You are on page 1of 24

LI. 1.

Mampu Memahami dan menjelasakan Asma Pada Anak


LO 1.1. Definisi

Menurut National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI, 2007), pada individu yang rentan,
gejala asma berhubungan dengan inflamasi yang akan menyebabkan obstruksi dan
hiperesponsivitas dari saluran pernapasan yang bervariasi derajatnya.
Definisi asma yang lengkap menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanisme
terjadinya asma dikeluarkan oleh GINA (Global Initiative for Asthma). Asma didenfinisikan
sebagai gangguan inflamasi kronik saluran respiratorik dengan banyak sel yang berperan,
khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflmasi ini menyebabkan
episod wheezing berulang, sesak napas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam
dan dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan saluran respiratorik yang
luas namun bervariasi, yang paling tidak bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan
pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas saluran respiratorik terhadap
berbagai rangsangan. (UKK Pulmonologi, 2004)

LO.1.2. Etiologi
Pemicu mengakibatkan terganggunya saluran pernafasan dan mengakibatkan penyempitan dari
saluran pernafasan (bronkokonstriksi). Pemicu tidak menyebabkan peradangan. Banyak kalangan
kedokteran yang menganggap pemicu dan bronkokonstriksi adalah gangguan pernafasan akut, yang
belum berarti asma.
1. Alergen
Faktor alergi dianggap mempunyai peranan penting pada sebagian besar anak dengan asma
(William dkk 1958, Ford 1969). Disamping itu hiperreaktivitas saluran napas juga merupakan
factor yang penting. Sensitisasi tergantung pada lama dan intensitas hubungan dengan bahan
alergenik sehingga dengan berhubungan dengan umur. Pada bayi dan anak kecil sering
berhubungan dengan isi dari debu rumah. Dengan bertambahnya umur makin banyak jenis alergen
pencetusnya. Asma karena makanan biasanya terjadi pada bayi dan anak kecil.
2. Infeksi
Biasanya infeksi virus, terutama pada bayi dan anak kecil. Virus penyebab biasanya respiratory
syncytial virus (RSV) dan virus parainfluenza. Kadang-kadang juga dapat disebabkan oleh bakteri,
jamur dan parasit.
3. Cuaca
Perubahan tekanan udara (Sultz dkk 1972), suhu udara, angin dan kelembaban (Lopez dan
Salvagio 1980) dihubungkan dengan percepatan dan terjadinya serangan asma.
4. Iritan
Hairspray, minyak wangi, asap rokok, cerutu dan pipa, bau tajam dari cat, SO2, dan polutan
udara yang berbahaya lainnya, juga udara dingin dan air dingin.Iritasi hidung dan batuk dapat
menimbulkan refleks bronkokonstriksi (Mc. Fadden 1980). Udara kering mungkin juga merupakan
pencetus hiperventilasi dan kegiatan jasmani (strauss dkk 1978, Zebailos dkk 1978).
5. Kegiatan jasmani
Kegiatan jasmani yang berat dapat menimbulkan serangan pada anak dengan asma (Goldfrey
1978, Eggleston 1980). Tertawa dan menangis dapat merupakan pencetus. Pada anak dengan faal
paru di bawah normal sangat rentan terhadap kegiatan jasmani.
6. Infeksi saluran napas bagian atas

Disamping infeksi virus saluran napas bagian atas, sinusitis akut dan kronik dapat
mempermudah terjadinya asma pada anak (Rachelesfsky dkk 1978). Rinitis alergi dapat
memperberat asma melalui mekanisme iritasi atau refleks.
7. Refluks gastroesofagitis
Iritasi trakeobronkial karena isi lambung dapat memberatkan asma pada anak dan orang dewasa.
8. Psikis
Tidak adanya perhatian dan tidak mau mengakui persoalan yang berhubungan dengan asma oleh
anak sendiri atau keluarganya akan memperlambat atau menggagalkan usaha-usaha pencegahan.
Dan sebaliknya jika terlalu takut terhadap serangan asma atau hari depan anak juga tidak baik,
karena dapat memperberat serangan asma. Membatasi aktivitas anak, anak sering tidak masuk
sekolah, sering bangun malam, terganggunya irama kehidupan keluarga karena anak sering
mendapat serangan asma, pengeluaran uang untuk biaya pengobatan dan rasa khawatir, dapat
mempengaruhi anak asma dan keluarganya.
Serangan asma sering timbul karena kerja sama berbagai pencetus. Dengan anak pencetus alergen
sering disertai pencetus non alergen yang dapat mempercepat dan memperburuk serangan asma.
Pada 38% kasus William dkk (1958) Faktor pencetusnya adalah alergen dan infeksi. Diduga infeksi
virus memperkuat reaksi terhadap pencetus alergenik maupun nonalergenik

LO.2.3. Klasifikasi
Klasifkasi asma sangat diperlukan karena berhubungan dengan tatalaksana lanjutan (jangka
panjang). GINA membagi asma menjadi 4 klasifikasi yaitu asma intermiten, asma persisten ringan,
asma persisten sedang, dan asma persisten berat.2 Berbeda dengan GINA, PNAA membagi asma
menjadi 3 yaitu asma episodik ringan, asma episodik sedang, dan asma persisten. Dasar pembagian
ini karena pada asma anak kejadian episodik lebih sering dibanding persisten (kronisitas). Dasar
pembagian atau klasifikasi asma pada anak adalah frekuensi serangan, lamanya serangan, aktivitas
diluar serangan dan beberapa pemeriksaan penunjang.

LO.1.3. Memahami dan menjelasakan Epidemiologi Asma Pada Anak


Kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma. Belum ada penyelidikan
menyeluruh mengenai angka kejadian asma pada anak Indonesia,namun diperkirakan berkisar
antara 5-10%. Asma dapat timbul pada segala umur;30% penderita bergejala pada umur 1
tahun,sedang 80-90% anak asma mempunyai gejala pertama sebelum umur 4-5 tahun.

LO.1.4. Patogenesis
Keadaan yang dapat menimbulkan serangan asma menstimulasi terjadinya bronkospasme melalui
salah satu dari 3 mekanisme, yaitu :
1. Degradasi sel mast dengan melibatkan immunoglobulin E (IgE).
2. Degranulasi sel mast tanpa melibatkan IgE.
Degranulasi sel mast menyebabkan terlepasnya histamine, yaitu suatu slow reacting substance
of anaphylaxis, dan kinin yang menyebabkan bronkokonstriksi.
3. Stimulasi langsung otot bronkus tanpa melibatkan sel mast.
Episode bronkospastik berkaitan dengan fluktuasi konsentrasi c-GMP (cyclis guanosine
monophospate) atau konsentrasi c-AMP (cyclic adenosine monophospate), atau konsentrasi
keduanya di dalam otot polos bronkus dan sel mast. Peningkatan konsentrasi c-GMP dan
penurunan konsentrasi c-AMP intraselular berkaitan dengan terjadinya bronkospasme, sedangkan
keadaan yang sebaliknya, yaitu penurunan konsentrasi c-GMP dan peningkatan konsentrasi c-AMP
menyebabkan bronkodilatasi. Produksi IgE, spesifik memerlukan sensitasi terlebih dahulu.
Penurunan aliran udara ekspirasi tidak hanya diakibatkan oleh bronkokonstriksi saja, tetapi juga
oleh adanya edema mukosa dan sekresi lendir yang berlebihan. Gejala asma yaitu batuk sesak
dengan mengi merupakan akibat dari obstruksi bronkus yang didasari oleh inflamasi kronik dan
hipereaktivitas bronkus.
Hipereaktivitas bronkus merupakan ciri khas asma, besarnya hipereaktivitas bronkus ini
dapat diukur secara tidak langsung. Pengukuran ini merupakan parameter objektif untuk
menentukan beratnya hipereaktivitas bronkus yang ada pada seseorang pasien. Berbagai cara
digunakan untuk mengukur hipereaktivitas bronkus ini, antara lain dengan uji provokasi beban
kerja, inhalasi udara dingin, inhalasi antigen maupun inhalasi zat nonspesifik. Pencetus serangan
asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain alergen, virus, dan iritan yang dapat
menginduksi respon inflamasi akut yang terdiri atas reaksi asma dini (early asthma reaction =
EAR) dan reaksi asma lambat (late asthma reaction = LAR). Setelah reaksi asma awal dan reaksi
asma lambat, proses dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi sub-akut atau kronik. Pada
keadaan ini terjadi inflamasi di bronkus dan sekitarnya, berupa infiltrasi sel-sel inflamasi terutama
eosinophil dan monosit dalam jumlah besar ke dinding dan lumen bronkus.
Penyempitan saluran napas yang terjadi pada asma merupakan merupakan suatu hal yang
kompleks. Hal ini terjadi karena lepasnya mediator dari sel mast yang banyak ditemukan di
permukaan mukosa bronkus, lumen jalan napas dan di bawah membrane basal. Berbagai faktor
pencetus dapat mengaktivasi sel mast selain sel mast, sel lain yang juga dapat melepaskan mediator
adalah sel makrofag alveolar, eosinophil, epitel jalan napas, neutrofil, platelet, limfosit dan
monosit. Inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus vagus
dan mungkin juga epitel saluran napas. Peradangan vagal menyebabkan reflex bronkus, sedangkan
mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas

