You are on page 1of 5

CIUMAN ASYIK SI BELO

Namaku adalah Wijono. Nama lengkapku adalah Herry Wijono. Saat


kecil aku mempunyai nama panggilan Jenggo. Entah mengapa mereka
memanggilku seperti itu, bahkan disetiap aku berdomisi di suatu tempat. Aku
pasti memiliki nama panggilan baru. Nama panggilan baru itu bukan aku
yang membuatnya sendiri, tetapi teman-temanku. Sedangkan di SMA temantemanku memberi nama Jali-Jali. Entah apa maksudnya mereka
memanggilku demikian. Aku enjoy aja. Kemudian ketika aku di Yogyakarta
teman-teman memanggilku Liong. Itu aku maklumi, karena waktu itu, aku
hampir setiap hari senang membaca buku silat Ko Ping Go. Dimana dalam
cerita tokoh utamanya adalah Sin Liong. Bahkan ketika aku ditempatkan di
Brati karena ada pekerjaan baru, nama panggilanku si Gentong Liong. Dan
dikokohkan naik pangkat di SMP N 1 Brati menjadi Koh, yang aku tak tahu
maksudnya. Dan mudah-mudah dengan nama sebutan berganti-ganti itu
mudah-mudahan memberi ku kebahagiaan,dan rezeki yang melimpah ruwah
amin.
Walaupun aku sudah tua. kini, malah hampir renta, aku masih ingat
sekali masa kecilku yang tak bisa kulupakan. Ketika itu aku masih anak yang
masih umbelen , karena memang usiaku masih sekitar 7 tahu. Aku duduk di
kelas satu SD. Jadi aku tak tahu apa artinya malu. Saat itu aku tinggal di
tempat embahku yang sudah pikun . Aku tinggal disana karena keluarga
sedang mengungsi setelah pindah pengungsian dari kartasura. Yang
membuatku sekeluarga mengungsi adalah akibat dari ulah keganasan PKI.
Aku masih hidup sampai sekarang itu bersyukur kepada-Nya.
Sekolahku amat jauh dari rumah embahku, ya kurang lebih 15 km. Aku
pergi sekolah selalu ditemani kakak kandung. Nama kakak kandungku
adalah Harnowo. Yang kini masih hidup bahagia dengan keluarganya di solo.
Setiap pergi sekolah aku berjalan kaki dari rumah embah sampai di
sekolahku. Berangkat sekolah sangat pagi sekali. Mengingat jarak sekolah
sangat jauh. Di saat-saat keberangkatan sekolah hatiku selalu merasa tidak
nyaman, karena ulah si Belo, walaupun kakak kandungku menemaniku terus.
Di pagi yang sangat dingin dan sepi dari kegiatan orang yang bekerja
di sawah. Aku dan kakak memberanikan diri untuk pergi ke sekolah. Dimana
dalam perjalananku tampa selembar alas kaki yang aku pakai. Langkah demi
langkah aku jalani menuju sekolah. Sebenarnya berat sekali untuk
menjalaninya. Aku merasa takut dalam perjalanan yang sangat jauh, apalagi
selalu melalui jalan itu-itu terus, tetapi jalan itu salah satu-satunya yang

