You are on page 1of 15

MANAJEMEMEN RANTAI PASOKAN

SUPPLY CHAIN DRIVERS AND OBSTACLES

Oleh :
1. Novi Widya Panca M.
2. Yudha R. B

1242620022
1242620059

JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA


PROGRAM STUDI D4 MANAJEMEN PEMASARAN
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2015
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kegiatan industri tidak lepas dari hubungan atau transaksi antara Supplier - customer
untuk dapat memberikan keberlangsungan aktivitas produksi. Hubungan yang sinergis
diperlukan untuk meningkatkan performa dari kinerja suatu perusahaan. Peningkatan
performa kinerja ini akan berimbas pada peningkatan kualitas baik dari segi produk,
pelayanan, maupun akreditasi perusahaan. Peningkatan kualitas secara berkelanjutan
(continous improvement) akan bermuara pada satu titik tujuan, yaitu peningkatan
produktivitas dan profit. Oleh karenanya, kegiatan supplychain Menegaskan interaksi antar
fungsi pemasaran, pembelian dan produksi pada suatu perusahaan.
SCM atau manajemen rantai pasokan merupakan kegiatan pengelolaan kegiatankegiatan dalam rangka memperoleh bahan mentah menjadi barang dalam proses dan barang
jadi kemudian mengirimkan produk tersebut ke konsumen melalui sistem distribusi. Kualitas
menjadi hal yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan industri. Kualitas
menjadi indikasi pertama dalam pengambilan keputusan customer untuk membeli produk dari
supplier . Karenanya, dibutuhkan suatu strategi untuk membangun kualitas itu sendiri, salah
satunya adalah dengan manajemen informasi dan rantai pasokan.
Supply Chain Management (SCM) merupakan bagian penting dalam industri
manufaktur. Dalam industri manufaktur, SCM memiliki kegiatan-kegiatan utama yaitu,
merancang produk baru, merencanakan produksi dan persediaan, melakukan produksi,
kegiatan pengiriman dan juga pengadaan bahan baku. Pengadaan bahan baku atau material
merupakan aktivitas yang penting di dalam sebuah industri. Kegiatan ini bertujuan untuk
menyediakan input, berupa barang maupun jasa yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi
maupun kegiatan lain dalam perusahaan. Oleh karena itu, prosedur kerja dalam pengadaan
bahan baku haruslah memiliki struktur kerja yang jelas sehingga mampu efektivitas dan
efisiensi kerja dapat terpenuhi. Pada umumnya, prosedur kerja di dalam sebuah industri
dituangkan dalam proses bisnis.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang berupa pertanyaan
adalah sebagai berikut:
1.

Bagaimana penerapan manajemen rantai pasokan dalam sebuah perusahaan dan apa
saja hambatan yang ada dalam meningkatkan kinerja rantai pasokan.

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.

Mengetahui bagaimana perusahaan dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan


melalui pemicu dan metrics dalam rantai pasokan.

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Pemicu dan Metrics dalam Rantai Pasokan
Dalam memahami bagaimana perusahaan dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan
dalam kemampuan merespon dan efisiensi, maka harus menguji pemicu dari rantai pasokan
yaitu antara lain:
1. Fasilitas (Facilities)
Pemicu ini merupakan lokasi fisik aktual dalam jaringan rantai pasokan
dimana produk disimpan, diolah, dan dibuat. Dua tipe utama: tempat produksi dan
tempat penyimpanan. Perdebatan mengenai peran, lokasi, kapasitas dan fleksibitas
dari fasilitas memiliki dampak yang signifikan pada kinerja rantai pasokan.
2. Persediaan (Inventory)
Pemicu ini meliputi seluruh bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi
dalam rantai pasokan. Mengubah kebijakan persediaan, dapat merubah efisiensi dan
kemampuan reaksi perusahaan. Contohnya, penjual pakaian akan lebih meningkatkan
kemampuan responnya apabila menyediakan banyak macam pilihan pakaian sehingga
memuaskan permintaan kostumer. Persediaan yang banyak, bagaimanapun juga akan
meningkatkan biaya pedagang tersebut, dengan demikian mengurangi efisiensi.
Sedangkan mengurangi persediaan membuat pedagang tersebut lebih efisien namun
merugikan kemampuan reaksinya.
3. Transportasi (Transportation)
Pemicu ini diperlukan untuk memindahkan persediaan dari satu titik ke titik
yang lain dalam rantai pasokan. Transportasi dapat berupa berbagai kombinasi cara
dan jalur dengan masing-masing karakteristik.
4. Informasi (Information)
Pemicu ini terdiri dari data dan analisis mengenai fasilitas, persediaan,
transportasi, biaya, harga, dan pelanggan, dalam rantai pasokan. Informasi
berkemampuan paling besar dalam kinerja rantai pasokan karena berdampak langsung

