You are on page 1of 8

ANALISA JURNAL

PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI


(MP-ASI) TRADISIONAL TERHADAP KEJADIAN ISPA,
DIARE, DAN STATUS GIZI BAYI PADA 4 (EMPAT) BULAN
PERTAMA KEHIDUPAN

Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Tugas Praktik Profesi Keperawatan


Stase Keperawatan Keluarga Kelurahan Tirtoadi, Mlati, Sleman
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Disusun oleh :

Ayu Khuzaimah Kurniawati


02/161611/EIK/00259

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


0

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA


Y O G Y A K A R T A
2 0 0 4

PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN


PENDAMPING ASI (MP-ASI) TRADISIONAL
TERHADAP KEJADIAN ISPA, DIARE, DAN
STATUS GIZI BAYI PADA 4 (EMPAT) BULAN
PERTAMA KEHIDUPAN

PENDAHULUAN
Diperkirakan 36,1% balita menderita Kurang Energi Protein (KEP) total,
dan sekitar 14,6% diantaranya menderita KEP nyata atau di bawah garis merah
Kartu Menuju Sehat (KMS). Kondisi tersebut timbul sebagai dampak dari status
gizi ibu sebelum dan setelah hamil, tidak diberikannya Air Susu Ibu (ASI) dan
pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang salah dan terlalu dini serta
penyakit infeksi yang disebabkan oleh keadaan lingkungan yang tidak memadai.
Berdasarkan Survei Konsumsi Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 diketahui
pada usia kurang dari 3 bulan, hanya duapertiga (63,7%) dari jumlah balita
mendapat ASI secara eksklusif (tanpa makanan pendamping lain), selebihnya
mereka sudah diberi MP-ASI pada usia tersebut. Hasil SKRT tahun 1992
menunjukkan 10% anak balita di Jawa Tengah sejak usia 2 bulan sudah mulai
diberi pengganti ASI (16% berupa makanan lumat)
Adanya praktik pemberian makanan selain ASI pada usia dini perlu
mendapat perhatian serius, karena pada usia tersebut kebutuhan zat gizi bayi
sesungguhnya masih dapat seluruhnya dipenuhi dari ASI. Pemberian makanan
dini yang kurang bersih memungkinkan bayi mendapat infeksi pada saluran
pencernaan. Infeksi yang berlanjut menyebabkan penurunan motilitas villi usus
yang pada meningkatkan pertumbuhan bakteri patogen pada saluran pencernaan.
Bayi yang menderita diare kronis dapat menyebabkan malnutrisi. Pada prinsipnya
1

pemberian MP-ASI terlalu dini berbahaya, karena organ pencernaan secara


anatomis dan fisiologis belum berfungsi sempurna.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui :
1. Pengaruh pemberian MP-ASI tradisional terhadap kejadian ISPA bayi
2. Pengaruh pemberian MP-ASI tradisional terhadap kejadian diare bayi
3. Pengaruh pemberian MP-ASI tradisional terhadap status gizi bayi pada 4
bulan pertama kehidupannya

BAHAN DAN CARA PENELITIAN


Merupakan penelitian observasional dengan rancangan kohort. Terdapat 2
kelompok bayi dan ibu yang di-follow-up, yaitu kelompok bayi terpapar MP-ASI
tradisional (exposed) dan kelompok bayi tidak terpapat MP-ASI tradisional (nonexposed). Waktu untuk foolow-up adalah 4 bulan terhitung sejak tanggal kelahiran
bayi. Kriteria inklusi sampel adalah :
1.

Bayi lahir sehat

2.

Tidak lahir prematur

3.

Tidak cacat berdasarkan informasi penolong persalinan


Jumlah sampel adalah 157 bayi. Jenis kelamin dan umur bayi yang

diperhitungkan dalam analisis sebagai faktor pengganggu.


Analisis statistik menggunakan program EPI-INFO release 6,04 dan Stata
release 5.0. Untuk menghitung Z-score indikator BB/Untuk (status gizi)
menggunakan program EPINUT. Analisis statistik yang digunakan adalah chisquare dan analisisregresi linier berganda.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Pemberian MP-ASI Tradisional pada 4 Bulan
Pertama Kehidupan Bayi
Tabel 1. Distribusi Pemberian MP-ASI dan ASI Eksklusif pada 4 Bulan Pertama
Kehidupan Bayi
Waktu Pemberian
Pemberian MPPemberian ASI
ASI
Eksklusif
Bulan pertama kehidupan bayi
19,7%
31,8%
Bulan kedua kehidupan bayi
25,5%
22,2%

