You are on page 1of 11

(No.

1) Pengertian Hukum Menurut Para Ahli Hukum


1. Plato, dilukiskan dalam bukunya Republik. Hukum adalah sistem peraturan-peraturan yang teratur
dan tersusun baik yang mengikat masyarakat.
2. Aristoteles, hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat
tetapi juga hakim. Undang-undang adalah sesuatu yang berbeda dari bentuk dan isi konstitusi;
karena kedudukan itulah undang-undang mengawasi hakim dalam melaksanakan jabatannya dalam
menghukum orang-orang yang bersalah.
3. Austin, hukum adalah sebagai peraturan yang diadakan untuk memberi bimbingan kepada makhluk
yang berakal oleh makhluk yang berakal yang berkuasa atasnya (Friedmann, 1993: 149).
4. Bellfoid, hukum yang berlaku di suatu masyarakat mengatur tata tertib masyarakat itu didasarkan
atas kekuasaan yang ada pada masyarakat.
5. Mr. E.M. Mayers, hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan ditinjau
kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman penguasa-penguasa
negara dalam melakukan tugasnya.
6. Duguit, hukum adalah tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang daya penggunaannya
pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama
terhadap orang yang melanggar peraturan itu.
7. Immanuel Kant, hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak dari orang
yang satu dapat menyesuaikan dengan kehendak bebas dari orang lain memenuhi peraturan hukum
tentang Kemerdekaan.
8. Van Kant, hukum adalah serumpun peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang diadakan
untuk mengatur melindungi kepentingan orang dalam masyarakat.
9. Van Apeldoorn, hukum adalah gejala sosial tidak ada masyarakat yang tidak mengenal hukum
maka hukum itu menjadi suatu aspek kebudayaan yaitu agama, kesusilaan, adat istiadat, dan
kebiasaan.
10. S.M. Amir, S.H.: hukum adalah peraturan, kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari normanorma dan sanksi-sanksi.
11. E. Utrecht, menyebutkan: hukum adalah himpunan petunjuk hidup perintah dan larangan yang
mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan seharusnya ditaati oleh seluruh anggota
masyarakat yang bersangkutan, oleh karena itu pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat
menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa itu.
12. M.H. Tirtaamidjata, S.H., bahwa hukum adalah semua aturan (norma) yang harus dituruti dalam
tingkah laku tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian
jika melanggar aturan-aturan itu akan membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan
kehilangan kemerdekaannya, didenda dan sebagainya.
13. J.T.C. Sumorangkir, S.H. dan Woerjo Sastropranoto, S.H. bahwa hukum itu ialah peraturanperaturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan
masyarakat, yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap
peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukuman.

14. Soerojo Wignjodipoero, S.H. hukum adalah himpunan peraturan-peraturan hidup yang bersifat
memaksa, berisikan suatu perintah larangan atau izin untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu atau
dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.
15. Dr. Soejono Dirdjosisworo, S.H. menyebutkan aneka arti hukum yang meliputi: (1) hukum dalam
arti ketentuan penguasa (undang-udang, keputusan hakim dan sebagainya), (2) hukum dalam arti
petugas-petugas-nya (penegak hukum), (3) hukum dalam arti sikap tindak, (4) hukum dalam arti
sistem kaidah, (5) hukum dalam arti jalinan nilai (tujuan hukum), (6) hukum dalam arti tata hukum, (7)
hukum dalam arti ilmu hukum, (8) hukum dalam arti disiplin hukum.

( No. 2) TATA HUKUM INDONESIA


Tata hukum Indonesia ditetapkan oleh masyarakat hukum Indonesia, yaitu Negara Indonesia.
Oleh sebab itu tata hukum Indonesia baru ada setelah lahirnya Negara Indonesia yaitu tanggal
17 Agustus 1945. Pada saat berdirinya Negara Indonesia dibentuk tata hukum Indonesia, hal
tersebut dinyatakan dalam:
-

Proklamasi Kemerdekaan : Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan

kemerdekaan Indonesia.
-

Pembukaan UUD 1945

: Kemudian daripada itu..disusunlah kemerdekaan

kebangsaan Indonesia itu dalam suatu susunan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia .
Kedua pernyataan tersebut mengandung arti bahwa:
-

Menjadikan Indonesia suatu negara yang merdeka.

