You are on page 1of 22

MORFOMETRI HEWAN VERTEBRATA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Dian Kusumawardani
: B1J013053
:V
:1
: Mithun Sinaga

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Morfometrik merupakan salah satu cara untuk mendeskripsikan jenis ikan dan
menentukan unit stok pada suatu perairan dengan berdasarkan atas perbedaan
morfologi spesies yang diamati. Pengukuran morfometrik dapat dilakukan antara lain
panjang standar, moncong atau bibir, sirip punggung, atau tinggi batang ekor
(Rahmat, 2011). Morfometri merupakan peneraan pengukuran morfologi yang
meliputi ukuran panjang dan berat, serta skala kondisi fisik berdasarkan standar
morfologi tubuh, sesuai fase hidup hewan. Morfometri dimaksudkan untuk
mengukur bagian tubuh yang penting pada hewan, agar diketahui kisaran ukuranya,
di setiap fase pertumbuhan pada masing-masing jenis-jenis hewan, sehingga
informasi untuk determinasi taksa menjadi lebih lengkap dan akurat. Nilai penting
yang terkandung dalam morfometri yaitu untuk mengenal lebih mendalam tentang
jenis spesies, melakukan estimasi umur dan jenis kelamin serta mengetahui berat dan
ukuran tubuh (Saanin, 1968).
Meristik adalah ciri taksonomik berdasarkan jumlah bagian tubuh. Ukuran
karakter meristik bebas dan karakter morfometrik adalah alat yang digunakan untuk
mengidentifikasi spesies, genera dan bagian-bagian tubuh ikan. Karakter morfometri
tidak sensitif terhadap jangka pendek, fluktuasi lokal, dan mencerminkan rata-rata
perbedaan jangka waktu lama antara faktor lingkungan di daerah yang berbeda.
Banyak teknik statistik menggunakan morfometri dan karakter meristik dalam
penelitian klasifikasi dan diskriminasi. Semua karakter morfometri bervariasi antara
dua spesies. Semua pengukuran morfometri memiliki korelasi yang tinggi dengan
panjang total serta ada yang signifikan perbedaannya dalam pengukuran morfometri
dan proporsi tubuh (Elamin et al., 2011).
Metode analisis morfologis tradisional yaitu perbandingan antara univariate
karakter meristik dan morfometrik seperti panjang tubuh, lebar tubuh dan tinggi
tubuh, yang mampu mengidentifikasi perbedaan antar galur atau populasi. Karakter
morfometrik baku yang terkonsentrasi pada ukuran-ukuran panjang dari bagian
kepala, badan dan ekor menghasilkan pola gambaran bentuk tubuh yang cenderung
bias (Clifford dan Stephenson, 1975).
Teknik truss morphometrics merupakan salah satu upaya menggambarkan
bentuk ikan dengan cara mengukur bagian-bagian dari tubuhnya atas dasar titik-titik

patokan. Pengukuran karakter morfometrik dengan pola truss network memberikan


gambaran yang lebih menyeluruh. Metode ini menghasilkan karakterisasi geometrik
bentuk tubuh ikan secara lebih simetris dan menunjukan peningkatan kemampuan
untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan bentuk tubuh (Clifford dan Stephenson,
1975) Teknik tradisional atau teknik sederhana yang biasa digunakan dalam
pengumpulan data dalam pengukuran bagian tubuh hewan dapat ditingkatkan dengan
lebih komprehensif dan tepat dengan kualifikasi teknik truss morfometrik.
Penggunaan titik-titik truss dapat membantu dalam mengidentifikasi bagian-bagian
ukuran tubuh hewan (Mohaddasi et al., 2013). .
Kelebihan dalam penggunaan teknik morfometri tradisional adalah dapat
mengetahui panjang dan berat, serta skala kondisi fisik sesuai fase hidup hewan,
mengukur bagian tubuh yang penting pada hewan, untuk mengetahui kisaran
ukurannya sehinggga didapat informasi untuk determinasi taksa menjadi lebih
lengkap dan akurat. Kekurangan dalam penggunaan metode analisis morfometri
tradisional yaitu sering kali gagal mengidentifikasi perbedaan antara galur atau
populasi. Karakter morfometri baku yang terkonsentrasi pada ukuran-ukuran panjang
dan bagian kepala, badan dan ekor menghasilkan pola gambaran bentuk tubuh yang
cenderung bias (Indarmawan et al., 2010). Kelebihan dari metode truss
morphometrics adalah dapat menggambarkan bentuk tubuh organisme, sedangkan
kekurangannya dalah lebih rumit dalam perhitungannya (Anwar, 1985).
B. Tujuan
Tujuan dari acara praktikum Morfometri Hewan Avertebrata yaitu untuk
mengenali karakter morfologi hewan vertebrata yang penting digunakan sebagai
dasar identifikasi. Melakukan analisis karakter morfologi hewan vertebrata secara
meristik dan morfometri, serta untuk menerapkan teknik morfometri sederhana dan
truss morphometrics pada berbagai hewan vertebrata.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Manfaat atau nilai penting yang terkandung dalam morfometri yaitu untuk
mengenal lebih mendalam tentang jenis-species, melakukan estimasi umur dan jenis
kelamin serta mengetahui berat dan ukuran tubuh. Studi morfometri secara
kuantitatif memiliki tiga manfaat yaitu, membedakan jenis kelamin dan spesies,
mendeskripsikan pola-pola keragaman morfologis antar populasi atau spesies, serta
mengklasifikasikan dan menduga hubungan filogenik. Manfaat yang diperoleh dari
morfometri juga untuk lebih mudah dalam mendeterminasi suatu hewan berdasarkan
ciri-ciri khusus yang dimilikinya, disamping itu juga dapat diketahui kisaran umur
dan jenis kelamin dari hewan yang telah dilakukan morfometri padanya. Supaya
memperoleh data morfometri yang memadai diupayakan dengan menyeleksi
spesimen yang dianggap sudah memiliki karakter morfologi yang sudah mapan
(Haryono, 2001). Karakter morfometrik juga dapat digunakan untuk membedakan
antara satu jenis yang satu dengan jenis lainnya, antara jenis yang sama dari
geografis atau tempat yang berbeda dan antar varietas spesies tersebut (Imron, 1998).
Klasifikasi ikan tawes menurut Saanin (1968) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Barbonymus

