You are on page 1of 2

Bahaya Kolera bagi Penduduk di Bantaran Sungai

Densy Nurtita Fitriani (G1A014027)


Penyakit kolera merupakan masalah utama kesehatan masyarakat terutama di
Negara berkembang seperti Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Di Indonesia, kolera
cenderung untuk menampakan diri dalam pola musiman (seasonality). Di bagian
barat Indonesia, kolera terjadi pada periode curah hujan subnormal, yaitu pada bulan
September dan Oktober. Sedangkan di bagian timur, kolera mencapai puncaknya
justru pada musim hujan, yaitu Februari dan April. Sebagian dari penduduk di
Indonesia masih tinggal di daerah bantaran sungai. Berdasarkan sensus Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) wilayah Jakarta sebanyak 32.067 rumah
tangga tinggal di daerah bantaran sungai dan 144.070 rumah tangga tinggal di
lingkungan kumuh. Berdasarkan data tersebut, wilayah Indonesia berpotensi
menambah angka kejadian penyakit kolera.
Menurut tim mikrobiologi Universitas Brawijaya, kolera adalah penyakit
infeksi saluran usus yang disebabkan bakteri Vibrio cholerae. V. cholerea dapat
menimbulkan kepanikan karena dapat menyebabkan wabah diare dengan angka
kematian yang tinggi. Diperkirakan ada 5,5 juta kasus kolera setiap tahunnya di Asia
dan Afrika dengan 120.000 jumlah kematian per tahun. Badan Kesehatan Sedunia
(World Health Organization/ WHO) melaporkan adanya kejadian luar biasa kolera di
enam negara di Afrika, ini mengingatkan bahwa musuh lama seperti kolera masih
harus diwaspadai.
Telah diketahui bahwa penyebaran kolera secara primer melalui air minum
yang terkontaminasi, tetapi penelitan wabah akhir-akhir ini menunjukan bahwa
binatang laut seperti kerang, tiram dan remis, serta udang dan kepiting, dapat menjadi
perantara (vehicle) untuk infeksi Vibrio. Tidak hanya minuman, makanan yang tidak
matang proses pemasakannya dapat menjadi faktor resiko kolera. Kemudian,
lingkungan juga berpengaruh besar terhadap penyebaran kolera, apabila air di
lingkungan sekitar terkena limbah maka V.cholerae akan lebih mudah menginfeksi.

Lingkungan yang dimaksud ialah lingkungan yang tergolong kumuh dengan kondisi
kesehatan rendah, ditandai langkanya air bersih sehingga penyakit menular mudah
menyebar, contohnya lingkungan di bantaran sungai dan pesisir pantai.
Terjadinya penyakit ini biasanya mendadak, ditandai oleh mual, berak-berak
sampai 20 kali sehari dan muntah. Cairan yang keluar adalah cairan isotonis dan
konsistensinya seperti air cucian beras atau air tajin (rice water stool), hasilnya
penderita selalu merasakan haus. Hal tersebut mengakibatkan penderita kolera
mengalami dehidrasi berat karena harus kehilangan banyak cairan tubuh. Apabila
dehidrasi terjadi secara terus menerus, namun tidak segera diberi tindakan rehidrasi
maka penderita akan masuk ke dalam keadaan syok bahkan meninggal dunia. Semua
ini disebabkan bakteri V. cholerae tidak pernah memasuki peredaran darah, tetapi
tetap berada di dalam lumen usus dan lapisan epitel mukosa usus tetap utuh.
Pengobatan yang utama adalah mengganti cairan tubuh dan elektrolit yang
hilang (rehidrasi). Rehidrasi yang dilakukan tergantung pada tingkat dehidrasi yang
terjadi. Bila dehidrasinya ringan sampai sedang cukup diberikan rehidrasi oral dengan
oralit, sedangkan apabila dehidrasi berat, perlu dilakukan rehidrasi intravena atau
infus. Selain rehidrasi, antibiotika dapat diberikan pada penderita kolera. Pemberian
antibiotik sebaiknya dilakukan setelah muntah-muntah mereda atau setelah rehidrasi
pertama. Tindakan pencegahan yang paling mudah dan murah adalah menjaga
kebersihan lingkungan sekitar serta memperbaiki sanitasi, di samping memasak
makanan dan minuman dengan baik. Cara pencegahan lainnya dengan vaksinasi,
terdapat dua jenis vaksin oral yang tersedia, yaitu Orochol dan Dukoral.