You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran yang didasarkan
atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran yang ada di
dalam sampel di antara dua fase, yakni fase diam (padat atau cair) dan fase
gerak. ). Bila fase diam berupa zat padat yang aktif, maka dikenal istilah
kromatografi penyerapan (adsorption chromatography). Bila fase diam berupa
zat cair, maka teknik ini disebut kromatografi pembagian (partition
chromatography).
Kromatografi dapat dibedakan atas berbagai macam tergantung pada
pengelompokannya. Contoh pada mekanisme pemisahannya kromatografi
dibedakan menjadi berdasarkan pada alat yang digunakn kromatografi
dibedakan atas kromatografi lapis tipis, kromatografi penukar ion,
kromatografi penyaringan gel, kromatografi elektroforesis, kromatografi
kertas, kromatografi gas.
Kromatografi merupakan alat yang digunakan untuk keperluan analisis. Di
bidang laboratorium, kromatografi digunakan sebagai salah satu alat untuk
permurnian senyawa ataupun pemisahan zat. Seperti pemeriksaan senyawa
pestisida pada tanaman/ sayur, atau pemeriksaan kadar obat atau narkoba
pada sampel urin, serta pemisahan komponen zat warna yang ada pada
makanan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah macam macam kromatografi?
2. Apa kegunaan masing masing kromatografi?
3. Bagaimana cara penggunaan kromatografi?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui macam macam kromatografi
2. Untuk mengetahui kegunaan masing masing kromatografi
3. Untuk mengetahui cara penggunaan kromatografi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komponen Utama Kromatografi
Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi
komponennya dengan bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing
komponen. Alat yang digunakan terdiri atas kolom yang di dalamnya diisikan
fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran ditambahkan ke kolom dari
ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan pengemban yang
cocok (fasa mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masingmasing komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau
koefisien partisi antara fasa mobil dan fasa diam (stationer).
Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil :
a. Fase Stationer (Fase diam)
Pelaksanaan kromatografi lapis tipis menggunakan lapis tipis silica
atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau
plastic yang keras.
Jel silica (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk
kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana
dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan
pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium
oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus OH. Apa
yang kita sebutkan tentang jel silica kemudian digunakan serupa untuk
alumina.
b.
Fase Mobil (Fase gerak)
Dalam kromatografi, eluent adalh fase gerak yang berperan penting
pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam
(adsorbent). Interaksi antara adsorbant dengan eluent sangat menentukan
terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu, pemisahan komponen
gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan
jumlah umpan.
Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya
pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini
yang banyak digunakan adalah jenis adsorban alumina atau sebuah lapis
tipis silica. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut.
Suatu pelarut yang bersifat larutan relative polar dapat mengusir pelarut
yang relative tak polar dari ikatannya dengan alumina (jel silica).
(Kantasubrata,1993).
Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan itu, tergantung
pada :

Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung pada


bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan
pelarut.

Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya silica. Hal ini
tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan silica
gel.

Anggaplah bercak awal pada alumina mengandung dua senyawa, yang


satu dapat membentuk ikatan hydrogen, dan yang lainnya hanya dapat
mengambil tiap-tiap bagian interaksi van der Waals yang lemah.
Senyawa yang dapat membentuk ikatan hydrogen akan melekat pada
jel silica lebih kuat disbanding senyawa lainnya. Kita mengatakan bahwa
senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan
merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan.
Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat pergerakan tetap dari
molekul antara yang terjerap pada permukaan jel silica dan yang kembali
pada larutan dalam pelarut.
Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan
selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada silica
gel untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana pelarut
bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa senyawa semakin kuat senyawa
dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan.
2.2 Macam-Macam Kromatografi
1. Kromatografi Gas

