You are on page 1of 16

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

PENGARUH PERSAINGAN PARTAI KMT DAN PARTAI DPP TERHADAP


UNIFIKASI TAIWAN-CINA1

INDA MUSTIKA PERMATA2

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ANDALAS

ABSTRACT
This research examines the dynamic of Taiwans foreign policy that affected by
political rivalry framework between KMT and DPP in Taiwan toward Taiwan-China
unification issue during 2000-2012. There are three main concepts which are
partisan influencers, zero sum game model, and two-level game to analyze the
foreign policy disparity between KMT and DPP in Taiwan domestic. This research
applied qualitative method with descriptive-analytical approach as an analytic tool
by utilizing secondary data. The result of this research shows that output of Taiwans
foreign policy is determined by the ruling party. Disparity between KMT and DPP
generates political rivalry in Taiwans domestic which weakening the process of
negotiation between Taiwan and China, particularly on the unification of TaiwanChina policy.
Keyword: kmt, dpp, unification, partisan influencers,zero sum game-model, two1 level
Jurnalgame
ini adalah elaborasi dari skripsi yang berjudul Pengaruh Persaingan Partai KMT
dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina ditulis oleh Inda Mustika Permata
(0910853049) atas bimbingan dari Dra. Ranny Emilia, M.Phil dan Poppy Irawan, S.IP,
MA.IR
2 Alumni Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas angkatan 2009

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

PENDAHULUAN
Kemajuan ekonomi Taiwan sampai saat ini belum diimbangi dengan
kebijakan luar negeri yang stabil dalam menggapi isu unifikasi Cina-Taiwan, dimana
terdapat persaingan politik yang kuat antara dua partai dominan dalam pemerintahan
Taiwan, yaitu Partai Kuomintang (KMT) yang berasal dari Pan Blue Coalition dan
Democratic Progressive Party (DPP) yang berasal dari Pan Green Coalition. Partai
Demokrasi Progresif adalah partai yang berada pada titik sayap kiri tengah, berhaluan
liberalis dan demokratis. Partai ini sangat menjunjung nilai-nilai hak asasi yang
ditetapkan oleh masyarakat internasional. Melalui poin persamaan hak DPP
menginginkan kedaulatan penuh dari Cina. Oleh karena itu mereka mendukung upaya
agresif Taiwan dalam mencapai pemisahan diri. Partai Kuomintang di pihak lain
dikenal sebagai partai nasionalis yang sekarang sedang berkuasa di Taiwan. Dalam
beberapa tahun terakhir partai ini mendukung demokrasi, kapitalisme, dan juga
unifikasi Cina sehingga mereka cenderung mencari penyelesaian dengan melakukan
pendekatan ke Cina.3
Masa depan Taiwan juga memiliki kaitan yang erat dengan tanggapan
pemerintah Cina atas isu unifikasi. Sejauh ini Cina tetap menganggap bahwa Taiwan
merupakan bagian dari Cina.4 Condoleezza Rice, Penasehat Keamanan Nasional
Amerika Serikat pada masa pemerintahan G.W. Bush, menyarankan agar status
Taiwan tidak ditetapkan secara sepihak oleh Cina.

Hal ini menunjukan Amerika

3 G. Schubert, Taiwans Political Parties and National Identity: The Rise of an overarching
Consensus, Asian Survey, Vol. 44, No. 4 (July/August 2004), hal. 534

4 Hal tersebut tertuang dalam one China policy, dimana mengakui bahwa PRC merupakan
pemerintah resmi Cina serta mengakui bahwa hanya ada satu Cina dan Taiwan merupakan
bagian dari Cina.
5 National Security Advisor Condoleezza Rice said on October 14, 2003, that nobody should try
unilaterally to change the status quo. Shirley A. Kan ,Cina Taiwan Evolution of The One China

