You are on page 1of 22

Struktur, Komposisi, Fungsi Membran Sel dan Pembelahan Sel

Abstract
The cell is a basic unit of life and making up a cell is also the smallest unit of
living things. Cells will form a network, the network will form organs, and organs will
form an organ system. When the cell is disrupted, then tissues also affected because the
cells can not cope with the disorder. Thus, all the health problems of every living thing
begins with the health of the cell itself.
In everyday life, many health problems can be been recorded by a variety of
conditions and factors affected. The pain conditions in influencing other structures in the
body that does not hurt to become ill. Many factors can trigger the condition of the
existence of the illness. These factors are divided into internal factors and external
factors. Internal factors are factors in the body, the organs and tissues of the body that
affect. While external factors are factors outside his own body, such as occupation, age,
activity, and others. In the case of knee pain, the internal factors are part of the knee joint
itself, whereas external factors depend on various conditions such as those mentioned.
Keyword : Cell

Abstrak
Sel merupakan sebuah unit dasar penyusun sebuah kehidupan dan sel juga
merupakan unit terkecil dari mahluk hidup. Sel akan membentuk jaringan, jaringan akan
membentuk organ, dan organ akan membentuk system organ. Apabila sel terganggu,
maka jaringanpun juga terpengaruh karena sel tidak dapat mengatasi gangguan tersebut.

Dengan demikian, segala masalah kesehatan dari setiap mahluk hidup diawali dengan
kesehatan sel itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai masalah kesehatan dapat ditemuan dengan
berbagai kondisi dan berbagai faktor yang mempegaruhinya. Kondisi sakit tersebut dalam
mempengaruhi struktur lain dalam tubuh yang sebenarnya tidak sakit sehingga menjadi
sakit. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu dari adanya kondisi sakit tersebut.
Faktor-faktor tersebut terbagi atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
adalah faktor dalam tubuh, yaitu organ tubuh maupun jaringan-jaringan tubuh yang
mempengaruhi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar tubuhnya sendiri,
seperti pekerjaan, usia, aktivitas, dan lain-lain. Dalam hal nyeri lutut ini, faktor
internalnya merupakan bagian dari sendi lutut ini sendiri, sedangkan faktor eksternalnya
bergantung dari berbagai kondisi seperti yang telah disebutkan.
Kata Kunci : Sel

Pendahuluan
Sel merupakan sebuah unit dasar penyusun sebuah kehidupan dan sel juga
merupakan unit terkecil dari mahluk hidup. Sel akan membentuk jaringan, jaringan akan
membentuk organ, dan organ akan membentuk system organ. Apabila sel terganggu,
maka jaringan pun juga terpengaruh karena sel tidak dapat mengatasi gangguan tersebut.
Dengan demikian, segala masalah kesehatan dari setiap mahluk hidup diawali dengan
kesehatan sel itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai masalah kesehatan dapat ditemuan dengan
berbagai kondisi dan berbagai faktor yang mempegaruhinya. Kondisi sakit tersebut dalam
mempengaruhi struktur lain dalam tubuh yang sebenarnya tidak sakit sehingga menjadi
sakit. Banyak faktor yang dapat menjadi pemicu dari adanya kondisi sakit tersebut.
Faktor-faktor tersebut terbagi atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
adalah faktor dalam tubuh, yaitu organ tubuh maupun jaringan-jaringan tubuh yang
mempengaruhi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar tubuhnya sendiri,
seperti pekerjaan, usia, aktivitas, dan lain-lain. Dalam hal nyeri lutut ini, faktor
internalnya merupakan bagian dari sendi lutut ini sendiri, sedangkan faktor eksternalnya
bergantung dari berbagai kondisi seperti yang telah disebutkan.
Membran Plasma
Membrane plasma adalah suatu lapisan lemak dan protein yang sangat tipis serta
membentuk batas luar setiap sel dan membungkus bagian internal. Selain berfungsi
sebagai penghalang mekanis yang menahan molekul-molekul yang dibutuhkan tetap
didalam sel, membrane sel secara selektif memperbolehkan bahan-bahan tertentu untuk
berpindah antara sel dan lingkungan. Selain mengontrol masuknya molekul nutrient dan

