Вы находитесь на странице: 1из 26

PRAKTIKUM MINERALOGI DAN KRISTALOGRAFI

Hari/Tgl
Acara

: Sabtu/25 April 2015

Nama : Nurbaeti

: Mineral Sulfida, Oksida & Hidroksida

No. Urut

: 01

No. Peraga

: B/59

Nim

: D611 14 010

Warna
-

Lapuk
Segar

: Coklat kehitaman
: Kuning, biru, hijau, dan coklat.

Cerat

: Putih

Kilap

: Damar

Belahan

: Tidak memiliki belahan

Pecahan

: Even

Kekerasan

: 9 SM

Kuku
(2,5)
-

Kawat Tembaga
(3)
-

Kaca
(5,5 6)

Berat Jenis

: 3,9 4,1 gr/cm3

Sifat Kemagnetan

: Diamagnetik

Derajat Kejernihan

: Translucent - Opaq

Tenacity

: Rapuh

Sistem Kristal

: Heksagonal

Komposisi Kimia

: Al2O3

Golongan Mineral

: Oksida

Nama Mineral

: Korundum

Pisau Baja
(6 6,5)

Kikir Baja
(6,5 7)

Keterangan

Jenis mineral dengan nomor peraga 2 memiliki warna lapuk kuning


kecoklatan dan warna segar putih. Warna merupakan kenampakan mineral yang
terlihat secara kasat mata sedangkan warna segar merupakan warna khas yang
mutlak dimiliki oleh suatu mineral sedangkan warna lapuk merupakan warna yang
terbentuk akibat pengaruh eksternal (lingkungan) dimana mineral ini terdapat.
Setelah digores pada porselen, diperoleh mineral dalam bentuk serbuk yang
memiliki warna putih. Warna mineral dalam keadaan serbuk setelah digores pada
porselen disebut cerat. Kemudian, mineral diarahkan pada cahaya dan diperoleh
kenampakan yang disebut kilap. Kilap yang dihasilkan pada mineral ini adalah
jenis kilap kaca karena memiliki kesan kilap seperti kaca. Sifat fisik lain dari
mineral ini yaitu memiliki belahan yang sempurna. Belahan merupakan
kecenderungan mineral untuk terbelah melalui bidang rata dan belahan sempurna
berarti bidang belahannya sangat rata dan tidak pecah pada arah lain. Selain itu,
berdasarkan pengamatan saya, mineral ini memiliki pecahan jenis even. Pecahan
merupakan kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata dan
tidak teratur yang diakibatkan adanya tekanan pada mineral yang melebihi batas
plastis mineral tersebut dan pecahan even adalah jenis pecahan yang permukaan
pecahannya agak kasar namun kecil, dan masih mendekati bidang datar. Mineral
ini kemudian digores mengunakan alat penguji kekerasan untuk mengetahui tingkat
kekerasan yang dimiliki mineral ini. Hasilnya, mineral ini dapat tergores hanya
denga menggunakan kuku. Hingga disimpulkan bahwa mineral ini memiliki tingkat
kekerasan 2,5 berdasarkan skala Mosh. Berat jenis dari mineral ini yaitu 2,65

gr/cm3. Berat jenis merupakan perbandingan berat mineral di udara terhadap


volumenya. Kemudian, mineral ini dilengketkan pada magnet untuk mengetahui
sifat kemagnetan yang dimiliki mineral, namun mineral ini tidak bereaksi sama
sekali dengan magnet hingga disimpulkan bahwa sifat kemagnetannya yaitu
diamagnetik (tidak dapat ditarik oleh magnet). Ditinjau dari kemampuan suatu
mineral dalam mentarnsmisikan atau meneruskan cahaya yang disebut derajat
kejernihan diketahui bahwa derajat kejernihannya yaitu opaq. Opaq berarti mineral
ini sukar atau bahkan tidak mampu mentransmisikan atau meneruskan cahaya.
Mineral ini memiliki sifat dalam atau tenacity yang brittle (rapuh). Sifat dalam
merupakan sifat mineral ketika berusaha untuk dipatahkan, dipotong, dihancurkan,
dibengkokkan, ataupun diiris. Brittle disini merupakan sifat dalam mineral yang
mudah hancur jika dipukul dengan palu dan menjadi bubuk. Sistem kristal dari
mineral ini yaitu Monoklin. Monoklin yaitu bentuk mineral yang hanya memiliki
satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Komposisi kimia
mineral ini yaitu CaSO42H2O. Berdasarkan komposisi kimia yang mengandung
gugus anion SO42- maka mineral ini termasuk kedalam golongan mineral sulfat.
Berdasarkan sifat-sifat fisik mineral ini, maka jenis mineral ini adalah Gipsum.
Mineral Gypsum terbentuk dalam kondisi berbagai kemurnian dan
ketebalan yang bervariasi. Mineral Gypsum merupakan garam yang pertama kali
mengendap akibat proses evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika
salinitas makin bertambah. Sebagai mineral evaporit, endapan gipsum berbentuk
lapisan di antara batuan-batuan sedimen batu gamping, serpih merah, batu pasir,
lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk endapan lensa-lensa dalam