Spesies

: Barbonymus gonionotus
Ikan tawes, Barbonymus gonionotus akan tumbuh dengan baik bila

dibudidayakan di kolam air deras, keramba, maupun keramba jaring apung. Tawes
termasuk ikan herbivora. Ikan tawes di alam biasa hidup di sungai, danau, rawa, dan
perairan umum lainnya. Perairan yang disukai ikan tawes adalah perairan yang jernih
gemercik dengan kandungan oksigen yang tinggi. Ikan tawes juga dapat hidup di
danau maupun rawa bahkan di air payau dengan salinitas 7 ppt (Schwartz, 2007).
Tubuh ikan tawes pipih ke samping. kulit ikan mempunyai sisik berwarna
putih keperak perakan dan berukuran besar. Mulut berada di ujung tengah kepala
terminal dihiasi sungut, dorsal fin tegak dengan jari jari sirip kuat, sirip ekor anal fin
dengan lobus membulat. Tawes memiliki garis rusuk linea lateralis berjumlah 29-31
buah, panjang ikan ini bisa mencapai 52 cm dengan berat 2 kg per ekor. Di kolam

budidaya ikan tawes bisa mencapai berat 1 kg per ekor (Santoso, B dan Tata S.,
2001).
Ikan tawes termasuk ke dalam famili Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan
nilem. Bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi,kepala
kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung hidung, sungut sangat
kecil atau rudimenter. Di bawah garis rusuk terdapat sisik 5 buah dan 3-3 buah di
antara garis rusuk dan permulaan sirip perut. Garis rusuknya sempurna berjumlah
antara 29-31 buah. Badan berwarna keperakan agak gelap di bagian punggung. Pada
moncong terdapat tonjolan-tonjolan yang sangat kecil. Sirip punggung dan sirip ekor
berwarna abu-abu atau kekuningan, dan sirip ekor bercagak dalam dengan lobus
membulat, sirip dada berwarna kuning dan sirip dubur berwarna oranye terang. Sirip
dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang (Kottelat et al., 1993).
Sisik dengan struktur beberapa jari-jari sejajar atau melengkung ke ujung,
sedikit atau tidak ada proyeksi jari-jari ke samping. Ada tonjolan sangat kecil,
memanjang dari tilang mata sampai ke moncong dan dari dahi ke antara mata. Sirip
dubur mempunyai 6 jari-jari bercabang, 3-3 sisik antara gurat sisi dan awal sirip
perut (Kotelat et al., 1993).
Klasifikasi Ular Lanang Sapi menurut Boie,1827 dalam Ilham et al., 2012
adalah sebagai berikut:
Kerajaan