keluarnya produk sekretorik dan bahan sisa, membran plasma juga berfungsi untuk
mempertahankan perbedaan konsentrasi ion antara bagian interior dan eksterior.1
Membran plasma juga dikenal dengan biomembran yang merupakan selaput tipis,
halus, dan elastis dengan ketebalan 75-100A, yang menyelubungi permukaan sel hidup.
Membrane plasma bersifat semipermaeble, artinya, ia memungkinkan beberapa zat untuk
menembus membrane tersebut lebih mudah daripada zat-zat lain. Kemampuan sel untuk
membeda-bedakan pertukaran zat kimianya bersifat fundamental bagi kehidupan, dan
selektivitas tersebut dimungkinkan oleh membran plasma dan molekul-mulekul
komponennya.1
Membrane plasma juga ikut serta dalam menyatukan sel-sel untuk membentuk
jaringan dan organ. Selain itu juga, struktur ini berperan sebagai kunci dalam kemampuan
sel berespons terhadap perubahan atau sinyal, dilingkungan sel. Komponen penting
dalam komunikasi antar sel. Apapun jenis selnya, fungsi umum membrane ini sangat
penting bagi kelangsungan hidup sel, kemampuan melakukan aktivitas homoestatik
khusus dan kemampuan berkerja sama secara terpadu dengan sel lain.1
Struktur Membran Plasma
Struktur membran sel tersusun atas molekul-molekul protein, lapisan senyawa
lemak, air, dan karbohidrat, dan sedikit kolesterol. Setiap lapisan senyawa lemak tersusun
atas gugus lipid dan fosfat. Gugus lipid dari fosfolipid bersifat tidak suka air (hidrofobik),
sedangkan gugus fosfat bersifat suka air (hidrofilik). Setiap fosfolipid akan saling
berpasangan sehingga membentuk dua lapisan (bilayer) fosfolipid yang berlawanan.2
Molekul-molekul dari membran sel terbagi menjadi dua, yaitu protein integral
(intrinsik) dan protein porifer ekstrinsik. Protein integral adalah protein yang terdapat di
dalam lipid sedangkan protein ekstrinsik adalah potein yang menempel pada permukaan
fosfolipid. Struktur membran sel ini dikemukakan menjadi teori mosaik cair oleh dua

orang ilmuwan. Dengan struktur yang sedemikian kompleks, membran sel memiliki
beberapa fungsi diantaranya sebagai berikut : (1) membentuk suatu batas yang fleksibel
antara isi dan luar sel, (2) membungkus dan melindungi isi sel, (3) menyeleksi zat-zat apa
yang masuk dan keluar sel.2

Gambar no. 1 Struktur membran sel


Komponen Membran Sel
Membran plasma sangat beragam, baik dari segi struktur maupun dari segi fungsi.
Meskipun demikian, membran plasma ini dibentuk dari molekul molekul lipid dan
protein, yang terhubung satu dengan yang lainnya oleh gaya-gaya nonkovalen yang
saling menunjang. Hampir seluruh membran plasma tersusun atas lipid dan protein, yang
susunan persentasinya sekitar 35% lipid, 62% protein, dan 3% polisakarida. Lipidnya di
perkirakan terdiri atas 60% fosfolipid, dan 25% kolesterol, dan 15% lipid lain. Semua
membran plasma merupakan susunan cair sehingga mampu berperan sebagai pelarut
protein membran. Membran plasma bersifat asimetris, yaitu lapis luar dan lapis dalam
mengandung komponen yang berbeda serta enzim-enzim dengan aktivitas yang juga
belainan.3
Lipid
Lipid berfungsi untuk menstabilkan kesatuan fisik membrane plasma sehingga
dapat menjadi penghalang yang efektif bagi lalu lintas bagi materi hidrofilik, misalnya

air dan ion-ion. Dua lapis fosfolipid yang menyusun membrane plasma merupakan
tempat melekatnya protein dan akan membantu proses fusi vesikel maupun
endositosis. Lipid terbagi menjadi fosfolipid dan glikolipid. Selain itu, juga terdapat
kolestrol.4
a. Fosfolipid (asam fosfat + lipid)
Jenis lipid yang paling banyak dari membran adalah fosfolipid. Fosfolipid
adalah polar, senyawa ionic yang bersifat amphiphatic di alam. Artinya, mereka
memiliki baik komponen hidrofilik dan hidrofobik. Bagian hidrofilik berada pada
bagian kepala yang terdiri dari fosfat dan alkohol yang melekat padanya. Alkohol
dapat berupa serin, etanolamin, inositol atau kolin. Sedangkan rata-rata fosfolipid
mengandung molekul yang disebut gliserol, fosfolipid membran phingomyelin.5
- Bagian hidrofobik dari fosfolipid adalah model panjang, hidrokarbon
-

(struktur karbon dan hidrogen) ekor asam lemak


Kelompok kepala polar dari lapisan terluar yang terbentang terhadap

lingkungan dan ekor asal lemak yang memanjang ke dalam (transmembran)


Asam lemak yang memungkinkan jika mengandung jumlah atom hidrogen
yang terikat sangat banyak. Karena, panjang atau pendeknya akan

mempengaruhi derajat kejenuhan suatu struktur membrane


Fosfolipid yang sehat, artinya fosfolipid tidak bermigrasi atau flip-flop dari
satu lapisan ke lapisan lain
Dalam proses apoptosis (kematian sel yang terprogram), enzim akan
mengkatalisis pergerakan phosphatidylserine dari lapisan terdalam ke lapisan
terluar sel

Terdapat beberapa jenis fosfolipid, penyusun membrane plasma adalah:4


1. Fosfogliserida, yaitu fosfolipid yang struktur kimiannya mempunyai residu
penyusun gliserol. Misalnya fosfotidkolin (lestin), dan fosfotidil serin.

