You are on page 1of 21

Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk

berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli
unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke
dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupunefek/sekuriti lainnya.
Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): Reksadana
adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk
selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:
1. Reksadana merupakan kumpulan dana dan pemilik (investor).
2. Diinvestasikan pada efek yang dikenal dengan instrumen investasi.
3. Reksadana tersebut dikelola oleh manajer investasi.
4. Reksadana tersebut merupakan instrumen jangka menengah dan pajang
Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat
berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerimadividen atau bunga
yang dibukukannya ke dalam "Nilai Aktiva Bersih" (NAB) reksadana tersebut.
Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan
pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian
inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur.

*)Bank kustodian atau disingkat kustodian adalah suatu lembaga yang bertanggung jawab
untuk mengamankan aset keuangan dari suatu perusahaan ataupun perorangan. Bank
kustodian ini akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan dari asset seperti saham,
obligasi, serta melaksanakan tugas administrasi seperti menagih hasil penjualan, menerima
deviden, mengumpulkan informasi mengenai perusahaan acuan seperti misalnya rapat umum
pemegang saham tahunan, menyelesaikan transaksi penjualan dan pembelian, melaksanakan
transaksi dalam valuta asing apabila diperlukan, serta menyajikan laporan atas seluruh
aktivitasnya sebagai kustodian kepada kliennya.
Biasa juga disebut dengan bank kustodian 'global, apabila bank kustodian tersebut mengelola
aset yang berasal dari berbagai penjuru dunia dengan beragam jurisdiksi melalui berbagai
cabangnya diberbagai penjuru dunia. Aset yang tersebar demikian biasanya dimiliki oleh dana
pensiun

JENIS REKSADANA
1. Reksadana Saham.
Reksadana saham adalah reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya
80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat ekuitas (saham). Efek saham
umumnya memberikan potensi hasil yang lebih tinggi berupa capital gain melalui
pertumbuhan harga-harga saham dan deviden. Reksadana saham memberikan potensi
pertumbuhan nilai investasi yang paling besar demikian juga dengan risikonnya.
2. Reksadana Campuran.
Reksadana campuran adalah reksadana yang melakukan investasi dalam efek ekuitas
dan efek hutang yang perbandingannya tidak termasuk dalam kategori reksadana
pendapatan tetap dan reksadana saham. Potensi hasil dan risiko reksadana campuran
secara teoritis dapat lebih besar dari reksadana pendapatan tetap namun lebih kecil dari
reksadana saham.
3. Reksadana Pendapatan Tetap.
Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang malakukan investasi sekurangkurangnya 80% dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek bersifat hutang. Risiko
investasi yang lebih tinggi dari reksadana pasar uang membuat nilai return bagi
reksadana jenis ini juga lebih tinggi tapi tetap lebih rendah daripada reksadana campuran
atau saham.
4. Reksadana Pasar Uang.
Reksadana pasar uang adalah reksadana yang melakukan investasi 100% pada efek
pasar uang yaitu efek hutang yang berjangka kurang dari satu tahun. Reksadana pasar
uang merupakan reksadana yang memiliki risiko terendah namun juga memberikan
return yang terbatas.
5. Reksadana Index
Reksadana Index adalah reksadana yang isinya adalah sebagian besar dari index
tertentu (tidak semua, yang penting merefleksikan index tersebut) dan dikelola secara
pasif, artinya tidak melakukan jual beli di bursa, kecuali ada subscription baru atau
redemption, oleh karenanya reksadana index biasanya keuntungan dan kerugiannya
sejalan dengan index tersebut (jika ada selisih, biasanya selisihnya kecil). Jika
reksadana tersebut diperjualbelikan di bursa, maka disebut Exchange Traded
Fund (ETF) dan harganya berfluktuasi tiap detiknya, sehingga sebenarnya mirip saham.
Keduanya, baik reksadana index maupun ETF disebut pengelolaaan dana index dan
di Amerika Serikat pada tahun 2013, mencakup 18,4% dari seluruh pengelolaan dana
bersama (mutual funds).[2]

NILAI AKTIVA BERSIH (NAB)


NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah satu tolak ukur dalam memantau hasil dari suatu
Reksa Dana.NAB per saham/unit penyertaan adalah harga wajar dari portofolio suatu
Reksadana setelah dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan
yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.

MANFAAT REKSADANA
Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif
investasi yang menarik antara lain:
1. Dikelola oleh manajemen profesional
Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang
memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer
Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai
keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam
menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.
2. Diversifikasi investasi
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi
risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana
diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan
kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham
atau efek secara individu.
3. Transparansi informasi
Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya
secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya,
biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva
Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah
tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor
perkembangan investasinya secara rutin.
4. Likuiditas yang tinggi
Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai
tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan
kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing
Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka
wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.

5. Biaya Rendah
Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian
dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk
melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi.
Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan
transaksi sendiri di bursa.

RESIKO REKSADANA
Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi
timbul apabila membeli Reksadana.
1. Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan
Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan
dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga
pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa
disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk,
terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak
menentu, dan masih banyak penyebab fundamental lainnya.
2. Risiko Likuiditas
Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana
pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam
jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi
tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan
reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa sehingga
memengaruhi investor reksadana untuk melakukan penjualan kembali Unit Penyertaan
reksadana tersebut. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan
ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten
publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebut, serta
dilikuidasinya perusahaan Manajer Investasi sebagai pengelola Reksadana tersebut.
3. Risiko Pasar
Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang
disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis.
Istilah lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham
atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko
pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih)
yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga. Oleh

karena itu, apabila ingin membeli jenis Reksadana tertentu, Investor harus bisa
memperhatikan tren pasar dari instrumen portofolio Reksadana itu sendiri.
4. Risiko Default
Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten
yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan
tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar
kewajibannya. Risiko ini hendaknya dihindari dengan cara memilih Manajer Investasi
yang menerapkan strategi pembelian portofolio investasi secara ketat.

Secara sederhana, investasi dapat didefinisikan sebagai upaya membelanjakan


sejumlah uang atau dana pada sesuatu hal yang ditujukan untuk mendapatkan
keuntungan di masa depan. Hal tersebut antara lain dapat berupa : properti, surat
berharga (deposito, saham, obligasi), logam mulia, perhiasan, atau bentuk lainnya.
Dalam melakukan investasi terdapat dua hal utama yang wajib dipahami oleh
masyarakat, yaitu tingkat imbal hasil yang ditawarkan (return) dan tingkat risiko
(risk).
Khusus terkait dengan risiko, setiap investor memiliki sikap toleransi terhadap risiko
investasi yang berbeda-beda. Sebagian merasa nyaman untuk mengambil risiko
(risk-takers), sebagian kurang berani atau ragu-ragu (risk-moderate), dan ada juga
yang benar-benar tidak berani untuk mengambil risiko (risk-averse).
Tidak ada satupun instrumen investasi yang cocok untuk semua orang. Setiap orang
(investor) perlu mengenali profil risiko masing-masing sebelum melakukan investasi
sehingga nantinya akan dapat memilih instrumen investasi yang paling sesuai
dengan kebutuhannya.

