You are on page 1of 4

Kasus

Seorang ayah tega mencabuli putrinya, selama 4 tahun.


Sumber: Senin 3 November 2014/ Harian Kompas Online

Analisa Kasus
Seorang warga Desa Paso, Kecamatan Baguala, Ambon berinisial KB (52) tega
mencabuli putri kandungnya dari usia 6 tahun hingga 10 tahun. Kasus ini termasuk
kekerasan seksual pada anak. Menurut Delsboro, 1963 kekerasan pada anak
adalah anak yang mendapat perlakuan badani yang keras, menarik perhatian
instansi, sehingga menghasilkan pelayanan untuk melindungi anak tersebut.
Menurut David Gil, 1973 kekerasan pada anak adalah setiap tindakan yang
mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal.Anak memiliki hak-hak
untuk hidup dan dilindungi oleh keluarga terutama orang tua. Menurut Konvensi Hak
Anak, PBB(1989)-Indonesia(1990) hak untuk anak antara lain hak untuk bertahan
hidup yang meliputi pelayanan kesehatan, hidup yang layak, makanan, tempat
istirahat dan berteduh, air bersih, nama dan kebangsaan.Yang kedua adalah hak
untuk tumbuh kembang meliputi pendidikan, rekreasi dan mengembangkan seni.
Yang ketiga hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap segala bentuk
kekerasan dan menelantarkan, eksploitasi sosial maupun seksual, termasuk
terhadap anak cacat, pengungsi, yatim piatu, korban peperangan atau anak dengan
kesulitan

hokum.Yang

keempat

yaitu

hak

untuk

berpartisipasi

dalam

mengembangkan seni-budaya, bebas untuk bersuara, mendapatkan segala macam


informasi dan hak untuk didengar. Klasifikasi kekerasan pada anak dibagi dua yaitu
kekerasan pada anak dalam keluarga dan kekerasan anak di luar keluarga.
Kekerasan

pada

anak

alam

keluarga

meliputi

penganiayaan

fisik,

kelalaian/penelantaran anak, penganiayaan emosional, penganiayaan seksual, dan


sindrom Munchausen. Kekerasan anak di luar keluarga yaitu di institusi seperti
pendidikan, tempat kerja, jalan dan medan perang.Faktor resiko yang dapat
mempengaruhi terjadinya kekerasan pada anak adalah faktor sosiokultural yang

dapat dibagi menjadi stress anak, stress keluarga, stress orang tua yang dapat
menjadi situasi pencetus dan akhirnya terjadilah perbuatan kekerasan pada anak.
Pada kasus ini, ayah tersebut termasuk melakukan kekerasan pada anak yang
dispesifikan pada kekerasan seksual pada anak. Tindakan tidak terpuji ini telah
dilakukan tersangka berulang kali sejak putrinya berusia 6 tahun. Hal ini diketahui
para tetangga yang selalu curiga saat mengetahui kondisi korban yang tampak tidak
sehat dan selalu murung. Oleh para tetangga, korban dibawa ke dokter untuk
diperiksa. Dan akhirnya korban menceritakan kejadian yang dialaminya. Korban pun
akhirnya mengaku bahwa dia telah dicabuli oleh ayah kandungnya sendiri selama
bertahun-tahun tepatnya selama 4 tahun. Setelah, korban mengaku, para tetangga
merasa prihatin dan langsung melaporkan perbuatan ayah korban ke kantor polisi
Pulau Ambon untuk diproses secara hukum. Saat ditangkap, pelaku (ayah korban)
melarikan diri. Namun setelah dalam masa pengejaran polisi, akhirnya pelaku
ditangkap. Akibat perbuatan kejam ayah kandungnya sendiri, korban dinyatakan
positif terjangkit virus HIV/AIDS setelah diperiksa dokter. Kasus ini dapat membuat
trauma anak berusia 10 tahun ini selama hidupnya akibat perbuatan ayah
kandungnya sendiri. Hal ini juga dapat mempengaruhi sikap dan pikiran anak
tersebut yang menjadi malu dan menarik diri dari lingkungan. Kasus yang dialami
anak ini, tidak akan dilupakan selama hidupnya. Kasus ini seharusnya diamati oleh
KPA agar anak tersebut mendapatkan perlindungan dan merasa aman.
Sejumlah kekerasan seksual pada anak merebak di sejumlah wilayah di tanah air.
Setelah kasus JIS, mengemuka kasus Emon di Sukabumi, dan sejumlah tempat
lainnya. Dan sekarang timbul kasus KB yang mencabuli putrid kandungnya sendiri.
Hal ini merupakan kondisi yang memprihatinkan bagi Indonesia. Akhir-akhir ini
terdapat berbagai fenomena perilaku negatif terlihat dalam kehidupan sehari-hari
pada anak-anak. Melalui surat kabar atau televisi dapat dijumpai kasus-kasus anak
usia dini seperti kekerasan baik itu kekerasan fisik, verbal, mental bahkan pelecehan
atau kekerasan seksual juga sudah menimpa anak-anak. Bentuk kekerasan seperti
ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah dikenal anak, seperti keluarga,Menurut
data Komnas Perlindungan Anak (PA), kasus kekerasan seksual yang menimpa
anak-anak meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu. Dari tahun 2010 ke tahun
2011 saja, angka kenaikannya sudah lebih dari 100 kasus.

Di antara lebih dari 2500 kasus kekerasan pada anak yang terjadi pada tahun 2011
lalu, mayoritas di antaranya atau sekitar 62,7% adalah kejahatan seksual yang
dilakukan dalam bentuk sodomi, pemerkosaan, pencabulan, serta inses. Dan data
yang dihimpun Kasandra sejak 1995 hingga 2015, jumlah kasus kekerasan seksual
pada anak cenderung terus meningkat. Ironisnya, alih-alih ancaman yang datang
dari luar sana, kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami anak-anak justru lebih
sering terjadi di dalam lingkungan terdekat anak. Antara lain di dalam rumahnya
sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak. Pelakunya adalah
orang yang seharusnya melindungi anak, seperti orang tua, paman, guru, juga
bapak atau ibu tiri,
Kekerasan seksual pada anak-anak merupakan aktivitas seksual yang melibatkan
anak-anak oleh orang yang lebih dewasa. Hal tersebut mengakibatkan trauma baik
fisik, psikis, sosial maupun perilaku. Fenomena tersebut tidak selalu terlaporkan,
mengingat keadaan, kesediaan/keberanian korban untuk melaporkan, dukungan
keluarga untuk mempertahankan laporan ke polisi dan kepedulian berbagai pihak
pada perlindungan anak. Demi melindungi anak, maka diperlukan suatu strategi
prevensi primer untuk menekan angka kasus tersebut. Hal ini juga diperlukan faktor
orang tua yang harus mengetahui cara edukasi kepada anak yang benar dan
memahami kekerasan seksual itu seperti apa. Lalu juga kepolisian yang memiliki
tugas untuk mengayomi masyarakat diperlukan untuk mencegah terjadinya
kekerasan seksual pada anak yang terus meningkat di Indonesia. Dan Komisi
Perlindungan Anak Indonesia yang harus lebih kuat dalam mencegah timbulnya
kekerasan seksual pada anak di Indonesia.

CHILD ABUSE
ESSAY
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi dan
Balita
Dibimbing oleh:
Nur Aini Retno, SST.

Disusun oleh:
Amira (125070600111055)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN
Maret, 2015