You are on page 1of 11

TUGAS MATA KULIAH KESUBURAN TANAH DAN

PEMUPUKAN REPSIRASI TANAH DALAM MENINGKATKAN


KUALITAS TANAH

DISUSUN OLEH :
MOH ALI WAFA (131510501230)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik
berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran
penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan
air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan

penyuplai hara atau nutrisi senyawa organik dan anorganik


sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S,
Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl; dan secara biologi berfungsi sebagai
habitat biota organisme yang berpartisipasi aktif dalam
penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif pemacu tumbuh,
proteksi bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu
menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan
produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri
perkebunan, maupun kehutanan. Tanah merupakan suatu
komponen penting dalam modal dasar pertanian. Sifat, ciri dan
tingkat kesuburan produktivitas-nya, tanah sangat dipengaruhi
oleh sifat kimia,fisika dan biologi tanah. Biologi tanah adalah ilmu
yang mempelajari mahluk-mahluk hidup didalam tanah. Karena
ada bagian-bagian hidup di dalam tanah, maka tanah itu disebut
sebagai Living System contohnya akar tanaman dan organisme
lainnya di dalam tanah. Tanah dihuni oleh bermacam-macam
mikroorganisme. Jumlah tiap grup mikroorganisme sangat
bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa individu, akan tetapi
ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah.
Mikroorganisme tanah itu sendirilah yang bertanggung
jawab atas pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara.
Besarnya jumlahnya mikroorganisme dalam tanah merupakan
salah satu faktor penentu subur tidaknya suatu tanah. Semakin
banyak mikroorganisme yang terkandung, maka semakin subur
suatu tanah tersebut. Hal ini dikarenakan bahan organik yang
ada di dalam tanah hanya dapat didekomposisikan oleh
mikroorganisme-mikroorganisme yang menyumbangkan nutrisinutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan serta dapat memperbaiki
kondisi tanah. Salah satu cara untuk menghitung jumlah populasi
dari mikroorganisme tanah tersebut adalah dengan mengukur
respirasi tanahnya. Ketika semakin besar respirasi tanahnya
maka jumlah mikroorganisme yang terkandung dalam tanah
tersebut pun semakin besar. jumlah total mikroorganisme yang
terdapat didalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan
tanah fertility indeks, tanpa mempertimbangkan hal-hal lain.
Tanah yang subur mengandung sejumlah mikroorganisme,
populasi yang tinggi ini menggambarkan adanya suplai makanan
atau energi yang cukup ditambah lagi dengan temperatur yang
sesuai, ketersediaan air yang cukup, kondisi ekologi lain yang
mendukung
perkembangan
mikroorganisme
pada
tanah
tersebut. Jumlah mikroorganisme sangat berguna dalam
menentukan tempat organisme dalam hubungannya dengan
sistem perakaran, sisa bahan organik dan kedalaman profil
tanah.

Besarnya jumlahnya mikroorganisme dalam tanah


merupakan salah satu faktor penentu subur tidaknya suatu
tanah. Semakin banyak mikroorganisme yang terkandung, maka
semakin subur suatu tanah tersebut. Hal ini dikarenakan bahan
organik yang ada di dalam tanah hanya dapat didekomposisikan
oleh mikroorganisme-mikroorganisme yang menyumbangkan
nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan serta dapat
memperbaiki kondisi tanah. Salah satu cara untuk menghitung
jumlah populasi dari mikroorganisme tanah tersebut adalah
dengan mengukur respirasi tanahnya. Ketika semakin besar
respirasi tanahnya maka jumlah mikroorganisme yang
terkandung dalam tanah tersebut pun semakin besar.
Respirasi tanah, yang melepaskan gas CO2 ke atmosfir,
merupakan proses oksidasi biologis dari senyawa organik yang
berasal dari akar dan organ/bagian lain tanaman serasah, dahan
dan ranting mati, batang mati di dalam dan permukaan tanah
yang dilakukan oleh mikroorganisme yang hidup di dalam tanah.
Proses ini dilakukan oleh mikroorganisme untuk mendapatkan
energi dan
metabolit untuk keperluan pemeliharaan dan
pertumbuhannya. Respirasi yaitu suatu proses pembebasan
energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses
kimia dengan menggunakan oksigen Respirasi tanah merupakan
pencerminan aktivitas mikroorganisme tanah (Maysaroh, 2011).
1.2Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang kegiatan
repsirasi tanah dalam meningkatkan kualitas tanah dengan
respirasi tanah.
1.3Manfaat
Mengetahui kegiatan respirasi tanah dan jumlah
mikroorganisme dalam tanah
1.4Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud dengan respirasi pada tanah.
2.Bagaimana hubungan antara respirasi tanah terhadap kualitas
tanah.
3.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi pada
tanah.

