You are on page 1of 39

Penyakit Tropis dan Endemis

yang disebabkan oleh Parasit


- Onchocerciasis
- Schistosomiasis
- Leishmaniasis
dr. Damar Pramusinta, MPH

ONCHOCERCIASIS

Dikenal juga dengan nama River Blindness


(Kebutaan Sungai) atau Robles disease (penyakit
Robles) adalah penyakit yang disebabkan oleh
infeksi parasit Onchocerca volvulus, suatu nematoda
(cacing bulat).
Penyakit ini merupakan penyebab kebutaan yang ke
dua di dunia setelah penyakit trachoma.
Penyebab utamanya bukan cacing tetapi bakteri
yang bersimbiosis di dalam cacing tersebut yang
bernama Wolbachia pipientis yang akan
menyebabkan reaksi inflamasi berat yang berakibat
mata menjadi buta.

Black fly- vektor pembawa cacing Onchocerca


Volvulus- tampak cacing keluar dari antena lalat.

Black Fly

Epidemiologi

Infeksi paling sering terjadi di daerah sub-Sahara


Afrika, meskipun kasus juga pernah dilaporkan
terjadi di Yaman, dan daerah terpencil di Amerika
Tengah dan Selatan.
Sekitar 99% kasus terjadi di Afrika, endemik pada
+/- 30 negara Afrika. Keganasan penyakit ini lebih
berat di daerah yang berada di sepanjang sungai
utama di bagian utara dan tengah Afrika.
Data tahun 2008 diperkirakan 18 juta penderita
onchocerciasis ini dan diperkirakan 300.000 kasus
kebutaan yang berkaitan dengan infeksi ini.

Patogenesis

Parasit ini masuk ke dalam manusia melalui gigitan


lalat hitam (black fly).
Larva cacing tersebar luas ke seluruh tubuh setelah
gigitan.
Saat cacing mati, simbion mereka yaitu Wolbachia
akan lepas sehingga memicu reaksi sistem imun
manusia yang menyebabkan rasa gatal yang hebat,
dan menghancurkan jaringan optik di mata.

Gejala Klinis

Gejala dan tanda yang sering terjadi adalah rasa


gatal, pembengkakan dan inflamasi pada kulit.
Sistem klasifikasi sudah dibuat berdasarkan derajat
perubahan pada kulit:

Acute papular onchocerciasis: papula yang gatal dan


tersebar

Chronic papular onchocerciasis: papula besar,


menyebabkan hiperpigmentasi

Lichenified onchocerciasis: papula hiperpigmentasi


dan plak, disertai limfadenopati, pruritus dan
infeksi sekunder bakteri yang umum

Atrofi kulit: kulit kehilangan elastisitas, mirip seperti


kertas tisu, tampak seperti kulit kadal

Depigmentasi: tampak seperti kulit macan tutul,


biasanya pada bagian depan kaki bawah.

Gejala di mata melibatkan banyak bagian di mata


dari konjungtiva ke kornea, uvea, dan bagian
posterior mata termasuk retina dan saraf mata.
Mikrofilaria bermigrasi ke bagian permukaan
kornea menyebabkan keratitis di area terinfeksi
Jika infeksi menjadi kronis, keratitis sklerotik bisa
terjadi membuat area yang terinfeksi menjadi putih,
selanjutnya seluruh kornea menjadi putih yang
berlanjut menjadi kebutaan.

Leopard skin depigmentasi pada kaki penderita


onchocerciasis mirip kulit macan tutul

Filaria menyerang mata menyebabkan kebutaan

Diagnosis

Dengan melihat gejala klinis


Melakukan biopsi pada kulit dan menemukan
mikrofilaria dari biopsi tersebut, bisa juga
digunakan PCR untuk mendeteksi jika larva tidak
terlihat
Pada pasien dengan nodul, nodul diambil dan
diperiksa apakah ada cacing dewasa atau tidak
Pada mata yang terinfeksi bisa terlihat larva

Anak kecil memandu orang-orang dewasa yang buta


akibat onchocerciasis

Penatalaksanaan

Pengobatan

Untuk pengobatan massal digunakan ivermectin.


Dosis: 2 kali dosis pemberian dengan jarak 6
bulan, diulangi setiap 3 tahun.

