You are on page 1of 14

Konsep Dasar CSR

Sulitnya dipungkiri bahwa wacana Corporate Social Responsibility


(CSR) yang sebelumnya merupakan isu marginal kini telah menjelma
menjadi isu sentral. CSR kini semakin populer dan bahkan di tempatkan
diposisi yang kian terhormat.
Karena itu, kian banyak pula kalangan dunia usaha dan pihak-pihak yang
terkait mulai merespon wacana ini. Untuk itu, dibutuhkan pemahaman
yang memadai tentang konsep dasar dan isu-isu yang terkait dengan
wacana ini.
Merupakan hal yang patut disayangkan bila kita sekadar mengikuti tren
tanpa memahami esensi dan manfaat dari CSR. Karena bila hal itu terjadi,
maka konsep dan sistem yang bagus itu tidak akan well implemented, dan
bahkan ujung-ujungnya sekadar menjadi jargon atau anekdot belaka.
Beberapa hal yang perlu kita ketahui antara lain tentang evolusi dan
definisi CSR, hubungan CSR dengan Good Corporate Governance
(GCG), konsep Sustainable Development, konsep Triple Bottom Line dan
prinsip-prinsip atau pedoman pelaksanaan CSR.
Evolusi CSR
CSR yang kini marak diimplementasikan banyak perusahaan, mengalami
evolusi dan metamorfosis dalam rentang waktu yang cukup panjang.
Konsep ini tidak lahir begitu saja. Ada beberapa tahapan sebelum
gemanya lebih terasa. Hanya, sejauh ini tidak ada jejak baku yang
disepakati secara bulat tentang tahap perkembangan itu. Namun secara
garis besar berdasar beberapa literatur, tahap-tahap perkembangannya
dapat didiskripsikan.
Gaung CSR kian bergema setelah diselenggarakannya World Summit on
Sustainable Development (WSSD) tahun 2002 di Johannesburg Afrika
Selatan. Sejak saat inilah, definisi CSR mulai berkembang.
Pada saat industri berkembang setelah terjadi revolusi industri,
kebanyakan perusahaan masih memfokuskan dirinya sebagai organisasi
yang mencari keuntungan belaka. Mereka memandang bahwa sumbangan
kepada masyarakat cukup diberikan dalam bentuk penyediaan lapangan
kerja, pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui produknya. Dan
pembayaran pajak kepada negara. Seiring dengan berjalannya waktu,
masyarakat tak sekadar menuntut perusahaan untuk menyediakan barang
dan jasa yang diperlukannya, melainkan juga menuntut untuk
bertanggung jawab secara sosial. Karena, selain terdapat ketimpangan
ekonomi antara pelaku usaha dengan masyarakat disekitarnya, kegiatan
operasional perusahaan umumnya juga memberikan dampak negatif,

