You are on page 1of 6

Artikel Penelitian

Stresor Kerja dan Insomnia


pada Petugas Pemadam Kebakaran
di Jakarta Selatan

Rini Afrianti,* Indah Suci Widyahening,** Zarni Amri,** A.A.A.A Kusumawardhani***


*Program Studi Magister Kedokteran Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
**Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
***Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Abstrak: Petugas pemadam kebakaran senantiasa dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang
tinggi, tanggung jawab yang besar serta keharusan untuk bekerja secara cepat, akurat pada
situasi yang kritis dan berbahaya. Berbagai faktor tersebut dapat merupakan stresor kerja
yang akan berdampak bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara
stresor kerja dengan timbulnya insomnia pada petugas pemadam kebakaran. Penelitian
dilaksanakan pada Juli hingga Desember 2007 dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan
melalui kuesioner yang meliputi karakteristik sosiodemografi, pengukuran stres kerja dengan
menggunakan kuesioner Survai Diagnostik Stres, pengukuran insomnia dengan Insomnia Rating Scale, dan faktor-faktor pencetus insomnia lainnya. Dari 259 responden didapatkan
prevalensi insomnia sebesar 42,9%. Stresor kerja yang dominan adalah beban kerja berlebih
kualitatif (55,6%). Stresor kerja yang memiliki hubungan bermakna dengan insomnia adalah
beban kerja berlebih kualitatif (OR 3,88; 95% CI 1,80-8,36), beban kerja berlebih kuantitatif
(OR 2.11; 95% CI 1,00-4,45), dan lingkungan tempat tinggal dekat dengan sumber kebisingan
(OR 2,44; 95% CI 1,06-5,63). Penelitian ini menemukan prevalensi insomnia pada petugas
pemadam kebakaran cukup tinggi. Stresor kerja terutama beban kerja berlebih kualitatif dan
beban kerja berlebih kuantitatif serta lingkungan tempat tinggal dekat dengan sumber bising
meningkatkan risiko terjadinya insomnia. J Indon Med Assoc. 2011;61:487-92.
Kata Kunci: Insomnia, petugas pemadam kebakaran, stresor kerja

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12, Desember 2011

487

Stresor Kerja dan Insomnia pada Petugas Pemadam Kebakaran

Work Stressor and Insomnia among Fire Fighters


in South Jakarta
Rini Afrianti,* Indah Suci Widyahening,** Zarni Amri,** A.A.A.A Kusumawardhani***
*Postgraduate Program in Occupational Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta
**Community Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Jakarta
***Department of Psychiatry, Faculty of Medicine Universitas Indonesia,
Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Abstract: Fire fighters were continually exposed to high job demand (both quantitative and qualitative), great responsibility, and necessity to perform the task in short period of time often in
dangerous and critical situation. Those factors could become work stressor which would then
affect their health. This study aim to assess the relation between work stressors and the occurence
of insomnia in fire fighters. A cross-sectional study was conducted on July-December 2007. Data
were collected through several questionnaires which include socio-demographic characteristics
of subjects, evaluation of work stressor based on Stress Diagnostic Survey questionnaire, insomnia screening based on Insomnia Rating Scale and the occurrence of other factors which could
precipitate insomnia. The insomnia prevalence among 259 subjects was 42.9% and the dominant
work stressor is qualitative over-load (55.6%). Factors which have significant relation with
insomnia were qualitative over-load (OR 3.88, 95% CI 1.80-8.36), quantitative over-load and
living in noisy environment (OR 2.44, 95% CI 1.06-5.63). High prevalence of insomnia was
found among fire-fighters in this study. Work stressor especially qualitative and quantitative overload and also noisy environment have significant relationship with insomnia. J Indon Med Assoc.
2011;61:487-92.
Keywords: Fire fighters, insomnia, work stressor

