You are on page 1of 24

FORMULASI SEDIAAN PARACETAMOL TABLET

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Definisi Paracetamol
Paracetamol adalah derivat p aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik
/analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan
mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral.
Sifat analgesic parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai
sedang.Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai anti
rematik.Pada penggunaan peroral parasetamol diserap dengan cepat melalui
saluran cerna.
Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30-60 menit setelah
pemberian.Paracetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa
mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.
Sinonim : N-Acetyl-p-aminofenol, Acetaminofen
Struktur kimia :
BM : 151,61
Pemerian : serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95%, dalam 13 aseton,
dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol. Larut dalam larutan
alkali hidroksida, membentuk larutan jenuh dalam air dengan pH 5,1 6,5.
1.2 Tinjauan Bahan Aktif
a. Farmakologi
Paracetamol atau acetaminophen adalah obat yang mempunyai efek mengurangi
nyeri (analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Parasetamol mengurangi
nyeri dengan cara menghambat impuls/rangsang nyeri di perifer. Parasetamol
menurunkan demam dengan cara menghambat pusat pengatur panas tubuh di
hipotalamus.
Paracetamol (parasetamol) sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit
seperti sakit kepala, nyeri otot, radang sendi, sakit gigi, flu dan demam.Parasetamol
mempunyai efek mengurangi nyeri pada radang sendi (arthritis) tapi tidak
mempunyai efek mengobati penyebab peradangan dan pembengkakan sendi.
b. Farmakodinamik
Efek analgesic paracetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau
mengurangi nyeri ringan sampai sedang.Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan
mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat.Efek anti
inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu paracetamol tidak digunakan sebagai
antireumatik.Paracetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin yang
lemah.Efek iritasi, erosi dan pendarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat
ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.
c. Farmakokinetik

Paracetamol mudah diserap melalui saluran pencernaan.Paracetamol


didistribusikan kehampir seluruh cairan tubuh melintasi plasenta dan keluar
melalui ASI.Ikatan protein plasma dapat diabaikan pada konsentrasi terapeutik
normal, namun dapat meningkat dengan peningkatan konsentrasi .waktu paruh
eliminasi dari paracetamol bervariasi antara 1-3 jam.Kadar maksimum paracetamol
dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit setelah pemberian.
Paracetamol dimetabolisme terutama dihati dan diekskresikan dalam urin terutama
sebagai glukuronida dan sulfat konjugat.Kurang dari 5% diekskresikan dan masih
dalam bentuk paracetamol.Sebuah metabolit dihidroksilasi kecil (N-acetyl p
benzokuinoneimine), biasanya diproduksi dalam jumlah sangat kecil oleh sitrokom
P450 isoenzim (terutama CYP2E1 dan CYP3A4) dihati dan ginjal.Hal ini biasanya
didetoksifikasi oleh konjugasi dengan glukation tetapi mungkin menumpuk setelah
over dosis paracetamol dan menyebabkan kerusakan jaringan.
1.3 Tinjauan Tentang Bahan Aktif
a. Organoleptis
Warna : putih
Bau : tidak berbau
Rasa : pahit
b. Mikroskopis
Bentuk Kristal : hablur atau serbuk hablur
c. Sifat fisika kimia
Densitas : 1,263 g/cm3
Titik lebur : 1690 C (3360 F)
Massa molar : 151,17 g/mol
Ksp : 1,4 g/100 ml or 14 mg/ml (200C)
Higroskopisitas : tidak higroskopis
d. Stabilitas
Bahan padat terhadap :
Suhu : peningkatan suhu dapat mempercepat degradasi bahan obat
Cahaya : Tidak stabil terhadap sinar UV
Hidrolisis dapat terjadi dalam keadaan asam atau basa. Hidrolisis minimum
terjadi pada rentang pH 5-7
Terhadap pelarut : Paracetamol sangat stabil dalam air
e. Khasiat
Analgetikum dan antipiretikum.

f. Efek Samping
Reaksi alergi terhadap derivate p-aminofenol jarang terjadi.Manifestasinya berupa
eritema atau urtikaria dan gejala lebih berat berupa demam atau lesi pada mukosa.
Fanesetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian
kronik.Anemia hemolitik dapat terjadi berdasarkan mekanisme
autoimun.Defisiensi enzim G6PD dan adanya metabolit yang abnormal.

Mathemoglobinemia dan sulfhemoglobinemia jarang menimbulkan masalah pada


dosis terapi, karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah menjadi met-Hb.
Mathemoglobinemia baru merupakan masalah pada takar ajak.
Eksperimen pada hewan coba menunjukan bahwa gangguan ginjal lebih mudah
terjadi akibat asetosal daripada fenasetin.Penggunaan semua jenis analgesic dosis
besar secara menahun terutama dalam kombinasi berpotensi menyebabkan
netropati analgesic.
g. Indikasi
Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesic dan antipiretik, telah
menggantikan penggunaan salisilat.Parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu
lama karena kemungkinan menimbulkan nefropati analgesic.Jika dosis terapi tidak
memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Karena hamper tidak
mengiritasi lambung, parasetamol sering dikombinasi dengan AINS untuk efek
analgesic.
h. Kontra Indikasi
Hipersensitivitas terhadap parasetamol
Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
1.4 Bahan aktif terpilih: paracetamol
Alasan: karena hanya ada satu bentuk senyawa atau struktur kimia paracetamol,
ekonomis, harga terjangkau, mudah didapat di pasaran.

