You are on page 1of 20

Muhammadiyah dan pendidikan

A. Awal munculnya lembaga Pendidikan di Muhammadiyah


Sebagai sebuah gerakan Islam yang lahir pada tahun 1912 Masehi dan kini
hampir memasuki usia 100 tahun, telah banyak yang dilakukan oleh Muhammadiyah
bagi masyarakat dan b
angsa Indonesia secara luas. Sehingga harus diakui bahwa
Muhammadiyah memiliki kontribusi dan perhatian yang cukup besar dalam dinamika
kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah untuk menegakkan dan
menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarbenarnya, Persyarikatan Muhammadiyah telah menempuh berbagai usaha meliputi
bidang dakwah, sosial, pendidikan, ekonomi, politik, dan sebagainya, yang secara
operasional dilaksanakan melalui berbagai institusi organisasi seperti majelis, badan,
dan amal usaha yang didirikannya.
Lahirnya pendidikan Muhammadiyah yang modern tidak lepas dari sejarah pada
Dasawarsa terakhir abad 19 Pemerintah Belanda memulai system pendidikan liberal
di Indonesia. Pendidikan ini diperuntukkan bagi sekelompok kecil orang Indonesia,
sehingga tahun 1870 mulai tersebar jenis pendidikan rakyat, yang berarti juga
diperuntukkan bagi umat Islam Indonesia. Perluasan pendidikan ke pedesaan yang
diperuntukkan seluruh lapisan masyarakat, baru dilaksanakan pada awal abad ke 20
dengan apa yang dinamakan ethise politiek, sebagai akibat dari desakan kaum ethis
yang berorientasi humanistic agar pemerintah colonial juga mulai memperhatikan
rakyat pribumi di negeri jajahannya (steenbrink 1986 : 23; Kartodirjo, 1999:30)
Pada masa pemerintahnya (Belanda) terdapat model 4 model perskolahan belanda
yaitu :
a) Sekolah Eropa yang menampung anak birokrat Hindia Belanda. Dan
kurikulumnya sama dengan negeri Belanda
b) Sekolah Barat Sekolah yang menampung anak-anak yang berwarga Negara
Belanda
c) Sekolah Vernakuler Sekolah yang di desain oleh belanda demi kepentingan
mereka sendiri
d) Sekolah Pribumi, system sekolah yang ada di luar kendali Belandasekolahsekolah yang di dirikanoleh lembaga agama
Sistem sekolah ini telah melahirkn jurang pemisah yangmakin melebar antara
Belanda dengan penduduk pribumi. Di samping itu juga Pendidikan Islam yang
berbasis di Pesantren tidak saja kontras dengan pendidikan colonial tetapi juga
kontras dengan system didaktik-pedagogisnya. Pendidikan Islam tertinggal dan tidak
dapat memberikan perspektif perspektif k depan.

Menghadapi realitas sistem pendidikan Barat dan Islam yang dualistic ini,
ahmad Dahalan mencoba mengatasi dengan cara perpaduan model sebagai jalan
engah dari kebutuhan sistem yang ada. Upaya kompromi ini diawali dengan
mengidentifikasi masalah yang di hadapi umat Islam pada wakti itu dan dipandang
perlu segera mendapatkan jawaban dalam bidang pendidikan.
Untuk mensosialisasikan gagasan pembaruannya dalam bidang pendidikan,
Ahmad Dahlan mencoba memulai dengan membimbing berbeapa orang keluarge
dekat serta beberapa sahabatnya. Tempat yang pertama kali digunakan untuk
menyampaikan gagasan-gagasannya adalah pengajian-pengajian dan tempat-tempat
lain di mana ia memberikan pelajaran. Setelah upaya dalam menyampaikan benihbenih pembaruan diduga membuahkan hasil sehingga dibuat wadah untuk
menampung gagasan tersebutyaitu Pergerakan Muhammadiyah.
Dari sejarah ini dapat dipahami bahwa : Pertama, Pendidikan Muhammadiyah
lahir adalah dalam keadaan suasana pendidikan umat yang memperihatinkan,
terutama pendangkalan nilai-nilai Islam dalam suatu proses penjajahan yang
mengarah ke sekluerisasi. Kedua, cikal bakal Pendidikan Muahmadiyah Pendidikan
Muhammadiyah adalah pengajian-pengajian dengan suasanan kesederhanaan yang
langsung dibimbing Ahmad Dahlan. Ketiga, untuk mewujudkan cita-cita Pembaruan
dalam pendidikan ini, Ahmad Dahlan dengan kesungguhannya dan secara terus
menrus menanamkam benih-benih pembaruan baik melalui sekolah di mana ia
mengajar maupun ceramah-ceramahnya. Pada proses selanjutnya, pendidikan
Muhammadiyah ini berkembang dengan pesat, sekaligus mempunyai spesifik, yaitu
sistem pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan
agama. Pendidikan Muhammadiyah tumbuh dan berkembang seiring dengan
dinamika masyarakat[1].
Pesatnya perkembangan Pendidikan Muhammaadiyah ini juga dibuktikan
dengan beberapa sekolah yang tertua yaitu :
a.
Kweekschool Muhammadiyah Yogyakarta
b.
Muallimin Muhammadiyah, Solo, Jakarta.
c.
Muallimat Muhammadiyah, Yogyakarta
d.
Zuama/Zaimat, Yogyakarta
e.
Kulliyah Mubalighin/Mubalighot, Sumatera Tengah
f.
Tablighscool, Yogyakarta
g.
H.I.K Muhammadiyah Yogyakarta.
h.
Wustho Muallimin[2]
B. Cara penyelenggaraan Pendidikan Muhammadiyah
Sejarah perjalanan dan kiprah tokoh pendiri Muhammadiyah dalam membangun
dan mengelolah Pendidikan Muhammadiyah pada masa awal berdasarkan hal-hal
berikut:
Pertama, dari sudut pandang sejarah, dapat diperhatikan bagaimana generasai
awal Muhammadiyah membangun Pendidikannya dengan mekanisme bottom
2