2. Fosfofingolipid, yaitu fosfolipid yang struktur kimianya mempunyai


penyusun sfingol (sfingosin), misalnya sfingomielin.
b. Glikolipid (glukosa + lipid)
Glikolipid merupakan lipid majemuk turunan sfingol yang mengandung
karbohidrat, dan dikenal sebagai glikoserebrosida. Karbohidrat glikoserebrosida
yang

merupakan

galaktosa

disebut

galaktoserebrosida,

sedangkan

yang

karbohidratnya glukosa disebut glukoserebrosida. Lipid lain yang terpenting dan


terdapat dalam beberapa membrane plasma adalah kolestrol. Kolestrol terdapat
dalam eukariota, tetapi tidak dalam prokariot. Membrane plasma sel eukariota,
biasanya kaya akan kolestrol. Gugus hidroksil yang terikat pada atom C3
merupakan unit hidrofil, sedang yang lain atau sisanya hidrofob.6
Dalam membrane plasma, lipid-lipid membentuk lembaran dua lapis,
dengan kepala polar yang hidrofilik berada memanjang keluar, bersinggungan
dengan media air dan ekor rantai hidrokarbon non polar yang hidrofobik
bersembunyi memanjang menghadap ke dalam lapisan lipid. Selain itu, ada gaya
tarik Van der Waals di antara ekor-ekor hidrokarbon, yang membuat ekor-ekor
hidrokarbon tersusun rapat. Terakir, ada gaya elektrostatis dari ikatan hidrogen
antara gugus kepala polar dan molekul air. Jadi, dapat diketahui dengan jelas
bahwa dua lapis lipid distabilkan oleh interaksi atau gaya nonkovalen.6
Lipid majemuk yang dapat membentuk dua lapis lipid membrane plasma
memiliki sifat amfipatik, yaitu kepala polar yang hidrofilik dan ekor hidrokarbon
nonpolar yang hidrofobik. Dalam struktur kimia.6
c. Kolesterol
Kolesterol merupakan molekul amphiphatic yang mengandung gugus
hidroksil polar seperti halnya cincin steroid hidrofobik dan hidrokarbon yang
7

melekat antara sisipan lemak. Kolesterol tersebar di seluruh membrane sel ini
memiliki ciri-ciri seperti:5
- Kelompok hidroksil polarnya adalah dekat kelompok kepala polar dari
-

fosfolipid.
cincin steroid dan ekor hidrokarbon beroroentasi sejajar dengan mereka
(fosfolipid).

kolesterol masuk ke dalam ruang yang diciptakan oleh kinks dari ekor asam
lemak tak jenuh yang akan mengurangi kemampuan asam lemak untuk
mengalami gerak dan selanjutnya, sehingga membran akan menjadi lebih
kuat.

Protein
Protein membrane plasma melekat atau tersisip di dalam lapis ganda lemak.
Sebagian protein ini membentak keseeluruh ketebalan membrane. Sebagian dari
protein ini membentang keseluruh kedalaman membran. Protein ini hanya
menempel di permukaan luar atau dalam. Protein ini melekat melalui interaksi
dengan protein yang menembus membran atau melewati perlekatan ke lapisa
gandaa lemak. Membrane plasma memiliki molekul lemak 50 kali lebih banyak
dari pada molekul protein. Namun, protein membentuk separuh dari masa
membran karena protein jauh lebih besar daripada protein. Sifat cair lapisan
ganda lemak memungkinkan banyak protein membrane mengapung bebas seperti
es dalam lautan lemak yang bergerak, meskipun sitokleton membatasi membatasi
mobilitas protein yang melakukan fungsi khusus di daerah tertentu sel.1
Protein membrane plasma tersebar secara tidak (asimetris) di antara
permukaan luar dan permukaan dalam membrane plasma. Berdasarkan letak
8

topografinya, protein-protein membrane ini dapat di bedakan atas protein integral


(integral protein), protein peripheral (peripheral protein) serta protein trans
membran.6
Protein integral atau protein intrinsik adalah protein yang seluruhnya atau
sebagiannya terbenam dalam dua lapis lipid, bersifat amfipatik, dan berbentuk
globuler. Bagian molekul protein yang terbenam, bersifat hidrofobik karena
kandungan asam amino hidrofobik penyusunnya lebih tinggi, sedangkan yang
muncul kepermukaan, cenderung bersifat hidrofilik karena kandungan asam
amino hidrofilik penyusunnya yang tinggi.6
Protein periferal, protein ekstrinsik terdapat pada permukaan membrane
plasma. Protein ini tidak mengadakan interaksi secara langsung dengan fosfolipid
dalam membrane plasma, tetapi terikat lemah pada bagian hidrofilik, karena
kandungan residu asam amino hidrofilik penyusunnya dan gugus hidroksi
polisakaridan dan gliko protein penyusunnya.6
Protein transmembran, protein yang terbenam dalam lapisan ganda lipid
membran dengan struktur yang memanjang dari lingkungan kedalam sitosol.
Beberapa protein transmembran mengandung satu bagian trasmembran sementara
yang lain berisi beberapa. Semua protein transmembran mengandung protein baik
komponen hidrofilik dan hidrofobik. Protein ini berorientasi dengan bagian
hidrofiliknya dalam kontak dengan lingkungan eksterior berair dan dengan sitosol
dan bagian hidrofobiknya dalam kontak dengan ekor asam lemak dari fosfolipid.7