lebih permeable dan memudahkan alergen masuk ke dalam submucosa, sehingga memperbesar
reaksi yang terjadi.
Mediator inflamasi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan serangan asma,
melalui sel efektor sekunder seperti eosinophil, netrofil, platelet dan limfosit. Sel sel inflamasi juga
mengeluarkan mediator yang kuat seperti lektoriens. Tromboksan, PAF dan protein sitoksis yang
memperkuat reaksi asma. Keadaan ini menyebabkan inflamasi yang akhirnya menimbulkan
hipereaktivitas bronkus. Untuk menjadi pasien asma ada 2 faktor yang berperan yaitu faktor genetic
dan lingkungan. Ada beberapa proses yang terjadi sebelum pasien menjadi asma :
1. Sensitasi, yaitu seseorang dengan risiko genetic dan lingkungan apabila terpajan dengan
pemicu maka akan timbul sensitasi pada dirinya.
2. Seseorang yang telah mengalami sensitasi maka belum tentu menjadi asma apabila seseorang
yang telah mengalami sensitasi terpajan dengan pemacu maka terjadi proses inflamasi pada
sluran napasnya. Proses inflamasi yang berlangsung lama atau proses inflamsinya berat secara
klinis berhubungan dengan hipereaktivitas bronkus.
3. Setelah mengalami inflamasi maka seseorang terpajan oleh pencetusnmaka akan terjadi
serangan asma (mengi).

LO.1.5. Manifestasi Klinis


Serangan akut yang spesifik jarang dilihat sebelum anak berumur 2 tahun. Secara klinis asma
dibagi dalam 3 stadium, yaitu :
Stadium I
Disaat terjadi edema dinding bronkus, batuk paroksismal karena iritasi dan batuk kering. Sputum
yang kering dan terkumpul merupakan benda asing yang merangsang batuk.
Stadium II
Sekresi bronkus bertambah banyak dan timbul batuk berdahak jernih berbusa. Pada stadium ini
anak akan mulai berusaha bernapas lebih dalam. Ekspirasi memanjang dan terdengar mengi.
Tampak otot napas tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi suprasternal, epigastrium dan
mungkin sela iga. Anak lebih senang duduk dan membungkuk, tangan menekan pada tepi tempat
tidur atau kursi. Anak tampak gelisah, pucat, sianosis sekitar mulut. Toraks membungkuk ke depan
dan lebih bulat serta bergerak lambat pada pernapasan. Pada anak yang lebih kecil, cenderung
terjadi pernapasan abdominal, retraksi suprasternal dan interkostal.
Stadium III
Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat, aliran udara sangat sedikit sehingga suara napas hampir
tidak terdengar. Stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka ada perbaikan. Batuk seperti
ditekan. Pernapasan dangkal, tidak teratur dan frekuensi napas yang mendadak meninggi
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Kuliah 3
Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan Ke 7. Percetakan Infomedika : Jakarta, 2002.

LO.1.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding


Anamnesa
Keluhan sesak nafas, mengi, dada terasa berat atau tertekan, batuk berdahak yang tak kunjung
sembuh, atau batuk malam hari.Semua keluhan biasanya bersifat episodic dan reversible. Mungkin
ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang lain.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Penderita tampak sesak nafas dan gelisah, penderita lebih nyaman dalam
posisi duduk
Jantung : Pekak jantung mengecil, takikardi
Paru
Inspeksi : Dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong kebawah
Auskultasi : Terdengar wheezing (mengi), ekspirasi memanjang
Perkusi : Hipersonor
Palpasi : Fremitus vokal kanan sama dengan kiri
Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Sputum

Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:


Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil
Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkhus
Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkhus
Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan
viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug
2. Pemeriksaan Darah
Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, atau asidosis
Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH
Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan
terdapatnya suatu infeksi
Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari IgE pada waktu serangan dan
menurun pada waktu bebas dari serangan
3. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan
gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga
intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah
Bila terdapat komplikasi emfisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru
Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal
Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat
dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru
4. Pemeriksaan Tes Kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi
yang positif pada asma.
5. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan
disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada emfisema paru, yaitu:
Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise
rotation
Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch
block)
Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya
depresi segmen ST negative
6. Scanning Paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama
serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
7. Spirometri

Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan
sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan
spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau
nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk
menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan
spirometrinya menunjukkan obstruksi.
Status Asmatikus adalah keadaan darurat medik paru berupa serangan asma yang berat atau
bertambah berat yang bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan yang lazim diberikan.
Refrakter adalah tidak adanya perbaikan atau perbaikan yang sifatnya hanya singkat, dengan waktu
pengamatan antara satu sampai dua jam.
Gambaran Klinis Status Asmatikus
Penderita tampak sakit berat dan sianosis
Sesak nafas, bicara terputus-putus
Banyak berkeringat, bila kulit kering menunjukkan kegawatan sebab penderita sudah jatuh
dalam dehidrasi berat
Pada keadaan awal kesadaran penderita mungkin masih cukup baik, tetapi lambat laun dapat
memburuk yang diawali dengan rasa cemas, gelisah kemudian jatuh ke dalam koma
Diagnosis Banding
Pada bayi adanya benda asing di saluran napas dan esophagus atau kelenjar timus yang
menekan trakea.
Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan bronkiektasis dan fibrosis kistik.
Kelainan trakea dan bronkus misalnya laringotrakeomalasia dan stenosis bronkus.
Tuberkulosis kelenjar limfe di daerah trakeobronkial
Bronkitis. Tidak ditemukan eosinofilia, suhu biasanya tinggi dan tidak herediter. Bila sering
berulang dan kronik biasanya disebabkan oleh asma.
Bronkiolitis akut, biasanya mengenai anak di bawah umur 2 tahun dan terbanyak di bawah
umur 6 bulan dan jarang berulang.
Asma kardial. Sangat jarang pada anak. Dispnea paroksismal terutama malam hari dan
biasanya didapatkan tanda-tanda kelainan jantung.
LO.1.7. Penatalaksanaan
Ada dua macam terapi asma : terapi simtomatik menggunakan relievers yaitu bronkodilator
(agonis , teofilin) dan disease-modifying therapy atau controller yang menggunakan obat
antiinflamasi (kortikosteroid, kromolin, antileukotrin). Saat terjadi serangan asma, obat yang digunakan
adalah relievers dibantu dengan controller. Setelah serangan dapat diatasi dan periode asimtomatik
telah tercapai, obat yang digunakan hanya controller atau bahkan tanpa obat lagi, tetapi penderita
dibekali peak flow meter untuk memantau arus puncak.

