You are on page 1of 15

Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kota Batu

A. Latar Belakang
B. Isu Strategis Pengembangan Kepariwisataan Kota Batu
1. Peran Kebijakan Pengembangan Pariwisata
Secara umum kebijakan pengembangan pariwisata

Malang

Raya

merupakan bagian dari kebijakan pengembangan pariwisata Jawa Timur.


Berdasarkan Undang-undang no. 25 tahun 2004 tentang Perencanaan Nasional
diisyaratkan bahwa daerah memiliki kewenangan dalam pembangunan daerah
termasuk pembangunan dan pengembangan pariwisata yang secara hirarkis harus
berada dalam kerangka perencanaan skala propinsi dan nasional. Provinsi Jawa
Timur memiliki potensi besar dibidang pariwisata. Kebijakan pengembangan
pariwisata di Malang Raya meliputi kebijakan pengembangan pariwisata yang
dilakukan masing-masing institusi pemerintah Kabupaten Malang, Kota Malang,
maupun Kota Batu yang dituangkan dalam bentuk produk hukum daerah masingmasing. Namun berdasarkan data di lapangan berbagai kebijakan pengembangan
pariwisata tersebut belum tertuang dalam bentuk dokumen bersama, maupun dalam
bentuk Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA). Yang ada
barulah produk-produk hukum pengembangan kepariwisataan yang bersifat parsial
dan sering berubah-ubah (inkosisten).
2. Implementasi
Kerjasama
Pengembangan

Pariwisata

Malang

Raya

Dalam implementasi pengembangan pariwisata antar daerah di kawasan Malang


Raya dapat dilihat kondisi sebagai berikut:
a. Belum adanya dokumen resmi tentang kerjasama pengembangan kawasan
pariwisata Malang Raya, hal tersebut dapat diketahui dari RIPPDA Kabupaten
Malang 1995-2005 maupun draft RIPPDA yang baru sama sekali tidak
menyinggung pengembangan pariwisata kawasan Malang Raya, bahkan untuk
pemerintah Kota Malang dan pemerintah Kota Batu sama sekali belum
mempunyai/ memproses RIPPDA.
b. Kerjasama pengembangan pariwisata antar daerah di Malang Raya pada
umumnya masih bersifat wacana dan konsep yang telah dipahami bahwa
kerjasama dalam rangka pengembangan pariwisata akan berpengaruh terhadap
pengembangan ekonomi masing-masing daerah. Akan tetapi realisasi dari
wacana tersebut belum pernah ada dalam bentuk kerjasama yang konkret.
c. Kebijakan antar Pemerintah Daerah tidak konsisten dan bersifat parsial hal
tersebut dibuktikan dari diskresi kebijakan yang dilakukan antar ketiga Kepala

Daerah, yaitu Bupati Malang, Walikota Malang, dan Walikota Batu tentang
pengembangan dan komersialisasi lapangan udara Abdurrahman Saleh, serta
pembangunan lintas timur Malang Raya. Kesepakatan yang pernah dibuat telah
berubah dikarenakan tendensi kepentingan yang tidak sama antar Pemerintah
Daerah. Sedangkan kebijakan yang bersifat parsial dapat dilihat dari kerjasama
pemanfaatan sumber air Wendit untuk kepentingan PD. Jasa Tirta Kota Malang
melalui PD. Jaya Yasa Kabupaten Malang. Pihak pengelola Wendit merasa tidak
mendapatkan keuntungan sama sekali dari kerjasama tersebut karena
pendapatan pemanfaatan sumber air hanya masuk kas pemerintah Kabupaten
Malang dan pemerintah Kota Malang. Hal tersebut menyebabkan taman rekreasi
tidak memproleh pembagian keuntungan dan menyebabkan taman rekreasi
tersebut tidak terurus.
d. Kurangnya pemahaman antar instansi tentang kerjasama pengembangan wisata
Malang Raya dan berdasar pengamatan hanya dipahami sebatas wacana
kerjasama untuk mengembangkan pariwisata antar daerah. Sebagai contoh tidak
dapat beroperasinya kawasan rekreasi Songgoriti, karena tingginya egokepentingan masing-masing pihak. Kerjasama masih terkendala egoisme daerah
dan egoisme instansi. Ide maupun ajakan untuk melakukan kerjasama
pengembangan pariwisata yang ditawarkan salah satu Pemerintah Daerah
dikawasan Malang Raya tidak pernah dapat dilaksanakan.
C. Data Penunjang
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 tentang
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3419);
c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
d. Undang-Undang
(Lembaran