Karbohidrat
Karbohidrat melekat pada bagian kepala fosfolipid maupun pada protein
yang berda pada sisi membrane plasma yang menghadap keluar sel. Karbohidrat
yang berikatan dengan lipid disebut glikolipid. Glikolipid berfungsi sebagai sinyal

pengenal untuk interaksi antar sel. Misalnya, karbohidrat pada beberapa glikolipid
berubah strukturnya saat sel bersifat kanker. Perubahan ini akan dikenali oleh sel
darah putih sehingga sel kanker tersebut dapat dihancurkan.7
Karbohidrat yang berikatan dengan protein disebut dengan protein disebut
glikoprotein. Glikoprotein pada membrane plasma dapat mengikat protein dari
membrane-membran sel tetangga maupun sel lain sehingga akan gterjadi ikatan
antar sel.4
Membran plasma eukariota biasanya mengandung 2-10% karbohidrat.
Residu karbohidrat membrane yang selalu berada di sisi luar. Pada glikoprotein
membrane, karbohidrat berikan dengan atom N amida pada rantai samping
asparagin atau dengan atom O pada rantai cabang serin atau rantai cabang treoin.
Karbohidrat yang langsung berikatan dengan salah satu rantai ini biasanya adalah
N-asetilglukosamin.6
Pembelahan Sel
Pembelahan sel adalah suatu fenomena yang kompleks dimana bahan seluler di
bagi rata antara sel anak. Pada organisme uniseluler reproduksi sel akan membentuk
keturunan yang serupa dengan sel induknya. Pada organisme muliseluler, reproduksi sel
akan menyediakan bahan pertumbuhan, perkembangan dan perbaikan. Pada organisme
prokariotek seperti bakteri, reproduksi sel terjadi secara fusi binari (pembelahan biner)
denngan urutan pertama akan dibentuk dua duplikat dari molekul DNA sirkuler,
kemudian DNA tersebut akan menempel pada membran plasma. Pertumbuhan membran
plasma akan memisahkan dua kromosom duplikat. Pada organisme eukariotik, reproduksi
sel melibatkan dua proses, yaitu pembelahan inti (karyokinesis) dan pembelahan
sitoplasma (sitokinesis).8,9

10

Sel-sel mengalami pembelahan melalui serangkaian proses yang terjadi berulang


kali dari pertumbuhan ke pembelahan, yang dikenal sebagai siklus sel, siklus sel terdiri
atas lima fase utama : G1, S, G2, mitosis, dan sitokinesis. Sel-sel tersebut juga memiliki
kemampuan yang berbeda-beda melakukan pembelahannya, ada sel-sel yang mampu
melakukan pembelahan secara cepat, ada yang lambat dan ada juga yang tidak
mengalami pembelahan sama sekali setelah melewati masa pertumbuhan tertentu.9
Pada pembelahan sel ada pembelahan sel yang normal dan abnormal. Pada pembelahan
sel abnormal karena pembelahan sel yang tidak dapat dikendalikan contohnya kanker.10
Pembelahan Sel Normal
Pembelahan Mitosis
Mitosis atau fase pembelahan ( kariokinesis ) merupakan sebagian kecil dari
keseluruhan siklus dan terjadi pada sepersepuluhh sel-sel kita setiap harinya. 5 Akhir dari
pada siklus sel adalah Sitokinesis , dimana akhirnya akan terbentuk dua sel terpisah.
Kedua sel tersebut adalah sama : setiap sel memiliki nukleus dengan satu set kromosom
yang sama dengan sel induk dan satu set yang baru di sintesis saat siklus sel. 6 Mitosis
adalah cara untuk membuat lebih banyak sel-sel yang secara genetik sama dengan sel
induk. Hal ini memainkan peran penting dalam perkembangan embrio, dan penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan tubuh kita juga. Mitosis menghasilkan sel-sel baru, dan
menggantikan sel-sel yang sudah tua, yang hilang atau rusak.7 Mitosis terdiri dari
penebalan dan pembelahan kromosom serta sitokinesis, pembelahan aktual sitoplasma
untuk membentuk dua sel anak yaitu mulai dari tahap Interfase , Kariokinesis dan
Sitokinesis .4
Interphase
Pada tahap interfase, sel dianggap istirahat dari proses pembelahan. Meskipun
demikian, sebenarnya tahap interfase merupakan tahap yang aktif dan penting untuk
mempersiapkan pembelahan . Persiapan berupa replikasi DNA . pada umumnya ,

