You are on page 1of 4

Artikel

PENGELOLAAN MANAJEMEN PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT YANG OPTIMAL


Oleh: Muarrifa Muflihati ( 20141030060 )

Pelayanan gizi rumah sakit adalah pelayanan gizi yang disesuaikan dengan keadaan
pasien, berdasarkan keadaan klinis, status gizi dan status metabolisme tubuh. Keadaan gizi
pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan
penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien semakin
buruk, hal ini akibat tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi tubuh, karena diet yang sudah
diupayakan penyelenggaraannya oleh petugas tidak bisa optimal (PGRS, 2013).
Penyelenggaraan makanan di rumah sakit yang meliputi pengadaan bahan makanan,
penyimpanan bahan makanan, pengangkutan makanan masak, penyimpanan makanan masak,
dan penyajian makanan, hendaknya memperhatikan syarat higiene dan sanitasi, mengingat
permasalahan dari suatu makanan ditentukan oleh ada tidaknya kontaminasi terhadap makanan
(Soediono, 2009).
Prinsip-prinsip dasar sanitasi penyelenggaraan makanan di RS pada dasarnya tidak
berbeda dengan tempat-tempat penyelenggaraan makanan lain, tetapi standar kebersihan dan
higiene pelayanan makanannya lebih tinggi karena rentannya pasien yang masuk RS dan
ancaman penyebaran kuman pathogen yang tinggi di lingkungan RS. Makanan yang tidak
dikelola dengan baik dan benar dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit dan
keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tumbuhan atau hewan, serta dapat pula
menimbulkan alergi (Aprilandini, 2011)
Proses pengolahan bahan makanan dilakukan oleh juru masak mulai dari membersihkan
bahan makanan seperti mencuci, memotong, sampai pada proses memasak yang diawasi oleh
petugas gizi, pengawasan dilakukan agar komposisi bumbu pada setiap jenis makanan dapat
diketahui, hal tersebut sangat penting karena terkadang juru masak tidak mengetahui kadar yang
seharusnya dipenuhi terhadap makanan pasien (Jufri, Hamzah, & Bahar, 2014).

Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan yang diberikan dan disesuaikan dengan
keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status metabolisme tubuh. Keadaan
gizi pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhan penyakit, sebaliknya proses perjalanan
penyakit dapat berpengaruh terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien yang
semakin buruk karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi untuk perbaikan organ tubuh.
Fungsi organ yang terganggu akan lebih memburuk dengan adanya penyakit dan kekurangan
gizi. Selain itu masalah gizi lebih dan obesitas erat hubungannya dengan penyakit degeneratif,
seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan penyakit kanker, memerlukan
terapi gizi untuk membantu penyembuhannya (PGSR RI, 2013).
Terapi gizi atau terapi diet adalah bagian dari perawatan penyakit atau kondisi klinis yang
harus diperhatikan agar pemberiannya tidak melebihi kemampuan organ tubuh untuk
melaksanakan fungsi metabolisme. Terapi gizi harus selalu disesuaikan dengan perubahan fungsi
organ. Pemberian diet pasien harus dievaluasi dan diperbaiki sesuai dengan perubahan keadaan
klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium, baik pasien rawat inap maupun rawat jalan. Upaya
peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam maupun di luar rumah sakit,
merupakan tugas dan tanggung jawab tenaga kesehatan, terutama tenaga gizi (PGRS RI, 2013).
Pengorganisasian Pelayanan Gizi Rumah Sakit mengacu pada SK Menkes Nomor 983
Tahun 1998 tentang Organisasi Rumah Sakit dan Peraturan Menkes Nomor 1045/MENKES
/PER/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di lingkungan Departemen Kesehatan.
Kegiatan Pelayanan Gizi Rumah Sakit, meliputi:
1. Asuhan Gizi Rawat Jalan;
2. Asuhan Gizi Rawat Inap;
3. Penyelenggaraan Makanan;
4. Penelitian dan Pengembangan.
Berdasarkan kegiatan pelayanan gizi rumah sakit tersebut, terdapat mekanisme pelayanan
yang lebih terinci yaitu meliputi berbagai hal penting seperti adanya skrining gizi, assessment
gizi, penentuan diagnosis gizi sampai adanya ntervensi gizi yang meliputi pemberian diet dan

konseling gizi. Setelah itu, maka proses perencanaan menu sampai pendistribusian di setiap unit
di rumah sakit dapat berjalan dengan baik sesuai prosedur yang ada (PGRS RI, 2013).
Upaya untuk merealisasikan pelayanan gizi yang berkualitas antara lain dengan
pencegahan dan perbaikan keadaan kurang gizi, serta pencegahan dan penurunan morbiditas
sebagai upaya mempersingkat lama rawat di RS dan penghematan biaya pasien. Maka
dibutuhkan kerjasama multidisiplin yang bukan sekedar dukungan tetapi menjadi bagian terapi
pasien dalam bentuk tim terapi gizi (TTG). Tim ini terdiri dari dokter yang berkompetensi dalam
gizi klinik atau yang telah mendapat latihan gizi klinik, dietisien, perawat, dan ahli farmasi
sesuai dengan kompetensi masing-masing (PTTGRS, 2009).
Terapi gizi merupakan bagian dari pelayanan medis yang memberi kontribusi
penyembuhan pasien dan menurunkan angka malnutrisi RS, lama hari rawat dan biaya
perawatan. Keberadaan Tim Terapi Gizi seyogyanya merupakan salah satu kriteria standar
pelayanan rumah sakt dan dijadikan kriteria penilaian akreditasi. Sehingga mutu pelayanan gizi
RS dapat ditingkatkan secara perkesinambungan (PTTGRS, 2009).

Referensi:
Aprilandini, 2011, Higiene Pengolah Makanan Rumah Sakit (online),
(http://alumni.unair.ac.id/kumpulanfileartikel/4264836234_abs), Diakses 14 Maret 2012.
Jufri, Hamzah, Bahar, 2014, Manajemen Pengelolaan Makanan di Rumah Sakit Umum Lanto
Dg. Pasewang Kabupaten Jeneponto, Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit RI (PGRS RI), 2013, Konsep Pelayanan Gizi, Februari
2013, Keputusan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Ibu dan Anak Kementrian Kesehatan
RI Tahun 2013, Jakarta.
Pedoman Penyelenggaraan Tim Terapi Gizi di Rumah Sakit (PTTGRS), 2009, Konsep
Pelayanan Tim Terapi Gizi, Juli 2009, Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan
Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2009, Jakarta.
Soediono, 2009, Gizi Rumah Sakit, EGC, Jakarta.