pada masing-masing pemicu dan juga membantu manajemen dalam meningkatkan


kesempatan rantai pasokan sehingga lebih efisien
5. Sumberdaya (Sourcing)
Pemicu ini merupakan pilihan dari siapa/bagian dari aktivitas rantai pasokan
yang akan menggunakan seperti produksi, penyimpanan, transportasi, atau
manajemen informasi. Dalam tingkat strategik, keputusan ini memutuskan apakah
kinerja perusahaan atau fungsi apakah yang di-outsourcing-kan oleh perusahaan.
Keputusan yang berkenaan dengan pemicu ini, berdampak pada kemampuan
merespon dan keefisienan rantai pasokan perusahaan.
6. Penetapan harga (Pricing)
Pemicu ini menentukan seberapa banyak perusahaan akan mengeluarkan harga
untuk barang dan jasa yang terdapat pada rantai pasokan. Penetapan harga berdampak
pada perilaku pembeli atas barang dan jasa, dengan demikian dapat berdampak pada
kinerja rantai pasokan.
Dari tiap-tiap pemicu rantai pasokan tersebut, saling berinteraksi dengan pemicu
rantai pasokan yang lain untuk menentukan tingkat kemampuan merespon dan efisiensi
perusahaan. Sebagai hasilnya, struktur pemicu ini menentukan bagaimana dampak pada
kinerja rantai pasokan.

2.2 Kerangka Penyusunan Pemicu


Untuk meraih kesuksesan, perusahaan harus menyusun dengan baik kombinasi dari
tiga logical dan tiga pemicu cross-functional. Untuk tiap-tiap pemicu, manajer rantai pasokan
harus melakukan trade-off antara efisiensi dan kemampuan berekasi berdasar pada interaksi
dengan pemicu lainnya. Kombinasi ini berdampak pada pemicu kemudian menentukan
kemampuan

merespon

dan

keuntungan

pada

keseluruhan

rantai

pasokan.

Kebanyakan perusahaaan, memulai dengan strategi bersaing dan kemudian memutuskan


apakah strategi rantai pasokan yang akan dipakai. Strategi rantai pasokan ini menentukan
bagaimana rantai pasokan seharusnya menjadikan perusahaan menjadi lebih mudah beraksi
dan lebih efisien.

Gambar 1 : Kerangka Pembuat Keputusan pada Rantai Pasokan

Competitive
Strategy

Supply Chain
Strategy

Efficiency

Responsiveness
Supply Chain Structure

Fasilitas
(Facilities)

Informasi
(Information

Persediaan
(Inventory)

Transportasi
(Transportatio

Sumber
Daya

Penetapan
Harga

Berikut adalah penjelasan dari kerangka pemikiran tersebut dan peranannya pada
rantai pasokan :
1. Fasilitas (Facilities)
Peranan dalam rantai pasokan, fasilitas merupakan dimanakah letak rantai
pasokan. Dengan fasilitas, persediaan dapat dirubah baik dalam proses manufaktur
maupun disimpan.
Dalam strategi bersaing, peranan fasilitas merupakan sebuah pemicu kunci
kinerja rantai pasokan dari kemampuan merespon dan efisiensi. Keputusan dalam
fasilitas akan membantu perusahaan dalam strategi kesuksesan. Komponen keputusan
fasilitas yang harus dianalisis berupa peran, lokasi, kapasitas, dan fasilitas yang
berhubungan dengan metriks.

