Вы находитесь на странице: 1из 32

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI

Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geologi dari pengertiannya yang berarti ilmu yang mempelajari bumi dan segala
proses yang terjadi di dalamnya mulai dari awal pembentukannya hingga sekarang.
Untuk mengetahui bagaimana awal pembentukan dan hal-hal yang terjadi pada bumi
dimasa lampau tentu dibutuhkan objek penelitian yang nyata, dan objek tersebut
adalah fosil. Tidak hanya itu, pengetahuan tentang fosil dan seluk-beluknya ini juga
sangat bermanfaat dalam penerapannya dibidang pengelolaan SDA yakni
pertambangan dan migas serta ilmu terapan lainnya. Ilmu yang mempelajari selukbeluk fosil ini dipelajari pada paleontologi.
Sementara itu, untuk menjadi seorang ahli geologi tentu tidak hanya mempelajari
teori melainkan juga bagaimana penerapannya dalam kehidupan. Dengan begitu
dilakukan praktikum paleontologi untuk memperdalam pengetahuan dan mengenal
lebih jauh mengenai fosil.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah:


1
2
3

Mampu mendeskripsi fosil


Mengetahui Syarat-syarat terbentuknya fosil
Mengetahui proses Pembentukan fosil

1.3 Alat dan Bahan


1. kertas a4 sebagai media penulisan laporan serta gambar
2. pensil untuk menggambar
3. penghapus untuk menghapus
4. pulpen untuk menulis laporan
5. penggaris untuk perlengkapan menggambar
6. larutan HCl untuk mengetahui apakah fosil tersebut mengandung kadar
(CaCO3)
7. alat peraga fosil digunakan sebagai objek penelitian

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Fosil
Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah")
adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral.
Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen.
Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang
terbentuk

dalam

batu ambar,

seperti

yang

terbentuk

di

sumur

La

Brea di Kalifornia. Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi ternyata
masih ada disebut fosil hidup. Fosil yang paling umum adalah kerangka yang tersisa
seperti cangkang, gigi dan tulang. Fosil jaringan lunak sangat jarang ditemukan.Ilmu
yang mempelajari fosil adalah paleontologi, yang juga merupakan cabang ilmu yang
direngkuh arkeologi.
Bentuk fosil ada dua macam yaitu fosil cetakan dan jejak fosil. Fosil cetakan
terjadi jika kerangka mahluk hidup yang terjebak di endapan lumpur meninggalkan
bekas (misalnya tulang) pada endapan tersebut yang membentuk cetakan. Jika
cetakan tersebut berisi lagi dengan endapan lumpur maka akan terbentuk jejak fosil
persis seperti kerangka aslinya.

Berdasarkan ukurannya, jenis fosil dibagi menjadi :


a. Macrofossil (Fosil Besar) , dipelajari tanpa menggunakan alat bantu
b. Microfossil (Fosil Kecil), dipelajari dengan alat bantu mikroskop
c. Nannofossil (Fosil Sangat kecil), dipelajari menggunakan batuan mikroskop
khusus (dengan pembesaran hingga 1000x)
2.2 fosilisasi
Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang
terakumulasi

dalam sedimen atau endapan-endapan baik

yang

mengalami

pengawetan secara menyeluruh, sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa


syarat terjadinya pemfosilan yaitu antara lain:
1. Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
2. Mengalami pengawetan
3. Terbebas dari bakteri pembusuk
4. Terjadi secara alamiah
5. Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
6. Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

2.3 Proses Pemfosilan

Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang


terakumulasi dalam sedimen atau endapan-endapan baik yang mengalami
pengawetan secara menyeluruh, sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa
syarat terjadinya pemfosilan yaitu antara lain:

Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras

Mengalami pengawetan

Terbebas dari bakteri pembusuk

Terjadi secara alamiah

Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit

Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

Kendala pemfosilan yaitu saat organism mati (bangkai) dimakan oleh


organism lain atau terjadi pembusukan oleh bakteri pengurai.
Suatu contoh tempat yang mendukung terjadinya proses fosilisasi adalah
delta sungai, dasar danau, atau danau tapal kuda (oxbow lake) yang terjadi dari
putusnya suatu meander.
Bahan -bahan yang berperan dalam fosilisasi, diantaranya :
1.

Pertrifaksi, berubah menjadi batu oleh adanya bahan-bahan : silika,


kalsiumkarbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang
serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati sehingga menjadi
keras/membatu menjadi fosil.

2.