Penetapan tata hukum Indonesia secara tertulis yaitu dalam suatu Undang-Undang Dasar

Negara.
Undang-Undang Dasar hanya memuat ketentuan-ketentuan dasar yang merupakan kerangka
dari tata hukum Indonesia. Masih banyak ketentuan-ketentuan yang perlu diselenggarakan lebih
lanjut dalam bentuk Undang-Undang dan peraturan. Sebagaimana disebutkan dalama Pasal II
Aturan Peralihan UUD 1945 yaitu Segala badan negara dan peraturan yang ada masih
langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini,
mengandung arti bahwa Aturan Peralihan tersebut merupakan hukum transisi dari tata hukum
yang ada sebelum Proklamasi (tata hukum Belanda) yang akan tetap berlaku sampai ada
penggantinya. Sambil mengisi kemerdekaan maka satu persatu tata hukum Belanda tersebut
diganti, dengan pertimbangan bahwa penggantian tersebut akan memakan waktu yang lama dan
memerlukan ahli-ahli hukum yang berpengalaman untuk mengadakan penelitian yang mendalam
sehubungan dengan banyaknya suku bangsa dan golongan, dimana suku bangsa dan golongan

tersebut masing-masing mempunyai kebutuhan-kebutuhan hukum yang berlainan, serta


mendiami beribu-ribu kepulauan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kekosongan hukum, yang dapat berakibat orang dapat berbuat apa saja
dan tidak dapat dihukum sehingga akan menimbulkan kekacauan.
BENTUK HUKUM

Hukum pidana saling berhubungan dengan Hukum Acara Pidana dan saling menentukan
satu sama lain, karena hukum pidana tidak akan dapat diterapkan tanpa adanya hukum acara
pidana. Sebaliknya jika tidak ada hukum pidana, hukum acara pidana tidak berfungsi.
Hukum keluarga berhubungan dan saling menentukan dengan hukum waris. Agar harta
kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia dapat dibagikan kepada
ahli warisnya, beberapa bagian, dan apa kewajibannya ditentukan oleh hukum waris.

(No. 3) Perkembangan Politik Hukum

1.

2.

Dilihat dari perubahan masyarakat karena pengaruh hukum, maka kajian ini sudah
menyentuh sudut pandang Politik Hukum Nasional. Menurut Bellefroid politik hukum
adalah suatu disiplin ilmu hukum yang mengatur tentang cara bagaimana merubah ius
constitutum menjadi ius constituendum, atau menciptakan hukum baru untuk mencapai
tujuan mereka. Selanjutnya kegiatan politik hukum meliputi mengganti hukum dan
menciptakan hukum baru karena adanya kepentingan yang mendasar untuk dilakukan
perubahan sosial dengan membuat suatu regeling (peraturan) bukan beschiking (penetapan).
Dalam kajian politik hukum dengan sendirinya akan memperhatikan fungsi hukum,
seperti yang disebutkan oleh Roscou Pond:
Law as a tool of social control, yaitu hukum sebagai alat pengendali masyarakat. Artinya
hukum berfungsi sebagai penjaga tata tertib masyarakat. Apabila ada yang melanggar akan
dikenai sanksi sebagai wujud dari fungsi kontrol sosialnya. Dalam hal ini hukum berposisi di
belakang masyarakat.
Law as a tool of social engineering, yaitu hukum sebagai alat untuk merubah masyarakat.
Dalam hal ini hukum berposisi berada didepan masyarakat, hukum membawa dan
menggerakkan masyarakat untuk berubah dan bergerak kearah yang telah ditentukan.
Selain kedua fungsi hukum tersebut di atas, oleh Muchsan ditambah dengan satu
fungsi lagi, yaitu sebagai law as a tool of social empowering, yaitu hukum berfungsi sebagai
yang memberdayakan masyarakat, agar masyarakat ikut berperan/ berpartisipasi dalam
pembangunan. Dalam hal ini hukum berposisi di dalam masyarakat.
Dalam politik hukum ada salah satu fungsi hukum yang menonjol, yaitu sebagai law as
a tool of social engineering. Artinya hukum sebagai produk politik hukum akan menjadi