2. Persediaan (Inventory)
Persediaan dalam rantai pasokan merupakan pertemuan antara permintaan dan
penawaran. Peranan dalam rantai pasokan meningkatkan jumlah permintaan yang
dapat dipenuhi dengan produk yang siap dan ada pada saat pelanggan
membutuhkannya. Peranan lain yang signifikan adalah dalam mengurangi biaya
dengan economies of scale yang ada selama produksi dan distribusi. Persediaan dapat
berupa bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan merupakan
sumber biaya utama dalam rantai pasokan dan memiliki dampak yang besar dalam
kemempuan merespon perusahaan. Sedangkan, peranan persediaan dalam strategi
bersaing adalah mendukung strategi kompetitif perusahaan. Komponen keputusan
persediaan yang perlu dianalisis berupa siklus persediaan, safety persediaan,
persediaan musiman, tingkat kemampuan prosuksi, dan persediaan yang berhubungan
dengan metriks.
3. Transportasi (Transportation)
Transportasi memindahkan produk antara tempat yang berbeda dalam rantai
pasokan. Sama seperti pemicu lainnya, transportasi juga memiliki dampak yang besar
bagi kemampuan merespon dan efisiensi perusahaan. Transportasi yang lebih cepat
menyebabkan rantai pasokan menjadi lebih cepat merespon namun tidak lebih efisien.
Tipe transportasi perusahaan juga dapat mempengaruhi persediaan dan lokasi fasilitas
dalam rantai pasokan.
Peranannya dalam strategi bersaing perusahaan adalah menggambarkan
keadaan perusahaan mengenai pertimbangan akan kebutuhan target pelanggan. Jika
perusahaan menginginkan strategi kompetitif target pelanggan dengan tingkat
permintaan yang memiliki respon yang tinggi dan pelanggan juga memiliki
kemampuan membayar yang tinggi maka perusahaan seharusnya menggunakan
transportasi

sebagai

pemicu

agar

rantai

pasokan

lebih

merespon.

Komponen keputusan transportasi yang perlu dianalisis berupa design jaringan


transportasi, pilihan cara transportasi, dan transportasi yang berhubungan dengan
metriks.
4. Informasi (Information)
Informasi sangat berdampak pada tiap-tiap bagian rantai pasokan. Informasi
menyediakan atau melayani hubungan antara berbagai macam bagian dalam rantai

pasokan, sehingga dapat berkoordinasi dan memaksimumkan total profitabilitas rantai


pasokan. Informasi juga merupakan hal yang penting dalam operasional pada tiap-tiap
bagian rantai pasokan.
Peranan informasi dalam strategi bersaing dalam sebuah perusahaan
digunakan untuk menjadikan perusahaan tersebut lebih cepat merespon dan lebih
efisien. Pertumbuhan yang cepat pada pentingnya tehnologi informasi merupakan
bukti adanya dampak informasi yang dapat menumbuhkembangkan perusahaan.
Komponen keputusan informasi yang perlu dianalisis berupa push vs pull, koordinasi
dan berbagi informasi, forecasting dan perencanaan menyeluruh, tehnologi yang
memungkinkan dan informasi yang berhubungan dengan metriks.
5. Sumberdaya (Sourcing)
Sumberdaya merupakan seperangkat dari proses bisnis yang dibutuhkan dalam
pembelian barang dan jasa. Manajer mula-mula harus memutuskan tugas mana yang
akan di-outsourcing-kan dan yang akan dilakukan oleh perusahaan sendiri.
Peranannya dalam strategi bersaing sangatlah penting yaitu pada tingkat efisiensi dan
kemampuan merespon yang akan diterima oleh rantai pasokan. Dalam beberapa
contoh perusahaan meng-outsource untuk merespon 3 bagian apabila terlalu mahal
unuk

perusahaan

dalam

mengembangkan

kemampuan

meresponnya.

Komponen keputusan sumberdaya yang perlu dianalisis berupa in-house or outsource,


pemilihan supplier, pengadaan barang, sumberdaya yang berhubungan dengan
metriks.
6. Penetapan Harga (Pricing)
Penetapan harga merupakan proses dimana perusahaan memutuskan seberapa
besar membebankan biaya pada pelanggan untuk barang dan jasa yang dihasilkan
perusahaan tersebut. Penetapan harga berdampak pada segmen pelanggan yang
memilih untuk membeli produk, sama seperti halnya ekspektasi pelanggan. Ini secara
langsung berdampak pada rantai pasokan pada tingkat kemampuan merespon sama
seperti halnya sifat permintaan dalam rantai pasokan.
Peranan penetapan harga dalam strategi bersaing berupa penetapan target
pelanggan. Ini berakibat pada pentingnya perusahaan untuk menyusun rantai pasokan
yang dapat mempertemukan dua kebutuhan yang berbeda.