11

sebagian besar waktu hidup sel berada pada tahap ini , interfase sendiri merupakan bagian
dari siklus sel.4,5
Pada siklus sel terdapat 3 fase sebagai berikut :9,5,3
Fase S (sintesis)
Tahap ini terjadi replikasi DNA. Pada umumnya, sel tubuh manusia membutuhkan
waktu sekitar 8 jam untuk menyelesaikan tahap ini. Replikasi kromososm yang
telah utuh, segera dipilah bersama dengan dua nukleus masing-masing guna proses
mitosis pada fase M
Fase M (mitosis)
Interval waktu fase M kurang lebih 1 jam. Tahap dimana terjadi pembelahan sel.
Pada mitosis sel membelah dirinya membentuk dua sel anak yang terpisah.
Fase G (gap): tahap pertumbuhan bagi sel
G0: sel yang baru saja mengalami pembelahan berasa dalam keadaan diam atau sel
tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat
bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalams el. Umum terjadi
dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan dan mati
G1: sel eukariotik mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokenesis.
G2: pertumbuhan sel eukariotik antara sintesis dan mitosis.
Dalam konteks mitosis, fase G dan S disebut sebagai interfase.5
Karakteristik pembelahan mitosis
Mitosis adalah bentuk pembelahan sel menghasilkan sel anak diploid . Terjadi
dalam sel somatis, terjadi dalam satu rangkaian fase pembelahan, profase waktunya
relatif singkat, duplikasi kromosom terjadi pada profase awal. Replikasi DNA terjadi
pada interfase sebelum pembelahan sel dimulai. Tidak terjadi pindah silang. Satu sel
induk diploid menghasilkan dua sel anak diploid.7
Fase-Fase Pembelahan Mitosis
Pada pembelahan mitosis terjadi fase-fase sebagai berikut:
Interfase
Interfase adalah periode pertumbuhan sel saat DNA di dalam nukleus bereplikasi.
Terdapat tiga fase berbeda dalam interfase, disebut G1, S, dan G2 sebagai berikut :7,8

12

Fase G1 . pada fase-fase ini sel akan aktif tumbuh. Pertumbuhan sel ditandai
dengan bertambahnya sitoplasma, organela dan sintesis bahan-bahan yang
dibutuhkan untuk fase S.

Dalam fase S (sintesis), DNA bereplikasi secara tepat, menggandakan setiap


kromosom. Selama fase ini pasangan sentriol lainnya juga bereplikasi.

Fase G2 adalah fase gap kedua dan kelanjutan pertumbuhan. Sebelum mitosis
dapat dimulai, sel orang tua harus cukup akurat menggandakan massa dan
kandungannya. Pasangan sentriolmulai memisah, membran nukleus mulai
mengalami disintegrasi, ksomosom mulai mengalami kondensasi dan gelendong
mulai terbentuk saat sel bergerak ke awal profase mitosis.

Profase
Pada tahap ini, mula-mula sentriol telah mengalami replikasi dan terletak ditengah
sel di dekat inti akan bergerak menuju ketepi diikuti oleh adanya mikrotubuli yang
membentuk radiair mengelilingi setiap sentriol sehingga tampak seperti sinar bintang dan
dinamakan aster. Pada akhir tahap profase ini akan dapat dilihat adanya perubahanperubahan : membran inti telah menghilang, nukleolus telah meghilang, sentriol telah
mencapai kutub-kutub, dan benang-benang kromatid telah terlihat sebagai kromosom.10
Metafase
Serat gelendong terbentuk sempurna antara kutub, kromosom menggantung pada
serat gelendong melalui sentromernya, dan semua bergerak ke bidang ekuator. Ada
beberapa buku yang menulis bahwa pada saat pembelahan metafase dua kromatid mulai
bergerak ke arah ekuator sel. Kromatid ditarik di sepanjang jalur mikrotubul yang disebut
serat gelendong. Gerakan akan berhenti bila semua pasangan kromatid mencapai ekuator
sel.9
Anafase