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

Serikat, sebagai negara yang pernah berhubungan erat dengan Taiwan (ROC),
menghendaki solusi damai atas permasalahan unifikasi. Namun di pihak Cina,
campur tangan pihak ketiga ini dilihat sebagai faktor yang menimbulkan
permasalahan ketimbang solusi. The Taiwan Affairs Office and the Information Office
of the state Council dalam masalah The One-China Principle and the Taiwan Issue
menyebutkan resolusi dari permasalahan Taiwan merupakan masalah internal Cina
yang harus diselesaikan oleh Cina sendiri sehingga mereka tidak menerima bantuan
dari luar6.
Ketika Partai DPP memerintah Taiwan untuk pertama kali di bawah
kepemimpinan Chen Shui Bian yang berkuasa pada tahun 2000-2008, kebijakan
Partai DPP terhadap Cina serta gesekan yang terjadi antar partai dalam politik
domestik Taiwan mulai terlihat sejak saat itu. Namun, ketika Taiwan kembali di
kuasai oleh KMT, di bawah kepemimpinan Ma Ying Jeou pada tahun 2008-2012,
hubungan antara Taiwan dan Cina kembali harmonis. Oleh karena itu, permasalahan
pokok yang dianlisa dalam penelitian ini adalah perbedaan kebijakan luar negeri
dalam kerangka persaingan politik dua partai politik dominan di Taiwan untuk
merespon persoalan unifikasi Taiwan-Cina (2000-2012).
KERANGKA PEMIKIRAN
1. Partisan Influencers
Tipe policy influencer ini adalah partai-partai politik. Influencers ini bertujuan
untuk menerjemahkan tuntutan-tuntutan masyarakat menjadi tuntutan-tuntutan
politis, yaitu tuntutan-tuntutan kepada para pengambil keputusan yang menyangkut
kebijakan-kebijakan pemerintah. Influencers ini berupaya mempengaruhi kebijakan
Policy, Congressional Research Service (August 17, 2009) hal 11,
http://fpc.state.gov/documents/organization/166825.pdf diakses tanggal 9 November
2012

6 Resolution of the Taiwan issue is an internal affair of China, which should be achieved by
the Chinese themselves and there is no call for aid by foreign force. The One-China Principle
and the Taiwan Issue,
http://www.Chinataiwan.org/english/key/bj/200308/t20030820_113328.ht
m diakses pada tanggal 27 Oktober 2012

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

dengan cara menekan para penguasa dan menyediakan personel-personel yang bisa
berperan dalam pengambilan keputusan.7
Dalam sistem politik tertutup, partisan influencer bisa dipandang sebagai
kelompok politik yang melanggar hukum maupun sebagai bagian dari sistem satu
partai. Apabila ada partai tunggal, seperti negara-negara komunis, maka partai itu
biasanya terdiri atas sejumlah faksi yang mempunyai kepentingan serta komitmen
ideologis yang berbeda-beda, namun biasanya hal ini dirahasiakan. Tak jarang dalam
partai tersebut terjadi perdebatan berbagai isu, ketidaksepakatan atau perbedaan
pendapat, maka perbedaan tersebut terjadi sebelum keputusan akhir berhasil dicapai,
biasanya hal seperti ini tidak diumumkan karena perdebatan tersebut tidak bersifat
terbuka dan norma-norma kepartaian tidak memperkenankan adanya suara oposisi.
Oleh karena itu, posisi partisan influencer dalam sistem politik tertutup ini berada
dalam posisi yang agak mirip dengan kelompok birokratik, karena mereka dapat
mempengaruhi kebijakan ketika kebijakan tersebut belum diputuskan secara resmi.8
Berbeda dengan sistem politik terbuka, dimana dengan mudah dapat
ditemukan partisan influencers. Influencers ini mungkin saja tergabung dalam dalam
suatu koalisi yang terdiri dari dua partai atau lebih. Namun, baik dalam sistem dua
partai ataupun sistem multipartai biasanya terdapat berbagai macam pandangan yang
dikemukakan terhadap suatu isu. Jika disiplin kepartaian lemah, maka perbedaan
pandangan tersebut akan diekspresikan secara terbuka dan pemberian suara di
lembaga legislatif harus ditiadakan tanpa mempertimbangkan garis-garis kepartaian.
Sebaliknya, jika disiplin kepartaian kuat, maka perbedaan-perbedaan pandangan
tersebut mungkin dihasilkan dalam perdebatan di dalam partai dan jarang terjadi pada
pemberian suara untuk menentang kebijakan-kebijakan yang disetujui oleh partai.9
7 William D. Coplin, Introduction to International politics : a theoretical overview. Dialih
bahasa oleh Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional: Suatu Telaah Teoritis,
(Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 2003) hal 84
8 Ibid, hal 84-85
9 Ibid, hal 85

