh penderita


osteoporosis :
Latihan fisik atau olahraga untuk penderita osteoporosis berbeda dengan
olahraga untuk mencegah osteoporosis. Latihan yang tidak boleh dilakukan oleh
penderita osteoporosis adalah
sebagai berikut:
Latihan atau aktivitas fisik yang berisiko terjadi benturan dan pembebanan pada
tulang punggung. Hal ini akan menambah risiko patah tulang punggung karena ruas
tulang punggung yang lemah tidak mampu menahan beban tersebut. Hindari latihan
berupa lompatan, senam aerobik dan joging.
Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan membungkuk kedepn dengan
punggung melengkung. Hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan cedera ruas
tulang belakang. Juga tidak boleh melakukan sit up, meraih jari kaki, dan lain-lain.

Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan menggerakkan kaki kesamping


atau menyilangkan dengan badan, juga meningkatkan risiko patah tulang, karena
tulang panggul dalam kondisi lemah.

Berikut ini latihan olahraga yang boleh dilakuka n oleh penderita


osteoporosis :
Jalan kaki secara teratur, karena memungkinkan sekitar 4,5 km/jam selama 50
menit, lima kali dalam seminggu. Ini diperlukan untuk mempertahankan kekuatan
tulang. Jalan kaki lebih cepat (6 km/jam) akan bermanfaat untuk jantung dan paruparu.

Latihan beban untuk kekuatan otot, yaitu dengan mengangkat dumbble kecil

untuk menguatkan pinggul, paha, punggung, lengan dan bahu.


Latihan untuk meningkatkan keseimbangan dan kesigapan.
Latihan untuk melengkungkan punggung ke belakang, dapat dilakukan dengan
duduk dikursi, dengan atau tanpa penahan. Hal ini dapat menguatkan otot-otot yang
menahan punggung agar tetap tegak,mengurangi kemungkinan bengkok, sekaligus
memperkuat punggung.
Untuk pencegahan osteoporosis, latihan fisik yang dianjurkan adalah latihan
fisik yang bersifat pembebanan, terutama pada daerah yang mempunyai risiko tinggi
terjadi osteoporosis dan patah tulang. Jangan lakukan senam segera sesudah makan.
Beri waktu kira-kira 1 jam perut kosong sebelum mulai dan sesudah senam.
Dianjurkan untuk berlatih senam tiga kali seminggu, minimal 20 menit dan
maksimal 60 menit. Sebaiknya senam dikombinasikan dengan olahraga jalan secara
bergantian, misalnya hari pertama senam, hari kedua jalan kaki, hari ketiga senam,
hari keempat jalan kaki, hari kelima senam,hari keenam dan hari ketujuh istirahat.
Jalan kaki merupakan olahraga yang paling mudah, murah dan aman, serta
sangat bermanfaat. Gerakannya sangat mudah dilakukan, melangkahkan salah satu
kaki kedepan kaki yang lain secara bergantian. Lakukanlah jalan kaki 20-30 menit,
paling sedikit tiga kali seminggu.dianjurkan berjalan lebih cepat dari biasa, disertai
ayunan lengan.

Setiap latihan fisik harus diawali dengan pemanasan untuk :


Menyiapkan otot dan urat agar meregang secara perlahan dan mantap sehingga
mencegah terjadinya cedera.
Meningkatkan denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh sedikit demi sedikit.
Menyelaraskan koordinasi gerakan tubuh dengan keseimbangan gerak.