Gambar Alat Kromatografi gas


a. Pengertian
Kromatografi Gas adalah proses pemisahan campuran menjadi
komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase
bergerak yang melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam.
b. Prinsip Kromatografi Gas
Kromatografi gas mempunyai prinsip sama dengan kromatografi
lainnya, tapi memiliki beberapa perbedaan misalnya proses pemisahan
campuran dilakukan antara stasionary fase cair dan gas fase gerak dan
pada oven temperatur gas dapat dikontrol sedangkan pada kromatografi
kolom hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak dimiliki.
c. Alat Kromatografi Gas
1. Fase Mobil (Gas Pembawa)
Fasa mobil (gas pembawa) dipasok dari tanki melalui
pengaturan pengurangan tekanan. Kemudian membawa cuplikan
langsung ke dalam kolom. Jika hal ini terjadi, cuplikan tidak
menyebar sebelum proses pemisahan. Cara ini cocok untuk
cuplikan yang mudah menyerap. Gas pembawa ini harus bersifat
inert dan harus sangat murni. Seringkali gas pembawa ini harus
disaring untuk menahan debu uap air dan oksigen. Gas sering
digunakan adalah N2, H2 He dan Ar.

2. Sistem Injeksi Sampel


Sampel dimasukkan ke dalam aliran gas, jika sampel berupa
cairan harus diencerkan terlebih dahulu dalam bentuk larutan.
Injeksi sampel dapat diambil dengan karet silicon ke dalam oven,
banyak sampel + 0,1-10 ml.
3. Kolom
Fungsi kolom merupakan jantung kromatografi gas dimana
terjadi pemisahan komponen-komponen cuplikan kolom terbuat
dari baja tahan karat, nikel, kaca. Merupakan jantung
Chromatography, dimana pemisahan komponen cuplikan terjadi
yang berwujud puncak-puncak yang disebut Chromatogram. Faktor
yang berkaitan dengan keterpisahan puncak Chromatography
adalah keefisienan kolom dan keefisienan pelarut. Ada dua type
kolom :
1. Kolom Partisi, berisi bahan padat inert menyangga lapisan tipis
cairan, disebut Chromatography Gas Cair (GLC)
2. Kolom Adsorbsi, berisi partikel penyerap yang umumnya
digunakan untuk analisa gas permanen dan hydrokarbon rendah,
biasa disebut Chromatography Gas Padat (GSC)
4. Detektor
Fungsi detektor untuk memonitor gas pembawa yang keluar
dari kolom dan merespon perubahan komposisi yang terelusi.
Merupakan suatu gawai yang menunjukan dan mengukur
banyaknya komponen yang terpisah dalam gas pembawa.Suhu
detector harus panas agar cuplikan tak mengembun.
Pelebaran puncak dan menghilangnya puncak komponen
merupakan ciri khas terjadinya pengembunan. Seluruh detektor
ditutup dalam oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur
kolom. Hal itu menghentikan kondensasi dalam detektor (pada
FID).
5. Pencatat (Recorder)
Fungsi recorder sebagai alat untuk mencetak hasil percobaan pada
sebuah kertas yang hasilnya disebut kromatogram (kumpulan
puncak grafik).
d. Cara Kerja
1. Sampel diinjeksikan ke injektor yang suhunya telah diatur.
2. Setelah sampel menjadi uap, akan dibawa oleh aliran gas pembawa
menuju kolom.
3. Sehingga komponen akan terabsorbsi oleh fase diam sampai terjadi
pemisahan.
4. Komponen yang terpisah menuju detektor akan menghasilkan
sinyal listrik yang besarnya proporsional.
5. Sinyal listrik tersebut akan diperkuat oleh amplifier.
6. Kromatogram akan dicatat oleh rekorder berupa puncak.

e. Kelebihan
1. Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi.
2. Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan
efisiensi pemisahan yang tinggi.
3. Gas mempunyai vikositas yang rendah.
4. Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat
sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.
5. Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah
fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir
segala macam campuran.
f. Kekurangan
1. Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap.
2. Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan
campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah
dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi
pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika
ada metode lain.
3. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat
reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.
2. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
a. Pengertian
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi merupakan salah satu metode
kimia dan fisikokimia. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi termasuk
metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa
gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat.
b. Prinsip Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
1. Fasa gerak cair dialirkan melalui kolom ke detektor dengan bantuan
pompa.
2. Sempel dimasukkan ke dalam fase gerak .
3. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen campuran berdasarkan
kekuatan interaksi solut dengan fasa diam. Solut yang berinteraksi
lemah akan keluar lebih dulu.
4. Setiap komponen yang keluar akan dideteksi oleh detektor lalu
direkam dalam bentuk kromatogram.
c. Alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
1. Tempat Pelarut
2. Pompa