Tatalaksana Medikamentosa
Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat
pengendali (controller). Obat pereda digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika
sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada lagi gejala maka obat ini tidak lagi
digunakan atau diberikan bila perlu. Kelompok kedua adalah obat pengendali yang disebut juga

obat pencegah, atau obat profilaksis. Obat ini digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma,
yaitu inflamasi kronik saluran nafas. Dengan demikian pemakaian obat ini terus menerus diberikan
walaupun sudah tidak ada lagi gejalanya kemudian pemberiannya diturunkan pelan pelan yaitu
25 % setip penurunan setelah tujuan pengobatan asma tercapai 6 8 minggu.
Obat obat Pereda (Reliever)
1. Bronkodilator
a. Short-acting 2 agonist
Merupakan bronkodilator terbaik dan terpilih untuk terapi asma akut pada anak.Reseptor 2
agonist berada di epitel jalan napas, otot pernapasan, alveolus, sel-sel inflamasi, jantung,
pembuluh darah, otot lurik, hepar, dan pankreas.
Obat ini menstimulasi reseptor 2 adrenergik menyebabkan perubahan ATP menjadi cyclicAMP sehingga timbul relaksasi otot polos jalan napas yang menyebabkan terjadinya
bronkodilatasi. Efek lain seperti peningkatan klirens mukosilier, penurunan permeabilitas
vaskuler, dan berkurangnya pelepasan mediator sel mast.
1. Epinefrin/adrenalin
Tidak direkomendasikan lagi untuk serangan asma kecuali tidak ada 2 agonis selektif.
Epinefrin menimbulkan stimulasi pada reseptor 1, 2, dan sehingga menimbulkan efek
samping berupa sakit kepala, gelisah, palpitasi, takiaritmia, tremor, dan hipertensi. Pemberian
epinefrin aerosol kurang menguntungkan karena durasi efek bronkodilatasinya hanya 1-1,5 jam
dan menimbulkan efek samping, terutama pada jantung dan CNS.
2. 2 agonis selektif(12)
Obat yang sering dipakai : salbutamol, terbutalin, fenoterol.
Dosis salbutamol oral : 0,1 - 0,15 mg/kgBB/kali , setiap 6 jam.
Dosis tebutalin oral : 0,05 0,1 mg/kgBB/kali , setiap 6 jam.
Dosis fenoterol : 0,1 mg/kgBB/kali , setiap 6 jam.
Dosis salbutamol nebulisasi : 0,1 - 0,15 mg/kgBB (dosis maksimum 5mg/kgBB), interval 20
menit, atau nebulisasi kontinu dengan dosis : 0,3 0,5 mg/kgBB/jam (dosis maksimum 15
mg/jam).
Dosi Pemberian oral menimbulkan efek bronkodilatasi setelah 30 menit, efek puncak dicapai
dalam 2 4 jam, lama kerjanya sampai 5 jam.
Pemberian inhalasi (inhaler/nebulisasi) memiliki onset kerja 1 menit, efek puncak dicapai dalam
10 menit, lama kerjanya 4 6 jam.
Serangan ringan : MDI 2 4 semprotan tiap 3 4 jam.
Serangan sedang : MDI 6 10 semprotan tiap 1 2 jam.
Serangan berat : MDI 10 semprotan.
Pemberian intravena dilakukan saat serangan asma berat karena pada keadaan ini obat inhalasi
sulit mencapai bagian distal obstruksi jalan napas. Efek samping takikardi lebih sering terjadi.
Dosis salbutamol IV : mulai 0,2 mcg/kgBB/menit, dinaikkan 0,1 mcg/kgBB setiap 15 menit,
dosis maksimal 4 mcg/kgBB/menit.
Dosis terbutalin IV : 10 mcg/kgBB melalui infuse selama 10 menit, dilanjutkan dengan 0,1 0,4
ug/kgBB/jam dengan infuse kontinu.
Efek samping 2 agonist antara lain tremor otot skeletal, sakit kepala, agitasi, palpitasi, dan
takikardi.s terbutalin nebulisasi : 2,5 mg atau 1 respul/nebulisasi.
b. Methyl xanthine
Efek bronkodilatasi methyl xantine setara dengan 2 agonist inhalasi, tapi karena efek
sampingnya lebih banyak dan batas keamanannya sempit, obat ini diberikan pada serangan
asma berat dengan kombinasi 2 agonist dan anticholinergick.

Efek bronkodilatasi teofilin disebabkan oleh antagonisme terhadap reseptor adenosine dan
inhibisi PDE 4 dan PDE 5.Methilxanthine cepat diabsorbsi setelah pemberian oral, rectal, atau
parenteral.Pemberian teofilin IM harus dihindarkan karena menimbulkan nyeri setempat yang
lama. Umumnya adanya makanan dalam lambung akan memperlambat kecepatan absorbsi
teofilin tapi tidak mempengaruhi derajat besarnya absorpsi. Metilxanthine didistribusikan
keseluruh tubuh, melewati plasenta dan masuk ke air susu ibu. Eliminasinya terutama melalui
metabolism hati, sebagian besar dieksresi bersama urin.
Dosis aminofilin IV inisial bergantung kepada usia :
- 1 6 bulan : 0,5mg/kgBB/Jam
- 6 11 bulan : 1 mg/kgBB/Jam
- 1 9 tahun : 1,2 1,5 mg/kgBB/Jam
- > 10 tahun : 0,9 mg/kgBB/Jam
Efek samping obat ini adalah mual, muntah, sakit kepala. Pada konsentrasi yang lebih tinggi
dapat timbul kejang, takikardi dan aritmia.
2. Anticholinergics
Obat yang digunakan adalah Ipratropium Bromida.Kombinasi dengan nebulisasi 2 agonist
menghasilkan efek bronkodilatasi yang lebih baik. Dosis anjuran 0, 1 cc/kgBB, nebulisasi tiap 4
jam(12).
Obat ini dapat juga diberikan dalam larutan 0,025 % dengan dosis : untuk usia diatas 6 tahun 8
20 tetes; usia kecil 6 tahun 4 10 tetes. Efek sampingnya adalah kekeringan atau rasa tidak enak
dimulut.Antikolinergik inhalasi tidak direkomendasikan pada terapi asma jangka panjang pada
anak.
3. Kortikosteroid
Kortikosteroid sistemik terutama diberikan pada keadaan :
Terapi inisial inhalasi 2 agonist kerja cepat gagal mencapai perbaikan yang cukup lama.
Serangan asma tetap terjadi meski pasien telah menggunakan kortikosteroid hirupan sebagai
kontroler.
Serangan ringan yang mempunyai riwayat serangan berat sebelumnya.
Kortikosteroid sistemik memerlukan waktu paling sedikit 4 jam untuk mencapai perbaikan
klinis, efek maksimum dicapai dalan waktu 12 24 jam. Preparat oral yang di pakai adalah
prednisone, prednisolon, atau triamsinolon dengan dosis 1 2 mg/kgBB/hari diberikan 2 3 kali
sehari selama 3 5 kali sehari.
Kortikosteroid tidak secara langsung berefek sebagai bronkodilator. Obat ini bekerja sekaligus
menghambat produksi sitokin dan kemokin, menghambat sintesis eikosainoid, menghambat
peningkatan basofil, eosinofil dan leukosit lain di jaringan paru dan menurunkan permeabilitas
vascular.
Metilprednisolon merupakan pilihan utama karena kemampuan penetrasi kejaringan paru lebih
baik, efek anti inflamasi lebih besar, dan efek mineralokortikoid minimal.Dosis metilprednisolon
IV yang dianjurkan adalah 1 mg/kgBB setiap 4 sampai 6 jam.Dosis Hidrokortison IV 4 mg/kgBB
tiap 4 6 jam. Dosis dexamethasone bolus IV 0,5 1 mg/kgBB dilanjtkan 1 mg/kgBB/hari setiap 6
8 jam.
Obat obat Pengontrol
Obat obat asma pengontrol pada anak anak termasuk inhalasi dan sistemik glukokortikoid,
leukotrien modifiers, long acting inhaled 2-agonist, theofilin, cromones, dan long acting oral 2agonist.
1. Inhalasi glukokortikosteroid