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

Kemampuan partisan influencer mempengaruhi proses perumusan tersebut


sangat terbatas. Terhadap semua negara demokrasi, peran terbatas dimainkan dalam
menyetujui atau menolak tindakan-tindakan politik luar negeri yang diprakarsai oleh
para pengambil keputusan politik luar negeri, meskipun dalam jangka panjang,
mereka mungkin untuk mengubah sikap masyarakat melalui perdebatan umum.
Keterbatasan ini disebabkan adanya kecendrungan dari partisan influencer untuk
lebih memperhatikan politik dalam negeri ketimbang politik luar negeri. Meskipun
demikian, posisi partisan influencer ini di negara demokrasi tidak bisa dipandang
sebelah mata, karena walaupun peran mereka terbatas dalam mempengaruhi proses
perumusan tersebut, para pengambil keputusan ini tetap membutuhkan dukungan
mereka untuk memelihara rezim, yang diupayakan dengan mendapat persetujuan
dalam keputusankeputusan politik luar negeri. 10
2. Zero Sum Game Model
Dalam sistem pemerintahan yang demokrasi terdapat persaingan antara partaipartai politik. Persaingan tersebut tentunya membutuhkan strategi sehingga
kepentingan kepentingan yang telah diformulasikan dapat dicapai oleh partai politik
tersebut. Hal ini dijelaskan dalam teori permainan atau game theory, dimana aktoraktor tersebut berusaha bertindak secara rasional dalam mengkalkulasikan untungruginya dan seringnya aktor-aktor tersebut cenderung berhadapan dengan aktor lain
karena berbeda pandangan atau kepentingan. Untuk mencapai kesepakatan, aktor
tersebut cenderung untuk membentuk koalisi diantara mereka melalui partai politik
demi tercapainya kepentingan yang ingin mereka raih. Interaksi aktor aktor tersebut
tercermin dalam zero- sum model, dimana aktor-aktor tersebut bertemu dengan posisi
yang berbeda dan mempunyai kemungkinan menang dan kalah, apabila salah satu
aktor mengalami banyak kemenangan, maka pesaing aktor akan mengalami kerugian
yang amat besar pula. Strategi yang dilakukan oleh kedua aktor untuk mencapai
keuntungan sebanyak mungkin dengan cara merugikan pesaingnya. Sangat jarang

10 ibid

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

terjadi kompromi diantara aktor tersebut, karena sangat kecil kemungkinan untuk
bekerja sama. 11
3. Two-Level Game
Konsep two level analysis dikembangkan oleh Robert Putnam. Ia
mengemukakan bahwa proses perumusan kebijakan luar negeri suatu negara dapat
dipahami melalui dua tingkat permainan, yaitu domestik dan internasional.
Putnam menjelaskan bahwa pada level domestik (level II), kelompok
kelompok domestik akan berusaha mengejar kepentingan mereka dengan cara
menekan pemerintah agar pemerintah mengadopsi kebijakan yang menguntungkan
kelompok tersebut dan politisi yang mencari kekuasaan akan membangun koalisi
bersama kelompok-kelompok tersebut. Kemudian pada level internasional (level I),
pemerintah berusaha untuk memaksimalkan kemampuan mereka untuk mengatasi
tekanan domestik sambil meminimalisir konsekuensi yang dapat merugikan.12
Kedua level tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini dijelaskan
oleh Putnam bahwa pentingnya winset13 demi tercapainya keberhasilan di level
internasional. Keterkaitan antara kedua level tersebut terlihat bahwa semakin besar
kesepakatan yang tercapai di level domestik maka akan semakin besar pula winset di
level I mencapai keberhasilan, tapi sebaliknya, semakin rumit proses penyetujuan
kebijakan di level domestik akan melemahkan posisi tawar di level internasional.14
BENTUK SISTEM POLITIK TAIWAN
Berbicara mengenai sistem politik erat kaitannya dengan ideologi yang dianut
Taiwan. Taiwan sendiri menjadikan three principles of people yang terdiri dari
nasionalisme, demokrasi, serta pembangunan ekonomi, sebagai ideologinya. Sun Yat11Duncan Snidal, The Game Theory of International Politics, World Politics, Vol. 38, No. 1 (Oct.,
1985), hal 38-40

12 Ibid hal 434


13 Winset adalah level keberhasilan yang harus dicapai dalam membuat kesepakatan di
level domestik.
14Alex Mintz dan Karl DeRouen Jr, Understanding Foreign Policy Decision Making, (New
York: Cambridge University Press, 2010) hal 133-134

