You are on page 1of 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dermatosis eritro papuloskuamosa merupakan suatu golongan penyakit kulit
dengan effloresensi (atau ujud kelainan kulit) berupa adanya eritema, papula, dan skuama.
Eritema

merupakan kelainan pada kulit berupa kemerahan yang disebabkan oleh

pelebaran pembuluh darah kapiler yang bersifat reversibel. Papul adalah lesi suprfisial
yang meninggi, solid, diameter <0,5 cm dengan batas lesi yang tegas atau tidak.
Sedangkan skuama merupakan lapisan dari stratum korneum (lapisan terluar kulit) yang
terlepas dari kulit. Maka, kelainan kulit yang terutama terdapat pada dermatosis
eritropapuloskuamosa adalah berupa kemerahan dengan terdapatnya papul dan
sisik/terkelupasnya kulit. 1,2,3,4
Terdapat

berbagai

perdebatan

mengenai

pembagian

jenis

dermatosis

eritropapuloskuama ini. Salah satu bentuk penyakit ini antara lain yang sering dibicarakan
dan ditemukan adalah psoriasis dan dermatitis seboroik. Kasus penyakit kulit
eritropapuloskuamosa sangat jarang terjadi, sebagai contoh pada psoriasis di beberapa
negara bagian seperti di Eropa mencapai sekitar 2,6% , sedangkan di Amerika data kasus
baru tiap tahunnya diperkirakan terdapat 150.000 kasus baru berkisar antara 0,1-3%.
Sedangkan di Asia, angka kejadiannya rendah yaitu sekitar 0,4% dan perbandingannya
sama antara pria dan wanita dan umumnya menyerang orang dewasa. 4,5Sedangkan data di
Indonesia belum ada secara terperinci dikarenakan insidensinya jarang dan penyebabnya
idiopatik.Selain psoriasis, angka kejadian dermatitis seboroik di Amerika belum dapat
dipastikan jumlahnya pada jenis dermatitis seboroik infantil. Sedangkan angka kejadian
pada dermatitis seboroik dewasa sering diakibatkan oleh psoriasis yakni sekitar 3-5% dari
populasi dan sering ditemukan mencapai 85% pada pasien dengan HIV/AIDS dengan
angka kejadian pria lebih tinggi daripada wanita pada semua kelompok.4
Data penyakit dermatosis eritropapuloskuamosadi Rumah Sakit Nusa Tenggara
Barat sendiri belum tersedia, hal inilah yang menjadi dasar penulis menyusun referat

Gambaran Kasus Penyakit Eritropapuloskuamosa Di Poli Kulit Kelamin RSUP NTB


Periode Januari 2013-Desember 2013

untuk melihat angka kejadian penyakit

eritropapuloskuamosa di RSUP NTB.


Pada

referat

ini

akan

dibahas

mengenai

beberapa

penyakit

eritropapuloskuamosadermatose diantaranyapsoriasis vulgaris dan dermatitis seboroik


yang kasusnya sering ditemukan di poli kulit dan kelamin RSUP NTB namun terkadang
luput dari pendataan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakah gambaran kasus penyakiteritropapuloskuamosa di poli Kulit dan
Kelamin RSUP NTB selama periode Januari -Desember 2013?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui gambaran kasus penyakit eritropapuloskuamosa di poli Kulit
dan Kelamin RSUP NTB selama periode Januari -Desember 2013.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini memiliki beberapa manfaat diantaranya :
1. Sebagai bahan acuan atau data sekunder untuk penelitian selanjutnya.
2. Untuk mencari faktor-faktor predisposisi terjadinya eritropapuloskuamosa
serta tatalaksananya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Psoriasis Vulgaris

2.1.1. Definisi
Psoriasis adalah penyakit autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan
bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan
transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Skuama tersebut berwarna
putih keabu-abuan atau keperakan dan tidak diketahui penyebabnya dengan pasti. Psoriasis
juga disebut psoriasis vulgaris berarti psoriasis yang biasa, dan psoriasis yang lain
misalnya psoriasis pustulosa. 1
2.1.2. Epidemiologi
Kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan
kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengingat bahwa
perjalanannya menahun dan residif.Gambaran yang akurat mengenai epidemiologi dan
morbiditas psoriasis sangat sulit diberikan karena kriteria diagnostik tidak digunakan,
perbedaan metode yang digunakan, dan teknik penentuan pasien yang bervariasi.
Bagaimanapun juga, psoriasis merupakan penyakit yang sangat sering dijumpai karena
tersebar luas dan mengenai 1-3% populasi dunia. Penyakit ini mengenai 1,5-3% populasi
di Eropa dan Amerika Utara, tetapi jarang pada orang Afrika dan Jepang.Di Eropa
dilaporkan sebanyak 3-7%, di Amerika Serikat 1-2%, sedangkan di Jepang 0,6%. Insiden
pada orang berkulit putih lebih tinggi daripada penduduk berkulit hitam. Pada daerah
tropis dan suku Afro-Amerika, psoriasis lebih jarang ditemukan. Data dari penelitian di
Asia Tenggara dan Selatan menunjukan prevalensi psoriasis berkisar antara 0,5-2,3% di
India, 4-5% di Malaysia, dan sekitar 0,4% di Srilanka. Paling sering ditemukan pada usia
dekade ketiga (rata-rata pada pria ditemukan pada usia 29 tahun, sedangkan pada wanita
sekitar usia 27 tahun), meskipun sebenarnya psoriasis dapat mengenai usia berapapun, bayi
sampai dengan dewasa tua. 1,2

Insidens psoriasis, jumlah kasus baru dalam satu populasi pada suatu waktu
tertentu, diperkirakan 60 individu per 100.000 populasi per tahun. Pada penelitian,
didapatkan kasus 68% didiagnosis pertama kali saat musim dingin dan musim
semi.Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk berkulit berwarna. 3
2.1.3. Etiopatogenesis
Penyebab psoriasis masih belum banyak diketahui dengan pasti sampai sekarang.
Adapun beberapa faktor yang diduga dapat mempengaruhi timbulnya psoriasis seperti
faktor genetik, imunologi, dan faktor pencetus yang lain :1
a. Faktor Genetik
Hubungan antara psoriasis dengan faktor genetik pertama kali disimpulkan pada
tahun 1963 oleh Gunner Lomholt yang meneliti psoriasis di kepulauan Faroe.

Bila

orangtuanya tidak menderita psoriasis, resiko mendapat psoriasis 12%, sedangkan jika
salah seorang orangtuanya menderita psoriasis resikonya mencapai 34-39%. Berdasarakan
awal penyakit dikenal dua tipe: psoriasis tipe I dengan awal onset dini dan bersifat
familial, psoriasis tipe II dengan awal onset lambat dan bersifat non familial. Hal lain yang
menyokong adanya faktor genetik ialah bahwa psoriasis berkaitan dengan HLA. Psoriasis
tipe I berhubungan dengan HLA-B13, B17, Bw57, dan Cw6. Psoriasis tipe II berkaitan
dengan HLA-B27 dan Cw2, sedangkan psoriasis pustulosa berkorelasi dengan HLA-B27. 2
b. Faktor Imunologik
Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel,
yakni limfosit T, sel penyaji antigen (dermal), atau keratinosit. Keratinosit psoriasis
memerlukan stimuli untuk aktivasinya. Lesi psoriasis matang umumnya penuh dengan
sebukan limfosit T pada dermis yan terutama terdiri atas limfosit T CD4 dengan sedikit
sebukan limfositik dalam dalam epidermis. Sedangkan pada lesi baru umumnya lebih
banyak didominasi oleh limfosit T CD8 Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 17 sitokin yang
produksinya bertambah. 2
Sel langerhans juga berperan dalam imunopatogenesis psoriasis. Sel langerhans
bertindak sebagai antigen presenting cell (APC) yang akan mengaktivasi limfosit T. Lesi
psoriasis matang umumnya penuh dengan sebukan limfosit T CD4 dengan sedikit sebukan

limfositik dalam epidermis. Sedangkan pada lesi baru umumnya lebih banyak didominasi
oleh limfosit T CD8. Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 17 sitokin yang produksinya
bertambah. 3
Perubahan morfologi pada kulit psoriatik terutama disebabkan oleh adanya
hiperproliferasi dan gangguan diferensiasi keratinosit serta inflamasi. Gangguan
diferensiasi menyebabkan pada lesi psoriasis stratum granulosum menipis atau
menghilang.. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan waktu siklus sel, dimana
pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat, hanya 3-4 hari,
sedangkan pada kulit normal lamanya 4 minggu. Nickoloff (1998) berkesimpulan bahwa
psoriasis merupakan penyakit autoimun. Lebih dari 90% kasus dapat mengalami remisi
setelah diobati dengan imunosupresif. 3
c. Faktor Pencetus
Faktor predisposisi, antara lain trauma pada epidermis atau dermis, seperti goresan
atau jaringan parut operasi, menimbulkan psoriasis pada kulit yang luka (fenomena
Koebner).