1.5 Bentuk sediaan terpilih: drop atau tetes


Alasan: karena ditujukan untuk usia 0 bulan 1 tahun sehingga sediaan drop
diharapkan dapat memudahkan anak usia tersebut mengkonsumsi obat paracetamol
drop ini.

BAB II
PERHITUNGAN DOSIS
2.1 Dosis Menurut Pustaka
a. Usia 0-12 bulan : dosis obat anak kurang dari 1 tahun = 10-15 mg/kg/BB
Alasan: memudahkan anak di usia 0-12 bulan untuk meminum obat
b. Lama pengobatan : 3-4 hari
Alasan : karena sediaan guttae paracetamol hanya digunakan untuk mencegah dan
mengobati gejala penyakit
c. Dosis Takar:
0-3 bulan : 3-5,4 kg = 30-54 mg = 1 ml- 1,5 ml

3-6 bulan : 5,4-6,8 kg = 54-68 mg = 1,5 ml- 2 ml


6-9 bulan : 6,8-7,5 kg = 68-75 mg = 2 ml- 2,08 ml
9-12 bulan : 7,5-8,0 kg = 75-80 mg = 7,08 ml- 7,5 ml
d. Perhitungan Takaran Terkecil
Kadar bahan aktif = 60 mg
30mg / 60 mg x 0,8 ml = 0,4 ml
e. Dosis pemakaian:
0 bulan = 30 x 0,4 / 60 = 0,2 ml = 0,2 ml
3 bulan = 54 x 0,4 / 60 = 0,36 ml = 0,4 ml
6 bulan = 68 x 0,4 /60 = 0,45 ml = 0,5 ml
9 bulan = 75 x 0,4 / 60 = 0,5 ml = 0,5 ml
12 bulan = 80 x 0,4 / 60= 0,53 ml = 0,5 ml
f. Dosis obat untuk sehari (4x sehari)
0 bulan = 0,2 x 4 = 0,8 ml = terkecil
3 bulan = 0,4 x 4 = 1,6 ml
6 bulan = 0,5 x 4 = 2 ml
9 bulan = 0,5 x 4 = 2 ml
12 bulan = 0,5 x 4 = 2 ml = terbesar
g. Dosis obat untuk sehari (3xsehari)
0 bulan = 0,8 x 3 = 2,4 ml= terkecil
3 bulan = 1,6 x 3 = 4,8 ml
6 bulan = 2 x 3 = 6 ml
9 bulan = 2 x 3 = 6 ml
12 bulan = 2 x 3 = 6 ml = terbesar
Alasan menentukan kemasan terkecil : karena paracetamol ditujukan untuk
pengobatan yang hanya 3-4 hari.

BAB III
PERSYARATAN UMUM

3. 1 Definisi Sediaan Guttae


Menurut FI III
Guttae adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspense yang dimaksudkan
untuk obat dalam atau obat luar digunakan dengan cara meneteskan menggunakan
penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes
baku yang disebutkan pada Farmakope Indonesia. Jika disebutkan guttae atau obat
tetes tanpa penjelasan lebih lanjut yang dimaksud adalah guttae untuk obat
dalam.Penetes baku adalah penetes yang pada suhu 200 memberikan tetesan air
suling yang bobotnya antara 47,5 mg dan 52,5 mg ( F I III / XXXV). Tetes yang
dimaksud adalah tetes yang keluar bebas dari penetes baku secara tegak lurus atau
dari penetes lain yang telah ditara terhadap penetes baku (F I III / XXXV).
Menurut The Pharmaceutical Codex 12 ed. P.31
Larutan oral adalah homogen, mengandung satu atau lebih bahan aktif pada pelarut
yang sesuai.Bahan obat yang kurang larut atau tidak larut dapat ditingkatkan
dengan penambahan kosolven yang larut air seperti etanol, glyserol, atau
propilenglikol yang sesuai untuk penggunaan secara oral.
Parasetamol berasa pahit, sehingga untuk membuat sediaan sirup yang ditujukan
kepada anak-anak, perlu ditambah pemanis.
3. 2 Persyaratan Bentuk Sediaan Drop (obat tetes) :
Jernih
Larutan berwarna
Biasanya tersedia dalam bentuk larutan yang manis
Pemakaian per volume kecil dengan kadar obat yang memadai
3. 3 Definisi Paracetamol Drop
Paracetamol drop adalah sediaan cair berupa larutan yang dimaksudkan untuk obat
dalam yang mengandung bahan aktif paracetamol yang digunakan dengan cara
meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan
tetesan yang dihasilkan penetes baku yang umumnya mengandung pelarut
propilenglikol.

