You are on page 1of 5

PENDIDIKAN ARSITEKTUR YANG

MEMBEBASKAN DAN
MEMANUSIAKAN #1
By aderuslianasukabumi - Posted on 07 April 2009
Pendidikan kini justru kerap menjadi organ yang menafikan kemanusiaan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Martin Luqman
Katoppo danTony Sofian* menggandeng seorang tokoh pendidikan Brasil untuk menelaah permasalahan pendidikan arsitektur di
Indonesia.
Pendidikan dan Freire

Teori pendidikan telah berkembang dari teori dengan paradigma konservativisme sampai pada teori berparadigma ekstrem seperti
liberalisme, liberasionisme sampai anarkisme. Teori pendidikan yang mempengaruhi tema tulisan ini berasal dari teori pendidikan Paulo
Freire, seorang pendidik praksis revolusioner berbasis paradigma liberasionisme (pembebasan). Gagasan Freire banyak dianggap sebagai
gagasan pembebasan penuh pendidikan institusional dan mengacu pada pembebasan masyarakat dalam mengenyam pendidikan.
Gagasan ini banyak disetarakan dengan teori anarkis mengenai praktik ajar-mengajar yang dinilai sudah cenderung menjadi komoditas
kapitalistik yang tidak lepas dari usaha pemenuhan kebutuhan semu terhadap tuntutan masyarakat semu produk sistem kapitalis. Putarulang seluruh gagasan pendidikan sebagai kritik terhadap sistem dan metode pendidikan yang sudah baku adalah gagasan para anarkis
dari sini muncul istilah 'deschooling society' yang menyatakan sikap para anarkis. Freire kemudian sangat dekat dengan para penggagas
anarkis ini terutama karena rasa antipati terhadap sistem kapitalistik dan karena sifat praksis serta revolusioner Freire.

Pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan ala Freire tertuju untuk menggugah kesadaran pelaksanaan metode pendidikan yang
bukan saja membebaskan tetapi yang terpenting kembali memanusiakan manusia; menghilangkan jejak de-humanisasi yang merasuki
dunia pendidikan. Freire menegaskan bahwa dehumanisasi yang terjadi harus ditolak dan hembusan dehumanisasi sudah mengakar pada
setiap sendi kehidupan harus dihentikan. Freire berpendapat bahwa pendidikan dalam artian yang benar adalah harapan terbesar untuk
menghapus jejak dehumanisasi dalam sejarah kehidupan manusia. Dehumanisasi memang merupakan fakta sejarah tetapi tidak berarti
manusia harus menerima hal tersebut sebagai fakta sejarah yang terberi. Freire mengkhawatirkan makin kuatnya penjejakan dehumanisasi
manusia dengan metode pendidikan yang terjadi selama ini.

Tatanan nilai positif Freire dapat disejajarkan dengan tema pendidikan yang berkembang akhir-akhir ini: apakah institusi pendidikan berniat
mencetak manusia mekanistis, atau berusaha untuk lebih menghasilkan manusia yang berbudaya? Manusia yang berbudaya di sini
mungkin lebih diarahkan pada peraihan kebebasan dan humanisasi, sesuai dengan niat Freire.

Beberapa konsep Freire mengenai pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan dapat dilihat di bawah ini:
(1) Pendidikan ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya menempatkan kaum tertindas dan penindas pada dua kutub
berseberangan. Pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian palsu kaum penindas untuk mempertahankan status quo melalui
penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan kaum tertindas lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui
persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas,
melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subjek-didik membebaskan dirinya, bukan untuk kemudian menjelma sebagai kaum penindas baru,
melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri. Pendidikan ini bukan bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi lebih
terpelajar, tetapi untuk membebaskan dan mencapai kesejajaran pembagian pengetahuan.

(2) Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terusmenerus. Pendidikan bukan menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi
semua orang tanpa kecuali.
(3) Kesadaran dan kebersamaan adalah kata-kata kunci dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan.

Pendidikan Arsitektur Indonesia

Teori pendidikan arsitektur masih berupaya mencari bentuk dan format yang tepat, baik dari metode pendidikannya maupun dari bentuk
institusi pendidikannya itu sendiri. Apa yang harus dipelajari dalam arsitektur? Apa yang bisa didapatkan dari pendidikan arsitektur? Ini
adalah pertanyaan-pertanyaan klasik untuk ilmu yang berbasis setengah teknis dan setengah sosial ini. Pertanyaan terhadap metode
pendidikan arsitektur sebenarnya adalah pertanyaan tentang arsitektur itu sendirisuatu bidang ilmu yang sangat gamang dan berdiri pada
sebuah soft-ground.

