You are on page 1of 18

PENGARUH KONSENTRASI ASAM KLORIDA (HCl) TERHADAP

RASIO C/SiO2 DAN ADSORPTIVITAS SILIKA HITAM


DARI SEKAM PADI
Oleh
Ni Putu Juni Artini, NIM. 0613031006
Jurusan Pendidikan Kimia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh konsentrasi asam
klorida (HCl) yang digunakan dalam leaching sekam padi terhadap rasio C/SiO2
dalam silika hitam dan mengetahui pengaruh rasio C/SiO 2 terhadap adsorptivitas
silika hitam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen dengan subjek penelitian adalah silika hitam yang dihasilkan dari
sekam padi yang di-leaching dengan variasi konsentrasi HCl dan silika hitam
yang dihasilkan dari sekam padi tanpa perlakuan (kontrol). Objek penelitiannya
adalah rasio C/SiO2 dan adsorptivitas dari masing-masing silika hitam. Variasi
konsentrasi HCl yang digunakan dalam leaching sekam padi adalah 0,98 M, 1,95
M, 2,94 M dan 3,95 M. Untuk menentukan rasio C/SiO2 dalam silika hitam
terlebih dahulu dilakukan analisis kandungan (persentase) karbon dan silika yang
terdapat dalam silika hitam. Analisis kandungan karbon dilakukan dengan
menggunakan instrumen CHN Elemental Analyzer dan analisis kandungan silika
dilakukan dengan menggunakan instrumen X-Ray Fluorescence. Selanjutnya
dilakukan perhitungan kuantitatif mol dari karbon dan silika. Adsorptivitas dari
silika hitam ditentukan dengan titrasi iodimetri. Berdasarkan hasil penelitian
disimpulkan bahwa (1) Peningkatan konsentrasi HCl dari 0,98 M ke 1,95 M yang
digunakan pada proses leaching sekam padi menyebabkan meningkatnya rasio
C/SiO2 yang terdapat dalam silika hitam. Rasio C/SiO2 tertinggi (2,65) terdapat
pada silika hitam yang dihasilkan dari leaching sekam padi dengan konsentrasi
HCl 1,95 M. (2) Semakin besar rasio C/SiO 2 dalam silika hitam, maka semakin
besar pula adsorptivitas dari silika hitam. Adsorptivitas tertinggi (23,81%)
diperoleh dari silika hitam yang memiliki rasio C/SiO 2 sebesar 2,65. Sedangkan
adsorptivitas terendah (19,76%) diperoleh dari silika hitam yang memiliki rasio
C/SiO2 sebesar 2,32.
Kata-kata kunci: sekam padi, silika hitam, leaching, rasio C/SiO2, adsorptivitas
I.

Pendahuluan
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri

dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Sekam padi
merupakan produk sampingan yang dihasilkan dari proses penggilingan padi. Dari
proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20-30% dari bobot
awal gabah (Badan Pengembangan dan Penelitian Pertanian, 2001). Sejauh ini,
pemanfaatan sekam padi masih terbatas yaitu sebagai bahan bakar batu bata

merah, genting dan abu gosok saja, sedangkan arangnya untuk media tanaman.
Jika dibandingkan dengan pemanfaatannya, masih jauh lebih banyak sekam padi
yang hanya dibakar langsung karena dianggap sampah. Cara yang biasa dilakukan
untuk membuang sekam padi adalah membakarnya di tempat terbuka.
Sekam padi merupakan salah satu bahan yang mengandung lignoselulosa
yang