Insiden menunjukkan fenomena koebner pada penderita psoriasis dapat

meningkat ketika penyakit masih dalam keadaan aktif dan penderita yang menderita
psoriasis sejak usia dini sehingga diperlukan beragam terapi untuk mengendalikan
penyakitnya. 5
Faktor pencetus yang lain adalah infeksi yang diketahui sebagai pemicu onset atau
eksaserbasi psoriasis. Hampir 54% kasus melaporkan mengalami eksaserbasi psoriasis
dengan interval 2-3 minggu setelah menderita infeksi saluran napas atas. Infeksi fokal
menunjukkan hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis ialah psoriasis gutata,
sedangkan hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Pernah dilaporkan kasuskasus psoriasis gutata yang sembuh setelah diadakan tonsilektomi. Umumnya infeksi
disebabkan oleh Streptococcus.2
Stres psikis merupakan factor pencetus utama dan juga merupakan salah satu faktor
pencetus yang memperberat psoriasis dan terjadi pada kurang lebih 30-40% kasus. Tidak
ada sifat atau gangguan kepribadian yang khusus pada penderita psoriasis. Beberapa
penelitian menunjukkan korelasi yang positif antara stress dengan keparahan dari psoriasis.
Dimana didapatkan separuh dari pasien mengalami stress tersebut. 2

Alkohol juga diduga sebagai faktor pencetus yang memperberat psoriasis, namun
dugaan ini belum terbukti. Anggapan ini tampaknya bersumber pada hasil observasi
pecandu alkohol yang menderita psoriasis, dimana mereka minum alkohol dalam jumlah
banyak dan psoriasisnya kambuh.2,6 Disamping itu, psoriasis juga bisa dipicu oleh berbagai
macam obat-obatan seperti beta blocker, lithium, antimalaria, dan beberapa obat
antiinflamasi non steroid, pengobatan steroid sistemik yang dihentikan secara mendadak,
terbinafide, penghambat kanal kalsium, captopril, glyburide, iLs, IFN dan obat penurun
kadar lemak. 2
Faktor endokrin rupanya mempengaruhi perjalanan penyakit. Puncak insidens
psoriasis pada waktu pubertas dan menopause. Psoriasis dipicu juga oleh terapi estrogen
dosis tinggi yang merupakan potensi terhadap jalur hormonal. Pada waktu kehamilan
umumnya membaik, sedangkan pada masa pasca partus memburuk. Menurut penelitian,
pada periode tiga bulan postpartum, kasus psoriasis sebesar 30% kasus tidak mengalami
perubahan, sebesar 10% membaik, dan sebesar 50% memburuk. Hipokalsemia, contohnya
pada kasus post paratiroidektomi, dilaporkan memperberat psoriasis. 2
Walaupun sinar matahari umumnya sangat bermanfaat, namun pada sebagian kecil
pasien, psoriasis mungkin juga dapat dicetuskan oleh paparan sinar matahari yang lama
dan menyebabkan eksaserbasi di musim panas pada kulit yang terpapar. 3
Peningkatan psoriasis pada pasien dengan HIV juga telah diamati, dimana
menunjukkan peningkatan keaktifan dari psoriasis pada pasien HIV. 5,6

Gambar 1 Mekanisme yang terjadi pada psoriasis6

2.1.4. Gambaran Klinis


Keadaan umum tidak dipengaruhi , kecuali pada psoriasis yang menjadi
eritroderma. Sebagian penderita mengeluh gatal ringan dan panas. Tempat predileksinya
pada scalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor,
terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral. 1
Lesi psoriasis pada kulit memiliki empat gambaran yang menonjol yaitu: (a)
Makula atau papula eritematosa yang berbatas tegas dengan ukuran bervariasi dari
lentikuler, numuler, atau plakat. (b) Skuama berlapis-lapis di permukaan dan transparan
keperakan (silverly), yang lekat pada bagian tengah dan lepas pada tepi lesi. (c) Fenomena
tetesan lilin (Karsvleek phenomen), yaitu skuama yang berubah warnanya menjadi putih
seperti lilin apabila digores, oleh karena terjadi perubahan indeks bias. (d) Tanda Auspitz
7

adalah perdarahan bintik yang timbul karena lapisan epidermis yang begitu tipis sehingga
ujung papilla dermis yang memanjang dan menonjol langsung terlihat apabila skuama
psoriasis dikelupas secara paksa. Fenomena ini hanya terdapat pada psoriasis. 1,3
Pada psoriasis juga biasa terdapat gambaran reaksi koebner, yaitu munculnya lesi
psoriasis baru pada tempat yang mengalami trauma ringan akibat proses kronik atau
berulang. Gambaran ini khas merupakan penyebab tersering munculnya bercak psoriasis
yang khas pada jaringan parut dan pada kulit yang digaruk, erupsi, atau mengalami luka
bakar.4,5,6 Ada juga bentukan yang khas berupa cincin dengan warna pucat konsentris di
atas kulit yang eritema di dekat atau pada bagian perifer plak psoriasis yang mulai sembuh
disebut sebagai cincin woronoff (Woronoff ring). 1
Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku sekitar 50%. Kelainan yang
khas adalah adanya pitting nail atau nail pit berupa lekukan-lekukan miliar.1 Tiga
perubahan morfologik utama pada struktur kuku adalah : (a) Lekukan tampak pada
lempeng kuku ini timbul akibat defek keratinisasi sisi dorsal dari lipatan kuku proksimal.
(b) Makula berwarna kekuningan di bawah lempeng kuku yang sering kali meluas ke distal
sampai ke hiponikium. Hal ini terjadi karena proses psoriasis pada bantalan kuku. (c)
Onikodistrofi berat yang menghasilkan material keratin berwarna kekuningan. Perubahan
morfologik ini diyakini timbul sekunder karena psoriasis pada matriks kuku.Selain
menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula menyebabkan kelainan
pada sendi (arthtritis psoriatic), terdapat pada 10-15% pasien psoriasis. Umumnya pada
sendi distal interfalang dan bersifat poliartikular, terbanyak pada usia 30-50 tahun. Sendi
membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. 1,4
2.1.5. Bentuk Klinis
2.1.5.1.Psoriasis Vulgaris (Psoriasis Stasioner Kronik, Psoriasis Plak)
Bentuk ini ialah yang lazim ditemukan, karena itu disebut vulgaris. Dinamakan pula
tipe plak karena lesi-lesinya umumnya berbentuk plak.Tempat predileksinya adalah siku,
lutut, kulit kepala dan terutama regioaurikuler, region lumbal, dan umbilikus. Lesi tunggal
berukuran kecil bisa menyatu dengan yang lain dan membentuk plak dengan tepi miring
peta bumi (psoriasis geografik). Lesi dapat meluas ke lateral dan menjadi mirip cincin
karena menyatunya sejumlah plak (Psoriasis Gyrate).1,4

Gambar 2 Psoriasis Vulgaris9

2.1.5.2.

Psoriasis Gutata

Kata gutta berasal dari bahasa latin yang berarti a drop. Psoriasis gutata ditandai
oleh lesi papula dengan diameter biasanya 0,5-1 cm dan berjumlah lebih dari satu pada
tubuh bagian atas dan ekstremitas proksimal.Bentuk ini banyak terjadi pada remaja atau
dewasa muda dan sering didahului oleh infeksi tenggorokan akibat Streptococcus. Bentuk
ini terutama menyerang pasien di bawah usia 30 tahun.-7Peningkatan titer antistreptolisin
sering ditemukan pada psoriasis gutata.6Selain itu, bentuk ini juga dapat timbul setelah
infeksi yang lain, baik bakteri maupun virus. 1,4

Gambar 3 Drop-like lesion pada Psoriasis Gutata9

2.1.5.3.

