You are on page 1of 12

Defenisi otopsi

Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi


pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam. Dengan tujuan menemukan
proses penyakit atau adanya cedera, melakukan interpretasi atau penemuanpenemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan
sebab akibat antara kelainan-kelainan yg ditemukan dengan penyebab kematian.
Pembagian otopsi
Berdasarkan tujuannya otopsi terbagi atas :
1. Otopsi anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas
kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim dari rumah
sakit yang telah disimpan 2X24jam di labotorium ilmu kedokteran
kehakiman tidak ada ahli waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan
dilabotorium anatomi, mayat disimpan sekurang-kurangnya satu tahun
sebelum digunakan untuk praktikum anatomi. Menurut hukum, hal ini
dapat dipertanggung jawabkan sebab warisan yag tidak ada yang
mengakuinya menjadi milik negara setekah 3 tahun. Ada kalanya,
seseorang mewariskan mayatnya setelah meninggal pada fakultas
kedokteran, hal ini haruslah sesuai dengan KUHP pasar 935
2. Otopsi klini, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi
akibat suatu penyakit. Tujuannta untuk menentukan penyebab kematian
yang pasti, menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis
postmortem, pathogenesis klinis sebagainya. Otopsi klinis dilakukan
dengan persetujuan terlulis atau ahli waris ada kalanya ahli waris sendiri
yang memintanya
3. Otopsi Forensik/medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang yang
diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti kasus
kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas
permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan saatu
perkara. Ujuan dari otopsi medikolegal adalah
-untik memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau beum
jelas
-untuk menentukan sebab kematian, mekanisme kematian, dan saat
kematian
- utnuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan
identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan
-membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk
visum et repertum
OTOPSI MEDIKOLEGAL
Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan
dengan adanya penyidikan sutu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan
objektif pada korban, yang di peroleh dari periksaan medis.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada otopsi medikolegal
1. Temoat utnuk melakukan otopso adalah kamar jenazah
2. Otopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk otopsi oleh piak yang
berwenang

3. Otopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk


otopsi
4. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan
dahulu sebelum memulai otopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan
temuan-temuan dari pemeksaan fisik.
5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan otopsi
6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada
laporan. Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda
identifikasi, photo, sidik jari, dan yang lain-lain.
7. Ketika melakukan otopsi tidak boleh di saksikan oleh orang yang tidak
berwenang
8. Pencatatan perincian pada saat tindakan otopsi dilakukan oleh asisten
9. Pada laporan otopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus
10.Jenazah yang sudah membusuk juga bisa di otopsi
Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan otopsi
forensik/medikolegal adalah :
1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan
dilakukan, termassuk surat izin keluarga, surat permintaan
pemeriksaan/pembuatan visum et repertum
2. Memastikan mayat yang akan diotopsi adalah mayat yang dimaksud
dalam surat tersebut
3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya
kematian selengkap mungkin untuk membantu memberi petunuk
pemeriksaan dan jenis pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan
4. Memastikan alat-alat yang akan digunakan telah tersedia. Untuk otopsi
tidak diperlukan alat-alat khusus dan mahal, cukup:
- Timbangan besar untuk menimbang mayat
- Timbangan kecil untuk timbangan organ
- Pisau, dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam
- Gunting, berujung runcing dan tumpul
- Pinset anatomi dan bedah
- Gergaji, gergaji besi yang biasanya dipakai di bengkel
- Forseps atau cunam untuk melepaskan durameter
- Gelas takar 1 meter
- Pahat
- Palu
- Meteran
- Jarum dan benang
- Sarung tangan
- Baskom dan ember
- Air yang mengalir
5. Mempersiapkan format otopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam
pembuatan laporan otopsi
Pemeriksaan luar
Bagian pertama dari teknik otopsi adalah luar.sistematika pemeriksaan luar
adalah:
1. Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian ) yang biasanya di ikatkan
pada jempol kaki mayat. Gunting pada tali pengikat,simpan bersama