ketersediaannya

melimpah,

berharga

murah,

dan

belum

banyak

dimanfaatkan. Bahan-bahan lignoselulosa umumnya terdiri dari selulosa,


hemiselulosa dan lignin. Menurut Sun dan Cheng (dalam Rachmaniah, 2008),
perlakuan awal terhadap suatu bahan lignoselulosa dapat memecahkan ikatan
lignin, merusak struktur kristal selulosa dan meningkatkan porositas bahan. Salah
satu perlakuan awal yang dapat dilakukan adalah leaching dengan asam klorida
(HCl). Leaching merupakan suatu proses pelarutan logam dari bahan padat
melalui ekstraksi media cair. HCl dikenal sebagai asam kuat yang mampu
melarutkan berbagai jenis logam dan menghasilkan logam klorida dan gas
hidrogen. Asam klorida (HCl) mampu menghilangkan senyawa pengotor seperti
logam-logam yang menutupi pori-pori dan membersihkan permukaan pori pada
sekam padi. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah pori-pori pada sekam
padi. Dengan bertambahnya jumlah pori-pori suatu bahan dapat meningkatkan
kemampuan bahan tersebut dalam menyerap.
Hilmy pada tahun 2007 telah melakukan penelitian mengenai pengaruh
konsentrasi asam klorida (0,5 M, 1 M, 2 M, dan 4 M) terhadap kristalinitas
material mesopori silika SBA-15. Hilmy (2007) melaporkan bahwa konsentrasi
asam klorida mempengaruhi kecepatan reaksi hidrolisis dan kondensasi bahan
yang berpengaruh pula pada kristalinitas bahan. Selain itu, Srihapsari pada tahun
2006 telah melakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi HCl (1 M, 2 M,
dan 3 M) terhadap kemampuan zeolit alam dalam menyerap logam-logam
penyebab kesadahan air. Srihapsari (2006) melaporkan bahwa zeolit alam yang
telah diaktivasi dengan larutan HCl 2 M menghasilkan kemampuan yang
maksimal dalam menjerap logam-logam penyebab kesadahan air.
Pemanasan sekam padi pada suhu yang terkontrol menghasilkan abu
sekam padi yang kaya akan silika dan karbon (Sitompul, 1999). Kandungan silika
pada abu sekam padi mencapai 94,5% (Lakum, 2009). Silika dari abu sekam padi

umunya ditemukan berwarna putih. Silika yang berwarna putih ini dibuat pada
temperatur yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa karbon yang terdapat
dalam silika tersebut telah hilang selama pemanasan membentuk gas karbon
dioksida. Jika pembuatan silika ini dilakukan pada suhu yang lebih rendah,
memungkinkan karbon yang terdapat dalam silika tersebut tidak semuanya hilang
ketika pemanasan dan menghasilkan silika yang masih mengandung karbon.
Silika yang mengandung karbon ini berwarna hitam. Silika yang mengandung
karbon selanjutnya disebut dengan silika hitam.
Silika hitam telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai keperluan. Dalam
bidang kesehatan, silika hitam sering digunakan sebagai bahan tambah dalam
produk kosmetik untuk memperhalus kulit. Silika hitam juga memiliki
kemampuan menyerap bau sehingga sering ditambahkan dalam lemari es dan
dalam pembuatan bahan pakaian. Silika hitam digunakan sebagai Ganbanyoku
oleh orang Jepang untuk Bedrock Bathing. Selain itu, digunakan dalam peralatan
listrik karena kemampuannya menyerap gelombang elektromagnetik (Toronto,
2006).
Kandungan utama silika hitam adalah karbon dan silika. Leaching sekam
padi dengan asam klorida berpengaruh terhadap kandungan karbon dan silika
yang terdapat dalam silika hitam. Leaching sekam padi dengan asam klorida
(HCl) mampu menghidrolisis semua jenis polisakarida yang terdapat dalam sekam
padi dengan memecah atau menguraikan molekul polisakarida menjadi bagianbagian yang lebih kecil. Sehingga terbentuk lebih banyak karbon ketika
pemanasan.
Kandungan karbon dalam silika hitam dapat dianalisis menggunakan
instrumen CHN Elemental Analyzer, sedangkan kandungan silika dalam silika
hitam dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen X-Ray Fluorescence.
Selain kandungan total karbon, CHN Elemental Analyzer juga mampu
menganalisis kandungan abu, kandungan total hidrogen dan juga nitrogen dalam
sampel silika hitam. Instrumen CHN Elemental Analyzer ini memiliki keakuratan
yang cukup tinggi dengan kesalahan mutlak dalam pengukuran adalah 0,3 %
berat. Instrumen X-Ray Fluorescence merupakan instrumen yang mampu
menganalisis kandungan unsur dari yang memiliki nomor atom rendah seperti

natrium (Na) sampai dengan unsur dengan nomor atom tinggi seperti uranium
(U). Selain itu, instrumen ini juga mampu menganalisis kandungan oksida dari
unsur-unsurnya.
Silika hitam memiliki kemampuan menyerap (adsorpsi) yang berkaitan
dengan luas permukaan dan pori-pori dari silika hitam itu sendiri. Darmawan
(2008) melaporkan bahwa daya serap terhadap iodium merupakan parameter
untuk mengetahui kemampuan bahan dalam menyerap molekul kecil. Besarnya
daya serap (adsorptivitas) suatu bahan terhadap iodium memberikan petunjuk
terhadap ukuran pori yang lebih kecil dari 15 . Pada dasarnya, daya serap
terhadap iodium ini menentukan banyaknya iodium yang diserap oleh pori yang
mengindikasikan kemampuan menyerap (adsorptivitas) dari silika hitam.
Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, maka muncul pemikiran penulis
untuk mengidentifikasi pengaruh konsentrasi asam klorida (HCl) yang digunakan
dalam leaching sekam padi terhadap rasio C/SiO2 dalam silika hitam dan
mengetahui pengaruh rasio C/SiO2 terhadap adsorptivitas silika hitam.
II.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorium yang bertujuan

untuk meneliti hubungan sebab akibat dengan menggunakan suatu perlakuan


tertentu pada kelompok eksperimen. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi
pengaruh konsentrasi HCl yang digunakan dalam leaching sekam padi terhadap
rasio C/SiO2 dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio C/SiO 2 dalam silika
hitam terhadap adsorptivitas silika hitam.
2.1