Psoriasis Inversa (Psoriasis Fleksura)

Psoriasisi ini mempunyai tempat predileksi yang khas dan seringkali hanya terbatas
mengenai permukaan lipatan, lekukan, dan fleksor seperti telinga telinga, aksila,
selangkangan, lipatan di bawah payudara, pusar, lekukan interglutea, glans penis, bibir,
menyerang seluruh bagian tubuh termasuk muka, tangan, kaki, dan jari. Gambaran yang
menonjol adalah eritema dan skuama yang tidak begitu banyak. Bisa timbul akibat respon
terhadap terapi topikal yang tidak dapat ditoleransi oleh penderita, sehingga terbentuk
reaksi koebner menyeluruh. 1,4

Gambar 4 :Psoriasis Inversa9

10

2.1.5.4.

Psoriasis Seboroik
Gambaran klinis psoriasis seberoik (seboriasis) merupakan gabungan antara

psoriasis dan dermatitis seboroik. Tempat predileksi sama dengan psoriasis vulgaris namun
dapat juga pada daerah lipatan seperti antekubiti, aksila, bawah payudara, selangkangan
dan area interglutea. Lesi tampak basah dan eritema, serta lebih banyak dijumpai skuama
yang lunak dan berminyak.4
2.1.5.5.

Psoriasis Pustulosa
Ada dua pendapat mengenai psoriasis pustulosa, pertama dianggap sebagai

penyakit tersendiri dan yang lainnya sebagai varian psoriasis. Terdapat dua bentuk
psoriasis pustulosa yaitu lokalisata dan generalisata. Bentuk lokalisata contohnya psoriasis
barber dan bentuk generalisata contohnya psoriasis Von Zambusch. 1,4
a. Psoriasis Pustulosa Palmoplantar (Barber)
Penyakit ini bersifat kronik dan residif, mengenai telapak tangan atau kaki atau
keduanya. Kelainan kulit berupa kelompok-kelompok pustul kecil steril, kuning dan
dalam, di atas kulit yang eritematus disertai rasa gatal.

Gambar 5 Palmoplantar pustulosis9

b. Psoriasis Pustulosa Generalisata Akut (Von Zumbusch)


Serangan psoriasis pustuler ditandai dengan demam yang berlangsung beberapa
hari. Erupsi pustula steril dengan diameter 2-3 mm muncul menyeluruh secara mendadak
bersamaan dengan onset demam. Pustula menyebar di seluruh tubuh dan ekstremitas,

11

termasuk bantalan kuku, telapak tangan dan kaki. Pustula biasanya muncul pada kulit yang
warnanya sangat eritema, awalnya berupa bercak dan kemudian meluas sejalan dengan
proses penyakit yang semakin bertambah parah, eritema yang mengelilingi pustula sering
meluas dan menyatu dengan eritema yang lain sehingga terbentuk eritriderma. Jenis ini
khas ditandai dengan serangan demam dan pustula. 1,2,4

Gambar 6 :Psoriasis Pustulosa Generalisata Akut (Von Zumbusch)9

2.1.5.6.

Arthritis Psoriasis
Insiden psoriasis 10 kali lebih tinggi pada individu dengan arthritis seronegatif

dibanding dengan individu tanpa arthritis. Ada 5 pola klinis : (a) arthritis sendi
interphalang distal asimetris disertai kerusakan kuku (16%), (b) arthritis mutilans disertai
osteolisis phalang dan metacarpal (5%), (c) rheumatoid arthritis mirip poliarthritis simetris,
disertai claw hand (15%), (d) oligoarthritis disertai pembengkakan dan tenosynovitis satu
atau beberapa sendi tangan (70%), (e) ankylosing spondilitis saja atau disertai arthritis
perifer (5%). Temuan radiografik pada sebagian besar kasus sama seperti arthritis
rheumatoid, namun gambaran yang mengarah ke psoriasis adalah erosi tulang phalang
terminal (akroosteolisis) meruncing atau penipisan phalang atau metakarpal,
melengkungnya ujung proksimal phalang, ankylosis tulang, osteolosis metatarsal.
Predileksinya pada sendi distal interphalangeal dan proksimal interphalangeal. 1,4

12

Gambar 7 Psoriatik Arthritis9

2.1.6. Histopatologis
Psoriasis memberikan gambaran histopatologi yang khas, yaitu parakeratosis dan
akantosis. Pada stratum korneum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses Munro.
Selain itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi di subdermis. Perubahan histologik
pada psoriasis biasanya bersifat diagnostik. Akantosis akan disertai pemanjangan rete
ridge, Pemanjangan dan pembesaran papila dermis, Hiperkeratosis dan parakeratosis,
Penipisan sampai hilangnya stratum granulosum, Peningkatan mitosis pada stratum
basalis, Edema dermis disertai infiltrasi limfosit dan monosit, Mikro abses Munro yang
merupakan kumpulan kecil dari sel-sel neutrofil pada stratum korneum. 1

Gambar 8 Histopatologi Psoriasis7

13

2.1.7. Diagnosis
Diagnosa ditegakkan secara :1,5

Anamnesa dan pemeriksaan fisik : ditemukan tanda-tanda klinis seperti yang telah

disebutkan di atas.
Histopatologis, dalam hal ini pemeriksaan patologi anatomi adalah spesifik dan
menentukan kepastian diagnosis psoriasis.
a. Akantosis akan disertai pemanjangan rete ridge
b. Pemanjangan dan pembesaran papila dermis
c. Hiperkeratosis dan parakeratosis
d. Penipisan sampai hilangnya stratum granulosum
e. Peningkatan mitosis pada stratum basalis
f. Edema dermis disertai infiltrasi limfosit dan monosit
g. Mikro abses Munro yang merupakan kumpulan kecil dari sel-sel neutrofil
pada stratum korneum.

2.1.8. Diagnosa banding


Diagnosa banding
Dermatitis seboroik

Keterangan
Biasanya menunjukkan kulit yang berminyak dan
kekuning-kuningan, tanpa skuama yang berlapislapis dan predileksinya pada daerah seboroik (kulit
kepala, alis mata, sudut nasolabial, telinga, region

Pityriasis Rosea

sternum, dan lipatan).


Biasanya berjalan subakut, skuama tidak berlapislapis, bahkan hampir tidak kelihatan dan efloresensi
berupa eritema berbentuk lonjong sesuai dengan
garis lipatan kulit (Herald pacth). Timbul pada

Lues

stadium

lengan, badan, dan paha.


II Bercak berupa papula berwarna tembaga, skuama

(Sifilis

berwarna kecoklatan dan letaknya renggang, dan

Psoriasiformis)

disertai demam pada malam hari (doroles nocturnal),


perbedaan pada sifilis terdapat senggama tersangka
(coitus suspectus), pembesaran kelenjar getah bening
menyeluruh dan TSS positif
14

Liken planus

Terutama mengenai permukaan fleksor lengan


bawah dan pergelangan tangan dan bagian depan
tungkai bawah serta pergelangan kaki. Bercak terasa
gatal dan menebal, sering berwarna ungu, namun di
waktu yang lain bercak berwarna coklat gelap, dan
berskuama yang jumlahnya sedikit dan melekat erat,
serta ada papula liken pada tepi bercak. Jarang sekali

Tinea Korporis

mengenai kulit kepala dan kuku tidak beralur.


Gambaran lesi tipikal yang anular, eritematosa,
papuloskuamous yang dapat berkembang cepat. Lesi
berbatas tegas, dangan gambaran aktif di tepinya
disertai timbulnya bagian sentral yang lebih terang

Dermatitis atopik

(central healing).
Gambaran lesi berupa makula yang eritematosa yan
diatasnya terdapat vesikula, papula folikuler, san
akhirnya dapat timbl likenifikasi.

Morbus Hansen

Gambaran lesi berupa makula eritematosa berbatas

Tipe BB

jelas, berbentuk bulat lonjong, lesi berbentuk punchout, dan anastesi.