Glukokortikosteroid inhalasi merupakan obat pengontrol yang paling efektif dan


direkomendasikan untuk penderita asma semua umur. Intervensi awal dengan penggunaan inhalasi
budesonide berhubungan dengan perbaikan dalam pengontrolan asma dan mengurangi penggunaan
obat-obat tambahan. Terapi pemeliharaan dengan inhalasi glukokortikosteroid ini mampu
mengontrol gejala-gejala asma, mengurangi frekuensi dari eksaserbasi akut dan jumlah rawatan di
rumah sakit, meningkatkan kualitas hidup, fungsi paru dan hiperresponsif bronkial, dan
mengurangi bronkokonstriksi yang diinduksi latihan.
Glukokortikosteroid dapat mencegah penebalan lamina retikularis, mencegah terjadinya
neoangiogenesis, dan mencegah atau mengurangi terjadinya down regulation receptor 2
agonist.Dosis yang dapat digunakan sampai 400ug/hari (respire anak).Efek samping berupa
gangguan pertumbuhan, katarak, gangguan sistem saraf pusat, dan gangguan pada gigi dan mulut
2. Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA)
Secara hipotesis obat ini dikombinasikan dengan steroid hirupan dan mungkin hasilnya lebih
baik.Sayangnya, belum ada percobaan jangka panjang yang membandingkannya dengan steroid
hirupan + LABA. Keuntungan memakai LTRA adalah sebagai berikut :
LTRA dapat melengkapi kerja steroid hirupan dalam menekan cystenil leukotriane;
Mempunyai efek bronkodilator dan perlindungan terhadap bronkokonstriktor;
Mencegah early asma reaction dan late asthma reaction
Dapat diberikan per oral, bahkan montelukast hanya diberikan sekali per hari., penggunaannya
aman, dan tidak mengganggu fungsi hati; sayangnya preparat montelukast ini belum ada di
Indonesia;
Mungkin juga mempunyai efek menjaga integritas epitel, yaitu dengan meningkatkan kerja
epithel growth factor (EGF) dan menekan transforming growth factor (TGF) sehingga dapat
mengendalikan terjadinya fibrosis, hyperplasia, dan hipertrofi otot polos, serta diharapkan
mencegah perubahan fungsi otot polos menjadi organ pro-inflamator.
Ada 2 preparat LTRA :
a. Montelukast
Preparat ini belum ada di Indonesia dan harganya mahal. Dosis per oral 1 kali sehari.(respiro
anak) Dosis pada anak usia 2-5 tahun adalah 4 mg qhs. (gina)
b. Zafirlukast
Preparat ini terdapat di Indonesia, digunakan untuk anak usia> 7 tahun dengan dosis 10 mg 2
kali sehari.
Leukotrin memberikan manfaat klinis yang baik pada berbagai tingkat keparahan asma dengan
menekan produksi cystenil leukotrine. Efek samping obat dapat mengganggu fungsi hati
(meningkatkan transaminase) sehingga perlu pemantauan fungsi hati
3. Long acting 2 Agonist (LABA)
Preparat inhalasi yang digunakan adalah salmeterol dan formoterol. Pemberian ICS 400ug
dengan tambahan LABA lebih baik dilihat dari frekuensi serangan, FEV1 pagi dan sore,
penggunaan steroid oral,, menurunnya hiperreaktivitas dan airway remodeling. Kombinasi ICS dan
LABA sudah ada dalam 1 paket, yaitu kombinasi fluticasone propionate dan salmeterol (Seretide),
budesonide dan formoterol (Symbicort).Seretide dalam MDI sedangkan Symbicort dalam
DPI.Kombinasi ini mempermudah penggunaan obat dan meningkatkan kepatuhan memakai obat.
4. Teofilin lepas lambat
Teofilin efektif sebagai monoterapi atau diberikan bersama kortikosteroid yang bertujuan untuk
mengontrol asma dan mengurangi dosis pemeliharaan glukokortikosteroid.Tapi efikasi teofilin
lebih rendah daripada glukokortikosteroid inhalasi dosis rendah.

Efek samping berupa anoreksia, mual, muntah, dan sakit kepala, stimulasi ringan SSP, palpitasi,
takikardi, aritmia, sakit perut, diare, dan jarang, perdarahan lambung. Efek samping muncul pada
dosis lebih dari 10mg/kgBB/hari, oleh karena itu terapi dimulai pada dosis inisial 5mg/kgBB/hari
dan secara bertahap diingkatkan sampai 10mg/kgBB/hari.
Terapi Suportif
1. Terapi oksigen
Oksigen diberikan pada serangan sedang dan berat melalui kanula hidung, masker atau
headbox.Perlu dilakukan pemantauan saturasi oksigen, sebaiknya diukur dengan pulse oxymetry
(nilai normal > 95%).
2. Campuran Helium dan oksigen
Inhalasi Helioks (80% helium dan 20% oksigen) selama 15 menit sebagai tambahan pemberian
oksigen (dengan kanula hidung), bersama dengan nebulisasi salbutamol dan metilprednisolon IV,
secara bermakna menurunkan pulsus paradoksus, meningkatkan peakflow dan mengurangi sesak.
Campuran helium dan oksigen dapat memperbaiki oksigenasi karena helium bersifat ringan
sehingga dapat mengubah aliran turbulen menjadi laminar dan menyebabkan oksigen lebih mudah
mencapai alveoli.
3. Terapi cairan
Dehidrasi dapat terjadi pada serangan asma berat karena kurang adekuatnya asupan cairan,
peningkatan insensible water loss, takipnea serta efek diuretic teofilin. Pemberian cairan harus hatihati kareana pada asma berat terjadi peningkatan sekresi Antidiuretik Hormone (ADH) yan
memudahkan terjadinya retensi cairan dan tekanan pleura negatif tinggi pada puncak inspirasi yang
memudahkan terjadinya edema paru. Jumlah cairan yang diberikan adalah 1-1,5 kali kebutuhan
rumatan.

Tatalaksana Serangan
1. Tatalaksana di rumah
Untuk serangan ringan dapat digunakan obat oral golongan beta 2 agonis atau teofilin. Bila
tersedia, lebih baik digunakan obat inhalasi karena onsetnya lebih cepat dan efek samping
sistemiknya minimal. Obat golongan beta 2 agonis inhalasi yang dapat digunakan yaitu MDI
dengan atau tanpa spacer atau nebulizer. Bila dalam waktu 30 menit setelah inhalasi tidak ada
perbaikan atau bahkan terjadi perburukan harus segera dibawa ke rumah sakit.
2. Tatalaksana di klinik
Penderita yang datang dalam keadaan serangan langsung dinilai derajat serangannya.
Tatalaksana awal adalah pemberian beta agonis secara nebulisasi. Garam fisiologis dapat
ditambahkan dalam cairan nebulisasi. Nebulisasi serupa dapat diulang dengan selang 20 menit.
Pada pemberian ketiga dapat ditambahkan obat antikolinergik. Tatalaksana awal ini sekaligus
berfungsi sebagai penapis yaitu untuk penentuan derajat serangan, karena penilaian derajat secara
klinis tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat dan jelas. Jika menurut penilaian awal penderita
datang dengan serangan berat yang jelas, langsung berikan nebulisasi beta agonis dikombinasikan
dengan antikolinergik. Penderita serangan berat dengan disertai dehidrasi dan asodosis metabolik
dapat mengalami takifilaksis atau respons yang kurang terhadap nebulisasi beta agonis. Penderita
seperti ini cukup sekali dinebulisasi kemudian secepatnya dirawat untuk mendapat obat intravena
selain diatasi masalah dehidrasi dan asidosisnya. Sedangkan bila dengan sekali nebulisasi penderita
menunjukkan respons yang baik, berati serangannya ringan. Penderita diobservasi selama 2 jam,

jika respons tersebut bertahan, penderita dapat dipulangkan. Penderita dapat diresepkan obat beta
agonis, baik hirup maupun oral, yang diberikan tiap 4 sampai 6 jam. Jika pencetus serngannya
adalah infeksi virus, dapat ditambahkan steroid oral jangka pendek, 3 sampai 5 hari. Penderita
kemudian dianjurkan untuk kontrol dalam waktu 24 sampai 48 jam untuk reevaluasi
tatalaksananya. Selain itu jika sebelum serngan penderita sudah mendapat obat pengendali, obat
tersebut diteruskan hingga reevaluasi di klinik. Namun jika setelah observasi 2 jam gejala timbul
kembal, penderita harus segera dibawa ke rumah sakit.
Cara Pemberian Obat