Nomor

Negara

26

Tahun

Republik

2007

Indonesia

tentang
Tahun

Penataan
2007

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

Ruang

Nomor

68,

e. Visi dan Misi RPJMD Kota Batu


VISI
TAHUN 2012-2017
KOTA BATU SENTRA PERTANIAN ORGANIK BERBASIS
KEPARIWASATAAN INTERNASIONAL
Ditunjang Oleh Pendidikan Yang Tepatguna dan Berdaya Saing Ditopang
Sumberdaya (Alam, Manusia Dan Budaya) Yang Tangguh Diselenggarakan Oleh
Pemerintahan Yang Baik, Kreatif, Inovatif, Dijiwai Oleh Keimanan Dan Ketaqwaan
Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
MISI
TAHUN 2012-2017
1. Peningkatan Kualitas Hidup Antar Umat Beragama
2. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan
3. Mengembangkan Pertanian Organik dan Perdagangan Hasil Pertanian Organik
4. Meningkatkan Posisi Peran Dari Kota Sentra Pariwisata Menjadi Kota
Kepariwisataan Internasional
5. Optimalisasi Pemerintahan Daerah
6. Peningkatan Kualitas Pendidik Dan Lembaga Pendidikan
7. Peningkatan Kualitas Kesehatan
8. Pengembangan Infrastuktur (Sektor Fisik) Khususnya Perkantoran
Pemerintah , Fasilitas Publik, Prasarana Dan Sarana Lalu Lintas
9. Meningkatkan Penyelenggaraan Pemerintah Desa, Guna Peningkatkan
Pelayanan Kepada Masyarakat

10. Menciptakan Stabilitas Dan Kehidupan Politik Di Kota Batu Yang Harmonis
Dan Demokratis
11. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Koperasi Dan UKM
f. Visi dan Misi Kepengelolaan Kampung Wisata Kungkuk (KWK)
Visi
Terwujudnya Kampung Wisata yang maju, yang didukung oleh alam yang
lestari dan budaya yang luhur serta mengedapankan prinsip pemberdayaan ekonomi
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Misi
1. Mengoptimalkan aneka potensi pariwisata agar mempunyai nilai tawar dan nilai jual
yang tinggi
2. Mengupayakan usaha pertanian yang mendukung pariwisata
3. Mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat
4. Meningkatkan efek ekonomi dan pariwisata untuk masyarakat

D. Tujuan RIPPDA dan Rencana Pengembangan KWK


a. Azas, Tujuan dan Sasaran
RIPP sebagai bagian integral dari pengembangan pariwisata nasional dan
pembangunan daerah berazaskan :
a. manfaat, yaitu pemanfaatan potensi daerah untuk kegiatan
kepariwisataan di daerah secara optimal sehingga berdaya guna dan
berhasil guna;
b. pelestarian, yaitu melestarikan budaya daerah dan kekayaan alam
sebagai daya tarik wisata;
c. keterpaduan, yaitu menciptakan pengaturan semua kepentingan
kepariwisataan demi keselarasan, keserasian dan keseimbangan;
d. berkelanjutan, yaitu upaya menegakkan kelestarian dan keadaan alam,
budaya dan sumber daya yang dimanfaatkan agar kepentingan

kehidupan kepariwisataan dapat dilakukan dalam wadah yang cukup


memadai; dan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, yaitu penerapan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi yang tepat untuk dapat mendukung
pembangunan kepariwisataan di daerah.
b. Tujuan umum RIPPDA
Pembangunan Nasional yang sedang dilaksanakan oleh Pemerintah
Republik Indonesia dewasa ini pada hakikatnya menyangkut berbagai aspek
kehidupan masyarakat baik fisik maupun non fisik.