Tabel 1 : Diagnosa Banding Psoriasis 1,4,5

2.1.9. Penatalaksanaan
Terapi psoriasis membutuhkan waktu yang lama dan kekambuhan hampir bisa
dipastikan terjadi dan lesinya bias hilang spontan. Tetapi ada kecenderungan tiap
pengobatan secara perlahan akan berkurang efektifitasnya dan karena itu perlu diberikan
terapi dengan metode yang bervariasi. Tetapi perlu disesuaikan dengan letak lesi, tingkat

15

keparahan, durasi, terpai sebelumnya, dan usia pasien. Pada beberapa kasus mungkin
hanya perlu terapi topical atau sistemik atau keduanya. 1,4
A. Pengobatan Topikal
a. Kortikosteroid
Kortikosteroid topikal paling poten adalah clobetasol propionate 0,025-0,1%
selama 2 minggu. Preparat ini memberikan hasil yang baik tetapi harganya mahal. Untuk
kulit kepala kortikosteroid yang digunakan dengan bahan gel atau propylene glycol. Krim
lebih dipilih untuk daerah lipatan (kulit tipis) dan area yang terpapar sinar matahari.
Dengan kortikosteroid, bentuk salep lebih efektif dibandingkan krim (stoughton) walaupun
memiliki potensi sama. Injeksi kortikosteroid intralesi juga dapat diberikan untuk kelainan
kuku atau bercak yang membandel melalui preparat triamsinolon 2,5 10 mg/ml dalam
sediaan suspensi dalam larutan salin yang steril setiap sebulan sekali. 1
b. Ter / Tar (Liquor Carbonic Detergen)
Ter mempunyai efek anti radang. Menurut asalnya ter dibagi menjadi 3, yakni yang
berasal dari fosil (iktiol) 1 5%, kayu (oleum kadini dan oleum ruski), batubara (liantral
dan likuor karbonis detergens) 10%. Pada psoriasis menahun lebih baik digunakan ter yang
berasal dari batubara karena lebih efektif dan kemungkinan timbul iritasi kecilsampai
dermatitis terutama pada daerah kulit tipis (wajah, genetalia, lipatan tubuh). Pada psoriasis
akut diberi ter dari kayu namun kurang sedap dan berwarna coklat kehitaman. 1
Sediaan ter 2 5% dalam berbagai bahan dasar (lotio, krim, gel, oil bath, salep)
memperlihatkan efektivitas pada psoriasis. Supaya lebih efektif, maka daya penetrasinya
harus dipertinggi dengan cara menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3 5% atau
menggunakan 25% ter dalam alkohol, maupun 5 10% ter dalam krim kortikosteroid.
Sebagai vehikulum harus diberikan dalam bentuk salep karena daya penetrasinya lebih
baik. Ter dapat digunakan sebagai terapi tunggal satu kali sehari (malam hari), maupun
digunakan dengan kombinasi UVB dengan cara dioles minimal 2 jam sebelum difoto atau
dioleskan semalam dibiarkan sampai keesokan paginya dan dicuci dengan mineral atau
minyak sayur. Ter juga bisa digunakan dengan dikombinasikan kortikosteroid sebagai
pengganti ter pada pagi harinya setelah dioleskan dan dibiarkan semalam. 1,5,6
c. Dihydroxyanthralin (Anthralin)

16

Senyawa yang masih dipakai secara luas untuk obat psoriasis dalam bahan
pembawa dan cara pemakaian yang berbeda. Kelebihan utama anthralin adalah tidak ada
efek samping jamgka panjang sehingga obat ini dapat diberikan tanpa waktu yang terbatas
sesuai kebutuhan terapi. Namun obat ini menyebabkan iritasi terutama pada lipatan tubuh
dan meninggalkan warna kuning pada kulit, baju dan sprei. Untuk menghindarinya dipakai
konsentrasi yang lebih rendah (0,01 1%) kemudian ditutup dengan pembalutberperekat
aagar tidak mengenai kulit normal disekitarnya.Terapi dapat dilakukan dengan 2 cara, cara
pertama dioleskan semalam kemudian dibersihkan dengan minyak mineral pagi harinya,
cara kedua dengan pemakaian singkat selama 30 menit dengan dosis awal mencapai 0,5 %
lalu perlahan-lahan dosis dinaikan mencapai 4% tetapi setelah dosis mencapai 1% waktu
aplikasi dikurangi. Iritasi yang terjadi minimal dan hasilnya sangat bagus. Penyembuhan
terjadi dalam 3 4 minggu. 1,6
d. Terapi dengan sinar UV
Pada sebagian besar kasus, sinar matahari kuat menyebabkan perbaikan kondisi
psoriasis. Namun, kulit yang mendadak terbakar atau terkelupas bisa mengakibatkan
fenomena Koebnerdan eksaserbasi. Seperti diketahui sinar UV mempunyai efek
menghambat mitosis sehingga baik untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik adalah
penyinaran secara alami tapi sayang tidak dapat diukur dan jika kelebihan malah akan
memperbarat psoriasis. Karena itu digunakan sinar UV artifisial, diantaranya sinar A atau
UVA (320 400 nm).1
Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau kombinasi psoralen (8metoxypsoralen) secara oaral atau topikal disebut PUVA, atau bersama-sama dengan
preparat ter yaitu pengobatan cara Geockerman. Sinar ultraviolet buatan atau UVB (290
320 nm) sering dipakai sebagai pengganti. UVB juga dapat digunakan untuk pengobatan
psoriasi tipe plak, guttata, pustular, dan eritoderma. Dosis UVB pertama 12 23 mJ
menurut tipe kulit, kemudian dinaikan berangsur-angsur. Setiap kali dinaikan sebagai 15%
dari dosis sebelumnya. Dibarikan seminggu 2 3 kali. Mandi PUVA adalah cara lain untuk
memberikan fotosensitizer (8-MOP atau 5-MOP) ke kulit adalah dengan menambah
senyawa ini ke dalam air mandi. 1

17

Kelebihan utama mandi PUVA adalah tidak adanya efek sistematik, seperti keluhan
saluran cerna. Penurunan dosis UVA total hingga seperempat dari yang dibutuhkan untuk
mencapai efek terapetik yang sama seperti PUVA konvensional, sehingga akan
menurunkan resiko kanker kulit non melanoma. Eritema juga jarang terjadi pada terapi ini
dan tidak memerlukan kacamata sebagai proteksi mata. Mandi PUVA dapat menurunkan
proliferasi keratinosit dan menekan aktivasi sel T di tempat lesi. 1
e. Emolien Lembut
Antar periode terapi, perawatan kulit dengan emolien lembut harus dilakukan guna
mencegah terjadinya kekeringan yang bisa mengakibatkan kekambuhan dan untuk
memperpanjang interval bebas obat. Penambahan urea (hingga 10%) berguna untuk
memperbaiki hidrasi kulit dan melepaskan skuama pada lesi yang baru muncul.1
B. Pengobatan Sistemik
Terapi psoriasis sistemik dibutuhkan untuk kasus yang berat dimana lesi tersebar
luas diseluruh tubuh atau lesi berbentuk pustular atau psoriasis pada fase aktif yang
kambuh setelah mendapat obat tropikal termasuk sinar UV atau bila terapi topikal tidak
berhasil. Terapi sistemik harus dimonitor secara ketat.1
Untuk lesi yang terbatas digunakan asam folat tablet dengan dosis sehari 3 kali satu
tablet. Untuk lesi yang luas digunakan : methotrexate. Cara (1): sehari 2 tablet selama 7
hari, kemudian istirahat 1 minggu untuk observasi LFT, RFT, dan darah rutin. Bila hasil
laboratorium tetap baik MTX dapat diberikan lagi dengan dosis dan aturan yang sama
sampai terjadi perbaikan klinis (lesi tidak aktif lagi), kemudian dosis MTX diturunkan
secara tapering off sampai mencapai dosis maintenance.Cara (2) : MTX 2 tablet
diberikan2-3 kali selang 12 jam, istirahat 1 minggu. Setelah itu diberikan dengan dosis
yang dikurangi 1 tablet setiap minggu sampai tidak minum lagi. Sewaktu tidak minum
MTX, maka penderita minum asam folat tablet sehari 3 kali 1 tablet. Sewaktu minum
MTX, tidak dibolehkan minum asam folat.1,4

a. Methotrexate (MTX)

