You are on page 1of 56

1

Gambar 2.1. Prinsip kerja dari mesin pengepres genteng


Keterangan gambar :
1. Arah putaran belt
2. Pulley
3. Arah naik turun poros berulir
4. Arah putaran roda gigi
5. Cetakan atas
6. Belt
7. Motor listrik

A. Tuntutan Alat/Mesin Dari Sisi Calon Pengguna


Pada saat ini umumnya pembuat genteng masih menggunakan mesin yang
dioperasikan dengan cara manual. Pengepresan dilakukan dengan memutar handel
yang berada di atas cetakan yang dihubungkan dengan poros berulir sehingga
mengakibatkan naik dan turunnya cetakan.

Mesin tersebut masih memiliki ukuran yang cukup besar, dengan terbuat
dari logam maka berat mesin tersebut juga lumayan berat. Dengan terbuat dari
logam maka mesin tersebut cukup tahan lama. Karena masih manual maka mesin
ini menggunakan tenaga manusia untuk menggerakan cetakan naik atau turun.
Mesin pres yang ada ukurannya cukup besar sehingga untuk mengepres atau
menurunkan cetakan putarannya membutuhkan tenaga cukup besar dan
melelahkan.
Mesin pengepres genteng harus dapat mempermudah proses pengepresan.
Maka proses manual tersebut di ubah menjadi semi otomatis, disebut semi
otomatis karena masih membutuhkan tenaga manusia.
Adapun tuntutan-tuntutan dari alat tersebut antara lain :
1. ukuran mesin yang tidak terlalu besar.
2. untuk pengepresan tidak memerlukan tenaga manusia yang terlalu besar.
3. proses produksi menjadi lebih cepat, sehingga produksivitas meningkat.
4. mudah dalam penggunaan dan perawatannya.
B. Analisis Morfologi Mesin
Mesin pengepres genteng ini dirancang untuk mengepres dengan maksimal.
Proses pengepresan dilakukan dengan cara otomatis, yaitu dengan menggunakan
sistem kontrol. Mesin ini digerakkan oleh motor listrik 1 HP dengan transmisi
pulley dan roda gigi. Gerak putar dari motor listrik ditransmisikan ke pulley
penggerak, dan dengan v-belt putaran diteruskan ke pulley yang digerakkan dan
diteruskan oleh poros horisontal yang memutarkan roda gigi pinion. Roda gigi
pinion menggerakkan roda gigi hypoid. Dibagian tengah roda gigi hypoid tersebut

terdapat sebuah ulir dalam segi empat. Ulir dalam ini berpasangan dengan ulir luar
segi empat. Dengan adanya ulir luar dan ulir dalam segi empat tersebut, maka
gerak putar dari motor listrik diubah menjadi gerak lurus, yang nantinya akan
dimanfaatkan untuk proses pengepresan.
Untuk menggerakan cetakan agar bisa bergerak naik dan turun maka kita
perlu mengubah arah putaran dari motor listrik. Agar motor listrik dapat berputar
dua arah, maka perlu dibuatkan rangkaian listriknya. Dengan memanfaatkan dua
buah relay (magnetic contactor), maka kita bisa mengubah putaran motor listrik
ke kanan atau ke kiri. Selain relay juga diperlukan komponen lain seperti: timer,
push button (PB), limit switch (LS) dan kawat-kawat penghantar.
Secara garis besar pertimbangan dalam merancang alat ini berdasarkan pada :
1.
Secara teknis alat harus dapat dipertanggungjawabkan, dalam
hal ini alat harus :
a. Memiliki ukuran yang tidak terlalu besar sehingga tidak memakan
tempat.
b. Mudah dioperasikan sehingga memungkinkan digunakan oleh semua
orang.
2.

Secara ekonomi menguntungkan (ekonomis), hal ini terkait dalam :


a. Daya motor yang tidak terlalu besar sehingga dapat menekan penggunaan
listrik.
3. Secara sosial dapat diterima
Mesin pres ini menggunakan motor listrik sehingga tidak membutuhkan
tenaga manusia yang terlalu besar, walaupun menggunakan motor tetapi tidak
menimbulkan suara yang bising. Alat ini nantinya harus dapat diterima oleh
masyarakat dan menggantikan mesin pres genteng yang sudah ada di pasaran.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka spesifikasi yang dibuat harus memiliki

persyaratan yang terdiri dari dua kategori yakni keharusan dan keinginan. Berikut
ini adalah daftar spesifikasi dari alat yang dimaksud :
Tabel 2.1. Tuntutan Perancangan Mesin Pengepres Genteng
Tuntutan

Tingkat

No.

Persyaratan
Perancangan

Kebutuhan

1.

KINEMATIKA

Mekanismenya mudah beroperasi

2.

GEOMETRI

1. Panjang sekitar 1000mm

2. Lebar sekitar 500 mm

3. Tinggi bekisar 850mm

3.

ENERGI

1. Menggunakan tenaga motor

4.

MATERIAL

2. Dapat diganti tenaga penggerak lain


1. Mudah didapat

W
D

2. Terjangkau harganya

3. Baik mutunya

5. Sesuai dengan standar umum

6. Memiliki umur pakai yang panjang

7. Mempunyai kekuatan yang baik


1. Nyaman dalam penggunaan

D
D

2. Tidak bising

SINYAL

3. Mudah dioperasikan
1. Petunjuk pengoperasian mudah

D
D

7.

KESELAMATAN

dimengerti
1. Konstruksi harus kokoh

8.

PRODUKSI

2. Tidak bising
1. Dapat diproduksi bengkel kecil

D
W

2. Biaya produksi relatif rendah

3. Dapat dikembangkan kembali

5.

6.

ERGONOMI

9.

PERAWATAN

10.

TRANSPORTASI

1. Biaya perawatan murah

2. Suku cadang mudah didapat

3. Perawatan mudah dilakukan


1. Mudah dipindahkan

D
W

2. Tidak perlu alat khusus untuk

memindah

Keterangan :
1. Keharusan ( demands ) disingkat D, yaitu syarat mutlak yang harus
dimiliki mesin bila tidak terpenuhi maka mesin tidak diterima.
2. Keinginan ( Wishes ) disingkat W, yaitu syarat yang masih bisa
dipertimbangkan keberadaanya agar jika mungkin dapat dimiliki oleh
mesin yang dimaksud.

Secara fungsional alat ini memiliki komponen sebagai berikut :


1. Profil rangka mesin
2. Penggerak
3. Sistem Transmisi
4. Sistem pengepresan
5. Cetakan (pres genteng)
Dari data di atas maka didapat gambaran komponen yang akan membentuk
mesin pengepres genteng yang sedang dirancang. Dengan demikian maka dapat

disusun suatu skema klasifikasi yang disebut matriks morfologi, dan lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Tabel 2.2. Matriks Morfologi Mesin Pengepres Genteng
Varian yang mungkin

Sub
No.
Komponen

1.

(Besi C)

Besi Siku

Bahan rangka
(Pipa)

(Motor disel)

2.

penggerak
(Manual)

3.

Sistem
transmisi

4.

Sistem
pengepresan

5.

Cetakan
Baja cor

(Motor listrik)

Aluminium

6.