Subjek dan Objek Penelitian


Subjek dalam penelitian ini adalah silika hitam yang dihasilkan dari sekam

padi yang di-leaching dengan HCl, sedangkan objek dalam penelitian ini adalah
rasio C/SiO2 dan adsorptivitas dari masing-masing silika hitam.
2.2

Pembuatan Silika Hitam


Sekam padi yang digunakan untuk membuat silika hitam diambil dari

tempat penggilingan padi di Desa Awen, Negara dan jenis sekam padinya berasal
dari padi varietas 64 Serang. Sekam padi ini diambil pada satu tempat
penggilingan padi karena di Desa Awen, Negara hanya terdapat satu tempat

penggilingan padi. Sekam padi ini terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran padat,
dicuci dan dikeringkan. Sekam padi yang telah kering lalu ditumbuk halus dan
kemudian diayak dengan ayakan 100 mesh. Selanjutnya sekam padi yang telah
halus diberikan perlakuan. Sebanyak 20 gram sekam padi yang telah halus dileaching menggunakan larutan HCl 200 mL selama 2 jam. Leaching sekam padi
dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi HCl yaitu 0,98 M, 1,95 M, 2,94 M,
dan 3,95 M. Selanjutnya dilakukan pencucian dengan aquades berkali-kali hingga
air cucian netral (pH mendekati 7). Sekam padi yang telah di-leaching kemudian
dikeringkan dan ditimbang hingga beratnya konstan. Selanjutnya dipanaskan
dalam oven pada suhu 400oC selama 3 jam. Dari proses ini akan dihasilkan silika
hitam.
2.3

Penentuan Rasio C/SiO2 dalam Silika Hitam


Silika hitam yang dihasilkan dari sekam padi tanpa perlakuan (kontrol)

dan hasil perlakuan, selanjutnya di analisis menggunakan instrumen CHN


Elemental Analyzer dan X-Ray Fluorescence. Dari hasil analisis diperoleh
kandungan (persentase) karbon dan silika yang terdapat dalam silika hitam.
Selanjutnya kandungan (persentase) karbon dan silika ini dikonversi dalam bentuk
mol untuk mencari rasio C/SiO 2 dalam silika hitam. Massa silika hitam (X 0, X1,
X2, X3, dan X4) dimisalkan adalah 100 gram, sehingga 1 persen setara dengan 1
gram. Adapun rumus yang dapat digunakan untuk menentukan mol dari karbon
dan mol dari silika yang terdapat dalam silika hitam adalah sebagai berikut.
1 mol

mol karbon = massa karbon (gram) 12,01 gram (Sumber : Chang, 2005)
1 mol

mol SiO2 = massa SiO 2 (gram) 60,09 gram (Sumber : Chang, 2005)
2.4

Penentuan Adsorptivitas Silika Hitam


Sebanyak 0,5 gram silika hitam ditambahkan dengan 50 mL larutan

iodium 0,1 N. Selanjutnya didiamkan selama 15 menit. Selanjutnya campuran


disentrifus selama 15 menit dan disaring dengan corong Buhcner. Selanjutnya
filtrat masing-masing sebanyak 10 mL dititrasi dengan larutan Na 2S2O3 0,1 N.
Titrasi dilakukan masing-masing sebanyak 3 kali. Selanjutnya dilakukan
perhitungan adsorptivitas dari silika hitam. Adapun perhitungannya menggunakan
rumus sebagai berikut.
5

Jumlah Iodium yang Diserap

(V1 V2 ) N Na 2S2O3 126,9 5


m
(Sumber : Yudhi, 2006)

Dimana:

V1 = Volume Na2S2O3 yang diperlukan untuk titrasi blanko


V2 = Volume Na2S2O3 yang diperlukan untuk titrasi filtrat
N = Normalitas Na2S2O3 hasil standarisasi
126,9 = berat ekivalen iodin
5

= faktor pengenceran

m = massa silika hitam


Adsorptivitas (%)