Pada kajian-kajian Niels L.Prak1 ataupun Roger K. Lewis2, banyak diketengahkan permasalahan arsitek sesudah memasuki dunia
arsitektural yang sesungguhnya. Permasalahan para arsitek ini dipengaruhi pula oleh sistem pendidikan yang dialami mereka sebelumnya.
Pada tulisan Lewis, dipaparkan berbagai macam tipe arsitek setelah mereka menjalani dunia arsitektural mereka; dari tipe arsitek yang
memiliki semangat 'enterpreneurship' sampai arsitek bertipe 'artiste' dan 'poet-philosophers' yang menguatkan diri pada basis tradisi seni
dan interprestasinya, sebagai pengkayaan khasanah arsitektural. Sementara Prak cukup membatasi pada dua tipe arsitek yang
praktisi/fungsionalis dan artis/pembaharu. Seorang arsitek sejati sebenarnya merupakan gabungan antara kedua tipe arsitek itu: yang
mampu berpraksis dan mengembangkan kreativitas serta imajinasi-idealismenya, seraya mampu mengejewantahkan pemikiran tersebut
dalam bentuk nyata yang diterima oleh masyarakat.

Pola pendidikan arsitektur yang ingin mendekatkan diri pada pembentukan dan penciptaan arsitek ideal tersebut kemudian menjadi
dilematis. Penyeimbangan pendidikan arsitektur yang menampung sisi pendidikan praksis dan pengkayaan pembudayaan/teoritis arsitektur,
harus dilihat sebagai suatu bentuk penyeimbangan yang kondisional dan bukan proporsional. Penyeimbangan dilakukan secara subjektif,
tergantung pada paradigma institusi tersebut. Pembentukan kurikulum untuk L'Ecole des Beaux-Arts, misalnya, berbeda dengan
pembentukan kurikulum yang dilakukan oleh MIT (Massachusetts Institute of Technology).

Lebih jauh lagi, permasalahan dilematis pendidikan arsitektur yang juga (biasanya) dilaksanakan dan diselenggarakan oleh para arsitek
yang sudah terlegitimasi, akan terperangkap dan terpengaruh oleh keadaan praksis arsitektur di keadaan yang nyata. Sebagai ilmu yang
harus bisa diterapkan kepada masyarakat, pendidikan arsitektur mengalami permasalahan dilematis; apakah sebaiknya menyelenggarakan
pendidikan yang murni praksis bagi para calon arsitek untuk berinteraksi langsung secara fungsional terhadap masyarakat, atau di lain pihak
berusaha menyelenggarakan pendidikan yang murni kritis-sosial dan lebih peduli terhadap perkembangan kebudayaan. Para arsitek
menyadari bahwa pengkondisian pendidikan secara murni praksis akan menghasilkan suatu kejenuhan pada profesi arsitek dan menjadikan
arsitek tidak lebih sebuah komoditas. Arsitek praktis akan membantu memudahkan, memangkus- dan sangkilkan arsitektur secara
fungsional kepada masyarakat, tetapi lama-kelamaan keadaan itu akan menciptakan suatu standardisasi dan generalisasi yang
mengasingkan masyarakat penggunanya.

Di lain sisi, pengembaraan pada sisi ekstrem arsitektur yang kaya akan seni juga memiliki bahaya yang sama apabila ia tidak dapat
mempertahankan kondisi kontradiktifnya dalam masyarakat itu sendiri. Sementara itu, kelompok arsitek inilah yang sering dianggap sebagai
penanda zaman dan penjaga eksistensi arsitektur, dan hal ini melegitimasi keperluan masyarakat terhadap arsitek. Fakta ini juga menggoda
banyak mahasiswa di bangku pendidikan arsitektur, tanpa menyadari kesulitan pembawaan idealisme tersebut pada masyarakat umum. Apa
perlunya suatu hasil karya arsitektur yang tidak mengikuti standardisasi kecuali sebagai suatu pemuasan ego si-arsitek? Pendalaman teoriteori arsitektural tanpa praksis cenderung justru akan men-terasing-kan arsitek dari masyarakatnya. Hal ini terlihat jelas dari proyek-proyek
yang dihasilkan oleh para arsitek pada sisi ekstrem ini, yang notabene jauh lebih kecil jumlahnya daripada proyek yang berhasil dikerjakan
oleh para arsitek praktis.