paling singkat. Aku harus menyeberang sungai yang sangat lebar terlebih
dahulu. Melewati pematang sawah yang banyak lintahnya, melewati semaksemak yang penuh dengan kengerian dari binatang-binatang yang berbisa,
Jalan sangat jelek , becek, banyak teletong kerbau di jalan-jalan, ular berlalu
lalang, bahkan embah pernah berpesan dalam perjalananmu jangan
sampai menemui ular tutut (ular yang bentuknya seperti montong pisang).
Karena siapa saja bila ketemu dengannya akan mendapatkan cilaka, entah
sakit, mati, bernasib sial, duri pohon bambu ori tersebar di mana-mana,
nyamuk siap menggigit saat terlena, ulat berbulu nempel pada daun daun
padi dan pasti gatal sekali kalau hinggap pada anggauta tubuhku. pokoknya
deh, perlu perjuangan yang sangat ekstra. Apalagi bila akan melewati
sebuah rumah bapaknya Sriyanto.
Ayah Sriyanto adalah satu-satunya pemilik tunggal yang kaya di desa
itu. Dia mempunyai sebuah bendi (andong) yang ditarik kuda. Kuda yang ia
milik mempunyai seekor anak yang masih kecil. Walaupun kecil anak kuda
tersebut sangat lincah, lari kesana-kemari tanpa tujuan, apalagi saat ada
orang atau binatang lewat di depannya, pasti dia selalu mengejarnya,
bahkan siapa yang naik sepeda pasti dikejar, seakan-akan diajak balapan
lari. Anehnya pemiliknya membiarkan berlarian mengejar orang.
Sambil ngomong ngalor-ngidur dengan kakak. Aku mohon padanya,
Mas aku nanti digendong ya. Ah, apa lo jawabnya. Aku sangat takut
kataku. Langkah perjalananku semakin tambah terasa sangat berat. Itu saja
baru seper sembilan puluh lima dalam perjalananku menuju ke sekolah.
Entah berapa langkah kecil lagi aku akan tiba di sekolah. Mungkin
seandainya aku anak yang lemah, pasti perjananan itu merepotkan kakak
kandungku. Untunglah aku anak yang kuat, walaupun makanan yang aku
konsumsi jauh dari layak disbanding dengan makanan yang dimakan anakanak sekarang. Tahukah bekatul.
Dengan hati bergetar-getar, aku menujukkan kepada kakak
kandungku. Aku menyela padanya, Kak kita akan sampai di depan rumah
Sriyanto, kak. Aku takut sekali. Tolong aku di belakang kakak saja ya atau
aku digendong. Ada apa to dik? Jawabnya. Aku takut dengan si belo. Dah
jelek suka kejar anak-anak, emanya temanya?. Ok, ndak apa-apa, nanti tak
kemponya dengan jurus Ulat Lapar Banget. kata kakaku, yang sok jadi
pahlawan kesiangan. Memang ada jurus Ulat Lapar Banget?, kataku. coba
aja nanti, kalau macam-macam dengan adikku, yang paling ganteng dewe.
Katanya. Aku merasa aman dekat kakakku selama dalam perjalananku.
Dalam hati, aku bertanya-tanya. Apa betul, kalau kakaku bisa kempo? Apa

dia pernah belajar kempo? Dimana? Dan siapa gurunya? Ah, bodoh amat
lah. Yang penting aku merasa terlindungi olehnya. Pokoknya aku merasa
aman disamping kakakku.
Kak-kak-kak-kak-kakkkkkkkkkkk, kita hampir dekat teriakku. Apaapaan to dik? jawabnya. Itu lo rumahnya bapaknya Sriyanto kataku sambil
mbesengut. Emangnya ada apa? katanya. si belo kataku. Ah ndak ada
gitu kok katanya. Memang saat lewat di depn rumahnya bapaknya Sriyanto,
rumah itu masih tertutup rapat. Entah kemana keluarganya pergi. Berarti, si
belo belum dikeluarkan dari istananya. Aman-aman, hatiku menjadi glong
karena tidak melihat belo di parkir di depan rumah bapaknya Sriyanto.
Perjalananku saat itu agak senang sedikit. Lewat pematang sawah,
melomcati sungai-sungai kecil. Kadang harus jatuh bangun dalam perjalanan
itu. Terpeleset, jatuh baju kena lumpur, kadang sobek.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya. Tibalah aku di
sekolahanku. Dengan istirahat kurang dari 5 menit untuk mengatur nafas
dan mengeringkat keringatku. Bel masuk dibunyikan ibu guru yang cantik.
Aku mengikuti pelajaran seperti anak-anak lain. Dalam mengikuti pelajaran
aku juga tak pernah ketinggalan disbanding dengan teman lainnya, bahkan
kandang aku menjadi sumber tirunan teman, bila ibu guruku mengadakan
ulangan.
Jam demi jam berlangsung terus tampa ada yang bisa menghentikan
waktu. Pelajaran demi pelajaran pun juga begitu. Aku merasa iri pada
mereka, karena sehabis pelajaran, mereka pulang ke rumahnya masingmasing dengan cepat sampai di rumahnya. Namun saat jam pejalaran
terakhir akan usai, hatiku kembali gudah gulana. Akankah perjanan pulangku
sekolah yang jauh nanti, apa masih sama seperti ketika perjalan ke sekolah
tadi pagi? Tanya dalam hatiku sendiri. Pokoknya perang batin dalam diriku
berkecamuk. Betul, bel tanda akhir pelajaran terakhir telah dibunyikan,
semua anak-anak menyambut dengan suka riang, berserok-sorai,
diwajahnyapun juga kelihatan berseri-seri. Kecuali aku.
Nasib-nasib kata hatiku. Aku dan kakakku setelah jam pelajaran usai,
tanpa istirahat aku mulai stat lagi perjalananku untuk pulang. Disamping aku
lapar, haus, pusing setelah mengikuti pelajaran. Aku berjalan dengan rasa,
lemah lunglai, tidak semangat seperti di pagi hari. Ya, maklum. Tak pernah
di beri bekal untuk uang jajan. Selain itu rasa takutku masih ada di benak
pikirannku. Namun kakakku selalu memberiku semangat, sehingga dengan
sisa tenaga dan bayangan akan rasa takut itu, sedikit menghilang.