Menimbulkan rasa santai. Lakukan selama 10 menit dengan jalan ditempat,

gerakan kepala, bahu, siku dan tangan, kaki, lutut dan pinggul. Kemudian lakukan
peregangan selama kira-kira 5
menit. Latihan peregangan akan menghasilkan selama kira-kira 5 menit. Latihan
peregangan akan menghasilkan kelenturan otot dan kemudahan gerakan sendi.
Latihan ini dilakukan secara berhati-hati dan bertahap, jangan sampai menyebabkan
cedera. Biasanya dimulai dengan peregangan otot-otot lengan, dada, punggung,
tungkai atas dan bawah, serta otot-otot kaki.
Latihan inti, kira-kira 20 menit, merupakan kumpulan gerak yang bersifat
ritmis atau berirama agak cepat sehingga mempunyai nilai latihan yang bermanfaat.
Utamakan gerakan, tarikan dan tekanan pada daerah tulang yang sering mengalami
osteoporosis, yaitu tulang punggung, tulang paha, tulang panggul dan tulang
pergelangan tangan. Kemudian lakukan juga latihan beban. Dapat dibantu dengan
bantal pasir, dumbble,atau apa saja yang dapat digenggam dengan berat 300-1000
gram untuk 1 tangan, mulai dengan beban ringan untuk pemula, dan jangan melebihi
1000 gram. Beban untuk tulang belakang dan tungkai sudah cukup memdai dengan
beban dari tubuh itu sendiri.
Setelah latihan inti harus dilakukan pendinginan dengan memulai gerakan
peregangan seperti awal pemanasan dan lakukan gerakan menarik napas atau ambil
napas dan buang napas secara teratur. Jika masih memungkinkan. Lakukan senam
lantai kira-kira 10 menit.
Latihan ini merupakan gabungan peregangan, penguatan dan koordinasi. Lakukan
dengan lembut dan perlahan dalam posisi nyaman, rileks dan napas yang teratur.
4. Hindari Rokok Dan Minuman Beralkohol
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan upaya penting dalam
mengurangi faktor risiko terjadinya osteoporosis. Terlalu banyak minum alkohol juga
bisa merusak tulang.
5. Deteksi Dini Osteoporosis

Karena osteoporosis merupakan suatu penyakit yang biasanya tidak diawali


dengan gejala, maka langkah yang paling penting dalam mencegah dan mengobati
osteoporosis adalah pemeriksaan secara dini untuk mengetahui apakah kita sudah
terkena osteoporosis atau belum, sehingga dari pemeriksaan ini kita akan tahu
langkah selanjutnya. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengukur
kepadatan mineral tulang adalah sebagai berikut :
a. Dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA), menggunakan dua sinar-X
berbeda, dapat digunakan untuk mengukur kepadatan tulang belakang dan
pangkal paha. Sejumlah sinar-X dipancarkan pada bagian tulang dan jaringan
lunak yang
b. Peripheral dual-energy X-ray absorptiometry (P-DEXA), merupakan hasil
modifika si dari DEXA. Alat ini mengukur kepadatan tulang anggota badan
seperti pergelangan tangan, tetapi tidak dapat mengukur kepadatan tulang
yang berisiko patah tulang seperti tulang belakang atau pangkal paha. Jika
kepadatan tulang belakang dan pangkal paha sudah diukur maka pengukuran
dengan P-DEXA tidak diperlukan. Mesin P-DEXA mudah dibawa,
menggunakan radiasi sinar-X dengan dosis yang sangat kecil, dan hasilnya
lebih cepat dan konvensional dibandingkan DEXA.
c. Dual photon absorptiometry (DPA), menggunakan zat radioaktif untuk
menghasilkan radiasi. Dapat mengukur kepadatan mineral tulang belakang
dan pangkal paha, juga menggunakan radiasi sinar dengan dosis yang sangat
rendah tetapi memerlukan waktu yang cukup lama.
d. Ultrasounds, pada umumnya digunakan untuk tes pendahuluan. Jika hasilnya
mengindikasikan kepadatan mineral tulang rendah maka dianjurkan untuk tes
menggunakan DEXA. Ultrasounds menggunakan gelombang suara untuk
mengukur kepadatan mineral tulang, biasanya pada telapak kaki. Sebagian
mesin melewatkan gelombang suara melalui udara dan sebagian lagi melalui
air. Ultrasounds dalam penggunaannya cepat, mudah dan tidak menggunakan
radiasi seperti sinar-X. Salah satu kelemahan Ultrasounds tidak dapat
menunjukkan kepadatan mineral tulang yang berisiko patah tulang karena
osteoporosis. Penggunaan Ultrasounds juga lebih terbatas dibandingkan
DEXA.
e. Quantitative Computed Tomography (QTC), adalah suatu model dari CT-scan
yang dapat mengukur kepadatan tulang belakang. Salah satu model dari QTC
disebut peripheral QCT (pQCT) yang dapat mengukur kepadatan tulang
anggota badan seperti pergelangan tangan. Pada umumnya pengukuran
dengan QCT jarang dianjurkan karena sangat mahal, menggunakan radiasi

