You are on page 1of 3

CEDERA INHALASI

Smoke Asap mengandung beberapa gas toksik misalnya CO, SO4 , NO2 , aldehid, H2SO4 , HCl,
benzene, halogen, dan hydrogen sianida. Banyak dari komponen ini merupakan kombinasi dengan
partikel terinhalasi lainnya yang menjangkau jaringan pulmo, menyebabkan kerusakan yang serius.
Spasmus bronkus, spasmus laryngeal, edema pulmonum, edema mukosa, hilangnya fungsi silia, dan
kompromi surfaktan pulmo akan memperburuk hipoksia yang disebabkan oleh ruangan yang penuh asap.
Panas, Udara kering dengan kepanasan tinggi spesifik, dan cedera respirasi mengganggu saluran
pernapasan bagian atas. Uap air langsung, dengan kepasan tinggi spesifik dapat menyebabkan atelektasis,
beberapa edemapulmonum dan kerusakan alveolar. (Pavleti, 2010)
Menghirup udara panas dapat menyebabkan edema saluran pernafasan atas yang memerlukan
pengobatan mendesak. Untungnya hal ini jarang melampaui bagian saluran pernapasan atas karena
pertukaran panas yang efisien dalam hidung, faring dan laring. (Williams, 2009)
Menghirup asap dapat menyebabkan kerusakan mukosa saluran pernapasan bawah, memicu
munculnya edema, bronkospasme, obstruksi oleh mukosa nekrotik dan infeksi bakteri sekunder. Tingkat
keparahan tergantung pada substansi, luas dan durasi paparan toksin. Cedera tersebut tidak mungkin
terlihat pada presentasi awal dan pasien yang tidak mengalami komplikasi dalam 24 jam pertama
cenderung membuat pemulihan tidak mengalami komplikasi. (Williams, 2009)
Menghirup karbon monoksida akan menyebabkan gangguan pernapasan yang berat karena
afinitas tinggi karbon monoksida dengan hemoglobin. Pasien yang diduga menghirup karbon monoksida
akan memiliki warna mukosa yang berwarna merah ceri. Pasien menjadi rentan terhadap keterlambatan
onset kompromi respirasi akan mengutungkan untuk pemantauan yang lebih dekat: auskultasi berulang;
radiografi thoraks; pulsus oksimetri; dan analisa gas dalam darah. Pemilihan cairan yang bijaksana harus
dilakukan untuk menghindari edema paru iatrogenik, dan oksigen merupakan hal yang sangat penting.
(Williams, 2009)
Gejala klinis yang jelas dari anjing dengan inhalasi asap adalah batuk, respirasi tersumbat dan
sulit. Terkadang, ataksia, berbusa pada daerah mulut, gesekan pada mata dan hidung berdarah terjadi.
Pada kucing, gejala klinis yang tampak adalah dispnea, vocalisasi, bernafas dengan mulut, lethargi,
wheezing, respirasi tersumbat, discharge mukosa nasal, lipitan mata ketiga menonjol keluar dan berbusa
pada mulut. Kehilangan kesadaran merupakan indikasi dari hipoksia dan mungkin kerusakan pada otak.
Pada dua review penyakit pada anjing dan kucing (Drobaz), kebanyakan pasien dengan inhalasi asap yang
tidak mengancam secara klinis mulai sembuh dalam 24 jam: beberapa kasus memburuk dalam beberapa
saat. (Pavleti, 2010)
Cedera inhalasi mayor memerlukan jalur pernafasan yang memadai dan harus dijaga. Intubation
dan pendukung ventilasi dengan tekanan ventilasi positif terindikasi pada beberapa kasus. Trakeostomi
sementara dapat digunakan pada pasien; bantuan ventilasi dapat juga digunakan sebagai penghubung
dengan tube trakeostomi. Pada kasus yang ringan, cukup dilakukan terapi oksigen. Nebulisasi dari saline
dan coupage dapat memfasilitasi pembersihan sekresi respirasi. (Pavleti, 2010)

Pavleti, Michael M. 2010. Atlas of Small Animal Wound Management and Reconstructive Surgery.
Lowa: W.B Saunders Company.
Williams, John. Moores, Alison. 2009. BSAVA Manual Of Canine and Feline Wound Management and
reconstruction: Second Edition. BSAVA.
Nb

: Semua dari buku dari Dr. Arfan ya nof