misalnya ekploitasi sumber daya dan rusaknya lingkungan disekitar


operasi perusahaan.
Itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya konsep CSR yang
paling primitif: kedermawanan yang bersifat karitatif. Gema CSR
semakin terasa pada tahun 1960-an saat di mana secara global,
masyarakat dunia telah pulih dari Perang Dunia II, dan mulai menapaki
jalan menuju kesejahteraan. Pada waktu itu, persoalan-persoalan
kemiskinan dan keterbelakangan yang semula terabaikan mulai
mendapatkan perhatian lebih luas dari berbagai kalangan. Persoalan ini
telah mendorong berkembangnya beragam aktivitas yang terkait dengan
pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan dengan mendorong
berkembangnya sektor produktif dari masyarakat.
Gema CSR pada dekade itu juga diramaikan oleh terbitnya buku
legendaris yang berjudul Silent Spring. Di dalam buku ini untuk
pertama kalinya persoalan lingkungan diwacanakan dalam tataran global.
Penulis buku itu, Rachel Carson, yang merupakan seorang ibu rumah
tangga biasa, mengingatkan kepada masyarakat dunia bahwa betapa
mematikannya pestisida bagi lingkungan dan kehidupan. Melalui
karyanya itu sepertinya ia ingin menyadarkan bahwa tingkah laku
korporasi mesti dicermati sebelum berdampak menuju kehancuran. Sejak
itu, perhatian terhadap permasalahan lingkungan semakin berkembang
dan mendapat perhatian yang kian luas.
Pemikiran tentang korporasi yang lebih manusiawi juga muncul dalam
The Future Capitalism yang ditulis Lester Thurow tahun 1966.
Pandangan Thurow pun tak kalah tajamnya. Menurutnya, kapitalisme
yang menjadi mainstream saat itutidak hanya berkutat pada masalah
ekonomi, namun juga memasukkan unsur sosial dan lingkungan yang
menjadi basis apa yang nantinya disebut sustainable society. Thurow
memang agak pesimistis bahwa konsep itu bisa diimplementasikan.
Namun demikian, perilaku karitatif sudah mulai banyak digelar oleh
korporasi.
Pada dasawarsa 1970-an, terbitlah The Limits to Growth. Buku yang
hingga kini terus diperbarui itu merupakan hasil pemikiran para
cendekiawan dunia yang tergabung dalam Club of Rome. Buku ini
mengingatkan kepada masyarakat dunia bahwa bumi yang kita pijak ini
mempunyai keterbatasan daya dukung. Sementara disisi lain, manusia
bertambah secara eksponensial. Karenanya, eksploitasi alam mesti
dilakukan secara hati-hati supaya pembangunan dapat dilakukan secara
berkelanjutan.
Sejalan dengan bergulirnya wacana tentang kepedulian lingkungan,
kegiatan kedermawanan perusahaan terus berkembang dalam kemasan

philanthropy serta Community Development (CD). Pada dasawarsa ini,


terjadi perpindahan penekanan dari fasilitasi dan dukungan pada sektorsektor produktif ke arah sektor-sektor sosial. Latar belakang perpindahan
ini adalah kesadaran bahwa peningkatan produktivitas hanya akan dapat
terjadi manakala variabel-variabel yang menahan orang miskin tetap
miskin, misalnya pendidikan dan kesehatan dapat dibantu dari luar.
Berbagai program populis kemudian banyak dilakukan seperti
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan kesehatan, air bersih dan
banyak lagi kegiatan sejenisnya.
Di era 1980-an makin banyak perusahaan yang menggeser konsep
filantropisnya kearah Community Development. Intinya kegiatan
kedermawanan yang sebelumnya kental dengan pola kedermawanan ala
Robbin Hood makin berkembang kearah pemberdayaan masyarakat
semisal pengembangan kerja sama, memberikan ketrampilan, pembukaan
akses pasar, hubungan inti-plasma, dan sebagainya.
Dasawarsa 1990-an adalah dasawarsa yang diwarnai dengan beragam
pendekatan seperti pendekatan integral, pendekatan stakeholder maupun
pendekatan civil society. Beragam pendekatan tersebut telah
mempengaruhi praktek CD. CD menjadi suatu aktivitas yang lintas sektor
karena mencakup baik aktivitas produktif maupun sosial dan juga lintas
pelaku sebagai konsekuensi berkembangnya keterlibatan berbagai pihak.
Pada tataran global, tahun 1992 diselenggarakan KTT Bumi (Earth
Summit). KTT yang diadakan di Rio de Jenairo, Brazil ini menegaskan
konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang
didasarkan atas perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi
dan sosial sebagai hal yang mesti dilakukan.
Terobosan besar dalam kontek CSR ini dilakukan oleh John Elkington
melalui konsep 3p (profit, people dan planet) yang dituangkan dalam
bukunya Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth
Century Business yang di release pada tahun 1997. Ia berpendapat
bahwa jika perusahaan ingin sustain, maka ia perlu memperhatikan 3P,
yakni, bukan cuma profit yang diburu, namun juga harus memberikan
kontribusi positif kepada masyarakat (people) dan ikut aktif dalam
menjaga kelestarian lingkungan (planet).
Definisi CSR
Yang menarik, sebagai sebuah konsep yang makin populer, CSR ternyata
belum memiliki definisi yang tunggal. The Word Business Council for
Sustainable Development (WBCSD) misalnya, lembaga internasional
yang berdiri tahun 1995 dan beranggotakan lebih dari 120 multinasional
company yang berasal lebih dari 30 negara itu, dalam publikasinya