up. Aspek sosiologis agaknya jadi pertimbangan penting dalam desain pendidikan
Muhammadiyah. Semua amal usaha (pendidikan) Muhammadiyah didirikan atas
prakarsa umat dari bawah. Tidak satupun institusi Pendidikan Muhammadiyah yang
dibangun berdasarkan surat keputusan (SK) atau instruksi dari kantor pimpinan pusat
(Suyanto, 2003:93). Dengan kata lain by birth, demokratisasi sistem pendidikan
dalam tahapan tertentu sudah terwujud, karena pendidikan Muhammadiyah lahir dari
dan untuk umat Muhammadiyah.
Kedua, sistem pendidikan yang berbeda dari umumnya sistem pendidikan yang
ada di masyarakat sehingga menjadi pendidikan alternative. Desain awal pendidikan
Muhammadiyah berangkat dari motivasi teologis yang kuat; yaitu manusia akan
mencapai derajat keimanan dan ketaqwaan yang sempurna jika memiliki kedalaman
ilmu pengetahuan (Muti, 2003 : 103). Inilah yang kemudian menjadi garis pembeda
antara out put pendidikan Muhammadiyah dengan out putpendidikan konvesional
barat dan pendidikan tradisonal. Eksistensi pendidikan Muhamadiyah pada waktu itu
memiliki nilai tawar yang tinggi karena mampu melhirkan generasi yang lebih
sempurna.
Ketiga, oreintasi ke depan dalam penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyh
berorientasi mempersiapkan lulusannya untuk memasuki Indonesia baru yang
merdeka dengan segala modernitasnya. Dengan perkataan lain, Pendidikan
Muhammadiyah harus menyiapkan anak didiknya agar tetap survive di masa yang
akan datang. Karena masa yang akan datang tentu akan berbeda dengan masa yang
sekarang.
Keempat, pengorbanan baik pikiran, tenaga maupun harta. Pada umumnya pada
perintisan pendidikan Muhammadiyah adalah orang yang sadar akan panggilan
perjuangan. Mereka berkorban untuk kepentingan pengembangan pendidikan, amal
usaha Muhamadiyah yang diharapkan menjadi penyangga masa depan gerakan.
Pengemabngan Pendidikan Muhammadiyah mesti mempertimbangkan aspek nilai dan
aspek spirit perjuangan tokoh-tokoh terdahulu, mewarisi keteladanan mereka dengan
tetap mempertimbangkan propesionalisme dalam pengelolaannya, sejalan dengan
tuntutan zaman[3].
Pada intinya, penyelenggaraan pendidikannya dilakukan oleh Majelis
Penyelenggara, dan pengelolaan teknisnya dilaksanakan oleh kepala sekolah masingmasing, ucap Abdul Muti.
Lebih jauh Abdul Muti mengungkap, Dalam pengelolaan lembaga pendidikan
dan sekolah di Muhammadiyah, dijalankan konsep sentralistik konsultatif. Dalam
pengertian bahwa pengembangannya tak bisa dilakukan secara terpisah-pisah tanpa
melibatkan pimpinan persyarikatan. Hingga dalam proses seleksi dan pengangkatan
guru, tak sepenuhnya dilakukan oleh kepala sekolah, melainkan melibatkan Majelis
Dikdasmen dan Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah[4].
C.