Salah satu aspek

pembangunan yang penting adalah pengembangan dalam bidang ekonomi, dimana


kepariwisataan termasuk salah satu sektor pembangunan yang diharapkan dapat
menunjang laju pemerataan dibidang pengembangan ekonomi Indonesia, melalui
berbagai aspek yang terkandung di dalamnya seperti penerimaan devisa,
pemerataan pendapatan ekonomi rakyat, memperluas kesempatan kerja dan
bahkan pariwisata saat ini dibebani pula satu pendekatan ekonomi dalam turut
serta mengentaskan kemiskinan (Pro Poor Tourism).
Dengan

demikian

sebagai

pendorong

laju

pembangunan

secara

berkesinambungan, kepariwisataan dibebani dua sasaran yaitu sasaran dalam


sosio-ekonomi dan sosio-budaya. Sebagai sasaran sosio-ekonomi, pariwisata
berfungsi sebagai penerimaan devisa, pemerataan pendapatan masyarakat, dan
pemerataan lapangan kerja, sedangkan sasaran sosio-budaya mendorong
terpeliharanya kebudayaan nasional di daerah tujuan wisata baik yang bersifat
material maupun inmaterial, dengan demikian usaha pembangunan kepariwisataan
dan kebudayaan terdapat kaitan yang kuat satu sama lain.
Pembangunan kepariwisataan Indonesia sebagai bagian integral dari
pembangunan nasional dilaksanakan secara berkelanjutan bertujuan untuk turut
mewujudkan peningkatan kepribadian dan kemampuan manusia dan masyarakat
Indonesia dengan memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta
memperhatikan

tantangan

perkembangan

global.

Melalui

pembangunan

kepariwisataan yang dilakukan secara komprehensif dan integral dengan


memanfaatkan kekayaan sumber daya alam, budaya dan kondisi geografis secara
arif, maka akan tercipta kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Disamping itu secara implisit pembangunan pariwisata juga diharapkan


mampu mendorong pembangunan daerah yang diarahkan pada peningkatan
kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah dengan mengurangi kesenjangan
antar wilayah serta mendorong pemanfaatan potensi dan kapasitas masing-masing
daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dapat
membangun Pariwisata nusantara dalam memupuk persatuan dan cinta tanah air.
Pembangunan pariwisata diperlukan konsep dan strategi yang jelas. Dalam
UndangUndang no 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada pasal 8
perencanaan pengembangan kepariwisataan dapat diatur melalui rencana induk
pembangunan kepariwisataan. Dalam pasal 8 tersebut dijelaskan bahwa
pembangunan

kepariwisataan

dilakukan

berdasarkan

rencana

induk

pembangunan kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan


kepariwisataan nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi,
dan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. Artinya, ada
keterkaitan antara UU no 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan dengan rencana
induk

pengembangan

kepariwisatan

di

tingkatan

provinsi

ataupun

kabupaten/kota.
Saling keterkaitan dokumen pengembangan tersebut adalah jika pada
tingkat nasional pengembangan dan pembangunan kepariwisataan diatur dengan
UU no 10 tahun 2009: Kepariwisataan, RPJP/RPJM dan RIPPNAS. Destinasi
provinsi diatur melalui RIPPDA Provinsi, destinasi kabupaten/kota melalui
RIPDA Kabupaten/kota. Sedangkan destinasi di tingkat kawasan diatur melalui
rencana induk pengembangan kawasan dan di level daya tarik wisata diatur
melalui rencana tapak kawasan dan desain teknis.
Maksud dan Tujuan Kegiatan
Adapun maksud dari kegiatan ini adalah untuk:
1. Menyatukan pandangan diantara sektor pembangunan lainnya di destinasi
pariwisata terhadap pentingnya pariwisata dalam konteks pembangunan
daerah

2. Menyusun

perencanaan

pengembangan

kepariwisataan

yang

mampu

meningkatkan kualitas kepariwisataan di kawasan


Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk:
1. Memberikan arah kebijakan dalam membangun kepariwisataan yang dilandasi
dengan kebijakan pembangunan kawasan.
2. Memberikan pedoman tentang perencanaan

yang dibutuhkan dalam

pembangunan pariwisata kawasan.


3. Memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pengembangan potensi
kebudayaan dan pariwisata kawasan yang meliputi daya tarik wisata, usaha
sarana wisata, usaha jasa wisata dan usaha lain pendukung pariwisata.
4. RIPPDA kawasan dapat menjadi acuan bagi seluruh stakeholder pariwisata di
kawasan agar dapat bekerjasama secara positif dalam mekanisme kerjasama
untuk pengembangan kepariwisataan.
Manfaat dan Sasaran Penyusunan RIPPDA
Manfaat dari kegiatan ini meliputi:
1. Dapat dijadikan sebagai alat pembinaan dan korporasi lintas sektoral yang
berdasarkan kepada asas manfaat dan kepentingan bersama.
2. Dapat

dijadikan

alat

monitoring

dan

evaluasi

terhadap

langkahlangkahpengembangan kepariwisataan di kawasan


3. Dapat dijadikan pedoman bagi para penanam modal untuk mengembangkan
kepariwisataan di kawasan
c. Tujuan dibuatnya RIPPDA Kota Batu
1. keadaan alam berupa flora dan fauna yang beraneka ragam jenisnya,
peninggalan sejarah dan purbakala (heritage), maupun seni dan budaya (living
culture) yang dimiliki Kota Batu, merupakan sumber daya dan sebagai modal
besar bagi usaha pengembangan kepariwisataan daerah;

2. Potensi kepariwisataan Kota Batu yang mulai berkembang harus dikelola dan
dikembangkan guna menunjang pembangunan daerah pada umumnya dan
pembangunan kepariwisataan pada khususnya yang tidak hanya mengutamakan
segi

segi finansial saja, melainkan juga segi

segi agama,

budaya,

pendidikan, lingkungan hidup serta ketentraman dan ketertiban;


3. Dalam rangka pengembangan potensi kepariwisataan yang terletak pada
kawasan hutan dan dataran tinggi, diperlukan langkah langkah pengaturan
yang mampu

mewujudkan

keterpaduan

dalam

penyelenggaraan

dan

mendorong upaya peningkatan kualitas obyek dan daya tarik wisata serta menjaga
kelestarian lingkungan hidup;
d. Tujuan Khusus KWK
1. Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat dusun Kungkuk, Desa Punten,
Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur melalui program Kampung
Wisata bedasarkan potensi intern dan esktern yang bersinergi dengan dusun
tersebut

sehingga

masyarakat

menjadi

daya

dan

kemandirian

dalam

mengembangkan ekonomi berbasis masyarakat.


2. Menerapkan metode pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui teori Ekonomi
Rakyat Investasi Masyarakat (ERIM).
3. Menerapkan metode perencanaan yang memadukan antara potensi wilayah dengan
objek wisata.
e. Strategi dan Arah Kebijakan
Di dalam pengembangan pariwisata, seluruh stakeholder yang akan
bergerak di bidang pariwisata perlu memahami isu-isu yang akan menjadi dasar
di dalam pengembangan pariwisata yang akan dilakukan. Sebaiknya sebelum
diputuskan untuk mengembangkan pariwisata, isu-isu tersebut dapat dijawab
secara objektif dan logis, sehingga usaha-usaha pengembangan yang akan
dilakukan akan membawa manfaat yang maksimal bagi wilayah dan masyarakat,
serta meminimalkan biaya dan dampak yang akan terjadi bila dilakukan
pengembangan pariwisata. Tata kelola kepariwisataan dapat dilihat pada abel berikut:

Pemahaman terhadap isu-isu akan membantu selumh pihak yang terlibat


menetapkan arah pembangunan kepariwisataan di daerah. Konsep perencanaan
pariwisata
berorientasi

dilakukan

dengan

pendekatan

yang

berkelanjutan,

inkremental,

sistem, komprehensif, terintegresi dan memperhatikan lingkungan,

dengan fokus untuk

pencapaian pembangunan berkelanjutan dan keterlibatan

masyarakat. Berdasarkan isu dan fenomena permasalan diatas maka ditetapkan 6

strategi dari setiap aspek, yaitu :


Struktur ruang,
Dari struktur ruang kota Batu ini memiliki batas batas yang harus ditaati. Seperti yang
tercantum dalam RTRW kota Batu bahwa ada porsi tersendiri pada setiap wilayah.
Pembangian dan pengelompokan tersebut memudahkan para Stakeholder terkait
untuk memahami dengan cepat potensi tiap daerah yang ada. Dengan ruang yang
terbatas dan lingkungan yang harus dijaga memerlukan kebijakan yang tepat dengan

memperhatikan dampak lingkungan sekitar.


Produk,
Strategi pada aspek produk ini meliputi tentang bagaimana cara membuat aset
menjadi daya tarik, kreasi produk wisata dan penciptaan inovasi produk sehingga
dapat memberikan nilai tambah bagi produk.
Membuat aset menjadi daya tarik dengan:
1. Interpretasi (cerita/pesan) yang memperkaya pengalaman berwisata
2. Partisipasi masyarakat Fokus pada kualitas dan keaslian

Mengkreasi produk wisata


Produk wisata adalah rangkaian komponen-komponen pariwisata yang memberikan
pengalaman perjalanan bagi wisatawan sejak ia meninggalkan rumah hingga kembali
ke rumahnya
Komponen-komponen tersebut meliputi:
1.
2.
3.
4.

objek dan daya tarik wisata,


sarana dan prasarana transportasi, akomodasi,
restoran atau rumah makan,
sarana informasi dan telekomunikasi, dan komponen amenitas lainnya

Pengembangan Ecotourism
Ecotourism adalah perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah alami sedemikian
sehingga melindungi lingkungan dan keberlanjutan kesejahteraan masyarakat
setempat (International Ecotourism Society 1991).

Pasar,
Kebutuhan pasar yang cukup besar pada kepariwisataan di Batu ini harus
diakomodir dengan baik. Manajemen sumberdaya alam maupun manusia harus sesuai
dengan besaran demand yang ada. Manajemen sumberdaya alam dapat dilakukan
dengan pengendalian hasil pertanian, perkebunan dan hasil hutan sehingga hasil
tersebut akan selalu terjaga keberlanjutannya untuk memenuhi permitaan wisatawan.
Sebagaimana Kota Batu terkenal dengan Agrowisata dan Ecotourismnya
kondisi tersebut sudah menjadikan Batu sebagai Brand Ecotourism yang dikenal
banyak masyarakat. Apabila dalam pemenuhan hasil dari sumberdaya alam tidak
memenuhi, strategi B dapat dilakukan dengan melakukan kemitraan dari daerah
penyuplai di sekitar kota Batu. Jalinan kemitraan tersebut juga harus terjaga dengan
baik agar ketika strategi B diterapkan tidak ada permasalahan yang muncul akibat
kesalahpahaman kerjasama.
Yang kedua yaitu, Sumberdaya manusia yang harus mampu mengimbangi
dinamika pariwisata Kota Batu. Pengembangan sumberdaya manusia dapat dilakukan
dengan pelatihan dan penyerahan bantuan teknis dari pemerintah. Hasil melimpah
yang diperoleh juga harus dapat mensejahterakan masyarakat kota Batu dan

khususnya pada Masyarakat Kungkuk.