Proses Destilasi, tumbuhan atau bahan organik lainnya yang telah mati
dengan cepat tertutup oleh lapisan tanah.

3.

Proses Kompresi, tumbuhan tertimbun dalam lapisan tanah, maka air dan gas
yang terkandung dalam bahan organic dari tumbuhan itu tertekan keluar oleh
beratnya lapisan tanah yang menimbunnya. Akibatnya, karbon dari tumbuhan
itu tertinggal dan lama kelamaan akan menjadi batubara, lignit dan bahan
bakar lainnya.

4.

Impresi, tanda fosil yang terdapat di dalam lapisan tanah sedangkan fosilnya
sendiri hilang.

5.

Bekas gigi, kadang-kadang fosil tulang menunjukan bekas gigitan hewan


carnivore atau hewan pengerat.

6.

Koprolit, bekas kotoran hewan yang menjadi fosil.

7.

Gastrolit, batu yang halus permukaannya ditemukan di dalam badan hewan


yang telah menjadi fosil.

8.

Liang di dalam tanah, dapat terisi oleh batuan dan berubah sebagai fosil,
merupakan cetakan.

9.

Pembentukan Kerak, hewan dan tumbuhan terbungkus oleh kalsiumkarbonat


yang berasal dari travertine ataupun talaktit.

10. Pemfosilan di dalam Tuff, pemfosilan ini jarang terjadi kecuali di daerah yang
berudara kering sehingga bakteri pembusuk tidak dapat terjadi.

11. Pemfosilan dengan cara pembekuan, hewan yang mati tertutup serta
terlindung lapisan es dapat membeku dengan segera. Oleh karena dinginnya
es maka tidak ada bakteri pembusuk yang hidup dalam bangkai tersebut.

2.4 Kegunaan Fosil


A. Fosil dan pengukuran umur.
Fosil dapat digunakan untuk menentukan umur relatif dari
batuan sedimen. Lapisan sedimen yang mengandung fosil tertentu
dapat dikatakan bahwa batuan sedimen berbentuk pada waktu
binatang-binatang yang membentuk fosil tersebut hidup. Jadi batuan
sedimen tersebut terbentuk bersamaan rentang waktu kehidupan
binatang tersebut. Setiap organisme mengalami perubahan dengan
perubahan waktu, sehingga setiap organisme mempunyai rentang
waktu

yang

berbeda-beda.

Jadi

fosil

tertentu

akan

dapat

menunjukkan batuan sediman yang mengandung fosil tersebut


terbentuk pada waktu tertentu. Jadi umur relatif dari batuan
sedimen dapat ditentukan dengan mempelajari fosil-fosil yang
terkandung didalamnya.
B. Fosil dan Korelasi

Korelasi adalah menghubungkan antara dua alam atau lebih


unit

batuan

yang

berada

pada

tempat

yang

berbeda

dan

mempunyai kesamaan umur. Korelasi merupakan pekerjaan yang


sangat penting dalam geologi, karena pada kenyataannya batuanbatuan yang menyusun kerak bumi isi tersingkap setempatsetempat dan kadang mempunyai jarak yang berjauhan.
Jika proses evolusi terjadi sangat cepat pada suatu organisme
tersebut mempunyai jangka waktu hidup yang pendek. Fosil dan
organisme tersebut dapat menunjukkan umur batuan dengan
rentang waktu yang sangat pendek. Fosil dengan rentang waktu
hidup yang sangat pendek tersebut di sebut fosil indeks atau fosil
penunjuk, karena fosil tersebut dapat digunakan untuk menentukan
umur batuannya. Fosil indeks yang sangat baik adalah yang
berevolusi dengan cepat, sangat melimpah pada jangka waktu yang
pendek, mempunyai penyebaran yang luas dan dengan cepat
mengalami pemusnahan dan terawetkan dengan baik pada batuan.
Bahan-bahan

yang

mengandung

fosil

yang

sama

dikatakan

mempunyai umur yang sama jadi batuan yang mengandung fosil


dengan umum yang sama dan berasal dari tempat yang berbeda
dapat diselesaikan.
C. Penyusunan skala waktu Geologi