Pendahuluan
Stres kerja merupakan masalah yang sering dijumpai
serta menjadi perhatian di bidang kesehatan dan keselamatan
kerja1. Masalah yang dialami pekerja dapat menghasilkan
ketidakstabilan psikologis dan mempengaruhi produktivitas.2
Berdasarkan model stres kerja dan kesehatan dari National
Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH),3
berbagai stresor di lingkungan kerja dapat menimbulkan
reaksi psikis, fisiologis dan perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan. Salah satu masalah perilaku yang sering
timbul adalah adanya gangguan tidur (insomnia).
Kejadian insomnia cukup banyak dijumpai pada tenaga
kerja di berbagai bidang yang berbeda. Pada pekerja pabrik
elektronik di Jepang didapatkan prevalensi insomnia sebesar
23,6% dari 1161 pekerja laki-laki yang diteliti.4 Penelitian lain
menyebutkan bahwa karena beban kerja yang tinggi di bagian
VDT (Visual Display Terminal) pada pabrik perakitan di
Jepang didapatkan kejadian insomnia sebesar 27,7% dari 271
responden.5 Stresor kerja diketahui berperan terhadap
terjadinya insomnia, seperti yang ditemukan pada penelitian
terhadap pekerja di Jepang dan Korea.6,7
Petugas pemadam kebakaran dan petugas penyelamat
(rescue workers) lainnya merupakan pekerjaan dengan risiko

488

stres yang tinggi karena terpajan dengan berbagai kejadian


yang bersifat traumatis sebagai bagian dari pekerjaannya.8
Kejadian kebakaran merupakan peristiwa yang tidak dapat
diprediksi sebelumnya, sehingga petugas pemadam
kebakaran dituntut untuk selalu siaga ketika bertugas.9 Oleh
karena itu untuk menjalankan tugas dengan baik, kondisi
kesehatan mereka harus diusahakan berada pada kondisi
yang optimal. Timbulnya gangguan kesehatan seperti insomnia dapat berefek pada status kesehatan fisik dan psikis yang
selanjutnya mempengaruhi produktivitas kerja, menurunnya
kesiagaan dalam bekerja dan dapat menyebabkan timbulnya
kecelakaan kerja. Di Indonesia belum banyak penelitian
mengenai prevalensi insomnia sebagai akibat dari stres kerja
khususnya pada petugas pemadam kebakaran. Penelitian ini
bertujuan mengetahui hubungan stres kerja dengan
timbulnya gangguan insomnia pada petugas pemadam
kebakaran, sehingga dapat disusun langkah-langkah
penanggulangannya.
Metode
Desain penelitian yang digunakan adalah metode survei
yang bersifat potong lintang (cross sectional) yang
dilaksanakan pada bulan Juli 2007 di 25 pos pemadam
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12, Desember 2011

Stresor Kerja dan Insomnia pada Petugas Pemadam Kebakaran


kebakaran wilayah Jakarta Selatan. Responden penelitian
adalah petugas pemadam kebakaran Suku Dinas Pemadam
Kebakaran Jakarta Selatan yang memenuhi kriteria inklusi.
Kriteria inklusi adalah petugas yang telah bekerja paling sedikit selama enam bulan, berusia antara 18-55 tahun,
sehat fisik pada saat pengisian kuesioner dan bersedia
mengikuti penelitian dengan persetujuan tertulis. Sedangkan
kriteria eksklusi adalah petugas pemadam kebakaran yang
tidak langsung menangani kebakaran, sedang menderita
penyakit yang menyebabkan nyeri hebat seperti: patah
tulang, kanker stadium terminal, reumatoid artritis, sedang
menderita penyakit asma kronis, jantung, hipertiroid, diabetes melitus, demensia, parkinson, sedang dalam penanganan
oleh dokter spesialis jiwa karena stres/depresi atau sedang
menggunakan obat psikotropik.
Pengumpulan data dilakukan dengan mendatangi pospos pemadam sewaktu petugas pemadam jaga/dinas.
Pengambilan data diawali dengan pengisian kuesioner
penyaring untuk mengetahui populasi yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi. Kemudian responden yang
memenuhi kriteria inklusi diminta mengisi kuesioner yang
meliputi data umum, Survei Diagnostik Stres dan Insomnia
Rating Scale.
Kuesioner data umum meliputi data sosiodemografi
(umur, status perkawinan, pendidikan, kriteria pekerjaan, masa
kerja dan penghasilan), kegiatan rekreasi, kebiasaan olah
raga, merokok, minum alkohol, minum yang mengandung
kafein/soda/penambah energi, serta apakah lokasi rumah
dekat dari sumber bising (pasar, rel kereta api, jalan tol, pinggir