Transmisi
(Rantai)

(V belt)

Dari tabel matriks morfologi mesin pengepres genteng yang terpilih adalah
sebagai berikut:
1. Profil rangka

: profil L (besi siku)

2. Penggerak utama

: motor listrik

3. Sistem transmisi

: Roda gigi hypoid

4. Sistem pengepresan

: Poros berulir

5. Cetakan

: baja cor 270x360mm

6. Transmisi

: v-belt

Tabel 2.3. Tabel Spesifikasi Mesin Pres Genteng


No Nama Bagian
1. Motor listrik

Keterangan
1 HP

2.

1400 rpm
Bahan : Baja cor

Pulley ganda

Diameter : 2 dan 14

3.
4.

5.

Kerangka
Poros berulir

Poros pulley ganda

Bahan :
Besi siku dengan ukuran 50 x 50 x 5 mm
Bahan :

ST-42 dengan = 42 kg/mm2


Diameter : 39 mm
Bahan :
Mild Steel (ST-37) dengan

6.

Poros cetakan

Dudukan cetakan

Pegangan cetakan

Mild Steel (ST-37) dengan


Diameter : 20 mm

9.

Dudukan poros berulir

Mild Steel (ST-37) dengan


Diameter : 69 mm
Tinggi

C. Gambar Alat

= 42 kg/mm2

Diameter : 37 mm
Bahan :
Mild Steel (ST-37) dengan

8.

= 37 kg/mm2

Diameter: 30 mm
Bahan :
Mild Steel (ST-42) dengan

7.

: 37 mm

= 37 kg/mm2
= 37 kg/mm2

= 37 kg/mm2

Gambar 2.2. Mesin Pengepres Genteng


Keterangan gambar :
1. Motor listrik
2. Pulley ganda 14
3. Bearing
4. Poros berulir
5. Roda gigi hypoid
6. Bearing poros
7. Cetakan atas
8. Poros cetakan
9. Rangka
10. Pegangan Cetakan
Langkah-langkah pengoperasian pengepres genteng adalah sebagai berikut:
a. Jika saklar ON (gerak turun) ditekan maka motor akan berputar.
Putaran motor tersebut akan menggerakan pulley dan roda gigi
hypoid.

10

b. Roda gigi hypoid tersebut terbagi menjadi roda gigi vertikal dan
horisontal. Dalam roda gigi vertikal terdapat ulir dalam segi empat
yang tentu saja berpasangan dengan ulir luar segi empat. Saat roda
gigi vertikal berputar maka ulir dalam segi empat juga akan berputar,
sehingga ulir luar juga akan ikut berputar dan bergerak turun.
c. Jika ulir luar ini bergerak turun

maka cetakan bagian atas yang

diikatkan pada ujung poros ini akan ikut bergerak turun sampai
menyentuh permukaan cetakan bawah.
d. Pada cetakan bagian bawah terdapat LS sebagai pemutus arus listrik,
maka ketika cetakan atas dan bawah tergabung putaran motor sudah
terhenti,
e. Kemudian tekan tombol ON (gerak naik) sehingga motor akan
berputar berlawanan arah dan cetakan bergerak ke atas,
f. Namun sebelum cetakan naik sampai posisi maksimum maka arus
listrik akan terputus oleh LS kedua sehingga motor akan terhenti,
g. Atau bisa langsung dimatikan dengan tombol OFF. Kemudian cetakan
bagian bawah ditarik ke depan dan hasil cetakan bisa diambil.

D. Identifikasi Analisa Teknik yang Digunakan dalam Perancangan


1.

Teori Desain Perancangan

11

Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian dalam proses


pembuatan produk. Tahap perancangan tersebut dibuat keputusan-keputusan
penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang menyusulnya
(Dharmawan, 1999: 1). Sebelum sebuah produk dibuat terlebih dahulu
dilakukan proses perancangan yang nantinya menghasilkan sebuah gambar
skets atau gambar sederhana dari produk yang akan dibuat. Gambar skets
yang telah dibuat kemudian digambar kembali dengan aturan gambar
sehingga dapat dimengerti oleh semua orang yang ikut terlibat dalam proses
pembuatan produk tersebut. Gambar hasil perancangan adalah hasil akhir dari
proses perancangan dan sebuah produk dibuat setelah dibuat gambar-gambar
rancangannya dalam hal ini gambar kerja.
Perancangan dan pembuatan produk adalah dua kegiatan yang penting,
artinya rancangan hasil kerja perancang tidak ada gunanya jika rancangan
tersebut tidak dibuat; sebaliknya pembuat tidak dapat merealisasikan benda
teknik tanpa terlebih dahulu dibuat gambar rancangannya (Dharmawan,
1999:2). Mengenai gambar rancangan yang akan dikerjakan oleh pihak
produksi berupa gambar dua dimensi yang dicetak pada kertas dengan aturan
dan standar gambar kerja yang ada.
2. Sistem Mekanik
Sistem mekanik mesin pengepres genteng ini menggunakan sistem pres.
Pengepresan terjadi karena adanya gerak putar roda gigi yang akan
menggerakan poros berulir baik bergerak naik maupun turun. Karena poros

12

berulir terhubung dengan cetakan bagian atas maka cetakan akan ikut bergerak
jika poros juga bergerak.
3. Sistem Transmisi
Sistem transmisi mesin pengepres genteng ini menggunakan 2 buah
roda gigi yaitu roda gigi hypoid dan roda gigi pinion dan 2 buah pulley yang
berukuran masing-masing 2 inchi dan 14 inchi. Pulley tersebut digunakan
untuk meneruskan putaran motor listrik. Kemudian pulley tersebut terhubung
dengan poros transmisi yang akan menggerakan roda gigi.
4. Pemilihan bahan teknik
Dalam perancangan elemen mesin ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan, salah satunya adalah pemilihan jenis bahan yang akan
digunakan, sebab pemilihan bahan tersebut akan berpengaruh pada kekuatan
elemen dan umur mesin tersebut.
Klasifikasi bahan teknik menurut Beumer (1985:9) dapat dilihat pada Gambar
2.3. Klasifikasi Bahan Teknik.
Bahan Teknik

Besi Tempa

Logam

Non Logam

Ferro

Non Ferro

Baja

Besi Tuang

Gambar 2.3. Klasifikasi Bahan Teknik

13

Ada beberapa aspek yang menjadi bahan pertimbangan seperti yang


diungkapkan oleh Amstead (1995:15). Dalam pemilihan bahan antara lain:
a. Pertimbangan Sifat, meliputi:
1) Kekuatan
2) Kekerasan
3) Elastisitas
4) Keuletan
5) Daya tahan terhadap panas
6) Muai panas
7) Sifat kelistrikan
8) Berat jenis
9) Sifat kemagnetan
10) Daya tahan fatik
11) Daya tahan mulur
12) Sifat mampu dukung
13) Kondukivitas panas
b. Pertimbangan Ekonomi, antara lain:
1) Ketersediaan barang
2) Waktu perngerjaan
3) Biaya pengerjaan
4) Biaya penyambungan
5) Biaya pemesinan
6) Harga bahan