Pembelian Reksa Dana dapat dilakukan secara langsung melalui perusahaan


Manajer Investasi yang menerbitkan dan mengelola Reksa Dana atau bisa
melalui Bank yang bertindak sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD).
Dalam membeli Reksa Dana, persyaratan awal calon investor adalah harus
memiliki kartu identitas (KTP/SIM) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), agar
dapat membuka rekening sebelum membeli Reksa Dana. Selain itu, investor
juga wajib melakukan proses KYC (Know your customer) dan investor diwajibkan
untuk melakukan pertemuan dengan pihak Manajer Investasi atau APERD (Agen
Penjual Efek Reksa Dana) minimal 1 kali.

*)from Schroders
Apakah perusahaan manajemen investasi itu?Apakah Perusahaan Manajemen Investasi itu?
Perusahaan Manajemen Investasi atau manajer keuangan adalah pihak yang menginvestasikan aset
Reksa Dana pada beberapa instrumen investasi sesuai dengan panduan investasi yang ditetapkan
pada prospektus produk

Bagaimana cara kerja reksadana?


Reksa Dana biasanya menerbitkan unit yang bisa dibeli atau dijual kembali saat diperlukan pada nilai
aktiva bersih (NAB)terbaru per unit sesuai nilai investasi. Saat investor membeli Reksa Dana, mereka
akan menerima unit investasi yang dihitung berdasar jumlah yang dibeli dan nilai NAB per unit terkini.
Dengan memiliki unit investasi, investor memiliki bagian proporsional dari aset Reksa Dana dan tiap
pemilik unit berpartisipasi secara proporsional dalam keuntungan maupun kerugiannya.
Manajer investasi bertanggung jawab untuk menginvestasikan dana investasi pada sejumlah portfolio
sekuritas mulai dari saham, obligasi, pasar uang dan instrumen lainnya, tergantung tipe dan tujuan
dari Reksa Dana itu.
NIlai Aktiva Bersih (NAB)atau harga per unit adalah salah satu indikasi untuk memonitor performa
Reksa Dana. Dengan memperhitungkan perubahan persentase tiap hari dari NAB, investor bisa
mendapat gambaran stabil atau tidaknya portfolio tertentu terhadap portfolio lainnya.
NAB dihitung tiap hari berdasar harga penutupan di pasar dari aset pokok. Untuk mengetahui NAB
per unit, kita harus mengikuti beberapa langkah: pertama, total nilai dari semua sekuritas yang
dihitung.
Total nilai pasar ditambah ke dana investasi tunai dan setara induknya. Kewajiban (termasuk
pengeluaran yang akan dibayarkan) harus dikurangi. Hasilnya adalah nilai total aset bersih. Dengan
mengurangi nilai total aset bersih dengan dana unit sisa, kita akan mendapatkan NAB per unit.
Manajer investasi menunjuk bank kustodian yang berfungsi sebagai administrator, yang bertanggung
jawab dalam pelaksanaan transaksi, kliring dengan broker yang ditunjuk atau bank, pendaftaran
sekuritas, penghitungan dan distribusi dividen, sekaligus memproduksi NAV per unit dan melaporkan
investasi. Badan pengelola pasar uang dan lembaga keuangan (OJK) adalah badan yang berwenang
mengatur dan mengawasi aktivitas pasar uang Indonesia termasuk industri Reksa Dana
Bagaimana aset reksadana terjaga?
Aset Reksa Dana dengan aman disimpan di bank kustodian yang tidak berafiliasi dengan manajer
investasi. Bank kustodian akan memastikan aset dana terpisah dari manajer keuangan dan aset bank
kustodian. Sehingga bila terjadi sesuatu dengan manajer keuangan atau bank kustodian, aset
investasi tidak akan terganggu.
Bagaimana saya memonitor investasi saya?
Investor bisa memonitor performa investasi mereka dengan membandingkan nilai NAB per unit dari
produk terkait dari waktu ke waktu.
Apakah investor dapat melakukan penjualan kembali, pembelian dan pengalihan secara harian?
Ya, penjualan kembali, pembelian, dan pengalihan bisa dilaksanakan secara harian sesuai dengan
kalender bursa efek Indonesia.

*from bisnisinvestasisaham.com

Istilah-istilah yang perlu diketahui dalam membeli reksadana adalah:


Unit Penyertaan (UP)

Satuan kepemilikan investasi dalam Reksa Dana.


Total Jumlah UP (outstanding UP)

Jumlah Unit Penyertaan yang telah diterbitkan Reksa Dana.


Subscription

Pembelian/pemesanan Unit Penyertaan.


Redemption

Pencairan/Penjualan kembali Unit Penyertaan.


Nilai Aktiva Bersih (NAB)/Net Asset Value (NAV)

Total Nilai Efek berdasarkan harga pasar pada suatu saat, setelahdikurangi biaya-biaya Reksa
Dana dan kewajiban pajak.
Nilai Aktiva Bersih per Unit
Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana dibagi dengan total jumlah UnitPenyertaan (outstanding UP).
Unit Penyertaan (UP)
Adalah satuan investasi dalam reksadana. Pada saat penawaran umum perdana, UP ditetapkan Rp 1.000
kecuali reksadana pasar uang yang selalu ditetapkan Rp 1.000 setiap awal hari bursa. Bila pada penawaran
umum suatu reksadana terkumpul dana sebesar Rp 100 juta berarti ada 100 ribu lembar UP beredar dengan
NAB/NAV Rp 1.000/UP.
NAB/NAV dalam rupiah biasanya dihitung sampai 4 angka desimal. Dalam contoh berikut, angka desimal
dihilangkan hanya untuk kemudahan perhitungan semata.
Nilai Aktiva Bersih (NAB)/Net Asset Value (NAV)
Mengikuti contoh di atas, misalkan selama suatu periode MI mampu membukukan keuntungan 40% maka dana
yang terkumpul akan menjadi Rp 140 juta. Jika sebelumnya NAB/NAV sebesar Rp 1.000/UP, kini nilainya naik
jadi Rp 1.400/UP. Misal biaya yang dibebankan 1%, maka NAB/NAV Rp 138,6 juta atau Rp 1.386 per UP.
Setelah dikurangi biaya-biaya tersebut, hasil investasi akan menjadi hak investor.
Misalkan saya berinvestasi dengan membeli 50 ribu UP pada penawaran umum, maka saya harus
mengeluarkan dana Rp 1.000/UP atau Rp 50 juta. Jika saya ingin menjual UP yang saya miliki saat ini dengan
harga Rp 1.386/UP maka saya akan menerima dana sebesar Rp 69,3 juta. Keuntungan yang saya peroleh
sebesar Rp 19,3 juta.
Bila saat ini Anda ingin masuk, Anda harus membeli dengan harga Rp 1.386/UP. Misalkan Anda membeli 10 ribu
UP, maka Anda harus membayar Rp 13,86 juta. Seandainya beberapa bulan kemudian NAB/NAV turun menjadi
Rp 1.350/UP dan Anda ingin menjual reksadana Anda, maka Anda akan menerima dana Rp 13,5 juta. Dalam
kasus ini Anda menderita rugi Rp 360 ribu.
Nilai NAB/NAV selalu update tiap hari bursa oleh bank kustodian dan diterbitkan di berbagai media. NAB/NAV tak
serta merta menggambarkan mahal tidaknya reksadana. Reksadana yang baru ditawarkan biasanya
NAB/NAVnya murah, sementara reksadana yang sudah eksis cukup lama bisa jadi memiliki NAB/NAV tinggi.
Namun, NAB/NAV juga bisa dipengaruhi misalkan oleh kebijakan MI untuk melakukan split ratio yang akan
mengubah nilai NAB/NAV dan jumlah UP walau pada akhirnya nilai investasinya sama saja.