satuan-satuan batuan sedimen. Menurut para ahli, endapan gipsum terjadi pada
zaman Permian. Endapan gipsum biasanya terdapat di danau, laut, mata air panas,
dan jalur endapan belerang yang berasal dari gunung api.
Keterdapatan mineral Gypsum yaitu pada Batugamping, serpih, batupasir,
lempung dan garam batuan. Mineral ini berasosiasi dengan mineral Pegmatite,
halite, dan anhidrite.
Berfungsi sebagai bahan perekat, penyaring dan sebagai pupuk tanah,
sebagai plaster, digunakan dalam jumlah yang besar sebagai pupuk di ladangladang gandum di Amerika Serikat, campuran bahan pembuatan lapangan tenis,
sebagai pengganti kayu pada zaman kerajaan-kerajaan, gypsum digunakan sebagai
bahan bangunan, sebagai pengental tofu (tahu) karena memiliki kadar kalsium yang
tinggi, khususnya di Benua Asia (beberapa negara Asia Timur) diproses dengan
cara tradisonal, sebagai penambah kekerasan untuk bahan bangunan, untuk bahan
baku kapur tulis, sebagai salah satu bahan pembuat portland semen, sebagai
indikator pada tanah dan air, sebagai agen medis pada ramuan tradisional China
yang disebut Shi Gao.

Referensi :
- Irfan, Ulva Ria. 2015. Penuntun praktikum mineralogi dan kristalografi.
Makassar: Universitas Hasanuddin
- Mottana Annibale, dkk. 1977. Simon & Schuster's Guide to Rocks and Minerals.
New York: Simon & Schuster Inc.
- https://www.academia.edu/5161542/deskripsi_mineral. (Diakses pada hari Senin,

13 April 2015 pukul 23.17 Wita).

- http://www.mindat.org/min-2465.html. (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015


pukul 23.56 WITA).
- www.geology.com/gypsum (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015 pukul 23.00
WITA).

ASISTEN

PRAKTIKAN

( MUHAMAD DWIKA MAHARDITYA)


(NURBAETI)PRAKTIKUM MINERALOGI DAN KRISTALOGRAFI
Hari/Tgl
Acara

: Sabtu/25 April 2015

Nama : Nurbaeti

: Mineral Sulfida, Oksida & Hidroksida

No. Urut

: 02

No. Peraga

: 19

Nim

: D611 14 010

Warna
-

Lapuk
Segar

: Coklat Kehitaman
: Coklat

Cerat

: Coklat

Kilap

: Tanah

Belahan

: Sempurna

Pecahan

: Even

Kekerasan

: 6,5 7 SM

Kuku
(2,5)
-

Kawat Tembaga
(3)
-

Kaca
(5,5 6)
-

Pisau Baja
(6 6,5)
-

Berat Jenis

: 2,3 2,7 gr/cm3

Sifat Kemagnetan

: Diamagnetik

Derajat Kejernihan

: Opaq

Tenacity

: Rapuh

Sistem Kristal

: tidak memiliki sistem kristal

Komposisi Kimia

: FeO(Oh)

Golongan Mineral

: Hidroksida

Kikir Baja
(6,5 7)

Nama Mineral

: Bauxite

Keterangan

Jenis mineral dengan nomor peraga 5/3 memiliki warna lapuk kuning
kecoklatan dan warna segar transparan kekuningan. Warna

merupakan

kenampakan mineral yang terlihat secara kasat mata sedangkan warna segar
merupakan warna khas yang mutlak dimiliki oleh suatu mineral sedangkan warna
lapuk merupakan warna yang terbentuk akibat pengaruh eksternal (lingkungan)
dimana mineral ini terdapat. Setelah digores pada porselen, diperoleh mineral
dalam bentuk serbuk yang memiliki warna putih. Warna mineral dalam keadaan
serbuk setelah digores pada porselen disebut cerat. Kemudian, mineral diarahkan
pada cahaya dan diperoleh kenampakan yang disebut kilap. Kilap yang dihasilkan
pada mineral ini adalah jenis kilap mutiara karena memiliki kesan kilap seperti
mutiara. Sifat fisik lain dari mineral ini yaitu memiliki belahan yang sempurna.
Belahan merupakan kecenderungan mineral untuk terbelah melalui bidang rata dan
belahan sempurna berarti bidang belahannya sangat rata dan tidak pecah pada arah
lain. Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, mineral ini memiliki pecahan jenis
even. Pecahan merupakan kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang
tidak rata dan tidak teratur yang diakibatkan adanya tekanan pada mineral yang
melebihi batas plastis mineral tersebut dan pecahan even adalah jenis pecahan yang
permukaan pecahannya agak kasar namun kecil, dan masih mendekati bidang datar.
Mineral ini kemudian digores mengunakan alat penguji kekerasan untuk
mengetahui tingkat kekerasan yang dimiliki mineral ini. Hasilnya, mineral ini dapat
tergores hanya denga menggunakan kuku. Hingga disimpulkan bahwa mineral ini