Tidak hanya individu spesies tertentu yang dapat mengalami


perubahan yang sangat cepat, tetapi kadang-kadang, seluruh
karakter kehidupan pada planet ini dapat mengalami perubahan
dengan sangat cepat pula. Sebagai contoh, meskipun kehidupan
dipercaya telah mengalami evolusi mulai sekitar 4 milyar tahun lalu.
Kehidupan awal ini sangat kecil dan tidak mempunyai bagian yang
keras seperti tulang dan cangkang, Sehingga sisa kehidupan
organisme ini sebagai fosil sangat jarang sekali. Kemudian dengan
tiba-tiba, seperti ledakan, spesies yang bercangkang terbentuk
sekitar 570 juta tahun lalu. Evolusi yang cepat dari binatang
bercangkang keras ini menandakan awal dari Era Paleozoik dan
merupakan batas utama dari skala waktu geologi. Pembagian utama
pada skala waktu geologi di dasarkan pada perubahan flora dan
fauna di planet ini yang terawetkan sebagai fosil.
D. Interpretasi lingkungan pengendapan
Leonardo da vinci (1452-1519) salah seorang filosof, kirakira 400 tahun yang lalu menemukan fosil pada batuan di tepi
pegunungan dekat dengan laut Adriatik Italia. Fosil-fosil tersebut
mirip dengan organisme yang telah diketahui hidup di laut yang
berdekatan. Ia melihat batuan yang mengandung fosil tersebut
adalah pasir hasil proses pelapukan dari batuan yang ada di
pegunungan mengalami pengangkutan oleh sungai hingga di

kawasan pantai dimana pasir tersebut mengalami pengendapan.


Penumpukan pasir tersebut mengubur sisa-sisa tumbuhan dan
binatang yang hidup di kawasan tersebut. Selanjutnya pasir tersebut
mengalami litifikasi menjadi batupasir. Ia juga menyatakan bahwa
daerah tersebut tadinya merupakan laut dimana pasir terendapkan
dan mengubur kehidupan yang pernah ada di tempat tersebut.
Kemudian

daerah

tersebut

mengalami

pengangkatan

menjadi

pegunungan. Jadi fosil yang dijumpai di daerah tersebut dapat


membantu untuk melakukan interpretasi mekanisme pembentukan
batupasir,

dan

dapat

digunakan

untuk

menjelaskan

bahwa

pegunungan dapat dibangun oleh batuan sedimen yang terbentuk di


laut.
Ahli geologi modern kemudian mencontoh yang diberikan
oleh Leonardo da Vinci dalam menggunakan fosil untuk menentukan
lingkungan pengendapan batuan sedimen. Sebagai contoh dengan
ditemukannya suatu pegunungan yang tingginya sampai beribu
meter dan disusun oleh sekuen batuan sedimen. Pertanyaan yang
timbul adalah bagaimana suatu perlapisan batuan

sedimen yang

sangat tebal tersebut terbentuk. Kemungkinan pertama adalah pada


waktu itu ada cekungan yang sangat dalam (palung) yang terus
menerus terisi oleh sedimen, hingga mencapai ketebalan beribu
meter. Tetapi pada batuan sedimen tersebut ternyata dijumpai fosil
dari binatang yang umumnya hidup pada lingkungan laut dangkal.

Jadi sedimen tersebut tentunya diendapkan pada kondisi lingkungan


laut dangkal. Dari keadaan tersebut dapat diketahui bahwa pada
waktu sedimen tersebut terakumulasi, cekungan terus mengalami
penurunan bersamaan dengan terendapkannya sedimen.

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

Keterangan :
1.Test
2. Calix
3. Oral disk
4. Oral opening
Ventral

Samping

No. Sampel

06

No. Peraga

792

Filum

Bryozoa

Kelas

Gymnoslaemata

Ordo

Cryptostomata

Family

Coralidae

Genus

Coral

Spesies

Coral limestone

Proses Pemfosilan

Petrifikasi (permineralisasi)

Bentuk

Tabular

Komposisi Kimia

Kalsium karbonat (CaCO3)

Umur

Kapur Atas (100-70 juta tahn yang lalu)