: Animalia

Filum

: Chordata

Anak Filum

: Vertebrata

Kelas

: Reptilia

Bangsa

: Squamata

Anak Bangsa : Serpentes


Suku

: Colubridae

Anak Suku

: Colubrinae

Marga

: Coelognathus

Jenis

: Coelognathus radiatus
Ukuran tubuhnya relatif besar, dengan ekor yang pendek. Panjang total

tubuhnya dapat mencapai 1600 mm. Sisik-sisik badan dan ekor halus, kecuali
posterior badan dimana di bagian tengah dorsal dan bagian tengah supracaudal
berlunas lemah. Bagian atas kepala berwarna tembaga atau coklat keemasan. Ada
tiga garis hitam yang berpangkal dari mata; pertama yang menuju bibir bawah, kedua

menuju bagian tengkuk, berbentuk belah ketupat dan terakhir yang ketiga melewati
sisik temporal dan bersatu dengan garis hitam yang ada di atas kepala. Punggung dan
badannya berwarna coklat kelabu atau coklat kekuning-kuningan dengan 4 garis
hitam sepanjang anterior badannya. Ada sepasang paravertebral yang dekat dengan
garis vertebral yang pucat dan sebuah garis ventrolateral tipis terdapat di setiap
sisinya. Pada bagian sekitar anus (venter) berwarna kuning bersih atau berbintikbintik hijau kekuningan (De Rojii, 1987).
Panjang jarak antara moncong-anus mencapai 1280 mm. Sisik bibir atasnya
berjumlah 8 atau 9, sisik ketiga sampai kelima; sisik keempat sampai kelima atau
keempat sampai keenam menyentuh mata. Sisik preocular tunggal dan besar. Sisik
postocular 2. Sisik loreal lebih panjang dari pada dalamnya. Sisik temporal biasanya
2+2. Sisik-sisik pada bagian tengah badannya berjumlah 19 baris. Sisik-sisik ventral
222-250 dan berlunas pada bagian pinggirnya. Sisik anal tunggal. Sisik-sisik
subcaudal berjumlah 82-100 dan ganda (De Rojii, 1987).
Ular ini agak umum ditemukan di hampir seluruh macam habitat, tetapi yang
paling sering dilihat pada daerah terbuka dataran rendah dan perbukitan hingga
ketiggian 1400 m di atas permukaan laut. Ular ini dinamakan ular sapi karena sering
ditemukan di sekitar kandang sapi dimana banyak tikus bersarang. Ular ini
membunuh mangsanya dengan cara melilit. Aktifitas hariannya baik pada pagi, siang
maupun malam hari. Biasa hdup baik di permukaan tanah maupun di atas pohonpohon. Perkembang-biakannya dengan cara bertelur, betina akan mengeluarkan
sekitar 24 telur. Makanannya kebanyakan terdiri dari binatang mammal kecil seperti
binatang pengerat (tikus). Ular ini ketika dalam kondisi yang terancam akan
memperlihatkan perilaku yang menarik. Sebagian badannya mengangkat, lalu bagian
anterior lehernya dipipihkan dan dilengkungkan serupa huruf S sambil sekali-kali
menyerang. Walaupun ular ini tidak mempunyai racun bisa tapi gigitannya dapat
menyebabkan luka sebab ular sapi memiliki air liur yang dipenuhi bakteri sehingga
dapat menyebabkan infeksi pada lokasi gigitan (Hodges, 1993).

III.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum mofometri yaitu jangka sorong,


kertas milimeter, bak preparat, pinset, steroform, tali nilon dan jarum pentul.
Bahan yang digunakan adalah Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) dan Ular
Sapi (Coelognathus radiatus).
B. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu:
1. Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) dan Ular Sapi (Coelognathus radiatus)
disiapkan.
2. Preparat Ikan Tawes diletakkan diatas kertas milimeter, yang sebelumnya
dibawah kertas milimeter telah dialasi dengan steroform.
3. Patokan titik truss untuk metode Truss Morphometrics ditandai pada tubuh ikan
tawes dengan menggunakan jarum.
4. Karakter morfometrik diukur dengan menggunakan jangka sorong dengan teknik
truss morphometrics.
5. Hasil pengukuran dicatat pada tabel.
6. Untuk metode morfometrik sederhana, bagian-bagian tubuh ikan tawes diukur
dengan penggaris sedangkan bagian-bagian tubuh ular sapi diukur dengan
pengggaris dan tali nilon.
7. Semua data hasil analisis karakter morfologi secara sederhana pada ikan tawes
dan karakter morfologi secara meristik pada ular sapi dicatat pada tabel.
8. Bagian-bagian dan macam-macam sisik pada ular diamati dan ditunjukkan pada
gambar yang telah disediakan di laporan sementara.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
4.1 Gambar Ikan Tawes yang Telah ditentukan dan Dihubungkan Titik Truss.