BAB IV
SPESIFIKASI SEDIAAN
4. 1 Spesifikasi sediaan
Bahan aktif yang terpilih : paracetamol
Bentuk sediaan terpili : drop
Persyaratan bentuk sediaan : stabil, jernih, homogeny
Kadar bahan aktif : 60 mg/5ml
PH sediaan : 6 0,5
Kemasan terkecil : 15 ml
Warna : kuning
Bau : bau jeruk
Rasa : jeruk manis
Bentuk Sediaan Bahan Aktif PH Sediaan Viskositas Organoleptis
Drop/Guttae Paracetamol. Larutan paracetamol mengandung paracetamol
C8H9NO2 tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang
tertera pada etiket. (FI 4 hal 651) 6
(FI 4 hal 651) Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. (FI 4 hal
649)
Spesifikasi Formula 1
Permasalahan Penyelesaian Pilihan Bahan Bahan Yang Dipakai Alasan
Kelarutan 1:70 dalam air. 1:40 dalam gliserol. 1:40 dalam propilenglikol
Ditambahkan co-solven Gliserol
Sorbitol
Propilenglikol
aquadest Sorbitol Sangat mudah larut dalam air
Rasa pahit Sediaan ditujukan untuk anak usia 0-1 tahun Ditambahkan pemanis
Sakarin Na
Glukosa
Sukrosa
Propilenglikol
Sakarin Na Dapat menutupi rasa yang pahit dari bahan aktif karena memiliki rasa
yang lebih manis dari sukrosa. Memiliki kelarutan 1,5 dalam air
Kestabilan pada PH 5,4-6,9 (tidak stabil) Ditambahkan dapar untuk menjaga
kestabilannya NaCl
Asam Benzoat
Propilenglikol
Na2HPO4
NaH2PO4 Na2HPO4

NaH2PO4 Karena paracetamol bersifat basa dan memerlukan garam yang bersifat
basa pula.
Bentuk sediaan Drop. Bahan aktif berwarna putih, pahit, tidak berbau
Ditambahkan pewarna Karmin
Syrup aurantii
Tartrazin
Oleum citri Oleum citri Memberikan warna kuning pada sediaan. Memiliki rasa
manis dan bau yang harum sehingga dapat memperbaiki rasa dan bau
Kestabilan terhadap cahaya Tidak stabil terhadap cahaya Dikemas dalam botol
berwarna coklat Tidak terlalu menyerap cahaya
Spesifikasi formula 2
Permasalahan Penyelesaian Pilihan bahan Bahan yang dipilih Alasan
Kelarutan Sukar larut Ditambahkan co-solvent Gliserol
Propilenglikol
aquadest propilenglikol Karena propilenglikol bersifat multifungsi selain sebagai
pelarut juga sebagai pengawet
Rasa pahit Sediaan ditujukan untuk anak usia 0-12 bulan Ditambahkan pemanis
Sakarin Na
Sukrosa
Glukosa Sakarin Na Dapat menutupi rasa yang pahit karena memiliki rasa yang
lebih manis dari sukrosa
Kestabilan terhadap PH 5,4-6,9
(tidak stabil) Ditambahkan dapar Asam benzoate
Na Benzoat
NaCl
Propilenglikol
Na2HPO4
NaH2PO4 Na2HPO4
NaH2PO4 Karena paracetamol bersifat basa sehingga memerlukan garam yang
bersifat basa pula
Bentuk sediaan Bahan aktif berwarna putih Ditambahkan pewarna Tartrazin
Karmin
Oleum citri Oleum citri Memberikan warna kuning dalam sediaan. Memiliki rasa
yang lebih manis dari sukrosa dan bau yang segar sehingga dapat memperbaiki
rasa dan bau.
Kestabilan terhadap cahaya Tidak stabil Dikemas dalam botol berwarna coklat
Tidak terlalu menyerap cahaya
BAB V
FORMULASI
Bagan alir pemilihan bahan
Paracetamol