berkas pemeriksaan. Sedangkan label rumah sakit, utnuk identifikasi di


kamr jenazah, harus tetap ada tubuh mayat
2. Mencatat jenis/ bahan, warna, corak, serta kondisi ( ada tidaknya
bercak/pengotoran) dari penutup mayat
3. Mencatat jenis/bahan, warna, cokak, serta kondisi ( ada tidaknya
bercak/pengotoran) dari bungkus mayat. Mencatat tali pengikatnya bila
ada
4. Mencatat pakaian mayat denganteliti mulai dari yang dikenakan diatas
sampai yang di bawah, dari yang terluar sampai yang terdalam.
Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil,
bentuk /model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
monogram/inisual, dan tambalan/tisiskanbila ada. Catat juga letak dan
ukuran pakaian bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku
di periksa dan dicatat isinya
5. Pencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk
serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
6. Mencatat benda di samping mayat
7. Mencatat perubahan tanatoligi:
-lebam mayat; letak, warna, dan identitas lebam
-kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada
tidaknya spasme kadaverik
-suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu
ruangan pada saat tersebut
-pembusukan
-lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera
8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan
umur, warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan,
disirkumsisi/tidak, striare albicantes pada dinding perut
9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas
khusus, meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit,
anomali dan cacat pada tubuh
10.Memeriksa distribusi, warna, kadaan tumbuh, dan sifat dari rambut.
Rambut kepala harus di periksa.
11.Memeriksa mata, seperti apakah kelopa terbuka atau tertutup, tanda
kekerasan, kelainan. Periksa selaput lendir kelopak matadan bola mata,
warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak
perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan fisiolgik atau patologik.
Catat keadaan dan warna iris, serta kelainan lensa mata. Catat ukuran
pupil, bandingkan kiri dan kanan.
12.Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada telinga dan hidung
13.Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi
dengan lengkap, termasuk jumlah,hilang/patah/tambalan, gigi palsu ,
kelainan letak, pewarnaan dan sebagainya
14.Bagian leher di periksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran
pembuluh darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga periksa secara
menyeluruh
15.Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat
kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada
wanita dicatat keadaan selaput darah dan komisura posterior, periksa

sekret liang senggama. Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan


adanya luka, benda asing, darah dan lain-lain.
16.Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan,
ikterus, sianosis, edema, bekas pengobataan, bercak lumpur atau
pengotoran lain pada tubuh.
17.Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka garus dicatat lengap. Setiap
luka pada tubuh harus di perinci dengan lengkap, yaitu perkiraan
penyebab luka , lokasi,ukuran. Dalam luka diukur setelah kedua dan
ditautkan. Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan,
antara lain; garis tengan melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang
belakang, garis mendatar melalui kedua puting susu, dan garis mendatar
melalu pusat.
18.Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya
Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan
khusus juga bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari
dugaan penyebab kematian. Insisi pada masing-masing bagian-bagian tubuh
yaitu :
A. Dada :
1. Seksi Jantung :
Jantung dibuka menurut aliran darah : pisau dimasukkan ke vena
kava inferior sampai keluar di vena superior dan bagian ini dipotong.
Ujung pisau dimasukkan melalui katup trikuspidalis keluar di insisi bilik
kanan dan bagian ini dipotong. Ujung pisau lalu dimasukkan arteri
pulmonalis dan otot jantung mulai dari apeks dipotong sejajar dengan
septum interventrikulorum.
Ujung pisau dimasukkan ke vena pulmonalis kanan keluar ke vena
pulmonalis kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui
katup mitral keluar di insisi bilik kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau
kemudian dimasukkan melalui katup aorta dan otot jantung dari apeks
dipotong sejajar dengan septum inetrventrikulorum. Jantung sekarang
sudah terbuka, diperiksa katup, otot kapiler, chorda tendinea, foramen
ovale, septum interventrikulorum.
Arteri koronaria diiris dengan pisau yang tajam sepanjang 4-5 mm
mulai dari lubang dikatup aorta. Otot jantung bilik kiri diiris di pertengahan
sejajar dengan epikardium dan endokardium, demikian pula dengan
septum interventrikulorum.
2.