5
3

1
2
8
4

IV.2 Titik-titik Truss Morfometrik


1. Ujung mocong
2. Titik paling posterior dari rahang atas (makilla)
3. Titik paling posterior dari mata
4. Titik pangkal dari sirip abdomen
5. Titik pangkal dari sirip dorsal
6. Titik pangkal dari sisik anal
7. Titik ujung sirip dorsal
8. Titik ujung sirip anal
9. Titik dorsal pangkal sirip caudal
10. Titik ventral pangkal sirip caudal

4.3 Gambar Ikan Tawes Pengukuran Morfometri sederhana

10

6
8

5
11

10

12
2
1

IV.4 Pengukuran Morfometri Sederhana Ikan Tawes


1. Panjang total
: 19,5 cm
2. Panjang standar
: 15,5 cm
3. Panjang kepala
: 3,4 cm
4. Panjang batang ekor
: 2,5 cm
5. Panjang moncong
: 0,9 cm
6. Tinggi sirip dorsal
: 3,4 cm
7. Panjang pangkal sirip dorsal : 2,1 cm
8. Diameter mata
: 0,93 cm
9. Tinggi batang ekor
: 2,2 cm
10. Tinggi badan
: 6,4 cm
11. Panjang sirip dada
: 3,3 cm
12. Panjang sirip perut
: 2,4 cm

4.5 Gambar Ular Pengukuran Morfometri Sederhana

3
4

IV.6
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pengukuran Morfometri Sederhana Ular Sapi.


Panjang total
: 136,5 cm
Panjang standar
: 135 cm
Panjang kepala
: 4 cm
Lebar kepala
: 2,22 cm
Diameter mata
: 0,6 cm
Diameter badan
: 3,33 cm
Jarak mata sampai pangkal kepala : 2,2 cm
Ekor
: 21,5 cm

4.7 Gambar Sisik Kepala Ular Sapi Dorsal

8
7
6
5
4
3
2
IV.8
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Sisik Kepala Ular Sapi Dorsal


Rostral
Prenasal
Postnasal
Internasal
Prefrontal
Frontal
Supraocular
Parietal

4.9 Gambar Sisik Kepala Ular Sapi Lateral

IV.10
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

IV.11

6
5

Sisik Kepala Ular Sapi Lateral


Supralabial
Infralabial
Loreal (2)
Preocular
Postocular
Temporal
Dorsal

Gambar Sisik Kepala Ular Sapi Ventral

1
2
3

IV.12

Sisik Kepala Ular Sapi Ventral


1. Mental
2. Post mental
3. Chin shield

IV.13

Tabel Hasil Pengukuran Morfometri Sederhana dan Truss Morfometri

No
1

Truss Morphometrics
A

A1

20,05 mm

Morfometri Sederhana
PT

19,5 cm

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
IV.14
No
1
2
3
4

A2
A3
A4
A5
A6
B1
B3
B4
B5
B6
C1
C3
C4
C5
C6
D1
D3
D4
D5
D6

10,10 mm
64,7 mm
67 mm
24 mm
76,125 mm
67,05 mm
44,6 mm
65,15 mm
63 mm
103,1 mm
24,15 mm
19,05 mm
49,05 mm
49 mm
71,1 mm
61,4 mm
31,3 mm
23,7 mm
17,1 mm
52,35 mm

PS
TB
PK
PM
DM
PPSP
TSP
PSD
PSP
PBE
TBE
Keterangan:

15,5 cm
6,4 cm
3,4 cm
0,9 cm
0,93 cm
2,1 cm
3,4 cm
3,3 cm
2,4 cm
2,1 cm
2,2 cm

1. TP (P.Total)
2. PS (P. Standar)
3. TE (T. Badan)
4. PK (P. Kepala)
5. PM (P. Moncong)
6. DM (Diameter mata)
7. PPSP (P. Pangkal
Sirip Punggung)

8. TSP (T. Sirip


Punggung)
9. PSD (P. Sirip Dada)
10. PSP (P. Sirip Perut)
11. PBE (P. Batang Ekor)
12. TBE (T. Batang Ekor)

Tabel Data Analisis Karakter Morfologi Ikan Tawes Secara Meristik


Keterangan
Jari-jari keras sirip punggung
Jari-jari lunak sirip punggung
Sisik batang ekor
Sisik linea lateralis

Jumlah
1
7
15
30

IV.15 Tabel Data Hasil Analisis Karakter Morfologi Ular Sapi Secara
Morfometri Sederhana
Morfometri Sederhana
Panjang Total
Panjang Standar
Panjang Kepala

136,5 cm
135 cm
4 cm

Lebar Kepala
Diameter Kepala
Diameter Badan
Jarak Mata Sampai Pagkal Kepala
Panjang Ekor

2,22 cm
0,6 cm
3,33 cm
2,2 cm
2,5 cm

IV.16 Tabel Data Hasil Analisis Karakter Morfologi Ular Sapi Secara Meristik
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Keterangan
Rostral
Internasal
Prefrontal
Frontal
Supraocular
Parietal
Prenasal
Postnasal

Jumlah
1
2
2
1
2
2
2
2

No
9
10
11
12
13
14
15
16

Keterangan
Supralabial
Infralabial
Mental
Preocular
Postocular
Temporal
Postmental
Chin shield