14

c. Pertimbangan Fabrikasi, meliputi:


1) Mampu cetak
2) Mampu mesin
3) Mampu tempa
4) Mampu tuang
5) Kemudahan sambungan las
6) Perlakuan panas
5. Perancangan poros
Poros merupakan elemen mesin yang berbentuk batang dan pada
umumnya berpenampang lingkaran, berfungsi memindahkan putaran atau
mendukung suatu beban dengan suatu atau tanpa meneruskan daya.
Dilihat dari fungsinya poros dibedakan atas:
1. Poros dukung
2. Poros transmisi
3. Gabungan poros dukung dan transmisi
Pada mesin pres genteng ini menggunakan poros transmisi.
Hal-hal penting dalam merencanakan poros antara lain:
a. Kekuatan poros
Suatu poros mengalami beban puntir, beban lentur, beban tarik, dan beban
tekan. Kelelahan tumbukan atau konsentrasi tegangan pada poros dan alur
pasak, harus diperhatikan.

b. Kekakuan poros

15

Sebuah poros dengan kekuatan yang cukup jika lenturan atau defleksi
puntirnya terlalu besar dapat berakibat ketidak telitian pada mesin
pengepres genteng atau getaran dan suara pada reduser.
c. Putaran kritis
Bila putaran suau mesin dinaikkan maka pada suau harga putaran tertentu
dapat terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Putaran ini disebut putaran
kritis. Hal ini erjadi pada poros dan dapat mengakibakan kerusakan pada
poros dan bagian-bagian yang lainnya. Poros harus direncanakan
sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah dari pada putaran
kritisnya.
d. Korosi
Poros pada mesin pengepres genteng ini harus sering dilumasi
menggunakan minyak pelumas sehingga tidak akan mudah korosi.
e. Bahan poros
Mesin pengepres genteng ini menggunakan poros dengan bahan
aluminium. Adapun penggolongannya dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.4. Penggolongan Bahan Poros
Golongan
Baja lunak

Kadar C (%)
-0,15

Baja liat

0,2-0,3

Baja agak keras

0,3-0,5

Baja keras

0,5-0,8

Baja sangat keras

0,8-1,2

(Sularso, 1997 : 4).

16

Poros yang umumnya meneruskan daya melalui sabuk, roda gigi, dan
rantai akan mendapatkan beban puntir dan lentur sehingga pada permukaan
poros akan mengalami tegangan geser (Sularso 1997: 17). Perhitungan yang
digunakan dalam merancang poros utama yang mengalami beban puntir dan
beban lentur
Perhitungan yang digunakan dalam merancang poros antara lain:

Pd f c P (kW )
a.

......................................................................................(1)
Dimana:
Pd
fc
P

: Daya rencana
: Faktor koreksi
: Daya nominal
P
T 9,74 10 5 d
n1
b.
......................................................................................(2)
Dimana:
T
n1


c.

: Momen rencana
: Putaran poros

T
5,1T
3
3
.d s 16
ds

................................................................................(3)

Dimana:

ds

: Tegangan geser
: Diameter poros

a B Sf1 Sf 2
d.

...................................................................................(4)
Dimana:

17

B
Sf1
Sf2

e.

: Tegangan geser yang diizinkan (kg/mm2)


: Kekuatan tarik
: Faktor keamanan
: Pengaruh-pengaruh

5,1

ds
K t CbT
a

..................................................................................(5)

Dimana:
Kt
Cb

: Faktor koreksi
: Faktor karena beban lentur

6. Motor Listrik
Motor listrik merupakan suatu peralatan listrik yang berfungsi
mengubah energi listrik menjadi energi mekanis (Berahim, 1994: 3).
Berdasarkan input arus, motor listrik dibagi menjadi dua jenis yaitu motor
arus searah (AC) dan motor arus bolak-balik (DC). Motor listrik dapat lagi
dikategorikan menjadi berbagai jenis berdasarkan konstruksi dan mekanisme
operasi, dan pembagiannya dapat dilihat pada Gambar 2.5. (UNEP, 2006).

MOTOR LISTRIK
Motor Arus Bolak-Balik (AC)

Sinkron

Tiga Fase

Induksi

Satu Fase

Motor Arus Searah (DC)

Separately Excited

Seri

Self Excited

Campuran

Shunt

18

Gambar 2.4. Klasifikasi Jenis Motor Listrik.


(UNEP,2006)
Mekanisme kerja seluruh jenis motor secara umum adalah sama, yaitu
arus listrik menghasilkan medan magnet akan memberikan gaya. Gaya
tersebut akan menghasilkan tenaga putar/torque untuk memutar kumparan.
Motor-motor memiliki beberapa loop pada dinamonya untuk memberikan
tenaga putaran yang lebih seragam dan medan magnetnya dihasilkan oleh
susunan elektromagnetik yang disebut kumparan medan (UNEP, 2006). Jenis
motor listrik yang digunakan pada mesin pencetak briket kotoran lembu
sistem rotary ini yaitu motor listrik jenis motor induksi satu fasa. Konstruksi
dari motor induksi terdiri dari stator merupakan bagian motor yang diam,
rotor merupakan bagian motor yang berputar, celah udara merupakan
ruangan antara stator dan rotor (Berahim, 1994:121).
7. Perancangan sabuk-V sebagai transmisi daya
Sabuk-V merupakan sabuk yang tidak berujung dan diperkuat dengan
penguat tenunan dan tali. Sabuk-V terbuat dari karet dan bentuk
penampangnya berupa trapesium. Bahan yang digunakan untuk membuat inti
sabuk itu sendiri adalah terbuat dari tenunan tetoron.

19

Penampang puli yang digunakan berpasangan dengan sabuk juga harus


berpenampang trapesium juga. Puli merupakan elemen penerus putaran yang
diputar oleh sabuk penggerak.
Bagian sabuk yang sedang membelit pada puli mengalami lengkungan
sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar (Sularso, 1997:163).
Gaya gesekan yang terjadi juga bertambah karena bentuk bajinya yang akan
menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan yang relatif rendah.
Adapun bentuk konstruksi macam-macam penampang sabuk-V yang
umum dipakai terlihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.5. Penampang Sabuk-V


(Sularso 1997: 164)
Pemilihan penampang sabuk-V yang cocok ditentukan atas dasar daya
rencana dan putaran poros penggerak. Daya rencananya sendiri dapat
diketahui dengan mengalihkan daya yang akan diteruskan dengan faktor
koreksi yang ada. Lazimnya sabuk tipe-V dinyatakan panjang kelilingnya
dalam ukuran inchi. Jarak antar sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai dua
kali diameter puli besar (Sularso, 1997:166).
Sudut lilit atau sudut kontak dari sabuk pada alur puli penggerak
harus diusahakan sebesar mungkin untuk mengurangi selip antara sabuk dan
puli dan memperbesar panjang kontaknya.