Tabel 1. Sebaran Responden Menurut Karakteristik Sosiodemografi


Variabel
Umur
20-30 tahun
31-40 tahun
> 40 tahun
Status Perkawinan
Menikah
Tidak menikah
Duda/cerai
Status Pendidikan
Rendah
Menengah
Tinggi
Kriteria Pekerjaan
PNS
Kontrak
Masa Kerja
1-5 tahun
6-10 tahun
>10 tahun
Penghasilan
Rendah
Sedang
Tinggi

N=259

183
25
49

71,4
9,7
18,9

125
134
0

48,3
51,7
0

17
229
13

6,6
88,4
5

70
189

27
73

190
11
58

73,4
4,2
22,4

27
232
0

10,4
89,6
0

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12, Desember 2011

jalan besar, tempat hiburan, bandara, proyek pembangunan).


Pengukuran variabel stresor kerja dilakukan dengan
menggunakan kuesioner Survei Diagnostik Stres yang
dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Departemen Kesehatan RI. Kuesioner ini terdiri dari 30
pertanyaan yang mencakup beberapa macam stresor kerja,
yaitu ketaksaan peran, konflik peran, beban kerja kualitatif
berlebih, beban kerja kuantitatif berlebih, pengembangan
karier, dan tanggung jawab. Responden menjawab pertanyaan dengan skala 1-7, sesuai dengan anggapannya yang
paling sesuai dalam menilai kondisi tersebut sebagai sumber
stres. Penilaian stres kerja diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai masing-masing stresor kerja. Stresor kerja
dikategorikan sebagai rendah bila skor total antara 0 hingga
9, sedang bila skor total antara 10 hingga 24, dan tinggi bila
skor total 25 atau lebih. 10
Tabel 2. Sebaran Responden Menurut Kegiatan dan Kebiasaan/Gaya Hidup
Variabel

N=259

Rekreasi
Tidak rekreasi
67
Rekreasi:
Frekuensi rekreasi: 1-2 x/bulan
156
3-4 x/bulan
28
>4 x/bulan
8
Olah raga malam hari
Tidak olahraga
213
Olahraga:
Frekuensi olah raga:<3 x/minggu
23
3-5 x/minggu
23
>5 x/minggu
0
Lama olahraga:
<20 menit/kali
0
20-60 menit/kali
18
>60 menit/kali
28
Jenis olahraga:
aerobik
8
non aerobik
38
Merokok: sore sampai malam hari
Tidak merokok
89
Merokok:
1-10 batang
120
11-20 batang
42
> 20 batang
8
Minum alkohol: sore sampai malam hari
Tidak minum
247
Minum:
1-2 gelas
9
>2gelas
3
Minum yang mengandung kafein:
sore sampai malam hari
Tidak minum
56
Minum:
1-2 gelas
182
>2 gelas
21
Minum soda: sore sampai malam hari
Tidak minum
218
Minum:
1-2 gelas
40
>2 gelas
1
Minum penambah energi: sore
sampai malam hari
Tidak minum
196
Minum:
1-2 gelas
62
>2 gelas
1

25,9
60,2
10,8
3,1
82,2
8,9
8,9
0
0
6,9
10,8
3,1
14,7
34,4
46,3
16,2
3,1
95,4
3,5
1,2

21,6
70,3
8,1
70,3
15,4
0,4

75,7
23,9
0,4

489

Stresor Kerja dan Kejadian Insomnia pada Petugas Pemadam Kebakaran


Pengukuran ada atau tidaknya insomnia serta derajatnya
dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian yang
disebut Insomnia Rating Scale yang disusun oleh Kelompok
Studi Psikiatrik Biologik Jakarta (KSPBJ). Insomnia didefinisikan sebagai keluhan sulit tidur, mempertahankan tidur,
dan siaga tidur, serta tidak merasa segar ketika tidur di malam
hari yang terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan. Responden dinyatakan menderita insomnia
jika skor <8. Klasifikasi Insomnia menurut KSPBJ-IRS adalah
bukan insomnia (skor <8), insomnia ringan (skor 8-13), insomnia sedang (skor 13-18) dan insomnia berat (skor >18).11
Data diolah menggunakan program komputer statistik.
Analisis data dilakukan dengan uji kemaknaan yang sesuai,
mula-mula secara bivariat (Chi-square atau Fishers exact
test dan penghitungan rasio odds) kemudian secara
multivariat dengan regresi logistik.