Ling. Pengendapan

Laut Dangkal

Keterangan

Fosil dengan nomor sampel 06 da nomor peraga 792

adalah berasal dari family Coralidae, genus Coral, dan dengan nama spesies Coral
limestone.
Setelah organisme ini mati, akan mengalami transportasi oleh media geologi
berupa air, angin atau es ke daerah cekungan, selama tranportasi, material-material
yang tidak resisten terhadap pelapukan akan mengalami pergantian terhadap material
yang resisten terhadap pelapukan. Setelah itu material tersebut terendapkan pada
daerah cekungan yang relatif stabil. Bersaman dengan itu, material-material sedimen
juga ikut tertransportasikan. Di daerah cekungan inilah material akan terakumulasi,
semakin lama material akan bertambah dan menumpuk dan mengalami tekanan, dari
tekanan tersebut akan mengakibatkan material terkompaksi mengakibatkan pori-pori
akan mengecil, air yang terkandung di antara material-material akan keluar,
masuklah material sementasi yang halus. Setelah itu material mengalami sementasi
dan terjadi proses leaching (pencucian fosil). Seiring dengan berjalannya waktu,
akhirnya organisme dan material sedimen terlitifikasi (pembatuan), sehingga
organisme tersebut menjadi fosil. Proses pemfosilan yang dilakukan oleh fosil ini
adalah permineralisasi. Permineralisasi adalah proses pengawetan dimana rongga
dalam cangkang terisi oleh mineral yang diendapkan oleh air tanah yang
memasukinya, sehingga terbentuk cetakan bagian dalam dari cangkang.

Proses munculnya fosil ini dipengaruhi oleh tenaga endogen berupa gaya
tektonik sehingga fosil yang berada di cekungan naik ke permukaan. Setelah naik di
permukaan, akan terkena gaya eksogen lagi berupa erosi air, angin, atau es sehingga
fosil menjadi tampak di permukaan.
Adapun bentuk tubuh fosil ini adalahTabular, yaitu bentuk fosil yang
berbentuk seperti tabung. Bagian tubuh yang masih dapat dijumpai adalah Calix
yaitu garis-garis luar pada dinding fosi, oral disk lingkaran besar pada fosil, dan oral
opening yaitu lingkaan kecil yang berada di dalam oral disk
Jika ditetesi dgn larutan HCl 0,1 M maka fosil ini akan beraksi membentuk
buih-buih, maka dapat diketahui bahwa fosil ini mengandung kalsium karbonat
(CaCO3), hal ini menandakan bahwa lingkungan pengendapannya berasal dari laut
dangkal. Adapun umur fosil ini adalah Kapur Atas, yaitu antara 100-70 juta tahun
yang lalu.
Kegunaan fosil ini adalah penentu umur relatif lapisan sedimen, penentu
lingkungan pengendapan, untuk mengkorelasi batuan, dan penentu iklim pada saat
terjadinya sedimentasi.

Referensi:

Buku Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Fosil
http://www.scribd.com/doc/90288475/Kuliah-Paleontologi-Umum

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

Keterangan :
1. Test
2. Endoderm
3. Eksoderm

Ventral

Samping

No. Sampel

03

No. Peraga

503

Filum

Protozoa

Kelas

Sarcodina

Ordo

Foraminifera

Family

Lapidocentrusidae

Genus

Lapidocentrus

Spesies

Lapidocentrus mulleri (SCHULTZE)

Proses Pemfosilan

Petrifikasi (permineralisasi)

Bentuk

Plate

Komposisi Kimia

Kalsium karbonat (CaCO3)

Umur

Devon Tengah (370-369 juta tahun yang lalu)

Ling. Pengendapan

Laut Dangkal

Keterangan

: Fosil dengan nomor peraga 530 adalah berasal dari family

Lapidocentrusidae, genus Lapidocentrus, dan dengan nama spesies Lapidocentrus


mulleri (SCHULTZE).
Setelah organisme ini mati, akan mengalami transportasi oleh media geologi
berupa air, angin atau es ke daerah cekungan, selama tranportasi, material-material
yang tidak resisten terhadap pelapukan akan mengalami pergantian terhadap material
yang resisten terhadap pelapukan. Setelah itu material tersebut terendapkan pada
daerah cekungan yang relatif stabil. Bersaman dengan itu, material-material sedimen
juga ikut tertransportasikan.Di daerah cekungan inilah material akan terakumulasi,
semakin lama material akan bertambah dan menumpuk dan mengalami tekanan, dari
tekanan tersebut akan mengakibatkan material terkompaksi mengakibatkan pori-pori
akan mengecil, air yang terkandung di antara material-material akan keluar,
masuklah material sementasi yang halus. Setelah itu material mengalami sementasi
dan terjadi proses leaching (pencucian fosil). Seiring dengan berjalannya waktu,
akhirnya organisme dan material sedimen terlitifikasi (pembatuan), sehingga
organisme tersebut menjadi fosil. Proses pemfosilan yang dilakukan oleh fosil ini