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

Sen mengajarkan bahwa demokrasi harus berkembang secara bertahap karena


masyarakat belum siap menerima tanggung jawab sebagai partisipan politik secara
penuh. Oleh karena itu, akan ada periode "pengawasan politik" yang merupakan
periode sebelum demokrasi dapat direalisasikan secara utuh. 15
Transisi sistem politik Taiwan dari otoriter menuju demokrasi mengalami
proses yang cepat dan damai. Hal ini diistilahkan sebagai political miracle. Meskipun
demikian, bentuk pemerintahan Taiwan yang demokrasi ini telah sesuai dengan
konstitusi ROC yang dibawa oleh Chiang Kai Shek. Konstitusi ini dirancang dalam
bentuk Republik-demokrasi perwakilan. Rancangan tersebut berupa campuran dari
kabinet, presidensial, dan juga parlemen. Rancangan ini didasarkan kepada tidak
adanya supremasi dari eksekutif ataupun legislatif.16
Konstitusi ini unik, karena di dalamnya diatur tentang pembagian kekuasaan.
Hal ini melalui pembentukan lima lembaga pemerintahan yang diistilahkan dengan
yuan yang terdiri dari Legislatif Yuan, Eksekutif Yuan, Yudisial Yuan, Control Yuan,
Examination Yuan.
SISTEM DAN DINAMIKA POLITIK KEPARTAIAN DI TAIWAN
Sistem kepartaian di Taiwan telah melalui beberapa proses sehingga bisa
menjadi seperti saat sekarang ini. Hal ini seperti bagan dibawah ini:
One party
dominance

Authoritarian

Multy-party

Two- party
dominance

PostAuthoritarian

Electoral System
Change in 2004

Gambar 1. Fase Sistem Kepartaian Taiwan

Sejak dipindahkannya pemerintahan ROC ke Taiwan pada tahun 1949, maka


Partai KMT menjadi partai yang berkuasa di Taiwan. Meskipun demikian, sistem
kepartaian Taiwan saat itu adalah One Party Dominance, yang artinya terdapat dua

15 ibid., hal 143


16 ibid.,hal 111

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

partai minoritas lainnya, yaitu Young China Party dan China Democratic Socialist
Party. 17
Namun, semenjak martial law dihapuskan dan disahkannya

Civic

Organization Law, situasi politik di Taiwan mulai berbeda. Sebab, UU ini berisi
tentang pelegalan pembentukan partai politik baru. UU ini juga menjadi proposal
utama dalam perdebatan di legislatif yuan pada awal tahun 1989. Adanya pelegalan
UU ini semakin meningkatkan jumlah partai politik baru di Taiwan. Hal ini tentu saja
secara tidak langsung mengubah status Partai DPP 18 menjadi partai yang sah di
Taiwan, selain itu sejak UU ini baru disahkan, tercatat ada 34 partai politik baru yang
mendaftar untuk mengesahkan partainya. 19
Meskipun jumlah partai politik semakin meningkat, namun tetap saja hanya
partai KMT dan Partai DPP yang mampu bersaing. Hal ini semakin jelas ketika
berubahnya sistem pemilu pada tahun 200420, menjadi MMM (mixed-member
majoritarian) system21. Sistem pemilihan baru ini lebih memperkecil ruang bagi
partai minoritas dan lebih menonjolkan suara dari dua partai yang terbanyak. Hal ini
seperti pada tahun 2000, dimana partai DPP meraih banyak pendukung pada pemilu
sekitar 33,59%, selaint itu pada tahun 1995-2004, partai-partai minoritas meraih suara
lebih dari 10 %. Namun semenjak pergantian sistem pemilu dari SNTV menjadi
17 ibid., hal 131
18 Partai DPP terbentuk setahun sebelum martial law di hapuskan.
19June Teufel Dreyer, Taiwan in 1989: Democratization and Economic Growth, Asian Survey, Vol.
30, No. 1, A Survey of Asia in 1989: Part I (Jan., 1990),hal 54

20 Perubahan yang terjadi yaitu (1) berkurangnya jumlah anggota legislatif dari 225 orang
menjadi 113 orang, (2) diadopsinya single member distric mengganti single-nontransferablevote untuk pemilihan legislatif. Perubahan sistem ini diklasifikasikan ke dalam Mixedmember majoritarian system.
21MMM merupakan suatu sistem pemilihan, dimana sistem tersebut memungkinkan si
pemilih dapat melakukan dua kali pemilihan, yaitu untuk nasional dan distrik.