Hasil Penelitian
Jumlah petugas pemadam kebakaran suku dinas Jakarta
Selatan adalah 380 orang. Sebanyak 332 orang mengisi
kuesioner penyaring dan didapatkan 273 responden yang
Tabel 3. Sebaran Responden Menurut Hasil Survei Diagnostik Stres
Stresor Kerja
Rendah
n
%
Ketaksaan peran (AM)
Konflik Peran (CO)
Beban kerja berlebih
kuantitatif (OQN)
Beban kerja berlebih
kualitatif (OQI)
Pengembangan karir (CD)
Tanggung jawab terhadap
orang lain (RE)

Tingkat Stres
Sedang
n
%

Tinggi
n
%

169
129
167

65,3
49,8
64,5

88
128
90

34
49,4
34,7

2
2
2

0,8
0,8
0,8

115

44,4

140

54,1

1,5

154
143

59,5
55,2

103
111

39,8
39,8

2
5

0,8
1,9

Tabel 4. Hubungan Antara Stres Kerja, Kegiatan dan Kebiasaan Responden dengan Insomnia
Variabel
Ya
Stres Kerja
Ketaksaan Peran
Stres sedang-tinggi
Stres rendah
Konflik peran
Stres sedang-tinggi
Stres rendah
Beban kerja berlebih kuantitatif
Stres sedang-tinggi
Stres rendah
Beban kerja berlebih kualitatif
Stres sedang-tinggi
Stres rendah
Pengembangan karir
Stres sedang-tinggi
Stres rendah
Tanggung jawab terhadap orang lain
Stres sedang-tinggi
Stres rendah
Olah raga malam hari
Olahraga
Tidak olahraga
Merokok: sore sampai malam hari
Merokok
Tidak merokok
Minum alkohol: sore sampai malam hari
Minum
Tidak minum
Minum yang mengandung kafein (kopi/teh): sore sampai malam hari
Minum
Tidak minum
Minum yang mengandung soda: sore sampai malam hari
Minum
Tidak minum
Minum yang mengandung penambah energi: sore sampai malam hari
Minum
Tidak minum
Tempat tinggal dekat sumber bising
Ya
Tidak