Jumlah
7
8
1
2
4
16
2
4

B. Pembahasan
Seperti yang telah diketahui tentang teknik truss morfometri, bahwa
penggunaan teknik tersebut dengan cara menentukan titik-titik patokan tertentu pada
bagian-bagian tubuh suatu hewan. Titik-titik truss pada ikan tawes yang telah
ditentukan pada praktikum yang telah dilaksanakan terdapat sepuluh titik yaitu titik
pada bagian ujung mocong, titik paling posterior dari rahang atas (makilla), titik
paling posterior dari mata, titik pangkal dari sirip abdomen, titik pangkal dari sirip
dorsal, titik pangkal dari sisik anal, titik ujung sirip dorsal, titik ujung sirip anal, titik

dorsal pangkal sirip caudal, dan titik ventral pangkal sirip caudal. Seluruh titik
tersebut setelah ditentukan kemudian digunakan untuk mengukur bagian-bagian
tubuh ikan tawes tersebut, kemudian digambarkan dengan titik-titik putus pada
gambar ikan tawes yang telah disediakan di dalam laporan sementara maupun pada
laporan ini.
Titik pengukuran morfometri sederhana pada ikan tawes dan ular dalam
perlakuannya sama dalam menggunakan metode, yang berbeda yaitu ukuran bagianbagian tubuh preparat tersebut. Preparat ikan tawes dalam pengukuran morfologi
sederhana terdapat 12 titik parameter pengukuran dan besar panjang masing-masing
diantaranya yaitu panjang total, panjang standar, panjang kepala, panjang batang
ekor , panjang moncong, tinggi sirip dorsal, panjang pangkal sirip dorsal, diameter
mata, tinggi batang ekor, tinggi badan, panjang sirip dada, dan panjang sirip perut.
Preparat ular sapi yang digunakan dalam pengukuran morfometri sederhana terdapat
8 titik parameter pengukuran dan besar panjang masing-masing yaitu panjang total
atau panjang keseluruhan tubuh, panjang standar, panjang kepala, lebar kepala,
diameter mata, diameter badan, jarak mata sampai pangkal kepala, dan panjang ekor.
Teknik morfometri yang digunakan pada preparat ikan tawes dan ular sapi
ketika acara praktikum dilaksanakan terdapat perbedaan, yaitu pada preparat ikan
tawes teknik morfometri yang digunakan pada preparat tersebut menggunakan 2
teknik morfometri yaitu morfometri sederhana dan truss morfometri hal demikian
dapat dilakukan keduanya sebab ikan tawes memiliki ukuran tubuh yang tidak besar
dan panjang sehingga tingkat pengerjaan pengukuran terutama pada teknik truss
morfometri tidak terlalu ribet dan membutuhkan tempat yang luas, sedangkan pada
preparat ular sapi teknik morfometri yang digunakan hanya menggunakan teknik
morfometri sederhana. Hal demikian dilakukan kemungkinan disebabkan preparat
ular sapi yang digunakan memiliki tubuh yang sangat panjang dan cukup besar
sehingga membutuhkan tempat yang cukup luas untuk menentukan titik-titik patokan
truss juga untuk menghindari kerusakan dan kerapuhan sisik maupun tubuh dari
preparat ular sapi yang digunakan. Selain itu, pada acara praktikum kali ini untuk
preparat ular sapi selain teknik morfometri yang digunakan terdapat analisis karakter
morfologi secara meristik demikian pula pada ikan tawes menggunakan analisis
karakter morfologi secara meristik pula, jadi untuk preparat ular sapi hanya
menggunakan teknik morfometri sederhana dan menganalisis karakter morfologinya
secara meristik. Sedangkan untuk preparat ikan tawes menggunakan teknik