Making Good Business Sense mendefinisikan CSR atau tanggung jawab


sosial perusahaan, sebagai Continuing commitment by business to
behave ethically and contribute to economic development while
improving the quality of life of the workforce and their families as well as
of the local community and society at large. Dalam bahasa bebas kurang
lebih maksudnya adalah, komitmen dunia usaha untuk terus menerus
bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk
peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari
karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas
lokal dan masyarakat secara lebih luas.
Versi lain mengenai definisi CSR dilontarkan oleh World Bank. Lembaga
keuangan global ini memandang CSR sebagai the commitment of
business to contribute to sustainable economic development working with
amployees and their representatives the local community and society at
large to improve quality of live, in ways that are both good for business
and good for development.
CSR Forum memberikan definisi, CSR mean open and transparent
business practices that are based on ethical values and respect for
employees, communities and environment.
Sementara itu sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri
mengenai CSR. Uni Eropa (EU Green Paper on CSR) mengemukakan
bahwa CSR is a concept whereby companies integrate social and
environmental concerns in their business operations and in their
interaction with their stakeholders on a voluntary basic.
Lantas bagaimana dengan definisi CSR versi Indonesia? Dari sisi
etimologis CSR kerap diterjemahkan sebagai Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan. Dalam konteks lain, CSR kadang juga disebut sebagai
Tanggung Jawab Sosial Korporasi atau Tanggung Jawab Sosial Dunia
Usaha (Tansodus).
Memang masih diperlukan kajian tersendiri untuk mencari padanan yang
tepat dalam bahasa Indonesia. Namun umumnya, bila disebut salah satu
darinya, konotasinya pastilah kembali kepada CSR. Selanjutnya, dari sisi
definisi, saat ini juga belum kita temui kesepakatan bakunya, karena
umumnya, definisi itu masih merujuk pada definisi yang umum
digunakan di negara lain. Namun demikian, kendatipun tidak mempunyai
definisi tunggal, konsep ini menawarkan sebuah kesamaan, yaitu
keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis dan perhatian
terhadap aspek sosial serta lingkungan.
Disarikan dari Buku: Membedah Konsep & Aplikasi CSR, penulis: Yusuf
Wibisono, penerbit: Fascho Publishing, 2007, bab 1, halaman: 3-8

Dalam istilah yang paling sederhana, CSR adalah hal-hal yang


menyangkut cara perusahaan memberikan manfaat timbal balik kepada
masyarakat.
- Definisi lain menyangkut bagaimana kepentingan bisnis berhubungan
dengan hal-hal mengenai hukum, etika, komersial, dan harapan-harapan
lain yang dimiliki oleh pihak-pihak yang berkempentingan serta
masyarakat luas terhadap bisnis tersebut. Beberapa orang memandang
CSR sebagai tindakan moral, sedangkan yang lain mungkin
memandangnya sebagai cara strategis untuk menaikkan citra bisnisnya di
mata publik. Di bawah ini terdapat beberapa definisi lain tentang CSR.
Canadian Business for Social Responsibility (Tanggung jawab Sosial
Bisnis Kanada) secara umum mengartikan CSR sebagai peran sukarela
kalangan bisnis dalam memberikan kontribusi demi terciptanya
masyarakat yang lebih baik dan lingkungan yang lebih bersih melebihi
komitmen modal dan keuangannya.
The World Business Council for Sustainable Development (Dewan Bisnis
Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan) mengartikan CSR sebagai
komitmen berkesinambungan yang dimiliki oleh kalangan bisnis untuk
bersikap etis dan memberi kontribusi bagi pembagunan ekonomi
sekaligus meningkatkan kualitas hidup tenaga kerjanya berserta keluarga
mereka dan juga masyarakat setempat serta masyarakat yang lebih luas.
Business for Social Responsibility/ BSR (Bisnis untuk Tanggung Jawab
Sosial) mendefinikasikan CSR sebagai pencapaian keberhasilan
komersial dengan cara-cara yang menghormati nilai-nilai sosial dan
menghargai orang, masyarakat serta lingkungan alam.
CSR di luar Eropa dan Amerika Utara
Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh ACNielsen di empat kota besar
Indonesia, 52% responden menganggap penting untuk memilih produk
yang ramah lingkungan. Survei tersebut juga menyebutkan bahwa 99%
dari responden menganggap perusahaan perlu menyadari akan adanya
bahwa konsumen menginginkan perusahaan berbuat lebih banyak
terhadap kelestarian lingkungan, dan mendorong perusahaan di Indonesia
untuk mengambil bagian dalam program CSR.