490

Insomnia
Tidak

OR

CI 95 %

63
48

27
121

5,88

3,36-10,31

<0,001

79
32

51
97

4,70

2,76-7,99

<0,001

65
46

27
121

6,33

3,61-11,12

<0,001

93
18

51
97

9,83

5,35-18,05

<0,001

70
41

35
113

5,51

3,21-9,47

<0,001

71
40

45
103

4,00

2,41-6,85

<0,001

20
91

26
122

1,03

0,34-1,96

0,925

75
36

95
53

1,16

0,69-1,97

0,571

8
103

4
144

2,80

0,82-9,35

0,088

85
26

118
30

0,83

0,46-1,51

0,542

17
94

24
124

0,93

0,48-1,84

0,844

30
91

33
115

1,29

0,73-2,28

0,380

25
86

18
130

2,10

1,08-4,08

0,027

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12, Desember 2011

Stresor Kerja dan Kejadian Insomnia pada Petugas Pemadam Kebakaran


memenuhi kriteria inklusi. Dari jumlah tersebut diperoleh 259
kuesioner yang terisi secara lengkap. Tabel 1 memperlihatkan
sebaran karakteristik demografi responden sedangkan
sebaran responden menurut kegiatan rekreasi dan kebiasaan
dapat dilihat pada tabel 2.
Sebanyak 43 responden (16,6%) tinggal di lokasi yang
dekat dengan sumber bising (pasar, rel kereta api, jalan tol,
pinggir jalan besar, tempat hiburan, bandara, proyek pembangunan).
Hasil pengukuran tingkat stres kerja dengan kuesioner
Survei Diagnostik Stres dapat dilihat pada tabel 3. Survei
Diagnostik Stres mencakup enam aspek stresor yang meliputi
ketaksaan peran, konflik peran, beban kerja berlebih
kuantitatif, beban kerja berlebih kualitatif, pengembangan
karir, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Dari 259 responden didapatkan 111 orang (42,9%)
menderita insomnia dengan komposisi insomnia ringan 88
orang (34%) dan 23 orang insomnia sedang (8,9%). Tidak
ada responden yang menderita insomnia berat.
Tabel 4 memperlihatkan hubungan antara kegiatan dan
kebiasaan responden serta enam aspek stresor pada survei
diagnostik stres dengan kejadian insomnia berdasarkan
analisis bivariat. Lokasi tempat tinggal yang dekat dengan
sumber bising, dan adanya stresor kerja didapatkan meningkatkan kejadian insomnia.
Analisis multivariat dilakukan terhadap semua variabel
yang pada analisis bivariat memiliki nilai p<0,25. Model akhir
analisis multivariat dengan regresi logistik diperlihatkan pada
tabel 5. Diperoleh tiga variabel yang dominan terhadap
timbulnya insomnia yaitu secara berurutan: stresor beban
kerja berlebih kualitatif, beban kerja berlebih kuantitatif serta
lokasi rumah dekat dengan kebisingan.
Tabel 5. Model Akhir Analisis Multivariat Antara Stressor
Kerja, Kebiasaan Responden dan Lokasi Rumah dengan Insomnia
Variabel

OR

Ketaksaan Peran
Konflik Peran
Beban Kerja Berlebih
Kuantitatif
Beban Kerja Berlebih
Kualitatif
Pengembangan Karir
Tanggung Jawab Terhadap
Orang lain
Kebiasaan minum alkohol
Lokasi rumah dekat dengan
kebisingan
Konstanta

1,75
1.02
3,11

0,81
0,45
1,00

3,80
2,30
4,45

0,157
0,968
0,049

3,88

1,80

8,36

0,001

1,90
1,59

0,94
0,82

3,84
3,06

0,074
0,167

1,47
2,44

0,30
1,06

7,14
5,63

0,636
0,036

0,10

CI 95%
Lower Upper

<0,001

Diskusi
Penelusuran kepustakaan tidak menemukan prevalensi
insomnia pada populasi petugas pemadam kebakaran.
Walaupun demikian, prevalensi insomnia pada penelitian ini
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12, Desember 2011

lebih tinggi bila dibandingkan dengan beberapa pekerjaan


lain seperti polisi di Amerika Serikat (6,5%),12 pengemudi bis
di Finlandia (18,9%),13 dan populasi pekerja pada umumnya
di Korea (32,9%).7 Namun penelitian terhadap pegawai negeri
sipil di Jepang menemukan prevalensi insomnia yang lebih
tinggi yaitu sebesar 54,6%.6 Menurut berbagai kepustakaan,
terjadinya insomnia dihubungkan dengan stres, ansietas,
kelainan psikiatrik lainnya, obat-obatan, kafein, dan lingkungan.14-20,22
Stres merupakan salah satu pemicu yang cukup sering
menimbulkan insomnia, sedangkan pencetus stres adalah:
tekanan/beban dalam pekerjaan, masalah keluarga atau
perkawinan, musibah kematian dalam keluarga.14 Salah satu
reaksi yang terjadi pada seseorang dalam kondisi kerja penuh
stres adalah perubahan perilaku, di antaranya insomnia.2,9,18
Di antara berbagai aspek stresor kerja, yang sudah terbukti
merupakan pencetus insomnia adalah tuntutan dan beban
pekerjaan yang tinggi, konflik intra-grup dan kurangnya
kesempatan kerja.7,19,21
Penelitian ini menemukan bahwa semua jenis stresor
kerja yaitu ketaksaan peran, konflik peran, beban kerja
berlebih kuantitatif, beban kerja berlebih kualitatif, pengembangan karir dan tanggung jawab terhadap orang lain memiliki
hubungan dengan kejadian insomnia pada analisis secara
bivariat. Namun pada analisis multivariat jenis stresor kerja
paling dominan mempengaruhi terjadinya insomnia adalah
beban kerja berlebih, baik secara kualitatif (p=0,001; OR=
3,88) maupun kuantitatif (p=0,049; OR=2,11). Tingginya angka
kebakaran yang terjadi di wilayah kerja mereka (rata-rata
perbulan sebanyak 21 kasus) kemungkinan menjadi penyebab
timbulnya hal tersebut. Selain kejadian kebakaran dengan
tingkat kesulitan yang berbeda-beda, petugas pemadam
kebakaran juga diharapkan memberikan pertolongan pada
situasi bencana lainnya seperti banjir dan gempa bumi.
Penelitian ini tidak menemukan hubungan antara faktor
kebiasaan/gaya hidup dengan terjadinya insomnia. Namun
demikian lokasi tempat tinggal responden yang dekat dengan
sumber kebisingan terbukti menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya insomnia pada penelitian ini (p=0,036;
OR=2,44). Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang mengemukakan bahwa lingkungan yang ramai/bising, lampu
yang terlalu terang, maupun suhu ruangan yang terlalu
dingin/terlalu panas dapat menyebabkan gangguan tidur.17,20
Penelitian ini dilakukan menggunakan desain penelitian
potong lintang (cross-sectional) yang merupakan desain
penelitian yang paling sesuai untuk mengetahui prevalensi
suatu masalah kesehatan. Pengambilan sampel dilakukan
dengan mengikut sertakan semua petugas pemadam
kebakaran yang memenuhi kriteria inklusi (total sample)
sehingga angka prevalensi yang ditemukan pada penelitian
ini menjadi lebih valid. Namun demikian penelitian ini juga
memiliki beberapa kelemahan di antaranya adalah penggunaan
kuesioner yang diisi sendiri oleh responden (self-rating)
yang pengisiannya sangat tergantung dengan kerja sama,
491