morfometri sederhana, truss morfometri, dan analisis karakter morfologi secara


meristik.
Hasil pengukuran morfometri sederhana pada preparat ikan tawes dalam
satuan cm yaitu panjang total sebesar 19,5 cm, panjang standar sebesar 15,5 cm,
panjang kepala sebesar 3,4 cm, panjang batang ekor sebesar 2,5 cm, panjang
moncong sebesar 0,9 cm, tinggi sirip dorsal sebesar 3,4 cm, panjang pangkal sirip
dorsal dengan panjang 2,1 cm, diameter mata sebesar 0,93 cm, tinggi batang ekor
dengan tinggi 2,2 cm, tinggi badan sebesar 6,4 cm, panjang sirip dada sebesar 3,3
cm, dan panjang sirip perut sebesar 2,4 cm. Hasil pengukuran truss morphometrics
yang dilakukan pada ikan tawes milik kelompok 1 dengan satuan mm adalah A1=
20,05; A2= 10,10; A3= 64,7; A4= 67; A5= 24; A6= 76,125; B1= 67,05; B3= 44,6;
B4= 65,15; B5= 63; B6= 103,1; C1= 24,15; C3= 19,05; C4= 49,05; C5= 49; C6=
71,1; D1= 61,4; D3= 31,3; D4= 23,7; D5= 17,1; dan D6= 52,35. Sedangkan untuk
hasil pengukuran morfometri sederhana preparat ular sapi yaitu panjang total atau
panjang keseluruhan tubuhnya sebesar 136,5 cm, panjang standar sebesar 135 cm,
panjang kepala sebesar 4 cm, lebar kepala sebesar 2,22 cm, diameter mata sebesar
0,6 cm, diameter badan sebesar 3,33 cm, jarak mata sampai pangkal kepala sebesar
2,2 cm, dan panjang ekor sebesar 21,5 cm. Hasil analisis karakter morfologi secara
meristik pada ikan tawes terdapat 4 karakter morfologi meliputi jari-jari keras sirip
punggung sebanyak 1, jari-jari lunak sirip punggung sebanyak 7, sisik batang ekor
sebanyak 15, dan sisik linea lateralis sebanyak 30. Sedangkan untuk analisis karakter
morfologi secara meristik pada ular sapi terdapat 16 karakter morfologi pada bagian
sisik kepala ular meliputi rostral berjumlah 1, internasal berjumlah 2, prefrontal
berjumlah 2, frontal berjumlah 1, supraocular berjumlah 2, parietal berjumlah 2,
prenasal berjumlah 2, postnasal berjumlah 2, supralabiah berjumlah 7, infralabial
berjumlah 8, mental berjumlah 1, preocular berjumlah 2, postocular berjumlah 4,
temporal berjumlah 16, postmental berjumlah 2, dan chin shield berjumlah 4.
Mengenali sisik-sisik di kepala ular paling mudah dilakukan dengan
berpatokan pada nostril, yakni lubang hidung. Lubang hidung biasa terletak di ujung
moncong. Nostril atau lubang hidung ini umumnya bertepikan dua sisik yang
dinamai perisai nasal. Perisai nasal yang sebelah muka dikenal pula sebagai pranasal
(atau prenasal), sedangkan yang belakang (ke arah mata) disebut postnasal. Bagian
diatas moncong di sebelah depan, ada sepasang sisik yang menghubungkan perisaiperisai nasal di kanan dan kiri, sisik-sisik ini disebut perisai internasal. Sedangkan di

depan sekali, di ujung bibir di antara pranasal kanan dan kiri, terdapat sisik yang
dikenal sebagai perisai rostral (rostrum, paruh). Perisai rostral ini berlekuk di
bawahnya sebagai tempat keluar masuk lidah.
Nama-nama macam-macam sisik (dilihat dari sisi bawah kepala) yang
terletak berderet di sepanjang bibir adalah perisai-perisai labial (labium, bibir). Sisiksisik di bibir atas disebut sebagai perisai supralabial (atau labial atas); labial atas
yang pertama adalah yang terletak di belakang rostral. Sisik-sisik di bibir bawah
disebut sebagai perisai infralabial (atau labial bawah); labial bawah pertama terletak
di belakang sisik dagu yang paling ujung (depan) yang dikenal sebagai perisai
mental. Sisik-sisik di seputar mata dikenal sebagai sirkumorbital (circumorbital) dan
disebut perisai-perisai okular dengan ditambahi awalan tertentu untuk menunjukkan
letaknya. Perisai okularnya sendiri sebetulnya adalah sisik transparan yang menutupi
mata, yang serupa kaca arloji serta dikenal pula dengan berbagai nama seperti
spectacle, brille atau eyecap. Sisik-sisik sirkumorbital di sebelah depan mata disebut
praokular (atau preokular), yang di sebelah atas mata disebut supraokular, dan yang
di belakang mata disebut postokular. Sisik yang berada di bawah mata dan di atas
perisai supralabial, jika ada, disebut subokular.
Preokular bagian muka dan di belakang postnasal terletak perisai loreal (pipi).
Bagian atas kepala kebanyakan ular, di antara kedua matanya, biasanya berjajar tiga
buah sisik besar. Sisik yang berada di tepi kanan dan kiri, tepat di atas mata, yang
telah disebutkan yaitu supraokular. Sedangkan sisik pada bagian tengah dan
berukuran besar dikenal sebagai perisai frontal (dahi). Bagian di sebelah mukanya, di
antara perisai frontal dan internasal, terdapat sepasang perisai prafrontal (atau
prefrontal). Sedangkan di belakang perisai frontal dan supraokular terdapat sepasang
perisai parietal (ubun-ubun), yang pada umumnya berukuran besar. Bagian di sebelah
parietal, di masing-masing sisi kepala di belakang postokular, berderet beberapa
perisai temporal (pelipis), kebanyakan berukuran kecil-kecil memanjang. Susunan
perisai temporal ini kerapkali dinyatakan sebagai kombinasi sejumlah perisai
temporal depan (anterior temporal) dan temporal belakang (posterior temporal).
Perisai parietal dibagian belakangnya umumnya hanya terdapat sisik tengkuk
kecil-kecil, namun kadang-kadang pada beberapa jenis ular terdapat sisik-sisik besar
yang dikenal sebagai perisai oksipital. Telah disebutkan sebelumnya, sisik dagu yang
paling muka dikenal sebagai perisai mental. Bagian belakangnya, diapit sisik-sisik
labial bawah kiri dan kanan, terdapat sederet perisai dagu yang dapat dibedakan lebih