Tujuan pendidikan Muhammadiyah


Muhammadiyah pada permulaan berdirnya belum merumuskan secara jelas

tentang tujuan pendidikannya. Hal ini tidak berati Pendidikan Muhammadiyah yang
didirikan tanpa tujuan. Meski belum drimuskan secara tegas, pendidikan
Muhammadiyah sejak permulaan berdirinya sudah memiliki tujuan. Dilihat dari
sistempendidikan yang dikembangkan ada pendapat vahwa tujuan pendidikan
Muhammadiyah sejak didirikan adalah Membentuk Alim Intelektual, yaitu seorang
muslim yang seimbang ilman dan ilmunya, ilmu agama dan ilmu umum, orang
yangkuat rohani dan jasmaninya. Tujan Pendidikan Muhammadiyah ini dirumuskan
dalam pernyataan yang sering disampaikan Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya
dalam pengajian yang dipimpinnya. Dalam bahasa Jawa pernyataaan itu
adalah: dadiyo kyai sing kemajuan, lan ojo kesel-kesl anggonmu nyambut gawe
kanggo Muhammadiyah (jadilah ulama yang modern danjangan merasa lelah bekerja
untuk Muhammadiyah)
Sedangkan tujuan pendidikan Muhammadiyah yang sampai saat ini menjadi
rujukan bagi perguruan Muhammadiyah adalah bagaimana tertuang dalam Qoidah
Pendidikan Dasar dan Menegah Bab I pasal 3 sebagai berikut :
Pendidikan dasar dan menengah Muhammadiyah bertujuan : membentuk manusia
muslim yang beriman, bertaqw berakhlaq mulia, cakap percaya dri, memajukan dan
memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketereampilan dan beramal menuju
terwujudnya masyarakat utama, adil danmakmur yang diridhai oleh Allah SWT .
Dalam tujuan ini terdapat (terkandung) nilai-nilai fundamental yang secara
implicit jelas merujuk pada nilai-nilai Islam yang bersumber pada al-Quran dan
Sunnah. Pada rumusan ini pertama diwarnai semangat juang untuk menumbangkan
kolonialisme. Pada rumusan kedua orientasinya lebih mnekankan upaya pengisian
atau berpean serta dalam pembangunan bangsa pascakemerdekaan. Pada rumusan
ketiga lebih kongkret dan realities. Namun secara garis besar ketiga rumusan di ats
dapat simpulkan bahwa tujuan pendidikan Muhammadiyah ialah membentuk muslim
yang cakap, berakhlaq mulia, percaya kepada diri sendir dan berguna bagi
masyarakat. Secara implisist berarti tidak hanya ingin melahirkan kader-kader
Muhammadiyah, tetapi juga putra-putri bangsa yang Islami, berilmu pengetahuan dan
mempunyai wawasan ke depan (visioner) sebagai upaya menuju pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya, lahir dan batin seperti yang dicita-citakan seluruh
bangsa Indonesia[5].
Tujan Pendidikan Muhammadiyah di telah dirumuskan dan telah di sahkan oleh
Majlis Tanwir yang intinya Pendidikan Muhammadiyah ialah membentuk manusia
muslim, berakhlaq mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri dan berguna untuk
masayarakat umum. Dari tujuannya saja sudah nampak adanya kemiripan antara
tujuan Pendidikan Muhammadiyah dengan tujuan pendidikan Republik Indonesia dan
kedua tujuan tersebut tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan R.I[6].
D.