3. Tempat Injeksi Sampel


4. Kolom
5. Detektor
6. Rekorder
d. Cara Kerja
1. Mula-mula solven diambil melalui pompa.
2. Solven ini dikemudian masuk ke dalam katup injeksi berbutar, yang
dipasang tepat pada sampel loop.
3. Sampel dimasukan ke dalam sampel loop yang kemudian bersamasama dengan solven masuk kedalam kolom.
4. Hasil pemisahan dideteksi oleh detektor, yang penampakannya
ditunjukan oleh perekam (pencatat = recorder).

e. Kelebihan
1. Cepat
2. Kolom dapat digunakan kembali
3. Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik
4. Mudah rekoveri sampel
f. Kekurangan
1. Memerlukan biaya yang banyak untuk proses pemisahannya
2. Memerlukan orang yang trampil dalam pemisahannya
3. Kromatografi Kertas

a. Pengertian

Kromatografi Kertas adalah teknik metode analisis untuk memisahkan


dan mengidentifikasi campuran yang bisa berwarna (terutama pigmen)
yang terdiri dari dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.
b. Prinsip Kromatografi Kertas
Pelarut bergerak lambat pada kertas, komponen-komponen bergerak
pada laju yang berbeda dan campuran dipisahkan berdasarkan pada
perbedaan bercak warna.
c. Alat dan Bahan
i. Alat :
1. Bejana dan penutupnya
2. Penggaris
3. Pipa Kapiler
4. Pensil atau Ballpoint
5. Gunting
6. Penjepit Kertas
ii. Bahan :
1. Kertas Saring
2. Noda (bisa berupa spidol, stabilo, dan zat warna lainnya)
3. Pelarut yang cocok dengan noda
d. Cara Kerja
1. Potong kertas saring menjadi berbentuk persegi panjang (ukuran
terserah kalian yang penting bisa masuk ke dalam bejana, jangan
terlalu besar dan jangan terlalu kecil).
2. Garis ujung kertas bagian bawah (minimal jarak dari ujung kertas
1 cm untuk mencegah kontak langsung dengan pelarut).
3. Tetesi noda pada garis pembatas pada kertas.
4. Masukkan kertas yang sudah ditetesi noda tadi kedalam bejana
yang sebelumnya sudah diberi pelarut.
5. Tunggu hingga beberapa menit sampai proses penyerapan selesai.
6. Setelah itu kertas dikeringkan.
7. Ukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang
dipisahkan dan hitung nilai Rf (faktor retensi) noda tersebut.

Keterangan :
Rf = Jarak titik awal ke titik noda (jarak tempuh komponen)
dibagi Jarak titik awal ke titik akhir pergerakan eluen (jarak
tempuh eluen). Dengan demikian menurut gambar di atas, Rf =
a/b. Harga Rf dipengaruhi oleh keadaan zat sampel, temperatur,
dan jenis komponen.
7