18

Obat ini adalah terapi sistemik yang telah dipakai secara luas untuk jenis psorisis
yang parah dan paling bermanfaat untuk psoriasis pustule. Obat ini adalah pilihan untuk
arthritis psoriatik yang parah. MTX bekerja dengan menghambat sintesa DNA dengan cara
memblok saat asam dihidrofilik reduktase yang afinitasnya lebih besar dari asam folat
terikat sehingga pembelahan sel pun juga ikut berhenti dosis MTX 10 25 mg sekali
dalam seminggu. Pemberianya IV/IM agar didapatkan efikasi dan pengendalian penyakit
secara optimal juga dapat diberikan per oral dosis 5 mg tiap 12 jam selama jangka waktu
36 jam. Regimen ini sama efektifnya dengan terapi parenteral dosis seminggu sekali. 4
Efek samping sering muncul adalah anureksia, nyeri kepala, mual, muntah,
leukopenia, trombositopeni, luku saluran cerna, hepatotoksin disertai perubahan
degeneratif dan nekrosis atau sirosis hepatis juga biasa terjadi. Kematian juga pernah
dilaporkan terjadi. Monitoring selama terapi adalah hitung leukosit dan trombosit tiap 1
4 minggu, hemoglobin, urinalisis, keratinin SGOT/SGPT. Dan akali fosfatase tiap 4 bulan
dan klirens kreatinin dan foto rontgen dada aetahun sekali. Biopsi hepar direkombinasikan
setelah mendapat obat sebanyak 1500 mg.4
b. Cyclosporin
Adalah polipeptida siklik yang telah digunakan secara luas untuk pencegahan
penolakan graft. Efeknya imunosupresif. Dengan pemaakaian klinis menunjukan
efektifitas pada penderita psoriasis tipe plak kronis yang parah jika diberi regimen dengan
dosis rendah (kurang dari 5 mg/kg/ hari). Untuk perbaikan pada perubahan kuku dan
arthritis psoriasis dapat tercapai dengan terapi jangka panjang. Terapi ini dapat
direkomendasika sebagai regimen intermitenjangka pendek dimana obat dihentikan secara
perlahan setelah timbul perbaikan utama atau sebagai terapi kontinyu jangka panjang
untuk kasus yang membandel. Cyclosporin juga efektif untuk eritoderma dan psoriasis
pustural generalisata.2,4
c. Retinoid
Acitretin, yakni derivat vitamin A dipakai terutama pada terapi psoriasis. Manfaat
klinis terbaik pada jenis psoriasis pustular. Mekanisme kerjanya adalah mengatur
pertumbuhan dan deferensiasi akhir keratinosit sehingga akan menormalkan kondisi
hiperproliperasi pada psoriasis. 1

19

20

d. Kortikosteroid
Dapat mengontrol psoriasis yang ekivalennya dengan prednison 2030 mg/hari.
Setelah membaik dosis ditutunkan secara perlaan-lahan kemudian diberikan dosis
pemeliharaan. Penghentian aecara mendadak akan menyebabkan kekambuhan dan dapat
terjadi psoriasis pustulosa generalisata. 1,4
e. Levodopa
Sebenarnya dipakai untuk penyakit parkinson. Diantara penderita parkinson yang
sekaligus juga penderita psoriasis, maka psoriasisnya akan membaik dengan pengobatan
levodova. Dosis antara 2 x 500 mg 3 x 500 mg yang mempunyai efek samping mual,
muntah, hipertensi, dan gangguan fisik, juga pada jantung. 4
f. DDS
Diaminodifenilsulfon dipakai sebagai psoriasis tipe barber dengan dosis 2x100 mg
sehari. Obat ini merupakan second line atau third line, tetapi menurut penelitian tidak
terlalu efektif. Efek sampingnya berupa anemia hemolitik, methemoglobinema,
agranulositosis. 1
C. Pengobatan Kombinasi
Kombinasi dari berbagai prinsip terapi dapat mempercepat resolusi lesi, menekan
efek samping, dan menurunkan dosis keseluruhan yang diperlukan jika diberikan terapi
sitemik. Beberapa regimen kombinasi telah ditetapkan untuk pemakaian klinis seperti
glukokortikoid topikal dengan UVB atau PUVA, Retinoid dengan PUVA (Re- atau larutan
yang sangat efektif untuk terapi psoriasis tipe plakat dan psoriasis pada kepala. Terapi
kombinasi calcipotriene dan kartikosteroid yang lebih rendah. Calcipotriene memiliki
bentuk yang tidak stabil dan mudah dirusak oleh sinar ultraviolet. Pada anak perlu
dimonitoring kadar kalsium dalam darah. Dosis calcipotriene 3 5 g/g dengan kadar
dalam plasma tidak melebihi 150 mg/g. 1
D. Pengembangan Obat Baru Lainnya

21

Makrolaktam digunakan pada bagian tubuh yang tipis dan tidak dapat diterapi
dengan kortikosteroid. Menimbulkan perbaikan lesi jika diberikan secara topikal dan
kemudian di bebat dalam keadaaan kering, namun hal ini tidak dijumpai ketika obat
diberikan tanpa bebat. Laporan terbaru menyatakan efikasi yang tinggi untuk psoriasis
ketika pimecrolimus atau tacrolimus makrolaktam diberikan dalam waktu singkat per
oral.1,4
Metode baru lain untuk terapi psoriasis yaitu pemakaian excimer laser
kemungkinan akan berperan penting dimasa mendatang. Laser ini mengeluarkan sinar
UVB dengan panjang gelombang 308 nm. Hasil penelitian pertama menunjukan kalau
sekitar 4 kali terapi bisa menimbulkan perbaikan sel, dengan respon terapi yang dapat
bertahan.3,5
Terapi rotasi untuk meminimalkan PUVA dan vitamin D dan analognya resiko bagi
penderita psoriasis parah atau tazarotene dengan UVB. Kombinasi mandi ter batubara
(satu kali sehari dengan 120 ml LCD dalam 80 liter air hangat) yang dilanjutkan dengan
UVB, dan anthralin dikenal dengan nama metode ingram. Goeckerman pada tahun 1925
memperkenalkan secara luas kombinasi ter batubara yang dilanjutkan dengan sinar UV
dosis suberitem. Terapi anthralin klasik yang dilanjutkan dengan UVB atau PUVA juga
merupakan regimen kombinasi yang sangat efektif .hasil penelitian baru mengindikasikan
bahwa kombinasi cyclosporine dengan calcipotriol atau anthralin akan meningkatkan
efikasi terapi dan menurunkan dosis cyclosporine, calcipotriol juga akan meningkatkan
respons terhadap PUVA. 4,5
Calcipotriene (vitamin D) berpengaruh pada diferensiasi kreatinosit melalui
regulasi respons epidermal terhadap kalsium. Terapi dengan analog vitamin D
(calcipotriene/dovonex) dalam sediaan salep, krim, yang mendapat terapi sistemik, dapat
dilakukan terapi rotasi. Pengubahan senyawa yang berbeda dengan memperhatikan faktor
resiko individual, dosis kumulatif (untuk MTX), respons dan lama terapi harus dilakukan
dengan interval tertentu. Pedoman yang baru-baru ini dikeluarkan untu terapi rotasi akan
bermanfaat dalam menentukan jadwal terapi sistemik jangka panjang. 3
2.1.10. Prognosis

22

Penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi bersifat kronik dan residif. Tidak
ada cara mencegah terkena psoriasis, kecuali pada psoriasis gutata sering sembuh sendiri
setelah 12-16 minggu tanpa terapi. Estimasi mendatang pasien ini bahwa sepertiga sampai
dua per tiga akan berkembang menjadi psoriasis plak kronik. Kenyataannya, psoriasis plak
kronik merupakan kasus penyakit seumur hidup, interval dari manifestasinya tidak dapat
diprediksi. Remisi spontan dalam waktu yang bervariasi, mungkin terjadi pada psoriasis
sampai dengan 50% pasien. Penyebab remisi spontan tidak diketahui, tapi dapat
merefleksikan generasi kesuksesan self-tolerance berdasarkan model immunologic sel
reactivity. Sedangkan pada Psoriasis eritroderma dan psoriasis pustulosa generalisata
memiliki prognosis yang jelek, dengan penyakit yang akan memperberat dan persisten. 1,4
2.2.

Dermatitis Seboroik Infantil

2.2.1. Definisi
Dermatitis seboroik infantil merupakan suatu kelainan kulit eritematosa dan
berskuama terutama di daerah seboroik (daerah yang memiliki banyak kelenjar sebasea)
yaitu pada kulit kepala, wajah, retroaurikuler, dan daerah intertriginosa yang timbul dalam
bulan-bulan pertama kehidupan.10,11
2.2.2. Epidemiologi
Penyakit ini mencapai insidensi tertinggi pada dua rentang usia, yaitu dalam usia 3
bulan pertama kehidupan dan antara dekade keempat sampai ketujuh. 10 Di Indonesia,
insidens pada anak berkisar 3,5%, di Australia insidensi penyakit ini pada anak laki-laki
sebesar 10,4% dan 9,5% pada anak perempuan dari populasi anak sampai usia 5 tahun,
sedangkan di Virginia didapatkan 18% pada usia kurang dari 2 tahun dan 6% pada usia 2
20 tahun.12
2.2.3. Etiopatogenesis
Penyebab pasti dari dermatitis seboroik masih belum diketahui 10,13. Beberapa faktor
yang diperkirakan terlibat diantaranya seborea, efek mikrobial, gangguan neurologis,
faktor fisik, proliferasi abnormal epidermal, dan nutrisi.10 Seborea tidak selalu dapat
ditemukan pada pasien dengan dermatitis seboroik. Meskipun seborea menjadi faktor
23

predisposisi, dermatitis seboroik bukan merupakan kelainan dari kelenjar sebasea.