Stresor Kerja dan Kejadian Insomnia pada Petugas Pemadam Kebakaran


kejujuran dan tanggung jawab responden. Pada saat
melakukan pengisian kuesioner, pada responden telah
dijelaskan mengenai tujuan penelitian dan kerahasiaan dari
kuesioner sehingga diharapkan responden mengisinya
dengan jujur. Selain itu beberapa faktor lain yang menurut
kepustakaan juga berpengaruh terhadap timbulnya insomnia seperti stresor di rumah dan di kehidupan sosial, faktor
internal individu (suku, kepribadian, pola tingkah laku,
dukungan sosial, dan lain-lain) serta keadaan lingkungan
kerja tidak diteliti pada penelitian ini. Adanya beberapa
penyakit yang dapat menimbulkan insomnia seperti berbagai
penyakit yang menimbulkan rasa nyeri, diabetes, asma, kanker,
dan lain-lain pada penelitian ini telah disingkirkan melalui
kuesioner penyaring dan pemeriksaan kesehatan sebelum
pengisian kuesioner.
Kesimpulan
Penelitian ini menemukan prevalensi insomnia pada
petugas pemadam kebakaran cukup tinggi yaitu sebesar
42,9%. Faktor-faktor yang ditemukan berhubungan dengan
terjadinya insomnia adalah beban kerja berlebih baik kualitatif
maupun kuantitatif dan lokasi tempat tinggal dekat dengan
sumber bising. Penatalaksanaan stressor kerja yang memadai
diperlukan sebagai pencegahan insomnia.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terima kasih ditujukan kepada Kepala Dinas
Pemadam Kebakaran DKI Jakarta dan Kepala Suku Dinas
Pemadam Kebakaran Kotamadya Jakarta Selatan atas izin
yang diberikan bagi pelaksanaan penelitian ini. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada seluruh petugas pemadam
kebakaran yang bersedia menjadi responden penelitian ini.
Daftar Pustaka
1.

2.

3.

4.

5.

6.