adalah permineralisasi. Permineralisasi adalah proses pengawetan dimana rongga


dalam cangkang terisi oleh mineral yang diendapkan oleh air tanah yang
memasukinya, sehingga terbentuk cetakan bagian dalam dari cangkang.
Proses munculnya fosil ini dipengaruhi oleh tenaga endogen berupa gaya
tektonik sehingga fosil yang berada di cekungan naik ke permukaan. Setelah naik di
permukaan, akan terkena gaya eksogen lagi berupa erosi air, angin, atau es sehingga
fosil menjadi tampak di permukaan.
Adapun bentuk tubuh fosil ini adalah plate, yaitu bentuk tubuh fosi yang
memipih menyerupai piring. Dan bagian tubuh fosil ini yang masih dapat dijumpai
seperti, endoderm, yaitu, lapisan bagian dalam fosil, dan eksoderm, yaitu bagian
lapisan luar fosil.
Jika ditetesi dgn larutan HCl 0,1 M maka fosil ini akan beraksi membentuk
buih-buih, maka dapat diketahui bahwa fosil ini mengandung kalsium karbonat
(CaCO3), hal ini menandakan bahwa lingkungan pengendapannya berasal dari laut
dangkal. Adapun umur fosil ini adalah Devon Tengah, yaitu antara 370-369 juta
tahun yang lalu.
Kegunaan fosil ini adalah penentu umur relatif lapisan sedimen, penentu
lingkungan pengendapan, untuk mengkorelasi batuan, dan penentu iklim pada saat
terjadinya sedimentasi.

Referensi:

Buku Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/1012

http://id.wikipedia.org/wiki/Fosil
http://www.scribd.com/doc/90288475/Kuliah-Paleontologi-Umum
PRAKTIKUM PALEONTOLOGI

Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

Keterangan :
1.Test
2. Spongocoel
3. Holdast
4. Oskulum
Ventral

Samping

5. Ostia
6. Eksoderm

No. Sampel

: 04

No. Peraga

: 1721

Filum

:Porifera

Kelas

: Calcarea

Ordo

:Pleospolares

Family

: Verruculinanidae

Genus

: Verruculina

Spesies

: Verruculina tenuis

Proses Pemfosilan

: Petrifikasi (mineralisasi)

Bentuk

: Konikal

Komposisi Kimia

: Kalsium karbonat (CaCO3)

Umur

: Kapur Atas ( 100-70 juta tahun yang lalu )

Ling. Pengendapan

: Laut dangkal

Keterangan

Fosil ini berasal dari filum Porifera, kelas calcrea, ordo pleospolares, family
Verruculinanidae, genus Verruculina, dan dengan nama spesies Verruculina tenuis.
Setelah organisme ini mati, akan mengalami transportasi oleh media geologi
berupa air, angin atau es ke daerah cekungan, selama tranportasi, material-material
yang tidak resisten terhadap pelapukan akan mengalami pergantian terhadap material
yang resisten terhadap pelapukan. Setelah itu material tersebut terendapkan pada
daerah cekungan yang relatif stabil. Bersaman dengan itu, material-material sedimen
juga ikut tertransportasikan. Di daerah cekungan inilah material akan terakumulasi,
semakin lama material akan bertambah dan menumpuk dan mengalami tekanan, dari
tekanan tersebut akan mengakibatkan material terkompaksi mengakibatkan pori-pori
akan mengecil, air yang terkandung di antara material-material akan keluar,
masuklah material sementasi yang halus. Setelah itu material mengalami sementasi
dan terjadi proses leaching (proses pencucian fosil). Seiring dengan berjalannya
waktu, akhirnya organisme dan material sedimen terlitifikasi (pembatuan), sehingga
organisme tersebut menjadi fosil. Proses pemfosilan yang dilakukan oleh fosil ini

adalah permineralisasi. Mineralisasi adalah proses pengawetan dimana rongga dalam