Bulan ketiga kehidupan bayi


Bulan keempat kehidupan bayi
Sejak hari pertama kehidupan
bayi

32,5%
38,2%
11,5%

18,5%
17,2%
-

Dari hasil wawancara diketahui, setidaknya terdapat 5 alasan mengapa MPASI tradisional diberikan :
1. Ibu merasa bayi sudah cukup umur untuk dicoba diberi makanan sapihan
2. Bayi perlu dipersiapkan untuk ditinggal kerja, terutama pada ibu-ibu yang
bekerja
3. Beberapa ibu merasa ASI yang dihasilkan tidak cukup lagi
4. Beberapa ibu ingin agar bayinya cepat besar
5. Mengikuti saran orang tua/nenek

Pengaruh Pemberian MP-ASI Tradisional Terhadap ISPA Bayi


Tabel 2. Distribusi Episode Sakit ISPA Bayi pada 4 Bulan Pertama Kehidupan
MP-ASI
MP-ASI
ASI Eksklusif
Tradisional
Formula
Episode Sakit
0,330 kali/bulan
0,317 kali/bulan
0,279 kali/bulan
ISPA
Pengaruh pemberian MP-ASI tradisional terhadap rata-rata episode sakit
ISPA pada bayi dilihat menurut kategori umur pemberian, maka pemberian MPASI tradisional pada bulan pertama kehidupan bayi berpengaruh signifikan
terhadap meningkatnya rata-rata episode sakit ISPA bayi (p<0,05), sedangkan
pemberian pada bulan kedua, ketiga dan keempat tidak berpengaruh signifikan
(p>0,05).

Pengaruh Pemberian MP-ASI Tradisional Terhadap Diare Bayi


Tabel 3. Distribusi Episode Diare Bayi pada 4 Bulan Pertama Kehidupan
MP-ASI
MP-ASI
ASI Eksklusif
Tradisional
Formula
Episode Diare
0,143 kali/bulan
0,105 kali/bulan
0,093 kali/bulan

Hasil analisis regresi linier berganda dengan mempertimbangkan berbagai


faktor pengganggu menunjukkan bahwa pemberian MP-ASI tradisional
berpengaruh signifikan terhadap rata-rata episode diare (p<0,05). Namun jika
pengaruh pemberian MP-ASI tradisional terhadap rata-rata episode diare pada
bayi dilihat menurut kategori umur pemberian, maka ternyata pemberian MP-ASI
tradisional pada bulan pertama kehidupan bayi berpengaruh signifikan terhadap
meningkatnya rata-rata episode diare bayi (p<0,05), sedangkan pemberian pada
bulan kedua, ketiga dan keempat tidak berpengaruh signifikan (p>0,05).

Dari hasil observasi diketahui bahwa aspek kebersihan atau hygiene individu
dalam penanganan pangan pada ibu-ibu responden kurang terjaga, misalnya :
sejumlah ibu masih melakukan kebiasaan meniup makanan agar cepat dingin atau
proteksi makanan bayi dari serangga/lalat yang kurang atau beberapa kebiasaan
lain yang kurang baik. Selain membuka peluang masuknya mikrooorganisme
pategen dalam pencernaan bayi, dengan pemberian MP-ASI tradisional diduga
dapat mengakibatkan iintake ASI berkurang karena dalam perut bayi telah masuk
makanan lain, sehingga aspek protektif yang diperoleh dari ASI (kolostrum)
berkurang.
Pengaruh Pemberian MP-ASI Tradisional dan Infeksi ISPA/Diare terhadap
Perubahan Status Gizi Bayi
Dari penghitungan dengan menggunakan nilai Z-score BB/Untuk per bulan
diperoleh hasil pemberian MP-ASI tradisional ternyata tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap rata-rata perubahan nilai Z-score BB/Untuk dari bulan
sebelumnya ke bulan berikutnya (p>0,05), sedangkan episode diare bayi diketahui
memiliki pengaruh yang signifikan (pengaruh negatif) terhadap rata-rata
perubahan nilai Z-score dari bulan sebelumnya ke bulan berikutnya (p<0,05).
Namun untuk episode ISPA bayi ternyata diketahui tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap rata-rata perubahan nilai Z-score BB/Untuk dari bulan
sebelumnya ke bulan berikutnya (p>0,05). Diketahui pula bahwa peningkatan