Walaupun sebagian besar isi buklet ini membahas tentang Indonesia,


namun diharapkan gagasannya bisa dipakai di negara-negara lain di Asia
dan negara-negara sedang berkembang di dunia. Banyak kota besar di
Asia yang membangun pusat bisnis. Kehadiran perusahaan internasional
juga semakin meningkat, dan banyak dari perusahaan tersebut telah
menerapkan program CSR yang berasal dari kantor pusat mereka di luar
negeri. Perusahaan-perusahaan ini bisa menjadi titik awal bagi LSM
dalam mencari dana, dan keterlibatan mereka bisa menjadi bagian untuk
memberikan dukungan bagi perusahaan-perusahaan nasional agar lebih
aktif dalam menerapkan CSR.
Sekarang ini, fokus perusahaan-perusahaan yang menerapkan program
CSR di Indonesia cenderung untuk mendanai komunitas lokal. Contohya,
dalam bidang pendidikan, kesehatan masyarakat, program air bersih dan
sanitasi. Akan tetapi, seringkali CSR dipengaruhi pemegang posisi tinggi
dalam perusahaan karena program CSR masih merupakan konsep yang
baru di Indonesia. Hal ini berbeda dengan konteks di Amerika Utara
karena program CSR cukup ditangani oleh staf yang berpartisipasi dalam
persetujuan proposal dan mereka bersedia memberikan waktu untuk
bertugas mengelola program CSR. Hal lain yang penting untuk
diperhatikan adalah menghubungi orang yang tepat dalam perusahaan
ketika kita melakukan pendekatan untuk mendapatkan dana (lihat
halaman 7).
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai relevansi CSR di Indonesia,
berikut ini terdapat kata sambutan yang disampaikan oleh Ibu Darwina
Widjajanti, Direktur Eksekutif LEAD Indonesia. Kata-kata ini adalah
bagian dari kita sambutan yang disampaikannya pada seminar Corporate
Social Responsibility: A New Business Mainstream toward Sustainable
Development (Tanggung jawab Sosial Perusahaan: Arus Utama Baru
dalam Bisnis Menuju Pembangunan Berkelanjutan):
bagi Indonesia inilah saatnya untuk membahas CSR secara lebih
mendalam. Sejak reformasi, Indonesia telah menjadi negara semakin
terbuka. Tiga aspek CSR ketahanan ekonomi, keadilan sosial, dan

kelestarian lingkungan telah menggarisbawahi tiga bentuk CSR. CSR di


Indonesia adalah konsep yang masih berkembang, namun diharapkan
bahwa pelatihan yang dimulai hari ini akan mendukung diskusi yang
lebih mendalam mengenai pendekatan CSR yang sesuai dengan konteks
Indonesia.
Disarikan dari buku: Buklet Sumber Dana Kreatif (Buklet 5 dari 11 Seri
Pengerahan Sumber Daya), Penulis: Nina Doyle (VSO) & Deborah
Nolan (CUSO), Halaman: 2-4.
Dalam bisnis apa pun, yang diharapkan adalah keberlanjutan dan
kestabilan usaha, karena keberlanjutan akan mendatangkan keuntungan
sebesar-besarnya bagi perusahaan. Setidaknya terdapat tiga alasan
penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon CSR agar sejalan
dengan jaminan keberlanjutan operasional perusahaan, sebagaimana
dikemukakan Wibisono (2007).
dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan
memperhatikan kepentingan masyarakat. Kegiatan sosial ini berfungsi
sebagai kompensasi atau upaya timbal balik atas penguasaan sumber daya
alam atau sumber ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat
ekspansif dan eksploratif, disamping sebagai kompensasi sosial karena
timbul ketidaknyamanan (discomfort) pada masyarakat.
Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan
yang bersifat simbiosis mutualisme untuk mendapatkan dukungan dari
masyarakat. Wajar bila perusahaan dituntut untuk memberikan kontribusi
positif kepada masyarakat, sehingga bisa tercipta harmonisasi hubungan
bahkan pengdongkrakan citra dan performa perusahaan.
Ketiga, kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau
bahkan menghindarkan konflik sosial. Potensi konflik itu berasal akibat
dari dampak operasional perusahaan atau akibat kesenjangan struktural
dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen
perusahaan.
Disarikan dari buku: Panduan Praktis Pengelolaan CSR (Corporate
Social Responsibility), Penulis: Rahmatullah, Trianita Kurniati, Hal: 6-7
See
more
csr/#sthash.RS3Dc6q5.dpuf