20

Transmisi sabuk dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu sabuk rata,
sabuk dengan penampang trapesium, dan sabuk dengan gigi. Sebagian besar
ransmisi sabuk menggunakan sabuk-V karena mudah pemakaiannya dan
harganya yang murah. Kelemahan dari sabuk-V yaitu transmisi sabuk dapat
memungkinkan untuk terjadinya slip. Oleh karena itu, maka perencanaan
sabuk-V perlu dilakukan untuk memperhitungkan jenis sabuk yang
digunakan dan panjang sabuk yang akan digunakan.
Perhitungan yang digunakan dalam perancangan sabuk-V antara lain:
a. Daya rencana (Pd)

Pd fc P
..........................................................................................(6)
Dimana:
P : Daya
Pd : Daya rencana
b. Momen rencana (T1,T2)
T1 g 10 5 (

Pd
)
n1

.............................................................................(7)
T2 g 10 5 (

Pd
).............................................................................( 8 )
n2

Dimana :
g gaya grafitasi
Pd Daya rencana
n1 Putaran poros penggerak
n2 Puaran poros yang digerakkan

21

a
c. Tenaga geser yang dizinkan (

B
...................................................................................(9)
( Sf 1 Sf 2 )

Dimana :

= Tegangan tarik
Sf1 = Faktor keamanan
Sf2 = Faktor pengaruh alur pasak

d s1 , d s 2
d. Perhitungan diameter poros (
P
d s1 d
a

1
3

K t C b T1

..........................................................(10)

Dimana:
Kt untuk beban tumbukan = 2
Cb untuk beban lenturan = 2
e. Penampang sabuk-V: tipeA
f. Diameter minimum puli (dmin) yang diizinkan adalah 65 mm
g. Diameter lingkaran jarak bagi puli (dp,Dp)

d p 76,2 mm
Dp d p i
Dimana:
i = perbandingan putaran
h. Diameter luar puli (dk,Dk)

22

d k d p 2 4,5................................................................................(11)
Dk D p 2 4,5...............................................................................(12)
5
d s1 10...................................................................................(13)
3
5
DB d s 2 10...................................................................................(14)
3

dB

i. Kecepatan sabuk (v)


v

d p n1
60 1000

....................................................................................(15)

j. Putaran sabuk < putaran poros, baik.


k.

d k Dk
.......................................................................................(16)
2

Di

mana:
C = jarak sumbu poros
l. Panjang keliling (L)
L 2C

Dk d k 1 D p d p 2 ..............................................(17)
2
4C

m. Nomor nominal sabuk-V


n. Jarak sumbu poros (C)

23

b 2 L 3,14 D p d p

b b 2 8 D p d p
8

................................................................(18)

o. Jumlah sabuk (N)


N

Pd
Po.K

.......................................................................................(19)

BAB III
KONSEP PERANCANGAN

A.

Diagram Alir Proses Perancangan

24

Diagram alir adalah suatu gambaran utama yang dipergunakan untuk


dasar dalam bertindak. Seperti halnya pada perancangan ini diperlukan suatu
diagram alir yang bertujuan untuk mempermudah dalam pelaksanaan proses
perancangan.
Diagram alir proses perancangan secara umum digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 3.1. Diagram Alir Proses Perancangan Mesin Pengepres Genteng

B. Pernyataan Kebutuhan
Dari hasil survey maka dibutuhkan mesin pengepres genteng yang tidak
membutuhkan tenaga manusia yang besar, memiliki dimensi yang lebih kecil

25

dibandingkan dengan mesin yang sudah ada. Tetap menggunakan material logam
agar lebih kokoh dan lebih awet. Mesin pres genteng ini harus mudah dalam
pengoperasiannya dan perawatan yang tidak terlalu rumit.
C. Analisis Kebutuhan
1.

Standar Penampilan
Mesin pengepres genteng ini mempunyai konstruksi yang mudah dalam

pengoperasiannya bagi pengguna. Dasar yang dipakai adalah produk serupa


yang telah dimodifikasi dari alat/mesin yang sudah ada di pasaran. Sistem
kerja mesin menggunakan penggerak motor listrik. Proses pengepresan
menggunakan tenaga motor listrik dan tidak menggunakan tenaga yang besar.
Karena menggunakan oli sebagai pelumas maka diberi warna hitam
agar tidak terlihat terlalu kotor saat berproduksi, selain itu warna hitam
memberi kesan yang kokoh pada produk.
2.

Target Keunggulan Produk.


Sasaran keunggulan yang ingin dicapai dari mesin pengepres genteng

ini adalah :
a.

Bahan baku mudah dicari.

b.

Tidak

memerlukan

tenaga

yang

besar

karena

menggunakan motor listrik untuk mengepres.


c.

Pengoperasian mesin mudah, pertama tekan saklar ON


CW untuk menghidupkan mesin kemudian tekan saklar ON CCW dan
saklar otomatis untuk menurunkan atau menaikan cetakan. Dengan

26

menggunakan limit switch maka tinggi dan rendah pengepresan dapat


diatur.
d.

Selain

itu

masih

ada

tombol

otomatis

untuk

menggerakkan cetakan naik dan turun dengan hanya menekan tombol


satu kali.
e.

Pemeliharaan dan perawatannya cukup mudah. Hanya


dengan membersihkan bagian yang kotor dan memberikan pelumas
pada bagian yang bergerak atau berputar.

D. Pertimbangan Perancangan
1.

Pertimbangan Teknis
Pertimbangan teknis dalam hal ini lebih dititikberatkan pada :

2.

a.

Kemudahan dalam pengoperasian alat.

b.

Pemasangan dan pembongkaran yang relatif lebih mudah.

c.

Bahan yang digunakan mudah diperoleh di pasaran.

d.

Konstruksi yang kuat untuk menambah umur alat.


Pertimbangan Ekonomi
Pertimbangan ekonomi pada pembuatan mesin pengepres genteng ini

dititikberatkan pada pemilihan bahan yang digunakan dan kecanggihan


produk. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah harganya dan mudah
untuk mendapatkannya. Bahan-bahan yang digunakan antara lain, Mild
Steel (ST-37), profil siku 50 x 50 x 5 mm. kecanggihan produk karena
telah didesain secara semi otomatis.

27

3.

Pertimbangan Ergonomis
Pertimbangan ergonomis dalam pembuatan mesin pengepres genteng ini
adalah sebagai berikut :
a.

Proses

pengepresan

yang

mudah

dan

tidak

membahayakan pengguna.
b.

Dengan dimensi yang sedang (1000 mm x 500 mm x 850


mm), tidak membutuhkan tempat yang luas dan memungkinkan alat
mudah untuk dipindah tempat.

c.

Getaran yang dihasilkan mesin tidak terlalu besar karena


pada motor listrik diberikan bantalan dari karet yang memungkinkan
getaran yang dihasilkan dari motor listrik dapat teredam.

E. Tuntutan Perancangan
1.

Tuntutan Konstruksi
a. Mesin pengepres genteng ini dapat dioperasikan dengan mudah.
b. Perakitan rangka menggunakan sambungan las, rangka ini dibuat agar
tidak mudah bergerak karena tersusun oleh besi siku dan rangka
mampu menahan getaran yang dihasilkan dari motor penggerak yang
berputar 1400 rpm dengan daya sebesar 1 HP.
c. Tinggi rendahnya pengepresan dapat mudah diatur, hanya dengan
menyetting limit switch.

2.