Kelarutan rasa pahit kestabilan PH bentuk sediaan kestabilan


Sukar larut ditujukan untuk 0-1 th tidak stabil drop/guttae cahaya
+ cosolven + pemanis + dapar bahan aktif putih tdk stabil dikemas dg botol coklat
Gliserol sakarin Na NaCl pahit, tidak berbau
Sorbitol glukosa asam benzoate + pewarna
Propilengliko sukrosa NaH2PO4 karmi tdk terlalu menyerap
Aquadest propilenglikol Na2HPO4 tartrazin
Sorbitol sakarin Na propilenglikol sirup aurantiicahaya
Memiliki rentang 0,04%-0,25%, Na2HPO4 oleum citri
memiliki rasa 300 x lebih NaH2PO4 oleum citri
manis dari sukrosa, sehingga sedikitdapat memperbaiki penampilan
saja penambahan sudah manis. Sediaan karena dapat memberi
warna kuning, rasa manis dan
bau yang segar
Bahan-bahan terpilih
1. paracetamol : zat aktif
Fungsi : analgetik, antipiretik
Sifat fisika kimia:
Densitas : 1,263 g/cm3
Titik lebur : 1690 C (3360 F)
Massa molar : 151,17 g/mol
Ksp : 1,4 g/100 ml or 14 mg/ml (200C)
Higroskopisitas : tidak higroskopis
Inkompatibilitas : Ikatan hidrogen pada mekanismenya pernah dilaporkan oleh
karena itu parasetamol dihubungkan dengan permukaan dari nilon dan rayon
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95%, dalam 13bagian
aseton. Dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol.
Alasan : hanya ada 1 bentuk paracetamol
2. sorbitol:
Fungsi : pelarut
Rentang : 20-35 %
ADI : Sifat fisika kimia :- berat jenis : 1,472
- Titik lebur : 930 C
- Titik didih : 2960 C
- Larut dalam air, gliserol, propilenglikol
Inkompaktibilitas :membentuk khelat yang larut dalam suasana asam dan basa
yang kuat.
Kelarutan :
Alasan : sangat mudah larut dalam air
3. sakarin Na
Fungsi : pemanis
ADI : 5 mg / kgBB

Rentang : 0,02-0,50%
Inkompaktibilitas : sakarin dapat bereaksi dengan molekul yang besar sehingga
terjadi endapan.
Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air dan dalam 50 bagian etanol 95%
Sifat fis-kim : Berat Molekul : 183,19 241,19
Titik Leleh : 230oC
Titik Didih : 299oC
Tidak stabil pada pemanasan
Akan pahit bila mengalami pemanasan
Pada temperatur sedang sampai tinggi bersifat meninggalkan rasa pahit atau
rasa logam
Alasan : memiliki rasa yang lebih manis dari sukrosa (300x), mudah larut dalam air
4. Na Benzoat
Fungsi : pengawet
Rentang : 0,02-0,5%
ADI : 5 mg / kgBB
Inkompaktibilitas : tidak kompatibel dengan senyawa kuartener, gelatin, garam
besi, garam kalsium, dan garam logam berat, termasuk perak, timah, merkuri.
Kegiatan pengawet dapat dikurangi dengan interaksi dengan kaolin atau surfaktan
nonionik
Kelarutan : larut dalam 2 bagian air dan dalam 90 bagian etanol 95%
Sifat fis-kim :
Alasan : mudah didapat, efisien, cocok digunakan sebagai pengawet untuk sediaan
oral
5. oleum citri
Fungsi : coloris, odoris, saporis
Rentang : ADI : Inkompaktibilitas : Kelarutan : Sifat fis-kim : Alasan : dengan sedikit penambahan sudah dapat memberikan warna kuning, rasa
yang manis, bau yang segar
6. propilenglikol
Fungsi : pelarut, pengawet
Rentang : pelarut = 10-25 %
Pengawet = 15-30 %
ADI : 25 mg / kgBB
Inkompaktibilitas : pelarut oksidasi, seperti KMnO4
Kelarutan : larut dalam etanol 95%, klorofom P, 6 bagian eter P.
Sifat fis-kim : Berat Molekul : 90.14
Density : 0.962 g/cm3 @ 20C
Titik Didih : 118-118.5C
Titk Leleh : -96.7C
Tekanan Uap : 11.8 torr @ 25C

Alasan : propilenglikol bersifat multifungsi selain sebagai pelarut dapat pula


sebagai pengawet
Perhitungan waktu kadaluarsa
Paracetamol pada PH = 6 : t1/2 = 21,8
Log K = (2,303 / t1/2) x log (co / ct)
Maka
Log K= (2,303 / t1/2) x log (co / co)
Log K = (2,303 / 21,8) x log 2
Log K = 0,0318
Sehingga diperoleh T90 sebesar
Log K = (2,303 / t1/2) x log (co/ct)
0,0318 = (2,303 / t90) x log (co/0,9 co)
0,0318 = 0,105 / t90
t90 = 3,31 tahun
sehingga diperoleh t95 sebesar
log K = (2,303 / t1/2) x log (co / ct)
0,0318 = (2,303 / t95) x log (co / 0,95 co)
0,0318 = 0,0513 / t95
t95 = 1,6132tahun
kesimpulan : jadi massa kadaluarsa paracetamol +- 3,31 tahun dari tanggal
pembuatan
Formula baku ( Handbook of Pharm Manufacturing Formulation Liquid Product
hal 78)
Bill of Materials
Scall (mg/ml) item Material name Quantity / L (g)
739,0 1 Propilenglikol 739,0
900 2 Acetaminophen 90,0
17,5 3 Saccharin Sodium Powder 17,5
8,75 4 Sodium Chloride 8,75
0,05 5 Dye Red FD & C No. 40 a 0,05
2,5 6 Water purified 2,5
2,0 7 Flavor wild cherry artificial 2,0
65,0 8 Alcohol (ethanol) 190 proof nonbeverage 65,0
Qs 9 Water purified Qs to 1 L