memiliki tingkat kekerasan 2,5 berdasarkan skala Mosh. Berat jenis dari mineral ini
yaitu 2,65 gr/cm3. Berat jenis merupakan perbandingan berat mineral di udara
terhadap volumenya. Kemudian, mineral ini dilengketkan pada magnet untuk
mengetahui sifat kemagnetan yang dimiliki mineral. Hasilnya, mineral ini tertarik
dengan lemah oleh magnet hingga disimpulkan bahwa sifat kemagnetannya yaitu
paramgnetik (dapat ditarik dengan lemah oleh magnet). Ditinjau dari kemampuan
suatu mineral dalam mentarnsmisikan atau meneruskan cahaya yang disebut derajat
kejernihan diketahui bahwa derajat kejernihannya yaitu translucent. Translucent
berarti mineral ini memiliki kemampuan yang terbatas dalam mentransmisikan
cahaya. Mineral ini memiliki sifat dalam atau tenacity yang brittle (rapuh). Sifat
dalam merupakan sifat mineral ketika berusaha untuk dipatahkan, dipotong,
dihancurkan, dibengkokkan, ataupun diiris. Brittle disini merupakan sifat dalam
mineral yang mudah hancur jika dipukul dengan palu dan menjadi bubuk. Sistem
kristal dari mineral ini yaitu isometrik. Isometrik yaitu bentuk mineral yang
memiliki 3 sumbu kristal yang saling tegak lurus satu dengan sumbu yang lainnya.
Komposisi kimia mineral ini yaitu CaF2. Berdasarkan komposisi kimianya yang
memiliki anion dasar halogen sehingga mineral ini dikelompokkan kedalam
golongan mineral halida. Berdasarkan sifat-sifat fisik mineral ini, maka jenis
mineral ini adalah Fluorit.
Fluorite terbentuk pada urat Hydrotermal pada suhu sedang sampai suhu
tinggi Pada fase Hypotermal pada suhu 300-5000 C.

Mineral Fluorit terdapat pada batuan beku pegmatit. Berasosiasi dengan


Kalsit, Dolomit, Gipsum, Selestit, Barit, Kuarsa, Galena, Sfalerit, Kasiterit, Topas,
Turmalin, dan Apatit.
Mineral Fluorite banyak digunakan untuk pembuatan gelas yang tidak
tembus cahaya atau yang kurang dapat ditembus cahaya. Fluorite juga dapat
digunakan sebagai alat optik untuk pembuatan lensa-lensa.

Referensi :
- Irfan, Ulva Ria. 2015. Penuntun praktikum mineralogi dan kristalografi.
Makassar: Universitas Hasanuddin
- Mottana Annibale, dkk. 1977. Simon & Schuster's Guide to Rocks and Minerals.
New York: Simon & Schuster Inc.
- https://www.academia.edu/5161542/deskripsi_mineral. (Diakses pada hari Senin,

13 April 2015 pukul 23.17 Wita).


- http://www.mindat.org/min-2465.html. (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015
pukul 23.56 WITA).

ASISTEN

PRAKTIKAN

( MUHAMAD DWIKA MAHARDITYA)

(NURBAETI

PRAKTIKUM MINERALOGI DAN KRISTALOGRAFI


Hari/Tgl
Acara

: Sabtu/25 April 2015

Nama : Nurbaeti

: Mineral Sulfida, Oksida & Hidroksida

No. Urut

: 03

No. Peraga

:2

Nim

: D611 14 010

Warna
-

Lapuk
Segar

: Hitam kehijauan
: Hitam

Cerat

: Hitam

Kilap

: Logam

Belahan

: Tidak memiliki belahan

Pecahan

: Even

Kekerasan

: 6,5 - 7 SM

Kuku
(2,5)
-

Kawat Tembaga
(3)
-

Kaca
(5,5 6)
-

Berat Jenis

: 5,2 gr/cm3

Sifat Kemagnetan

: Feromagnetik

Derajat Kejernihan

: Opaq

Tenacity

: Rapuh

Sistem Kristal

: Isometrik

Pisau Baja
(6 6,5)
-

Kikir Baja
(6,5 7)

