You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Irigasi kolon merupakan suatu cara untuk mengeluarkan isi kolon (feses),
dilakukan secara terjadwal dengan memasukkan sejumlah air dengan suhu yang
sama dengan tubuh / hangat. Tindakan irigasi kolostomi, serupa dengan tindakan
enema, yaitu suatu bentuk penatalaksanaan stoma yang digunakan untuk klien yang
memiliki kolostomi desendens atau kolostomi sigmoid. Tujuan irigasi adalah
mendistensikan usus secukupnya guna menstimulasi peristaltik, yang akan
meningkatlkan pengosongan kolon. Tindakan ini dapat dilakukan pada saat luka
operasi sudah benar-benar sembuh, dan tidak ada lagi rencana tindakan lanjutan
seperti, kemoterapi / radiasi, atau dapat dilakukan setalah 3 bulan setelah selesai
radiasi / kemoterapi. Manfaat tindakan ini adalah feses akan keluar secara teratur /
terjadwal, mengurangi pembentukan gas, meminimalkan komplikasi di stoma,
mencegah konstipasi, mengurangi penggunaan kantong dan meningkatkan rasa
percaya diri. Irigasi kolostomi dapat dilakukan pada pasien dengan kolostomi
desenden / sigmoid, karena feses mereka sudah terbentuk, pasien dengan riwayat
BAB regular, pasien yang mampu melakukan prosedur irigasi. Irigasi kolostomi
tidak dapat dilakukan pada pasien dengan riwayat iritable bowel syndrom, stoma
pada kolonasenden dan tranversum, stoma prolaps dan hernia peristoma, pasien
dengan kemoterapi, radiasi pelvis, pasien dengan diagnosis yang buruk / diare, dan
pasien dengan urostomi dan ileustom. Klien yang memiliki pola pengosongan
teratur biasanya tidak perlu menggunakan kantong kolostomi. (Kozier & Erb, 2009)
Ada banyak sinonim untuk irigasi kolon, misalnya pengobatan kolon, colon
cleaning, irigasi rektal, terapi kolon, kolon hidroterapi. Di pengobatan
komplementer, irigasi kolon digunakan untuk berbagai indikasi alkoholisme, alergi,
arthritis, asma, sakit punggung, bau mulut, kembung, dilapisi lidah, radang usus,
sembelit, kerusakan yang disebabkan oleh nikotin atau faktor lingkungan lainnya,
kelelahan, sakit kepala, hiperkolesterolemia, hipertensi, gangguan pencernaan,

insomnia, masalah bersama, insufisiensi hati, kehilangan konsentrasi, gangguan


mental, parasit kutu, rawan infeksi, rheumatoid arthritis, kemacetan sinus, masalah
kulit dan kolitis ulserativa. Sebuah survei di Inggris menunjukkan bahwa 84% dari
pasien yang menggunakan irigasi kolon adalah perempuan. Sebagian besar dari
mereka menganggap irigasi kolon sebagai terapi seumur hidup dan mempercayai
terapi ini tiga kali lebih efektif dibandingkan obat konvensional. Mereka pada
umumnya berpikir bahwa irigasi kolon bermanfaat untuk mendetoksifikasi,
membersihkan, dan untuk unblok sistem.
1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui trend dan issue mengenai irigasi kolon untuk detoksifikasi.
1.2.2 Untuk mengetahui perbandingan teknik irigasi kolon dengan standar yang ada,
1.2.3

dalam hal ini yaitu standar NOC dan NIC.


Untuk menganalisa hambatan dan keuntungan/hal yang mendukung jika trend
dan issue tersebut diaplikasikan di Indonesia.

Berman, A., Snyder, S., Kozier, B., Erb, G. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan
Klinis. Jakarta: EGC

2.2. Membandingkan Jurnal dengan Standar


2.3. Hambatan dan Keuntungan