cangkang terisi oleh mineral yang diendapkan oleh air tanah yang memasukinya,
sehingga terbentuk cetakan bagian dalam dari cangkang hingga seluruh tubuh fosil.
Proses munculnya fosil ini di pengaruhi oleh tenaga endogen berupa tektonik
sehingga fosil yang berada di cekungan naik ke permukaan. Setelah naik di
permukaan, akan terkena gaya eksogen lagi berupa erosi air, angin, atau es sehingga
tampak di permukaan.
Adapun bentuk tubuh fosil ini adalah Konikal, yaitu fosil yang membentuk
seperti kerucut. Dan bagian fosil yang masih dapat dijumpai seperti, endoderm yaitu
spongocoel, oskulum yaitu saluran penyebaran air, ostia yaitu lubang masuknya air,
endoderm lapisan dalam, dan eksoderm yaitu lapisan luar fosil atau organisasi..
Jika ditetesi dgn larutan HCl 0,1 M maka fosil ini akan beraksi membentuk
buih-buih, maka dapat diketahui bahwa fosil ini mengandung kalsium karbonat
(CaCO3) hal ini menandakan bahwa lingkungan pengendapannya di laut
dangkal.Berdasarkan skala waktu geologi, umur fosil ini adalah KapurAtas yaitu
antara 100-70 juta tahun yang lalu.
Adapun kegunaan fosil ini diantaranya adalah penentu umur relatif lapisan
sedimen, penentu lingkungan pengendapan, untuk mengkorelasi batuan, dan penentu
iklim pada saat terjadinya sedimentasi,
Referensi:

Buku Penuntun Praktikum Paleontologi 2011/2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Fosil
Buku Lapangan

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

Keterangan :
1.Test
2. Duri
3. Ambulakral
4. Anus
5. Intrambulakral
6. Distal
Ventral

Samping

No. Sampel

:01

No. Peraga

:1578

Family

:Hemicidarisidae

Genus

:Hemicidaris

Spesies

:Hemicidaris crenularis

Proses Pemfosilan

: Permineralisasi

Bentuk

: Globular

Komposis Kimia

: Karbonat (CaCO3)

Umur

: Jura atas ( 141-160 juta tahun yang lalu)

Lingkungan Pengendapan

: Laut dangkal

Keterangan :
Berdasarkan

ciri-ciri

fisiknya

maka

fosil

ini

tergolong

dalam

familyHemicidarisidae, genus Hemicidaris dan spesiesHemicidaris crenularis. Proses


pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme mati dan terhindar dari bakteri pembusuk
dan organisme pemakan bangkai yang kemudiantertranspotasikan yaitu terbawa oleh
media geologi berupa air, angin, dan lain-lainyang dapat mengubah bentuk dan
kedudukannya. Kemudian fosil ini akan terendapkan pada daerah yang lebih rendah
berupa cekungan, setelah itu terakumulasikan yaitu tertutupi oleh lapisan-lapisan
batuan sedimen pada tempatasalnya yakni berupa cekungan, yang stabil kemudian
mengalami leaching yakni proses pencucian fosil sehingga material yang tidak
resisten tergantikan olehmaterial yang lebih resisten. Kemudian mineral tersebut
menjadi lebih kompak yang kemudian mengalami pemadatan (kompaksi) yang
dilanjutkan proseslitifikasi yakni permineralisasi yaitu sebagian mineralnya
digantikan oleh minerallain, sehingga terlitifikasi menjadi batu (fosil). Fosil ke
permukaan dipengaruhioleh gaya endogen berupa tektonik, mengakibatkan fosil
yang awalnya berada pada laut dangkal menjadi daratan. tetapi fosil tersebut masih
tertutup oleh lapisan-lapisan sedimen, seiring berjalannya waktu terjadi proses
eksogen seperti pelapukan dan erosi sehingga lama- kelamaan lapisan-lapisan
sedimen akan habisterkikis oleh udara, air dan angin sehingga terendapkan ke
permukaan.Fosil ini memiliki bagian tubuh yang masih dapat diamati diantaranya,

testyaitu seluruh tubuh fosil, duri adalah bagian yang menyerupai duri pada
tubuhfosil,ambulakral yaitu bagian tubuh fosil yang berupa saluran air,
intrambulakraladalah bagian tubuh fosil yang berupa saluran air pada bagian dalam,
proksimalyaitu bagian yang dekat dengan madreporite, distal adalah bagian yang
menjauhdari madrepolite, madrepolite adalah bagian pusat fosil dan anus merupakan
tempat pembuangan kotoran.Bentuk dari fosil ini adalah globular, setelah ditetesi
HCl fosil ini bereaksimaka dapat diketahui bahwa komposisi kimianya adalah
karbonat (CaCO3).Berdasarkan SWG (skala waktu geologi) atau penarikan umur
secara relative fosilini tergolong dalam zaman jura atas (kurang lebih 141-160 juta
tahun

yanglalu),karena

komposisi

kimianya

adalah

karbonat

maka

dapat

diidentifikasi bahwalingkungan pengendapannya yaitu di laut dangkal. Kegunaan


dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan pengendapannya, menentukan
umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan antara tempat yang satu dengan
tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.