Peningkatan kadar lipid permukaan kulit tidak selalu meningkat, tetapi terdapat perubahan
dari komposisi lipidnya, berupa peningkatan proporsi kolesterol, trigliserida dan paraffin,
serta penurunan kadar skualene, asam lemak bebas, dan ester wax. 10 Faktor lain yang
diperkirankan ikut berkontribusi dalam pathogenesis penyakit ini yaitu efek mikrobial,
dimana beberapa penulis menduga Malasezzia furfur berperan, meskipun juga ada yang
tidak mendukung. Pada pasien dengan dermatitis seboroik, jumlah koloni M. furfur
ditemukan lebih tinggi dibandingkan orang normal. Jumlah yang berlebihan dari M. furfur
dapat menyebabkan inflamasi melalui produk metabolik dari jamur ke epidermis sebagai
hasil adanya sel jamur pada permukaan kulit.10,13 Beberapa faktor lain seperti stress,
ketidakseimbangan neurotransmitter, cuaca dingin dan kurang lembab, proliferasi
abnormal epidermis, defisiensi nutrisi, dan faktor gentik diduga ikut berperan dalam
pathogenesis penyakit ini.

2.2.4. Manifestasi Klinis


Dermatitis seboroik pada bayi sebagian besar terjadi dalam 1 bulan kehidupan yang
terutama mengenai kepala berambut dan area intertriginosa dengan skuama dan krusta. 10
Region lain seperti bagian muka, dada, dan leher dapat juga terkena. Karakteristik
terutama berupa terlibatnya bagian kepala. Region frontal dan parietal ditutupi dengan
krusta yang terlihat berminyak, tebal, dan terkadang terfisura yang sering disebut sebagai
cradle cap. Rontoknya rambut tidak selalu terjadi dan inflamasi. Dengan berlanjutnya
penyakit, kemerahan semakin meningkat dan area yang berskuama membentuk plak yang
diatasnya ditutupi skuama berminyak. Lipatan retroaurikuler, pinna telinga, dan leher juga
dapat terlibat.1

24

infantil10

Gambar9Dermatitis seboroik

2.2.5. Diagnosa Banding


Diagnosis

banding

utama

pada

dermatitis

seboroik

infantil

berupa

dermatitis atopik.10

Onset

terjadinya

yang

hampir

bersamaan

pasien

dan

dengan dermatitis seboroik infantil diduga akan berkembang menjadi dermatitis atopik. 13
Perbedaan utama dengan dermatitis seboroik berupa peningkatan jumlah lesi pada lengan
bawah dan aksila kemudian.10 Beberapa penulis mempercayai bahwa dermatitis seboroik
merupakan varian klinis dari dermatitis atopik. 10,13 Diagnosis banding lainnya antara lain
skabies dan psoriasis.10

2.2.6. Penatalaksanaan
Pada kepala, terapi terdiri dari : pelepasan krusta menggunakan asam salisilat 3%
dalam minyak zaitun atau bahan dengan dasar air; kompres dengan minyak zaitun hangat;
penggunaan glukokortikoid potensi lemah dalam bentuk krim atau lotio untuk beberapa
hari; antijamur topical seperti imidazole (dalam bentuk sampo); mencuci kepala dengan
sampo bayi; dan perawatan kulit dengan emolien, krim, dan pasta lembut.10,11,13
Terapi pada area intertriginosa mencakup penggunaan lotio untuk mengeringkan,
seperti 0,2-0,5% cliquinol dalam lotio zink atau minyak zink. Pada kasus dengan
kandidiasis, lotio nystatin atau amphotericin B dapat diberikan diikutin dengan pasta
lembut atau keras. Pada kasus dengan dermatitis oozing, penggunaan gentian violet 0,10,25% dapat diberikan. Sediaan imidazole (ketokonazole 2% dalam pasta lembut, krim,
atau lotio) juga efektif.10

25

Diet tanpa susu dan tinggi protein, diet rendah lemak belum menunjukkan adanya
dampak terhadap perbaikan. Hal yang sama juga dengan efektivitas biotin oral, vitamin B
kompleks ataupun asam lemak esensial.10

26

BAB III
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan merupakan suatu penelitian non eksperimental
yang dirancang secara Observatif Deskriptif dengan pengumpulan data bersifat Deskriptif
Retrospektif yaitu suatu penelitian yang melihat ke belakang atau dengan mengambil datadata terdahulu yang telah ada, dimana data yang digunakan berasal dari register poli kulit
dan kelamin RSUP NTB dan rekam medis selama periode Januari - Desember 2013. Data
diperoleh dalam bentuk sekunder dengan mencatat apa yang telah tertulis pada register dan
rekam medis. Dari rekam medis tersebut dicatat :
1. Nama
2. Jenis kelamin
3. Umur
4. Alamat tempat tinggal
5. Diagnosis
6. Tindakan/terapi
3.2. Populasi Dan Sampel Penelitian
3.2.1 Populasi Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan populasi seluruh pasien yang mengalami penyakit
eritropapuloskuamosa di poli kulit dan kelamin RSUP NTB selama periode Januari Desember 2013.
3.2.2. Sampel Penelitian
Sampel diambil dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria berikut ini :
1. Kriteria inklusi
a. Semua pasien baru yang terdiagnosa eritropapuloskuamosa secara klinis
b. Semua pasien eritropapuloskuamosa yang tercatat dalam registrasi dan rekam
medis periode Januari - Desember 2013

27

2. Kriteria ekslusi
-

Pasien yang terdiagnosa eritropapuloskuamosa yang tidak ditemukan rekam


medisnya

3.2.3. Cara Pemilihan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan caratotal sampling. Total
samplingadalah teknik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi
terjangkau terjangkau sebagai responden/sampel.
3.3. Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Independen : jenis kelamin, usia penderita, tempat tinggal, diagnosa
penderita, terapi yang diberikan.
3.3.2 Variabel Dependen : penyakit eritropapuloskuamosa
3.4 Definisi Operasional
3.4.1. Penyakit eritropapuloskuamosa
Eritropapuloskuamosa adalah penyakit kulit yang ditandai dengan adanya
efluoresensi macula atau plak eritem, papula, dan skuama. Yang termasuk pada kelompok
penyakit ini adalah psoriasis, parapsoriasis, pitriasis rosea, dermatitis seboroik, dermatitis
eksfoliativa, dan liken planus. (Andrews)
3.4.2. Jenis Kelamin
Jenis Kelamin adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies
sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk
mempertahankan keberlangsungan spesies. Pada manusia dikenal menjadi laki-laki dan
perempuan.
3.4.3. Usia Penderita
Pembagian usia pada penelitian ini dibagi berdasarkan ICD 10 yaitu usia <1 tahun,
1-4 tahun, 5-14 tahun, 15-24 tahun, 25-44 tahun, 45-64 tahun, dan usia >=65 tahun.
3.4.4. Tempat Tinggal Penderita
Tempat tinggal pada penelitian ini dibagi berdasarkan kabupaten yang ada di NTB,
yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten

28

Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Sumbawa Besar, Kabupaten


Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.
3.4. Alur Penelitian
Berikut alur penelitian yang akan dilakukan :

Pengumpulan Data

kulit dan kelamin RSUP NTB dan rekam medis selama periode Januari - Desember 2013.

Analisis Data

Hasil

3.5. Analisis Data


Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabulasi serta grafik
sesuai dengan jenis kelamin, umur, tempat tinggal, terapi, dan pemeriksaan penunjang
yang dilakukan. Kemudian data dianalisis untuk mendeskripsikan angka-angka yang
mencerminkan distribusi dari aspek-aspek yang diteliti tersebut dengan menggunakan
program pengolahan data statistic yaitu SPSS 20 for Windows.