lanjut antara perisai dagu depan (anterior chin shields) dengan perisai dagu belakang
(posterior chin shields). Di belakangnya lagi terdapat deretan perisai gular
(tenggorokan), yang membatasi perisai-perisai ventral (perut) di sisi bawah tubuh
sebelah depan. Tepat di tengah dagu, memisahkan perisai-perisai dagu (dan juga
sisik-sisik gular) kanan dan kiri, terdapat celah memanjang yang dikenal sebagai
celah dagu (mental groove).
Sisik-sisik punggung (dorsal) ular terutama berguna manakala ular bergerak,
yakni untuk mengurangi gesekan dengan substrat atau lingkungannya. Gesekan
adalah sumber utama kehilangan energi pada pergerakan (lokomosi) ular. Sisik-sisik
ventral (perut), yang berukuran besar dan lebar, licin dan minim friksi, sementara
pada beberapa jenis ular pohon, sisik-sisik ini memiliki lekuk atau lunas di tepinya
yang berguna untuk memegang cabang dan ranting pepohonan. Kulit dan sisik-sisik
ular membantu mempertahankan kelembaban tubuhnya. Ular juga dapat merasai
getaran baik yang berasal dari tanah maupun dari udara, dan mampu
membedakannya dengan menggunakan sistem resonansi internal yang rumit, yang
kemungkinan melibatkan peranan sisik di dalamnya. Kulit dan sisik-sisik ular
membantu mempertahankan kelembaban tubuhnya. Kebanyakan ular memiliki sisiksisik besar yang menutupi kepalanya, yang disebut perisai (shields). Pola dan
susunan perisai-perisai ini berbeda-beda dari spesies ke spesies, sehingga dapat
dimanfaatkan untuk mengidentifikasi jenisnya.
Sisik dorsal pada ular dapat dihitung menggunakan beberapa metode, cara
penghitungan tersebut diantaranya yaitu menghitung dengan metode pola zigzag,
penghitugan sisik dengan metode ini yaitu menhitung banyaknya sisik dorsal ular
mengikuti pola zig zag dimulai dari menghitung pada salah satu sisi ular, kemudian
dilanjutkan kepada sisi berikutnya mengikuti pola zigzag, kelebihan metode ini
mudah dilakukan dan memperkecil penghitungan sisik yang berulang. Metode
selanjutnya yaitu metode penghitungan rata, pada metode ini penghitungan sisik
dorsal ular dilakukan dengan menghitung seluruh sisik secara keseluruhan mulai dari
ujung pangkal dorsal kemudian memutar hingga bertemu di ujung awal kembali dari
awal penghitungan, metode ini penggunaannya dapat dilakukan dengan mudah tetapi
memerlukan ketelitian yang lebih agar tidak terjadi penghitungan sisik yang
berulang. Metode berikutnya yaitu metode penghitungan yang diseut metode V yaitu
menghitung sisik dorsal ular dengan mengikuti bentuk huruf V disepanjang