Tuntutan Ekonomi

28

Mesin pengepres genteng dengan penggerak motor listrik yang dibantu


transmisi

puli

ganda

dan

sabuk-V tersebut

diharapkan

mampu

mempercepat proses produksi dengan tenaga kerja yang seminimal


mungkin. Selain itu biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan maupun
perakitannya dapat terpenuhi dari hasil produksi alat tersebut.
3.

Tuntutan Pemeliharaan dan Perawatan


Pemeliharaan dan perawatannya cukup mudah. Hanya dengan
membersihkan bagian yang kotor dan memberikan pelumas pada bagian
yang bergerak atau berputar

4.

Tuntutan Pengoperasian
h. Jika saklar ON (gerak turun) ditekan maka motor akan berputar dan
motor akan memutar puli, puli yang terhubung dengan roda gigi
payung akan ikut berputar dengan adaya belt,
i. Puli ini terhubung dengan roda gigi payung pada posisi horisontal,
j. Kemudian roda gigi payung ini akan memutar roda gigi payung
vertikal
k. Roda gigi payung ini terdapat ulir dalam yang berfungsi mengikat
poros berulir, maka jika roda gigi ini berputar poros akan bergerak
kebawah
l. Jika poros berulir ini bergerak maka cetakan bagian atas yang
diikatkan pada ujung poros ini akan ikut bergerak dan bergabung
dengan cetakan bagian bawah maka terjadi proses pengepresan
m. Pada cetakan bagian bawah terdapat LS sebagai pemutus arus listrik,
maka ketika cetakan atas dan bawah tergabung putaran motor sudah
terhenti,

29

n. Kemudian tekan tombol ON (gerak naik) sehingga motor akan


berputar berlawanan arah dan cetakan bergerak ke atas,
o. Namun sebelum cetakan naik sampai posisi maksimum maka arus
listrik akan terputus oleh LS kedua sehingga motor akan terhenti,
p. Atau bisa langsung dimatikan dengan tombol OFF. Kemudian cetakan
bagian bawah ditarik ke depan dan hasil cetakan bisa diambil
5.

Tuntutan Fungsi
Karena menggunakan motor listrik maka diharapkan alat ini dapat
mempercepat proses pembuatan genteng tanpa memerlukan tenaga yang
besar.

BAB IV
PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN

30

A.

Proses Perancangan Mesin Pengepres Genteng


Proses perancangan pada mesin pengepres genteng ini mempunyai

langkah-langkah perencanaan yang dapat digambarkan seperti diagram alir pada


Gambar 4.1.
Kebutuhan

Konstruksi dan
perhitungan daya
mesin

Perhitungan ulir
penekan

Perhitungan transmisi (roda


gigi,pulley,dan sabuk-V)

Perhitungan poros
roda gigi

Perhitungan rangka

Perhitungan motor
Gambar 4.1. Diagram alir proses perancangan mesin pengepres genteng

Kebutuhan disini mencakup gaya34dan kapasitas mesin. Kapasitas mesin


direncanakan yaitu dapat menghasilkan 60 genteng dalam satu jam, sedangkan

31

gaya yang dibutuhkan mesin ini untuk dapat mengepres genteng yaitu sebesar 45
kg. Konstruksi mesin dapat digambarkan pada gambar 4.2.

Gambar 4.2. konstruksi mesin pres genteng


Sistem mekanik mesin pengepres genteng ini menggunakan sistem pres.
Pengepresan terjadi karena adanya gerak putar roda gigi yang akan menggerakan
poros berulir baik bergerak naik maupun turun. Karena poros berulir terhubung
dengan cetakan bagian atas maka cetakan akan ikut bergerak jika poros juga
bergerak. Sedangkan untuk cetakan genteng memiliki ukuran 360x255x74 mm.
Gaya yang dibutuhkan untuk melakukan pengepresan yaitu sebesar 45 kg.
B. Perancangan Ulir Penekan
Ulir penekan digunakan untuk menekan cetakan kebawah ataupun menarik
cetakan ke atas.
Kisar
: 12
Bahan
: St. 42
W
: 22,5 kg

32

Gambar 4.3. Penampang ulir


Dari data diatas maka dapat dihitung diameter poros yaitu dengan cara:
Tegangantari k =

W
A

A=W Tegangantarik
A=22,5 42

A=945
Jika A= 945 maka,

A= D 2
4
945=

3,14 2
D
4

D=
D=34,69 mm

( diameter dalam poros berulir)

Untuk tinggi dan lebar ulir dapat dihitung dengan:


tinggi ulir=
lebar ulir=

kisar 12
= =6
mm
2
2

kisar 12
= =6
mm
2
2

Jika D=34,69 maka torsinya (T) adalah:

945
0,785

33

T =F R
T =45 17,3=780,5

Jika tegangan geser sama dengan 0,8 kali tegangan tarik maka:
tegangan geser=0,8 tegangantarik
0,8 42

33,6

tegangan geser =

F
n
A

33,6=

33,6=

45
n
6 3,14 34,69

45
n
653,6

n=

33,6
=480 mm
0,07

(naf ulir)

Gerakan pengepresan akan memberikan tekanan pada cetakan untuk


membentuk genteng. Cetakan akan menerima tekanan pres sebesar p, besarnya
tekanan yang diterima cetakan dapat dirumuskan sebagai berikut:
F
p=
A
Keterangan:
p= tekanan yang diterima cetakan (kg/mm2)
F= gaya pengepresan yang terjadi (kg)

34

A= luas cetakan (mm2)


Luas cetakan berbentuk persegi panjang sehingga dapat dihitung dengan
rumus:
A= p l
Keterangan:
A=luas cetakan (mm2)
p=panjang cetakan (mm)
l= lebar cetakan (mm)
A= p l

360 255
91.800

mm2

Sehingga tekanan yang terjadi pada cetakan sebesar:


p=

45
=0,0006
91800

kg/mm2

Untuk menghitung daya mesin(P) terlebih dahulu dihitung torsinya (T)


T= FxR
Keterangan:
R= jari-jari poros berulir maka,
T= 45 x 19,5 = 877,5
Maka daya mesin (P) yaitu:
P=

T n
71620

877,5 49
71620

35

0,6

HP

C. Perancangan Transmisi
Perancangan transmisi disini meliputi:
1.
Perancangan Roda gigi
Direncanakan pada mesin pres genteng ini menggunakan dua buah roda
gigi payung dengan Z1=37, d1=145 mm maka:
modul=

d
z

145
=3,9
37

Ha=1 modul=3,9
Hk=1,2 modul=4,7
b=5 modul=19,5

sedangkan Z2=9,d2=31 maka:


modul=

d
z

31
=3,4
9

Ha=1 modul=3,4
Hk=1,2 modul=4,1
b=5 modul=17

D. Perancangan Motor listrik

36

Daya yang terjadi pada cetakan untuk menekan genteng dengan gaya
sebesar 45 kg adalah 0,6 HP. Sehingga agar mesin mampu bekerja sesuai dengan
kapasitas daya yang dibutuhkan, maka pemilihan spesifikasi motor listrik sebagai
tenaga penggerak harus sesuai dengan kebutuhan dayanya. Untuk memenuhi
kebutuhan daya pada mesin pengepres genteng ini digunakan motor dengan daya
1 HP.
Spesifikasi motor listrik yang digunakan pada mesin pengepres genteng
adalah:
Motor AC satu fasa dengan
n
= 1400 rpm
Daya
= 1 HP,
Frekuensi
= 50 Hz,
Tegangan
= 110/ 220 V.
E. Perhitungan Ulir Penekan ( poros berulir )
Ulir penekan digunakan untuk mengupah putaran roda gigi menjadi gaya
tekan. Perhitungan kisar pada ulir penekan :
K=

T
S

2 F 2 R=T S

S=

S=

2 F 2 R
T

2( 45) 2 ( 3,14 ) R
=12,5( dibuat menjadi 12)
877,5

Jadi kisar pada ulir penekan yaitu 12 mm, karena jarak pengepresan tidak terlalu
tinggi maka panjang ulir dibuat 393mm.