Referensi:
1.
2.
3.

Penuntun praktikum paleontologi


http://geologikita.blogspot.com/2008/12/kegunaan-fosil.html
Buku lapangan HMG FT-UH

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

Keterangan :
1.Test
2.Cephalon
3.Pygidium
Ventral

Dorsal

Samping

4.Axis
5.Thorax
6.Glabella
7.Segment
8.Eyes
9.Mouth

No. Sampel

:02

No. Peraga

:172

Family

: Calymenenidae

Genus

: Calymene

Spesies

: Calymene blumenbachi BGN.

Proses Pemfosilan

: Permineralisasi

Bentuk

: Filmate

Komposis Kimia

: Silika (SiO2)

Umur

: Silur tengah ( 423-435 juta tahun yang lalu)

Lingkungan Pengendapan

: Laut dalam atau daratan

Keterangan

Berdasarkan cirri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam family


Calymenenidae, genus Calymene dan spesies Calymene blumenbachi BGN.
Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme mati dan terhindar dari
bakteri

pembusuk

dan

organisme

pemakan

bangkai

yang

kemudian

tertranspotasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, dan lain-lain
yang dapat mengubah mengubah bentuk dan kedudukannya. Kemudian fosil ini
akan terendapkan pada daerah yang lebih rendah berupa cekungan.Setelah itu akan
terakumulasikan yaitu tertutupi oleh lapisan-lapisan batuan sedimen pada tempat
asalnya yakni berupa cekungan, yang stabil. kemudian mengalami leaching yakni
proses pencucian fosil sehingga material yang tidak resisten tergantikan oleh
material yang lebih resisten. Kemudian mineral tersebut menjadi lebih kompak yang
kemudian mengalami pemadatan (kompaksi) yang dilanjutkan proses litifikasi yakni
permineralisasi yaitu sebagian mineralnya digantikan oleh mineral lain, sehingga
terlitifikasi menjadi batu (fosil). Fosil ke permukaan dipengaruhi oleh gaya endogen
berupa tektonik, mengakibatkan fosil yang awalnya berada pada laut dangkal
menjadi daratan. tetapi fosil tersebut masih tertutup oleh lapisan-lapisan sedimen,
seiring berjalannya waktu terjadi proses eksogen seperti pelapukan dan erosi

sehinggah lama- kelamaan lapisan-lapisan sedimen akan habis terkikis oleh udara,
air dan angin sehingga terendapkan ke permukaan.
Bagian bagian dari fosil ini adalah glabella bagian dahi pada kepala fosil, eyes
yang merupakan bagian mata fosil, test yang merupakan bagian keseluruhan dari
tubuh fosil, axis merupakan ruang pada bagian punggung fosil, pigydium merupakan
bagian belakang atau bagian pembuangan sisa metabolism organisme (fosil), thoraks
yang merupakan bagian dada pada tubuh fosil, dan cephalon merupakan keseluruhan
bagian kepala fosil dan mouth adalah mulut dari fosil.
Bentuk dari fosil ini adalah filmate, setelah ditetesi HCl fosil ini tidak bereaksi
maka dapat diketahui bahwa komposisi kimianya adalah silika (SiO2). Berdasarkan
SWG (skala waktu geologi) atau penarikan umur secara relative fosil ini tergolong
dalam zaman silur tengah ( 423-435 juta tahun yang lalu), karena komposisi
kimianya adalah silika maka dapat diidentifikasi bahwa lingkungan pengendapannya
yaitu di laut dalam atau bisa juga daratan.
Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan
pengendapannya,menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan antara
tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.

Referensi:
4
5
6

Penuntun praktikum paleontologi


http://geologikita.blogspot.com/2008/12/kegunaan-fosil.html
Buku lapangan HMG FT-UH

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

Keterangan :
1.Test
2.Oral opening
3.Umbilicus
Ventral

Dorsal

Samping

4.Aperture
5.Calix

No. Sampel

: 05

No. Peraga

: 157

Family

: Porpitesidae

Genus

: Porpites

Spesies

: Porpites porpita L.