sangat berpengaruh dalam perubahan masyarakat, sebab melalui hukum tersebut masyarakat
berubah secara menyeluruh pola perilakunya untuk menyesuaikan dengan ketentuan hukum
yang diberlakukan.
Hukum waris di Indonesia sejak dahulu sampai saat ini masih beraneka-ragam
bentuknya, masing-masing golongan penduduk tunduk kepada aturan-aturan hukum yang
berlaku kepadanya sesuai dengan ketentuan Pasal 163 IS Jo. Pasal 131 IS. Golongan
penduduk tersebut terdiri dari :
Golongan Eropa
Golongan Timur Asing
Golongan Bumi Putera.
Dan untuk hukum waris positif atau hukum waris yang sedang berlaku di Indonesia
terbagi menjadi 3 macam hukum waris. Hukum waris tersebut adalah :
Hukum waris adat.
Hukum waris Islam.
Hukum waris BW/ perdata.
Dalam pemakaian hukum waris di setiap golongan-golongan tersebut diberlakukan
berbeda-beda, hal ini dapat dilihat sebagai berikut :
1. Golongan Eropa : menggunakan hukum waris BW/ perdata.
2. Golongan Timur Asing :
- Cina : menggunakan hukum waris BW/ perdata.
- Bukan : Cina menggunakan hukum waris adat.
3. Golongan bumi putera : menggunakan hukum waris adat/ hukum waris Islam.
Dasar hukumnya dan juga dapat diambil beberapa teaching point yaitu :
1. Secara normatif bahwa hukum waris adalah bagian dari tata hukum Hindia Belanda yang
berlaku di Indonesia.
2. Adanya ketentuan pasal 163 IS yo pasal 131 IS, yang dimana pasal-pasal tersebut mengatur
mengenai pergolongan rakyat dan pluralisme hukum. Dan juga dalam pasal-pasal ini politik
hukum ikut diberlakukan.
Atas pertimbangan secara historis sejak pemerintahan Hindia Belanda sampai dengan
sekarang ternyata terdapat pergeseran dan perbedaan arah politik hukumnya. Pada jaman
pemerintahan Hindia Belanda Politik Hukumnya terlihat pada adanya Politik Pergolongan
Rakyat, yang dibagi dalam 3 golongan yaitu: Golongan Eropa, Golongan Timur Asing, dan
Golongan Bumi Putera. Selanjutnya keadaan tersebut diteruskan oleh pemerintah Republik
Indonesia dengan sedikit-sedikit dan secara bertahap dilakukan perubahan ke arah hanya ada
1 golongan masyarakat yaitu Masyarakat Nasional.

Arah politik hukum dari pemerintah Republik Indonesia dalam menghadapi masih
adanya golongan rakyat tersebut dan adanya perkembangan kewenangan Pengadilan Negeri
maupun kewenangan Pengadilan Agama, khususnya di bidang Hukum Kewarisan yang
dihadapkan pada adanya Pemilihan Hukum, ternyata menggambarkan adanya cara berfikir
yang tidak lagi didasarkan pergolongan rakyat, akan tetapi berorientasi pada hak yang
dimiliki Pengadilan Negeri maupun oleh Pengadilan Agama. Dan di sisi lain apabila
menyinggung pembicaraan tentang Hukum Adat pandangan kita akan tertuju pada gambaran
adanya masyarakat setempat yang di Indonesia terdapat banyak sekali corak dan bentuk dari
masyarakat setempat dan terdapat pula adanya aneka ragam agama yang dianut oleh
masyarakat.

(No. 6) Pengaruh Globalisasi Hukum Bagi Hukum Positif Indonesia.


Hampir tidak ada ahli hukum yang tidak menyepakati bahwa hukum (selalu)
memerlukan pembaruan. Hal ini terjadi karena masyarakat selalu berubah, tidak statis.
Menurut Satjipto Rahardjo perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dapat
digolongkan kedalam dua kategori :[1]
1.

Perubahan yang lambat, yang inkremental, bertambah sedikit demi sedikit ;

2.

Perubahan dalam skala besar, perubahan revolusioner.