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Respirasi tanah
Aktivitas biologi tanah telah lama dikenal sebagai penanda
ataupun sebagai indikator kesuburan tanah. Respirasi tanah lebih
dapat merefleksikan keberadaan kehidupan atau aktivitas
mikroba tanah, dibanding estimasi total C mikroba ditanah. hasil
proses dekomposisi digunakan organisme untuk membangun
tubuh, akan tetapi terutama digunakan sebagai sumber energi
atau sumber karbon utama, dimana proses dekomposisi dapat
berlangsung
dengan
mediasi
mikroorganisme,
sehingga
mikroorganisme merupakan tenaga penggerak dalam respirasi
tanah. Respirasi tanah merupakan oksidasi biologi dari senyawa
organik pada mikroorganisme, akar, organ atau bagian lain dari
tumbuhan serta organisme yang hidup pada tanah dengan
energi untuk pemeliharaan, pertumbuhan dan pengambilan
bahan nutrien aktif (Amstrong 1979; Drew 1990 di jelaskan
dalam Simojoki A 2001). Respirasi tanah merupakan indikator
yang sensitif dan penting pada suatu ekosistem, termasuk
aktivitas yang berkenaan dengan proses metabolisme di tanah,
pembusukan sisa tanaman pada tanah, dan konversi bahan
organik tanah menjadi CO2. Irawan, A. dan Tania J. 2011.
Menunjukkan respirasi dari tanah yang lembab dua sampai tiga
kali lebih besar dibandingkan tanah yang kering. Peningkatan
respirasi tanah dengan meningkatnya suhu tanah juga banyak
dilaporkan. Respirasi tanah juga dipengaruhi oleh jenis tumbuhan
yang hidup di atasnya.
Respirasi tanah dengan mengetahui kadar CO 2 atau
konsumsi O2 adalah salah satu pengukuran yang paling mudah,
paling umum dan paling banyak digunakan sebagai parameter
untuk mengukur dekomposisi senyawa organic didalam tanah.
Hal tersebut sangat bergantung dari banyaknya faktor abiotic
dan faktor biotik yang mana dapat menjaga perbandingan kadar
mikroflora tanah yang berperan dalam tingkat respirasi (Verma,et
all.,2010)
Respirasi tanah merupakan salah satu hal yang penting
yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pemanasan global di
masa depan. Respirasi tanah yang berkaitan dengan suhu tanah
digunakan sebagai salah satu kunci karakteristik tanah atau
bahan organik dan bertanggung jawab dalam pemanasan global
(Subke dan Bahn 2010).
2.2 Respirasi Tanah dengan Kualitas Tanah
Mekanisme respirasi tanah tidak lepas dari organisme yang
hidup di dalamnya. Tanah melepaskan CO2 dari aktivitas

organisme yang berada di tanah. Seperti yang dinyatakan oleh


(Amstrong 1979; Drew 1990 dijelaskan dalam Simojoki A 2001).
Bahwa respirasi tanah merupakan oksidasi biologi dari senyawa
organik pada mikroorganisme, akar, organ atau bagian lain dari
tumbuhan serta organisme yang hidup pada tanah dengan
energi untuk pemeliharaan, pertumbuhan dan pengambilan
bahan nutrien aktif.
Respirasi tanah merupakan indikator yang sensitif dan
penting pada suatu ekosistem, termasuk aktivitas yang
berkenaan dengan proses metabolisme di tanah, pembusukan
sisa tanaman pada tanah, dan konversi bahan organik tanah
menjadi CO2. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya respirasi
tanah ini tidak lepas dari proses dekomposisi bahan organik.
Berikut merupakan kurva yang menggambarkan proses
dekomposisi bahan organik pada tanah.

Gambar 1 Kurva proses dekomposisi


Selama fase pertama, peluluhan sel yang dapat terlarutkan
merupakan proses yang utama. Sampah yang relatif masih baru
dapat mengalami kehilangan 5% dari massanya dalam tempo 24
jam hanya dikarenakan proses peluluhan ini sendiri.
Fase kedua dari dekomposisi terjadi lebih lambat dan
melibatkan kombinasi dari proses fragmentasi oleh hewan tanah,
perubahan kimia oleh mikroba tanah, serta peluluhan produk
pembusukan dari sampah. Model eksponensial dari proses
dekomposisi umumnya diterapkan terutama untuk fase kedua ini.
Fase akhir dari proses dekomposisi terjadi dengan tempo
sangat lambat serta melibatkan perubahan kimia dari bahan
organik yang tercampur dengan tanah mineral dan peluluhan
produk yang teruraikan ke lapisan tanah lainnya. Proses
dekomposisi selama fase akhir ini sering diperkirakan melalui
pengukuran respirasi tanah atau isotop pelacak.