2.5

(V1 V2 )
x 100 (Sumber : Yudhi, 2006)
V1

Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif mengenai

kandungan (persentase) karbon dan silika yang terdapat dalam silika hitam dan
adsorptivitas silika hitam. Selanjutnya dari hasil olahan data mengenai pengaruh
konsentrasi HCl terhadap rasio C/SiO2 dianalisis secara statistik non parametrik
dengan analisis deskriptif. Data dideskripsikan untuk menjelaskan pengaruh
konsentrasi HCl yang digunakan dalam leaching sekam padi terhadap rasio
C/SiO2 dalam silika hitam.
Sementara itu, dari hasil olahan data mengenai pengaruh rasio C/SiO 2
terhadap adsorptivitas silika hitam dianalisis dengan statistik parametrik yakni
dengan analisis regresi. Analisis regresi linier mengasumsikan hubungan di antara
dua variabel dinyatakan dengan persamaan linier berikut (Sugiyono, 2009).
y = a + bx
di mana:
y = Variabel terikat
a = konstanta
b = koefisien regresi
x = Variabel bebas
Konstanta a dan koefisien regresi b dihitung dari persamaan sebagai
berikut (Sugiyono, 2009).

n XY X Y
n

X X
2

dan

Y X X XY
n X X
2

n = banyaknya sampel
Selanjutnya ditentukan hubungan keeratan antara satu variabel dengan satu
variabel bebas dengan rumus sebagai berikut (Sugiyono, 2009).
r

n X

n XY X Y
2

n Y

Harga r hitung yang didapatkan selanjutnya dibandingkan dengan harga r tabel


dengan n = 15 dan taraf signifikasi 5%. Jika harga r hitung lebih besar dari r tabel
maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat.
III

Hasil dan Pembahasan

3.1 Hasil Penelitian


1.

Data Pengaruh Konsentrasi HCl terhadap Rasio C/SiO 2 dalam Silika


Hitam
Analisis menggunakan instrumen CHN Elemental Analyzer menunjukkan

kandungan abu, kandungan total karbon, hidrogen dan nitrogen yang terdapat
dalam silika hitam dari sampel kontrol (X 0) dan keempat sampel perlakuan (X 1,
X2, X3, dan X4). Instrumen CHN Elemental Analyzer juga sebenarnya mampu
menganalisis kandungan total belerang dan oksigen dalam silika hitam. Namun,
dari hasil analisis diperoleh kandungan total belerang trace yang artinya tidak
terdeteksi dengan instrumen ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sampel
mengandung belerang yang sangat kecil atau bahkan mungkin tidak ada. Oleh
karena itu, kandungan total oksigen dalam sampel tidak dapat ditentukan karena
merupakan perhitungan dari 100% - % (C + H + N + S + Abu). Data kandungan
karbon total dalam silika hitam dapat digambarkan dalam gambar berikut ini.

Gambar 3.1 Kandungan Karbon dalam Silika Hitam


Selanjutnya kandungan karbon dalam silika hitam ini dikonversi dalam
bentuk mol karbon. Data hasil perhitungan mol karbon dalam 100 gram silika
hitam yang diperoleh dari leaching sekam padi menggunakan HCl digambarkan
dalam Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Kandungan Karbon (mol) dalam Silika Hitam


Analisis menggunakan instrumen X-Ray Fluorescence menunjukkan
kandungan unsur dan oksida dari unsur yang terdapat dalam silika hitam dari
sampel kontrol (X0) dan keempat sampel perlakuan (X1, X2, X3, dan X4). Data
kandungan silika dalam silika hitam dapat digambarkan dalam gambar berikut ini.

Gambar 3.3 Kandungan Silika dalam Silika Hitam


Selanjutnya kandungan SiO2 dalam silika hitam ini dikonversi dalam
bentuk mol SiO2. Data hasil perhitungan mol karbon dalam 100 gram silika hitam
yang diperoleh dari leaching sekam padi menggunakan HCl digambarkan dalam
Gambar 3.4.

Gambar 3.4 Kandungan Silika (mol) dalam Silika Hitam


Selanjutnya dari data mol karbon dan mol silika dalam silika hitam
ditentukan rasio C/SiO2 (mol/mol) dalam silika hitam. Adapun data rasio mol
C/mol SiO2 dalam silika hitam dapat digambarkan dalam gambar berikut ini.

Gambar 3.5 Rasio C/SiO2 dalam Silika Hitam


2.