Terhadap perubahan yang lambat adaptasi antara hukum dan masyarakat cukup
dilakukan dengan melakukan perubahan kecil-kecilan pada tatanan peraturan yang ada,
baik dengan cara mengubah maupun menambahnya. Metoda penafsiran hukum dan
konstruksi hukum juga termasuk pada perlengkapan untuk melakukan adaptasi
terhadap perubahan-perubahan yang tidak berskala besar. Lain lagi persoalannya bila
perubahan itu bersifat atau berskala besar. Pembaruan dengan cara kecil-kecilan seperti
di atas tidak mungkin lagi cukup untuk mengatasinya. Penyesuaian harus dilakukan
secara revolusioner sebagaimana ditempuh oleh negara-negara Eropa ketika mereka
memilih peradaban civil society (masyarakat sipil). Soetandyo Wignjosoebroto dalam
artikel

berjudul

Pembaruan Hukum

Masyarakat Indonesia Baru

membedakan

pembaruan hukum dalam arti legal reform dengan pembaruan hukum dalam arti law
reform.[2]Pembaruan hukum dalam arti legal reform diperuntukkan bagi masyarakat
dimana hukum hanya sebagai subsistem dan berfungsi sebagai tool of social

enginering semata-mata. Hukum hanya menjadi bagian dari proses politik yang mungkin
juga progresif dan reformatif. Pembaruan hukum di sini kemudian hanya berarti sebagai
pembaruan undang-undang. Sebagai proses politik Soetandyo gamblang menyatakan
pembaruan hukum hanya melibatkan pemikiran-pemikiran kaum politisi atau juga sedikit
kaum elit profesional yang memiliki akses lobi. Indonesia menurut Soeytandyo termasuk
dalam kategori ini. Hal ini beda dengan pembaruan hukum dalam arti law reform. Dalam
bentuk ini hukum bukanlah urusan para hakim dan penegak hukum lainnya, tetapi juga
urusan publik secara umum. Mungkin saja telah dibuat dalam bentuk undang-undang,
tetapi undang-undang itu tidak bersifat sakral di atas segala-galanya. Dalam konsep ini
hukum adalah produk aktivitas politik rakyat yang berdaulat, yang digerakkan oleh
kepentingan rakyat yang berdaulat yang mungkin saja diilhami oleh kebutuhan ekonomi,
norma sosial, atau nilai-nilai ideal kultur rakyat itu sendiri.
Pengertian Soetandyo Wignjosoebroto tentang law reform ini tidaklah aneh bila
dikaitkan dengan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 48 Tahun 2009 Tentang
Kekuasaan Kehakiman. Pasal ini memberi amanat kepada hakim untuk menggali,
mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat. Frasa menggali, mengikuti, dan memahami memberi arti bahwa nilai-nilai
hukum dimaksud belum tampak di permukaan, tegasnya tidak dimuat dalam peraturan
perundang-undangan. Abdul Manan (2005 : 7) menerangkan ada dua pandangan
dominan berkaitan dengan perubahan (tentu dalam arti pembaruan) hukum yang
berlaku dalam kehidupan masyarakat dalam suatu negara, yaitu pandangan tradisional
dan pandangan modern. Dalam pandangan tradisional, masyarakat harus berubah
dahulu baru hukum datang mengaturnya. Sebaliknya dalam pandangan modern, agar
hukum dapat menampung segala perkembangan baru, hukum harus selalu berada
bersamaan dengan peristiwa yang terjadi. Abdul Manan juga menjelaskan bahwa dalam
bidang hukum yang netral perubahan harus ditujukan untuk melahirkan suatu kepastian
hukum, sebaliknya dalam bidang kehidupan pribadi hukum harus berfungsi sebagai
sarana sosial kontrol dalam kehidupan masyarakat. Membagi bidang hukum menjadi
bidang hukum netral dan non-netral ini juga ditempuh oleh Mochtar Kusumaatmadja.
Bidang hukum netral seperti hukum dalam bidang perekonomian untuk kepastian hukum
menurut Mochtar Kusumaatmadja dapat dilakukan pembaruan dalam bentuk unifikasi,