Membeli dan Menjual Reksadana


Membeli reksadana dikenakan selling fee tertentu. Misal suatu hari Anda membeli reksadana dengan investasi
Rp 10 juta, NAB/NAV Rp 1.350/UP, dan selling feesebesar 1%. Jumlah UP yang bisa diperoleh dapat dihitung
dengan rumus:
UP = [investasi (1 - fee)] : NAB/NAV
UP = [Rp 10 jt (1 - 0,01)] : Rp 1.350/UP
UP = 7.333,3333 unit
NAB/NAV dihitung setiap akhir hari bursa. Jika Anda membayar dan memasukkan inquirysebelum jam 12.00
WIB, NAB/NAV dihitung pada akhir hari tersebut. Namun juka Anda membeli setelah pukul 12.00 WIB, Anda
akan dimasukkan ke NAB/NAV hari bursa berikutnya.
Sementara saat menjual reksadana, Anda akan dikenakan redemption fee. Misal hari ini Anda ingin membeli
reksadana yang Anda beli di atas dengan NAB/NAV Rp 2.025/UP dan redemption fee sebesar 1,5%.
Besarnya redemption dapat dihitung dengan rumus:
Redemption = UP x NAB/NAV (1 fee)
Redemption = 7.333,3333 x Rp 2.025/UP (1 0,015)
Redemption = Rp 14.627.250
Jadi besarnya keuntungan anda adalah sebesar Rp 4.627.250. Return on investment(ROI) investasi Anda
sebesar 46,27%.

*from blognya dokter gigi


Sebenarnya saya udah dari dua tahun lalu pengeeeen banget beli reksadana (RD). Awalnya
gara-gara mulai melek finansial dan mulai baca-baca twit dan blog para financial planner,
seperti Ligwina Hananto, Aidil Akbar, Ahmad Gozali, dan Prita Hapsari Ghozie, dan
hampir semuanya menyarankan mengoptimalkan rencana keuangan dengan berinvestasi di RD.
Tapiii, karena saya dan suami sudah sepakat harus sebisa mungkin menghindari dari segala
sesuatu yang mengandung riba, awalnya saya sempat ragu dengan kehalalan RD ini. Emang sih
kan ada RD syariah, tapi banyak yang berpendapat kalau baik bank syariah, asuransi syariah,
maupun RD syariah sebenarnya belum murni sesuai syariah Islam. Googling sana-sini tentang
kehalalan RD syariah malah bikin galau, satu sisi pengeeen banget berinvestasi di RD syariah
tapi satu sisi takuuuut banget kalau ternyata mengandung riba. Karena keraguan tersebut,
akhirnya ya sudahlah saya pendam saja keinginan berinvestasi di RD, dan tetap memohon
supaya kami sekeluarga dijauhkan dari segala harta yang tidak halal dan mengandung riba.
Sampai suatu saat sekitar dua bulan yang lalu, entah kenapa tiba-tiba muncul keyakinan di hati
saya bahwa sepertinya saya harus mulai investasi di RD syariah sekarang! Saya mulai mencari
tahu lagi tentang RD syariah dan tentang kehalalannya, dan ntah kenapa saya banyak
menemukan tulisan-tulisan yang makin meyakinkan saya untuk berinvestasi di RD syariah.
Dengan mengucapkan Basmallah, dan selalu berdoa agar dijauhkan dari harta yang tidak halal
dan mengandung riba, akhirnya saya putuskan Insya Allah (jika Allah menghendaki), saya akan
membeli RD syariah pertama saya!
Nah jujur, awalnya sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan membeli
RD melalui Commonwealth Bank. Tapi mungkin inilah jalan yang sesuai dengan kehendak Allah
SWT, ntah kenapa seminggu sebelum perjalanan saya mengunjungi orang tua saya di Kuwait
(tempat orang tua saya tinggal saat ini), tiba-tiba saya merasa diarahkan untuk membuka
website CommBank dan googling mengenai pengalaman orang-orang yang membeli RD di
CommBank. Dan karena saya akan menginap semalam di rumah kakak saya di Depok dan
CommBank juga memiliki kantor cabang di daerah sana, akhirnya saya putuskan saya akan beli
RD di Commbank!
Dan alhamdulillah, akhirnya kini resmi sudah saya berinvestasi di RD syariah sejak bulan
September ini. Saya membeli RD pendapatan tetap (PNM Amanah Syariah), RD campuran
(Schroder Syariah Balanced Fund), dan RD saham (BNP Paribas Pesona Syariah). Saat ini saya
memang belum bisa berinvestasi dengan nominal yang besar. Saya beli secara autoinvest
dengan nominal terminimal. Tapi saya yakin, lebih baik saya mulai sekarang walaupun hanya
dengan seratus ribu rupiah, tapi saya yakin dampaknya di masa depan akan berbeda dengan
jika saya tidak invest sama sekali. Toh enaknya di CommBank ini kita bisa top-up kapan saja
melalui internet banking kalau sedang ada dana berlebih, cocok sekali untuk saya yang
berdomisili jauh dari seluruh kantor cabang CommBank, hehe. Dan yang bikin saya tambah
seneng, saya bisa ngajak kakak saya untuk ikutan invest di RD juga! :mrgreen:
Btw, saya sebenarnya belum ahli soal RD loh, tapi ini hanya sekedar berbagi dengan sesama
pemula aja yang sama-sama bingung untuk memulai berinvestasi di RD, jadi berikut ini tips
membeli RD bagi para pemula seperti saya (berdasarkan pengalaman saya sendiri) :

