Вы находитесь на странице: 1из 8

PENENTUAN KADAR PARACETAMOL DALAM TABLET DENGAN

METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

KELOMPOK 3
ANGGOTA :
NI PUTU DIAH ARINI TD

P07134013003

I GST. AYU RESI PRADNYA DEWI

P07134013005

NI KADEK LULUS SARASWATI

P07134013007

DEWA GDE AGUS SURYAWAN

P07134013009

NI PUTU ANDRI PRATIWI

P07134013011

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN D-III ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 TUJUAN
I.
Tujuan Umum
1. Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar parasetamol dalam tablet
II.

dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis.


Tujuan Khusus
1. Membuat kurva hubungan konsentrasi parasetamol dan absorbansi pada
panjang gelombang maksimum.
2. Membuat persamaan regresi linier.
3. Menentukan kadar parasetamol dalam tablet dengan spetrofotometri UVVis dengan kurva kalibrasi dan persamaan garis regresi linier.

1.2 LATAR BELAKANG


Panas tinggi atau demam adalah suatu kondisi saat suhu badan lebih tinggi
daripada biasanya atau diatas suhu normal. Umumnya terjadi ketika seseorang
mengalami gangguan kesehatan. Suhu normal manusia berkisar antara 36-370 C.
Demam merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dengan
mengeluarkan zat antibodi. Pengeluaran zat antibodi yang lebih banyak daripada
biasanya ini diikuti dengan naiknya suhu (Widjaja, 2001).
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat yang dapat digunakan untuk
meredakan demam. Selain itu Parasetamol juga dapat digunaan untuk melegakan
sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan. Digunakan dalam sebagian besar
resep obat analgesik salesma dan flu. Parasetamol aman dan dapat memberikan
efek bila diberikan dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis
obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.
Untuk mengetahui seberapa kandungan atau jumlah zat paracetamol
dalam suatu obat, maka perlu dilakukan penetapan kadar parasetamol dalam tablet
dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Parasetamol di kenal dengan nama lain asetaminofen merupakan
turunan para aminofenol yang memiliki efek analgesik serupa dengan salisilat
yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
1

Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga


berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Parasetamol merupakan penghambat
biosintesis prostaglandin yang lemah(Gunawan et al, 2007). Namun
penggunaan dosis tinggi dalam waktu lama dapat menimbulkan efek samping
methemoglobin dan hepatotoksik (Siswandono & Soekardjo, 1995).

2.1.

BAB II
DASAR TEORI
Pengertian Parasetamol
Parasetamol (asetaminofen) merupakan senyawa turunan sintetis dari
paminofenol yang memberikan efek analgetik dan antipiretik. Senyawa ini
mempunyai rumus kimia N-asetil-p-amonofenol atau p-asetamidofenol atau

4-hidroksiasetalinid, bobot molekul 151,16 gram/mol dengan rumus kimia


C8H9NO2 dan mempunyai struktur molekul sebagai berikut :

Gambar 1. Struktur Kimia Parasetamol

Parasetamol bila diukur absorbansinya pada spektrofotometri UV akan


memperlihatkan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 245 nm
untuk larutan asam dan 257 nm untuk larutan basa.

2.2.

Sifat Fisiko Kimia Parasetamol


Tablet parasetamol mengandung asetaminofen C8H9NO2, tidak
kurang dari 95,0 % dan tidak lebih dari 105,0 %, dari jumlah yang tertera pad
etiket. Parasetamol berupa hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau dan
berasa pahit yang larut dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol 95 % P, 13 bagian
aseton P, 40 bagian gliserol P,9 bagian propilemglikol P, dan larut dalam alkali
hidroksida (Anonim, 1979).

2.3.