Komposisi Kimia

: Fe+2Fe+32O4

Golongan Mineral

: Oksida

Nama Mineral

: Magnetite

Keterangan

Jenis mineral dengan nomor peraga 2 memiliki warna lapuk abu-abu


kehitaman dan warna segar Transparan hingga Putih. Warna

merupakan

kenampakan mineral yang terlihat secara kasat mata sedangkan warna segar
merupakan warna khas yang mutlak dimiliki oleh suatu mineral sedangkan warna
lapuk merupakan warna yang terbentuk akibat pengaruh eksternal (lingkungan)
dimana mineral ini terdapat. Setelah digores pada porselen, diperoleh mineral
dalam bentuk serbuk yang memiliki warna putih. Warna mineral dalam keadaan
serbuk setelah digores pada porselen disebut cerat. Kemudian, mineral diarahkan
pada cahaya dan diperoleh kenampakan yang disebut kilap. Kilap yang dihasilkan
pada mineral ini adalah jenis kilap kaca karena memiliki kesan kilap seperti kaca.
Sifat fisik lain dari mineral ini yaitu memiliki belahan yang sempurna. Belahan
merupakan kecenderungan mineral untuk terbelah melalui bidang rata dan belahan
sempurna berarti bidang belahannya sangat rata dan tidak pecah pada arah lain.
Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, mineral ini memiliki pecahan jenis even.
Pecahan merupakan kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak
rata dan tidak teratur yang diakibatkan adanya tekanan pada mineral yang melebihi
batas plastis mineral tersebut dan pecahan even adalah jenis pecahan yang
permukaan pecahannya agak kasar namun kecil, dan masih mendekati bidang datar.
Mineral ini kemudian digores mengunakan alat penguji kekerasan untuk

mengetahui tingkat kekerasan yang dimiliki mineral ini. Hasilnya, mineral ini dapat
tergores hanya denga menggunakan kuku. Hingga disimpulkan bahwa mineral ini
memiliki tingkat kekerasan 2,5 berdasarkan skala Mosh. Berat jenis dari mineral ini
yaitu 2,1- 2,2 gr/cm3. Berat jenis merupakan perbandingan berat mineral di udara
terhadap volumenya. Kemudian, mineral ini dilengketkan pada magnet untuk
mengetahui sifat kemagnetan yang dimiliki mineral. Hasilnya, mineral ini tertarik
dengan lemah oleh magnet hingga disimpulkan bahwa sifat kemagnetannya yaitu
paramagnetik (dapat ditarik dengan lemah oleh magnet). Ditinjau dari kemampuan
suatu mineral dalam mentarnsmisikan atau meneruskan cahaya yang disebut derajat
kejernihan diketahui bahwa derajat kejernihannya yaitu translucent. Translucent
berarti mineral ini memiliki kemampuan yang terbatas dalam mentransmisikan
cahaya. Mineral ini memiliki sifat dalam atau tenacity yang brittle (rapuh). Sifat
dalam merupakan sifat mineral ketika berusaha untuk dipatahkan, dipotong,
dihancurkan, dibengkokkan, ataupun diiris. Brittle disini merupakan sifat dalam
mineral yang mudah hancur jika dipukul dengan palu dan menjadi bubuk. Sistem
kristal dari mineral ini yaitu isometrik. Isometrik yaitu bentuk mineral yang
memiliki 3 sumbu kristal yang saling tegak lurus satu dengan sumbu yang lainnya.
Komposisi kimia mineral ini yaitu NaCl. Berdasarkan komposisi kimianya yang
memiliki anion dasar halogen

sehingga mineral ini dikelompokkan kedalam

golongan mineral halida. Berdasarkan sifat-sifat fisik mineral ini, maka jenis
mineral ini adalah Halite.
Halit dibentuk karena proses eksogen melalui pengeringan danau yang
mengandung garam atau tempat lain yang mengandung air garam atau terbentuk

dari hasil presipitasi air laut secara primer/langsumg dangan temperatur sekitar
1000C, juga merupakan hasil presipitasi pada endapan sedimen seperti lempung.
Halite Berasosiasi dengan mineral Anhydrit, Sylvenit, Karnalit, dan
Gipsum.
Mineral Halit digunakan sebagai penghasil Na dan Cl, juga untuk
pembuatan macam-macam soda seperti bikaronat dan caustic soda.

Referensi :
- Irfan, Ulva Ria. 2015. Penuntun praktikum mineralogi dan kristalografi.
Makassar: Universitas Hasanuddin
- Mottana Annibale, dkk. 1977. Simon & Schuster's Guide to Rocks and Minerals.
New York: Simon & Schuster Inc.
- https://www.academia.edu/5161542/deskripsi_mineral. (Diakses pada hari Senin,

13 April 2015 pukul 23.17 Wita).


- http://www.mindat.org/min-2465.html. (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015
pukul 23.56 WITA).