Komponen keputusan penetapan harga yang perlu dianalisis berupa penetapan


harga dan economies of scale, everyday low pricing vs high-low pricing, fixed price
vs menu pricing, dan penetapan harga yang berhubungan dengan metriks.
2.3 Hambatan Pencapaian Strategic Fit
Kunci untuk dapat mencapai strategik fit adalah kemampuan perusahaan untuk
menemukan keseimbangan antara kemampuan merespon dan efisiensi yang mempertemukan
kebutuhan

dari

target

pelanggan.

Keputusan ini

seharusnya

dialokasikan

dalam

responsiveness spectrum dimana perusahaan dihadapkan dengan banyak hambatan.


Hambatan tersebut dapat meningkatkan kesulitan perusahaan dalam menciptakan
keseimbangan yang ideal, tetapi dilain pihak hambatan-hambatan tersebut dapat
meningkatkan kesempatan perusahaan untuk meningkatkan manajemen rantai pasokan.
Berikut ini hambatan, yang apabila dapat diatasi oleh manajer, dapat meningkatkan
kemampuan perusahaan untuk memperoleh profitabilitas maksimum dari rantai pasokan
yaitu:

Meningkatkan variasi produk

Mengurangi siklus hidup produk

Peningkatan permintaan pelanggan

Pemecahan kepemilikan rantai pasokan

Globalisasi

Kesulitan pelaksanaan strategi baru


Banyak hambatan, seperti munculnya variasi produk dan pendeknya siklus hidup,

dapat menyebabkan bertambahnya kesulitan rantai pasokan dalam mencapai strategi fit.
Adanya hambatan-hamabatan dapat menciptakan kesempatan yang besar bagi perusahaan
untuk menggunakan manajemen rantai pasokan dalam mendapatkan competitive advantage.
Menggambarkan hambatan utama dalam perusahaan dapat membantu mengatur rantai
pasokan secara sukses. Hambatan-hambatan diatas merupakan faktor yang dapat
menghambat kinerja rantai pasokan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terdapat 6 faktor pemicu rantai npasokan, yaitu fasilitas, persediaan, transportasi,
informasi, sumber daya dan penentuan harga. Keenam faktor tersebut mempunyai perannya
masing-masing terhadap pengambilan keputusan manajer rantai pasokan.
Dari tiap-tiap pemicu rantai pasokan tersebut, saling berinteraksi dengan pemicu
rantai pasokan yang lain untuk menentukan tingkat kemampuan merespon dan efisiensi
perusahaan. Sebagai hasilnya, struktur pemicu ini menentukan bagaimana dampak pada
kinerja rantai pasokan.
Berikut ini hambatan, yang apabila dapat diatasi oleh manajer, dapat meningkatkan
kemampuan perusahaan untuk memperoleh profitabilitas maksimum dari rantai pasokan
yaitu:

Meningkatkan variasi produk

Mengurangi siklus hidup produk

Peningkatan permintaan pelanggan

Pemecahan kepemilikan rantai pasokan

Globalisasi

Kesulitan pelaksanaan strategi baru

3.2 Studi Kasus


KAJIAN JARINGAN TRANSPORTASI DALAM MANAJEMEN
RANTAI PASOKAN BUNGA KRISAN DI JAWA BARAT
(Studi Kasus di PT. Saung Mirwan)
Bunga krisan berasal dari dataran China dan merupakan tanaman bunga hias sejenis
perdu yang memiliki sebutan lain yaitu bunga seruni atau bunga emas (golden flower). Krisan
atau Chrysanthemum merupakan salah satu jenis tanaman hias yang telah lama dikenal dan
banyak disukai masyarakat serta mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Bunga krisan
biasanya digunakan sebagai bunga potong, tanaman pot, dan selain digunakan sebagai
tanaman hias, krisan juga berpotensi untuk digunakan sebagai tanaman obat tradisional dan
penghasil racun serangga (hama). Menurut Novizan (2000) ekstrak bunga krisan
(Chrysanthemum cinerariaefolium) mengandung piretrin sebanyak 0.9-1.3% yang dapat
digunakan sebagai biopestisida yang tidak meninggalkan residu setelah digunakan dan aman
bagi lingkungan. Perkembangan dan peningkatan yang konsisten pada produksi tanaman
krisan menunjukkan terdapatnya prospek yang baik pada tanaman ini. Produksi bunga krisan
yang terus meningkat, memungkinkan peningkatan jumlah ekspor yang sekaligus akan
meningkatkan mutu bunga karena adanya tuntutan pasar. Produksi bunga krisan Indonesia
mengalami peningkatan setiap tahun, mulai dari tahun 1999 sebanyak 1,468,213 tangkai,
2000 sebanyak 2,281,125 tangkai, 2001 sebanyak 7,387,737 tangkai, 2002 sebanyak
25,804,630 tangkai, 2003 sebanyak 27,406,464 tangkai, 2004 sebanyak 27,683,449 tangkai,
2005 sebanyak 47,465,794 tangkai, 2006 sebanyak 63,716,256 tangkai, 2007 sebanyak
66,979,260 tangkai, 2008 sebanyak 99,158,942 tangkai hingga tahun 2009 sebanyak
107,847,072 tangkai (BPS 2009).
Industri krisan juga sangat diminati oleh masyarakat di Jawa Barat. Pada tahun 2009,
provinsi Jawa Barat sendiri memproduksi tanaman krisan sebanyak 55,715,528 tangkai, jauh
lebih tinggi daripada jumlah produksi tanaman hias lainnya seperti anggrek sebanyak
5,582,076 tangkai, sedap malam sebanyak 4,565,041 tangkai, dan mawar sebanyak 4,471,566
tangkai (BPS 2009). Hampir setengah produksi tanaman krisan negara berasal dari Jawa
Barat. Selain produksi yang tinggi menurut data dari Badan Pusat Statistika (2009), provinsi
Jawa Barat juga termasuk dalam lima provinsi yang memiliki luas lahan dan tingkat
produktivitas terbesar di Indonesia (Tabel 1).
Masalah muncul pada kegiatan transportasi dan pendistribusian produk ke konsumen
yang terdiri atas risiko transportasi, terlambat tiba di lokasi pembeli, dan kesalahan pemilihan
alat transportasi. Risiko transportasi adalah kerusakan produk akibat goncangan, suhu yang
tidak cocok, handling tidak benar. Kesalahan dapat terjadi saat memilih alat transportasi
untuk produk segar yaitu menggunakan kendaraan yang tidak berpendingin. Tidak

memperhatikan kondisi paling baik saat pengiriman (suhu dingin) juga menambah kerusakan
pada produk segar yang diangkut. Selain itu, saat transportasi dibutuhkan penanganan
(handling) yang benar seperti saat pemuatan produk ke dalam alat angkut dan penyusunan di
dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan yang tidak benar maka akan meningkatkan resiko
kerusakan fisik pada produk misalnya penyusunan yang tidak benar meningkatkan kerusakan
fisik akibat goncangan saat perjalanan. Untuk produk segar dibutuhkan penanganan yang
sangat hati-hati saat pemuatan/pembongkaran produk ke dan dari angkutan.
Penyebab terjadinya keterlambatan pengiriman atau barang tidak tepat waktu tiba di
lokasi pembeli adalah hambatan yang timbul saat di perjalanan seperti macet, kerusakan alat
angkut, kecelakaan dan sebagainya. Sebagai produk segar semakin lama produk berada di
perjalanan transportasi maka semakin menambah kerusakan atau terjadi penurunan mutu
produk. Waktu panen/petik dengan waktu penerimaan hingga ke tangan konsumen dituntut
seefisien mungkin, semakin jauh jarak yang ditempuh maka semakin besar pula resiko
kerusakan produk. Pemilihan alat transportasi untuk pengiriman produk kepada pembeli perlu
mempertimbangkan biaya dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat angkut. Pemilihan
alat transportasi atau jenis kendaraan di PT. Saung Mirwan dilakukan tanpa
mempertimbangkan biaya yang ditimbulkan masingmasing alat angkut. Pengiriman
dilakukan menggunakan alat transportasi yang ada pada saat dibutuhkan pengiriman ke
daerah tertentu. Oleh karena itu, berdasarkan informasi dan data transportasi perusahaan
ditunjukkan biaya pengiriman setiap produk krisan yang dimiliki oleh perusahaan seperti
disajikan pada Tabel .
Tabel Biaya pengiriman produk bunga yang digunakan di PT. Saung Mirwan (Oktober
2010)
Tujuan