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Definisi
Menurut Farmakope Indonesia III, Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang
mengandung sakarosa. Kadar sakarosa (C12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih
dari 66%.
Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dalam kadar tinggi
(Anonim, 1995). Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat
atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental
yang minimal mengandung 50% sakarosa.
Dalam perkembangannya, banyak sekali pengertian mengenai sirup. Sirup adalah
sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Sirup adalah sediaan cairan kental
untuk pemakaian dalam, yang minimal mengandung 90% sakarosa.
2.1.2 Komponen Sirup
a. Pemanis
Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Dilihat dari kalori yang
dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan pemanis berkalori rendah. Adapun
pemanis berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa sdangkan yang berkalori
rendah seperti laktosa.
b. Pengawet antimikroba
Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar dapat bertahan
lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.
c. Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang
berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai rasa yang enak. Karena sirup adalah
sediaan cair, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma
ditambahkan ke dalam sirup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi. Pemberian
pengaroma ini harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa jeruk diberi
aroma citrus.

d. Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan
komponen lain dalam sirup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan.
Penampilan keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan.
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisen dengan rasa.

Juga banyak sediaan sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan mengandung
pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.
2.1.3 Sifat Fisika Kimia Sirup
a. Viskositas
Viskositas atau kekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan
hambatan untuk mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk
menggerakkan secara berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar
lainnya dalam kondisi mapan tertentu bila ruang diantara permukaan tersebut diisi dengan
cairan yang akan ditentukan kekentalannya. Untuk menentukan kekentalan, suhu zat uji yang
diukur harus dikendalikan dengan tepat, karena perubahan suhu yang kecil dapat
menyebabkan perubahan kekentalan yang berarti untuk pengukuran sediaan farmasi. Suhu
dipertahankan dalam batas idak lebi dari 0,1 C.
b. Uji mudah tidaknya dituang
Uji mudah tidaknya dituang adalah salah satu parameter kualitas sirup. Uji ini
berkaitan erat dengan viskositas. Viskositas yang rendah menjadikan cairan akan smakin
mudah dituang dan sebaliknya. Sifat fiik ini digunakan untuk melihat stabilitas sediaan cair
selama penyimpanan.Besar kecilnya kadar suspending agent berpengaruh terhadap
kemudahan sirup untuk dituang. Kadar zat penstabil yang terlalu besar dapat menyebabkan
sirup kental dan sukar dituang.
c. Uji Intensitas Warna
Uji intensitas warna dilakukan dengan melakukan pengamatan pada warna sirup
mulai minggu 0-4. Warna yang terjadi selama penyimpanan dibandingkan dengan warna pada
minggu 0. Uji ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna sediaan cair yang disimpan
Selama waktu tertentu.

2.1.4 Pembuatan Sirup


Kecuali dinyatakan lain, Sirup dibuat dengan cara sebagai berikut :
Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut.
Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki, buang busa
yang terjadi, serkai.
Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glukosida antrakinon, di
tambahkan natrium karbonat sejumlah 10% bobot simplisia.pada pembuatan sirop simplisia
untuk persediaan di tambahkan Nipagin 0,25% b/v atau pengawet yang cocok.sirop disimpan
dalam wadah tertutup rapar,dan di tempat yang sejuk.
2.2 Uraian Bahan
2.2.1 Uraian Zat Aktif

1. Parasetamol (Sumber FI Edisi III, Halaman 37)


Warna
: Putih
Rasa
: Pahit
Bau
: Tidak berbau
Pemerian
: serbuk hablur
Kelarutan
: Larut dalam 70 bagian air, larut dalam 7 bagian etanol (95%)P, larut
dalam 13 bagian aseton, larut dalam 40 bagian gliserol, larut dalam sebagian propilen glikol,
larut dalam alkali hidroksida.
Suhu lebur
: 169o - 172o C
Masa molekular : 272,4 g/mol
PH larutan
: 3,8 6,1
Stabilitas
: Pada suhu > 40oC akan lebih mudah
- terdegradasi, lebih mudah terurai dengan adanya udara dari
- luar dan adanya cahaya, pH jauh dari rentang pH optimum
- akan menyebabkan zat terdegradasi karena terjadi hidrolisis.
Khasiat dan Penggunaan : Anelgetikum, Antipiretikum.

2.2.2 Uraian Zat Tambahan


1. Sukrosa (Sumber ; FI Edisi III, Halaman 725)

Warna
Rasa
Bau
Pemerian
Kelarutan

: Putih, tidak berwarna


: Manis
: Tidak berbau
: Hablur, masa hablur, bentuk kubus
: Sangat mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam

etanol, tidak larut dalam klroform dan eter.