ASISTEN

PRAKTIKAN

( MUHAMAD DWIKA MAHARDITYA)

(NURBAETI

PRAKTIKUM MINERALOGI DAN KRISTALOGRAFI


Hari/Tgl
Acara

: Sabtu/25 April 2015

Nama : Nurbaeti

: Mineral Sulfida, Oksida & Hidroksida

No. Urut

: 04

No. Peraga

: 13

Nim

: D611 14 010

Warna
-

Lapuk
Segar

: Hitam
: Coklat Kemerahan

Cerat

: Hitam

Kilap

: Muiara

Belahan

: Tidak Jelas

Pecahan

: Even

Kekerasan

: 6,5 - 7 SM

Kuku
(2,5)
-

Kawat Tembaga
(3)
-

Kaca
(5,5 6)
-

Berat Jenis

: 7,2 7,6 gr/cm3

Sifat Kemagnetan

: Diamagnetik

Derajat Kejernihan

: Opaq

Pisau Baja
(6 6,5)
-

Kikir Baja
(6,5 7)

Tenacity

: Brittle

Sistem Kristal

: Isometrik

Komposisi Kimia

: PbS

Golongan Mineral

: Sulfida

Nama Mineral

: Anhidrit

Keterangan

Jenis mineral dengan nomor peraga 28 memiliki warna lapuk coklat


kehitaman dan warna segar coklat kemerahan. Warna merupakan kenampakan
mineral yang terlihat secara kasat mata sedangkan warna segar merupakan warna
khas yang mutlak dimiliki oleh suatu mineral sedangkan warna lapuk merupakan
warna yang terbentuk akibat pengaruh eksternal (lingkungan) dimana mineral ini
terdapat. Setelah digores pada porselen, diperoleh mineral dalam bentuk serbuk
yang memiliki warna putih. Warna mineral dalam keadaan serbuk setelah digores
pada porselen disebut cerat. Kemudian, mineral diarahkan pada cahaya dan
diperoleh kenampakan yang disebut kilap. Kilap yang dihasilkan pada mineral ini
adalah jenis kilap kaca karena memiliki kesan kilap seperti kaca. Sifat fisik lain
dari mineral ini yaitu memiliki belahan yang tidak jelas. Belahan merupakan
kecenderungan mineral untuk terbelah melalui bidang rata dan belahan tidak jelas
berarti kemungkinan untuk membentuk belahan dan pecahan akibat adanya tekanan
adalah sama besar. Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, mineral ini memiliki
pecahan jenis even. Pecahan merupakan kemampuan mineral untuk pecah
melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur yang diakibatkan adanya tekanan
pada mineral yang melebihi batas plastis mineral tersebut dan pecahan even adalah

jenis pecahan yang permukaan pecahannya agak kasar namun kecil, dan masih
mendekati bidang datar. Mineral ini kemudian digores mengunakan alat penguji
kekerasan untuk mengetahui tingkat kekerasan yang dimiliki mineral ini. Hasilnya,
mineral ini hanya dapat tergores oleh kikir baja. Hingga disimpulkan bahwa
mineral ini memiliki tingkat kekerasan 6,5 - 7 berdasarkan skala Mosh. Berat jenis
dari mineral ini yaitu 3 gr/cm3. Berat jenis merupakan perbandingan berat mineral
di udara terhadap volumenya. Kemudian, mineral ini dilengketkan pada magnet
untuk mengetahui sifat kemagnetan yang dimiliki mineral. Hasilnya, mineral ini
tertarik dengan lemah oleh magnet hingga disimpulkan bahwa sifat kemagnetannya
yaitu paramagnetik (dapat ditarik dengan lemah oleh magnet). Ditinjau dari
kemampuan suatu mineral dalam mentarnsmisikan atau meneruskan cahaya yang
disebut derajat kejernihan diketahui bahwa derajat kejernihannya yaitu translucent.
Translucent berarti mineral ini memiliki kemampuan yang terbatas dalam
mentransmisikan cahaya. Mineral ini memiliki sifat dalam atau tenacity yang
brittle (rapuh). Sifat dalam merupakan sifat mineral ketika berusaha untuk
dipatahkan, dipotong, dihancurkan, dibengkokkan, ataupun diiris. Brittle disini
merupakan sifat dalam mineral yang mudah hancur jika dipukul dengan palu dan
menjadi bubuk. Sistem kristal dari mineral ini yaitu orthorombik. Orthorombik
yaitu bentuk mineral yang memiliki 3 sumbu kristal yang saling tegak lurus satu
dengan sumbu yang lainnya. Komposisi kimia mineral ini yaitu CaSO4.
Berdasarkan komposisi kimianya yang mengandung gugus anion SO42- maka
mineral ini dikelompokkan kedalam golongan mineral sulfat. Berdasarkan sifatsifat fisik mineral ini, maka jenis mineral ini adalah Anhidrit.