Data Pengaruh Rasio C/SiO2 terhadap Adsorptivitas Silika Hitam


Dalam menentukan adsorptivitas silika hitam terhadap larutan iodium

terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan standar primer dan larutan sekunder.
Adapun larutan-larutan yang digunakan dalam penentuan adsorptivitas dari silika
hitam adalah larutan kalium dikromat (K 2Cr2O7 0,1 N), larutan natrium tiosulfat
(Na2S2O3 0,1 N) dan larutan iodium (I2 0,1 N) serta dilakukan pembakuan
terhadap larutan tersebut.
Tabel 3.1 Hasil Standarisasi Larutan Na2S2O3 0,1 N dengan K2Cr2O7 0,1 N
Titrasi ke1
2
3
Rata-rata

Volume K2Cr2O7 (mL)


12,50
12,50
12,50
12,50

Volume Na2S2O3 (mL)


12,90
12,95
12,95
12,93

Tabel 3.2 Hasil Standarisasi Larutan I2 dengan Na2S2O3 Hasil Standarisasi


Titrasi ke1
2
3
Rata-rata

Volume I2 (mL)
10,00
10,00
10,00
10,00

Volume Na2S2O3 (mL)


9,90
9,80
9,90
9,87

Adapun data adsorptivitas silika hitam terhadap iodium disajikan dalam


gambar berikut ini.

10

Gambar 3.6 Adsorptivitas Silika Hitam


Selanjutnya data rasio C/SiO2 dalam silika hitam dihubungkan dengan data
adsorptivitas silika hitam.
Tabel 3.3 Hubungan Rasio C/SiO2 dengan Adsorptivitas Silika Hitam
Rasio C/SiO2
2,32
2,41
2,45
2,56
2,65

Adsorptivitas (%)
19,76
20,97
22,99
21,48
23,81

3.2 Pembahasan
1.

Pengaruh Konsentrasi HCl terhadap Rasio C/SiO2 dalam Silika Hitam


Analisis dengan menggunakan instrumen CHN elemental analyzer

menunjukkan besarnya kandungan (persentase) karbon yang terdapat dalam silika


hitam. Berdasarkan Gambar 3.1, dapat dilihat bahwa silika hitam yang dihasilkan
dari sekam padi yang di-leaching dengan konsentrasi HCl yang berbeda
mengandung karbon yang berbeda pula. Kandungan (persentase) karbon dalam
silika hitam yang diperoleh dari hasil perlakuan sekam padi lebih tinggi
dibandingkan dengan silika hitam yang diperoleh dari sekam padi tanpa perlakuan
(kontrol). Kandungan (persentase) karbon dalam silika hitam terendah diperoleh
dari sekam padi tanpa perlakuan (kontrol) yakni 37,82%. Sementara itu,
kandungan (persentase) karbon dalam silika hitam tertinggi dihasilkan dari sekam
padi yang di-leaching dengan HCl 1,95 M yaitu 42,95%.

11

Pada Gambar 3.1 juga terlihat bahwa kandungan (persentase) karbon


dalam silika hitam yang diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl
0,98 M dan 1,95 M meningkat yakni dari 42,78% menjadi 42,95%. Hal ini
disebabkan karena leaching sekam padi dengan asam klorida (HCl) mampu
menghidrolisis semua jenis polisakarida yang terdapat dalam sekam padi.
Leaching dengan asam klorida (HCl) ini akan merusak ikatan polisakarida dalam
sekam padi dengan memecah atau menguraikan molekul polisakarida menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil. Sehingga terbentuk lebih banyak karbon ketika
pemanasan. Sementara itu, terjadi penurunan kandungan (persentase) karbon
dalam silika hitam yang diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl
2,94 M ke 3,95 M yakni dari 41,99% menjadi 40,00%. Hal ini disebabkan karena
leaching sekam padi dengan konsentrasi asam klorida (HCl) yang lebih tinggi
mempercepat proses hidrolisis senyawa selullosa yang terdapat dalam sekam padi
untuk membentuk glukosa. Selanjutnya glukosa akan larut dalam aquades ketika
proses pencucian yang menyebabkan sumber karbon (glukosa) dalam sekam padi
menjadi berkurang. Dengan demikian, jumlah karbon yang dihasilkan ketika
proses pemanasan akan berkurang.
Analisis dengan menggunakan instumen X-ray fluorescence menunjukkan
besarnya kandungan (persentase) silika yang terdapat dalam silika hitam.
Berdasarkan Gambar 3.3, dapat dilihat bahwa silika hitam yang dihasilkan dari
sekam padi yang di-leaching dengan konsentrasi HCl yang berbeda mengandung
silika yang berbeda pula. Kandungan (persentase) silika dalam silika hitam
terendah diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl 1,95 M yakni
81,00%. Sementara itu, kandungan (persentase) silika dalam silika hitam tertinggi
dihasilkan dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl 2,94 M yaitu 85,7%.
Leaching sekam padi dengan HCl ini mampu mengontrol kandungan abu yang
terkandung dalam silika hitam dan menghasilkan silika dengan kemurnian yang
tinggi (Chandrasekhar, 2005). Kandungan (persentase) silika yang terdapat dalam
silika hitam tidak sebanding dengan kenaikan konsentrasi HCl yang digunakan
dalam leaching sekam padi. Hal ini juga dinyatakan dalam hasil penelitian
Kurama (2003) yang menyatakan bahwa persentase silika dalam sekam padi tidak