Titik didih : 186oC
Bobot jenis
: 1,587 g/ mol
Stabilitas : Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar.
Khasiat

: Bahan sirupus simplex

2. Metil paraben / Nipagin (Sumber ; FI Edisi III, Halaman 378)


Warna
: Putih
Rasa
: Tidak mempunyai rasa
Bau
: Hampir tidak berbau
Pemerian : Serbuk hablur halus
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 25 bagian etanol (95 %)

P, dan dalam 3 bagian aseton


P ; mudah larut dalam eter P, dan dalam alkali hidroksida.
0
0
Titik Lebur
: 125 C sampai 128 C
Pka/pkb
: 8,4
Bobot Jenis : 1,352 gr/cm3 atau 1,352 gr/ml
pH larutan : 3-6
Stabilitas
: Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar
Khasiat
: Bahan Pengawet

3. Gliserol
Nama resmi
: Glycerolum
Nama lain
: Gliserol, Gliserin
Pemerian : Cairan seperti sirop; jernih; tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa
hangat; higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat mamadat
membentuk massa hablutr tidak berwarna yang tidak melebur hingga mencapai suhu lebih
kurang 20.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut
dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak.
Khasiat : Pelarut
4. Asam Sitrat

Pemerian
: hablur tidak berwarna atau serbuk putih; tidak berbau; rasa sangat asam; agak
higroskopik merapuh dalam udara kering dan panas.
Kelarutan
: larut dalam kurangdari 1 bagian air dan dalam 1,5 bagian etanol (95%) P;
sukar larut dala eter P.
Titik Lebur
:
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat
: Pendapar

III METODE PRAKTIKUM


2.1 Alat dan Bahan
ALAT
Timbangan
Spektrofotometer
Batang pengaduk
Botol coklat
Spatel
Kertas perkamen
Gelas ukur
Erlenmeyer
Pipet tetes
Beaker glass
Viskometer Broukfield
Piknometer

2.2 Formulasi

BAHAN
Paracetamol
Nipagin
Sukrosa
Propilenglikol
Gliserol
PEG6000
Asam sitrat
Sodium sakarin
Natrium sitrat
Erytrocine Soluble Colour
Grave Flavour
Aquadest

2.3 Prosedur Kerja


2.3.1 Cara Pembuatan
1. pembuatan sirup gula

Dalam gelas pialan 1 L yang berisi air suling ( suhu 80o )


Dimasukan sukrosa sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai larut
Dinginkan sampai suhu 40o

2. Pembuatan Larutan Sirup Paracetamol


Masukan propilen glikol dan gliserol dalam labu erlenmeyer
Masukan nipagin sambil diaduk ad larut
Larutan dipanaskan pada suhu 50-60oC
Masukan secara bertahap paracetamol sambil diaduk ad larut
Dinginkan ad suhu 40oC

3. Pembuatan Larutan Dapar dan Zat Warna


Masukan secara bertahap asam sitrat, natrium sitrat, natrium sakarin
Larutkan dalam aquadest sambil diaduk ad larut dan homogen.
Tambahkan zat warna erytrocyne seluble color sambil di aduk ad homogen.
Tambahkan PEG 6000 secara bertahap sambil di aduk hingga larut dan homogen.
4. pembuatan sirup akhir

Masukan larutan paracetamol + nipagin + gliserol + propilenglikol dalam erlenmeyer


Tambahkan sedikit sirupus simplex, aduk larutan ad homogen
Masukan larutan dapar + zat warna + PEG 6000, sambil diaduk ad homogen
Tambahkan larutan grape flavor sambil diaduk ad homogen
Tambahkan sirupus simplex hingga 60 mL.
Kemas dalam botol 60 mL.

2.3.2 Evaluasi Sediaan


1. Uji Pemerian

Keadaan yang di amati yaitu :


Warna,
Rasa,
Bau,
Kelarutan.
Pemberian dikatakan baik jika warna sirup tidak berubah dan bau tidak hilang.
2. Pemeriksaan BJ

3. Pemeriksaan pH

Larutan sirup yang telah jadi masing-masing dituangkan dalam gelas piala 20 mL

Lakukan pengukuran pH menggunakan pH meter dengan mencelupkannya dalam larutan


sirup.
4. Volume Terpindahkan

Botol 60 mL yang sebelumnya telah dikalibrasi

Sediaan sirup yang telah jadi kemudian dimasukan ke dalam botol 60 ml sampai batas
kalibrasi

Tuang kembali sirup dalam gelas ukur untuk mengetahui volume terpindahkannya serta
ketepatan dalam melakukan kalibrasi.

5. Pemeriksaan Viskositas
Mengukur viskositas sirup paracetamol menggunakan Viskometer Brookfield :
Masukan sirup kedalam beaker glass
Pasang alat brookfield dan masukan spindel dalam sirup paracetamol
Pilih pengatur kecepatan; amati jarum penunjuk pada saat konstan
Catat angka yang ditunjuk jarum; hitung viskositasnya.