37

Gambar 4.2. penampang ulir


F. Perhitungan Transmisi
Dalam perancangan ini direncanakan menggunakan tenaga motor listrik 1
HP dengan putaran 1400 rpm. Putaran akhir poros yang direncanakan adalah
sebesar 49 rpm dan putaran poros yang direncanakan pada poros pulley adalah
200 rpm.
Apabila Pd adalah daya yang direncanakan. Daya yang direncanakan adalah
daya normal maka faktor koreksi yang digunakan adalah 1, 1 HP sama dengan
0.735 kW maka dapat dihitung dengan rumus seperti di bawah ini:
Pd = Fc . P (kW)

( Sularso, 2002 : 7 ).(4.1)

= 1 . 0,735 kW
= 0,735 kW

Keterangan :
Pd = Daya rencana (kW)
Fc = Faktor koreksi ( lampiran3 )
P = Daya (kW)

38

Jika momen puntir adalah T (kg.mm), maka :


Pd
T = 9,74x10 n 2 ( Sularso, 2002 : 7 ).....(4.2)
5

T =9,74 10

0,735
=14610 kg . mm .
49

Keterangan :
T = Momen puntir rencana ( kg.m)
Pd = Daya rencana (kW)
n3 = Putaran puli akhir (rpm)
Adapun gambar ilustrasi sistem transmisi mesin pengepres genteng adalah
sebagai berikut :

Gambar 4.3. Ilustrasi Sistem Transmisi Mesin Pengepres Genteng


Dari gambar tersebut di atas, maka diameter puli dan jumlah gigi pada roda
gigi yang digunakan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

n1 xd1 n2 xd2

( Sularso, 2002 : 166 )...............................(4.3)

39

Pada perhitungan ini, dimisalkan diambil D1 = 5,08 cm dengan n1 =


1400 rpm dan n2 = 200 rpm, maka:
1400 x 5,08 cm = 200 x D2
7112

= 200 x D2

D2

= 35,56 cm (14 inch)

Untuk mencari jumlah gigi pada roda gigi maka digunakan rumus sebagai
berikut :
n 3=

Z1
n2
Z2

Dimisalkan Z1 = 9, maka:
n3x Z2

= n2 x Z1

49xZ2

= 200 x 9

49Z2

= 1800

Z2

= 36,7 (37)

Jadi, diameter puli dan jumlah gigi yang digunakan dalam mesin pengepres
genteng adalah sebagai berikut :
D1 = 50,8 mm.
D2 = 355,6 mm.
Z1 = 9 gigi.
Z2 = 37 gigi.

40

Sehingga, perbandingan reduksi (i) dari motor listrik ke pulley pengepres


genteng adalah sebagai berikut :
Dp
n1
i
i
n2
dp

( Sularso, 2002 : 166)...(4.4)

1400
=7
200
Kemudian perbandingan reduksi (i) dari motor listrik ke roda gigi adalah
adalah sebagai berikut :
Dp
n1
i
i
n2
dp

1400
=28,5
49

dimana:
n1 = putaran puli awal (rpm)
n2 = putaran puli akhir (rpm)

G. Perhitungan Sabuk-V
Dalam mesin pengepres genteng ini sabuk-V digunakan untuk memutar
pulley. Pada pulley ini putaran digunakan untuk menggerakkan roda gigi hipoid.
Gerakan ini dimanfaatkan untuk mengangkat cetakan bagian atas.
Alur pemilihan sabuk-V tampak pada Gambar 4.4. Diagram aliran untuk memilih
sabuk-V. Data yang diketahui untuk pemilihan tersebut antara lain:
Daya yang akan ditransmisikan (P) : 1 HP = 0.735 kW
Putaran poros penggerak (n1)

: 200 rpm

41

Perbandingan reduksi (i)

:7

Jarak sumbu poros (C)

: 470 mm

Bahan poros

: Mild Steel (ST-42)

START

Perhitungan panjang
Daya yang akan ditransmisikan P (Kw) Putaran poros n1 (rpm) Perbandingan putaran i Jarak sumbu poros C (mm

Nomor nominal dan panjang sa

Jarak sumbu

Faktor koreksi fc
Daya rencana Pd (kW)
Momen rencana T1, T2 (kg mm)

Bahan poros dan perlakuan panas

Perhitung diameter poros ds1, ds2 (mm)

Jumlah

Pemilihan penampang sabuk


Diameter minimum puli dmin (mm)

Diameter lingkaran jarak bagi puli dp, Dp (mm) Diameter luar puli dk, Dk (mm) Diameter naf dB, DB (mm)
Kecepatan sabuk v (m/s)

>

ST
v : 30

d k Dk
C:
2
>
Z

Gambar 4.4. Diagram aliran untuk memilih sabuk-V

42

STOP

END

Perhitungannya,

43

a. P = 1 HP = 0.735 kW, n2 = 200 rpm


i

1400
7
200

C 470

mm

b. Fakor koreksi
Faktor koreksi (fc) didapatkan dari tabel. Mesin yang akan gerakkan
adalah mesin pengepres genteng dengan sistem pulley. Sitem ini di
dalam tabel faktor koreksi termasuk dalam variasi beban yang sedang
dan diperkirakan mesin akan bekarja setiap 8-10 jam tiap hari.
Sehingga dari tabel, fakttor koreksi dipakai adalah (fc = 1,4).
c. Daya rencana (Pd)
Pd fc P

1,4 0,735

1,029 kW

d. Momen rencana (T1,T2)


T1 g 10 5 (

Pd
1,029
) 9,74 10 5 (
) 716 kg mm
n1
1400

T2 g 10 5 (

Pd
1,029
) 9,74 10 5 (
) 5011 kg.mm
n2
200

e. Bahan poros Mild Steel (ST-42)

Tegangan tarik

( B ) 42 kg mm 2

Faktor keamanan (Sf1) untuk bahan ST adalah 5,6


Faktor pengaruh (Sf2) adalah 2

44

a
Tenaga geser yang dizinkan (

) adalah

B
( Sf 1 Sf 2 )
42

(5,6 2)

3,75 kg mm

Kt untuk beban tumbukan adalah 2


Cb untuk beban lenturan adalah 2
f. Perhitungan diameter poros (ds)
5,1

K t C b T
d s
a

5,1


2 2 5011
3,75

1
3

1
3

30,09 mm

Diameter poros ds = 30 mm
g. Penampang sabuk-V: tipeA
h.