12

menunjukkan hubungan linier dengan molaritas asam yang digunakan selama


perlakuan.
Selanjutnya kandungan (persentase) karbon dan silika dalam silika hitam
ini dikonversi dalam bentuk mol karbon dan mol silika dengan memisalkan massa
silika hitam (X0, X1, X2, X3, dan X4) adalah 100 gram, sehingga 1 persen setara
dengan 1 gram. Hasil perhitungan mol karbon dan mol silika dalam silika hitam
ditunjukkan dalam Tabel 3.2 dan juga Tabel 3.4. Selanjutnya dari data mol karbon
dan mol silika ditentukan rasio C/SiO2 (mol/mol) dalam silika hitam.
Berdasarkan Gambar 3.5, dapat dilihat bahwa silika hitam yang dihasilkan
dari sekam padi yang di-leaching dengan konsentrasi HCl yang berbeda memiliki
rasio C/SiO2 yang berbeda pula. Rasio C/SiO2 dalam silika hitam yang diperoleh
dari sekam padi tanpa perlakuan (kontrol) lebih rendah dibandingkan dengan
silika hitam yang diperoleh dari hasil perlakuan sekam padi. Rasio C/SiO 2 dalam
silika hitam terendah diperoleh dari sekam padi tanpa perlakuan (kontrol) yakni
2,32. Sementara itu, rasio C/SiO2 dalam silika hitam tertinggi dihasilkan dari
sekam padi yang di-leaching dengan HCl 1,95 M yaitu 2,65.
Pada Gambar 3.5 juga terlihat bahwa rasio C/SiO 2 dalam silika hitam yang
diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl 0,98 M dan 1,95 M
meningkat yakni dari 2,56 menjadi 2,65. Sementara itu, terjadi penurunan rasio
C/SiO2 dalam silika hitam yang diperoleh dari sekam padi yang di-leaching
dengan HCl 2,94 M dan 3,95 M yakni dari 2,45 menjadi 2,41. Peningkatan
ataupun penurunan rasio C/SiO2 dalam silika hitam ini berkaitan dengan
kandungan karbon dan silika yang terdapat dalam silika hitam. Semakin tinggi
kandungan karbon dalam silika hitam (yang berarti kandungan silika lebih kecil)
semakin besar rasio C/SiO2 dalam silika hitam. Sebaliknya, semakin kecil
kandungan karbon dalam silika hitam (yang berarti kandungan silika lebih besar)
semakin kecil rasio C/SiO2 dalam silika hitam.
2.

Pengaruh Rasio C/SiO2 terhadap Adsorptivitas Silika Hitam


Dalam penentuan adsorptivitas silika hitam digunakan prinsip titrasi

iodimetri. Tahap awal yang dilakukan adalah pembuatan dan pembakuan larutan
Na2S2O3 dan I2 yang akan digunakan dalam pengujian adsorptivitas silika hitam.
Berdasarkan hasil titrasi pada Tabel 3.1, diperoleh bahwa konsentrasi larutan

13

Na2S2O3 adalah sebesar 0,0967 N. Berdasarkan data pada Tabel 3.2 diperoleh
bahwa kosentrasi larutan iodium adalah sebesar 0,0987 N. Pengujian adsorptivitas
silika hitam terhadap iodium merupakan parameter untuk mengetahui kemampuan
silika hitam dalam menyerap molekul dengan ukuran kecil. Besarnya adsorptivitas
silika hitam memberikan petunjuk terhadap besarnya ukuran pori dari silika hitam
yang lebih kecil dari 15 .
Berdasarkan Gambar 3.6, dapat dilihat bahwa adsorptivitas silika hitam
terhadap iodium memiliki kualitas yang cukup baik jika dilihat dari Standar
Industri Indonesia (SII) karbon aktif No.0258 -79 yaitu minimal 20%. Dari
Gambar 3.6 terlihat bahwa perlakuan yang berbeda terhadap sekam padi
menghasilkan adsorptivitas silika hitam terhadap iodium yang berbeda pula.
Adsorptivitas silika hitam yang diperoleh dari sekam padi tanpa perlakuan
(kontrol)

menghasilkan

adsorptivitas

terendah

yakni

19,76%.