492

Rosenstock L, Cullen MR, Brodkin CA, Redlich CA. Textbook


of clinical occupational and environmental medicine. 2 nd ed.
London: Elsevier Saunders; 2004.
Seward JP. Occupational stress. In: LaDou J, editor. Occupational and environmental medicine. 2nd ed. New York: Appleton
and Lange; 1997. p. 585-614.
Levy BS, Wegmen DH, Baron SL, Sokas RK. Occupational and
environmental health - recognizing and preventing disease and
injury. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins;
2006. p. 383-92.
Nakata A, Haratani T, Takahashi M, Kawakami N, Arito H,
Kobayashi F, et al. Job stress, social support, and prevalence of
insomnia in a population of Japanese daytime workers. Soc Sci
Med. 2004;59(8):1719-30.
Tachibana H, Izumi T, Honda S, Takemoto TI. The prevalence
and pattern of insomnia in Japanese industrial workers: relationship between psychosocial stress and type of insomnia. Psychiatry Clin Neurosci. 1998;52(4):397-402.
Murata C, Yatsuya H, Tamakoshi K, Otsuka R, Wada K,
Toyoshima H. Psychological factors and insomnia among male

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

civil servants in Japan. Sleep Med. 2007;8(3):209-14.


Kim HC, Kim BK, Min KB, Min JY, Hwang SH, Park SG. Association between job stress and insomnia in Korean workers. J Occup
Health. 2011 Jun 16;53(3):164-74. Epub 2011 Mar 16 [cited
2012 January 30]. Available from: http://joh.sanei.or.jp/pdf/E53/
E53_3_02.pdf.
Berger W, Coutinho ESF, Figueira I, Marques-Portella C, Luz
MP, Neylan TC, et al. Rescuers at risk: a systematic review and
meta-regression analysis of the worldwide current prevalence
and correlates of PTSD in rescue workers. Soc Psychiatry
Psychiatr Epidemiol. 2011 June 18; [cited 2012 Jan 28]; [Epub
ahead of print]. Available from: http://www.springerlink.
c o m . p r o x y. l i b r a r y. u u . n l / c o n t e n t / b 4 8 r 5 3 2 2 k p 8 8 4 6 3 x /
fulltext.html.
Stellman JM, editor. Encyclopedia of occupational health and
safety. 4th ed. Geneva: International Labour Office; 1998. p. 956.
Isfandari S. Penelitian instrumen survei diagnosa stres dan stres
strait. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Departemen Kesehatan
RI; 1992.
Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan RI. Pedoman
penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa III. Yogyakarta:
Departemen Kesehatan RI; 1993.
Rajaratnam SM, Barger LK, Lockley SW, Shea SA, Wang W,
Landrigan CP, et al. Sleep disorders, health, and safety in police
officers. JAMA. 2011;306(23):2567-78.
Partinen M, Eskelinen L, Tuomi K. Complaints of insomnia in
different occupations. Scand J Work Environ Health. 1984;
10:467-9.
Rafknowledge. Insomnia dan gangguan tidur lainnya. Jakarta:
Elex Media Komputindo; 2004.
Medscape [homepage on the internet]. Insomnia. WebMD;
c1994-2012 [updated 2012 January 17; cited 2012 January 30].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1187829overview#aw2aab6b2b4aa.
American Psychiatric Association. Sleep disorders. In: Diagnostic and statistical manual of mental disorders. 4th ed.Washington
DC: American Psychiatric Association; 2005. p. 601.
Medic8 [homepage on the internet]. Insomnia. Medic8 [cited
2006 December 19]. Available from: http://www.medic8.com/
sleep-disorders/insomnia.htm
Baker DB, Karasek RA. Stress. In: Levy BS, Wegman DH, editors. Occupational health-recognizing and preventing work related disease and injury. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams
and Wilkins; 2000. p. 419-36.
McCrae CS, Durrence HH, Lichstein KL. Insomnia In: Thomas
JC, Hersen, editors. Handbook of mental health in the workplace. California: Sage Publications; 2002. p. 351.
Helpguide.org [homepage on the internet]. Insomnia and sleep
problems: Causes, types and effects. Helpguide.org [cited 2006
December 19]. Available from: http://www.helpguide.org/life/
insomnia_causes_diagnosis.htm.
Nakata A, Haratani T, Takahashi M, Kawakami N, Arito H,
Kobayashi F, Araki S. Job stress, social support, and prevalence
of insomnia in a population of Japanese daytime workers. Social
Sci Med. 2004;59:171930.
Doi Y. An epidemiologic review on occupational sleep research
among Japanese workers. Ind Health. 2005;43:3-10.

FAS

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12, Desember 2011