4. Kromatografi Lapis Tipis


a. Pengertian
Kromatografi Lapis Tipis adalah suatu teknik pemisahan yang
sederhana dan banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng
kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis
dan kering bentuk silika gel, alomina, selulosa dan polianida.
b. Prinsip Kromatografi Lapis Tipis
1. memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara
sampel dengan pelarut yang digunakan.
2. kromatografi lapis tipis memiliki fase diam berupa sebuah lapis tipis
silika atau alumina dan fase gerak pelarut atau campuran pelarut
(eluen) yang sesuai.
c. Alat
2. Silika Gel (fase diam) dan Pewarna (fase gerak)
3. Gelas kimia atau bejana
4. Lempengan
5. pensil
d. Cara Kerja
1. Potong plat sesuai ukuran. Biasanya, untuk satu spot menggunakan
plat selebar 1 cm. Berarti jika menguji 3 sampel (3 spot) berarti
menggunakan plat selebar 3 cm.
2. Buat garis dasar (base line) di bagian bawah, sekitar 0,5 cm dari
ujung bawah plat, dan garis akhir di bagian atas.
3. Menggunakan pipa kapiler, totolkan sampel cairan yang telah
disiapkan sejajar, tepat di atas base line. Jika sampel padat, larutkan
pada pelarut tertentu. Keringkan totolan.
4. Dengan pipet yang berbeda, masukkan masing-masing eluen ke
dalam chamber dan campurkan.
5. Tempatkan plat pada chamber berisi eluen. Base line jangan sampai
tercelup oleh eluen. Tutuplah chamber.
6. Tunggu eluen mengelusi sampel sampai mencapai garis akhir, di
sana pemisahan akan terlihat.
7. Setelah mencapai garis akhir, angkat plat dengan pinset, keringkan
dan ukur jarak spot. Jika spot tidak kelihatan, amati pada lampu
UV. Jika masih tak terlihat, semprot dengan pewarna tertentu
seperti kalium kromat, asam sulfat pekat dalam alkohol 96%, atau
ninhidrin.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini.

e. Kegunaan
1. Untuk penentuan jumlah komponen dalam campuran.
2. Untuk penentuan identitas antara dua campuran.
3. Untuk memonitor perkembangan reaksi.
4. Untuk penentuan keefektifan pemurnian.

5. Untuk penentuan kondisi yang sesuai untuk pemisahan pada


kromatografi kolom.
6. Untuk memonitor kromatografi kolom .
5. Kromatogfari Kolom

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom


sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran.
Alat tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran di bagian
bawah kolom untuk mengendalikan aliran zat cair (Yazid, 2005, hal: 198)
Pada prinsipnya kromatografi kolom adalah suatu teknik
pemisahan yangdidasarkan pada peristiwa adsorpsi. Sampel yang
biasanya berupa larutan pekat diletakkan pada ujung atas kolom.
Eluen atau pelarut dialirkan secara kontinyu ke dalam kolom. Dengan
adanya gravitasi atau karena bantuan tekanan maka eluen atau pelarut
akan melewati kolom dan proses pemisahan akan terjadi. Pelarut (fase
gerak) yang paling cocok
untuk pemisahan harus ditentukan melalui cara kromatografi lapis tipis te
rlebih dahulu. Kecepatan pergerakan suatu komponen tergantung pada
kemampuannya untuk tertahan atau terhambat
oleh penyerap di dalam kolom.
Jadi suatu senyawa yang diserap lemah akan bergerak lebih cepatdaripad
a yang diserap kuat.
Teknik pemisahan kromatografi kolom dalam memisahkan campuran,
kolom yang telah dipilih sesuai ukuran diisi dengan bahan penyerap
(adsorben) seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat seperti bubur
dengan pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan batang pemanpat
(pengaduk) untuk memanpatkan adsorben dengan gelas wool pada dasar
kolom. Pengisian harus dilakukan secara hati-hati dan sepadat mungkin
agar rata sehingga terhindar dari gelembung-gelembung udara. Untuk
membantu homogenitas pengepakan biasanya kolom setelah diisi
divibrasi, diketok-ketok atau dijatuhkan lemah pada pelat kayu. Sejumlah
cuplikan dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas
kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam adsorben. Komponen-komponen