Untuk pengobatan tunggal digunakan doksisiklin


untuk membunuh Wolbachia yang hidup dalam
cacing. Pemberiannya setiap hari selama 4-6
minggu

SCHISTOSOMIASIS

Schistosomiasis merupakan salah satu penyakit


zoonosis yang menurut cara penularan/transmisinya
diklasifikasikan pada golongan metazoonosis.
Metazoonosis merupakan zoonosis dengan siklus
penularan yang membutuhkan vertebrata dan
melibatkan invertebrata untuk menyempurnakan
siklus hidup agen penyebab penyakit.

Disebut juga bilharziasis karena pertama kali


ditemukan trematoda dewasa oleh Theodor Bilharz
tahun 1851 di Kairo, Mesir.
Nama lain penyakit ini Katayama Syndrome, diduga
menyebabkan hematuria endemik di Mesir yang
telah dilaporkan sejak jaman Fir'aun.
Manusia menjadi salah satu induk semang dalam
siklus hidupnya. Kebanyakan menyerang anak-anak
usia 14 tahun.

Penyakit ini berjalan kronis dan menimbulkan


penderitaan selama bertahun-tahun, menurunkan
kapasitas kerja dan dapat berakhir dengan kematian.
Penyakit ini ditularkan melalui air (water borne
disease) yang biasanya didapat karena berenang
dalam air yang mengandung induk semang
antaranya yaitu siput (biomphalaria elliptical,
Oncomelania hupensis).

Biomphalaria
elliptical
Oncomelania
hupensis

Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh cacing Trematoda


genus Schistosoma.
Saat ini dikenal 6 spesies yaitu Schistisoma
hematobium, S. mansoni, S. intercalatum, S.
japonicum, S. bovis dan S. mattheei.
Ke-enam spesies ini hidup di vena dari induk
semangnya dan memiliki siklus hidup yang serupa.
Penyakit ini dapat ditularkan dari manusia ke hewan
mamalia dan sebaliknya melalui perantaraan siput
Oncomelania hupensis lindoensis.

Schistosoma

Epidemiologi

Banyak ditemukan di negara tropis di Afrika,


Karibia, sebelah timur Amerika Selatan, Asia
Tenggara dan Timur Tengah. Banyak terdapat
didaerah pedesaan pertanian dan pinggiran kota.
Tahun 2010 kira-kira ada 238 juta penderita, 85%
nya di Afrika
Dalam hal infeksi parasit, schistosomiasis ini
menduduki peringkat kedua penyakit infeksi parasit
setelah malaria.
Usia penderita paling banyak adalah < 14 tahun

Patogenesis

Penularan terjadi apabila larva serkaria yang berada


dalam air menemukan inang definitif
(manusia/vertebrata).
Telur Schistosoma dikeluarkan melalui feses
manusia atau urin. Telur akan menetas di air dan
berubah menjadi larva yang disebut mirasidium.
Larva selanjutnya berkembang di dalam tubuh siput
dan dikeluarkan sebagai serkaria. Serkaria ini dapat
berenang dan menembus ke dalam lapisan kulit
inang definitif.

Setelah menembus kulit, serkaria mengalami


perkembangan dan bermigrasi menuju hati. Setelah
itu kembali bermigrasi ke pembuluh darah vena
menuju usus besar (S. mansoni dan S. japonicum)
atau vesica urinaria (S. haematobium) di mana
cacing akan tumbuh menjadi dewasa, kawin dan
bertelur.
Kontak langsung dengan serkaria akan
menyebabkan kegatalan dan ruam pada kulit yang
disebut swimmers itch. Gejala klinik dapat terlihat
setelah 23 minggu, namun kebanyakan
asimptomatis.

Gejala Klinis

Masa inkubasi 8 sampai 12 minggu


Gejala yang timbul: seperti gejala keracunan,
demam, disentri, penurunan berat badan, penurunan
nafsu makan, gejala saraf, kekurusan dan lambatnya
pertumbuhan pada anak.
Pada penderita yang sudah kronis dapat
menyebabkan pembengkakan hati dan limpa serta
sirosis hati yang umumnya berakhir dengan
kematian.

Ascites akibat sirosis hepatik yang diakibatkan


penyakit schistosomiasis

Diagnosis

Diagnosa ditegakkan dengan menemukan telur


Schistosoma pada pemeriksaan feses dan urin.
Dapat pula dilakukan biopsi rectal untuk
menemukan telur cacing, atau uji serologis untuk
menemukan antibodi atau antigen Schistosoma
Bisa juga dengan memeriksa ada tidaknya antigen
parasit dengan alat ELISA melalui sampel darah

Penatalaksanaan

Pengobatan

Pengobatan secara massal dengan menggunakan


niridazole (S. haematobium) dan hycanthone dan
potassium antomony dimercaptosuccinate (S.
japonicum & S. mansoni)

Pengobatan untuk perorangan adalah praziquantel


dengan dosis 20mg/kgbb.