permukaan sisik dorsal, metode penghitungan ini cukup sulit dan ribet, dan
membutuhan ketelitian yang tinggi.
Menentukan rumus suatu sirip tertentu, terlebih dahulu harus dicantumkan
huruf kapital yang menentukan sirip yang dimaksud. Sirip punggung disingkat
dengan D, sirip ekor dengan C, sirip dubur dengan A, sirip perut dengan V, dan sirip
dada dengan P. Menghitung jari-jari sirip yang berpasangan dilakukan pada sirip
yang terletak pada sisi sebelah kiri, kecuali jika ada ketentuan khusus. Waktu pada
saat melakukan pemeriksaan, harus diingat bahwa ikan diletakkan dengan kepala
menghadap ke sebelah kiri dan perut mengarah ke bawah.
Jari-jari sirip dapat dibedakan atas dua macam, yaitu jari-jari keras dan jarijari lemah. Jari-jari keras tidak berbuku-buku, pejal (tidak berlubang), keras, dan
tidak dapat dibengkokkan. Jari-jari keras ini biasanya berupa duri, cucuk, atau patil,
dan berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan diri. Jari-jari lemah bersifat agak
cerah, seperti tulang rawan, mudah dibengkokkan, dan berbuku-buku atau beruasruas. Bentuknya berbeda-beda tergantung pada jenis ikannya. Jari-jari lemah ini
mungkin sebagian keras atau mengeras, pada salah satu sisinya bergigi-gigi,
bercabang, atau satu sama lain saling berlekatan. Perumusan jari-jari keras
digambarkan dengan angka Romawi, walaupun jari-jari itu pendek sekali atau
rudimenter. Sirip punggung ikan yang terdiri dari 10 jari-jari keras maka rumusnya
ditulis D.X. Untuk jari-jari lemah, perumusan digambarkan dengan memakai angka
Arab (angka biasa).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Karakter morfologi hewan vertebrata dapat dikenali dengan mengukur dan
menghitung jumlah bagian-bgaian tubuhnya menggunakan berbagai teknik dan
metode.

2. Teknik morfometri sederhana dan truss morphometrics digunakan dan diterapkan


pada hewan vertebrata yaitu ikan tawes sedangkan pada ular hanya menggunakan
teknik truss morfometri.
3. Analisis karakter morfologi hewan vertebrata secara meristik diterapkan pada
preparat ikan tawes dan ular, karakter morfologi secara meristik pada ikan tawes
terdapat 4 karakter morfologi meliputi jari-jari keras sirip punggung, jari-jari
lunak sirip punggung, sisik batang ekor, dan sisik linea lateralis. Sedangkan
untuk analisis karakter morfologi secara meristik pada ular terdapat 16 karakter
morfologi pada bagian sisik kepala ular meliputi rostral, internasal, prefrontal,
frontal, supraocular, parietal, prenasal, postnasal, supralabial, infralabial, mental,
preocular, postocular, temporal, postmental, dan chin shield.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini yaitu, sebaiknya terlebih dahulu kaka asisten
menyampaikan keseluruhan materi yang disampaikan, sehingga sebelum melakukan
pengukuran dan praktikan tidak lupa dan dapat menerapkannya. Selain itu kepada
para praktikan sebaiknya untuk melakukan pengukuran terhadap preparat dengan
hati-hati mengingat preparat yang digunakan agar tidak mudah rapuh dan rusak, serta
lebih teliti dalam melakukan pengukuran dan penghitungan.

DAFTAR REFERENSI
Clifford and Stephenson. 1975. An Introduction to Numerical Classification. New
York: Academic Press.
De Rooij, N. 1987. The Reptiles of The Indo Australian Archipelago II. Ophidia. E.J.
Brill. Ltd. Leiden. 334 pp.

Hodges, R. 1993. Snakes of Java with special reference to East Java Province. The
British Herpetological Society. 43.
Haryono. 2001. Variasi Morfologi dan Morfometri Ikan Dokun (Puntius lateristriga)
di Sumatra Biota. VI (3): 109-116.
Imron. 1998. Keragaman Morfologis dan Biokimiawi Beberapa Stok Keturunan
Induk Udang Windu (Penaeus monodon) Asal Laut yang Dibudidayakan di
Tambak. Tesis. Program Pascasarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Indarmawan, A. Nuryanto, D. Bhagawati, M N Abudilias. 2010. Lecturers Notes
Mata Kuliah Taksonomi Hewan. Purwokerto: Fakultas Biologi Unsoed.
Irham, M., Lupiyaningdyah. P., dan Isnaningsih. N.R.
Majalah Ilmiah Populer. 11 (2), pp: 1-33.

2012. Fauna Indonesia.

Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Fresh Water
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Jakarta: Periplus Editions Limited.
Mohaddasi. M., Shabanipour. N., dan Abdolmaleki. S. 2013. Morphometric variation
among four populations of Shemaya (Alburnus chalcoides) in the south of
Caspian Sea using truss network. The Journal of Basic & Applied Zoology. 66,
pp: 8792.
Rahmat. E. 2011. Teknik Pengukuran Morfometrik Pada Ikan Cucut Di Perairan
Samudera Hindia. BTL, 9 (2).
Rukmana, Rahmat. 2011. Ikan Nila Budi Daya dan Prospek Agribisnis. Yogyakarta:
Kanisius.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan I. Bandung: Bina Tjipta.
Santoso, B dan Tata, S. 2001. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Tawes. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Schwartz FJ. 2007. A Survey of Tail Spine Characteristics of Stingrays Frequenting
African, Arabian to Chagos-Maldive Archipelago Waters. Smithiana Bulletin 8,
pp:41-52.