You are on page 1of 2

Aku melihat dari balik topeng ultraman yang kuambil secara paksa dari koleksi mainan

adikku. Disinilah aku, tepatnya jam 12 malam di tempat yang mereka sebut dungeon
meskipun tempat ini bukanlah sebuah dungeon yang sering kalian pikirkan atau temukan
di film atau di game.

Jika harus aku deskripsikan, dungeon hanyalah sebuah kawasan perkuburan yang diisi
oleh ribuan kuburan baik yang masih basah tanahnya maupun sudah kering. Kakiku
sendiri hampir beberapa senti dari benda yang terasa seperti batu nisan. Entahlah,
keadaan gelap gulita dan cahaya bulan sendiri tidak bisa membantu mataku untuk
melihat lebih jelas lagi.

Baiklah, di dungeon ini aku tidak sendiri. Ada tiga orang lainnya lagi yang wajahnya tidak
aku kenal karena tertutupi oleh topeng juga. Posisi kami berempat seperti melingkar di
atas tanah yang telah diukir dengan kapur putih yang bersinar yang mungkin dilapisi oleh
zat luminol sejenisnya yang membuat pola lingkaran yang digambar terlihat bersinar.

Sebenarnya, aku telat datang ke tempat ini dan setelah aku tiba di tempat ini mereka
bertiga telah ada berdiri tanpa bergerak disini sehingga aku tidak tahu apakah mereka
telah memperkenalkan diri atau belum sehingga aku menyebut mereka dengan masingmasing jenis topeng mereka.

Orang pertama memakai topeng yang sering digunakan pada tarian-tarian tradisional di
Bali. Coraknya menarik dan detail, mata topengnya besar dan bulat, giginya besar-besar
dan terdapat gigi taring di kiri dan kanannya. Pokoknya topengnya aneh banget, dan
apalagi jika dipadukan dengan suasana malam yang menyebabkan topeng ini terasa
menyeramkan. Maaf aku tidak terlalu tahu dengan budaya topeng seperti ini sehingga
tidak tahu lebih detail lagi.

Ah, bicara mengerikan, orang di sebelah kananku lebih menyeramkan lagi topengnya.
Kalian tahu jika ada wabah penyakit di abad 14 yang lalu, dokternya sering memakai
topeng burung berparuh besar seperti

itu kan? Ya, orang disebelahku itu ternyata

memakai topeng burung itu. Dan yang lebih parahnya, dia ternyata tahu aku
memperhatikannya dan menatap balik diriku.

Ada yang salah dengan wajahku? seperti itu katanya.

Ya, ya, banyak yang salah dengan wajahmu, jawabku dalam hati. Aku hanya merespon
dengan menggeleng-gelengkan kepala.