dengan dosis tinggi, dan kurang akurat dibandingkan dengan DEXA,


PDEXA,atau DPA.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut :
1. Semakin bertambah umur, gambaran kepadatan tulang semakin menurun
yang berarti risiko untuk mengalami osteoporosis semakin besar dan
korelasinya sangat kuat.

2. Semakin banyak jumlah anak yang dimiliki oleh seorang wanita, gambaran
kepadatan tulang semakin menurun yang berarti risiko wanita tersebut untuk
mengalami osteoporosis semakin besardan korelasinya kuat.
3. Penggunaan kontrasepsi pil berpengaruh positif terhadap gambaran kepadatan
tulang dan korelasinya lemah.
4. Berdasarkan flowchart Graph G dan Bobot dengan ditambahkannya satu
pengujian untuk mengecek dua buah tetangga saling bertetangga pada citra
watershed yaitu matrik delapan berteta ngga atas kanan dengan bawah kiri
dapat mengurangi segmentasi yang berlebih pada citra watershed.
5. Penggabungan citra watershed dapat menghasilkan catchment basin yang
merepresentasikan daerah cortical bone bagian luar dan dalam tampak jelas
tanpa ada garis yang terputus.
6. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan pada kinerja program watershed
dengan batas threshold rata-rata dari sepuluh subyek kiri dan kanan adalah
90%, didapatkan nilai rata-rata akurasi 91.0%.
7. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan pada kinerja program watershed
berintegrasi dengan activecontour berbasis level set dengan batas threshold
rata-rata dari sepuluh subyek kiri dan kanan adalah 90%, didapatkan nilai
rata-rata akurasi 98.8%.
3.2 SARAN
Saran yang kami berikan adalah sebagai berikut :
1. Perlu dilakukan penelitian dengan subjek penelitian yang lebih banyak.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk faktor-faktor risiko osteoporosis
lainnya guna mengurangi kejadian patah tulang karena osteoporosis di
kemudian hari.
3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui penggunaan kontrasepsi
lainnya selain pil yang berpengaruh terhadap munculnya kejadian
osteoporosis.
4. Melakukan preprosesing maksimal dengan mempertajam cortical bone dan
mengaburkan selain cortical bone serta pembentukan garis lurus pada daerah
cortical bone untuk mendapatkan citra watershed yang lebih bagus lagi atau
tanpa ada kolam-kolam yang lain selain cortical bone.
5. Melakukan cropping hanya pada daerah cortical bone saja, untuk
memudahkan dalam melakukan segmentasi selanjutnya.
6. Dalam melakukan evaluasi untuk penelitihan berikutnya juga perlu
dievaluasi dari segi ruang, waktu, dan biaya pada program watersed
berintegrasi dengan active contour berbasis level set.
3.3 DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22611/4/Chapter
%20II.pdf#page=1&zoom=90,-116,208
http://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis
http://penyakitosteoporosis.com/tag/pengertian-osteoporosis/
http://penyakitosteoporosis.com/page/2/
http://indonesiaindonesia.com/f/13922-osteoporosis-milik-kaum-wanita-priaberesiko/
http://obattradisionalpenyakitamandel.blogspot.com/2013/10/faktor-penyebabpenyakit-osteoporosis.html
http://penyakitosteoporosis.com/tag/faktor-penyebab-osteoporosis/
http://zona-populer.blogspot.com/2012/10/wanita-lebih-rentan-terkenaosteoporosis.html
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-7292-5106201805-kesimpulan.pdf
http://repository.maranatha.edu/1845/7/0410175_Conclusion.pdf
http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-976-BABI.pdf