13

Sentromer mengganda, sehingga setiap kromatid memiliki sentromer sendirisendiri. Kromatid yang berasal dari satu kromosom kemudian berpisah dan pindah
kekutub berseberangan. Sementara itu, sel sendiri jadi memanjang menurut poros serat
gelendong. Bergeraknya kromatid ke kutub berseberangan inti diduga oleh peranan
mikrotubul dan mikrofilamen yang memendek dan memanjang. Mikrotubul yang
menggantung kromosom memendek, sedangkan yang menghubungkan kedua kutub
memanjang, mengakibatkan sel jadi ikut panjang pula.9
Telofase
Pada tahap ini kromatid telah disebut kromosom. Membran inti mulai terbentuk
dan nucleolus kembali muncul. Kromosom membentuk benang-benang kromatin.
Selanjutnya, pada tahap telofase akhir terjadi pembelahan sitoplasma dengan proses yang
disebut sitokinesis.3,5,7 Selama awal telofase, kromosom mulai merenggang, menjadi
massa kromatin sekali lagi. Fragmen selubung inti terpasang kembali di sekitar masingmasing kromatin yang ada. Sebuah anak inti (nukleolus) muncul kembali di dalam setiap
inti. Diluar inti sel, serat-serat gelendong mulai terpecah (terpisah). Sepanjang seluruh
proses mitosis, sentriol anakan telah tumbuh hingga pada akhir telofase, dan sentriol
dewasa muncul pada setiap kutub.9,10
Sitokinesis
Sitokinesis atau pembelahan sel, berbeda hasilnya pada sel hewan dan sel
tumbuhan. Selama sitokinesis pada sel-sel hewan, struktur protein yang disebut
mikrofilamen membentuk cincin di sekitar ekuator. Ketika mikrofilamen bergerak,
mikrofilamen mengencangkan membran plasma untuk membentuk kurva, atau lipatan di
ekuator. Cekungan terbentuk oleh invaginasi di daerah bidang ekuator dari kedua sisi,
yang makin lama makin dalam, sampai bertemu dengan mikrotubul serat gelendong.
Mikrotubul ikut membuat lipatan bersama mikrofilamen. Sementara itu terbentuk

14

vesikula di bidang ekuator, menyertai invaginasi tersebut. Vesikula bersatu membentuk 2


membran sel. Pada akhir sitokinesis, lipatan menjadi begitu dalam sehingga membagi
membran plasma menjadi setengah, membentuk dua sel baru, sel-sel yang lebih kecil.7,8
Pembelahan Meisosis
Pada organisme satu sel, tumbuh dan reproduksi biasanya adalah sama, tetapi
organisme bersel banyak pembelahan sel tidak dengan serta merta berarti reproduksi. Ada
proses pembelahan sel lainnya yang disebut meiosis.10,17 Meiosis adalah pembelahan sel
yang dapat terjadi dalam pembentukan sel-sel kelamin ( sel telur dan sperma ) .
Pembelahan tersebut mengurangi jumlah kromosom menjadi jumlah haploid (23). Saat
pembuahan, gabungan dari sel telur dan sperma menghasilkan jumlah kromosom diploid
(46).10

Gambar 2. Pembelahan Mitosis

Karakteristik pembelahan meiosis:3


-

Pembelahan meiosis hanya terjadi pada

pembentukan sel kelamin (gamet).


-

Jumlah kromososm mereduksi sehingga menjadi separuhnya, dari dua set atau 2n
(karena berpasangan) pada sel awal menjadi satu sel atau n pada sel gamet.

Mekanisme ini meningkatkan keanekaragaman genetik gamet tanpa menganggu


kebutuhan gamet untuk memiliki satu set kromosom.

15

Adanya pindah silang memungkinkan terjadinya pertukaran gen yang akan


menimbulkan variasi genetik di antara spesies.
Pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis

I) dan pembelahan II (meiosis II). Meiosis I dan meiosis II terjadi pada sel tumbuhan.
Demikian juga pada sel hewan terjadi meiosis I dan meiosis II. Baik pada pembelahan
meiosis I dan II, terjadi fase-fase pembelahan seperti pada mitosis. Oleh karena itu
dikenal adanya profase I, metafase I, anafase I , telofase I, profase II, metafase II, anafase
II, dan telofase II. Akibat adanya dua kali proses pembelahan sel, maka pada meiosis,
satu sel induk akan menghasilkan empat sel baru, dengan masing-masing sel
mengandung jumlah kromosom setengah dari jumlah kromosom sel induk.9
Meiosis I
Profase I
Profase I pada pembelahan meiosis merupakan fase yang terlama dan terdiri atas
beberapa tahapan, yaitu leptoten, zigoten, pakiten, diploten dan diakinesis, berikut
adalah penjelasannya yaitu : 3
-

Leptoten. Pada tahap ini nukleus bertambah besar dan kromososm memadat.
Kromososm terdiri atas dua kromatid yang belum dapat di bedakan

Zigoten. Kromososm berpasangan yang disebut kromosom homolog. Kromosom


-kromosom ini memiliki bentuk dan ukuran yang sama, serta memuat gen yang
sama pula. Setiap pasang kromosom homolog disebut bivalen. Pada beberapa
tempat terjadi persilangan antara kromatin yang bergandengan di sebut chiasma.