Walaupun perjalanan tidak seperti pagi hari, lama-lama juga,


sampailah saatnya sebentar lagi akan melewati rumah bapaknya Sriyanto.
Hatiku tambah tidak karuan. Dalam pikiranku yang ada hanyalah takut
terhadap si Belo. Kurang dari dua ratus meter memang tampaklah induk belo
dipakir di depan rumahnya. Berhenti dulu disini, aku merayu kakakku. He he
he he he he heeeeeee dengan merintih aku menangis. Berhenti dulu kak,
itu itutututututututtutu. kataku sambil menunjuk rumah bapaknya
Sriyanto. Aku menjatuhkan diriku ke tanah, sambil merangkak supaya tidak
dilihat Belo. Sambil merangkat aku menggapai-gapai dedaunan, rerumputan
dan mencari batang kayu untuk menutup badan atau penyamaran dan jagajaga memukul Belo dengan sebilah batang kayu yang aku pegang. Pokoknya
seperti mau maju perang, tetapi tampa memakai senjata jenis AK atau tank
perang. Kita amati dulu disini kak.
Sudah 2 jam lamanya, aku mengamati gerak-gerik induk Belo. Belo
pun kelihatan tidak menampakan dirinya. Gimana kak? kataku. Kita tinggal
disini sampai sore atau kita pulang lewat jalan lain? Aku sudah
lapeeeeeeeeeeeeeeeeeer sekali. Ayo hati-hati. Kamu kok gak percaya sama
kakakmu to dik, katanya. Aku akan selalu melindungmu sampai titik kecap di
botol penghabisan. Jangan gitu ah kak! Aku ni memang benar-benar takut.
Betul aku berduapun berjalan dengan membawa daun, rumput hijau
dan bilah kayu untuk menyamar dan mempertahankan diri. Dengan berjalan
hati-hati sekali, serta mata full mengamati sekitar rumahnya bapaknya
Sriyanto. Langkah per langkah seakan-akan sulit maju dan pikiranpun
semakin kacau balau, untuk melewati depan rumah itu.
Namun perjalananpun terpaksa aku teruskan, takut juga nanti kalau
kemalaman dan sungai yang ku lewati akan banjir. Sambil jinjit brlajalan agar
tidak menimbulkan suaara, pelan tapi pasti akhirnya hampir sampai di pintu
rumah bapaknya sriyanto. Aku berbisik dengan kakak, siap lari lo kak, kalau
lewat sedikit dari pintu itu kak.
Benar, saat perjalanan lewat sedikit dari pintu gerbang. Aku bilang run
fast.. dengan suara keras. Karena ada suara kerasku tadi, si Belo menjadi
kaget dan ikut lari kencang. Anehnya larinya malah mengejarku. Aku lari
sekencang-kencangnya, sedangkan kakak lari santai saja. Karena saya
berusaha lari kencang si Belo pun malah mengejarku dan menghentikan
lariku. Aku menangis sekuat-kuatnya. Si Belo pun tidak menggubris,
kemudian si Belo menjilati pipi kanan-kiriku. Alangkah takutnya saat itu. Aku

mau menagis yang sekeras-kerasnya tidak bisa, malah tangis aku menjadi
megap-megap sambil pasrah entah apa yang akan terjadi.
Dengan ranting yang berdaun, kakaku meyeblak si Belo yang sedang
menggodaku. Karena seblakan wessssss .. dan suara keras pergi
kau!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! dari kakak, maka si Belo pun lari tunggang
langgang menuju ke kandangnya. Meskipun aku menangis karena si Belo, si
empunyapun tidak ada reaksi apapun terhadapku. Tetapi tak apalah yang
penting aku sudah selamat dari dari si Belo. Entah lain hati aku tak tahu lagi.
Tamat