6. Pemeriksaan Kadar
A. Standar Paracetamol
Timbang 340 mg paracetamol standart larutkan dalam 10 mL NaOH 0,1 N dan tambahkan
aquadest ad 100 mL (Larutan 1). Kocok ad homogen.
Pipet 1mL larutan 1. Tambahkan aquadest ad 25 mL. Kocok ad homogen. (Larutan 2)
Pipet 1mL larutan 2. Tambahkan 2,0 mL NaOH 0,1N, tambahkan aquadest ad 25mL. kocok
ad homogen. Lakukan penetapan kadar paracetamol standar menggunakan spektrofotometri
dengan panjang gelombang 257 nm.
B. Sampel Paracetamol

Dari sediaan sirup paracetamol dipipet 10,0 mL tambahkan 10 mL NaOH 0,1N, tambahakan
aquadest ad 100 mL. Kocok ad homogen.
Pipet 1mL larutan 1. Tambahkan aquadest ad 25 mL. Kocok ad homogen. (Larutan 2)
Pipet 1mL larutan 2. Tambahkan 2,0 mL NaOH 0,1N, tambahkan aquadest ad 25mL. kocok
ad homogen. Lakukan penetapan kadar paracetamol menggunakan spektrofotometer dengan
panjang gelombang 257 nm.

IV HASIL PENGAMATAN
4.1 . Uji Pemerian
Sebelum penyimpanan

Setelah 1 minggu penyimpanan

Warna sirup

: Merah

Warna sirup

: Merah

Bau sirup

: Wangi anggur

Bau sirup

: Wangi anggur

Rasa

: Manis, pahit

Rasa

: Manis, pahit

Kelarutan
mengendap

: Larutan bening dan tidak

Kelarutan
mengendap

: Larutan bening dan tidak

4.2 Pemeriksaan pH
Rentang pH sediaan paracetamol sirup 3,8 6,1
Sebelum penyipanan

Setelah 1 minggu penyimpanan

4,5

8,5

Sebelum penyimpanan

Setelah 1 minggu penyimpanan

1,14 gr/ml

1,15 gr/ml

4.3 Pemeriksaan BJ

5.4 Pemeriksaan Viskositas


Spindel
61

A. Sebelum penyimpanan
Kecepatan
Skala
Koefisien
6 rpm
2,5
10

Viskositas
20 cP

Spindel
61

B. Setelah Penyimpanan 1 minggu


Kecepatan
Skala
Koefisien
6 rpm
2,5
10

Viskositas
20 P

4.5 Volume Terpindahkan


a.

Sebelum penyimpanan
Kelompok
1
2
3

Botol 1
63 ml
62 ml
62 ml

Botol 2
62 ml
62 ml
63 ml

4
5

63 ml
61 ml

64 ml
62 ml

b. Setelah 1 Minggu Penyimpanan


Kelompok
1
2
3
4
5

Botol
62 ml
61 ml
61 ml
62 ml
61 ml

4.6 Pemeriksaan Kadar


Data Penimbangan Standar Paracetamol
Kertas Timbang
Kertas Kosong
Kertas + Isi
Kertas + Sisa
Bobot Sampel

Standar 1
0,1281 gram
0,4703 gram
0,1286 gram
0,3417 gram

Standar 2
105,0 mg
445,6 mg
105,2 mg
340,4 mg

Data Penetapan Kadar Sirup Paracetamol Setelah Pembuatan


Larutan Uji
Standar 1
Sampel 1
Sampel 2

Transmitan
Absorban
40,8 0,408
0,3893
48,5 0,485
0,3142
48,9 0,489
0,3106
Rata-rata % kadar paracetamol

%Kadar
80,58 %
79,66 %
80,12 %

Data Penetapan Kadar Sirup Paracetamol Setelah 1 Minggu Penyimpanan


Larutan Uji
Transmitan
Absorban
43,7 0,437
Standar
0,3595
46,4 0,464
Sampel 1
0,3334
43,5 0,435
Sampel 2
0,3615
45,0 0,45
Sampel 3
0,3467
Rata-rata % Kadar sirup paracetamol

%Kadar
92,24 %
100,02 %
95,92 %
96,06 %

IV.

DASAR TEORI

Solution (larutan)
Larutan adalah sediaan yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut di
gunakan air suling kecuali di nyatakan lain.
Elixir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, selain obat.
Sebagai pelarut utama elixir adalah etanol yang di maksudkan untuk mempertinggi kelarutan.
Mixtura adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut banyak.
Suspensiaon(suspensi)
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan
tidak larut, tidak boleh cepat mengendap, bila di gojok perlahan-lahan endapan harus segera
terdispersi kembali.
Emulsa(emulsi)
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi
dalam cairan pembawa, di stabilkan dengan zat pengeulsi atau surfaktan yang cocok.
Merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, bisanya air dan minyak,
di mana cairan yang satu terdispersi manjadi butit-butir kecil dalam cairan yang lain.
Berdasarkan cara pemberiannya, bentuk sediaan cair di golongkan menjadi :
Sediaan cair oral : potiones (obat munum), elixir, sirup, guttae.
Sediaan cair topical : collirium, gargarisma, mouthwash, guttae nasales, guttae opthalmicae,
guttae auricularis, irigationes, inhalations, ephitema, lotion.
Sediaan cair rektal/vagina : clysma, douche.
Sediaan cair perenteral : injeksi.