Penguraian bahan organik dengan bantuan oksigen


menghasilkan produk CO2.Produksi CO2 dalam tanah dihasilkan
melalui
proses
oksidasi
bahan
organik
tanah
oleh
mikroorganisme dan organ lainnya melalui respirasi akar
tanaman (Saraswati, dkk. 2000)
Proses oksidasi bahan organik oleh organisme dapat dilihat
dari reaksi sebagai berikut :

Oksidasi bahan organik diatas disebut oksidasi enzimatik,


yaitu oksidasi yang melibatkan mikroorganisme, hasil utamanya
berupa CO2, air dan energi. Pada tanah mineral, emisi CO2 dari
tanah akan semakin tinggi pada kedalaman tanah yang dangkal,
hal ini disebabkan jumlah akar dan bahan organik akan
berkurang dengan semakin dalamnya tanah (Simojoki A 2001).

Gambar2. Hubungan mekanisme respirasi tanah dengan


komponen lainnya
Aktivitas biologi tanah telah lama diketahui sebagai
penanda ataupun sebagai indikator kesuburan tanah. Respirasi
tanah lebih dapat merefleksikan keberadaan kehidupan atau
aktivitas mikroba tanah, dibanding estimasi total C mikroba
ditanah.
Pengaruh kadar air terhadap aktivitas mikroorganisme
dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung kadar air berpengaruh terhadap kondisi resirkulasi
udara untuk ketersediaan oksigen dalam tanah. Pada kondisi air
yang berlebihan akan menciptakan agregat tanah yang kecil dan
kompak. Pada kondisi ini kandungan pori-pori mikro tanah sangat
sedikit, padahal melalui pori-pori ini mikro air dapat bergerak

bebas.Akibatnya tanah tidak memberi ruang bagi ketersediaan


oksigen dikarenakan pori-pori tanah yang terisiair.
Makro organisme dan mikro organisme tanah sangat
berperan dalam proses dekomposisi, mulai dari merombak zat
sisa menjadi elemen yang lebih kecil ataupun mengeluarkan
enzim untuk penguraian yang lebih sederhana lagi dekomposer.
Makro fauna berperan sebagai detritus secara fisika memecah
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil ataupun kimia dengan
memakannya dan mengeluarkannya sebagai feses, contohnya
saja Colembolla, Acarina, cacing tanah. Kemudian mikrofauna
seperti
bakteri,
aktinomicetes
dan
mikrofungi
sebagai
dekomposer yang mendegradasi lignin ataupun selulosa bahan
sisa yang sebelumnya telah terurai.
Respirasi tanah diukur sebagai fluks CO2 dari tanah, dan
berasal dari respirasi autotrofik dan heterotrofik.CO2 dalam
respirasi autotrofik misalnya dari respirasi akar dan mikoriza
yang terkait erat dengan laju fotosintesis.CO2 dalam respirasi
heterotrofik berasal dari metabolisme mikroorganisme tanah dan
fauna tanah. Respirasi heterotrofik merupakan proses respirasi
yang memiliki kaitan erat dengan perubahan suhu (Virma et al.
2010).
Aktivitas enzim dalam tanah bergantung pada komposisi
komunitas mikroba dan sifat dari matriks tanah.Komposisi dari
komunitas mikroba berperan sangat penting karena komposisi
tersebut sangat berpengaruh terhadap jenis dan tingkat produksi
enzim. Enzim-enzim yang terlibat di dalam proses-proses yang
hanya terjadi dalam lingkungan tertentu, seperti proses
denitrifikasi atau produksi metana dan oksidasi, tampak lebih
sensitif terhadap komposisi komunitas mikroba ini.
Penguraian komponen lignin membutuhkan proses yang
perlahan-lahan dikarenakan hanya beberapa organisme mikroba
terutama fungi, yang memproduksi enzim yang diperlukan pada
proses ini dan mikroba inipun hanya menghasilkan enzim apabila
substrat yang lebih labil lainnya sudah tidak tersedia. Lignin
terbentuk secara non-enzimatik oleh reaksi kondensasi dengan
fenol serta radikal bebas menciptakan struktur tidak beraturan
yang tidak sesuai dengan spesifikasi untuk teruraikan oleh
enzim-enzim pada umumnya.
Kualitas tanah biasanya diukur dengan tingkat respirasi
tanah ini. Respirasi tanah menandakan terdapatnya aktivitas
organisme dalam tanah.Semakin aktif organisme dalam tanah
tingkat respirasinya semakin baik. Pada lahan yang kurang baik,
dapat diperbaiki dengan peningkatan mutu tanah. Produksi CO2
akan menurun dengan adanya pengasaman, karena difusi gas