BAB IV
29

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Distribusi Penderita Eritropapuloskuamosa Berdasarkan Diagnosa
Berdasarkan data yang diambil dari register poli kulit dan kelamin RSUP NTB
didapatkan bahwa jumlah penderita eritropapuloskuamosa adalah sebanyak 200 kasus dari
3051 kasus kunjungan ke poli kulit dan kelamin RSUP NTB (6,56%) dengan jumlah
pasien sebanyak 94 orang, akan tetapi yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 179 kasus
dengan jumlah pasien sebanyak 79 pasien. Hal ini disebabkan oleh banyaknya rekam
medis yang tidak ditemukan serta adanya perbedaan antara nama pasien yang ada di
register dengan rekam medis meskipun nomor rekam medisnya sama. Jumlah pasien baru
sebanyak 59 orang dan pasien lama 20 orang.
Penyakit
Jumlah
Persentasi
Psoriasis
32
40,5
Pitriasis Rosea
13
16,5
Dermatitis Seboroik
23
29,1
Dermatitis Eksfoliativa
5
6,3
Liken Planus
6
7,6
Total
79
100,0
Tabel 2. Distribusi penderita eritropapuloskuamosa berdasarkan diagnosa

Psoriasis

P. rosea

D. eksfoliativa

Liken Planus

D. seboroik

Grafik 1. Distribusi penderita eritropapuloskuamosa berdasarkan diagnosa

Data yang diperoleh dari register poli penyakit kulit kelamin dan rekam medis
RSUP NTB periode Januari 2013 - Desember 2013 yang dapat dilihat pada tabel 2 dan
grafik 1 diatas menunjukkan bahwa dari keseluruhan penyakit eritropapuloskuamosa,
kasus psoriasis menempati urutan teratas yaitu dengan jumlah kasus sebanyak 32 kasus

30

(40,5%), dermatitis seboroik sebanyak 23 kasus (29,1%), dan disusul oleh kasus lainnya
yang sesuai dengan grafik. Hasil ini sesuai dengan kepustakaan dimana psoriasis dan
dermatitis seboroik merupakan penyakit eritroskuamosa yang umum dijumpai.4,10
4.2. Distribusi Penderita Eritropapuloskuamosa di RSUP NTB Periode Januari 2013
sampai Desember 2013 Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah
Persentasi
Laki-laki
44
55,7
Perempuan
35
44,3
Total
79
100,0
Tabel 3. Distribusi penderita eritropapuloskuamosa berdasarkan jenis kelamin.

Laki-Laki

Perempuan

Grafik 2. Distribusi penderita eritropapuloskuamosa berdasarkan jenis kelamin.

Dari

tabel

dan

grafik

menunjukkan

sebanyak

44

orang

(55,7%)

eritropapuloskuamosa dialami oleh laki-laki, dan sisanya 35 orang (45,22%) kasus


eritropapuloskuamosa dialami oleh perempuan. Pada laki-laki, penyakit dengan diagnosa
terbanyak adalah psoriasis dengan 17 pasien (21,52%) diikuti dermatitis seboroik sebanyak
15 pasien (19%) . Pada perempuan, penyakit dengan diagnosa terbanyak adalah psoriasis
dengan 15 pasien (19%) diikuti dermatitis seboroik dengan 8 pasien (10,13%). Menurut
data epidemiologi, terdapat perbedaan antara jenis kelamin pada penyakit dermatitis
seboroik,dimana laki-laki lebih banyak terkena daripada perempuan. 10 Pada psoriasis,
meskipun tidak ada perbedaan antara jenis kelamin, tetapi terdapat predileksi ras dimana
ras kulit putih menujukkan angka kejadian yang lebih tinggi dibandingkan ras kulit hitam.1,

31

4.3. Distribusi Penderita Eritropapuloskuamosa di RSUP NTB Periode Januari 2013


sampai Desember 2013 Berdasarkan Usia
Kategori

Jumlah

Persentasi

< 1 Tahun

1,25

1-4 Tahun

1,25

5-14 Tahun
15-24 Tahun

11
3

14
3,75

25-44 Tahun

32

40,75

45-64 Tahun

23

29

>=65 Tahun

10

Total

79

100.0

Tabel 4. Distribusi penderita eritropapuloskuamosa berdasarkan usia.

< 1 Tahun

1-4 Tahun

5-14 Tahun

25-44 Tahun

45-64 Tahun

>=65 Tahun

15-24 Tahun

Grafik 3. Distribusi Penderita Eritropapuloskuamosa berdasarkan Usia.

Tabel dan grafik menunjukkan pasien penyakit eritropapuloskuamosa terbanyak


terdapat pada kelompok usia berusia 25-44 tahun (40,75%) dan diikuti kelompok usia 4564 tahun (29%). Pada kelompok usia 25-44 tahun, ditemukan diagnosa terbanyak adalah
psoriasis dengan 14 pasien (17,72%). Hasil ini sesuai dengan kepustakaan dimana
psoriasis sering ditemukan pada usia dekade ketiga (rata-rata pada pria ditemukan pada
usia 29 tahun, sedangkan pada wanita sekitar usia 27 tahun) dan dermatitis seboroik pada
dekade keempat sampai ketujuh, meskipun dapat ditemukan pada berbagai usia.1,2,10

32

4.4. Distribusi Penderita EritropapuloskuamosaBerdasarkan Tempat Tinggal


Lokasi
Jumlah
Persentasi
Kota Mataram
41
51,9
Kabupaten Lombok Barat
17
21,5
Kabupaten Lombok Tengah
7
8,9
Kabupaten Lombok Timur
3
3,8
Kabupaten Lombok Utara
6
7,6
Kabupaten Sumbawa
3
3,8
Kabupaten Sumbawa Barat
0
0
Kabupaten Dompu
0
0
Kabupaten Bima
2
2,5
Kota Bima
0
0
Total
79
100,0
Tabel 5. Distribusi eritropapuloskuamosa berdasarkan berdasarkan tempat tinggal.

Kota Mataram

Kabupaten Lombok Barat

Kabupaten Lombok Tengah

Kabupaten Lombok Timur

Kabupaten Lombok Utara

Kabupaten Sumbawa

Kabupaten Sumbawa Barat

Kabupaten Dompu

Kabupaten Bima

Kota Bima

Grafik 4. Distribusi penderita eritropapuloskuamosa berdasarkan tempat tinggal.

Dari tabel dan grafik distribusi pasien berdasarkan tempat tinggal menunjukkan
sebagian besar pasien berasal dari wilayah Mataram yaitu sebanyak 41 orang (51,9%),
lainnya berasal dari Lombok Barat dengan jumlah 17 orang (21,5%), dan disusul oleh
kabupaten lainnya yang sesuai dengan grafik.. Hal ini dikarenakan kepadatan penduduk
yang paling tinggi terdapat di Kota Mataram sebesar 6.793 jiwa per km2. Selain itu juga
dapat disebabkan oleh letak dari RSUP NTB yang berada di kota Mataram sehingga lebih
mudah diakses oleh masyarakat dari kota Mataram.

33

4.5. Penggunaan Antihistamin pada Penderita Eritropapuloskuamosa di RSUP NTB


Periode Januari 2013 sampai Desember 2013
Antihistamin
Jumlah
Presentase
Tidak diberikan
58
32,4
Cetirizine
57
31,8
Loratadine
41
23
Mebhidroline
12
6,7
CTM
6
3,3
Cetirizine + Loratadine
4
2,2
Loratadine + CTM
1
0,6
Total
179
100%
Tabel 6. Penggunaan antihistamin pada penderita eritropapuloskuamosa.