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

MMM, ruang bagi partai-partai minoritas menjadi berkurang, yakni menjadi sekitar
2,7% suara. Hal ini disebabkan, perolehan suara lebih banyak diberikan kepada dua
partai utama yakni Partai KMT (38,84%) dan Partai DPP (28,81%). 22
Sistem dua partai dominan semakin terlihat ketika kedua partai dominan
tersebut membentuk koalisi di Taiwan, yaitu Pan Blue dan Pan Green. Pan blue yang
dipimpin oleh Partai KMT dan anggotanya yaitu PFP dan NP, sedangkan Pan Green
yang dipimpin oleh Partai DPP dan anggotanya yaitu TAIP dan TSU. Dua koalisi
tersebut makin mempertegas dominasi 2 partai yang ada ditaiwan. Hal ini dapat
dilihat dari hilangnya kekuatan partai-partai minoritas dalam proses politik Taiwan.
partai-partai yang tidak tergabung dalam dua koalisi besar yang dimotori partai DPP
dan partai KMT kehilangan kekuatan dan kemampuannya dalam mempengaruhi
proses politik di Taiwan.23
PERBANDINGAN PARTAI KMT DAN PARTAI DPP
Partai KMT
Pengembangan

ekonomi

Partai DPP
melalui Keadilan etnik (ethnic justice)

perdagangan bebas
Greater China

Self determination

One country, two system

One china, one taiwan

Mendukung Consensus 1992

Tidak mendukung Consensus 1992

Tabel 1. Perbedaan KMT dan DPP


Diolah dari berbagai sumber oleh penulis

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa Partai KMT lebih fokus
mengembangkan ekonomi melalui perdagangan bebas. Hal ini sejalan dengan

22 Huoyan Shyu, Taiwan's Democratization and the Freezing of the Party System, Dipresentasikan
pada International Conference on Political System and Democratization in East Asia, August 13, 2009,
hal 11-12

23 ibid., hal 17

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

dukungan Partai KMT terhadap Greater China24 yakni adanya integrasi ekonomi
dengan Cina. Sejalan dengan hal tersebut, Partai KMT mendukung konsep one
country, two system yang berlandaskan kepada One China Principle

25

. Berbeda

dengan Partai DPP yang lebih fokus terhadap keadilan etnik, dimana hal ini muncul
karena adanya rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh Taiwanese yang selama ini
mengalami penderitaan politik di bawah Dinasti Manchu, imperialisme Jepang, serta
kediktatoran Partai KMT, maka Partai DPP berniat untuk membangun Taiwan yang
bebas, demokratis, dan mandiri yang berdasarkan pada self-determination principle.26
Dalam arti lain, ideologi Partai DPP ini difokuskan terutama pada demokratisasi yang
cepat dan reformasi politik lain dan gagasan tentang adanya kesadaran masyarakat
Taiwan untuk menentukan masa depan Taiwan. Oleh sebab itu, Partai DPP
menawarkan suatu gagasan yakni One China, One Taiwan27. Perbedaan cara pandang
yang terjadi antara Partai KMT dan Partai DPP ini, akhirnya membawa keduanya
dalam perselisihan yang berkepanjangan dalam pemerintahan Taiwan.
Selain itu, meskipun kedua partai ini memiliki perbedaan, namun keduanya
mempunyai basis dukungan yang sama kuat sehingga menjadikan keduanya menjadi
partai politik yang dominan di Taiwan. Hal ini dapat dilihat melalui tabel dibawah ini:
24 Greater China merupakan suatu gagasan yang muncul akibat posisi Cina yang menjadi
rising star karena ekonominya, maka masyarakat di Taiwan mulai berencana untuk
mengintegrasikan ekonominya dengan Cina.
25 One China Principle berbeda dengan One China Policy. One china Principle merupakan
suatu prinsip yang menyatakan bahwa Taiwan dan Cina Daratan merupakan bagian dari
Cina. One China Principle ini juga dikenal dengan Consensus 1992 yang diadopsi oleh
PRC dan ROC. Consensus 1992 ini juga dikenal dengan One China Principle
26 Michael Ying-mao Kau, The Power Structure in Taiwan's Political Economy, Asian Survey, Vol.
36, No. 3, Informal Politics in East Asia (Mar., 1996), hal 298

27 Kebijakan One China, One Taiwan menekankan bahwa kedaulatan Taiwan tidak meluas
ke daratan dan Mongolia Luar seperti yang dianjurkan oleh Partai KMT, juga Beijing tidak
memiliki kedaulatan atas Taiwan seperti yang diklaim oleh PRC.