Farmakokinetika
Parasetamol diberikan secara oreal. Penyerapan dihubungkan dengan
tingkat pengosongan perut dan konsentrasi darh puncak biasanya tercapai
dalam 30-60 menit. Parasetamol mikrosomal hati dan diubah menjadi sulfat
dan glukorida acetaminopen, yang secara farmakologis tidak aktif. Kurang
dari 5 % diekskresikan dalam keadaan tidak berubah. Metabolit minor, tetapi
sangat aktif (N-acetyl-p-benzoquinone) adalah penting dalam dosis besar
karena efek toksinya terhadap hati danginjal. Waktu paruh parasetamol
adalah 2-3 jam dan relatif tidak berpengaruh oleh fungsi ginjal. Dengan

kualitas toksik atau penyakit hati, waktu paruhnya dapat meningkat dua kali
lipat atau lebih.
Spektrofotmeter
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau

2.4.

absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan


pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan
sering disebut dengan spektrofotometri (Basset,1994).
Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah
ultraviolet (200 350 nm) dan sinar tampak (350 800 nm) oleh suatu
senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi
elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang
berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang
gelombang cahaya uv atau cahaya tampak bergantung pada mudahnya
promosi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi
untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih
pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada
panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya
dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih
mudah dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang
gelombang lebih pendek.
Analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis dapat
digolongkan atas tiga macam pelaksanaan pekerjaan, yaitu : (1) analisi zat
tunggal atau analisis satu kompenen; (2) analisia kuantitatif campuran dua
macam zat atau analisis dua kompenen; dan (3) analisis kuantitatif campuran
tiga macamzat atau lebih (analisis multi kompenen).
2.5 Analisis Kompenen Tunggal
Jika absorpsi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjangg
elombang, suhu, kondisi pelarut yang sama, dan absorbansi masing-masing
larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurusakan teramati

sesuai dengan persamaan Hukum Lambert Beer. Grafik ini disebut dengan
plot hukum Lambert Beer dan jika garis yang dihasilkan merupakan suatu
garis lurus maka dapat dikatakan bahwa hukum Lambert Beer dipenuhi pada
kisaran konsentrasi yang teramati. Cara lain untuk menetapkan kadar sampel
adalah dengan menggunakan perbandingan absorbansi sampel dengan
absorbansi baku atau dengan menggunakan persamaan regresi linier yang
menyatakan hubungan konsentrasi baku dengan absorbansinya. Persamaan
kurva baku digunakan untuk menghitung kadar dalam sampel.
Persamaan Hukum Limbert Beer :
Keterangan:

A= b c

A = Absorbansi
= Absorptivitas molar (cm mg/mL)
b = Tebal kuvet (cm)

Dengan mengetahui nilai absorbansi dari larutan sampel, melaui


kurvakalibrasi dapat ditentukan konsentrasinya. Penetapan kadar parasetamol
juga dapat ditentukan melalui persamaan regresi linier :
y = bx + a

Keterangan :
y = Absorbansi
x = Konsentrasi
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 ALAT DAN BAHAN


a. Alat
1. Spektrofotometer UV-vis
2. Kuvet
3. Labu takar 10 ml
4. Labu takar 25 ml
5

5. Labu takar 100 ml


6. Pipet Volume 1 mL
7. Pipet Volume 2 ml
8. Pipet Volume 5 mL
9. Pipet Volume 10 mL
10. Gelas beaker
11. Botol Vial
12. Pipet Tetes
13. Corong gelas
14. Sendok tanduk
15. Batang pengaduk
16. Sudip
17. Timbangan
18. Mortar pastle
19. Tissue
20. Lap
21. Kertas perkamen
22. Kertas saring
b. Bahan
1. Tablet paracetamol 500mg
2. Parasetamol serbuk
3. NaOH padat
4. Aquadest

DAFTAR PUSTAKA
Diah.

2015.

Laporan

Toksikologi

http://id.scribd.com/doc/43395375/laporan-

TOKSIKOLOGI-DIYAH
Faula. 2009. Laporan praktikum Pengujian Paracetamol

http://faulampung-

sahabatlabkimia.blogspot.com/2009/10/laporan-praktikum-pengujianparacetamol.html
Gusni.

2010.

Spektrum

Warna.

http://gusnil45mind.files.wordpress.com/2010/09/spektrum-warna.png
Widodo,

Wahyu

Eko

http://farmasi07itb.wordpress.com/2010/03/13/uv-vis-

spektrofotometry/