at:

http://keuanganlsm.com/tujuan-

Corporate Social Responsibility dalam Perspektif Islam


Oleh. Najmudin Ansorullah SHI*
Setelah tenggelam sekian lama, kini ide untuk memasukan etika ke dalam
dunia ekonomi (bisnis) mencuat kembali. CSR tidak lagi ditempatkan
dalam ranah sosial dan ekonomi sebagai imbauan, tetapi masuk ranah

hukum yang memaksa perusahaan ikut aktif memperbaiki kondisi dan


taraf hidup masyarakat (Kompas, 4/8).
Disahkannya Rancangan Undang-Undang Perseroan Terbatas (RUU PT)
telah menuai pro-kontra, terutama terhadap Pasal 74 tentang Aturan
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang rumusannya, perseroan di
bidang/berkaitan dengan SDA wajib melaksanakan CSR Perseroan
yang tidak melaksanakan wajib CSR dikenai sanksi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud SDA adalah sumber
daya alam, sedangkan CSR adalah corporate social responsibility atau
tanggung
jawab
sosial
korporat/perusahaan.
Tanggung jawab sangat terkait dengan hak dan kewajiban, yang pada
akhirnya dapat menimbulkan kesadaran tanggung-jawab. Ada dua bentuk
kesadaran: Pertama, kesadaran yang muncul dari hati nurani seseorang
yang sering disebut dengan etika dan moral. Kedua, kesadaran hukum
yang bersifat paksaan berupa tuntutan-tuntutan yang diiringi sanksisanksi
hukum.
Etika
Bisnis
Islami
Etika memiliki dua pengertian: Pertama, etika sebagaimana moralitas,
berisikan nilai dan norma-norma konkret yang menjadi pedoman dan
pegangan hidup manusia dalam seluruh kehidupan. Kedua, etika sebagai
refleksi kritis dan rasional. Etika membantu manusia bertindak secara
bebas tetapi dapat dipertanggung-jawabkan. Sedangkan bisnis mengutip
Straub, Alimin (2004: 56), sebagai suatu organisasi yang menjalankan
aktivitas produksi dan penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh
konsumen
untuk
memperoleh
profit.
Penggabungan etika dan bisnis dapat berarti memaksakan norma-norma
agama bagi dunia bisnis, memasang kode etik profesi bisnis, merevisi
sistem dan hukum ekonomi, meningkatkan keterampilan memenuhi
tuntutan-tuntutan etika pihak-pihak luar untuk mencari aman dan
sebaginya. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang memiliki komitmen
ketulusan dalam menjaga kontrak sosial yang sudah berjalan. Kontrak
sosial
merupakan
janji
yang
harus
ditepati.
Bisnis Islami ialah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya
yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan (barang/jasa) termasuk profitnya,
namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya
karena aturan halal dan haram (lihat. QS. 2:188, 4:29).
Etika bisnis Islam sebenarnya telah diajarkan Nabi Saw. saat menjalankan
perdagangan. Karakteristik Nabi Saw., sebagai pedagang adalah, selain
dedikasi dan keuletannya juga memiliki sifat shidiq, fathanah, amanah
dan
tabligh.
Ciri-ciri
itu
masih
ditambah
Istiqamah.