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

Basis Dukungan
Etnik
Latar Belakang Ekonomi
Pendukung
Koalisi

Partai KMT
Utara
Mainlander28
Pebisnis

Partai DPP
Selatan
Minanese29
Buruh dan Petani

Pan Blue Coalition

Pan Green Coalition

Tabel 2. Tabel Dukungan Partai KMT dan Partai DPP


Diolah dari berbagai sumber oleh penulis

SIKAP DAN KEBIJAKAN KMT DAN DPP TERHADAP PERSOALAN


UNIFIKASI
Sebelum menjelaskan sikap dan kebijakan kedua partai politik dominan, KMT
dan DPP dalam merespon persoalan unifikasi, maka penulis akan menjelaskan
tentang unifikasi terlebih dahulu. Berdasarkan National Unification Guidelines yang
diadopsi oleh NUC pada pertemuan yang ketiga pada 23 Februari 1991, menyatakan
bahwa :30
The unification of China is meant to bring about a strong and
prosperous nation with a long-lasting, bright future for its people;
it is the common wish of Chinese people at home and abroad.
After an appropriate period of forthright exchange, cooperation,
and consultation conducted under the principles of reason, peace,
parity, and reciprocity, the two sides of the Taiwan Straits should
foster a consensus of democracy, freedom and equal prosperity,
and together build a new and unified China. Based on this
understanding, these Guidelines have been specially formulated
with the express hope that all Chinese throughout the world will
work with one mind toward their fulfillment.

Pernyataan

tersebut

menjelaskan

bahwa

unifikasi

bertujuan

untuk

memperkuat dan mensejahterakan rakyat, oleh karena itu kedua belah sisi Selat
28 Mainlander merupakan sebutan bagi etnik yang berasal dari Cina Daratan yang pindah
ke Taiwan bersama Chiang Kai Shek, pada tahun 1949. Etnik Mainlander ini lebih merasa
identitas mereka sebagai Chinese, dimana etnik ini banyak terdapat di wilayah Utara.
29 Etnik ini juga disebut sebagai Taiwanese. Etnik Minnanese ini juga lebih banyak terdapat di
wilayah Selatan Taiwan, dimana etnik ini merupakan pendukung kuat bagi Partai DPP.

30 Guideline for National Unification, http://law.wustl.edu/chinalaw/twguide.html, diakses


pada tanggal 15 Desember 2013

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

Taiwan harus mendorong sebuah kesepakatan yang demokrasi, bebas, serta adanya
persamaan dalam hal kemakmuran, dan bersama membangun sebuah Cina yang baru
dan bersatu. Untuk mencapai hal tersebut maka digunakanlah one China Principle
atau Consensus 1992 sebagai suatu bentuk landasan hubungan antara Taiwan dan
Cina.
Dalam merespon permasalahan unifikasi ini, KMT maupun DPP mempunyai
respon berbeda. Respon berbeda ini diakibatkan karena adanya perbedaan pandangan
dan dukungan terhadap consensus 1992 oleh kedua partai tersebut. Respon berbeda
ini dapat dilihat melalui masing-masing kepemimpinan partai tersebut.
Ketika Partai KMT berkuasa (2008-2012) dengan platform kepartaiannya
yang mendukung consensus 1992 menyebabkan hubungannya dengan Cina menjadi
harmonis. Begitu juga dengan Partai DPP (2000-2008) yang tidak mendukung
consensus 1992 mengakibatkan sangat sulit dalam menjalin hubungannya dengan
Cina, tak jarang setiap tindakan partai DPP selalu menuai ketegangan dari Cina.
Hal ini terlihat saat NPC menyetujui UU Anti-Pemisahan antara Taiwan dan
Cina. UU ini melegalkan Cina untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan
apabila Taiwan berani mendeklarasikan kemerdekaannya. UU ini menuai protes dari
Partai DPP dan koalisinya berupa demonstasi sebagai bentuk upaya penolakan
terhadap tindakan koersif yang akan dilakukan oleh Cina. Namun, Partai KMT dan
koalisinya, Pan Blue, berbeda dalam menanggapi hal ini. Partai KMT dan alisansinya
melakukan lawatan ke Cina untuk bertemu dengan Hu Jin Tao demi membicarakan
permasalahan ekonomi. 31
Adanya penyetujuan mengenai UU Anti-Pemisahan pada tahun 2005 juga
memperlihatkan

bahwa

Cina

tidak

memiliki

kepercayaan

terhadap

rezim

pemerintahan Partai DPP. Sebab, dengan platform kepartaian DPP tersebut, Cina
khawatir bahwa suatu saat nanti Taiwan akan mendeklarasikan kemerdekaannya
dibawah rezim Partai DPP. Kekhawatiran Cina mulai dipertegas dengan adanya
31 Steve Chan, Taiwan in 2005: Strategic Interaction in Two-Level Games, Asian Survey,
Vol. 46, No. 1 (January/February 2006), hal 66