1. Saya orangnya males ribet, karena itu saya beli RDnya di bank aja. Setahu saya sih, saat ini
supermarket RD (alias bank yang jual banyak RD jadi bisa banyak pilihannya) itu ada
diCommonwealth Bank dan Bank Mandiri. Buka aja website kedua bank tersebut, dan lihat
apa saja RD yang dijual di sana. Karena saya maunya yang syariah jadi gampang sih karena
pilihannya jatuhnya jadi dikit, jadi gampang ngebandingin satu sama lain, hehe.
2. Lalu saya meluncur ke website Infovesta. Di sana saya lihat kinerja RD yang saya pilih.
Sejujurnya saya juga nggak ngerti baca kinerja yang bagus itu seperti apa, tapi saya lihat aja
angka yang di 3 dan 5 tahun, kalau hijau dan besarnya hampir sama dengan RD yang lain (alias
ga jauh amat selisihnya dengan yang lain, terutama dengan RD konvensional), saya pikir
okelah.
3. Saya download prospektusnya (bisa digoogling kok). Nah dari prospektus inilah saya akhirnya
mantap mau beli RD yang mana aja. Dari prospektus ini, berikut detil yang sangat saya
perhatikan:
a) Pertama lihat siapa Manajer Investasi (MI)-nya. Kalau MI-nya sudah punya nama besar,
terpercaya kredibilitas dan realibilitasnya, so lanjutkan. Tapi pemula pasti belum tahu MI apa
aja yang terpercaya kan, jadi kalau saya kemarin sih googling aja.
b) Katanya sih, lihat umur RDnya, lihat mulai efektif sejak tahun berapa. Kalo makin lama
katanya sih berarti bisa dipercaya. Tapi bagi yang mau milih RD syariah biasanya sih umurnya
masih muda-muda gitu, masih umur anak-anak lah.
c) Saya lalu lihat siapa tim pengelola investasinya. Saya paling suka kalau ada biodatanya
sekalian, supaya yakin aja bahwa mereka memang terpercaya. Dan yang paling penting harus
ada nomor izin dari Bapepam & LK (sama halnya kayak dokter harus punya no STR dan SIP
untuk praktek).
d) Kebetulan karena saya sangat menekankan syariahnya, saya memilih RD syariah yang
mencantumkan dengan jelas siapa Dewan Pengawas Syariah (DPS)-nya. Lebih bagus lagi kalau
ada keterangan mengenai biodata DPS tersebut (bukan hanya dicantumin namanya saja). Saya
sangat menekankan ini karena saya mempercayakan mereka untuk mengawasi kehalalan
investasi saya, dan ini sangat penting bagi saya. Walaupun ada RD syariah yang saya pengen
banget beli tapi karena saya lihat di prospektus tidak tercantum nama DPS-nya siapa jadi
dengan berat hati langsung saya coret dari list pilihan saya (dan membuat saya menyadari
kalau berat sekali tanggung jawab dunia-akhirat seorang DPS ya ternyata).
e) Lihat berapa biaya pembelian, penjualan, maupun pengalihan. Lihat juga berapa nominal
minimal yang harus disisakan jika kita menjual seluruh RD kita. Kalau saya sih, mentolerir lah
kalo ada biaya pembelian, tapi saya pilih yang tidak pake biaya penjualan. Walo cuma 1%,
misalnya pas kita jual harusnya dapat 1 M (aamiin!), tetep aja kepotong 10 juta kan rugi dong.
4. Lalu saya download laporan keuangannya. Ada sih yang laporannya sekalian tercantum di
prospektus, tapi kalo nggak ada ya harus googling dulu juga deh. Berikut yang saya perhatikan
dari laporan keuangannya :
a) Saya lihat RDnya diinvestasikan di perusahaan apa saja. Katanya sih, pilih RD yang
diinvestasikan di perusahaan yang bergerak di bidang konsumsi, komoditas, dan infrastruktur.
Katanya lg sih (kata siapa coba??) kalo ketiga bidang itu cukup tahan krisis, karena mau krisis
atau nggak orang pasti tetap butuh makan dan pembangunan tetap terus berjalan. Kalau saya
sih simpel aja, saya lihat aja kalau diinvestasikan di perusahaan-perusahaan yang bernama

besar, saya yakin aja deh. Yang paling penting bagi saya sih RD syariah tidak berinvestasi di
produk perbankan (takut riba).
b) Nah terakhir nih, dari laporan keuangan ini ada detil informasi yang mungkin membuat saya
agak beda dari orang lain karena terlalu mementingkan hal seperti ini. Saya selalu lihat
laporan dana non halalnya, apa ada nominalnya dan disalurkan sebagai dana kebajikan atau
tidak. Walaupun belum disalurkan, tapi kalau sudah lihat ada nominal dana non halalnya, saya
sudah cukup yakin lah insya Allah dana non halal tidak masuk ke hasil investasi saya dan
mudah-mudahan tetap terjaga kehalalannya.
PERHATIAN : RD yang saya pilih murni merupakan pilihan saya pribadi tanpa maksud untuk
mempromosikan produk RD maupun agen penjual tertentu. Dan saya sudah tahu konsekuensi
apa yang dapat terjadi di kemudian hari atas hasil investasi saya. Saya harap bagi temanteman yang membaca tulisan ini dan mau memulai untuk berinvestasi RD untuk benar-benar
mempelajari RD yang akan dipilih sebelum membeli agar jangan sampai menyesal dan
menyalahkan orang lain kalau hasil yang didapat tidak sesuai harapan ya!

PENGEN INVESTASI TAPI BINGUNG MULAI DARI MANA?


Tenang, Anda tidak sendiri. Saya juga seperti itu kok. Dan sampe sekarang pun pengetahuan
saya juga cuma masih mentok di dasar-dasarnya aja. :lol:
Banyak yang mampir di blog saya gara-gara tulisan saya tentang reksadana (RD) di sini, dan
banyak juga yang jadinya nanya sama saya, padahal kadang saya malu juga jawabnya, soalnya
saya ini juga investor pemula yang pengetahuan tentang reksadananya juga standaaar
bangeeet.
Seiring dengan semakin banyaknya masyarakat kelas menengah yang akhir-akhir ini mulai
melek finansial, semakin banyak pula orang yang mulai melirik RD sebagai salah satu alat
untuk mencapai tujuan investasi. Tapi bagi investor pemula seperti saya pasti awalnya bingung
dong ya langkah apa yang selanjutnya perlu saya ambil kalau saya mau berinvestasi di RD ini.
Butuh dua tahun untuk saya akhirnya mengerti apa yang namanya RD, bagaimana cara
berinvestasinya, dan bagaimana cara memilih RD yang tepat (bagi saya) dari sekian banyak RD
yang ditawarkan. Waktu yang cukup lama ya, karena saya sendiri emang butuh waktu untuk
mulai dari meraba-raba sampai memahami RD dengan bahasa saya sendiri. Namanya
jugafinance itu bukan bidang yang pernah saya pelajari jadi saya emang banyak nggak ngerti
istilah-istilahnya.
Saya yakin masih banyaaaaak orang lain di luar sana yang sama bingungnya seperti saya. Oleh
karena itu, kali ini saya mau berbagi sedikit pengalaman dan pengetahuan saya yang masih
terbatas mengenai investasi di RD ini. Btw, perlu ditegaskan ya, saya ini bener-bener
masihPEMULA yang ilmunya juga nggak gitu update, dan saya yakin apa yang saya tulis ini
belum tentu semuanya benar. Ini benar-benar berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya
sendiri aja.
Pertama kali sebelum berinvestasi, idealnya sih kita harus bebas cicilan hutang, terutama
hutang Kartu Kredit (KK), dan sudah punya Dana Darurat (DD). Idealnya seperti ini sebenernya
ya, tapi kalau saya sih hantam ajalah walaupun masih punya hutang bank (yang pernah kami