Diameter minimum puli (dmin) yang diizinkan adalah 50 mm

i.

Diameter lingkaran jarak bagi puli (dp,Dp)


d p 50,8

mm
D p d p i 50,8 7 355,6

mm
j. Kecepatan sabuk (v)

45

.d p .n1
60 1000

3,14 50 1400
60 1000

3,66
m/s

k. Putaran sabuk lebih rendah dari kecepatan sabuk maksimum


(3,66 m/s < 30m/s)
C
l.

baik

d k Dk
50.8 355.6
470
266.8 mm
2
2

m. Panjang keliling (L)

L=

2C

d p D p 1 D p d p 2
2
4C

2.470

50,6 355,6 1 355,6 50,6 2


2
4.470

= 940+637,7+49,5
= 1627,2 mm
n.

Nomor nominal sabuk-V = No.64 L = 1626 mm

o.

Jarak sumbu poros (C)

b 2 L 3,14 D p d p
2 1627 3,14(50,6 355,6)
= 3254-1275,4 mm
= 1978,6
C

b b 2 8 D p d p
8

46

1978,6 1978,6 2 8(355,6 50,6) 2

8
= 469.9 mm

p.

Sudut kontak ( )
=180 0

57( D p d p)
C

1800

57 ( 355.650.8 )
470

1430
q.

= 470 mm

jadi sudut kontak ( ) = 0.91 (dari tabel)

Jumlah sabuk (N)


N=

Pd
Po K
1.029
0.735 0.91

1.71(2 buah)

Sudut lilit atau kontak dari sabuk pada alur puli penggerak harus
diusahakan sebesar mungkin untuk memperbesar panjang kontak antara sabuk dan
puli. Gaya gesekan berkurang dengan mengecilnya sehingga menimbulkan slip

47

antara sabuk dan puli. Jika jarak poros pendek sedangkan perbandingan
reduksinya besar, maka sudut kontak pada puli penggerak akan menjadi kecil.
Tipe A, L = 1627 mm, No 64, dp = 50,8 mm, Dp = 355,6 mm, diameter
poros ds = 30 mm, jarak sumbu poros 470.

START
a. Daya yang ditransmisikan: P (kW) Putaran poros n1 (rpm)

b. Faktor koreksi fc
c. Daya rencana Pd (kW)
d.Momen rencana T (kg mm)

H. Perancangan Diameter Poros Roda Gigi Pinion

g. Faktor koreksi untuk momen puntir Kt


Faktor lenturan Cb

h. Diameter poros ds (mm)

<

a :
STOP
END

48

Gambar 4.5. Diagram aliran untuk merencanakan poros

Dalam mesin pengepres genteng

ini terdapat poros cetakan dan poros

pulley Di bawah ini akan di bahas perhitungan untuk menentukan diameter poros
pulley.
Alur merencanakan poros tampak pada Gambar 4.1. Diagram aliran untuk
merencanakan poros. Data yang diketahui untuk merencanakan tersebut antara
lain:
1. Daya yang akan ditransmisikan (P) : 1 HP = 0.735 kW
2. Putaran poros penggerak (n1)

: 200RPM

3. Bahan poros

:MildSteel(ST-42)

Perhitungannya:
a. P = 1HP = 0.735 kW
n1 = 200RPM

49

b. Fakor koreksi
Faktor koreksi (fc) didapatkan dari tabel faktor koreksi daya yang
akan ditransmisikan. Daya ini termasuk daya normal.Sehingga dari tabel,
faktor koreksi dipakai adalah fc = 1,4.
c. Daya rencana (Pd)
Pd fc P
1,4 0,735
1,029 kW
d. Momen rencana (T)
T 9,74 10 5 (

Pd
1,029
) 9,74 10 5 (
) 5011 kg mm
n1
200

e. Bahan poros Mildsteel (ST-42)

Tegangan tarik

( B ) 42 kg mm 2

Faktor keamanan (Sf1) untuk bahan ST adalah 5,6


Faktor pengaruh (Sf2) adalah 2

a
f. Tenaga geser yang dizinkan (

) adalah

B
( Sf1 Sf 2 )
42

(5,6 2)

3,75 kg mm

g. Kt untuk beban tumbukan adalah 2


Cb untuk beban lenturan adalah 2

50

h. Perhitungan diameter poros (ds)


5,1

K t C b T
d s
a

5,1


2 2 5011
3,75

1
3

1
3

30,09 mm

Diameter poros ds = 30 mm
i. Tegangan geser yang terjadi yaitu:

T
.d s3 16

5,1T
d s3

5,1 5011
1,84
24 3

kg mm 2

j. Tegangan geser yang terjadi yaitu 1,84 kg/mm2 lebih kecil dari pada
tegangan geser yang direncanakan yaitu 3,75 kg/mm2. Sehingga poros
dengan diameter 30 mm aman untuk digunakan.

I. Konstruksi Rangka
Kekakuan dan kekokohan kerangka dapat ditambah dengan cara pengelasan
dan pembautan. Ada dua tipe sambungan las yang paling umum adalah 45 dan
sudut takik. Dalam perencanaan konstruksi rangka mesin pengepres genteng ini
menggunakan sambungan las, karena lebih mudah dan hasilnya lebih kuat.
Berat motor kurang lebih 10 kg. Batang yang digunakan pada rangka ini
adalah besi siku ST 37 ukuran 50 x 50 x 5 mm dengan kekuatan tarik maksimal
37 kg/mm2.

51

J.

Analisis Ekonomi
Penentuan harga mesin pengepres genteng dapat dilihat pada Tabel

4.1.Penentuan Harga Mesin.


Tabel 4.1.Penentuan Harga Mesin
Macam Biaya
A. Biaya Desain

Macam
Pekerjaan
Survey
Analisis
Gambar

Macam Biaya

Bahan (Rp)

Macam Komponen

B. Biaya Pembelian
Komponen

Motor listrik
Puli gandal 14
Puli ganda 2
V-Belt A 64
Mur dan baut
Cat dan poxy
Tiner
Bearing pulley (2)
Bearing poros berulir

Cetakan genteng
Roda gigi

0
0
80.000

Biaya
Pembelian
(Rp)
400.000
60.000
15.000
20.000
20.000
15.000
6.000
70.000
50.000
300.000
100.000

Alat
(Rp)
30000
50000
20000

Tenaga (Rp)
30000
30000
50000
Jumlah

C.

Biaya
Pembuatan
Komponen

Macam Elemen
Landasan rangka
Kerangka
Poros pulley
Poros berulir
Poros cetakan
Dudukan poros berulir
Pegangan cetakan
Dudukan bearing poros berulir
Dudukan cetakan bagian bawah
Dudukan cetakan bagian atas

Bahan
Baku
100.000
200.000
65.000
150.000
125000
30000
15000
70000
75000
45000

D. Biaya Non Produksi

Biaya Gudang (5% x C)


Pajak Perusahaan (5% x C)
Jumlah

E.