tetapi dalam bidang hukum non-netral seperti bidang hukum keluarga pembaruan dalam
bentuk unifikasi tidaklah mudah karena menyangkut kultur dan keyakinan masyarakat,
apalagi dalam masyarakat yang pluralistis seperti di Indonesia ini. [3]
Konsep globalisasi ini sesungguhnya baru masuk dalam kajian ilmu pengetahuan
pada tahun 1980-an, kali pertama dalam sosiologi yang dicetuskan oleh Ronald
Robertson dari University of Piitsburgh (Tilaar, 1997). Konsep ini kemudian terus
menggelinding bagaikan bola salju dan masuk ke segenap ruang-ruang kehidupan
manusia dan mempengaruhi perilakunya, sikap hidup dan nilai-nilai kehidupannya.
Proses globalisasi akan terus berlangsung, tanpa ada kendali siapapun tidak ada yang
mampu menghentikannya karena globalisasi adalah sebuah perubahan sosial yang
sudah direncanakan oleh negara-negara industri maju agar semua negara di dunia
terinkoporasi ke dalam masyarakat dunia yang tunggal, masyarakat yang penuh dengan
ketergantungan, homoginisasi, keterbukaan dan integrasi. Menurut Rosabeth Moss
Kantler (1995), menggambarkan globalisasi sebagai dunia yang tela menjadi pusat
perbelanjaan global, yang dalam gagasan dan produksinya tersedia di setiap tempat
pada saat yang sama. Sedangkan Emanuel Ritcher menyatakan bahwa globalisasi
adalah jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang
sebelumnya

terpencar-pencar

dan

terisolasi

dalam

planet

bumi

ke

dalam

ketergantungan yang saling menguntungkan dan persatuan dunia. Pendapat yag


berbeda disampaikan oleh Martin Albrow, globalisasi menyangkut seluruh proses
dimana penduduk dunia terinkorporasi kedalam masyarakat dunia yang tunggal,
masyarakat global.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa globalisasi adalah suatu
keadaan yang bersifat mendunia atau mondial karena kehidupan manusia dimotivasi
oleh kesadaran hidup dalam satu bumi atau dunia. Maka setiap manusia yang hidup
dalam era globalisasi sesunguhnya harius memiliki wawasan atau perspektif global
yaitu suatu wawasan yang bertolak dari anggapan bahwa pada saat sekarang telah
terjadi keadaan saling ketergantungan (interdependensi) di antara bangsa-bangsa dan
penduduk dunia terdapatnya kesamaan dalam kebutuhan dan perhatian di antara
penduduk

dunia,

terjadinya

perkembangan

bidang

transportasi,

komunikasi,

perekonomian yang bersifat global dan kebutuhan untuk melihat berbagai isu dan

kejadian dalam konteks global. Sehingga dalam konsep globalisasi merupakan proses
penerimaan suatu konsep-konse baru yang mendunia.
Contohnya.

1.

Undang-undang di bidang Hak Kekayaan Intelektual

2.

Undang-undang Kepailitan

3.

Undang-undang Money Laundring


(No. 5 )Pasal 163 Indische Staatsregeling (IS) adalah sebuah pasal yang mengatur
pembagian golongan dihadapan hukum pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Pasal ini
baru berlaku sejak Indische Staatsregelingmulai berlaku pada tahun 1926. Golongan masyarakat
Indonesia pada waktu itu, melalui pasal ini, dibagi menjadi 3 golongan yaitu Golongan Eropa,
Golongan Timur Asing, dan Golongan Indonesia (Bumiputera). [1]

Golongan Eropa[
Pendefinisian golongan Eropa di depan hukum positif Hindia Belanda disusun pada ayat 2.
Berdasarkan ayat ini, orang-orang Eropa, dihadapan hukum, adalah semua orang Belanda,
semua orang non-Belanda yang berasal dari Eropa, semua orang Jepang, dan anak sah dari
golongan Eropa yang diakui undang-undang. Didalam ayat ini, terlihat bahwa ada unsur asas
kebangsaan, yaitu orang Belanda dan orang Jepang. Hal ini diperlukan karena orang Jepang
berasal dari Asia. Orang Jepang dimasukkan ke dalam golongan Eropa karena pemerintah
Belanda mengadakan perjanjian dagang dengan pemerintah Jepang pada tahun 1896, dimana
salah satu perjanjiannya memuat bahwa seluruh orang Jepang dipersamakan kedudukannya
dengan orang Eropa. Selain asas kebangsaan, asas keturunan juga menentukan masuk atau
tidaknya seseorang dalam golongan ini.

