Вы находитесь на странице: 1из 4

Dextromethorphan (d-3-metoksi-N-metilmorfinan) adalah derivate

dari morfinan Sintetik yang bekerja sentral dengan meningkatkan


ambang rangsang reflek batuk sam dengan kodein.potensi antitusifnya
lebih kurang sama dengan kodein. Berbeda dengan kodein dan 1metorfan, dextromethorphan tidak memiliki efek analgesic, efek sedasi,
efek pada saluran cerna dan tidak mndatangkan adiksi atau
ketergantungan. Dextromethorphan efektif untuk mengontrol batuk
eksperimen maupun batuk patologik akut maupun kronis.
Dextromethorphan juga memiliki efek pengurangan secret dan efek
antiinflamasi ringan. Mekanisme kerjanya berdasarkan peningkatan
ambang pusat batuk diotak. Pada penyalahgunaan dengan dosis tinggi
dapat terjadi fek stimulasi SSP.
Dextromethorphan tersedia dalam bentuk tablet, sirup berisi 10-20
mg/ml. dosis dewasa 10-20 mg setiap 4-6 jam, maksimum 120 mg/
hari. Meninggikan dosis tidak akan membantu kuatnya efek, tetapi
dapat memperpanjang kerjanya sampai 10-12 jam, dan ini dapat
dimanfaatkan untuk mengontrol batuk malam hari. Dosis anak 1 mg/kg
BB/hari dalam dosis terbagi 3-4 kali sehari (Munaf, 1994 ).
Dextromethorphan is readily available for purchase or theft in a
number of over-the-counter cough and cold preparations (see above)
and is referred to as dex, DXM, robo (Robo-tripping), skittles (skittling),
poor mans PCP, red devils, tussin, vitamin D (Carr, 2006). A
concentrated dextromethorphan powder can be extracted by various
methods from cold preprations, e.g. Coricidin HBP Cough and Cold
tablets (street name Triple C). In recent years, dextromethorphan has
appeared in Ecstasy (MDMA) mimic or combination tablets (DEA,
2003).v
Dextromethorphan is abused by individuals of all ages but its abuse by teenagers and young adults is
of concern. This abuse is fueled by dextromethorphans over the counter availability, legality,
inexpensive price, and the extensive "how to" abuse information on various websites. The sale of the
powdered form of dextromethorphan over the Internet poses additional risks due to the uncertainty of

composition and dose. However, toxicity is rare and somewhat self-limiting and reports of
dependence are infrequent. This suggests that simple steps to limiting availability through marketing
and purchasing constraints would be sufficient to limit dextromethorphan misuse and abuse.
According to the 2008 WHO questionnaire for review of
psychoactive substances for 35th ECDD (Annex 1), when abused,
dextromethorphan is administered orally in large amounts and the
experience varies by dose. Recreational doses can vary and range from
100 mg to 1200 mg or more. Low doses produce a mild stimulant effect.
Moderate doses generally produce intoxicating effects that are
sometimes compared to alcohol or cannabis use. In high doses
dextromethorphan acts as a dissociative hallucinogenic substance and
can cause a feeling of separation from one's body. Warnings regarding
dangerous interactions with other substances (e. g. dextromethorphan
+ MDMA) are quoted. In the USA dextromethorphan is reportedly
abused in combination with alcohol by adolescents primarily for its
hallucinatory effects. It is abused by all age groups, however abuse in
the adolescent population is especially a concern.
Ingesting large doses of DM will result in several psychotropic
effects, primarily as a result of accumulation of the active
metabolite dextrophan.21,22 Symptoms have been described to
occur in stages or steps (Table 1).3 Initially, abusers report mild
stimulant effects followed by hallucinations and delusions. 3,6
Subsequently, abusers report development of feelings of dissociation
often described as out-of-body experiences similar
to those often associated with phencyclidine and ketamine. 3
These effects are often accompanied by feelings of euphoria,
ataxia, restlessness, and loss of concentration.6 Typically, these
symptoms occur at DM doses greater than 2 mg/kg, with higher
doses (>7 mg/kg) producing more dissociative effects
In severe acute ingestions, various adverse effects have been
reported, including nystagmus and mydriasis.1,3,6 Because DM is
known to antagonize serotonin receptors, clinicians should be
cognizant of the possibility for serotonin syndrome, which may
be characterized by a variety of symptoms, including altered
mental status, rigidity, hyperthermia, and seizures.1,24 In cases
of massive DM ingestion, respiratory depression, tachycardia,
and hypertension have been documented.1 Liquid preparations
of DM may possess a higher propensity to induce gastrointestinal
symptoms as a result of ethanol-based diluents