Investasi,

Pengembangan investasi di Kawasan Wisata Kungkuk diperlukan jika dirasa kawasan


tersebut memerlukan cover akibat kekurangan capital. Investasi yang bersumber dari
lokal daerah sangat dianjurkan dan diperlukan dibandingkan investasi asing. Aspek
investasi ini sifatnya tidak mendesak dan hanya bersifat pendukung pengembangan

kawasan.
SDM,
Seperti yang sudah diuraikan diatasa bahwa SDM kawasan wisata dituntut mampu
beriringan sesuai dinamika pariwisata, sehingga diperlukan pelatihan dan bantuan
teknis dari pemerintah. Pemrakarsa dari pengembangan SDM disini dapat berasal dari
pemerintah maupun dari masyarakat sendiri. Pada kasusnya, Kawasan Wisata
Kungkuk mempunyai masyarakat yang sadar akan potensi mereka dan alam sekitar,

sehingga peran pemerintah disini hanya sebagai fasilitator masyarakat.


Kelembagaan.
Sisi kelembagaan disini berperan sebagai wadah bagi para aktor yang berperan dalam
pengembangan Kawasan Wisata Kungkuk. Kelembagaan mempunyai Visi Misi yang
berbeda beda namun tujuan akhirnya sama dan sejalan. Peran kelembagaan sangat
penting dalam pengambilan keputusan secara mufakat bersama sama dan juga dapat
mempercepat sekaligus mempermudah komunikasi secara vertikal dari masyarakat.

f. Kebijakan Pengembangan
Dalam menyusun kebijakan

pengembangan

Kawasan

Wisata

disini

berdasarkan pendekatan perencanaan pariwisatanya yaitu Pendekatan keberlanjutan,


maka kebijakan pengembangan dari Kawasan Wisata ini lebih terfokus pada
keberlanjutan lingkungan dan pengembangan potensi yang ada secara optimal. Aspekaspek perencanaan dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan memikirkan
dampak

lingkungan,

sumber

daya

&

ekonomi

dlm

jangka

panjang.

Mempertimbangkan komunitas yang kurang beruntung dan berjiwa partisipatif:


prosesnya dibuat kooperatif dan meningkatkan kerjasama untuk keuntungan bersama
dalam jangka panjang.
g. Program dan Indikator Kinerja
No
.
1.

Tujuan
Terwujudnya kawasan
wisata yang terintegrasi

Sasaran

Pengelola wisata

Indikator Kinerja
Sasaran
Terealisasinya sistem
manajemen kawasan
wisata Kungkuk

Tersusunnya rencana

2.

induk pengembangan

Pemda, dinas

pariwisata kawasan

pariwisata dan

Wisata Batu yang

masyarakat

Terciptanya RIPPDA Kota


Wisata Batu

dilandasi tata ruang


kawasan
Tersusunnya rencana
induk pengembangan
pariwisata kawasan yang

Terealisasinya konsep

didasarkan kepada
pendekatan wilayah
3.

pengembangan dengan
mempersatukan

Pemda, dinas
pariwisata dan
masyarakat

kekuatan dan karakter

pengembangan kawasan
wisata yang memiliki tema
berdasarkan karakter, tipe,
dan potensi yang dimiliki
masing-masing kawasan.

potensi pariwisata di
masing-masing wilayah
penghubungnya.
Terwujudnya
4.

diversifikasi produk

Pelaku usaha dan

Meningkatnya kuantitas

wisata yang didukung

pengelola kawsan

produk wisata

oleh terbentuknya
infrastruktur di kawasan.
5.
Tersusunnya strategi

Potensi wisata,

pemasaran seni budaya

kunjungan wisatawan,

dan kepariwisataan

dan event kesenian

Meningkatnya permintaan
terhadap pariwisata daerah

kawasan.
6.