Hal

ini

menunjukkan bahwa adsorptivitas silika hitam yang diperoleh dari sekam padi
kontrol belum memenuhi SII tersebut. Sementara itu, adsorptivitas silika hitam
yang diperoleh dari hasil perlakuan sekam padi yang di-leaching dengan HCl
telah memenuhi SII yaitu di atas 20%. Adsorptivitas silika hitam tertinggi
dihasilkan dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl 1,95 M yaitu 23,81%.
Pada Gambar 3.6 juga terlihat bahwa adsorptivitas silika hitam yang
diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl 0,98 M dan 1,95 M
meningkat dari 21,48% menjadi 23,81%. Hal ini disebabkan karena leaching
dengan asam klorida (HCl) mampu melarutkan pengotor anorganik seperti logamlogam yang terdapat dalam sekam padi sehingga memperbesar pori-pori. Dengan
bertambah besarnya pori-pori maka semakin besar luas permukaan dari bahan
tersebut. Luas permukaan yang bertambah besar berpengaruh terhadap daya
adsorpsi bahan tersebut (Darmawan, 2007). Dengan demikian, adsorptivitas silika
hitam yang diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan asam klorida
(HCl) juga meningkat.
Beberapa logam-logam anorganik yang biasanya terdapat dalam sekam
padi adalah K, Ca, dan Fe. Asam klorida mampu melarutkan kalium membentuk
garam-garam kalium dan gas hisdrogen. Adapun reaksinya yaitu sebagai berikut.
2K(s) + 2HCl(aq) 2KCl(aq) + H2(g)

14

Asam klorida juga mampu melarutkan kalsium membentuk garam kalsium dan
gas hisdrogen. Adapun reaksinya yaitu sebagai berikut.
Ca(s) + 2HCl(aq) CaCl2(aq) + H2(g)
Asam klorida mampu melarutkan besi membentuk garam-garam besi dan gas
hisdrogen. Adapun reaksinya yaitu sebagai berikut.
Fe(s) + 2HCl(aq) FeCl2(aq) + H2(g)
Fe(s) + 3HCl(aq) FeCl3(aq) + H2(g)
Kandungan zat volatil yang tinggi dapat meningkatkan suhu ketika proses
pemanasan. Leaching dengan asam klorida (HCl) juga mampu melarutkan zat
volatil yang terdapat dalam sekam padi sehingga suhu ketika proses pemanasan
dapat dikontrol (Suyitno, 2009).
Kandungan utama silika hitam adalah karbon dan silika. Adsorptivitas dari
silika hitam ini juga ditentukan oleh kandungan karbon dan silika yang terdapat
dalam silika hitam. Besarnya adsorptivitas silika hitam tampak berhubungan
dengan rasio C/SiO2 dalam silika hitam seperti pada Tabel 3.3. Adsorptivitas silika
hitam tertinggi (23,81%) diperoleh dari silika hitam yang memiliki rasio C/SiO 2
sebesar 2,65, sedangkan adsorptivitas silika hitam terendah (19,76%) diperoleh
dari silika hitam yang memiliki rasio C/SiO2 sebesar 2,32. Semakin besar rasio
C/SiO2 (mol/mol) dalam silika hitam menunjukkan adsorptivitas silika hitam yang
semakin besar. Hal ini disebabkan karena dengan semakin besar kandungan
karbon dalam silika hitam menyebabkan daya serapnya (adsorptivitasnya)
meningkat. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Dewi Nuraeni pada tahun
2009 menyatakan bahwa efisiensi penyerapan cenderung meningkat dengan
kenaikan massa karbon.
Pada Gambar 3.6 juga tampak bahwa terjadi penurunan adsorptivitas silika
hitam yang diperoleh dari sekam padi yang di-leaching dengan 2,94 M dan 3,95
M. Hal ini disebabkan karena menurunnya rasio C/SiO2 yang terdapat dalam silika
hitam yang dihasilkan dari sekam padi yang di-leaching dengan HCl 2,94 M dan
3,95 M. Adapun hubungan antara rasio C/SiO2 dengan adsorptivitas silika hitam
digambarkan dalam gambar berikut ini.

15

Gambar 3.7 Hubungan Rasio C/SiO2 dengan Adsorptivitas Silika Hitam


Dari Gambar 3.7 diperoleh koefisien determinasinya R2 = 0,637. Hal ini
berarti bahwa besarnya adsorptivitas silika hitam 63,7% ditentukan oleh rasio
C/SiO2 dalam silika hitam melalui persamaan regresi y = 9,9718x 2,9081 dan
sisanya 36,3 % ditentukan oleh faktor lain.
IV. Penutup
Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah diuraikan maka
dapat diambil beberapa kesimpulan berikut ini.
1.

Peningkatan konsentrasi HCl dari 0,98 M ke 1,95 M yang digunakan pada


proses leaching sekam padi, menyebabkan meningkatnya rasio C/SiO 2 yang
terdapat dalam silika hitam. Rasio C/SiO 2 tertinggi yakni 2,65 terdapat pada
silika hitam yang dihasilkan dari leaching sekam padi dengan konsentrasi
HCl 1,95 M.