Pada hewan dosis 25mg/kgBB dan diulangi 3-5


minggu kemudian

LEISHMANIASIS

Leishmaniasis adalah penyakit yang disebabkan


oleh protozoa parasit yang masuk ke dalam genus
leishmania dan ditularkan melalui gigitan sand fly
Merupakan penyakit yang disebarkan oleh hewan
(zoonosis) tetapi juga bisa ditularkan antar manusia
Infeksi manusia disebabkan oleh 21-30 spesies yang
menginfeksi mamalia

Etiologi

Disebabkan oleh Leishmania patogen

Dikenal ada 3 spesies Leishmania yaitu:

Leishmania major

Leishmania infantum

Leishmania braziliensis

Vektor nya adalah Sandfly (Phlebotomus)

Leishmania

Sand Fly

Epidemiologi

Banyak terdapat di negara-negara tropis dan


subtropis, dan ditemukan kurang lebih di 88 negara.
Dari hutan hujan di Amerika tengah dan selatan
sampai ke gurun di Asia Timur dan Timur Tengah.
Telah menginfeksi kira-kira 12 juta orang di seluruh
dunia.
Visceral leishmaniasis telah menyebabkan 60.000
kematian setiap tahunnya.
Lebih dari 90% kasus Visceral leishmaniasis ada di
India, Bangladesh, Nepal, Sudan dan Brazil.

Patogenesis

Leishmaniasis ditularkan melalui gigitan Sand fly


betina.
Sand fly menginjeksi parasit dalam bentuk yang
infektif (bentuk metacyclic promastigotes).
Promastigotes ini kemudian dimakan oleh makrofag
yang kemudian berubah menjadi amastigotes.
Amastigotes bertambah banyak dalam sel yang
terinfeksi dan mempengaruhi jaringan yang lain.
Jaringan yang terpengaruh ini akan menimbulkan
manifestasi klinis dalam berbagai bentuk penyakit
leishmaniasis

Gejala Klinis

Tanda utama leishmaniasis adalah luka pada kulit


yang muncul beberapa minggu sampai bulan setelah
infeksi leishmania melalui gigitan sand fly.
Gejala umum lain yaitu demam, pembesaran limpa
dan hati serta anemia
Leishmaniasis dikenal menjadi beberapa tipe:

Visceral leishmaniasis: paling fatal, bisa


menyebabkan kematian bila tidak diobati

Cutaneous leishmaniasis: tipe yang paling sering,


berupa lesi pada kulit bekas gigitan, bisa sembuh
dalam beberapa minggu sampai tahun menjadi
jaringan parut/scar.

Diffuse cutaneous leishmaniasis: lesi pada kulit


meluas sehingga mirip penyakit kusta, sehingga
lebih susah untuk diobati

Mucocutaneous leishmaniasis: ulkus pada kulit yang


menyebar menyebabkan kerusakan jaringan
terutama di hidung dan mulut.

Cutaneous leishmaniasis

Cutaneosus leishmaniasis

Diagnosis

Ditemukannya amastigotes dari sampel darah yang


berasal dari pembuluh darah perifer, aspirasi dari
sumsum tulang, limpa, pembuluh limfe ataupun dari
lesi kulit
Teknik pemeriksaan imunologi dengan Enzymelinked immunosorbent assay (ELISA) maupun
Direct Agglutination Test (DAT) lebih bisa diterima
karena tidak invasif, namun kurang sensitif dan
spesifik
Polymerase Chain Reaction (PCR) assays bisa
digunakan untuk mendeteksi DNA Leishmania
karena lebih sensitif dan spesifik

Penatalaksanaan

Pengobatan yang umum menggunakan antimony


(pentavalent antimonials), yaitu meglumine
antimoniate (Glucantine) dan sodium stibogluconate
(pentostam), namun sudah banyak yang resisten
Amphotericin (AmBisome) sekarang menjadi
alternatif terapi, namun dilaporkan gagal mengobati
visceral leishmaniasis
Miltefosine (Impavido) merupakan obat baru untuk
cutaneous maupun visceral leishmaniasis
Paromomycin bagus untuk pengobatan visceral
leishmaniasis, namun obatnya cukup mahal

End of slide