Terciptanya kemitraan

Terwujudnya kerjasama
yang baik dalam

Pelaku usaha

pengembangan Kawasan

Terciptanya Produk

pemerintah dan
masyarakat

Wisata Kungkuk
7.

antara pelaku usaha,

Pelaku usaha dan

Meningkatnya kuantitas

pengelola kawasan

dan kualitas produk

unggulan Kawasan Wisata

unggulan Kawasan

Kungkuk

Wisata Kungkuk
8.
Terwujudnya kelestarian
lingkungan

Masyarakat dan

Meningkatnya kualitas

wisatawan

lingkungan

9.

Meningkatnya kontribusi
sektor pariwisata
Terwujudnya

bagipeningkatan

kesejahteraan
masyarakat dan

Masyarakat

pendapatan terutama
masyarakat golongan

meningkatkan PAD Kota

ekonomi menengah ke

Batu

bawah dan Peningkatan


Pendapatan Asli Daerah

Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pengembangan KWK


A. Faktor Internal
Dalam pengembangan suatu destinasi pariwisata seperti halnya KWK, pasti akan ditemukan
faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat. Faktor-faktor ini dapat ditemui baik
didalam internal organisasi maupun diluar organisasi. Faktor internal merupakan faktor-faktor
yang dapat ditemui didalam organisasi, organisasi yang dimaksud disini adalah mengelola
desa wisata yakni kepengelolaan KWK. Bedasarkan informasi dapat disimpulkan bahwa
faktor internal ini juga terdiri dari faktor pendukung dan penghambat. Berikut merupakan
penjelasan dari faktor pendukung dan penghambat pengembangan KWK :
1. Faktor Pendukung
a) Adanya perhatian dari pemerintah kota dan pemerintah pusat
Adanya KWK di Dusun Kungkuk ini mendapatkan perhatian dari berbagai pihak,
baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah Kota Batu. Wujud perhatian tersebut
dapat dilihat dari adanya bantuan dana maupun bantuan berupa fisik dari pemerintah
Kota Batu kepada Desa Punten. Pemerintah Kota Batu memberikan dana dari APBD
Tahun 2012 untuk memperluas fasilitas wisata di Desa Punten khususnya di KWK
serta pelatihan untuk meningkatkan kemampuan SDM di desa. Pemerintah Kota Batu
memberikan perhatian kepada KWK tidak hanya melalui bantuan dana saja.
Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kota Batu juga melakukan pendekatan
secara kekeluargaan mengajak masyarakat untuk melaksanakan lagi kegiatan
pariwisata di KWK. Sebab kunci utama dalam pengembangan KWK ini ada pada
masyarakat desa. Apabila masyarakat desa tidak memiliki keinginan dan niat untuk
berpartisipasi dalam pengembangkan kampungnya maka pengembangan KWK juga
tidak akan dapat berjalan walaupun mendapat bantuan dana.
Selain dari pemerintah Kota Batu, KWK juga mendapat perhatian dari Pemerintah
Pusat. Pemerintah Pusat telah memberikan persetujuan terhadapa proposal yang
diajukan oleh Desa Punten, dan akan memproses pencairan dana tersebut pada tahun
ini.
b) Adanya Pokdarwis dan Pengelolaan KWK
Pemerintah Desa Punten juga memegang peranan yang sangat penting dalam
pengembangan KWK. Oleh karena itu, pemerintah Desa Punten juga memberikan
kemudahan untuk pengembangan Kungkuk melalui adanya Pokdarwis dan
Pengelolaan KWK. Pokdarwis merupakan kepanjangan dari Kelompok Sadar Wisata.
Pokdarwis ini memiliki perana untuk menggali potensi-potensi yang ada di Desa.

Pokdarwis terdapat di setiap desa di Kota Batu untuk membangkitkan wisata di desa
demi menunjang terwujudnya Kota Batu sebagai sentra wisata yang diperhitungkan
ditingkat regional atau bahkan nasional. Pokdarwis ini dibantu oleh pengelola desa,
seperti pengelolaan KWK. Kepengelolaan KWK merupaka organisasi yang berkaitan
langsung dalam berjalannya proses wisata di Kungkuk.
2. Faktor Penghambat