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

tindakan pembubaran Dewan Unifikasi (2006) pada saat rezim pemerintahan Partai
DPP. Pembubaran ini semakin memperkeruh hubungan Taiwan dan Cina sekaligus
dengan AS. AS menilai bahwa pembubaran Dewan Unifikasi ini tidak hanya merusak
kestabilan kedua belah pihak, Taiwan dan Cina, tapi juga dapat mempengaruhi
kestabilan kawasan.
Ketidakstabilan hubungan antara Taiwan dan Cina seperti pada rezim
pemerintahan Partai DPP ini tidak terjadi ketika Partai KMT memerintah. Adanya
kejelasan posisi Partai KMT yang mengakui dan mendukung consensus 1992
memberikan keuntungan tersendiri bagi Partai KMT. Sebab, membina hubungan
dengan Cina menjadi lebih mudah serta kepentingan kepentingan Taiwan,
khususnya dalam bidang ekonomi akan lebih mudah untuk dicapai. Hal ini terlihat
ketika KMT memerintah, banyak kesepakatan ekonomi yang berhasil dicapai, seperti
kesepatan ECFA pada tahun 2011.32
Jadi, adanya perbedaan politik dalam menanggapi persoalan unifikasi antara
Partai KMT dan Partai DPP akan terwujud dalam kebijakan-kebijakan yang diambil
oleh partai tersebut. Perbedaan politik antara Partai KMT dan partai DPP tidak hanya
berpengaruh pada politik domestik Taiwan sendiri, namun juga terhadap politik luar
negeri Taiwan. Pada politik domestik, perbedaan politik ini akan menjurus kepada
suatu persaingan yang sangat kompetitif, yakni pemilihan umum yang bertujuan
untuk meraih kekuasaan. Setelah salah satu partai tersebut berhasil berkuasa,
platform kepartaiannya akan terimplementasi dalam menjalankan pemerintahan, yang
tentunya menimbulkan dampak dalam berhubungan dengan Cina.
Meskipun persoalan unifikasi Taiwan-Cina ini termasuk dalam bidang politik,
namun dampak yang dirasakan bisa sampai kepada bidang yang lain, misalnya saja
berdampak pada ekonomi. Hal ini bisa dilihat pada masa pemerintahan partai DPP.
Seperti yang telah penulis sebelumnya, partai ini fokus berupaya dalam mewujudkan
prinsip self determination dalam memperjuangkan kemerdekaan sehingga Cina
32Ming-Tong Chen, Taiwan in 2011: Focus on Crucial Presidential Election, Asian Survey,
Vol. 52, No. 1 (January/February 2012), hal 74

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

melakukan tekanan dalam bidang ekonomi Taiwan, seperti adanya tekanan bagi
pengusaha Taiwan yang berbisnis di Cina, apabila Pebisnis Taiwan mendukung
kemerdekaan Taiwan, maka mereka tidak boleh lagi beroperasi di Cina 33. Apabila hal
ini terjadi tentunya akan mendatangkan kerugian bagi ekonomi Taiwan dan Cina,
mengingat bahwa para pebisnis Taiwan banyak beroperasi di Cina.
KESIMPULAN
Penulis dapat menyimpulkan bahwa partai politik yang berkuasa menentukan
arah kebijakan luar negeri. Sebab, adanya perbedaan politik antara keduanya
memiliki akibat yang berbeda terhadap hubungan Taiwan dan Cina. Ketika Partai
KMT berkuasa, hubungan dengan Cina cenderung stabil dan harmonis. Sebaliknya,
ketika DPP berkuasa, hubungan lintas selat tidak stabil dan sering menuai
perselisihan.
Perbedaan politik ini membawa KMT dan DPP kedalam suatu persaingan.
Persaingan Partai KMT dan Partai DPP adalah kendala domestik yang mempengaruhi
hubungan Taiwan-Cina. Persaingan dua partai dominan ini tidak terlepas dari
dukungan partisan yang dapat dikategorikan menjadi dua golongan yakni dari segi
etnik dan juga dari segi latar belakang ekonomi. Partai DPP yang mempunyai basis
pendukung di daerah Selatan dengan latar belakang pendukung adalah etnik minanese
yang kebanyakan bekerja sebagai buruh dan petani, sedangkan Partai KMT
mempunyai basis di daerah Utara dengan latar belakang pendukung adalah etnik
Mainlander yang banyak bekerja menjadi pengusaha. Dua etnik tersebut mempunyai
pandangan yang berbeda terhadap isu hubungan Taiwan-Cina.
Perbedaan yang berakhir kepada suatu persaingan ini juga menyebabkan
sulitnya untuk mencapai consensus dalam pengambilan keputusan luar negeri.
Sulitnya mencapai suatu kesepakatan tentunya memperlemah posisi Taiwan terhadap
Cina. Disamping itu, persaingan politik yang muncul menyebabkan kedua partai
politik tersebut sibuk memperjuangkan dan mengimplementasikan platform
33 John Pomfret, China Threatens to Blacklist Taiwanese Traders, Washington Post, edisi
Sabtu, 3 Juni 2000, http://www.sfgate.com/politics/article/Cina-Threatens-to-BlacklistTaiwanese-Traders-2756715.php diakses pada tanggal 2 April 2013