Pakiten. Kromosom semakin merapat dan membentuk pasangan kromosom


(sinapsis) yang sempurna. tiap kromosom melakukan penggandaan atau replikasi

16

menjadi dua kromatid dengan sentromer yang masih tetap menyatu dan belum
membelah. Tiap kromosom yang berpasangan mengandung empat kromatid
disebut tetrad atau bivalen.
-

Diploten. Masing-masing kromosom mulai sempurna mulai nampak terdiri atas


dua kromatid sehingga pada kromosom terdapat sinapsis yang mengandung
empat krimatid dan disebut tetrad. Kromatid kromosom homolog saling
menyilang yang membantu mengikat kromosom agar tetap bersama dan ini
disebut kiasma.Kiasma merupakan bentuk persilangan dua dari empat kromatid
suatu kromosom dengan pasangan kromosom homolognya. Kiasma juga
merupakan tempat terjadinya peristiwa pindah silang (crossing over) pada
kromosom. Peristiwa pindah silang merupakan salah satu penyumbang
keanekaragaman individu makhluk hidup. Karena adanya peristiwa tersebut sel
gamet yang terbrntuk sama sekali tidak identik dengan susunan kromosom sel
induknya.

Diakinesis. Kromosom bivalen ( kromosom rangkap tetapi sentromer masih


bersatu ) tampak lebih memadat dan terditribusi memenuhi inti sel.

Prometafase I : Tahap ini merupakan tahap yang berlangsung pendek yang mendahului
metafase I. Pada tahap ini membran inti telah menghilang dan kromosom
tampak lebih pendek dan menebal sehingga kromosom tampak
mempunyai 4 lengan karena merupakan dua buah kromosom yang
Metafase I

berpasangan.7
: Diakinesis dilanjutkan dengan metafase I, dimana kromosomkromosom yang masihberpasangan menempatkan diri di bidang

17

ekuatorial dari sel. Dinding inti menghilang.Kromosom-kromosom masih


Anafase I
Telofase I

dalam keadaan diploid.7


: Kromosom-kromosom bergerak ke kutub sel yang berlawanan.1
: Terbentuklah dua sel anakan, masing-masing memiliki separuh dari
jumlah kromosom sel asalnya. Terjadilah pembelahan reduksi karena
setiap sel anakan akan memiliki satu kromosom dari tiap pasangan
kromosom homolog. Dinding inti sel timbul kembali.8

Interkinesis
Tahap ini merupakan tahap antara meiosis I dan meiosis II yang berlangsun sangat
pendek dan tidak terjadi replikasi kromosom. Dengan demikian kromosom dalam sel ini
merupakan kromosom hasil pembelahan meiosis I yang jumlahnya hanya separuh dari
kromosom induknya.9
Meiosis II
Profase II
: Tahap ini merupakan tahap awal dari meiosis II yang dimulai dengan
terbentuknya spindel.Aster, pergeseran sentriol ke kutub pembelahan dan
Metafase II

perubahan lain seperti yang terjadi dalam mitosis.9


: Dinding inti menghilang lagi dan di bagian kutub dari setiap sel anakan
terbentuk

benang

gelendong

inti

lagi.

Kromosom-kromosom

menempatkan diri di bidang ekuatorial dari sel. Sentromer membelah dan


Anafase II
Telofase II

pasangan kromosom homolog memisahkan diri.9


: Kromosom-kromosom bergerak ke masing-masing kuttub sel.9
: Ini merupakan fase terakhir dari meiosis II. Terbentuklah 4 inti anakan,
masing- masing memiliki sebuah kromatid dari tiap tetrad, sehingga

jumlah kromosomnya haploid. 9


Pembelahan Sel Abnormal
Pembelahan abnormal adalah pembelahan sel yang tidak normal dan tidak
terkontrol. Dalam keadaan tertentu sel kehilangan kemampuan untuk menanggapi faktorfaktor yang mengatur pertumbuhan.seperti sebuah sel yang akan terus tumbuh dan

18

membelah secara tidak terkendali. Sel-sel yang dicuptakan oleh pembelahan sel yang
abnormal juga mengalami pembelahan sel yang teratur. Akhirnya massa padat dari sel-sel
abnormal atau tumor dibentuk.10
Semua sel kanker berasal dari sel normal, yaitu dari jenis sel labil dan sel stabil.
Perubahan sel normal menjadi sel kanker disebut karsinogenesis, yang prosesnya dibagi
dalam dua tahap, yaitu tahap inisiasi dan promosi. Pada tahap inisiasi, terjadi mutasi
( perubahan fungsi gen) dari sel normal menjadi sel kanker. Mutasi dialami oleh gen yang
mengendalikan perkembangbiakan sel. Mutasi ini bersifat menetap dan disebabkan
adanya agen atau zat yang disebut sebagai inisiator. Dengan adanya suatu agen atau zat
yang disebut promoter, sampailah sel kanker pada tahap promosi, yaitu sel berproliferasi
( berkembang biak dan tumbuh ) tanpa terkendali. Akhirnya , terjadilah proses
keganasan.5
Penyebab Pertumbuhan Sel Abnormal
Ada beberapa faktor penyebab yang mempengaruhi perkembangan sel abnormal di dalam
tubuh:2,3
1. Lingkungan
a. Bahan kimia
Zat yang terdapat pada asap rokok yang dapat menyebabkan pembelahan sel
abnormal (kanker) paru pada perokok aktif dan perokok pasif dalam jangka
waktu yang lama. Bahan kimia untuk industri serta asap yang mengandung
senyawa karbon dapat meningkatkan kemungkinan seorang pekerja industri
menderita kanker.