Jenis produk

Biaya kirim

Bandara Soekarno-Hatta

Unrooted cutting

Rp 225,000/75 kardus

Cipanas

Rooted cutting

Rp 125,000/50 kardus

Bandung

Rooted cutting

Rp 200,000/50 kardus

Bogor

Bunga potong

Rp 125,000/16 kardus

Jakarta

Bunga potong

Rp 187,500/16 kardus

Produk krisan yang dihasilkan PT. Saung Mirwan terdiri atas stek tanpa akar
(unrooted cuting), stek berakar (rooted cutting), dan bunga potong. Pengiriman produk krisan
perusahaan dilakukan ke Bandara untuk produk ekspor, ke Cipanas, Bandung, Bogor dan
Jakarta untuk produk lokal. Kesalahan pemilihan alat transportasi juga akan meningkatkan
biaya transportasi sebagaiman risiko dan keterlambatan pengiriman. Sehingga dalam
penelitian ini akan dilakukan optimasi pemilihan jenis dan jumlah alat transportasi untuk
pengiriman produk ke konsumen. Hasil yang diharapkan adalah biaya pengiriman yang lebih
rendah daripada yang digunakan oleh perusahaan. Menurut Zhou et al. (2003), algoritma

genetika (GA) dapat digunakan untuk optimasi pengangkutan dan biaya pengiriman dari
pemasok sampai ke konsumen. Dalam penelitian ini dibutuhkan optimasi pemilian jenis dan
alat transportasi untuk pengiriman produk ke lokasi pelanggan. Optimasi adalah proses
kolektif untuk mendapatkan sekelompok keadaan yang diinginkan dalam mencapai suatu
hasil terbaik berdasarkan kondisi yang ada. Algoritma genetika merupakan salah satu teknik
pencarian yang bersifat tangguh, adaptif dan efisien yang berasal dari bidang ilmu kecerdasan
buatan. Algoritma genetika ini dapat mencari solusi optimal berdasarkan pada mekanisme
sistem natural yaitu perubahan struktur genetika dan seleksi alam. Sehingga pemilihan jenis
kendaraanvsesuai dengan kapasitas angkut kendaraan dan sifat hortikultura dengan biaya
seminimal mungkin dapat dipecahkan menggunakan algoritma genetika dengan lebih efektif
dan efisien. Keunggulan algoritma genetika adalah strukturnya yang sederhana, mudah
mengimplementasikannya dan cepat dalam pencapaian solusi yang optimum (efisien).
Masalah-masalah transportasi yaitu risiko pengiriman dan keterlambatan jika tidak
ditangani, mengakibatkan kualitas dan kuantitas yang dipesan tidak sesuai dengan yang
diterima oleh konsumen karena terjadi kerusakan produk baik fisik maupun fisiologis. Pasar
yang dimiliki akan menurun karena hilangnya kepercayaan konsumen terhadap perusahaan.
Secara keseluruhan masalah-masalah ini menimbulkan peningkatan biaya bahkan dapat
menimbulkan kerugian pada perusahaan. Semakin tinggi kerusakan produk maka semakin
tinggi pula biaya kerusakan produk. Harga jual produk menjadi menurun. Semakin sering
pengiriman tidak tepat waktu maka semakin menurunkan kepercayaan konsumen terhadap
perusahaan sehingga menurunkan jumlah pelanggan perusahaan.
Adanya pengelolaan distribusi, logistik atau rantai pasokan yang baik akan membantu
mengurangi kerusakan produk tersebut sehingga dapat mendukung perusahaan untuk
memenangkan kompetisi antar agroindustri untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Model
rantai pasokan produk hortikultura tersebut cukup kompleks karena merupakan kombinasi
yang mempertimbangkan beberapa jenis transportasi dan minimasi biaya sehingga diperlukan
manajemen rantai pasokan yang baik. Supply Chain Management adalah serangkaian
pendekatan yang diterapkan mengintegrasikan pemasok, pengusaha dan gudang (warehouse)
dan tempat penyimpanan lainnya secara efisien sehingga produk yang dihasilkan dan
didistribusikan kepada konsumen dengan kuantitas dan kualitas yang tepat, lokasi yang tepat
serta waktu yang tepat untuk memperkecil biaya dan memuaskan kebutuhan konsumen
(David et al. 2000 diacu dalam Indrajit dan Djokopranoto 2002). Prinsip utama dalam Supply
Chain Management ialah menciptakan sinkronisasi aktivitas-aktivitas yang beragam dan
membutuhkan pendekatan holistik. Menurut Mattsson (2003), manajemen rantai pasokan
bertujuan untuk membuat seluruh sistem menjadi efisien dan efektif, minimasi biaya dari
transportasi dan distribusi sampai inventori bahan baku, bahan dalam proses, dan barang jadi.
Aktivitas supply chain dimulai dari permintaan konsumen (consumen order) dan berakhir
ketika pelanggan atau konsumen telah terpuaskan (Chopra dan Meindl 2004).
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN

Mekanisme rantai pasokan bunga krisan terdiri atas anggota primer yaitu PT. Saung
Mirwan, agen bunga, pasar bunga, florist, supermarket dan toko bunga, konsumen dan mitra
beli serta anggota sekunder yaitu produsen bibit, produsen pupuk, nutrisi, dan pestisida,
produsen media tanam dan produsen bahan kemasan seperti kertas prola, karton dus, plastik,
selotip. Aliran komoditas terdiri atas lima buah yaitu a) perusahaan-agen luar negeri-pasar
luar negeri (aliran produk ekspor/unrooted cutting), b) perusahaan-agen dalam negeri-ritel
konsumen, c) perusahaan-agen dalam negerikonsumen, d) perusahaan-konsumen, dan 5)
perusahaan-pasar bunga-konsumen (rooted cutting dan bunga potong). Rantai pasokan bunga
krisan secara keseluruhan dapat dikatakan baik yaitu untuk yang melibatkan perusahaan
karena produk yang berkualitas telah memiliki pasar yang cukup luas. Khusus untuk petani
bunga di luar kelompok mitra tani, mereka tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas produk bunga yang dihasilkan. Pada mekanisme rantai pasokan bunga
krisan terdapat hubungan proses bisnis yang dapat dilihat dari tinjauan siklus, proses dan
bargaining power. Pada tinjauan siklus perusahaan melakukan siklus procurement,
replenishment, manufacturing dan customer order, para petani melakukan procurement,
manufacturing, dan customer order, agen bunga melakukan procurement, replenishment, dan
customer order, ritel melakukan procurement dan customer order dan konsumen melakukan
order. Pada tinjauan proses perusahaan dan supplier sarana produksi dalam usahanya
menggunakan proses push dan pull, petani dan ritel menggunakan proses push dan agen
bunga menggunakan proses pull. Selanjutnya tingkat bargaining power perusahaan terhadap
mitra tani adalah sama (saling menguntungkan) namun dapat menjadi lebih besar, perusahaan
dengan pemasok sarana produksi adalah sama, perusahaan terhadap mitra beli, agen/ritel, dan
konsumen yaitu lebih besar, agen terhadap ritel dan ritel terhadap konsumen yaitu lebih besar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi krisan yaitu perlunya kondisi dingin
ketika pengiriman, teknik penyusunan di dalam alat angkut, dan waktu hidup produk. Kondisi
dingin berguna untuk menjaga kualitas produk bunga. Teknik penyusunan kardus produk
bunga di dalam kendaraan adalah secara mendatar untuk peletakannya. Sedangkan waktu
hidup produk merupakan hal yang harus diperhatikan oleh bagian transportasi agar waktu
kirim tidak menjadi lebih lama daripada waktu hidup produk.
B. SARAN
Saran yang diberikan dalam penelitian ini antara lain:
1. Perusahaan perlu meningkatkan hubungan mitra tani dengan para petani bunga yang belum
tergabung dalam perusahaan sehingga dapat meningkatkan kapasitas produk dan
meminimumkan terjadinya kekurangan persediaan serta petani mendapatkan dukungan rantai
seperti teknologi dan sarana produksi yang memadai sehingga kualitas bunga yang dihasilkan
dan kesejahteraan petani dapat ditingkatkan.
2. Perlu dilakukan penelitian tentang optimasi untuk komposisi varietas bunga yang ditanam
berbasis biaya dan lama panen.
(SUMBER : Institut Pertanian Bogor)

DAFTAR PUSTAKA

Chopra, Sunil & Peter Meindl. 2007. Supply Chain Management: Strategy, Planning &
Operations, 3rd Edition. Pearson Pretince Hall
scmelearning.blogspot.com/2012/02/driver-and-metric-dalam-supply-chain.html