You are on page 1of 14

Anemia

defisiensi besi (ADB) adalah


anemia akibat kekurangan zat besi untuk
sintesis hemoglobin, dan merupakan
defisiensi nutrisi yang paling banyak pada
anak.
Prevalens tertinggi ditemukan pada akhir
masa bayi, awal masa anak, anak sekolah,
dan masa remaja karena adanya percepatan
tumbuh pada masa tersebut disertai asupan
besi yang rendah

Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia


Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata 31% (N:

32-35%)
Kadar Fe serum <50 g/dL (N: 80-180
g/dL)
Saturasi transferin <15% (N: 20-50%)

Kriteria ini harus dipenuhi, paling sedikit


kriteria nomor 1, 3, dan 4.
Tes yang paling efisien untuk mengukur
cadangan besi tubuh yaitu ferritin serum.

Preparat besi
Dosis besi elemental 4-6 mg/kgBB/hari.
Respons terapi dengan menilai kenaikan
kadar Hb/Ht setelah satu bulan, yaitu
kenaikan kadar Hb sebesar 2 g/dL atau
lebih.
Bila respons ditemukan, terapi dilanjutkan
sampai 2-3 bulan.
Komposisi besi elemental:

Ferous fumarat: 33% merupakan besi elemental


Ferous glukonas: 11,6% merupakan besi elemental
Ferous sulfat: 20% merupakan besi elemental

Transfusi darah
Jarang diperlukan, hanya diberi pada
keadaan anemia yang sangat berat
dengan kadar Hb <4g/dL.
Komponen darah yang diberi PRC.

REKOMENDASI
IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA
No.: 001/Rek/PP IDAI/VI/2014

Tekanan

darah wajib diukur pada anak berusia 3


tahun pada waktu kunjungan pertama ke pelayanan
kesehatan atau minimal satu kali setahun.
Sedangkan pada anak berusia <3 tahun tekanan darah
wajib diukur pada keadaan tertentu, seperti:
riwayat prematuritas,
berat badan lahir sangat rendah atau komplikasi neonatal lain

yang memerlukan perawatan intensif,


penyakit jantung bawaan,
infeksi saluran kemih berulang,
malformasi urologi atau penyakit ginjal,
riwayat keluarga penyakit ginjal kongenital, transplantasi organ
padat, transplantasi susum tulang atau keganasan,
penggunaan obat yang dapat meningkatkan tekanan darah,
penyakit sistemik lain terkait hipertensi (neurofibromatosis,
sklerosis tuberosa, dan lain-lain), dan bukti peningkatan tekanan
intrakranial.

Pengukuran tekanan darah harus dilakukan


dengan cermat. Beberapa hal di bawah ini
perlu diperhatikan dalam pengukuran
tekanan darah seorang anak:
Tekanan darah diukur setelah anak tersebut
beristirahat selama 3-5 menit dengan suasana
sekitar yang tenang.
b. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada anak
dalam posisi duduk dengan lengan kanan
diletakkan setinggi jantung, sedangkan pada bayi
dilakukan dalam posisi telentang.
a.

c. Tekanan darah sebaiknya diukur dengan

menggunakan sfigmomanometer air raksa.


Bila menggunakan sfigmomanometer aneroid,
diperlukan kaliberasi alat secara berkala.
d. Tekanan darah diukur dengan menggunakan
manset yang sesuai dengan panjang lengan
atas anak tersebut. Panjang cuff manset harus
melingkupi minimal 80% lingkar lengan atas,
sedangkan lebar cuff harus lebih dari 40%
lingkar lengan atas (atau minimal 2/3 jarak
antara akromion dan olekranon).

e. Baku emas interpretasi nilai tekanan darah

adalah pengukuran dengan menggunakan


teknik auskultasi. Tekanan darah sistolik
ditentukan saat mulai terdengar bunyi
Korotkoff ke-1. Tekanan darah diastolik terletak
antara mulai mengecil sampai menghilangnya
bunyi Korotkoff (sesuai dengan Korotkoff ke-4).

Pengukuran tekanan darah menggunakan


alat otomatis memiliki korelasi yang baik
dengan teknik auskultasi dan memiliki
keuntungan lebih cepat, serta dapat
mengurangi kesalahan pemeriksa. Jika
tekanan darah terukur tinggi dengan alat
otomatis, sebaiknya pengukuran diulangi
dengan teknik auskultasi.

4.

5.

Bila anak menunjukkan tekanan darah


yang normal, ulangi pemeriksaan
setidaknya satu kali dalam setahun.
Bila pada pengukuran tekanan darah
menunjukkan pra-hipertensi,
pemeriksaan ulang tekanan darah
dilakukan dalam kurun 6 bulan.