Pemakaian alat perenggang (spacer) mengurangu deposisi obat dalam mulut (orofaring), jadi
mengurangi jumlah obat yang akan tertelan sehingga mengurangi efek sistemik. Sebaliknya,
deposisi dalamm paru lebih baik sehingga didapat efek terapeutik yang lebih baik. Obat hirupan
dalam bentuk bubuk kering (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler) memerlukan inspirasi
yang kuat. Umumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak usia sekolah. Sebagian alat bantu yaitu
Spacer (Volumatic, Nebuhaler, Aerochamber, Babyhaler, Autohaler) dapat dimodifikasi dengan
menggunakan bekas gelas atau botol minuman atau menggunakan botol susu dengan dot susu yang
telah dipotong untuk anak kecil dan bayi.
Kurangnya pengertian mengenai cara-cara pengobatan yang benar akan mengakibatkan asma
salalu kambuh. Jika pengobatannya dilakukan secara dini, benar dan teratur maka serangan asma
akan dapat ditekan seminimal mungkin.
Pada prinsipnya tata cara pengobatan asma dibagi atas Pengobatan Asma Jangka Pendek dan
Pengobatan Asma Jagka Panjang.
1. Pengobatan Asma Jangka Pendek
Pengobatan diberikan pada saat terjadi serangan asma yang hebat, dan terus diberikan sampai
serangan merendah, biasanya memakai obat-obatan yang melebarkan saluran pernapasan yang
menyempit.
Tujuan pengobatannya untuk mengatasi penyempitan jalan napas, mengatasi sembab selaput
lendir jalan napas, dan mengatasi produksi dahak yang berlebihan. Macam obatnya adalah:
A. Obat untuk mengatasi penyempitan jalan napas
Obat jenis ini untuk melemaskan otot polos pada saluran napas dan dikenal sebagai obat
bronkodilator. Ada 3 golongan besar obat ini, yaitu:
- Golongan Xantin, misalnya Ephedrine HCl (zat aktif dalam Neo Napacin)
- Golongan Simpatomimetika
- Golongan Antikolinergik

Walaupun secara legal hanya jenis obat Ephedrine HCl saja yang dapat diperoleh penderita tanpa
resep dokter (takaran < 25 mg), namun tidak tertutup kemungkinannya penderita memperoleh obat
anti asma yang lain.
B. Obat untuk mengatasi sembab selaput lendir jalan napas
Obat jenis ini termasuk kelompok kortikosteroid. Meskipun efek sampingnya cukup berbahaya
(bila pemakaiannya tak terkontrol), namun cukup potensial untuk mengatasi sembab pada bagian
tubuh manusia termasuk pada saluran napas. Atau dapat juga dipakai kelompok Kromolin.
C. Obat untuk mengatasi produksi dahak yang berlebihan.
Jenis ini tidak ada dan tidak diperlukan. Yang terbaik adalah usaha untuk mengencerkan dahak
yang kental tersebut dan mengeluarkannya dari jalan napas dengan refleks batuk.
Oleh karenanya penderita asma yang mengalami ini dianjurkan untuk minum yang banyak.
Namun tak menutup kemungkinan diberikan obat jenis lain, seperti Ambroxol atau Carbo Cystein
untuk membantu.
2. Pengobatan Asma Jangka Panjang
Pengobatan diberikan setelah serangan asma merendah, karena tujuan pengobatan ini untuk
pencegahan serangan asma.
Pengobatan asma diberikan dalam jangka waktu yang lama, bisa berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun, dan harus diberikan secara teratur. Penghentian pemakaian obat ditentukan oleh
dokter yang merawat.
Pengobatan ini lazimnya disebut sebagai immunoterapi, adalah suatu sistem pengobatan yang
diterapkan pada penderita asma/pilek alergi dengan cara menyuntikkan bahan alergi terhadap
penderita alergi yang dosisnya dinaikkan makin tinggi secara bertahap dan diharapkan dapat
menghilangkan kepekaannya terhadap bahan tersebut (desentisasi) atau mengurangi kepekaannya
(hiposentisisasi).
Dalam mengatasi dan mencegah asma paling tidak meminimalisir terjadinya serangan asma
secara tiba-tiba, kita perlu mengetahui bagaimana tata pelaksanaan dalam menanggani asma.

LO.1.8. Pencegahan
1. Pencegahan primer ditujukan untuk mencegah sensitisasi pada bayi dengan risiko asma
(orangtua asma), dengan cara :
a. Penghindaran asap rokok dan polutan lain selama kehamilan dan masa perkembangan
bayi/anak
b. Diet hipoalergenik ibu hamil, asalkan / dengan syarat diet tersebut tidak mengganggu asupan
janin
c. Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
d. Diet hipoalergenik ibu menyusui
2. Pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah inflamasi pada anak yang telah tersentisisasi
dengan cara menghindari pajanan asap rokok, serta allergen dalam ruangan terutama tungau
debu rumah.
3. Pencegahan tersier ditujukan untuk mencegah manifestasi asma pada anak yang telah
menunjukkan manifestasi penyakit alergi. Sebuah penelitian multi senter yang dikenal dengan
nama ETAC Study (early treatment of atopic children) mendapatkan bahwa pemberian Setirizin
selama 18 bulan pada anak atopi dengan dermatitis atopi dan IgE spesifik terhadap serbuk
rumput (Pollen) dan tungau debu rumah menurunkan kejadian asma sebanyak 50%. Perlu

ditekankan bahwa pemberian setirizin pada penelitian ini bukan sebagai pengendali asma
(controller).
LO.1.9Komplikasi
Bila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, maka akan terjadi emfisema
dan mengakibatkan perubahan bentuk thoraks yaitu membungkuk kedepan dan memanjang. Pada
asma kronik dan berat dapat terjadi bentuk dada burung dara.
Bila secret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat sehingga dapat terjadi
atelektasis pada lobus segmen yang sesuai.Bila atelektasis berlangsung lama dapat berubah menjadi
bronkiektasis dan bila ada infeksi akan terjadi bronchopneumonia.
Serangan asma yang terus menerus dan berlangsung beberapa hari serta berat dan tidak dapat
diatasi dengan obat-obat biasa disebut status asmatikus.

LO.1.10Prognosis
Mortalitas akibat asma jumlahnya kecil. Gambaran yang paling akhir menunjukkan kurang
dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi berisiko yang jumlahnya kira-kira 10 juta penduduk.
Angka kematian cenderung meningkat di pinggiran kota dengan fasilitas kesehatan terbatas.
Informasi mengenai perjalanan klinis asma menyatakan bahwa prognosis baik ditemukan
pada 5080% pasien, khususnya pasien yang penyakitnya ringan dan timbul pada masa kanakkanak. Jumlah anak yang masih menderita asma 710 tahun setelah diagnosis pertama bervariasi
dari 2678% dengan nilai rata-rata 46%, akan tetapi persentase anak yang menderita ringan dan
timbul pada masa kanak-kanak. Jumlah anak yang menderita asma penyakit yang berat relatif berat
(6 19%). Secara keseluruhan dapat dikatakan 7080% asma anak bila diikuti sampai dengan umur
21 tahun asmanya sudah menghilang.