Golongan Indonesia
Pendefinisan golongan Indonesia ditemukan pada ayat 3. Definisi golongan Indonesia dari ayat
ini adalah orang-orang Indonesia asli (pribumi) atau golongan lain yang meleburkan diri.
Golongan lain yang meleburkan diri adalah orang-orang bukan Indonesia asli, namun menjalani
kehidupan meniru kehidupan orang pribumi dengan meninggalkan hukum asalnya. Wanita
golongan lain yang menikah dengan orang Indonesia asli juga termasuk dalam golongan
Indonesia asli.

Golongan Timur Asing


Perumusan golongan Timur Asing dilakukan secara negatif. Diatur dalam ayat 4, orang-orang
yang termasuk dalam golongan Timur Asing adalah golongan yang bukan termasuk dalam

golongan Eropa maupun golongan Indonesia. Ayat ini dibuat secara negatif untuk memastikan
tidak ada masyarakat yang terlewat dari penggolongan.

(No. 4) Berlakunya IS dengan sendirinya telah menghapus berlakunya RR.


Politik Hukum Pemerintahan hindia belanda pasa saat berlakunya IS dapat
dilihat dalam Pasal 163 IS dan 131 IS. pada Pasal 163 IS mengatur pembagian
golongan, yang pada intinya seluruh isinya dikutip dari Pasal 109 RR (baru).
Sedangakan Pasal 131 IS mengatur hukum yang berlaku bagi masing-masing
golongan tersebut. Adapun yang diatur dalam kedua pasal tersebut adalah
(dibawah ini bukan merupakan bunyi pasal melainkan kesimpulan dari bunyi
pasal tersebut):
Pasal 163 IS
Penduduk Hindia Belanda dibedakan atas tiga golongan, yakni :
1. Golongan Eropa
2. Golongan Bumi Putera
3. Golongan Timur Asing.

Pasal 131 IS meyatakan beberapa hal yakni :


1. Menghendaki supaya hukum itu ditulis tetap di dalam ordonansi.
2. Memberlakukan hukum belanda bagi warga negara belanda yang tinggal di
hindia belanda berdasarkan asas konkordansi.
3. Membuka kemungkinan untuk unifikasi hukum yakni menghendaki
penundukan bagi golongan bumiputra dan timur asing untuk tunduk
kepada hukum Eropa.
4. Memberlakukan dan menghormati hukum adat bagi golongan bumi putera
apabila masyarakat menghendaki demikian.
Pembagian golongan penghuni berdasarkan Pasal 163 IS sebenarnya untuk
menentukan sistem-sistem hukum yang berlaku bagi masing-masing golongan
sebagaimana tercantum dalam Pasal 131 IS.
Pasal 163 IS
Penduduk Hindia Belanda dibedakan atas tiga golongan, yakni :

1. Golongan Eropa
2. Golongan Bumi Putera
3. Golongan Timur Asing.
Diatas telah dijelaskan politik hukum pada masa penjajahan belanda, dibawah ini akan
dijelasakan politik hukum Indonesia setelah merdeka. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia
merdeka, setelah Indonesia merdeka bagaimanakah politik Hukum Indonesia. Untuk mengetahui
keberadaan politik hukum di Indonesia dapat dianalisa berdasarkan berlakunya UUD di
Indonesia. Setelah Indonesia merdekan sebagai bangsa yang lepas dari penjajahan,
maka sebagai dasar negara dibentuklah UUD 1945 yang mengatur kehidupan
bernegara dan berbangsa Indonesia. Undang-Undang Dasar yang diberlakukan
sampai sekarang ini adalah Undang-Undang Dasar 1945 menurut Dekrit
Presiden. Pada umumnya suatu negara mencantumkan politik hukum
negaranya di dalam Undang-Undang Dasar, tetapi ada juga negara yang
mencantumkan politik hukumnya di luar Undang-Undang Dasar. Bagi negara
yang tidak mencantumkan politik hukumnya di Undang-Undang Dasar
biasanya mencantumkan di dalam suatu bentuk ketentuan lain.
UUD 1945 yang berbatang tubuh 37 pasal tidak mencantumkan
tentang politik hukum Negara