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

kepartaiannya. Akibatnya, persoalan unifikasi yang berhubungan dengan masa depan


Taiwan kurang menjadi perhatian utama bagi Partai KMT dan partai DPP. Hal ini
dikarenakan keduanya fokus untuk berupaya menjadi ruling party di Taiwan dan
malah menjadikan persoalan unifikasi sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.
Kondisi inilah agaknya yang memperburuk posisi tawar menawar Taiwan
dalam menegosiasikan masa depan Taiwan dengan Cina, serta mengakibatkan
sulitnya merumuskan kepentingan nasional yang hendak dicapai terkait dengan
unifikasi dan hubungan-hubungan lainnya dengan Cina.
DAFTAR PUSTAKA
Chan, Steve, Taiwan in 2005: Strategic Interaction in Two-Level Games,
Asian Survey, Vol. 46, No. 1 (January/February 2006)
Coplin, William D., Introduction to International politics : a theoretical
overview. Dialih bahasa oleh Marsedes Marbun, Pengantar Politik Internasional:
Suatu Telaah Teoritis, (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 2003)
Dreyer, June Teufel, Taiwan in 1989: Democratization and Economic Growth,
Asian Survey, Vol. 30, No. 1, A Survey of Asia in 1989: Part I (Jan., 1990)
Guideline
for
National
Unification,
http://law.wustl.edu/chinalaw/twguide.html, diakses pada tanggal 15 Desember 2013
Jr, Alex Mintz dan Karl DeRouen, Understanding Foreign Policy Decision
Making, (New York: Cambridge University Press, 2010)
Kau, Michael Ying-mao, The Power Structure in Taiwan's Political Economy,
Asian Survey, Vol. 36, No. 3, Informal Politics in East Asia (Mar., 1996)
Ming-Tong Chen, Taiwan in 2011: Focus on Crucial Presidential Election,
Asian Survey, Vol. 52, No. 1 (January/February 2012)
National Security Advisor Condoleezza Rice said on October 14, 2003, that
nobody should try unilaterally to change the status quo. Shirley A. Kan ,Cina
Taiwan Evolution of The One China Policy, Congressional Research Service (August
17, 2009) hal 11, http://fpc.state.gov/documents/organization/166825.pdf diakses
tanggal 9 November 2012

Jurnal Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas
Pengaruh Persaingan Partai KMT dan Partai DPP terhadap Unifikasi Taiwan-Cina
Inda Mustika Permata / 0910853049

Pomfret, John, China Threatens to Blacklist Taiwanese Traders, Washington


Post, edisi Sabtu, 3 Juni 2000, http://www.sfgate.com/politics/article/Cina-Threatensto-Blacklist-Taiwanese-Traders-2756715.php diakses pada tanggal 2 April 2013
Resolution of the Taiwan issue is an internal affair of China, which should be
achieved by the Chinese themselves and there is no call for aid by foreign force. The
One-China
Principle
and
the
Taiwan
Issue,
http://www.Chinataiwan.org/english/key/bj/200308/t20030820_113328.htm diakses
pada tanggal 27 Oktober 2012
Schubert, G., Taiwans Political Parties and National Identity: The Rise of an
overarching Consensus, Asian Survey, Vol. 44, No. 4 (July/August 2004)
Shyu, Huoyan, Taiwan's Democratization and the Freezing of the Party
System, Dipresentasikan pada International Conference on Political System and
Democratization in East Asia, August 13, 2009
Snidal, Duncan, The Game Theory of International Politics, World Politics,
Vol. 38, No. 1 (Oct., 1985)