Mineral ini terbentuk sebagai hasil dari peristiwa alterasi dari Gipsum yaitu
mineral Gipsum bereaksi dengan air dalam hal ini unsur hidroksinya yaitu H 2O,
sehingga terbentuklah mineral ini. Terbentuk di endapan sedimen kimia
dari jenis evaporit, terbentuk pada iklim panas serta pada
metamorfosis evaporit.
Mineral ini terdapat pada daerah pembentukan mineral Gipsum
yaitu pada daerah vein di korok/gang. Mineral ini berasosiasi dengan Gipsum
dan Dolomit.
Mineral

ini

digunakan

sebagai

bahan

untuk

mengambil

unsur

Sulfur, produksi asam Sulfur, sebagai penyaring kertas, sebagai


batu perhiasan,

sebagai pembenah tanah, bahan untuk membuat semen

Portland dan suatu sumber dari fosfat untuk asam belerang.

Referensi :
- Irfan, Ulva Ria. 2015. Penuntun praktikum mineralogi dan kristalografi.
Makassar: Universitas Hasanuddin
- Mottana Annibale, dkk. 1977. Simon & Schuster's Guide to Rocks and Minerals.
New York: Simon & Schuster Inc.
- https://www.academia.edu/5161542/deskripsi_mineral. (Diakses pada hari Senin,

13 April 2015 pukul 23.17 Wita).


- http://www.mindat.org/min-2465.html. (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015
pukul 23.56 WITA).

ASISTEN

PRAKTIKAN

( MUHAMAD DWIKA MAHARDITYA)

(NURBAETI)

PRAKTIKUM MINERALOGI DAN KRISTALOGRAFI


Hari/Tgl
Acara

: Sabtu/25 April 2015

Nama : Nurbaeti

: Mineral Sulfida, Oksida & Hidroksida

No. Urut

: 06

No. Peraga

: 4/1

Nim

: D611 14 010

Warna
-

Lapuk
Segar

: Kuning Kehitaman
: Kuning

Cerat

: Putih Kekuningan

Kilap

: Damar

Belahan

Pecahan

: Uneven

Kekerasan

: 2,5 SM

Kuku
(2,5)
-

Kawat Tembaga
(3)
-

Berat Jenis

Kaca
(5,5 6)

: 2 2,1 gr/cm3

Pisau Baja
(6 6,5)

Kikir Baja
(6,5 7)

Sifat Kemagnetan

: Diamagnetik

Derajat Kejernihan

: Translucent

Tenacity

: Rapuh

Sistem Kristal

: Orthorombik

Komposisi Kimia

:S

Golongan Mineral

: Native Elemen

Nama Mineral

: Sulfur

Keterangan

Jenis mineral dengan nomor peraga 47/3 memiliki warna lapuk kuning
kehitaman dan warna segar kuning. Warna merupakan kenampakan mineral yang
terlihat secara kasat mata sedangkan warna segar merupakan warna khas yang
mutlak dimiliki oleh suatu mineral sedangkan warna lapuk merupakan warna yang
terbentuk akibat pengaruh eksternal (lingkungan) dimana mineral ini terdapat.
Setelah digores pada porselen, diperoleh mineral dalam bentuk serbuk yang
memiliki warna putih kekuningan. Warna mineral dalam keadaan serbuk setelah
digores pada porselen disebut cerat. Kemudian, mineral diarahkan pada cahaya dan
diperoleh kenampakan yang disebut kilap. Kilap yang dihasilkan pada mineral ini
adalah jenis kilap damar karena memiliki kesan kilap seperti damar (getah
tumbuhan/pohon). Sifat fisik lain yang diamati adalah belahan. Namun,
berdasarkan hasil pengamatan saya, mineral ini tidak memiliki bidang belahan.
Belahan merupakan kecenderungan mineral untuk terbelah melalui bidang rata dan
tidak terdapat tanda-tanda belahan pada sampel mineral yang saya amati tersebut.
Namun, dari sumber lain (Geology.com/sulfur) dikatakan bahwa mineral ini