Metode pengajaran arsitektur pada institusi pendidikan menjadi penting, karena pola pendidikan berpengaruh pada pembentukan para calon
arsitek tersebut saat telah menjadi arsitek. Merujuk pada sebuah tulisan yang dilakukan oleh Julian Beinart, metode pengajaran pendidikan
arsitektur kini masih jauh dari kondisi bebas-nilai. Tetapi tidak selamanya pengejaran terhadap objektivisme dan kondisi bebas-nilai dalam
pola pendidikan arsitektur menjadi baik, apalagi arsitektur merupakan bidang ilmu yang bertekanan pada nilai-nilai pluralitas dan
subjektivisme positif. Kegelisahan mendasar para calon arsitek biasanya disebabkan oleh kurikulum pendidikan arsitektur yang padat dan
tidak jelas menggambarkan paradigma institusi pendidikan arsitektur tersebut. Para calon arsitek banyak yang mengalami kebingungan
sampai pada tingkat terakhir tentang apa sebenarnya pendidikan arsitektur yang mereka jalani itu.

Permasalahan lain yang menggelisahkan para calon arsitek ini adalah bahwa praksis yang didapatkan pada pendidikan arsitektur cenderung
berbentuk semu. Para calon arsitek ini merasa terasing dalam dunia pendidikannya. Para pendidik biasanya mengikuti pola pengajaran yang
sangat deterministik dan jarang memberikan tempat pada kreasi intuitif mahasiswa. Pemecahan masalah sering kabur dan merefleksikan
pendapat-pendapat yang mengacu pada keadaan ke-arsitek-an si pengajar; sementara di sisi lain, para calon arsitek juga mengalami
kesulitan menerima standardisasi dan generalisasi berlebihan yang menghambat perkembangan ide desain mereka.

Dana Cuff (1991) memaparkan tentang pencarian sebuah metode pengajaran serta usulan kajian fisik tempat pelaksanaan pengajaran. Cuff
berpendapat bahwa pengkondisian fisik, yang merupakan perwujudan metode pengajaran arsitektur, juga berkembang menghadapi tuntutan
pola pendidikan dan paradigmanya. Pengkondisian fisik juga akan mempengaruhi 'produksi' arsitek dari institusi tersebut. Bengkel dan
studio arsitektur adalah suatu perwujudan fisik metode pengajaran arsitektur yang kemudian menjadi bentuk baku fisik pendidikan arsitektur.
Laboratorium dan perpustakaan juga menjadi bagian penting yang merupakan bentuk-bentuk semu fisik pendidikan arsitektur dalam
mempersiapkan para calon arsitek pada dunia arsitektur yang sesungguhnya.

http://www.psb-psma.org/content/blog/pendidikan-arsitektur-yang-membebaskandan-memanusiakan-1
(tahun penulisan : 2009) diakses tanggal 9 Mei 2012 jam 10.48 PM

PENDIDIKAN ARSITEKTUR YANG


MEMBEBASKAN DAN
MEMANUSIAKAN #2
By aderuslianasukabumi - Posted on 07 April 2009

Landasan Umum Pendidikan Arsitektur yang Membebaskan dan Memanu-siakan

Berikut adalah beberapa hal yang sering terlupakan dalam pembahasan mengenai metode pengajaran
arsitektur dan perwujudannya secara fisik. Pertama; metode pengajaran atau pembakuannya dalam bentuk
fisik sesungguhnya merupakan sarana dan prasarana pelatihan dan pengembangan desain serta eksplorasi
ide para calon arsitek.