dalam campuran diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan


penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas kolom, dengan
penambahan pelarut (eluen) secara terus-menerus, masing-masing
komponen akan bergerak turun melalui kolom dan pada bagian atas kolom
akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan penyerap, komponen
campuran dan eluen.
Kesetimbangan dikatakan tetap bila suatu komponen yang satu dengan
lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan waktu atau kecepatan
berbeda-beda sehingga terjadi pemisahan. Jika kolom cukup panjang dan
semua parameter pemisahan betul-betul terpilih seperti diameter kolom,
adsorben, pelarut dan kecepatan alirannya, maka akan terbentuk pita-pita
(zona-zona) yang setiap zona berisi satu macam komponen. Setiap zona
yang keluar dari kolom dapat ditampung dengan sempurna sebelum zona
yang lain keluar dari kolom. Komponen (eluat) yang diperoleh dapat
diteruskan untuk ditetapkan kadarnya, misalnya dengan cara titrasi atau
spektofotometri (Yazid, 2005, hal: 200 201).
2.3 Kromatografi dan Aplikasinya pada Bidang lain
a) Pada Bidang Bioteknologi
Dalam bidang bioteknologi, kromatografi mempunyai peranan
yang sangat besar. Misalnya dalam penentuan, baik kualitatif maupun
kuantitatif, senyawa dalam protein. Protein sering dipilih karena ia
sering menjadi obyek molekul yang harus di-purified (dimurnikan)
terutama untuk keperluan dalam bio-farmasi. Kromatografi juga bisa
diaplikasikan dalam pemisahan molekul-molekul penting seperti asam
nukleat, karbohidrat, lemak, vitamin dan molekul penting lainnya.
Dengan data-data yang didapatkan dengan menggunakan
kromatografi ini, selanjutnya sebuah produk obat-obatan dapat
ditingkatkan mutunya, dapat dipakai sebagai data awal untuk
menghasilkan jenis obat baru, atau dapat pula dipakai untuk
mengontrol kondisi obat tersebut sehingga bisa bertahan lama.
b) Pada Bidang Klinik
Dalam bidang clinical (klinik), teknik ini sangat bermanfaat
terutama dalam menginvestigasi fluida badan seperti air liur. Dari air
liur seorang pasien, dokter dapat mengetahui jenis penyakit yang
sedang diderita pasien tersebut. Seorang perokok dapat diketahui
apakah dia termasuk perokok berat atau ringan hanya dengan
mengetahui konsentrasi CN- (sianida) dari sampel air liurnya.
Demikian halnya air kencing, darah dan fluida badan lainnya bisa
memberikan data yang akurat dan cepat sehingga keberadaan suatu
penyakit dalam tubuh manusia dapat dideteksi secara dini dan cepat.
Sekarang ini, deteksi senyawa oksalat dalam air kencing menjadi
sangat penting terutama bagi pasien kidney stones (batu ginjal).
Banyak metode analisis seperti spektrofotometri, manganometri, atau
lainnya, akan tetapi semuanya membutuhkan kerja ekstra dan waktu
yang cukup lama untuk mendapatkan hasil analisis dibandingkan
dengan teknik kromatografi.

