You are on page 1of 1

Setiap orangtanpa kecualimengetahui perbedaan antara orang-orang baik dan orang-orang jahat melalui

kesadaran nuraninya yang diberikan Tuhan. Setiap orang mengetahui bahwa berbuat kebaikan adalah baik dan perlu
(meskipun tidak setiap orang melakukannya) dan bahwa berbuat kejahatan tidaklah disukai dan patut dihindari
(meskipun tidak setiap orang menghindarinya). Tidak diragukan lagi bahwa kemurahan hati dan kekikiran
merupakan konsekuensi kedua kualitas ini.
Di sisi lain, di dunia ini orang-orang baik dan orang-orang jahat tak selalu memperoleh balasan penuh dari
perbuatan-perbuatan baik dan jahat mereka. Bahkan, kita melihat dengan mata kepala kita sendiri betapa kondisikondisi amat menyedihkan, dan betapa banyak orang-orang jahat, yang luar biasa jahatnya, hidup sejahtera dan
sukses dengan perilaku yang keji dan memalukan.
Karena itu, jika seseorang tidak meyakini adanya masa depan di dunia selain dunia ini, di mana amal-amal kebaikan
dan kejahatan akan diperhitungkan dan yang bersangkutan akan memperoleh balasan setimpal, maka gagasan bahwa
amal-amal kebaikan mesti dikerjakan dan bahwa amal-amal kejahatan mesti di hindari, tidak akan pernah terlintas
dalam dirinya.
Orang tidak bisa beranggapan bahwa balasan bagi suatu amal diberikan karena sumbangan amal itu memungkinkan
masyaratkat mencapai kebahagiaan dalam perkembangan sosialnya, sehingga orang yang melakukannya akhirnya
beroleh sebagian manfaat dari amalnya itu. Begitu pula, kita tidak bisa beranggapan bahwa balasan bagi suatu amal
perbuatan jahat adalah terjerumusnya orang jahat dalam kemerosotan sosial yang, untuk sebagiannya, merupakan
akibat perbuatannya. Orang-orang yang tak berdaya mungkin berpikir demikian. Akan tetapi, manakala sekelompok
manusia telah mencapai puncak kekuasaan, mereka berada di luar jangkauan perubahan masyarakat. Malahan,
semakin korup dan kacau masyarakat, dan semakin banyak jumlah orang-orang jahat, semakin subur pula unsurunsur pembuat keburukan ini. Hanya saja, kenyataan ini tidak membuktikan bahwa unsur-unsur ini tidak mengenal
kebenaran dan kebatilan secara fitri.
Selanjutnya, orang tidak bisa juga beranggapan bahwa balasan bagi mereka adalah dicoreng dan dikutuknya namanama mereka dalam sejarah. Ini hanya bisa terjadi setelah mereka mati dan semua jejak mereka lenyap, khususnya
saat-saat menyenangkan yang telah mereka nikmati.
Karena maksud keadilan All?h adalah tidak mengabaikan kapasitas dan kelayakan setiap maujud; Dia pasti
memberikan sesuatu yang pantas diterima oleh setiap maujud. Yang berbuat baik pastilah akan memperoleh sesuatu
yang pantas untuk diterima olehnya; yakni, kebaikan. Yang berbuat jahat pastilah akan memperoleh sesuatu yang
pantas untuk diterima olehnya; yakni, keburukan.
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)
(QS 55 (AR-RAHMAN): 60)
Dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(QS 99 (AL-ZALZALAH):7-8)
Oleh karena itu, kehidupan setelah mati dan kebangkitan kembali adalah suatu hal yang mesti akan terjadi, yang
melaluinya semua yang berbuat baik memperoleh sesuatu yang pantas untuk diterima olehnya; yakni, kebaikan. Dan
yang berbuat jahat memperoleh sesuatu yang pantas diterima olehnya; yakni, keburukan dan penderitaan.
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia, tanpa hikmah.
Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka bakal
masuk neraka. Patutkah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama dengan
orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah juga Kami memperlakukan orang orang yang
bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (QS 38(SH?D) : 27-28)