ambil sebelum menyadari dosa riba itu berat, tapi berhubung otomatis langsung potong gaji
suami jadi nggak begitu terasa sih), cicilan rumah yang dibayar langsung ke penjual rumah
(masih 38 juta lagi, fiuh), dan belum pernah sekalipun berhasil nabung untuk DD (setiap udah
terkumpul DD pasti kepake terus untuk hal tak terencana yang sebenernya nggak termasuk
kategori darurat sih tapi jadi darurat karena nggak ada dananya :lol: ). Saya sih berani
ngelakuinnya semua modal Basmallah aja, hehehe.
Lalu tentukan dulu tujuan kita berinvestasi itu untuk apa? Untuk jangka pendek (1-3 tahun),
jangka menengah (3-5 tahun), atau jangka panjang (di atas 5 tahun)? Karena setiap jangka
yang berbeda itu maka produk yang harus kita pilih berbeda pula. Seperti misalnya kita mau
pergi ke mana kan perlu tahu harus naik apa, misalnya kalau ke pasar deket rumah bisa jalan
kaki aja, atau ke luar kota harus naik pesawat. Kan nggak mungkin kita mau ke luar negeri
malah perginya naik becak, ya nggak bakalan sampai tujuan dengan cepat lah. *analogi saya
begitu*
Untuk jangka pendek, RD yang tepat adalah RD Pasar Uang (RDPU). Untuk jangka menengah
bisa dengan RD Pendapatan Tetap (RDPT) atau RD Campuran (RDC). Sedangkan untuk jangka
panjang lebih baik dengan RD Saham (RDS). Nah sekarang bedanya RDPT dengan RDC apa dong?
Kalo saya sih mikirnya gini aja, kalo untuk 3-5 tahun mungkin lebih baik RDPT, sementara untuk
5-8 tahun dengan RDC. Sedangkan RDS bagi saya sih untuk di atas 8 tahun, bahkan kalau perlu
di atas 10 tahun. Menurut pemahaman dari yang saya baca loh ya.
Untuk saya pribadi, saya tidak berinvestasi di RDPU. Saya memilih di RDPT, RDS, dan RDC.
Nah sejujurnya, satu-satunya tujuan investasi yang saya tahu apa, berapa nominalnya, dan
untuk jangka waktu berapa lamanya hanya satu, yaitu di RDPT. Saya berencana menggunakan
RDPT untuk naik haji berdua dengan suami dalam 5 tahun ke depan dengan nominal investasi
setiap bulannya adalah 1 juta rupiah. Tapi tetep aja ya, yang udah jelas tujuannya malah itu
pula yang susah sekali saya coba sisihkan dananya, pasti kepake untuk yang lain
terus. :lol: Btw, saya tahu kalo RD (walaupun dan terutama) yang syariah masih kontroversial
apakah benar-benar sesuai syariah atau nggak, apalagi ini tujuannya untuk naik haji pula. Tapi
berhubung setahu saya RD kalau yang syariah itu ada DPS-nya (Dewan Pertimbangan Syariah),
saya rasa tanggung jawab juga ada di mereka (dan juga Manajer Investasi/MI) selaku yang
memiliki ilmu untuk mengawasi RD tersebut supaya tetap berada dalam koridor syariah.
Menurut pemikiran saya sih begitu. Tapi kalau ada yang nggak setuju dengan pemikiran saya ini
saya juga nggak memaksakan kok, terserah keyakinan masing-masing aja, toh kita sendiri yang
kelak bertanggung jawab akan apa yang kita pilih dan jalani kan.
Setelah menetapkan tujuan untuk apa berinvestasi, untuk berapa lama, dan berapa nominal
yang dibutuhkan, silahkan cek di Kalkulator Investasi di sini untuk mengetahui berapa dana
yang harus kita sisihkan per bulannya untuk mencapai dana tersebut. Untuk inflasi anggap aja
10% per tahun, return untuk jangka pendek 12%, jangka menengah pilih antara kisaran 15-20%,
dan jangka panjang antara 20-25%. Atau bisa juga kita masukkan kira-kira kita sanggupnya
berinvestasi berapa per bulannya selama X tahun, maka kita akan tahu kira-kira berapa jumlah
yang akan kita dapatkan dalam X tahun kelak.
Bagi yang masih bingung belum punya tujuan pasti untuk apa invest di RD tapi pengen aja
gitu segera invest untuk jaga-jaga aja agar jangan sampai terlambat berinvestasi kira-kira