Masa Indische Staatsregeling 1926-1942


Pada masa ini dibentuk Volksraad (Wakil Rakyat) yang mempunyai hak sebagai penasihat
raja dan ikut membuat undang-undang.Regerings Reglement diganti menjadi Indische
Staatsregerling . Is mulai berlaku pada tanggal 1 Januarin1926.
IS mencantumkan politik hukumnya dalam Pasal 131 yang seluruh isinya merupakan salinan
dari Pasal 75 RR Baru.
Dalam Pasal 131 IS dinyatakan ada tiga golongan penduduk yaitu:
- Golongan Eropa
- Golongan Bumiputera
- Golongan Timur Asing
Penghuni Hindia Belanda yang termasuk golongan-golongan itu ditetapkan dalam Pasal 163
IS yang dikutip dari pasal 109 RR Baru.
Tata Urutan Perundang-Undangan Menurut Sistem Hukum Belanda
- Gondwet (Konstitusi) kerajaan Belanda.
- Wet (UU) dikeluarkan oleh Raja dan Parlemen.
Koniklijke Besluit dibuat oleh raja.
- Ordonantie dibuat oleh Gubernur Jendral bersama Dewan Hindia (Raad van Indie) dan DPR
Hindia Belanda (Volksraad)
- Regering Verordening (Peraturan Pemerintah) dibuat oleh Gubernur Jendral bersama Dewan
Hindia.
Proses Pelaksanaan Politik Hukumu Pemerintah Penjajah Belanda

a.
1.
2.
3.
4.

Hukum yang berlaku bagi golongan Eropa


Aturan hukum yng berlaku berdasarkan 131 IS :
Hukum perdata materil berbentuk tertulis pada BW dan Wvk.
Hukum pidana materil ada pada WvS
Hukumacara perdata diatur dalam Reglement of de Burgerlijke Recht Verordering (Jawa dan
Madura).
Hukum acara pidana diatur dalam reglement of de strafordering (Mulai berlaku: 1 Januari
1918)
Susunan Peradilan Jawa dan Madura:
Resedentie Gerecht
Raad van Justie
Hooge Rechtshop
Peradian luar Jawa dan Madura (Recht Reglement Buitengewesten).

b. Hukum yang berlaku bagi golongan Indonesia


Aturan yang diatur dalam 131 IS/S/PS 75 RR (baru) 1 Januari 1920 terdiri dari:
- Hukum perdata materil : Hukum perdata ada dalam bentuk tidak tertulis.
- Hukum pidana materil : WvS sejak tahun 1918 berdasarkan S 1915 : 732
- Hukum acara perdata (Jawa dan Madura) : diatur dalam Inlands Reglement (IR).
- Hukum acar pidana (dijadikan satu buku dengan hukum acara perdata dimuat dalam HIR,
berlaku berdasarkan S: 1941 tanggal 21-2-1941
Susunan peradlan:
1. Distrik gerecht (kewedanaan)
2. Regentschaps gerecht
3. Lanraad (kabupaten dan kota-kota lainyang diperlukanadanya peradilan ini.
c. Hukum yang berlaku bagi golongan Timur Asing
Berdasarka pasal 11 AB, mulai berlaku hukum perdata dan pidana adapt karena disamakan
dengan orang Indonesia.
Melalui 1855: 79 (Jawa dan Madura) berlaku hukum perdata Eropa kecuali hukum keluarga
dan waris tanpa wasiat.
Tahun 1917 untuk golongan Timur Asing Cina berlau seluruh hukum perdata Eropa setelah S
1855: 79 dicabut, juga berlaku untuk bukan Cina.
Hukum Pidan materil WvS sejak 1918
Hukum acara tidak diatur khusus kadang-kadang diguakan peradilan Eropa terkadang
Bumiputera.
Susunan peradilan:
1. Pengadila Swaprja
2. Pengadila Agama
3. Peradilan Militer.