Shidiq berarti mempunyai kejujuran dan selalu melandasi ucapan,


keyakinan dan amal perbuatan atas dasar nilai-nilai yang diajarkan Islam.
Istiqamah atau konsisten dalam iman dan nilai-nilai kebaikan, meski
menghadapi godaan dan tantangan. Istiqamah dalam kebaikan
ditampilkan dalam keteguhan, kesabaran serta keuletan sehingga
menghasilkan sesuatu yang optimal. Fathanah berarti mengerti,
memahami, dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas
dan kewajibannya. Sifat ini akan menimbulkan kreatifitas dan
kemampuan melakukakn berbagai macam inovasi yang bermanfaat.
Amanah, tanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas dan
kewajiban. Amanah ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, pelayanan
yang optimal, dan ihsan (kebajikan) dalam segala hal. Tablig, mengajak
sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan
ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (berbagai
sumber).
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, dalam konteks corporate social
responsibility (CSR), para pelaku usaha atau pihak perusahaan dituntut
besikap tidak kontradiksi secara disengaja antara ucapan dan perbuatan
dalam bisnisnya. Mereka dituntut tepat janji, tepat waktu, mengakui
kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi), selalu memperbaiki
kualitas barang atau jasa secara berkesinambungan serta tidak boleh
menipu
dan
berbohong.
Pelaku usaha/pihak perusahaan harus memiliki amanah dengan
menampilkan sikap keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan
ihsan (berbuat yang terbaik) dalam segala hal, apalagi berhubungan
dengan pelayanan masyarakat. Dengan sifat amanah, pelaku usaha
memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan kewajiban-kewajibannya.
Sifat tablig dapat disampaikan pelaku usaha dengan bijak (hikmah),
sabar, argumentatif, dan persuasif akan menumbuhkan hubungan
kemanusiaan
yang
solid
dan
kuat.
Para pelaku usaha dituntut mempunyai kesadaran mengenai etika dan
moral, karena keduanya merupakan kebutuhan yang harus dimiliki.
Pelaku usaha atau perusahaan yang ceroboh dan tidak menjaga etika,
tidak akan berbisnis secara baik sehingga dapat mengancam hubungan
sosial dan merugikan konsumen, bahkan dirinya sendiri.
Hukum
Islam
Al-Quran adalah suatu ajaran yang berkepentingan terutama untuk
menghasilkan sikap moral yang benar bagi tindakan manusia. Moral
menurut intelektual asal Pakistan Fazlur Rahman (2000: 354), merupakan
esensi etika al-Quran yang akhirnya menjadi esensi hukum dalam bentuk
perintah dan larangan. Nilai-nilai moral adalah poros penting dari
keseluruhan
sistem
yang
menghasilkan
hukum.

Dalam aktivitas kehidupannya, umat Islam dianjurkan mengutamakan


kebutuhan terpenting (mashlahah) agar sesuai dengan tujuan syariat
(maqashid al-syariah). Mengikuti al-Syatibi, M. Fahim Khan, (1992:
195), mengatakan mashlahah adalah pemilikan atau kekuatan barang/jasa
yang mengandung elemen dasar dan tujuan kehidupan umat manusia di
dunia ini (dan peroleh pahala untuk kehidupan akhirat). Maslahah ini
tidak bisa dipisahkan dengan maqashid al-syariah. Al-Izz al-Din bin
Abd al-Salam diikuti Sobhi Mahmassani (1977: 159), mengutarakan
maqashid al-syariah ialah perintah-perintah yang pada hakikatnya
kembali untuk kemaslahatan hamba Allah dunia dan akhirat.
Abu Ishaq al-Syatibi (w. 790 H) dalam al-Muwafaqat, tujuan pokok
syariat Islam terdiri atas lima komponen: pemeliharaan agama (hifdh aldin), jiwa (hifdh al-nafs), akal (hifdh al-aql), keturunan (hifdh nasl) dan
harta (hifdh al-maal). Lima komponen pokok syariah itu disesuaikan
dengan tingkat kebutuhan dan kepentingan manusia (mashlahah), yaitu
kebutuhan primer (dharuriyyah), skunder (hajiyyah) dan tertier
(tahsiniyyah).
Dalam konteks ini, kebutuhan primer (dharuriyyah) adalah sesuatu yang
harus ada untuk mewujudkan kemaslahatan agama dan dunia. Jika
kebutuhan itu hilang, maka kemaslahatan manusia sulit terwujud.
Bahkan, dapat menimbulkan keruksakan, kekacauan dan kehancuran.
Skunder (hajiyyah) adalah segala hal yang dibutuhkan untuk memberikan
kelonggaran dan mengurangi kesulitan yang biasanya menjadi kendala
dalam mencapai tujuan. Sedangkan tertier (tahsiniyyah) ialah melakukan
tindakan yang layak menurut adat dan menjauhi perbuatan-perbuatan aib
yang
ditentang
akal
sehat.
Tujuan syariah itu dapat menentukan tujuan perilaku konsumen dalam
Islam dan tercapainya kesejahteraan umat manusia (maslahah al-ibad).
Semua barang dan jasa yang dapat memiliki kekuatan untuk memenuhi
lima komponen pokok (dharury) telah dapat dikatakan memiliki maslahat
bagi
umat
manusia.
Lebih lanjut, Khan (1992: 195), mengutarakan semua kebutuhan tidak
sama penting. Kebutuhan itu meliputi: tingkat di mana lima elemen
pokok di atas dilindungi secara baik; tingkat di mana perlindungan lima
elemen pokok di atas, dilengkapi untuk memperkuat perlindungannya dan
tingkat di mana lima element pokok di atas secara sederhana diperoleh
secara
jelas.
Berkaitan dengan corporate sosial responsibility (CSR), kelima
komponen
itu
perlu
mendapat
fokus
perhatian.
Dalam skala primer, perusahaan atau badan-badan komersial perlu
menghargai agama yang dianut masyarakat. Jangan sampai kepentingan
masyarakat terhadap agamanya diabaikan, seperti perusahaan yang
mengabaikan atau mengganggu peribadatan warga setempat. Bahkan,