LI 2. MM Terapi Inhalasi

Pemberian obat pada asma dapat berbagai macam, yaitu parenteral, peroral, dan perinhalasi.
Pemberian perinhalasi adalah pemebrian obat secara langsung kedala saluran napas melalu
penghisapan. Pada asma penggunaan obat secara inhalasi dapat mengurangi efek samping berupa
gangguan gastrointestinal dan yg lainya yg sering terjadi pada pemberian parenteral atau peroral.
Hal tersebut dimungkinkan karena dosis yang digunakan pada terapi inhalasi sangat kecil
dibandingkan dengan pengobatan parenteral atau peroral. Terapi pada dewasa telah banyak
digunakan dan keberhasilnaya cukup baik, tetapi pada anak belum banyak.
Prinsip terapi inhalasi
Prinsip farmakologis terapi inhalasi yang ideal untuk penyakit saluran napas adalah obat dapat
sampai pada organ target dengan menghasilkan partikel aerosol berukuran optimal agar
terdeposisi di paru, onset kerjanya cepat, dosis obat kecil, efek samping minimal karena
konsentrasi obat di dalam darah sedikit atau rendah, mudah digunakan, serta efek terapeutik
tercapai yang ditandai dengan tampaknya perbaikan klinis. Meskipun saluran napas mempunyai
beberapa mekanisme antara lain refleks batuk, bersin serta klirens mukosilier yang akan

melindungi terhadap masuk dan mengendapnya partikel obat sehingga akan mengeliminasi obat
inhalasi. Namun dengan memperhatikan metode untuk menghasilkan aerosol serta cara
penyampaian/delivery obat yang akan mempengaruhi ukuran partikel yang dihasilkan dan jumlah
obat yang mencapai berbagai tempat di saluran napas maka diharapkan obat terdeposisi secara
efektif.
Ukuran partikel akan mempengaruhi sampai sejauh mana partikel menembus saluran napas.
Partikel berukuran > 15 mm tersaring oleh filtrasi rambut hidung sedangkan > 10 mm akan
mengendap di hidung dan nasofaring. Partikel yang besar ini terutama mengendap karena
benturan inersial bila terdapat aliran udara yang cepat disertai perubahan arah atau arus urbulen.
Partikel berukuran 0,5 5 mm akan mengendap secara sedimentasi karena gaya
gravitasisedangkan partikel berukuran < 0,1 mm akanmengendap karena gerak Brown. Dengan
demikian untuk mendapatkan manfaat obat yang optimal, obat yang diberikan secara inhalasi
harus dapat mencapai tempat kerjanya di dalam saluran pernapasan. Bentuk aerosol yang
digunakan yaitu suspensi partikel di dalam gas, dan partikel dalam aerosol yang mempunyai
ukuran berkisar 2-10 m atau 1-7 m Penelitian lainnya mendapatkan bahwa partikel berukuran
1-8 m mengalami benturan dan pengendapan di saluran nafas besar, kecil, dan alveoli.
Jenis terapi inhalasi
Pemberian aerosol yang ideal adalah dengan alat yang sederhana, mudah dibawa, tidak mahal,
secara selektif mencapai saluran napas bawah, hanya sedikit yang tertinggal di saluran napas atas
serta dapat digunakan oleh anak, orang cacat, atau orang tua. Namun keadaan ideal tersebut tidak
dapat sepenuhnya tercapai dan masing-masing jenis alat terapi inhalasi mempunyai beberapa
keuntungan dan kerugian. Hingga saat ini dikenal 3 sistem inhalasi yang digunakan dalam klinik
sehari-hari yaitu,:
1. Nebuliser
2. Metered dosed inhaler aerosol ( dengan atau tanpa spacer / alat penyambung)
3. Dry powder inhaler

1. Nebuliser
Alat nebuliser dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol secara terus
menerus dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan atau gelombang ultrasonik
sehingga dalam prakteknya dikenal 2 jenis alat nebuliser yaitu ultrasonic nebulizer dan jet
nebuliser. Hasil pengobatan dengan nebulizer lebih banyak bergantung pada jenis nebuliser yang
digunakan. Terdapat nebuliser yang dapat menghasilkan partikel aerosol terus menerus ada juga
yang dapat diatur sehingga aerosol hanya timbul pada saat penderita melakukan inhalasi
sehingga obat tidak banyak terbuang.
Keuntungan terapi inhalasi menggunakan nebuliser adalah tidak atau sedikit memerlukan
koordinasi pasien, hanya memerlukan pernafasan tidal, beberapa jenis obat dapat dicampur
(misalnya salbutamol dan natrium kromoglikat).

Kekurangannya adalah karena alat cukup besar, memerlukan sumber tenaga listrik dan relatif
mahal.
Ultrasonic nebuliser
Alat ini menghasilkan aerosol melalui osilasi frekuensi tinggi dari piezo-electric crystal yang
berada dekat larutan dan cairan memecah menjadi aerosol. Keuntungan jenis nebuliser ini adalah
tidak menimbulkan suara bising dan terus menerus dapat mengubah larutan menjadi aerosol
sedangkan kekurangannya alat ini mahal dan memerlukan biaya perawatan lebih besar.
Jet nebuliser
Alat ini paling banyak digunakan banyak Negara karena relatif lebih murah daripada ultrasonic
nebuliser. Dengan gas jet berkecepatan tinggi yang berasal dari udara yang dipadatkan dalam
silinder ditiupkan melalui lubang kecil dan akan dihasilkan tekanan negatif yang selanjutnya
akan memecah larutan menjadi bentuk aerosol. Aerosol yang terbentuk dihisap pasien melalui
mouth piece atau sungkup. Dengan mengisi suatu tempat pada nebuliser sebanyak 4 ml maka
dihasilkan partikel aerosol berukuran < 5 m, sebanyak 60-80% larutan nebulisasi akan terpakai
dan lama nebulisasi dapat dibatasi. Dengan cara yang optimal maka hanya 12% larutan akan
terdeposit di paru-paru.7 Bronkodilator yang diberikan dengan nebulizer memberikan efek
bronkodilatasi yang bermakna tanpa menimbulkan efek samping.

2. Metered dose inhaler (MDI)


Metered dose inhaler (MDI) atau inhaler dosis terukur merupakan cara inhalasi yang
memerlukan teknik inhalasi tertentu agar sejumlah dosis obat mencapai saluran pernafasan. Pada
inhaler ini bahan aktif obat disuspensikan dalam kurang lebih 10 ml cairan pendorong (propelan)
dan yang biasa digunakan adalah kloroflurokarbon (chlorofluorocarbon = CFC) pada tekanan
tinggi. Akhir-akhir ini mulai dikembangkan penggunaan bahan non-CFC yaitu hidrofluroalkana
(HFA) yang tidak merusak lapisan ozon. Propelan mempunyai tekanan uap tinggi sehingga di
dalam tabung (kanister) tetap berbentuk cairan. Bila canister ditekan, aerosol disemprotkan
keluar dengan kecepatan tinggi yaitu 30 m/detik dalam bentuk droplet dengan dosis tertentu
melalui aktuator (lubang). Pada ujung aktuator ukuran partikel berkisar 35 m, pada jarak 10 cm
dari kanister besarnya menjadi 14 m, dan setelah propelan mengalami evaporasi seluruhnya
ukuran partikel menjadi 2,8-4,3 m. Dengan teknik inhalasi yang benar maka 80% aerosol akan
mengendap di mulut dan orofarings karena kecepatan yang tinggi dan ukurannya besar, 10%
tetap berada dalam aktuator, dan hanya sekitar 10% aerosol yang disemprotkan akan sampai ke
dalam paru-paru.
Pada cara inhalasi ini diperlukan koordinasi antara penekanan kanister dengan inspirasi napas.
Untuk mendapatkan hasil optimal maka pemakaian inhaler ini hendaklah dikerjakan sebagai
berikut:
1. terlebih dahulu kanister dikocok agar obat tetap homogen, lalu tutup kanister dibuka
2. inhaler dipegang tegak kemudian pasien melakukan ekspirasi maksimal secara perlahan