terhambat dan penambahan pupuk N yang dapat menurunkan


respirasi mikroorganisme dalam tanah (Maysaroh, 2011).
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respirasi Tanah
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi tanah,
diantaranya yaitu:
a. Kadar Air
Pengaruh kadar air terhadap aktivitas mikroorganisme
dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung kadar air berpengaruh terhadap kondisi resirkulasi
udara untuk ketersediaan oksigen dalam tanah.
b. Oksigen
Kurangnya oksigen mendorong aktivitas mikroorganisme
pendekomposisi bekerja pada kondisi anaerob. pada kondisi yang
anaerob, pelepasan CO2 terutama berasal dari proses
dekomposisi material organic secara anaerob yaitu melalui
proses fermentasi. Pada umumnya dekomposisi material organik
secara aerob lebih cepat daripada dekomposisi material organic
secara anaerob.
c. Suhu dan Kelembaban
Respirasi tanah dilakukan oleh mikroorganisme tanah baik
berupa bakteri maupun cendawan. Interaksi antara mikroba
dengan
lingkungan
fisik
di
sekitarnya
mempengaruhi
kemampuannya dalam respirasi, tumbuh, dan membelah. Salah
satu faktor lingkungan fisik tersebut adalah kelembapan tanah
yang berkaitan erat dengan respirasi tanah.
d. Kadar bahan organik
Keberadaan bahan organik tanah, kadar C-organik dan rasio
C : N merupakan faktor utama dalam proses dekomposisi tanah.
penambahan sejumlah sisa-sisa tanaman dewasa (sisa organik)
ke dalam tanah bagi perombakan mikrobial yang berisi 50%
karbon dan 1% nitrogen, akan menghasilkan kenaikan aktivitas
mikrobial yang lebih besar. Hal ini ditandai dengan tingginya CO2
yang dihasilkan.

BAB 3 KESIMPULAN
1. Respirasi tanah adalah oksidasi biologi dari senyawa organik
pada mikroorganisme, akar, organ atau bagian lain dari
tumbuhan serta organisme yang hidup pada tanah dengan
energi untuk pemeliharaan, pertumbuhan dan pengambilan
bahan nutrien aktif.
2. Kualitas tanah memiliki hubungan dengan tingkat respirasi
tanah, karena respirasi tanah menandakan terdapatnya
aktivitas organisme dalam tanah, semakin aktif organisme
dalam tanah maka tingkat respirasinya semakin baik,
sedangkan pada lahan yang kurang baik diperlukan
peningkatan mutu tanah dengan meningkatkan tingkat
respirasi dengan bakteri genus Pseudomonas sp., Bacillus sp.,
dan Streptomyces sp.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi pada tanah yaitu
kadar air, oksigen, bahan organik, suhu dan kelembaban.

DAFTAR PUSTAKA
Irawan, A. dan Tania J. 2011. Hubungan Iklim Mikro Dan Bahan
Organik Tanah Dengan Emisi CO2 Dari Permukaan Tanah Di
Hutan Alam Babahaleka Taman Nasional Lore Lindu,
Sulawesi Tengah. J. Agromet. 25 (1): 1-8.
Maysaroh. 2011. Hubungan Kualitas Bahan Organik Tanah Dan
Laju Respirasi Tanah di beberapa Lahan Budidaya. Bogor :
IPB, Biologi
Saraswati, R., Santosa, E., Yuniarti, E.. 2000. Organisme
Perombak Bahan Organik. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati
(211).
Simojoki, A. 2001. Oxygen Supply To Plant Roots In Cultivated
Mineral Soils. Doctoral Dissertation. Department of Applied
Chemistry and Microbiology, University of Helsinki.
Subke JA, Bahn M. 2010. On The Temperature Sensitivity Of Soil
Respiration: Can we use the immeasurable to predict the
unknown?. Soil Biology & Biochemistry 42: 1653-1656.
Verma, et al. 2010. Effect Of Heavy Metals On Soil Respiration
During Decomposition Of Sugarcane (Saccharum officinarum
L.) trash in different soils. Plant Soil Envronment., 56, 2010
(2): 7681.