5.
6.

4.
6.

Keuntungan sediaan cair :


1. Cocok untuk penderita yang sukar menelan tablet
2. Absorpsi obat lebih cepat di bandingkan dengan sediaan oral lain.
3. Homogenitas lebih terjamin.
4. Dosis/takaran dapat di sesuaikan.
Dosis obat lebih seragam dibandingkan semi padat, terutama bentuk larutan. Untuk
emulsi
dan suspensi, keseragaman dosis tergantung pada pengocokan.
Beberapa obat atau senyawa obat dapat mengiritasi mukosa lambung atau di rusak cairan
lambung bila diberikan dalam bentuk sediaan padat. Hal ini dapat di kurangi dengan
memberikan obat dalam bentuk sediaan cair karena faktor pengenceran.
Kerugian sediaan cair :
1. Tidak dapat di buat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air.
2. Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi.
3. Tidak praktis
Takaran penggunaan obat tidak dalam dosis terbagi, kecuali sediaan dosis tunggl, dan harus
menggunakan alat khusus.
5. Air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan merupakan katalis reaksi.
Pemberian obat harus menggunakan alat khusus atau oleh orang khusus. (sediaan parenteral)

V. FORMULA SEDIAAN CAIR ORAL


a) Sirup prasetamol/acetaminophen.

R/ parasetamol
120mg/5ml
Etano
l 5ml
PEG
5,5ML
Sir simplex
40%
As benzoat
1%
CMC
1%
Pewarna
1%
Essenese
q.s
Aqua ad 60ml
= Perhitungan bahan.

1.
2.
3.
4.
5.

Cara kerja :
Botol di kalibrasi 60ml
Timbang parasetamol masukkan dalam beker gelass + etanol aduk ad larut. PEG + as benzoat
aduk ad larut.
Taburkan CMC di atas air biakan sampai mengembang aduk.
No 2 + no 3 aduk ad larut, + pewarna aduk ad homogen.
Tambahkan air ad 60ml + essenese q.s

Emulsi minyak ikan.

R/ Minyak ikan 20ml


Air
10ml
PGA
5
Sir simplex
20%
Aqua ad 100
Perhitungan bahan :
Minyak Ikan
Air
PGA

= 20 ml
= 10 ml
=5

Sirup Simplex

Aqua ad

= 20 ml

= 100

Cara kerja :
1. Pembuatan korpus emulsi dengan perbandingan MINYAK : AIR : PGA = 4 : 2 : 1
2. Masukkan minyak ikan ke dalam mortir tambahkan PGA aduk ad homogen, masukkan air
sekaligus aduk ad terjadi korpus emulsi.
3. Tambahakan sir siplex aduk ad homogen + air ad 100.
VI.

PEMBAHASAN
Parasetamol (Acetaminophen) mengandung tidak kuran dari 98,0% dan tidak
lebihdari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian
: Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan
: Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian
aseton P, dalm 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan
alkali hidroksida.
Khasiat
: Analgetikum ;Antipiretikum.
Parasetamol merupakan obat golongan analgetik-antipiretik yang saat ini banyak
digunakan sehingga perlu dibuat suatu formula yang stabil untuk sediaan sirup. Parasetamol
merupakan derifat asetanilida yang digunakan sebagai analgetik-antipiretik. Umumnya obat
dalam bentuk cair lebih disukai daripada bentuk padat karena mudahnya menelan cairan dan
keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian lebih mudah untuk memberikan dosis yang
relatif sangat besar, aman dan juga mudah diatur penyesuaian dosis untuk anak-anak.

Emulsi cair merupakan emulsi di dalam medium pendispersi cair. Emulsi cair melibatkan
campuran dua zat cair yang tidak dapat saling melarutkan jika dicampurkan yaitu zat cair polar dan
zat cair non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air dan zat lainnya seperti minyak.
VII.
KESIMPULAN.

Parasetamol merupakan salah satu yang paling umum digunakan 'over-the-counter'


obat-obatan, terutama untuk penyakit ringan yang diderita oleh banyak anak-anak.Tapi
terkadang tidak digunakan dalam dosis yang tepat, yang mungkin membuatnya kurang efektif
atau berbahaya.
Menggunakan parasetamol utama adalah untuk menghilangkan rasa sakit dan untuk
mengurangi demam. Sementara yang memiliki suhu dinaikkan tidak selalu hal yang buruk,
karena dapat membantu kekebalan tubuh, dapat membuat orang yang terkena merasa sangat
tidak nyaman.
Definisi emulsi adalah dua zat cair yang berbeda jenisnya dalam keadaan koloid. Dua zat air
ini tidak saling melarutkan. Misalnya air susu, air santan, serta air dalam minyak seperti minyak
rambut dan minyak ikan. Air tidak bisa bercampur dengan minyak. Jika air dikocok dengan sedikit
minyak, maka minyak akan menyebar ke seluruh bagian, tetapi kalau dibiarkan akan berpisah.