memiliki belahan sempurna yaitu jenis belahan yang bidang belahannya sangat rata
dan tidk dapat pecah kearah lain. Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, mineral
ini memiliki pecahan jenis uneven. Pecahan merupakan kemampuan mineral untuk
pecah melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur yang diakibatkan adanya
tekanan pada mineral yang melebihi batas plastis mineral tersebut dan pecahan
uneven adalah jenis pecahan yang permukaan pecahannya kasar dan tak beraturan.
Mineral ini kemudian digores mengunakan alat penguji kekerasan untuk
mengetahui tingkat kekerasan yang dimiliki mineral ini. Hasilnya, mineral ini dapat
tergores oleh kaca. Hingga disimpulkan bahwa mineral ini memiliki tingkat
kekerasan 5,5 - 6 berdasarkan skala Mosh. Berat jenis dari mineral ini yaitu 2 2,1
gr/cm3. Berat jenis merupakan perbandingan berat mineral di udara terhadap
volumenya. Kemudian, mineral ini dilengketkan pada magnet untuk mengetahui
sifat kemagnetan yang dimiliki mineral. Hasilnya, mineral ini sama sekali tidak
tertarik oleh magnet hingga disimpulkan bahwa sifat kemagnetannya yaitu
diamagnetik (tidak dapat ditarik oleh magnet). Ditinjau dari kemampuan suatu
mineral dalam mentarnsmisikan atau meneruskan cahaya yang disebut derajat
kejernihan diketahui bahwa derajat kejernihannya yaitu translucent. Translucent
berarti mineral ini memiliki kemampuan yang terbatas dalam mentransmisikan
cahaya. Mineral ini memiliki sifat dalam atau tenacity yang brittle (rapuh). Sifat
dalam merupakan sifat mineral ketika berusaha untuk dipatahkan, dipotong,
dihancurkan, dibengkokkan, ataupun diiris. Brittle disini merupakan sifat dalam
mineral yang mudah hancur jika dipukul dengan palu dan menjadi bubuk. Sistem
kristal dari mineral ini yaitu orthorombik. Orthorombik yaitu bentuk mineral yang

memiliki 3 sumbu kristal yang saling tegak lurus satu dengan sumbu yang lainnya.
Komposisi kimia mineral ini yaitu S. Berdasarkan komposisi kimianya yang
hanaya terdiri dari satu unsure sehingga mineral ini dikelompokkan kedalam
golongan mineral native elemen. Berdasarkan sifat-sifat fisik mineral ini, maka
jenis mineral ini adalah Sulfur.
Sulfur dapat terbentuk di daerah gunungapi aktif, di sekitar mata air panas,
dan hasil aktivitas bakteri yang memisahkan sulfur dari sulfat. Dapat pula terbentuk
karena oksidasi sulfida-sulfida pada urat-urat yang berasosiasi dengan sulfidasulfida metal.
Mineral Sulfur dijumpai juga pada batuan-batuan sedimen yang berasosiasi
dengan mineral Anhidrit, Aragonit, Kalsit, Batugamping dan Gipsum.
Sulfur umumnya digunakan dalam industri kimia, yaitu pembuatan asam
sulfat (H2SO4) yang diperlukan dalam pembuatan pupuk, penghalusan minyak,
bahan-bahan kimia berat dan keperluan metalurgi. Selain itu, digunakan dalam
industri cat, karet, industri tekstil, industri korek api, bahan peledak, industri ban
luar dan dalam, pabrik kertas, industri gula yang digunakan dalam proses sulfinasi
serta dalam industri rayon film cellulosa, ebonit, cairan sulfida, bahan anti
serangga, bahan pengawet kayu, obat-obatan dan lain-lain.
Referensi :
- Irfan, Ulva Ria. 2015. Penuntun praktikum mineralogi dan kristalografi.
Makassar: Universitas Hasanuddin
- Mottana Annibale, dkk. 1977. Simon & Schuster's Guide to Rocks and Minerals.
New York: Simon & Schuster Inc.

Haling,

Hardiyanti.

2013.

Mineral

Sulfur.http://antitaniic.blogspot.com/

2013/01/mineral-sulfur.html. Diakses pada tanggal 22 April 2015, pukul


14:36 WITA
- http://id.wikipedia.org/wiki/Sulfur (Diakses pada tanggal 22 april 2015, pukul
20:00 WITA)
ASISTEN

PRAKTIKAN

( MUHAMAD DWIKA MAHARDITYA)

(NURBAETI

PRAKTIKUM MINERALOGI DAN KRISTALOGRAFI


Hari/Tgl
Acara

: Sabtu/25 April 2015

Nama : Nurbaeti

: Mineral Sulfida, Oksida & Hidroksida

No. Urut

: 06

No. Peraga

: 6/39

Nim

: D611 14 010

Warna
-

Lapuk
Segar

: Kuning Kecoklatan
: Hitam

Cerat

: Putih

Kilap

: Tanah

Belahan

: Sempurna

Pecahan

: Uneven

Kekerasan

: 7 - 8 SM

Kuku
(2,5)
-

Kawat Tembaga
(3)
-

Kaca
(5,5 6)
-

Pisau Baja
(6 6,5)
-

Kikir Baja
(6,5 7)