gimana ya? Saya pun begitu juga kok. Tapi kalau belum tahu tujuannya untuk apa, menurut
saya anggap aja untuk dana pensiun kelak di jangka panjang. Jadi fokuskan aja untuk langsung
memilih di RDS.
Sudah tahu mau memilih jenis RD apa, sekarang kita tentukan mau beli RD-nya di mana.
Kalau menurut saya untuk pemula nggak usah yang ribet-ribet lah untuk beli langsung di MI,
beli aja di supermarket RD seperti di Bank Commonwealth atau Bank Mandiri. Berhubung saya
belinya di Commbank, jadi ya boleh lah ya saya promosiin dikit belinya di Commbank
aja. :mrgreen:Soalnya kalo di Commbank ini kalau kita pilih fitur autodebet, untuk beberapa
RD kita bisa beli RD hanya dengan 100 200 ribu rupiah aja per bulannya. Lumayan bagi yang
dananya terbatas, soalnya kalo nggak autodebet pembelian minimalnya bisa sekitar 500 ribu
1 juta rupiah gitu sih.
Pengen di Commbank tapi nggak ada cabang Commbank di kota Anda? Lah sama dong dengan
saya. Saya aja yang tinggal di daerah terpencil di Bengkulu ini bela-belain ke Commbank ketika
saya punya waktu 24 jam di Jakarta (eh tepatnya Depok ding, hehe). Dan kayaknya cuma perlu
sekali datang aja kok ke sana, saya aja emang cuma sekali tuh ke CommBank, dan sampai
sekarang nggak pernah datang-datang lagi ke kantornya. Kalau memang belum ada kesempatan
ke Commbank, ya sudah mending langsung meluncur ke kantor cabang Mandiri terdekat aja ya,
kan kalau Mandiri pasti udah ada di mana-mana tuh. Tapi kayaknya sih langsung ke kantor
cabang utama aja, mungkin kalo di kantor cabang pembantu belum bisa deh kayaknya.
Sudah ditetapkan mau beli RD di bank mana, silahkan klik tautan
ini: Commbank atauMandiri. Anda akan dapat melihat daftar RD yang dijual di Bank
tersebut.
Kemudian Anda tetapkan mau beli RD yang mana, syariah atau konvensional (non-syariah)?
Kalau Anda Muslim, jelas saya akan menyarankan Anda pilih RD syariah aja. Takut juga saya
kena dosa investasi (iya, dosa juga ada investasinya!) karena menyarankan orang lain beli yang
jelas mengandung riba, hehehe. Untuk mengetahui mana RD yang syariah mana yang nggak itu
gampang banget, tinggal lihat aja apa ada embel-embel kata Syariah atau nggak di nama RDnya.
Karena tulisan ini berdasarkan pengalaman saya, maka saya akan membahas langsung beli RD
yang syariah di Commbank aja ya. Nah, kan saya beli RDPT, RDC, dan RDS. Berhubung saya
milih yang syariah, jadi pilihannya emang nggak begitu banyak. Tapi malah enak karena saya
jadi lebih sedikit yang perlu dibandingin satu sama lain, jadi mempermudah kerja kita juga,
hehe.
Untuk yang RDPT, berhubung yang syariah cuma P** A***** Syariah, jadi ya sudahlah saya
langsung milih itu aja. Untuk yang RDC dan RDS baru saya pake acara ngebandingin tiap RD
yang tersedia.
Cara tahu RD yang bagus itu gimana sih? Jujur aja ya, saya juga nggak tahu pasti tuh gimana
caranya. :lol: Tapi menurut saya, kayaknya kalo udah dijual di Bank berarti MI-nya terpercaya

lah ya. Apalagi Bank sekelas Commbank dan Mandiri, mereka pasti mempertimbangkan juga
untuk menjual yang bukan abal-abal. Eeeh tapi ini menurut pandangan pribadi saya aja, kalau
ternyata pikiran saya ini salah tolong diluruskan ya.
Sebenarnya langkah berikutnya bisa dicontek dari poin 2-4 di (lagi-lagi) postingan saya
yangini ya. Tapi kalo malas meluncur lagi ke situ baiklah biar saya paparkan ulang aja di sini.
Silahkan meluncur ke website Infovesta (klik aja langsung). Coba bandingin RD yang mau
kita pilih. Misalnya yang RDS, antara X dan Y. Coba lihat di sana kinerja yang 3 tahun gimana,
lebih bagus lagi kalau ada data yang 5 tahun (soalnya saya bingung tiap ke Infovesta kadang
datanya sampe 5 tahun, kadang cuma 3 tahun aja). Kalau angkanya hijau, dan nilainya nggak
jauh beda sama RD yang lain, saya rasa okelah untuk dipertimbangkan.
Lalu download prospektusnya. Tinggal googling aja kok. Nah sekarang sebenernya apa sih
yang perlu dilihat di prospektus? Kalau saya pribadi udah pernah saya ceritakan di postingan
saya yang tadi saya bilang itu. Tapi saya akan coba jelaskan lagi inti dari apa yang saya lihat di
prospektus.
Yang Anda perlu perhatikan dari prospektus adalah biaya pembelian, biaya penjualan, biaya
pengalihan, dan saldo minimum yang perlu ditinggalkan jika kita menjual semua RD kita. Info
tersebut ada di bab XXX. Nah, kalo bisa sih pilihlah RD yang nggak ada biaya pembelian dan
nggak ada biaya penjualan juga. Saya sih selagi ada biaya pembelian nggak masalah ya,
palingan biayanya paling mahal 2% kok. Kebetulan semua RD pilihan saya ada biaya
pembeliannya. Biaya pembelian ini akan dibebankan setiap kali kita membeli RD walaupun
autodebet sekalipun. Misalnya kita beli RD 500 ribu, karena biaya pembelian ada 1% misalnya
kan biayanya berarti 5 ribu, jadi total yang harus kita bayar saat membeli RD adalah 505 ribu
rupiah.
Saya sangat menyarankan pilih RD yang tidak ada biaya penjualannya, kalaupun ada biaya
penjualan lebih baik pilih yang biaya penjualannya itu akan menjadi 0% setelah kita memiliki
RD tersebut di atas 1 tahun. Misalnya saat kita menjual semua RD kita dan harusnya dapat 500
juta misalnya (aamiin!), tapi gara-gara ada biaya penjualan 1% jadi berkurang deh uang kita
sampai 5 juta kan lumayan banget tuh.
Tentang biaya pengalihan, saya juga ga ngerti banget tu apa. Yang saya tangkap kayaknya
kalau misalnya kita merasa rugi berinvestasi di RD tersebut dan ingin mengalihkan ke RD lain,
maka akan dikenakan biaya pengalihan. Tapi kayaknya sih hanya bisa dialihkan di RD dengan
jenis yang sama dari MI yang sama. Mungkin yaaa. Tolong dikoreksi kalau salah.
Saldo minimal yang harus ditinggalkan ini sama kayak kalau kita di bank mau nutup rekening
kan harus ada saldo minimal, jadi nggak bisa diambil semua hasil investasi kita.
Nah dari info di prospektus inilah kita mulai tahu kayaknya apa yang mau kita beli. Kalau
udah tahu pilihannya apa, silahkan langsung meluncur ke bank pilihan Anda. Kalau Anda ke
Commbank, ntar pas baru masuk pas ditanya satpam mau apa bilang aja mau beli RD, ntar
langsung diantarin ke FA-nya kok (FA ini kepanjangannya apa ya, kayaknya kalo nggak