Paru-paru :
Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong bronkhi dan
pembuluh darah di hilus, setelah perkardium diambil. Vena pulmonalis
dibuka dengan gunting, kemudian bronkhi dan terakhir arteri pulmonalis.
Paru-paru diiris longitudinal dari apeks ke basis.
Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari
sambungannya dengan cara pisau dipegang dengan tangan kanan dengan
bagian tajam horizontal diarahkan pada tulang rawan iga dan dengan

tangan yang lain menekan pada punggung pisau. Pemotongan dimulai


dari tulang rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan dilepaskan dari
diafragma kanan dan kiri kemudian dilepaskan mediastinum anterior.
Rongga paru-paru diperiksa adanya perlengketan, darah, pus atau cairan
lain kemudian diukur.
Kemudian pisau dengan tangan kanan dimasukkan dalam rongga
paru-paru, bagian tajam tegak lurus diarahkan ke tulang rawan no.1 dan
tulang rawan dipotong sedikit ke lateral, kemudian bagian tajam pisau
diarahkan ke sendi sternoklavikularis dengan menggerak-gerakkan
sternum, sendi dipisahkan. Prosedur diulang untuk sendi yang lainnya.
Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persistens.
Perikardium dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan perikardium,
normal sebanyak kurang lebih 50 cc dengan warna agak kuning. Apeks
jantung diangkat, dibuat insisi di bilik dan serambi kanan diperiksa adanya
embolus yang menutup arteri pulmonalis. Kemudian dibuat insisi di bilik
dan serambi kiri. Jantung dilepaskan dengan memotong pembuluh besar
dekat perikardium.

B. Perut :
Esofagus-Lambung-Doudenum-Hati :
Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Esofagus
diikat ganda dan dipotong. Diafragma dilepaskan dari hati dan esofagus
dan unit tadi dapat diangkat. Sebelum diangkat, anak ginjal kanan yang
biasanya melekat pada hati dilepaskan terlebih dahulu.
Esofagus dibuka terus ke kurvatura mayor, terus ke duodenum. Perhatikan
isi lambung, dapat membantu penentuan saat kematian. Kandung empedu
ditekan, bulu empedu akan menonjol kemudian dibuka dengan gunting ke
arah papila Vater, kemudian dibuka ke arah hati, lalu kandung empedu
dibuka. Perhatikan mukosa dan adanya batu.
Buluh kelenjar ludah diperut dibuka dari papila Vater ke pankreas.
Pankreas dilepaskan dari duodenum dan dipotong-potong transversal.
-

Hati : perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan, kemudian dipotong


longitudinal.
Usus halus dan usus besar dibuka dengan gunting ujung tumpul,
perhatikan mukosa dan isinya, cacing.
Ginjal, Ureter, Rektum, dan Kandung Urine:
Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan suatu
insisi lateral dapat diangkat dan dilepaskan dengan memotong pembuluh
darah di hilus, kemudian ureter dilepaskan sampai panggul kecil. Kandung
urine dan rektum dilepaskan dengan cara memasukkan jari telunjuk lateral
dari kandung urine dan dengan cara tumpul membuat jalan sampai ke

belakang rektum. Kemudian dilakukan sama pada bagian sebelahnya.