10

Dengan alasan-alasan inilah, kromatografi kemudian menjadi


pilihan utama dalam membantu mengatasi permasalahan dalam dunia
bioteknologi, farmasi, klinik dan kehidupan manusia secara umum.
c) Pada Bidang Forensik
Aplikasi kromatografi pada bidang forensik pun sangat membantu,
terutama dilihat dari segi keamanan. Masih lekat dalam ingatan kita,
sebuah peristiwa Black September Tragedy mengguncang Amerika
pada tanggal 11 September 2001 yang ditandai dengan runtuhnya dua
gedung kesayangan pemerintah Amerika Serikat. Demikian halnya di
Indonesia yang marak dengan aksi peledakan bom yang terjadi di
mana-mana. Perhatian dunia pun akhirnya mulai beralih dengan
adanya peristiwa-peristiwa pengeboman/peledakan tersebut ke bahaya
explosive (bahan peledak) dengan peningkatan yang cukup tajam.
Kini kromatrografi menjadi hal yang sangat penting dalam
menganalisis berbagai bahan-bahan kimia yang terkandung dalam
bahan peledak. Hal ini didorong karena dengan semakin cepat
diketahuinya bahan-bahan dasar apa saja bahan peledak, maka akan
makin mempercepat diambilnya tindakan oleh bagian keamanan untuk
mengatasi daerah-daerah yang terkena ledakan serta antisipasi
meluasnya efek radiasi yang kemungkinan akan mengena tubuh
manusia di sekitar lokasi ledakan. Lebih jauh lagi, efek negatifnya
terhadap lingkungan juga bisa segera diketahui.
Pada dasarnya setiap bahan peledak, baru akan meledak jika terjadi
benturan, gesekan, getaran atau adanya perubahan suhu yang
meningkat. Dengan terjadinya hal-hal seperti ini, memberikan peluang
bahan peledak tersebut berubah manjadi zat lain yang lebih stabil yang
diikuti dengan tekanan yang tinggi, yang bisa menghasilkan ledakan
dahsyat atau bahkan munculnya percikan api.
Ada banyak bahan kimia yang biasa digunakan dalam bahan
peledak, baik bahan peledak yang kerkekuatan tinggi maupun rendah,
beberapa diantaranya adalah 2,4,6-trinitrotoluene (TNT), siklonit
(RDX), tetril, pentaeritritol tetranitrat (PETN) dan tetritol serta
beberapa anion lain seperti perklorat, klorat, klorida, nitrat, nitrit,
sulfate dan tiosianat.Bisa dikatakan bahwa analisis organic ion (ion
organik) dan inorganic ion (ion anorganik) memainkan peranan yang
sangat penting pada saat investigasi lokasi ledakan bom berlangsung.
Pendeteksian ion-ion anorganik misalnya, setelah pengeboman
berlangsung, akan memberikan harapan karena tidak semua material
dari bahan peledak tersebut ikut meledak pada saat terjadi ledakan.
Bahan-bahan anorganik seperti klorat, klorida, nitrat, nitrit, sulfate,
tiosianat, dan perklorat adalah bahan-bahan kimia yang biasa
digunakan sebagai oksidator untuk low explosive (bahan peledak
berkekuatan rendah).
d) Dalam bidang lingkungan
Dalam masalah lingkungan, sebagai konsekuensi majunya
peradaban manusia, berarti permasalahan pun semakin maju. Salah
satu permasalahan serius yang dihadapi oleh negara-negara
berkembang dan utamanya negara maju adalah persoalan global

11

warming (pemanasan global). Menurut survei National Institute for


Environmental Studies, Japan, tahun 2006 lalu, bahwa masyarakat di
Jepang memperkirakan tingkat pemanasan global merupakan masalah
lingkungan paling serius dan tingkatannya hampir 7 kali lipat dari satu
dekade yang lalu saat polling kali pertama dilakukan pada tahun
19972). Seiring dengan hal itu, permasalahan lingkungan pun semakin
meningkat. Disinilah, teknik kromatografi mengambil peran paling
penting dalam environmental analysis (analisis lingkungan) ini.
Pada dasarnya permasalahan lingkungan bisa dibagi ke dalam 3
bagian : water hygiene, soil hygiene dan air hygiene. Sebagai contoh,
kualitas air (misal : air ledeng, air sungai, air danau, air permukaan)
dapat diketahui salah satunya dengan mengetahui jenis anion dan
kation yang terkandung dalam sampel air tersebut sekaligus
jumlahnya. Apakah mengandung logam-logam berbahaya atau tidak.
Demikian halnya pada daerah yang terkena acid rain (hujan asam).
Antisipasi dini dapat dilakukan dengan mengetahui secara dini
kandungan sulfate ion, SO42- (ion sulfat) dan nitrogen trioxide ion,
NO3- (nitrogen trioksida) yang terdapat dalam air hujan tersebut.
Terbentuknya hujan asam disebabkan gas sulfur oxide, SOx dengan
uap air dan membentuk asam sulfat (H2SO4), demikian pula nitrogen
oxide NOx dapat membentuk asam nitrat (HNO3) di udara. Reaksirekasi ini mengambil waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari di
udara hingga akhirnya jatuh ke bumi dalam bentuk hujan asam.
Di beberapa negara maju seperti Jepang, Amerika, Eropa, Kanada, dan
beberapa negara lainnya, monitoring udara dan air hujan menjadi
sangat penting tidak hanya untuk memperkirakan efek dari polusi itu
tapi yang lebih penting lagi adalah memonitor progress
(perkembangan) control polusi dari global ecology (ekologi global).
Kontrol kondisi air hujan ini menjadi penting karena beberapa efek
yang fatal yang mungkin bisa terjadi, di antaranya jatuhnya hujan
asam dapat meningkatkan keasaman danau, sungai, bendungan yang
pada akhirnya mungin dapat menyebabkan kematian pada kehidupan
air. Demikian pula keasaman pada tanah dapat meningkat dan
merembes ke air permukaan tanah yaitu sumber air minum sehari-hari.
Aplikasi
pada
bidang
yang
lain
Sebenarnya masih sangat banyak aplikasi kromatografi dalam bidangbidang keilmuan lainnya. Beberapa aplikasi tersebut misalnya dalam
industri kertas, pertambangan, proses logam, petrokimia, pertanian,
kedokteran dan lain-lain.
Namun karena keterbatasan ruang, dalam tulisan ini penulis hanya
menampilkan beberapa contoh peran serta kromatografi dalam
memudahkan dan mempercepat perolehan target data dalam
beberapa bidang yang tersebut di atas.
2.4 Cara Merawatan Kromatografi
1. Pada kromatografi kertas & kromatografi lapis tipis, fase diam harus
disimpan dalam ruang tertutup atau di tempat yang kering jauh dari
sumber uap.