10% x (A+B+C+D)

Laba yang Dikehendaki

60000
80.000
150.000
290.000

Biaya Perakitan
Jumlah

(Rp)
5.000
5.000
5.000
3.000
3.000
30.000
5.000
4.000
5.000
4.000
4.000

Jumlah
Macam Biaya

Jumlah

Bahan
Penolong
0
15000
10000
5000
10000
2000
2000
1000
1000
1000

Tenaga
Kerja
5000
10000
10000
10000
15000
5000
3000
5000
5000
1000
Jumlah

405.000
65.000
20.000
23.000
23.000
45.000
11.000
74.000
55.000
304.000
104.000
1.129.000
Jumlah
105.000
225.000
85.000
165.000
150.000
37.000
20.000
13.000
81.000
47.000
823.000

41.150
41.150
82.300

232.400

52

F.

Taksiran Harga Produk

(A+B+C+D+E)

2.556.700

Jadi harga yang dikehendaki untuk dijual adalah sebesar Rp 2.556.700,00

K. Hasil dan Pembahasan


1.

Sistem mekanik, daya mesin dan ulir penekan


Sistem mekanik mesin ini menggunakan sistem pres. Sedangkan gaya
pengepresan sebesar 45 kg dan daya mesin yaitu 0,6 HP, sehingga dibutuhkan
motor listrik dengan daya 1 HP. Untuk ulir penekan mempunyai kisar 12mm
dan panjang ulir 393mm dan tinggi ulir 4,8mm
2.

Poros Roda Gigi Pinion


Hasil analisis poros yaitu Daya yang akan ditransmisikan (P) = 1 HP =

0.735 kW, Putaran poros penggerak (n2): 200 RPM, Bahan poros :
MildSteel(ST-42), Faktor koreksi (fc) didapatkan dari tabel faktor koreksi
daya yang akan ditransmisikan. Daya ini termasuk daya normal.Sehingga dari
tabel, faktor koreksi dipakai adalah fc = 1,4, Daya rencana (Pd) =1,029 kW,
Momen rencana (T) = 5011 kgmm, Bahan poros MildSteel(ST-42), Tegangan

tarik

( B ) 42 kg mm 2

,Faktor keamanan (Sf1) untuk bahan SF adalah 5,6,

a
Faktor pengaruh (Sf2) adalah 2, Tenaga geser yang dizinkan (

) = 3,75

kg/mm2, Kt untuk beban tumbukan adalah 2, Cb untuk beban lenturan adalah


2, diameter poros (ds) = 30 mm, Tegangan geser yang terjadi yaitu:1,33
kg/mm2, Tegangan geser yang terjadi yaitu 1,33 kg/mm 2 lebih kecil dari pada

53

tegangan geser yang direncanakan yaitu 1.84 kg/mm2. Sehingga poros dengan
diameter 30 mm aman untuk digunakan.
3. Sabuk dan Puli
Motor yang digunakan pada mesin pengepres genteng ini memiliki
daya 1HP dengan putaran 1400 rpm. Putaran yang direncanakan pada
transmisi sabuk V adalah sebesar 200 rpm, sehingga dari hasil perhitungan
diperoleh ukuran puli yang digunakan yaitu untuk puli pada poros motor 2
inchi sedangkan puli pada poros 14 inchi. Sedangkan untuk sabuk yang
digunakan adalah sabuk-V tipe A no. 64 dengan jarak poros 470
4. Aspek finansial
Dana yang digunakan untuk pembuatan mesin pengepres genteng ini
totalnya mencapai Rp 2.556.700,00. Harga tersebut belum termasuk biaya
perawatan dan biaya bila terjadi kerusakan.

L. Uji Kinerja
Setelah dilakukan uji kinerja dari mesin pengepres genteng ini dapat
disimpulkan bahwa mesin belum dapat bekerja maksimal sesuai dengan harapan.
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, penyebab kurang maksimalnya mesin
pengepres genteng ini adalah fungsi pengepresan yang kurang maksimal.

M.

Kelemahan-kelemahan

54

Setelah dilakukan pengujian terhadap fungsi dari mesin pengepres genteng


ini ternyata masih memiliki beberapa kelemahan-kelemahan diantaranya:
1.

Pengepresan harus dilakukan beberapa kali agar mendapatkan


hasil yang maksimal.

2.

Rangka terlalu pendek sehingga masih harus dibutuhkan


sebuah meja untuk menambah tinggi mesin.

3.

Karena tidak menggunakan rol sehingga pada saat menarik


cetakan bagian bawah masih terlalu berat karena gesekan yang terlalu
besar.

4.

Belum adanya tutup pulley sehingga membahayakan operator


mesin, saat mesin beroperasi.

5.

Rangka yang terlalu berat sehingga mesin sulit untuk dipindahpindah.

55

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan
Proses perancangan dan pembuatan hingga pengujian dapat disimpulkan
sebagai berikut:
b. Ulir penekan pada mesin pengepres genteng meliputi diameter minimal ulir
yaitu 34,69 mm, Torsi ulir yaitu 780.5, tinggi ulir 6 mm sedangkan lebar ulir
6 mm dan yang terakhir naf pada ulir yaitu 480 mm
c. Sistem transmisi pada roda gigi dengan diameter 145 mm meliputi jumlah
gigi (z) 37, modul (m) 3.9, tinggi kepala gigi (Ha) 3.9, tinggi kaki gigi (Hk)
4.7, lebar gigi (b) 19,5. Sedangkan untuk roda gigi dengan diameter 31 mm
meliputi jumlah gigi (z) 9, modul (m) 3.4, tinggi kepala gigi (Ha) 3.4, tinggi
kaki gigi (Hk) 4.1, lebar gigi (b) 17. Untuk perhitungan pulley meliputi,
diameter pulley pertama yaitu 14 inchi sedangkan pulley kedua memiliki
diameter 2 inchi. dan sabuk-V pada mesin pengepres genteng menggunakan
tipe A, L = 1626 mm, No 64, dp = 50,8 mm, Dp = 355,6 mm, jarak sumbu
poros 470.
d. Diameter poros pada roda gigi adalah 21,76 mm
e. Daya mesin pengepres genteng adalah O ,53 HP
yang dibutuhkan adalah 1 HP

sedangkan daya motor

56

B.

Saran

46

Perancangan mesin pengepres genteng ini masih belum sepenuhnya


sempurna baik dari hasil maupun pada sistem kerjanya. Oleh karena itu, untuk
dapat menyempurnakan rancangan mesin ini perlu adanya pemikiran yang
lebih jauh lagi dengan segala pertimbangannya. Beberapa saran untuk langkah
yang dapat membangaun dan menyempurnakan mesin ini adalah sebagai
berikut :
1. Membuat sistem control yang lebih sederhana agar dapat mudah
dimengerti pengguna mesin yang kebanyakan masyarakat awam.
2. Memperingan cetakan dan bahan rangka tetapi tidak mengurangi kualitas
bahan tersebut.
3. Mempertinggi ukuran rangka agar lebih mudah mengambil genteng
setelah proses pengepresan.
4. Pemberian

tutup

pada

membahayakan pengguna.

bagian-bagian

yang

bergerak

agar

tidak