Kedua; metode pengajaran pada pendidikan arsitektur sering digunakan oleh para pengajar sebagai wahana
eksplorasi desain mereka, dan sebagai upaya bawah-sadar untuk menciptakan imitasi mereka sendiri. Di sini
timbul tuntutan atas demokratisasi dan pengarahan yang seharusnya lebih bersifat dialogis dan eksploratif.
Pendidikan yang mengharuskan interaksi antara pendidik dengan para calon arsitek, sering disalahtafsirkan
sebagai upaya pembentukan dan bukan pengarahan objektif. Interaksi berintensitas tinggi pada suatu
lembaga pendidikan arsitektur seharusnya terarah pada suasana pembebasan dan pemanusiaan yang
dimaksud Freire. Di sini, para pendidik/pengajar arsitektur dan para calon arsitek berada pada suatu posisi

yang sama, saling mengisi dan menambahkan pengetahuan, saling menjadi subjek dan bersama-sama
mencari kebenaran pengetahuan arsitektur.

Hal lain yang juga kerap terlupakan dalam wacana mengenai pendidikan arsitektur adalah mengenai bentuk fisik metode
pengajaran, yang seharusnya mengikuti pola yang sama dengan metode pendidikan arsitektur. Studio atau bengkel kerja,
laboratorium dan perpustakaan seharusnya merupakan wahana eksplorasi bagi para calon arsitek untuk mengembangkan
intuisi desainnya. Pengajar atau koordinator studio seharusnya bertindak sebagai pengantar, pengarah dan kritisi netral
yang mengembangkan dan membuka dialektika. Perkembangan yang terjadi pada metode pengajaran pendidikan
arsitektur akan mempengaruhi perwujudan fisik institusi pendidikan arsitektur tersebut (meski tidak tertutup kemungkinan
terjadinya keadaan yang sebaliknya). Metode pengajaran seharusnya dialektis dan menanggapi para calon arsitek dari
berbagai aspek pemenuhan kebutuhan mereka. Pada gilirannya hal ini akan membebaskan dan memanusiakan para
mahasiswa, serta dengan sendirinya akan membantu pengkondisian pola pendidikan arsitektur yang membebaskan dan
memanusiakan.

http://www.psb-psma.org/content/blog/pendidikan-arsitektur-yang-membebaskandan-memanusiakan-2
(tahun penulisan : 2009) diakses tanggal 9 mei 2012 jam 10.50 PM

Bahasa Belanda dalam Kurikulum Pendidikan Sejarah Arsitektur


Indonesia
Bimo Hernowo
Conference Proceeding: 01/2007; In proceeding of: Semiloka Nasional Pendidikan Arsitektur: Metode
Pembelajaran Yang Tepat Untuk Matakuliah Berbasis Studio Pada Jurusan Arsitektur

Abstract
Hingga saat ini banyak peningalan arsitektur zaman kolonial masing sering menjadi hal yang
menarik di Indonesia dan dunia. Pertanyaan yang sederhana seperti, Mengapa bangunan ini
didirikan dan apa kegunaannya sering menjadi tanda tanya, padahal dokumen-dokumen
penunjangnya diperkirakan masih tersimpan baik di tanah air ataupun diperpustakaanperpustakaan di luar negeri yang masih banyak tertulis dalam bahasa Belanda. Sekarang ini
bahasa Belanda yang dahulu digunakan sebagai media komunikasi zaman kolonial di Oost
Indies telah benar-benar ditingalkan penggunaanya di tanah air. Padahal pada kenyataannya
bahwa bahasa Belanda digunakan dahulu pernah dipakai dalam proses sejarah dan budaya
nusantara. Arsitektur sebagai wujud suatu proses perjalanan sejarah banyak dipengaruhi oleh
banyak hal seperti seni budaya, ekonomi, politik, perkembangan teknologi serta bahasa itu

sendiri. Suatu pertimbangan perlu dan tidaknya bahasa Belanda dimuat dalam kurikulum
pendidikan arsitektur di Indonesia sepertinya perlu mendapat kajian. Paper ini berusaha secara
singkat menunjukan dan mengurai tentang pentingnya bahasa Belanda dalam tatanan hidup di
Hindia Belanda masa lalu, sehingga perlu pentimbanganuntuk digunakan dalam kurikulum
pendidikan sejarah arsitektur selain sebagi strategi titik balik pendidikan arsitektur Indonesia
menembus dunia dengan keunggulan khususnya.
http://www.researchgate.net/publication/202160349_Bahasa_Belanda_dalam_Kurikul
um_Pendidikan_Sejarah_Arsitektur_Indonesia
diakses tanggal 9 mei 2012 jam 10.58