salahFinancial Advisor deh). Saya sarankan Anda datang pagi ya, karena di sana Anda akan
dijelaskan dengan lengkap dan juga bisa puasssss bertanya sampai ngerti tentang investasi di
RD ini. Saya dan Kakak saya kemarin datang dari jam 9 pagi, baru kelar semua urusannya jam 2
siang loh. Oh iya, ntar kita bakal disuruh menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui
tipe profil resiko kita supaya pilihan investasi kita bisa sesuai dengan profil resiko kita tersebut
(btw, saya ternyata termasuk tipe agresif loh, sampai Kakak saya dan FA-nya awalnya heran,
mungkin gak sesuai dengan pembawaan luar saya kali ya :lol: ). Nah, kalo Anda datang masih
dengan kebingungan menentukan pilihan, terus setelah dijelaskan juga masih galau, kayaknya
pilihan terakhir tanya ajalah sama FA tersebut dia investasi di mana aja, kan dia pasti punya
ilmu tentang RD dan punya investasi di RD juga jadi pilihannya boleh dipertimbangkan lah,
walaupun sebenarnya FA tidak etis memberikan saran untuk memilih produk tertentu ya,
hehehe.
Sudah dijelaskan panjang kali lebar oleh FA tapi teteeeup masih bingung juga mau milih apa?
Ya sudahlah, andalkan saja feeling Anda untuk pilih yang mana. Mau nggak mau learning by
doing aja nanti. Kakak saya soalnya gitu kok, dia baru tahu RD yang tersedia apa aja ya di hari
kami ke bank itu, dan saya rasa dia memilih tanpa banyak pertimbangan, nggak seperti saya
yang agak ribet ini, hehe. Toh RD itu perlu dievaluasi tiap tahun kok, kalau misalnya kinerjanya
tidak bagus di saat yang lain bagus, tinggal ditarik aja dana kita, hehehe.
Oh iya saat ke bank jangan lupa bawa KTP dan NPWP. Bagi yang nggak punya NPWP bisa
menggunakan NPWP pasangan atau orang tua, jadi Anda bisa bawa KK dan fotokopi NPWP-nya.
Dan pastinya jangan lupa juga membawa uang secukupnya untuk membuka rekening dan
membeli RD-nya ya. :mrgreen:
Sekian sharing dari saya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Sekali lagi, saya bukan ahli dan
masih PEMULA ya, jadi kalau ada yang salah dari tulisan saya di atas saya sangat berterima
kasih jika ada yang mengoreksi.

-= Bank Agen Penjual =Sampai saat ini berdasarkan data Bank Indonesia (BI) terdapat 16 bank yang
menjadi agen penjual reksadana. Bagi bank, kerjasama dengan MI akan
meningkatkan pendapatan komisi alias fee based income yang belakangan
sebagai sumber pendapatan lain selain selisih bunga dari penyaluran kredit.
Pemasaran reksadana sendiri juga tidak eksklusif, satu reksadana bisa dijual oleh
berbagai Bank Agen Penjual yang berbeda. Daftar beberapa Bank yang menjadi
agen penjual reksadana dibawah ini aku olah dari tabloid Investor edisi Maret
2013. Daftar bank :
Bank Agen Penjual

Bank Commonwealth
Bank Mandiri Tbk)
Bank CIMB Niaga Tbk
Bank Internasional Indonesia Tbk
HSBC
Bank Permata Tbk
Bank ANZ Indonesia
Citibank
Bank Danamon Indonesia Tbk
Standard Chartered Bank
Bank DBS Indonesia
Bank Negara Indonesia Tbk
Bank Jabar Banten Tbk
Bank Permata
Bank Rakyat Indonesia Tbk
Bank Central Asia Tbk
Bank UOB Indonesia
Bank Syariah Mandiri
Bank OCBC NISP Tbk

Jumlah Reksadana yang


Dijual
60
54
73
37
39
32
44
28
43
55
40
47
14
32
19
4
43
3
16

Umumnya sih ketika membeli reksadana di bank yang mesti dipersiapkan adalah
KTP, NPWP, dan buku tabungan (rekening). Kenapa pakai buku tabungan juga?
Ya ini strategi bank untuk mendapatkan nasabah, jadi segala macam transaksi
sebaiknya bank yang mengurusnya untuk kamu. Bank juga otomatis
mendapatkan untung dari transaksi ini bain pembelian (subcription), penjualan
(redemption) maupun penambahan (top up). Biaya-biaya ini yang aku bilang
sebagai fee based income-nya bank.

-= Manajer Investasi =Sekarang ini hampir semua MI menjual reksadana mereka lewat online. Panin
Asset Management misalnya mereka menjual sendiri produk-produk RD mereka.
Berbeda halnya dengan Schroder Investment Management Indonesia dan BNP
Paribas Investment Partners, mereka menggunakan bank sebagai agen penjual

daripada menjual sendiri. BNP Paribas malah tidak mengetahui jumlah persis
berapa investor ritel mereka karena bank yang tahu dan pegang data.
Sebagai catatan : sesuai peraturan Bapepam, untuk proses pembukaan rekening
pihak Manajer Investasi harus mengadakan tatap muka (face to face) dengan
calon nasabah setidaknya 1 (satu) kali. Jadi kalau melihat aturannya, tetap kita
harus datang ke kantor MI atau Bank ketika kita ingin memperoleh reksadana.
Yang aku tahu MI yang pembelian, penjualan, dan top up secara online
adalah Panin Asset Management, Samuel Asset Management, Mandiri
Manajemen Investasi, mungkin ada yang mau menambahkan?! janji nanti aku
akan update lagi.

-= Pilih Mana, Beli RD di Bank atau MI?? =Kategori


Akses

Keamanan Berinvestasi

Manajer Investasi
MI masih terpusat di
kota-kota besar seperti
Jakarta, Medan,
Surabaya, Semarang,
dan Bandung
Terjamin karena direct
selling

Variasi RD

Terbatas pada RD yang


mereka punya

RD favorit

Kita dapat membeli RD


yang sudah kita incar
langsung ke MI
Sama-sama bisa dimulai
dari modal kurang dari
sejuta.
Beberapa bisa dilakukan
online, beberapa tidak

Modal awal

Top Up dan Redemption

Biaya Transa ksi

Tenaga Ahli Pemasaran


(yang mau bertanya
tentang investasi yang

Sama sekitar 0,75%


2%, untuk penjualan
lebih dari setahun 0%
Marketing MI pasti sudah
hafal betul mengenai
produk-produk RD

Bank Agen Penjual


Kantor Cabang (staff yang
memiliki sertifikat
WAPERD) yang dimiliki
tersebar di pelosok
negeri.
Bank menjaga nama baik,
mereka tidak mau nama
besar mereka hancur.
Potensi penyalahgunaan
tetap ada
Supermarket Fund,
mereka menjual beragam
RD dari beragam MI
Beberapa RD produk
unggulan tidak dijual di
bank
Sama-sama bisa dimulai
dari modal kurang dari
sejuta.
Sedikit bank yang
transaksi RD-nya
menggunakan online
(contoh Commonwealth
bisa menggunakan
Internet Banking)
Sama sekitar 0,75% 2%,
untuk penjualan lebih dari
setahun 0%
Staf yang memiliki
sertifikat WAPERD juga
sebenarnya juga punya

cocok)

mereka

jualan lain selain RD,


makanya pengetahuan
mereka tidak lebih bagus
daripada Marketing yang
ada di MI

Jadi pilih mana??