2.

Semakin besar rasio C/SiO2 dalam silika hitam, maka semakin besar pula
adsorptivitas dari silika hitam. Adsorptivitas silika hitam tertinggi (23,81%)
diperoleh dari silika hitam yang memiliki rasio C/SiO 2 sebesar 2,65.
Sedangkan adsorptivitas silika hitam terendah (19,76%) diperoleh dari silika
hitam yang memiliki rasio C/SiO2 sebesar 2,32.
Penelitian ini hanya terbatas pada penggunaan HCl dalam proses leaching

sekam padi dan terbatas pada uji adsorptivitas silika hitam sedangkan penerapan
silika hitam sebagai adsorben belum dilakukan. Untuk itu, diharapkan dilakukan
penelitian serupa dengan menggunakan zat yang lain dan penerapanya sebagai
adsorben.
16

Daftar Pustaka

Badan Pengembangan dan Penelitian Pertanian. 2001. Sekam Padi Sebagai


Sumber Energi Alternatif dalam Rumah Tangga. Tersedia pada
http://sekampadi.pdf (diakses tanggal 13 November 2009)
Chandrasekhar, S., P. N. Pramada, and L. Praveen. 2005. Effect of Organic Acid
Treatment on the Properties of Rice Husk Silica. Journal of Materials
Science 40 (2005) 6535
Chang, R. 2005. Kimia Dasar (Konsep-Konsep Inti), Edisi Ketiga, Jilid 1. Jakarta:
Erlangga
Darmawan, P. 2007. Pembuatan Dan Karakterisasi Karbon Aktif Dari Kulit Ubi
Kayu. Jurnal Kimia dan Teknologi 288-298
Darmawan, S. 2008. Sifat Arang Aktif Tempurung Kemiri dan Pemanfaatannya
Sebagai Penyerap Emisi Formaldehida Papan Serat Berkerapatan
Sedang. Bogor: IPB
Hilmy, M. A. 2007. Pengaruh Konsentrasi Hidrogen Klorida (HCl) dan
Temperatur Perlakuan Hidrotermal Terhadap Kristalinitas Material
Mesopori Silika SBA-15 = The Effects of Concentration of Hydrogen
Chloride (HCl) and Hydrothermal Treatment Temperature on Crystallinity
of Mesoporous Silica Material SBA-15. Jakarta: Universitas Indonesia
Kurama, H., dan Kurama S. K. 2003. The effect of Chemical Treatment on The
Production of Active Silica From Rice Husk. International Mining
Congress and Exhibition of Turkey, IMCET 2003
Lakum, K. 2009. Pemanfaatan Abu Sekam Padi Sebagai Campuran Untuk
Peningkatan Kekuatan Beton. Medan : Universitas Sumatera Utara
Nuraeni, D. 2009. Adsorbsi Logam Berat Kromium (Cr) dan Seng (Zn) Dengan
Karbon Aktif Kayu Sonokeling Dari Limbah Simulasi Dengan Metode
Batch. Tersedia pada http://fisika.uny.ac.id/pustaka/?p=223 (diakses
tanggal 20 Februari 2011)
Rachmaniah, O., Andi K. W., and Dedy R. ___. Acid Hydrolysis Pretreatment of
Bagasse-Lignocellulosic Material for Bioethanol Production. Surabaya:
ITS
Sitompul, J. P., Chrismono H., dan Agus W. 1999. Penerapan Spounted-Bed
Dalam Pembuatan Natrium Silikat Dari Abu Sekam Padi: Hidrodinamika,
Perpindahan Massa, dan Perolehan Silikat. Bandung: ITB
Srihapsari, D. 2006. Penggunaan Zeolit Alam yang Telah Diaktivasi dengan
Larutan HCl Untuk Menjerap Logam-Logam Penyebab Kesadahan Air.
Semarang: Universitas Negeri Semarang
Sugiyono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Suyitno. 2009. Perumusan Laju Reaksi Sifat-Sifat Pirolisis Lambat Sekam Padi
Menggunakan Analisis Termogravimetri. Tersedia pada http://puslit2.

17

petra.ac.id/ejournal/index.php/mes/article/viewFile/17879/17807 (diakses
tanggal 20 Februari 2010)
Toronto, O. 2006. Black Silica International. Tersedia pada http://www.
blacksilica-intl.com/blacksilica/ (diakses tanggal 30 April 2010)
Yudhi, N. 2006. Penentuan Daya Serap Arang Aktif Teknis terhadap Iodium
Secara Potensiometri. Jurnal Ilmiah DBBN Urania Vol. 12 No. 3: 119-123

18