Tempat bertemunya kedua jari telunjuk dibesarkan sehingga 4 jari kanan
dan kiri dapat bertemu, kemudian jari kelingking dinaikkan ke atas dengan
demikian rektum lepas dari sakrum. Rektum dan kandung urine dipotong
sejauh dekat diafragma pelvis.
Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan longitudinal
dari lateral ke hilus. Ureter dibuka dengan gunting sampai kandung urine,
kapsul ginjal dilepas dan perhatikan permukaannya. Pada laki-laki rektum
dibuka dari belakang dan kandung urine melalui uretra dari muka. Rektum
dilepaskan dari prostat dan dengan demikian terlihat vesika seminalis.
Prostat dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang.
Testis dikeluarkan melalui kanalis spermatikus dan diiris longitudinal,
perhatikan besarnya, konsistensi, infeksi, normal, tubuli semineferi dapat
ditarik seperti benang.
Urogenital Perempuan:
Kandung urine dibuka dan dilepaskan dari vagina. Vagina dan uterus
dibuka dengan insisi longitudinal dan dari pertengahan uterus insisi ke
kanan dan ke kiri. Ke kornu. Tuba diperiksa dengan mengiris tegak lurus
pada jarak 1-1,5 cm. Ovarium diinsisi longitudinal.
Pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan dengan menusuk ke
dalam uterus, seluruhnya : kandung urine, uterus dan vagina, rektum
difiksasi dalam formalin 10% selama 7 hari, setelah itu dibuat irisan tegak
lurus pada sumbu rektum setebal 1,25 cm, kemudian semuanya direndam
dalam alkohol selama 24 jam. Saluran tusuk akan terlihat sebagai noda
merah, hiperemis. Dari noda merah ini dibuat sediaan histopatologi.
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan,
duodenum dan rektum diikat ganda kemudian dipotong.
Limpa : dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan parenkim,
folikel, dan septa.
Leher :
Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil
dikeluarkan sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas,
kelenjar gondok dan tonsil. Pada kasus pencekikan tulang lidah harus
dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.
Kepala :
Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri
dengan mata pisau menghadap keluar supaya tidak memotong rambut
terlalu banyak. Kulit kepala kemudian dikelupas ke muka dan ke belakang
dan tempurung tengkorak dilepaskan dengan menggergajinya. Pahat
dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan dengan beberapa ketukan
tempurung lepas dan dapat dipisahkan. Durameter diinsisi paralel dengan
bekas mata gergaji. Falx serebri digunting dibagian muka. Otak dipisah
dengan memotong pembuluh darah dan saraf dari muka ke belakang dan

kemudian medula oblongata. Tentorium serebri diinsisi di belakang tulang


karang dan sekarang otak dapat diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas
dengan cunam. Otak kecil dipisah dan diiris horisontal, terlihat nukleus
dentatus. Medula oblongata diiris transversal, demikiaan pula otak besar
setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala perhatikan adanya edema, kontusio,
laserasi serebri.
Tengkorak Neonatus :
Kulit kepala dibuka seperti biasa, tengkorak dibuka dengan menggunting
sutura yang masih terbuka dan tulang ditekan ke luar, sehingga otak
dengan mudah dapat diangkat.
PEMERIKSAAN KHUSUS
Pada beberapa keadaan tertentu, diperlukan berbagai prosedur khusus
dalam tindakan otopsi, antara lain : insisi Y, insisi pada kasus dengan kelainan
leher, tes emboli udara, tes apung paru, tes pada pneumothorax, dan tes
alphanaphthylamine.
Insisi Y
Insisi yang dilakukan dangkal (shallow incision) yang dilakukan pada tubuh
pria.
Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah tulang selangka dan sejajar
dengan tulang tersebut, kiri dan kanan, sehingga bertemu pada bagian tengah
(incisura jugularis).
Lanjutkan sayatan, dimulai dari incisura jugularis ke arah bawah tepat di
garis pertengahan sampai ke sympisis os pubis menghindari daerah umbilikus.
Kulit daerah leher dilepaskan secara hati-hati sampai ke rahang bawah;
tindakan ini dimulai dari sayatan yang telah dibuat pertama kali.
Dengan kulit daerah leher dan dada bagian atas tetap utuh, alat-alat
dalam rongga mulut dan leher dikeluarkan.
Tindakan selanjutnya sama dengan tindakan pada bedah mayat yang
biasa.
Insisi yang lebih dalam (deep incision), yang dilakukan untuk kaum wanita.
Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah buah dada, dimulai dari
bagian lateral menuju bagaian medial (proc. Xiphoideus); bagian lateral disini
dapat dimulai dari ketiak, ke arah bawah sesuai dengan arah garis ketiak depan
(linea axillaris anterior), hal yang sama juga dilakukan untuk sisi yang lain (kiri
dan kanan).
Lanjutkan sayatan ke arah bawah seperti biasa, sampai simphisis os
pubis, dengan demikian pengeluaran dan pemeriksaan alat-alat yang berada
dalam rongga mulut, leher, dan rongga dada lebih sulit bila dibandingkan dengan
insisi Y yang dangkal.
Insisi Y, dilakukan semata-mata untuk alasan kosmetik, sehingga jenazah
yang sudah diberi pakaian, tidak memperlihatkan adanya jahitan setelah
dilakukan bedah mayat. Ada dua macam insisi Y, yaitu :
Insisi pada Kasus dengan Kelainan di Daerah Leher