Buatku dua-duanya harus punya. RD yang kita beli dari MI langsung dan dari
Bank Agen Penjual. Pembelian reksadana dari MI tentunya karena return mereka
yang lebih tinggi yang umumnya tidak dijual di bank. Sedangkan pembelian di
Bank Agen Penjual untuk tujuan jangka panjang dimana aku men-diversifikasikan keuangan dimana satu bank akan aku belikan beberapa reksadana.

Kenapa pada Saat Usia 55, Anda Harus Punya Tabungan


Minimal Rp 3 Milyar?
Hanya 7 % pekerja di Indonesia yang paham dan sudah menyiapkan masa
pensiun dengan cermat. Itu artinya ada 93% yang tak punya
bayanganbagaimana hidup mereka sesudah memasuki usia pensiun. Demikian
survei terbaru yang dilakukan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tentang
kesiapan pekerja di tanah air dalam menghadapi masa pensiun. Angka itu agak
mencemaskan. Akan ada banyak orang termasuk mungkin Anda yang jatuh
miskin saat memasuki masa pensiun. Tabungan kian menipis, tak lagi punya
penghasilan, dan dipaksa untuk bekerja serabutan saat usia kian menua.
Sejumlah survei menunjukkan manusia Indonesia itu buruk dalam soal
perencanaan hidup. Yah, kita serahkan saja pada Yang Diatas. Rezeki sudah ada
yang mengatur. Jika kalimat ini disertai dengan ikhtiar yang cermat dan
sistematis, maka statement itu baru punya makna. Ikhtiar yang sungguhsungguh (sebab Tuhan tidak akan mengubah nasib kaum yang tidak mau
mengubah nasib dirinya sendiri). Yang lebih sering kalimat itu diucapkan sekedar
sebagai bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang pahit. Kalimat menghibur
diri yang kosong makna, sebab tak disertai dengan hitungan cermat bagaimana
kelak akan hidup sesudah pensiun. Baru sadar kalau uang di tabungan benarbenar nol.
Yang lebih pahit : kalimat yang terkesan bijak itu digunakan untuk menutupi
ketidakmampuan dirinya dalam melakukan perencanaan keuangan yang
sistematis. Terus saja menghibur diri dengan kalimat indah, sampai suatu hari
tersadar, tak ada lagi harta yang bisa diwariskan kepada anak-anak.
Yang tak kalah pahit : hitungan kebutuhan tabungan saat Anda memasuki
usia pensiun memang agak menyeramkan. So, mari kita coba lakukan
perhitungan.
Asumsi perhitungan ini adalah sekarang usia Anda 30 tahun dan punya dua
anak (artinya Anda akan pensiun sekitar 26 tahun lagi).
Biaya besar yang akan muncul dan harus disiapkan saat Anda memasuki usia
50-an tahun adalah menikahkan dua anak Anda.
Biaya pernikahan sederhana sekarang menghabiskan tak kurang Rp 100
juta/anak. Dua puluh tahun lagi, saat dua anak Anda siap menikah, mungkin
biayanya sudah tembus Rp 300 juta (estimasi yang konservatif mengingat
inflasi yang tinggi tiap tahun).
Artinya biaya pernikahan dua anak Anda itu adalah Rp 600 juta (uang sebesar
ini saja berat, boro-boro membelikan dua rumah buat dua anak tercinta).
Biaya lain adalah biaya hidup sehari-hari untuk Anda dan pasangan Anda.
Sekarang biaya hidup untuk dua orang di kota besar mungkin sekitar Rp 5
juta/bulan (hitungan yang sangat minimal).
26 tahun lagi saat Anda pensiun, berapa biaya hidup untuk Anda dan
pasangan Anda? Mungkin sudah sekitar Rp 15 juta/bulan (kembali estimasi
yang konservatif, sebab inflasi per tahun = 8%). Sekedar info : harga sepeda
motor Honda baru naik sekitar 5 kali lipat dalam kurun waktu yang sama.
Artinya, saat memasuki masa pensiun, Anda butuh uang Rp 15 juta / bulan
sekedar untuk bisa makan dan hidup (belum jika sakit sebab usia kian tua).
Untuk biaya hidup setahun, berarti dibutuhkan dana Rp 180 juta (15 juta x 12
bulan).
Nah, berapa tahun Anda dan pasangan akan bertahan hidup? Kini usia ratarata
orang Indonesia adalah 70 tahun. Artinya, sejak pensiun di usia sekitar 56,
secara rata-rata, Anda masih akan terus hidup hingga 14 tahun lamanya.
Tabungan yang mesti disiapkan berarti Rp 180 juta x 14 tahun = Rp 2.5 milyar.

Ditambah biaya pernikahan dua anak Rp 600 juta, menjadi Rp 3.1 milyar.
Jadi jika usia Anda sekarang 30 tahun, maka Anda harus menyiapkan dana
sebesar minimal Rp 3 milyar agar masa tua Anda tidak dihabiskan di jalanan,
merana nasibnya dan terlunta-lunta.
Jika hanya dari tabungan, tidak akan cukup. Misal Anda menabung sebulan Rp
1 juta, setahun hanya dapat Rp 12 juta. Dalam waktu 26 tahun menabung,
Anda akan dapat uang hanya Rp 312 juta (jauh dari kebutuhan yang Rp 3
milyar). Kepala makin pening bukan. Maka mengucapkan kata : rezeki mah
sudah ada yang ngatur, adalah kalimat
indah yang paling mujarab untuk membuat pening hilang buat sementara.
Dan kelak akan datang lagi
Tak ada pilihan lain : sisa uang Anda jangan ditabung, tapi DI-INVESTASI-KAN.
Sebab perencana keuangan bilang, yang sanggup mengejar kenaikan inflasi
adalah jika uang Anda di-investasikan ke tempat yang produktif.
Pilihannya investasi bisa ke reksadana (minimal investasi hanya Rp 200 ribu;
tapi rutin setiap bulan baiknya). Atau ke ke sektor properti (ruko di tempat
strategis yang ada di kampung halaman mungkin?)
Atau uang tabungan yang ada digunakan untuk modal usaha yang profitabel.
Bisa buat buka kos-kosan sehingga kelak dapat passive income yang
memadai. Atau, mungkin untuk ikut usaha franchise kuliner.
Makin muda Anda menyiapkan dana untuk pensiun, makin bagus. Plan your
future life properly.
Mungkin jika kepepet, akhirnya hidup saat usia tua bergantung pada kiriman
uang dari anak-anak Anda. Sebaiknya dihindari jika memungkinkan. Sebab
anak-anak Anda kelak juga butuh biaya yang tak sedikit untuk membiayai
keluarga dan cucu-cucu Anda.
Saya tak tahu kapan Anda akan pensiun. Mungkin 20 tahun lagi, 10 tahun
atau 8 tahun lagi. Namun luangkan waktu sejenak untuk berpikir
suingguhsungguh
: apa yang harus Anda lakukan agar Anda mendapat rezeki yang
barokah senilai minimal Rp 3 milyar.