12

2. Pada kromatografi kolom & kromatografi gas sebelum dan sesudah


dipakai harap dicuci bersih kemudian dikeringkan, lalu disimpan
pada tempat yang aman.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacammacam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu
fasa gerak yang bisa berupa gas ( kromatografi gas ) ataupun cair
( kromatografi cair ) dan fasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun
suatu padatan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan polaritas dari fasa diam
dan gerak.
Pemisahan senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui
kuantitasnya merupakan masalah penting dari pekerjaan di laboratorium
kimia. Untuk itu, kemurnian bahan atau komposisi campuran dengan
kandungan yang berbeda dapat dianalisis dengan benar. Control kualitas,
analisis bahan makanan dan lingkungan, tetapi juga control dan optimasi
reaksi kimia dan proses berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas
material. Teknologi yang penting untuk analisis dan pemisahan preparative
pada campuran bahan adalah kromatografi.
Kromatografi adalah teknik analisis yang diterapkan untuk memisahkan
komponen-komponen dalam campuran berdasarkan 2 jenis fase yaitu fase
diam (stationer) dan fase gerak (mobil). Secara umum kromatografi dibagi
menjadi :
a. Kromatografi Cair
Kromatografi kertas
Kromatografi kolom
Kromatografi lapis tipis
Kromatografi cair kinerja tinggi
b. Kromatografi Gas
Kromatografi gas-cair
Kromatografi gas-padat
3.2 Saran
Dalam menggunakan kromatografi, kita harus mengetahui jenis-jenis
kromatografi yang akan digunakan. Karena setiap kromatografi mempunyai
cara kerja yang berbeda-beda. Seperti kromarografi kertas dan lapis tipis.
Kedua kromatografi ini mengolah sampel dengan cara menotolkan sampel
dikertas atau silika gel, dalam penotolan sampel, kita harus mengetahui cara
menotolkan sampel itu, hal ini untuk mendapatkan hasil yang benar pada
pemeriksaan sampel.
Pengerjaannya juga harus membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian
untuk mendapatkan hasil yang akurat. Setelah pemeriksaan sampel selesai,
pastikan semua alat dimatikan dengan baik, untuk menjaga agar alat dapat
bertahan lama.

14

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (http://chemistry-analyst1.blogspot.com/2013/06/definisi-dan-macam-

kromatografi.html) diakses pada tanggal 5 November 2014


Anonim. (http://www.ilmukimia.org/2013/05/kromatografi.html) diakses pada
tanggal 5 November 2014
Anonim. (http://www.chem-is-

try.org/kategori/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/) diakses pada


tanggal 5 November 2014
Anonim. (http://aprililianti.blogspot.com/2012/09/pendahuluan-kromatografi.html)
diaksespada tanggal 5 November 2014
Anonim. (http://haiirohikaru1311skingdom.blogspot.com/2011/07/vbehaviorurldefaultvmlo.html) di akses pada tanggal 5 November 2014

15