satu episode diare bayi akan dapat menurunkan status gizi sebesar 0.139 SD Zscore BB/Untuk dari bulan sebelumnya ke bulan berikutnya.
Tidak adanya pengaruh pemberian MP-ASI tradisional terhadap perubahan
status gizi bayi selama 4 bulan pertama kehidupannya, menunjukkan bahwa
pemberian ASI secara eksklusif maupun MP-ASI tradisional tidak selalu
berimplikasi terhadap peningkatan status gizi selama 4 bulan pertama khidupan
bayi.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara keseluruhan pemberian MP-ASI tradisional secara signifikan
berpengaruh terhadap episode diare bayi pada 4 bulan kehidupan bayi.
2. Pemberian MP-ASI tradisional secara signifikan berpengaruh terhadap
episode ISPA bayi pada 4 bulan kehidupan bayi.
3. Terdapat indikasi bahwa pemberian MP-ASI tradisional tidak secara
langsung berpengaruh terhadap perubahan status gizi bayi pada 4 bulan
kehidupan bayi, tetapi melalui peningkatan episode diare.
4. Terjadinya peningkatan episode diare secara signifikan berpengaruh
terhadap penurunan status gizi bayi pada 4 bulan pertama kehidupan bayi.

Implikasi Keperawatan
Pemberian MP-ASI tradisional yang sering dilakukan oleh para ibu adalah
dengan memberikan makanan padat secara dini berupa pisang yang dihaluskan
atau dikunyah, madu, kelapa muda dan bubur, dsb.
Adanya praktik pemberian makanan selain ASI pada usia dini perlu
mendapat perhatian serius, karena pada usia tersebut kebutuhan zat gizi bayi
sesungguhnya masih dapat seluruhnya dipenuhi dari ASI. Adapaun manfaat atau
keuntungan memberikan ASI eksklusif pada 4 bulan kehidupan bayi antara lain
sebagai berikut :

1. Mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi, untuk pertumbuhan dan
perkembanganya.
2. Mengandung zat kekebalan terhadap infeksi, Mudah dicerna, Mudah
diberikan
3. Tidak usah membeli, menyehatkan ibu
4. Merupakan kasih sayang ibu terhadap anaknya, Bersih dan tidak pernah basi
5. Menghindarkan bayi dari diare
6. Bagi bayi, menghisap ASI dapat membantu pertumbuhan gigi, langit langit
dan rahangnya secara sempurna.
ASI eksklusif artinya bayi harus diberikan ASI saja sejak bayi lahir hingga
bayi berumur 4 bulan, dan berdasarkan penelitian terbaru, ASI eksklusif dapat
diberikan sampai bayi berumur 6 bulan, mempunyai banyak keuntungan yaitu :
1. ASI satu satunya makanan yang terbaik bagi bayi umur 0 4 bulan, karena
mengandung cukup zat gizi untuk tumbuh kembang bayi.
2. Pencernaan bayi belum kuat mencerna makanan lain selain ASI.
Pemberian makanan dini yang kurang bersih memungkinkan bayi mendapat
infeksi pada saluran pencernaan. Infeksi yang berlanjut menyebabkan penurunan
motilitas villi usus yang pada meningkatkan pertumbuhan bakteri patogen pada
saluran pencernaan. Bayi yang menderita diare kronis dapat menyebabkan
malnutrisi. Pada prinsipnya pemberian MP-ASI terlalu dini berbahaya, karena
organ pencernaan secara anatomis dan fisiologis belum berfungsi sempurna.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pemberian MP-ASI tradisional secara
umum berpengaruh signifikan terhadap episode diare, ISPA dan penurunan status
gizi bayi pada 4 bulan pertama kehidupannya. Penurunan status gizi tersebut dapat
terjadi karena ketika makanan lain selain ASI diperkenalkan pada bayi, akan
terjadi pengurangan terhadap konsumsi ASI. Terlebih lagi, jika nakanan yang
diberikan tersebut hanya mengandung zat gizi tunggal atau gizi yang tidak
lengkap atau berupa pengenceran formula yang tidak sesuai aturan.
Penurunan status gizi bayi juga dipengaruhi oleh peningkatan episode diare,
hal ini dikarenakan terjadinya diare pada bayi dapat menyebabkan :
1. Menurunnya asupan makanan
2. Menurunnya absorbsi nutrien

3. Kehilangan nutrien endogenous


4. Meningkatnya demam metabolik
Penanggulangan masalah ISPA dan diare pada bayi dapat dilakukan dengan
meningkatkan pemberian ASI secara eksklusifdan menghindarkan pemberian MPASI tradisional pada usia dini, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan bayi.
Efek negatif pemberian MP-ASI dini agar lebih diinformasikan melalui berbagai
media kepada masyarakat pedesaan supaya mereka lebih sadar akan bahaya
tersebut dan agar gerakan pemberian ASI eksklusif di pedesaan dapat lebih
berhasil.

Lampiran
POLA MAKAN BALITA
Umur Balita
0 4 bln
4 6 bln
6 12 bln
1 2 thn
> 2 thn

ASI

Jenis Makanan
Lumat Lembek

Keluarga

+ susu