Proses Pemfosilan

: permineralisasi

Bentuk

: Plate

Komposis Kimia

: Karbonat (CaCO3)

Umur

: Silur tengah (sekitar 423-435 juta tahun yang lalu)

Lingkungan Pengendapan

: Laut dangkal

Keterangan

Berdasarkan cirri-ciri fisiknya maka fosil ini tergolong dalam family


Porpitesidae , genus Porpites dan spesies Porpites porpita L.
Proses pemfosilan fosil ini dimulai dari organisme mati dan terhindar dari
bakteri

pembusuk

dan

organisme

pemakan

bangkai

yang

kemudian

tertranspotasikan yaitu terbawa oleh media geologi berupa air, angin, dan lain-lain
yang dapat mengubah bentuk dan kedudukannya. Kemudian fosil ini akan
terendapkan pada daerah yang lebih rendah berupa cekungan. Setelah itu akan
terakumulasikan yaitu tertutupi oleh lapisan-lapisan batuan sedimen pada tempat
asalnya yakni berupa cekungan, yang stabil. kemudian mengalami leaching yakni
proses pencucian fosil sehingga material yang tidak resisten tergantikan oleh
material yang lebih resisten. Kemudian mineral tersebut menjadi lebih kompak yang
kemudian mengalami pemadatan (kompaksi) yang dilanjutkan proses litifikasi yakni
permineralisasi yaitu sebagian mineralnya digantikan oleh mineral lain, sehingga
terlitifikasi menjadi batu (fosil). Fosil ke permukaan dipengaruhi oleh gaya endogen
berupa tektonik, mengakibatkan fosil yang awalnya berada pada laut dangkal
menjadi daratan. tetapi fosil tersebut masih tertutup oleh lapisan-lapisan sedimen,
seiring berjalannya waktu terjadi proses eksogen seperti pelapukan dan erosi

sehinggah lama- kelamaan lapisan-lapisan sedimen akan habis terkikis oleh


udara,air dan angin sehingga terendapkan ke permukaan.
Fosil ini memiliki bagian-bagian diantaranya, test yang merupakan
kenampakan seluruh bagian fosil, oral pening yang merupakan bagian luar dari fosil
ini, umbilicus merupakan bagian tengah yang merupakan tempat pembuangan
kotoran, aperture merupakan bagian mulut fosil. Calix yaitu garis tubuh pada fosil.
Bentuk dari fosil ini adalah plate, setelah ditetesi HCl fosil ini bereaksi maka
dapat diketahui bahwa komposisi kimianya adalah karbonat (CaCO3). Berdasarkan
SWG (skala waktu geologi) atau penarikan umur secara relative fosil ini tergolong
dalam zaman silur tengah ( 423-435 juta tahun yang lalu), karena komposisi
kimianya

adalah

karbonat

maka

dapat

diidentifikasi

bahwa

lingkungan

pengendapannya yaitu di laut dangkal.


Kegunaan dari fosil ini adalah untuk mengetahui lingkungan
pengendapannya,menentukan umur relatif batuan, menentukan korelasi batuan
antara tempat yang satu dengan tempat lain, dan mengetahui evolusi makhluk hidup.
Referensi:
1. Penuntun praktikum paleontologi
2. http://geologikita.blogspot.com/2008/12/kegunaan-fosil.html
3. Buku lapangan HMG FT-UH

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI
Nama : Nurbaeti

Acara

:Proses Pemfosilan

NIM

Hari/tgl.

: Senin 16 Februari 2015

: D611 14 010

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa:
2

fosil adalah sisa kehidupan masa lampau baik berupa bagian-bagian tubuh atau
berupa jejak yang telah mengalami proses pembatuan dan terawetkan secara

alami dan memilik umur lebih dari 10.000 tahun.


Agar dapat dikatakan fosil, maka maka harus memenuhi beberapa syarat yaitu
organisme

mempunyai

pengawetan, terbebas

bagian
dari

tubuh
bakteri

yang

keras,

pembusuk, terjadi

mengalami
secara

alamiah, mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit dan umurnya
4

berusia lebih dari 10.000 tahun yang lalu.


Fosil dapat terbentuk melalui beberapa proses yaitu petrifikasi ,karbonisasi ,
mold dan cast, pengawetan, replacement , rekristalisasi, mineralisasi, bekas
gigitan , dan koprolit.

4.2 Saran
Saran saya yaitu sebaiknya disediakan alat peraga fosil yang lengkap agar
praktikan lebih banyak mengetahui informasi mengenai jenis fosil serta saran

saya bagi asisten yakni sebaiknya asisten jangan terlalu menampilkan sikap yang
kasa agar praktikan tidak tertekan dalam melakukan praktikum.