b. Penyinaran yang berlebihan

19

Sinar ultra violet yang berasal dari matahari dapat menimbulkan pembelahan sel
abnormal (kanker) pada kulit. Sinar radio aktif sinar X yang berlebihan atau
radiasi dapat menimbulkan kanker kulit dan leukimia
c. Polusi udara
Menurut Chen Zichou seorang ahli institut Penelitian Kanker mengatakan
penyebab utama meningkatkan jumlah kanker di China di sebabkan polusi udara,
lingkungan, kondisi air yang kian hari kian memburuk. Banyak perusahaan kimia
dan industri yang membuang limbahnya kesungai dengan mudah. Hal ini
menyebabkan air yang ada di sungai terkontaminasi oleh limbah yang berasal
dari perusahaan-perusahaan yang ada disekitar sungai. Akibatnya air yang
terkontaminasi tersebut secara langsung berakibat terhadap tumbuh-tumbuhan
dan makanan.
2. faktor genetik : Seseorang yang memiliki riwayat (keturunan) penyakit kanker
mempunyai risiko lebih besar terkena penyakit ini, dibanding seseorang yang tidak
memiliki riwayat.
3. Faktor kekebalan (imunistas) : Di dalam tubuh yang sehat sistem kekebalannya
mampu mengenali sel asing dan memusnahkannya. Tetapi jika sistem imunitas di
dalam tubuh memiliki masalah, maka akan mempengaruhi pengenalan terhadap sel
asing, sehingga sel tumor akan berkembang dan tumbuh dengan bebas.

Kesimpulan
Pembelahan sel adalah urutan lengkap proses yang terjadi di dalam sel sehingga
sebuah sel akan memproduksi dirinya sendiri. Pembelahan sel terdiri dari pembelahan sel
20

normal dan abnormal. Pembelahan sel normal di bagi menjadi mitosis dan
meiosis.Pembelahan mitosis (pada organisme eukariot) :satu sel diploid membelah
menjadi dua sel anakan yang masing-masing diploid. Pembelahan mitosis menghasilkan
perbanyakan sel somatik (sel tubuh). Pembelahan mitosis terjadi secara bertahap yaitu
profase, metafase, anafase, dan telofase. - Pembelahan meiosis (pada organisme eukariot)
satusel diploid membelah menjadi empat sel anakan yang masing-masing haploid.
Pembelahan meiosis bertujuan untuk menghasilkan sel gamet (sel kelamin) dan terjadi
melalui dua tahap, yaitu meiosis I dan II. Masing-masing meiosis melalui tahap-tahap
yang serupa dengan pembelahan mitosis yaitu profase, metafase,anafase, dan telofase.
Sedangkan pembelahan abnormal adalah pembelahan sel yang tidak normal dan tidak
terkontrol. Dalam keadaan tertentu sel kehilangan kemampuan untuk menanggapi faktorfaktor yang mengatur pertumbuhan. Dan kanker merupakan pembelahan sel yang
abnormal yaitu yang tidak dapat terkontrol.
Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia: Dari sel ke system. Edisi ke enam. Jakarta: ECG.
2009.
2. Firmansyah R, Mawardi A.H., Riandi M.U.. Mudah dan aktif belajar biologi. PT
Grafindo Media Pratama 2009.
3. Damin S. Pengantar Kimia : buku paduan kuliah mahasiswa kedokteran dan
program strata 1 fakultas bioeksakta. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2009.h.296-300.
4. Aryulina D, Muslim C, Manal S, Winami EW. Biologi 2. Jakarta: EGC.2004,
h.59.

21

5. Priastini R, Hartono B. Buku ajar biologi kedokteran. Jakarta: Penerbit Fakultas


kedokteran Universitas Kristenh Krida wacana. 2013, h.88-92.
6. Sumardjo D. Pengenatar kimia: Buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran.
Jakarta: EGC.2006, h 296-307.
7. Campbell NA, Reece JB, Urry LA, Cain ML, Wasserman SA, Minorsky PV,et al.
Biologi. Edisi kedelapan. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.2010.
8. Kee

JLF. Pemeriksaan

laboratorium

dan

diagnosis:

Dengan

implikasi

keperaawatan. Jakarta: Penerbit Buku ECG.2008,h. 105.


9. Benson RC, pernoll ML. Buku saku obstetric dan ginekologi. Edisi ke embilan.
Jakarta: Penerbit Buku ECG.2007, h. 402.
10. Robbins, Cotran. Buku saku dasar patologis penyakit. Jakarta: Penerbit Buku
EGC. 2006, h.364.

22