Berat Jenis

: 9,7 9,8 gr/cm3

Sifat Kemagnetan

: Diamagnetik

Derajat Kejernihan

: Opaq

Tenacity

: Rapuh

Sistem Kristal

: Hexagonal

Komposisi Kimia

:Bi

Golongan Mineral

: Native Elemen

Nama Mineral

: Bismut

Keterangan

Jenis mineral dengan nomor peraga 6/39 memiliki warna lapuk kuning
kecoklatan dan warna segar hitam. Warna merupakan kenampakan mineral yang
terlihat secara kasat mata sedangkan warna segar merupakan warna khas yang
mutlak dimiliki oleh suatu mineral sedangkan warna lapuk merupakan warna yang
terbentuk akibat pengaruh eksternal (lingkungan) dimana mineral ini terdapat.
Setelah digores pada porselen, diperoleh mineral dalam bentuk serbuk yang
memiliki warna puti. Warna mineral dalam keadaan serbuk setelah digores pada
porselen disebut cerat. Kemudian, mineral diarahkan pada cahaya dan diperoleh
kenampakan yang disebut kilap. Kilap yang dihasilkan pada mineral ini adalah
jenis kilap tanah karena memiliki kesan kilap seperti tanah. Sifat fisik lain dari
mineral ini yaitu memiliki belahan yang sempurna. Belahan merupakan
kecenderungan mineral untuk terbelah melalui bidang rata dan belahan sempurna
berarti memiliki bidang belah yang sangat rata dan sukar pecah pada tapa melalui
bidang belahan. Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, mineral ini memiliki

pecahan jenis uneven. Pecahan merupakan kemampuan mineral untuk pecah


melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur yang diakibatkan adanya tekanan
pada mineral yang melebihi batas plastis mineral tersebut dan pecahan uneven
adalah jenis pecahan yang permukaan pecahannya kasar dan tak beraturan. Mineral
ini kemudian digores mengunakan alat penguji kekerasan untuk mengetahui tingkat
kekerasan yang dimiliki mineral ini. Hasilnya, mineral ini hanya dapat tergores
oleh kikir baja yang berarti tingkata kekerasannya 6,5 7 Skala Mosh. Namun,
pada sumber lain (Rock & Minerals) diperoleh bahwa mineral dengan sifat fisik
seperti diatas memiliki tingkat kekerasan hingga 7 8 skala Mosh. Berat jenis dari
mineral ini yaitu 9,7 9,8 gr/cm3. Berat jenis merupakan perbandingan berat
mineral di udara terhadap volumenya. Kemudian, mineral ini dilengketkan pada
magnet untuk mengetahui sifat kemagnetan yang dimiliki mineral. Hasilnya,
mineral ini sama sekali tidak tertarik oleh magnet hingga disimpulkan bahwa sifat
kemagnetannya yaitu diamagnetik (tidak dapat ditarik oleh magnet). Ditinjau dari
kemampuan suatu mineral dalam mentarnsmisikan atau meneruskan cahaya yang
disebut derajat kejernihan diketahui bahwa derajat kejernihannya yaitu opaq. Opaq
berarti mineral ini tidak memiliki kemampuan dalam mentransmisikan cahaya.
Mineral ini memiliki sifat dalam atau tenacity yang brittle (rapuh). Sifat dalam
merupakan sifat mineral ketika berusaha untuk dipatahkan, dipotong, dihancurkan,
dibengkokkan, ataupun diiris. Brittle disini merupakan sifat dalam mineral yang
mudah hancur jika dipukul dengan palu dan menjadi bubuk. Sistem kristal dari
mineral ini yaitu hexagonal. Hexagonal yaitu bentuk mineral yang memiliki 4
sumbu kristal dimana sumbu c saling tegak lurus dengan ketiga sumbu lainnya (a,b,

dan d) dan membentuk sudut 120 terhadap satu sama lain. Komposisi kimia
mineral ini yaitu Bi. Berdasarkan komposisi kimianya yang hanya tersusun oleh
unsure tunggal maka mineral ini dikelompokkan kedalam golongan mineral native
elemen. Berdasarkan sifat-sifat fisik mineral ini, maka jenis mineral ini adalah
Bismut.
Mineral Bismut terbentuk secara hidrotermal dan dapat dijumpai dalam
urat-urat hidrotermal.
Mineral Bismut dijumpai pada bijih kobalt, nikel, timah, dan perak serta
dapat juga ditemukan dalam batuan beku pegmatit.
Mineral Bismut bermanfaat sebagai sumber logam bismuth, digunakan
dalam sekering listrik, namun paling sering digunakan sebagai bahan kosmetik dan
dalam bidang medis juga digunakan sebagai bahan lapisan kaca keramik.

Referensi :
- Irfan, Ulva Ria. 2015. Penuntun praktikum mineralogi dan kristalografi.
Makassar: Universitas Hasanuddin
- Mottana Annibale, dkk. 1977. Simon & Schuster's Guide to Rocks and Minerals.
New York: Simon & Schuster Inc.
- https://www.academia.edu/5161542/deskripsi_mineral. (Diakses pada hari Senin,
13 April 2015 pukul 23.17 Wita).
- http://www.mindat.org/min-2465.html. (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015
pukul 23.56 WITA).
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bismut (Diakses pada hari Senin, 13 April 2015
pukul 23.56 WITA).

ASISTEN

( MUHAMAD DWIKA MAHARDITYA)

PRAKTIKAN

(NURBAETI)