Buat insisi I, yang dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah seperti
biasa, sampai ke simpisis os pubis.
Buka rongga dada, dengan jalan memotong tulang dada dan iga-iga.
Keluarkan jantung, dengan menggunting mulai dari v.cava inferior,
vv.pulmonalis, a.pulmonalis, v.cava superior dan terakhir aorta.
Buka rongga tengkorak, dan keluarkan organ otaknya.
Dengan adanya bantalan kayu pada daerah punggung, maka daerah leher
akan bersih dari darah, oleh karena darah telah mengalir ke atas ke arah
tengkorak dan ke bawah, ke arah rongga dada; dengan demikian pemeriksaan
dapat dimulai.
Insisi ini dimaksudkan agar daerah leher dapat bersih dari darah, sehingga
kelainan yang minimalpun dapat terlihat; misalnya pada kasus pencekikan,
penjeratan, dan penggantungan. Prinsip dari teknik ini adalah pemeriksaan
daerah dilakukan paling akhir.
Tes emboli udara
buat sayatan I, dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah sampai ke
symphisis pubis,
potong rawan iga mulai dari iga ke-3 kiri dan kanan, pisahkan rawan iga dan
tulang dada keatas sampai ke perbatasan antara iga ke-2 dan iga ke-3,
potong tulang dada setinggi perbatasan antara tulang iga ke-2 dan ke-3,
setelah kandung jantung tampak, buat insisi pada bagian depan kandung
jantung dengan insisi I, sepanjang kira-kira 5-7 sentimeter; kedua ujung
sayatan tersebut dijepit dan diangkat dengan pinset (untuk mencegah air yang
keluar),
masukkan air ke dalam kandung jantung, melalui insisi yang telah dibuat
tadi, sampai jantung terbenam; akan tetapi bila jantung tetap terapung, maka
hal ini merupakan pertanda adanya udara dalam bilik jantung,
tusuk dengan pisau organ yang runcing, tepat di daerah bilik jantung
kanan, yang berbatasan dengan pangkal a. Pulmonalis, kemudian putar pisau itu
90 derajat; gelembung-gelembung udara yang keluar menandakan tes emboli
hasilnya positif,
bila tidak jelas atau ragu-ragu, lakukan pengurutan pada a. Pulmonalis, ke
arah bilik jantung, untuk melihat keluarnya gelembung udara,
bila kasus yang dihadapi adalah kasus abortus, maka pemeriksaan dengan
prinsip yang sama, dilakukan mulai dari rahim dan berakhir pada jantung,
semua yang disebut di atas adalah untuk melakukan tes emboli pulmoner,
untuk tes emboli sistemik, pada prinsipnya sama, letak perbedaannya adalah :
pada tes emboli sistemik tidak dilakukan penusukan ventrikel, tetapi sayatan
melintang pada a. Coronaria sinistra ramus desenden, secara serial beberapa
tempat, dan diadakan pengurutan atas nadi tersebut, agar tampak gelembung
kecil yang keluar,
dosis fatal untuk emboli udara pulmoner 150-130 ml, sedangkan untuk
emboli sistemik hanya beberapa ml.
Emboli udara, baik yang sistemik maupun emboli udara pulmoner, tidak
jarang terjadi.