semestinya pihak perusahaan atau badan-badan komersial harus mampu


mengembangkan jiwa usahanya dengan spiritualitas Islam.
Dalam pemeliharaan jiwa seperti makan dan minum ditujukan agar hidup
dapat lebih bertahan dan mencegah ekses kepunahan jiwa manusia.
Ironisnya, kini, banyak perusahaan air mineral telah menyebabkan
kekeringan air di daerah atau kondisi udara di Jakarta telah mengandung
zat pencemar udara yang sebagian besar sulfur dioksida, karbon
monoksida, nitrogen dioksida dan partikel debu. Sekitar 70 persen polusi
udara di Jakarta akibat asap transportasi. Menurut staff pengajar Fakultas
Teknologi Kelautan Universitas Darma Persada Jakarta Agung Sudrajad
(Inovasi, Vol. 5, 2005), di Jakarta pertambahan kendaraan tercatat 8.74
persen per tahun sementara prasarana jalan meningkat 6.28 persen per
tahun. Ini tentu menambah semakin terpuruknya kondisi lingkungan
udara
kita.
Begitu juga, pihak korporasi harus mampu menjaga keutuhan dan
kehormatan (rumah tangga) warga masyarakat terkait atau internal
perusahaan. Perusahaan dilarang memberikan ekses negatif dalam
kegiatannya yang akan mengganggu rusaknya akal pikiran manusia.
Islam melarang umatnya mengkonsumsi atau memproduksi makanan dan
minuman yang dapat merusak akal karena akan mengancam eksistensi
akalnya.
Dalam pemeliharaan harta, transaksi jual beli harus dilakukan secara
halal. Jika tidak, maka eksistensi harta akan terancam, baik pengelolaan
atau pemanfaatannya. Karena itu, pihak perusahaan dilarang melakukan
kegiatan
yang
secara
jelas
melangar
aturan
syara.
Dalam konteks tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility/CSR), maqashid as-yariah ditujukan agar pelaku usaha
atau pihak perusahaan mampu menentukan skala prioritas kebutuhannya
yang terpenting. Kebutuhan-kebutuhan itu tidak hanya diorientasikan
untuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang dalam mencapai ridha
Allah. Kegiatan ekonomi tidak saja melibatkan aspek materi, tapi juga
kualitas keimanan seorang hamba kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, konsep pembanguan yang melibatkan maqashid asyariah dimaksudkan agar terbentuk pribadi-pribadi muslim yang
memiliki keimanan dan ketakwaan. Tentu saja sikap ini tidak saja
didapatkan dari lubuk hati yang dalam. Tetapi, dilandasi juga dari
kesadaran manusia untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang
hamba-Nya. Kewajiban mengaplikasikan tanggung jawab seorang hamba
untuk melakukan kejujuran, kebenaran, kebajikan dan kasih sayang
terhadap seluruh data kehidupan aktual. Islam mengajarkan tanggung
jawab agar mampu mengendalikan diri dari tindakan melampaui batas
kewajaran dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini mencakup tanggung
jawab kepada Allah, kepada sesama dan lingkungannya.