DXM abuse among adolescents most likely will increase as the


drug is relatively easy to obtain and inexpensive. Moreover, adolescents
perceive the risk in abusing the drug as low. Stemming DXM abuse will

require increased public aware- ness of the drugs potential for abuse,
increased awareness of the inherent risks associated with abusing DXM,
and increased diligence of parents, educators, health care providers,
law enforcement personnel, and retailers who market products containing DXM.
Kasus penyalahgunaan obat batuk yang mengandung dekstrometorfan
belakangan cukup marak terjadi. Penyalahgunaan obat yang dijual secara
bebas terbatas ini, ada yang sampai menyebabkan kematian karena
overdosis. Kasus penyalahgunaan obat batuk yang mengandung dekstrometorfan
belakangan cukup marak terjadi. Penyalahgunaan obat yang dijual secara
bebas terbatas ini, ada yang sampai menyebabkan kematian karena
overdosis.

Dekstrometorfan (DXM) adalah zat aktif dalam bentuk


serbuk berwarna putih, yang berkhasiat sebagai antitusif
atau penekan batuk. Zat aktif ini selain banyak digunakan
pada obat batuk tunggal juga digunakan pada obat
flu kombinasi dengan zat aktif lain seperti fenilefrin,
paracetamol, dan klorfeniramin maleat. Obat yang
mengandung dekstrometorfan tersedia di pasar dalam
berbagai bentuk sediaan seperti sirup, tablet, spray, dan
lozenges.
Ada beberapa alasan mengapa dekstrometorfan banyak
disalahgunakan, diantaranya adalah :
Desktrometorfan mudah didapat.
Harga dekstrometorfan relatif murah.
Persepsi masyarakat bahwa obat bebas itu aman
Dapat disimpulkan bahwa walaupun Dekstrometorfan
banyak dijual di berbagai tempat, namun dosis penggunaannya
memang telah dibatasi dan tidak tepat jika digunakan melebihi
dosis yang dianjurkan, dan mengingat statusnya pernah
sebagai Obat Keras, maka tetap perlu kehati-hatian dan tidak
serta merta menganggapnya aman.
Di negara lain legal status
Dekstrometorfan juga bervariasi, ada yang menggolongkannya
sebagai produk Over the Counter (OTC) atau Obat Bebas,
seperti Kanada, ada juga yang memasukkan sebagai obat yang
hanya diperoleh dengan resep (Presciption Only Medicines)
atau Obat Keras, ada juga yang menggolongkan sebagai obat
yang Pharmacy Medicines (hanya dapat dibeli di apotik dengan

penjelasan/informasi dari apoteker) atau Obat Bebas Terbatas.


Di Singapura misalnya, Dekstrometorfan hanya bisa didapatkan
dengan resep dokter.
Dekstrometorfan adalah dekstroisomer dari kodein analog
metorfan. dekstrometorfan tidak bekerja pada reseptor opioid
tipe mu dan delta seperti jenis levoisomer, tetapi bekerja pada
reseptor tipe sigma.
Akumulasi dekstrorfan dapat mengakibatkan efek psikotropik.
Efek yang muncul dibagi dalam 4 tingkatan:
1. Dosis 100 200mg, timbul efek stimulasi ringan
2. Dosis 200 400mg, timbul efek euforia dan halusinasi
3. Dosis 300 600mg, timbul efek perubahan pada
penglihatan dan kehilangan koordinasi motorik
4. Dosis 500 1500mg, timbul efek sedasi disosiatif
Pada kasus penyalahgunaan, dosis yang digunakan biasanya
jauh lebih besar daripada dosis lazim. Pada dosis 5-10 kali
lebih besar dari dosis yang lazim, efek samping yang timbul
menyerupai efek samping yang diamati pada penggunaan
ketamin atau PCP, dan efek ini meliputi: kebingungan, keadaan
seperti mimpi, rasa kehilangan identitas pribadi, gangguan
bicara dan pergerakan, disorientasi, keadaan pingsan,
mengantuk (Schwartz, 2005; Siu et al., 2007).
Tenaga kesehatan memiliki peranan penting dalam
pencegahan penyalahgunaan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat saat pembelian
obat dekstrometorfan.
Selain itu diperlukan komunikasi dan edukasi kepada remaja
tentang risiko penyalahgunaan dekstrometorfan. Komunikasi
dan edukasi ini selain dilakukan pada remaja juga sebaiknya
dilakukan pada para orangtua supaya dapat berperan aktif
dalam pencegahan penyalahgunaan dekstrometorfan pada
anak remaja mereka.
Untuk menghindari penggunaan yang salah dari obat
dekstrometorfan pada anak-anak maka para orang tua
harus memperhatikan penyimpanan obat di lemari/kotak
penyimpanan obat. Lemari penyimpanan obat diletakkan pada
tempat dimana anak-anak tidak dapat menjangkaunya.

Оценить