3. mulut kanister diletakkan diantara bibir, lalu bibir dirapatkan dan dilakukan inspirasi
perlahan sampai maksimal
4. pada pertengahan inspirasi kanister ditekan agar obat keluar
5. pasien menahan nafas 10 detik atau dengan menghitung 10 hitungan pada inspirasi
maksimal
6. setelah 30 detik atau 1 menit prosedur yang sama diulang kembali
7. setelah proses selesai, jangan lupa berkumur untuk mencegah efek samping.
Langkah-langkah di atas harus dilaksanakan sebelum pasien menggunakan obat asma jenis MDI.
Langkah di atas sering tidak diikuti sehingga pengobatan asma kurang efektif dan timbul efek
samping yang tidak diinginkan. Beberapa ahli mengidentifikasi beberapa kesalahan yang sering
dijumpai antara lain kurangnya koordinasi pada saat menekan kanister dan saat menghisap,
terlalu cepat inspirasi, tidak berhenti sesaat setelah inspirasi, tidak mengocok kanister sebelum
digunakan, dan terbalik pemakaiannya. Kesalahankesalahan di atas umumnya dilakukan oleh
anak yang lebih muda, manula, wanita, dan penderita dengan social ekonomi dan pendidikan
yang rendah.
MDI dengan spacer
Spacer (alat penyambung) akan menambah jarak antara aktuator dengan mulut sehingga
kecepatan aerosol pada saat dihisap menjadi berkurang dan akan dihasilkan partikel berukuran
kecil yang berpenetrasi ke saluran pernafasan perifer. Hal ini merupakan kelebihan dari
penggunaan spacer karena mengurangi pengendapan di orofaring. Spacer ini berupa tabung
(dapat bervolume 80 ml) dengan panjang sekitar 10-20 cm, atau bentuk lain berupa kerucut
dengan volume 700-1000 ml. Untuk bayi dianjurkan menggunakan spacer volume kecil
(babyhaler) agar aerosol yang dihasilkan lebih mampat sehingga lebih banyak obat akan
terinhalasi pada setiap inspirasi. Beberapa alat dilengkapi dengan katup satu arah yang akan
terbuka saat inhalasi dan akan menutup pada saat ekshalasi misalnya Nebuhaler (Astra),
Volumatic (A&H). Pengendapan di orofaring akan berkurang yaitu sekitar 5% dosis yang
diberikan bila digunakan spacer dengan katup satu arah. Pada spacer tanpa katup satu arah,
pengendapan di orofaring sekitar 8-60% dosis. Dengan penggunaan spacer, deposit pada paru
akan meningkat menjadi 20% dibandingkan tanpa spacer. Penggunaan spacer ini sangat
menguntungkan pada anak karena pada anak koordinasinya belum baik. Dengan bantuan spacer,
koordinasi pada saat menekan kanister dengan saat penghisapan dapat dikurangi atau bahkan
tidak memerlukan koordinasi. Apabila spacer ini tidak tersedia maka sebagai penggantinya bisa
digunakan spacer sederhana yang murah dan mudah dibuat yaitu dari plastic coffee cup yang
dilubangi dasarnya untuk tempat aerosol. Cara ini sudah terbukti bermanfaat hanya untuk
bronkodilator dan belum dibuktikan berguna untuk natrium kromoglikat dan steroid.
Easyhaler
Easyhaler adalah inhaler serbuk multidosis yang merupakan alternatif dari MDI. Komponennya
terdiri dari plastik dan cincin stainless steel dan mengandung serbuk untuk sekurang-kurangnya
200 dosis. Masing-masing dosis obat dihitung secara akurat dengan cara menekan puncak alat
(overcap) yang akan memutari silinder (metering cylindric) pada bagian bawah alat tersebut.
Cekungan dosis berisi sejumlah obat berhubungan langsung dengan mouth piece. Saluran udara

ke arah mouthpiece berbentuk corong dengan tujuan untuk mengoptimalkan deposisi obat di
saluran napas. Terdapat takaran dosis yang berguna untuk memberi informasi kepada pasien
mengenai sisa dosis obat. Pelindung penutup berguna untuk mencegah kelembaban. Partikel obat
yang halus (<10 ) sulit untuk melayang jauh dan cenderung untuk menggumpal, oleh karena itu
zat aktif tersebut dicampur dengan sejumlah kecil laktosa yang berperan sebagai pembawa. Pada
easyhaler ukuran partikel laktosa cukup besar untuk deposit di saluran napas bawah sehingga
diharapkan akan jatuh di orofaring. Keadaan ini mempunyai keuntungan untuk memberitahukan
pada penderita bahwa obatnya benar terhisap dengan rasa manis di mulut.
3. Dry Powder Inhaler
Pada awalnya di tahun 1957 jenis inhaler ini digunakan untuk delivery serbuk antibiotik.
Selanjutnya banyak penelitian uji klinis yang menunjukkan bahwa DPI bisa digunakan untuk
pengobatan asma anak. Dalam perkembangannya pada tahun 1970 dibuat inhaler yang hanya
memuat serbuk kering dosis tunggal seperti misalnya spinhaler dan rotahaler, dan akhir tahun
1980 diperkenalkan inhaler yang memuat multiple dosis yaitu yang dikenal dengan diskhaler (8
dosis) dan turbuhaler. Beberapa tahun terakhir ini diperkenalkan diskus (di Inggris dikenal
dengan accuhaler) yang memuat 60 dosis dan dapat dipergunakan untuk 1bulan terapi.6 Inhaler
jenis ini tidak mengandung propelan sehingga mempunyai kelebihan dari MDI. Penggunaan obat
serbuk kering pada DPI memerlukan inspirasi yang cukup kuat. Pada anak yang kecil hal ini sulit
dilakukan mengingat inspirasi kuat belum dapat dilakukan, sehingga deposisi obat pada saluran
pernafasan berkurang. Pada anak yang lebih besar, penggunaan obat serbuk ini dapat lebih
mudah, karena kurang memerlukan koordinasi dibandingkan dengan MDI. Dengan cara ini
deposisi obat di dalam paru lebih tinggi dan lebih konstan dibandingkan MDI sehingga
dianjurkan diberikan pada anak di atas 5 tahun. Cara DPI ini tidak memerlukan spacer sebagai
alat bantu sehingga mudah dibawa dan dimasukkan ke dalam saku. Hal ini yang juga
memudahkan pasien dan lebih praktis
Terapi inhalasi pada asma
Pada tata laksana asma harus dibedakan dua hal penting yaitu tata laksana serangan dan
tata laksana jangka panjang. Seorang anak yang telah didiagnosis asma harus ditentukan
klasifikasinya. Berdasarkan Konsensus Nasional Penanganan Asma (KNAA) klasifikasi asma di
luar serangan adalah asma episodik jarang, episodic sering, dan asma persisten.23 Pada asma
episodik jarang, tidak diperlukan obat pengendali (controller) untuk tata laksana jangka
panjangnya sedangkan pada asma episodik sering dan asma persisten harus diberikan obat
pengendali. Obat pengendali dari golongan antiinflamasi yang sering digunakan adalah
budesonid, beklometason dipropionat, flutikason, dan golongan natrium kromoglikat.23 Bila
terjadi serangan maka digunakan obat pereda (reliever). Obat yang sering digunakan yaitu
golongan bronkodilator seperti metilsantin (teofilin), agonis, dan ipratropium bromida.
Obat-obat ini dapat digunakan secara oral, parenteral, dan inhalasi, tetapi untuk
metilsantin pemberian secara oral dan intravena lebih dipilih daripada inhalasi karena obat ini
menyebabkan iritasi saluran napas.Telah diketahui secara luas bahwa obat antiinflamasi yang
sering digunakan adalah golongan steroid. Mekanisme dasar asma adalah terjadinya reaksi

inflamasi sehingga pengendalian dengan obat antiinflamasi sangat dianjurkan pada asma
episodik sering dan persisten. Namun harus disadari penggunaan kortikosteroid jangka panjang
peroral atau parenteral dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara keseluruhan selain efek
samping lain yang mungkin timbul seperti hipertensi dan moon-face. Untuk itu pemberian
inhalasi sangat dianjurkan. Jenis terapi inhalasi yang diberikan dapat disesuaikan dengan usia
pasien dan patokan ini tidak berlaku secara kaku. Patokan yang diajukan oleh Dolovich dan
Everard di bawah ini dapat dipakai sebagai acuan.