Pada emboli sistemik udara masuk melalui pembuluh vena yang ada di paruparu, misalnya pada trauma dada dan trauma daerah mediastinum yang
merobek paru-paru dan merobek pembuluh venanya.
Emboli pulmoner adalah emboli yang tersering, udara masuk melalui
pembuluh-pembuluh vena besar yang terfiksasi, misalnya pada daerah leher
bagian bawah, lipat paha atau daerah sekitar rahim (yang sedang hamil); dapat
pula pada daerah lain, misalnya pembuluh vena pergelangan tangan sewaktu
diinfus, dan udara masuk melalui jarum infus tadi. Fiksasi ini penting, mengingat
bahwa tekanan vena lebih kecil dari tekanan udara luar, sehingga jika ada
robekan pada vena, vena tersebut akan menguncup, hal ini ditambah lagi
dengan pergerakan pernapasan, yang menyedot.
Tes Apung Paru-paru
Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada dalam satu
kesatuan, pangkal dari esophagus dan trakea boleh diikat.
Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air.
Bila terapung lepaskan organ paru-paru, baik yang kiri maupun yang kanan.
Apungkan kedua organ paru-paru tadi, bila terapung lanjutkan dengan
pemisahan masing-masing lobus, kanan terdapat lima lobus dan kiri dua lobus.
Apungkan semua lobus tersebut, catat yang mana yang tenggelam dan
mana yang terapung.
Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5 potong
dengan ukuran 5 mm x 5 mm, dari tempat yang terpisah dan perifer.
Apungkan ke 25 potongan kecil-kecil tersebut, bila terapung, letakkan
potongan tersebu pada dua karton, dan lakukan penginjakan dengan
menggunakan berat badan, kemudian dimasukkan kembali ke dalam air.
Bila terapung berarti tes apung paru positif, paru-paru mengandung udara,
bayi tersebut pernah dilahirkan hidup.
Bila hanya sebagian yang terapung, kemungkinan terjadi pernafasan
partial, bayi tetap pernah dilahirkan hidup.
Tes apung paru-paru dikerjakan untuk mengtahui apakah bayi yang diperiksa
itu pernah hidup. Untuk melaksanakan test ini, persyaratannya sama dengan
test emboli udara, yakni mayatnya harus segar. Cara melakukan tes apung paruparu:
Tes Pada Pneumothoraks
buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu sekitar
iga ke 4 dan 5 ( udara akan berada pada tempat yang tertinggi ),
buat kantung dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya dari
daerah iga 4 dan 5 ( sekitar 10 x 5 cm )
pada kantung tersebut kemudian diisi air, dan selanjutnya tusuk dengan
pisau, adanya gelembung udara yang keluar berarti ada pneumothorax; dan bila
diperiksa paru-parunya, paru-paru tersebut tampak kollaps,
cara lain; setelah dibuat kantung , kantung ditusuk dengan spuit besar
dengan jarum besar yang berisi air separuhnya pada spuit tersebut; bila ada
pneumothorax, tampak gelembung-gelembung udara pada spuit tadi.

Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek,


sedemikian rupa sehingga terjadi mekanisme ventil di mana udara yang
masuk ke paru-paru akan diteruskan ke dalam rongga dada, dan tidak dapat
keluar kembali, sehingga terjadi kumulasi udara, dengan akibat paru-paru akan
kolaps dan korban akan mati.
Diagnosa pneumothorax yang fatal semata-mata atas dasar test ini, bila test
ini tidak dilakukan, diagnosa sifatnya hanya dugaan. Cara melakukan test ini
adalah sebagai berikut:
Tes Alpha Naphthylamine
kertas saring Whatman direndam dalam larutan alpha-naphthylamine, dan
keringkan dalamoven, hindari jangan sampai terkena sinar matahari,
pakaian yang akan diperiksa, yaitu yang diduga mengandung butir-butir
mesiu, dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang telah diberi alphanaphthylamine,
di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi ditaruh
lagi kertas saring yang dibasahi oleh aquadest,
keringkan dengan cara menyeterika tumpukan tersebut, yaitu kain yang
akan diperiksa, kertas yang mengandung alpha-naphthylamine dan kertas saring
yang basah,
test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink colour), pada
kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine; bintik-bintik merah jambu
tadi sesuai dengan penyebaran butir-butir mesiu pada pakaian. (5)
Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir-butir mesiu khususnya pada
pakaian korban penembakan,
Setelah otopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam
rongga tubuh. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan
otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak. Jahitkan kembali tulang dada dan
iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada. Jahitkan kulit dengan rapi
menggunakan benang yang kuat, mulai dari dagu sampai ke daerah simfisis.
Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan
menjahit otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi.
Bersihkan tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada
pihak keluarga. (1)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada otopsi juga dilakukan prosedur laboratorium yaitu :
Sediaan histopatologi dari masing-masing organ.
Dari tiap organ diambil sediaan sebesar 2 x 2 x1 cm kubik dan difiksasi dalam
formalin 10%.Organ yang diambil adalah: paru-paru, hati, limpa, pankreas, otot
jantung, arteri koronaria, kelenjar gondok, ginjal, prostat, uterus, korteks otak,
basal ganglia dan dari bagian lain yang menunjukkan adanya kelainan.

Pemeriksaan toksikologi.
Lambung dan isinya.
Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada
pada usus setiap jarak sekitar 60 cm.
Darah, yang berasal dari sentral (jantung) dan yang berasal dari perifer
(v,jugularis; a.femoralis, dan sebagainya), masing-masing 50 ml dan dibagi dua,
yang satu diberi bahan pengawet dan yang lain tidak diberi bahan pengawet.
Hati, sebagai tempat detoksifikasi , diambil sebanyak 500 gram.
Ginjal, diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat
khususnya atau bila urine tidak tersedia.
Otak, diambil 500 gram. Khusus untuk keracunan chloroform dan sianida,
dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai
kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembususkan.
Urine, diambil seluruhnya. Karena pada umunya racun akan diekskresikan
melalui urine, khususnya pada test penyaring untuk keracunan narkotika, alkohol
dan stimulan.
Empedu, diambil karena tempat ekskresi berbagai racun.
Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan, jaringan otot,
lemak di bawah kulit dinding perut, rambut, kuku dan cairan otak.
Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil sebanyakbanyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk pemeriksaan
histopatolgik. Secara umum sampel yang harus diambil adalah:
Pada pemeriksaan intoksikasi, digunakan alkohol dan larutan garam jenuh
pada sampel padat atau organ. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat
digunakan untuk sampel cair. Sedangkan natrium benzoate dan phenyl mercuric
nitrate khusus untuk pengawet urine.
Pemeriksaan bakteriologi.
Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa
untuk pembiakan kuman. Permukaan jantung dibakar dengan menempelkan
spatel yang dipanaskan sampai merah, kemudiaan darah jantung diambil
dengan tabung injeksi yang steril dan dipindah dalam tabung reagen yang steril.
Permukaan limpa dibakar dengan cara tersebut di atas dan dengan pinset dan
gunting yang steril diambil sepotong limpa dan dimasukkan dalam tabung
reagen yang steril dan kedua tabung dikirim ke laboratorium bakteriologi.
Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu dilakukan
untuk melihat parasit malaria.Sediaan hapus lainnya adalah dari tukak sifilis atau
cairan mukosa.
Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa biokimia.
Pemeriksaan urine dan feces.
Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual.
Cairan uretra. (3,4)
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita


Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta. 2000:
187-9.
Anonim. Autopsy. Available At : http://en.wikipedia.org/wiki/Autopsy. Accessed
On : September 2006.
Hamdani, Njowito. Autopsi. Dalam: Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi Kedua.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2000 : 48-59.
Chadha, PV. Otopsi Mediko-Legal. Dalam: Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi
Kelima.
Idries, AM. Prosedur Khusus. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi
Pertama. Binarupa Aksara. Jakarta. 1997 : 354-61.
Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta. 2000:
187-9.