Implementasi CSR
Dalam menjalankan aktivitas CSR tidak ada standar atau praktik-praktik
tertentu yang dianggap terbaik. Setiap perusahaan memiliki karakteristik
dan situasi yang unik yang berpengaruh terhadap bagaimana mereka
memandang tanggung jawab sosial.

Implementasi CSR
mengimplementasikan pendekatan CSR.
lmplementasi CSR yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan
sangat bergantung kepada misi, budaya, lingkungan dan profit risiko,
serta kondisi operasional masing-masing perusahaan. Banyak perusahaan
yang telah melibatkan diri dalam aktivitas aktivitas yang berkaitan
dengan pelanggan, karyawan, komunitas, dan lingkungan sekitar, yang
merupakan titik awal yang sangat baik menuju pendekatan CSR yang
lebih luas. Pelaksanaan CSR dapat dilaksanakan menurut prioritas yang
didasarkan pada ketersediaan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.
Aktivitas CSR perlu diitegrasikan dengan pengambilan keputusan inti,
strategi, aktivitas, dan proses manajemen perusahaan.
Meskipun tidak terdapat standar atau praktik-praktik tertentu yang
dianggap terbaik dalam pelaksanaan aktivitas CSR, namun kerangka
kerja (framework) yang luas dalam pengimplementasian lingkungan.
Kerangka kerja yang disodorkan oleh industri Kanada dapat dijadikan
panduan. Kerangka kerja ini mengikuti model plan, do, check, dan
improve dan bersifat fleksibel, artinya dapat disesuaikan dengan kondisi
yang dihadapi oleh masing-masing perusahaan.
Sumber: Reputation-Driven Corporate Sosial Responsibility (Pendekatan
Strategic Management dalam CSR), Penulis: A. B. Susanto, Hal: 48-49.
Dalam aspek lingkungan misalnya, terdapat perusahaan-perusahaan yang kontribusi
dalam pencemaran terhadap alam, melakukan pemborosan energy dan bermasalah
dalam limbah. Bagaimanapun semua aspek dalam perusahaan, baik ekonomi, sosial,

kesejahteraan dan lingkungan tidak bisa lepas dari koridor tanggung jawab sosial
perusahaan. Oleh karena itu dalam CSR tercangkup didalamnya empat landasan
pokok yang antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan (Tanari, 2009) di
antaranya:
a. Landasan pokok CSR dalam aktivitas ekonomi, meliputi:

Kinerja keuangan berjalan baik

Investasi modal berjalan baik

Kepatuhan dalam pembayaran pajak

Tidak terdapat praktik suap/korupsi

Tidak ada konflik kepentingan

Tidak dalam keadaan mendukung rezim yang korup

Menghargai hak atas kemampuan intelektual/paten

Tidak melakukan sumbangan politis/lobi

b. Landasan pokok CSR dalam isu lingkungan hidup, meliputi:

Tidak melakukan pencemaran

Tidak berkontribusi dalam perubahan iklim

Tidak berkontribusi atas limbah

Tidak melakukan pemborosan air

Tidak melakukan praktik pemborosan energy

Tidak melakukan penyerobotan lahan

Tidak berkontribusi dalam kebisingan

Menjaga keanekaragaman hayati

c. Landasan pokok CSR dalam isu sosial, meliputi:

Menjamin kesehatan karyawan atau masyarakat yang terkena dampak

Tidak memperkerjakan anak

Memberikan dampak positif terhadap masyarakat

Melakukan proteksi konsumen

Menjunjung keberanekaragaman

Menjaga privasi

Melakukan praktik derma sesuai dengan kebutuhan

Bertanggung jawab dalam proses outsourching dan off-shoring

Akses untuk memperoleh barang-barang tertentu dengan harga wajar

d. Landasan pokok CSR dalam isu kesejahteraan

Memberikan kompensasi terhadap karyawan

Memanfaatkan subsidi dan kemudahan yang diberikan pemerintah

Menjaga kesehatan karyawan

Menjaga keamanan kondisi tempat kerja

Menjaga keselamatan dan kesehatan kerja

Menjaga keseimbangan kerja/hidup