Tidak diberikan

Cetirizine

Loratadine

Mebhidroline

CTM

Cetirizine + Loratadine

Loratadine + CTM

Grafik 5. Penggunaan antihistamin pada penderita eritropapuloskuamosa

Dari tabel dan grafik penggunaan antihistamin menunjukkan penggunaan obat ini
dalam pengobatan simptomatis, yaitu pruritus. Pada penyakit eritropapuloskuamosa, gejala
pruritus merupakan gejala penyerta4,10 dan antihistamin diindikasi untuk mengurangi gatal
pada berbagai kondisi14 sehingga mengurangi terjadinya lesi baru. Cetirizine dan loratadine
menjadi obat antihistamin yang paling banyak diberikan (31,8% dan 23% berturut)
dikarenakan pemberiannya dapat dalam dosis tunggal dan efek sedatif yang minimal.14
4.6. Penggunaan Kortikosteroid Oral dan Topikal pada Penderita Eritropapuloskuamosa di
RSUP NTB PeriodeJanuari 2013 sampai Desember 2013
Kortikosteroid Oral

Jumlah

Presentase

34

Tidak diberikan
132
73,7
Metilprednisolone
47
26,3
Total
179
100
Tabel 7. Penggunaan kortikosteroid oral pada penderita eritropapuloskuamosa

Tidak diberikan

Metilprednisolone

Grafik 6. Penggunaan kortikosteroid oral pada penderita eritropapuloskuamosa

Kortikosteroid Topikal
Tidak diberikan
Desoksimetason
Klobetasol propionate
Betamethasone valerate
Mometason furoate
Hydrocortison
Desonide
Diflucortolone valerat
Hydrocortison butirat
Desoksimetason + Klobetasol

Jumlah
42
60
16
13
8
15
6
8
1
1

Presentase
23,46
33,51
8,94
7,26
4,47
8,38
3,35
4,47
0,56
0,56

0,56

Hydrocortison
Desoksimetason

1,12

Diflucortolone valerat
Klobetasol propionate

1,12

Desonide
Klobetasol

0,56

Mometason furoate
Betamethasone valerate +

1,12

propionate
Klobetasol

propionate

propionate

35

Hydrocortison
Desoksimetason

0,56

Mometason furoate
Total
179
100%
Tabel 8. Penggunaan kortikosteroid topikal pada penderita eritropapuloskuamosa

Tidak d ibe rikan


Des o ks ime ta so n
Klo beta s ol p ropio nat e
Bet ameth as on e valerate
Mo me tas on furo ate
Hyd rocortiso n
Des o nid e
Diflu co rtolone va lerat
Hyd rocortiso n b utira t
Des o ks ime ta so n + Klo bet as ol p ro pio nate
Klo beta s ol p ropio nat e + Hydro co rt is on
Des o ks ime ta so n + Difluco rtolone valerat
Klo beta s ol p ropio nat e + Des on ide
Klo beta s ol p ropio nat e + Mometa s o n fu roate
Bet ameth as on e valerate + Hydroc ortis on
Des o ks ime ta so n + Mo met as on fu roate

Grafik 7. Penggunaan kortikosteroid topikal pada penderita eritropapuloskuamosa

36

Dari tabel dan grafik penggunaan kortikosteroid menunjukkan penggunaan


kortikosteroid topikal lebih banyak dibandingkan penggunaannya secara sistemik (tidak
diberikan secara topikal 23,46% berbanding tidak diberikan secara sistemik 73,7%).
Penggunaan kortikosteroid oral paling banyak didapatkan pada kasus psoriasis (20 kasus,
11,17%) diikuti dermatitis eksfoliativa (12 kasus, 6,7%). Hal ini dikarenakan pemberian
kortikosteroid secara sistemik memiliki efek samping yang cukup berat seperti
osteoporosis, aterosklerosis, gangguan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, dan gangguan
pertumbuhan pada anak sehingga bila tidak ada indikasi dalam penggunaan secara sistemik
(seperti penyakit jaringan, ikat, penyakit kelainan imunologis, urtikaria, angioudem) maka
tidak dianjurkan dalam penggunaannya.15 Penggunaan secara topikal dipilih karena efek
samping sistemik yang lebih rendah, memiliki efek antiinflamasi, antiproliferatif, dan
imunosupresif yang baik sesuai dengan potensinya. Penggunaannya pada anak lebih
diperketat karena luas permukaan tubuh yang relatif besar dibandingkan orang dewasa 16,
sehingga penggunaan kortikosteroid potensi rendah dan sedang lebih banyak digunakan
pada anak. Pada grafik penggunaan kortikosteroid topikal, lebih banyak digunakan dengan
potensi kuat (desoksimetason, 60 kasus, 33,51%). Hal ini dikarenakan penggunaan dari
kortikosteroid topikal, potensi yang semakin kuat digunakan pada daerah dengan kulit
yang lebih tebal dan kulit yang mengalami likenifikasi dan hiperkeratosis. Penggunaan
pada area intertriginosa dan pada anak lebih banyak menggunnakan potensi rendah, seperti
hydrocortisone (15 kasus, 8,38%).

37

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Jumlah seluruh pasien eritropapuloskuamosa di RSUP NTB Periode Januari 2013
sampai Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi adalah 179 kasus dengan
79 orang pasien.
2. Jumlah pasien baru sebanyak 59 orang dan pasien lama sebanyak 20 orang.
3. Pasien eritropapuloskuamosa terbanyak berusia 25-44 tahun yaitu sebanyak 32
orang(40,75%).
4. Pasien eritropapuloskuamosa terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 44
orang (55,7%).
5. Pasien eritropapuloskuamosa terbanyak berasal dari wilayah Mataram yaitu
sebanyak 41 orang (59,1%).
6. Diagnosis terbanyak dari keseluruhan kasus adalah psoriasis dengan jumlah 32
orang (40,5%).
7. Penggunaan antihistamin terbanyak adalah cetirizine (31,8%) diikuti loratadin
(23%)
8. Penggunaan kortikosteroid topikal lebih banyak dibandingkan sistemik (76,54%
berbanding 26,3%).
9. Kortikosteroid topikal yang paling sering digunakan yaitu desoksimetason
(33,51%), diikuti klobetasol propionate (8,94%), dan hydrokortison (8,38%).
5.2. Saran
1. Diperlukan sistem pencatatan yang lebih lengkap mengenai identitas pasien
terutama daerah tempat tinggal.
2. Diperlukan penulisan diagnosis yang lengkap agar dapat mengelompokkan
pasien berdasarkan diagnosis yang benar.
3. Disarankan untuk membuat register dengan sistem komputerisasi agar
memudahkan membaca dan mengambil data yang digunakan untuk penelitian
selanjutnya.
38

DAFTAR PUSTAKA

William D James, Timothy G Berger, Dirk M Elston. 2006. Andrews disease of the

2
3

skin: clinical dermatology, tenth edition. Philadelphia: W.B Saunders Company.


Kelly AP, Taylor SC. 2009. Dermatology for skin of colour. McGraw-Hill Companies.
Griffith CEM, Barker JNWN. 2010. Psoriasis. Dalam Rooks textbook of

dermatology8thedition. Blackwell Publishing Oxford.


Klaus W, Lowell A, Goldsmith Stephen I. 2008. Psoriasis. Dalam :Wolff K, Goldsmith
LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's dermatology in
general medicine7th edition . United States of America Mc Grow Hill 2008. hal. 169-

93.
Lui Harvey. 2011. Plaque Psoriasis,http://emedicine.medscape.com/article/1108072-

overview#a1. Diakses 21 Juli 2014


Buxton PK. 2003..Psoriasis. Dalam : ABC of dermatology fourth edition. London:

BMJ Publishing Group.


Gawkrodger, David J. 2003. Psoriasis.Dalam Dermatology : an ilustrated colour text:

disease eruption. United Kingdom: Churchil Livingstones.


Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2006. Jakarta :Departemen

Kesehatan Republik Indonesia.


Wolff K, Johson RA, Saavedra AP. 2010. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of

Clinical Dermatology 7th edition. New York : McGraw Hill.


10 Plewig G, Jansen T. Seborrheic dermatitis. Dalam : Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's dermatology in general
medicine7th edition . United States of America Mc Grow Hill 2008. hal. 219-25.
11 Atherton DJ, Gennery AR, Cant AJ. The Neonate. Dalam Burns T, Breatnach S, Cox
N, Griffiths C, penyunting. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook's textbook
of dermatology 8th edition. UK: Blackwell Publishing; 2010. hal.14.11, 14.28-31.
12 Diana, IA. Dermatitis seboroik pada bayi dan anak. Dalam : Kabulrachman,
Prasetyowati

S,

Indrayanti

ES,

dan

Subakir,

penyunting.

Penyakit

papuloeritroskuamosa dan dermatomikosis superfisialis pada bayi dan anak.


Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang 2008. hal 7-18.
13 Berth-Jones J. Infantile seborrheic dermatitis. Dalam Burns T, Breatnach S, Cox N,
Griffiths C, penyunting. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rook's textbook of
dermatology 8th edition. UK: Blackwell Publishing; 2010.hal.23.29-34.

39

14 Limb SL dan Wood RA. Antihistamines. Dalam Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's dermatology in general
medicine7th edition . United States of America Mc Grow Hill 2008. hal. 2186-93.
15 Werth VP. Systemic Glucocorticoid. Dalam Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest
BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's dermatology in general medicine7th
edition . United States of America Mc Grow Hill 2008. hal. 2147-53.
16 Valencia IC, Kerdel FA. Topical Corticosteroid. Dalam Wolff K, Goldsmith LA, Katz
SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick's dermatology in general
medicine7th edition . United States of America Mc Grow Hill 2008. hal. 2102-6.

40