Bagaimana sebenarnya penggunaan obat inhalasi pada asma anak dapat diterangkan sebagai
berikut:
Tata laksana saat serangan Pada saat serangan obat yang digunakan adalah obat golongan
bronkodilator dan yang sering digunakan yaitu 2 agonis yang dapat diberikan sendiri atau
bersama-sama dengar ipratropium bromid. Pada serangan asma yang ringan obat inhalasi yang
diberikan hanya 2 agonis saja meskipun ada juga yang menambahkan dengan ipratropium
bromida. Schuch dkk dalam penelitiannya mendapatkan bahwa dengan menggunakan 2 agonis
saja dapat meningkatkan FEV dan menghilangkan gejala serangannya, sedangkan penambahan
ipratropium bromida akan meningkatkan FEV1 yang lebih tinggi lagi. Pada serangan asma yang
berat, KNAA menganjurkan pemberian 2 agonis bersama-sama dengan ipratropium
bromid.Pemberian cara nebulizer untuk usia 18 bulan- 4 tahun dianjurkan menggunakan
mouthpiece daripada masker muka untuk menghindarkan deposisi obat di muka dan mata.
Apabila dengan pemberian inhalasi obat tersebut serangan asma tidak teratasi/sedikit
perbaikan maka dapat diberikan steroid sistemik. Pemberian steroid sistemik perlu diperhatikan
pada anak dengan serangan asma yang sering karena anak ini berisiko mengalami efek samping
akibat pemberian steroid sistemik berulang kali seperti supresi adrenal, gangguan pertumbuhan
tulang, dan osteoporosis. Untuk mengurangi pemberian steroid oral berulang, maka sebagai
alternatifnya dapat diberikan inhalasi budesonid dosis tinggi (1600 mg perhari) pada anak yang
serangan asmanya tidak teratasi dengan penanganan inhalasi 2 agonis di rumah dan mereka
belum/tidak perlu perawatan di rumah sakit. Penggunaan obat pereda secara inhalasi pada
serangan asma sangat bermanfaat dan justru sangat dianjurkan, namun demikian penggunaannya
masih belum banyak. Hal ini dimungkinkan karena penggunaannya yang belum banyak
diketahui dan harga obat masih mahal. Hal ini berlaku bukan hanya di Indonesia, tetapi juga
berlaku di negara maju. Penggunaannya pada orang dewasa lebih banyak dibandingkan dengan

anak. Tata laksana di luar serangan Obat inhalasi di luar serangan asma hanya diberikan apabila
memerlukan obat pengendali; yang biasa digunakan adalah natrium kromoglikat dan golongan
steroid. Natrium kromoglikat menurut KNAA diberikan apabila termasuk asma episodik sering
sedangkan penggunaan steroid dapat diberikan pada asma episodik sering dan asma persisten.
Natrium kromoglikat menunjukkan absorbsi yang tidak baik sehingga hanya efektif bila
diberikan secara inhalasi. Obat ini tersedia dalam nebuliser solution , serbuk aerosol dan aerosol
dengan dosis 20 mg untuk nebulizer atau 2 mg secara aerosol.
Penggunaan steroid pada asma anak masih jarang mengingat samping yang mungkin
ditimbulkan. Namun beberapa peneliti telah membuktikan bahwa dengan penggunaan yang tepat
dengan dosis, cara, dan jenis yang sesuai maka efek samping dapat dikurangi. Penggunaan obat
inhalasi yang salah akan meningkatkan efek samping seperti jamur/kandidiasis di daerah mulut,
suara serak, dan efek lainnya. Dengan inhalasi sebagian obat juga akan beredar ke seluruh tubuh
melalui sistem gastrointestinal dan selanjutnya akan dielimininasi melalui hati sehingga dalam
peredaran sistemik kadarnya berkurang. Obat yang baik adalah yang dapat elimininasi tubuh
dengan baik artinya kadar di dalam sirkulasi menjadi kecil. Penggunaan steroid inhalasi pada
asma episodik sering dan asma persisten memerlukan waktu yang lama dan dosis yang mungkin
bervariasi. Pada awal pengobatan dapat diberikan dosis tinggi (400-800 mg per hari) dan
diturunkan secara perlahan sampai tercapai dosis optimum untuk anak tersebut dan
dipertahankan pada dosis optimum untuk beberapa lama dan kemudian diturunkan secara
bertahap sampai pada akhirnya kalau memungkinkan tidak digunakan samasekali. Penggunaan
waktu lama (sekitar 2-3 tahun) dengan dosis 400 mg perhari tidak mengganggu proses tumbuh
kembang anak. Untuk bayi dan anak berusia di bawah 4 tahun yang memerlukan steroid inhalasi
dapat digunakan suspensi budesonide inhalasi (pulmicort respules) yang diberikan dengan
nebuliser. Jadi penggunaan steroid inhalasi dapat lebih aman apabila kita mengetahui cara
penggunaannya.
Obat-obat yang umum digunakan
Takaran obat, cairan, dan waktu untuk nebulisasi
Cairan , Obat, Waktu

Nebulisasi jet

Nebulisasi ultrasonik

Garam faali (NaCl 0,9%)

5 ml

10 ml

b-agonis/antikolinergik/steroid

Lihat tabel 2

Waktu

10-15 menit

3-5 menit

Obat untuk nebulisasi, jenis dan dosis


Nama generik

Nama dagang

Sediaan

Dosis nebulisasi

Berotec

Solution 0,1%

5-10 tetes

Golongan b-agonis
Fenoterol

Salbutamol

Ventolin

Nebule 2,5 mg

1 nebule (0,1-0,15
mg/kg)

Terbutalin

Bricasma

Respule 2,5 mg

1 repsule

Solution 0,025%

> 6 thn : 8-20 tetes

Golongan antikolinergik
Ipratropium
bromide

Atroven

6 thn : 4-10 tetes

Golongan steroid
Budesonide

Pulmicort

Respule

Fluticasone

Flixotide

Nebule

Sediaan steroid yang dapat digunakan untuk serangan asma


Steroid Oral :
Nama
Generik

Nama Dagang

Sediaan

Dosis

Prednisolon

Medrol, Medixon

Tablet

1-2 mg/kgBB/hari-tiap 6 jam

Lameson, Urbason

4 mg

Hostacortin,
Pehacort, Dellacorta

Tablet

Kenacort

Tablet

Prednison

Triamsinolon

1-2 mg/kgBB/hari-tiap 6 jam

5 mg
1-2 mg/kgBB/hari-tiap 6 jam

4 mg

Steroid Injeksi :
Nama Generik

Nama Dagang

Sediaan

Jalur

Dosis

M. prednisolon

Solu-Medrol

Vial 125 mg

IV / IM

1-2 mg/kg

suksinat

Medixon

Vial 500 mg

HidrokortisonSuksinat

Solu-Cortef

Vial 100 mg

Silacort

Vial 100 mg

Deksametason

Oradexon

Ampul 5 mg

Kalmetason

Ampul 4 mg

Fortecortin

Ampul 4 mg

Corsona

Ampul 5 mg

Celestone

Ampul 4 mg

Betametason

tiap 6 jam
IV / IM

4 mg/kgBB/x
tiap 6 jam

IV / IM

0,5-1mg/kgBB bolus,
dilanjutkan 1
mg/kgBB/hari
diberikan tiap 6-8 jam

IV / IM

0,05-0,1 mg/kgBB tiap


6 jam