Kontribusi Muhammadiyah dalam Pendidikan

Muhammadiyah bisa dibilang sebagai pelopor Pembaharuan Pendidikan Islam


di Indonesia. Semua hali jerih payah K.H ahmad dahlan dapat dirasakan manfaatnya
hingga saat ini. Muhamadiyah merupakan organisasi di luar pemerintahan yang
meiliki lembaga pendidikan dan pengajaran terbesar di Indonesia[7]
Pemabaruan pendidikan meliputi dua segi. Yaitu segi-cita-cit dan teknik pengajaran.
Dari segi cita-cita yang dimaksud K.H ahmad Dahlan ialah ingin membentuk manusia
muslim yang baik budi pekerti, alim dalam agama, luas dalam pandangan dan faham
masalah keduniaan, dan bersedia berjuang untuk kemajuanmasyarakat.
Adapun teknik, lebih banyak berhubungan dengan cara-cara penyelenggaraan
pendidikan. Dengan mengambil unsur-unsurnya dari sistem pendidikan Barat dan
Sistem Pendidikan tradsional, Muhammadiyah berhasil membangun sistem
pendidikan sendiri. Seperti sekolah model barat , tetapi dimasukkan ajaran agamadi
dalamnya, sekolah agama dengan menyertakan pelajaran secular. Bermacam-macam
sekolah kejuruan dan lain-lain. Sedangkan cara penyelenggaraannya, proses belajar
mengajar itu tidak lagi dilaksanakan di masjid atau langgar, tetapi digedung yang
khusus, yang dilengkapi oleh meja, kursi dan papan tulis, tidak lagi duduk di lantai[8].
Wirjosukarto (1965) dalam bukunya Pembaruan Pendidikan dan Pengajaran
oleh Pergerakan Muhammadiyah menjelaskan bahwa teknik pengarajan
Muhammadiyah adalah sebagai berikut :
a. Cara belajar dan mengajar dalam lembaga Pendidikan Muhammadiyah
dibandingkan pendidikan tradisonal lebih modern dan system klasikal seperti
yang dilakukan oleh Pendidikan Barat
b. Bahan Pelajaran. Di lembaga Pendidikan Tradisonal hanya mengajarakan
ajaran Agama saja. Sedangkan di Muhammadiyah di ajarkan ilmu umum dan
agama.
c. Rencana Pelajaran. Pendidikan Muhammadiyah sudah mengatur kurikulum
dengan baiak, sehingga efesiensi pembelajaran bias terjamin dengan baik
d. Pengasuh dan Guru. Di lembaga pendidikan Muhammadiyah terdapat guru
agama dan guru umum dibandingkan denganlembaga Tradisonal hanya
memiliki guru agama saja yagn berpengalaman dibidangnya.
e. Hubungan guru dan murid terlihat lebih akarabdan Susana yangmenyenangkan
dibandingkan dengan lembaga pendidikan tradisional yang lebih bersifat
otoriter[9].
Selain pembaruan dalam lembaga pendidikan formal, Muhammadiyah telah

memperbaharui bentuk pendidikan tradional non formal yaitu, pengajaran. Semula


pengajian dilakukan di mana orang tua atau guru prvat mengajara naka kecil
membaca al-Quran dan beribadah. Oleh Muhammadiyah diperluas, dan pengajian
disistematiskan ke dalam bentuk, juga isi pengajian diarah pada masalah-masalah
kseharikehidupan sehari-hari umat Islam.
Begitu pula Muhamadiyah telah berhasil mewujudkan bidang-bidang bimbingan
dan penyuluhan agama dalam masalah-masalah yang diperlukan dan mungkin bersifat
pribadi. Seperti mempelopori mendirikan Badan Penyuluhan Perkawinan di kota-kota
besar.
Dengan penyelenggaraan pegajian dan nasihat yang bersifat pribadi tersebut,
dapat ditunjukkan bahawa Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan mmanusia.
Berdasarkan data terbaru (Profil Muhammadiyah) amal usaha Muhammadiyah
si bidang pendidikan berjumlah 5.797 buah, merupakan angka yang cukup fantastis
untuk sebuah lembaga pendidikan yang dinaungi dalam satu payung organisasi
dengan rincian ; 1132 Sekolah Dasar ; 1769 Madrasah Ibtidaiyah ; 1184 Sekolah
Menengah Pertama; 534 Madrasah Tsanawiyah ; 511 Sekolah Menengah Atas ; 263
Sekolah Menengah Kejuruan ; 172 Madrasah Aliyah ; 67 Pondok Pesantren ; 55
Akademi ; 4 Politeknik ; 70 Sekolah Tinggi dan 36 Universitas yang tersebar di
seluruh Indonesia.
Total jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah sebanyak itu merupakan
bilangan yang cukup fantastis bagi sebuah organisasi sosial keagamaan dimanapun.
Apalagi keberadaan lembaga pendidikan tersebut merupakan pengejawantahan dari
model pemahaman keagamaan (keIslaman) di Muhammadiyah. Inilah yang kemudian
menjadi sebuah pertanyaan, pemahaman atau idiologi apa yang diterapkan oleh
Muhammadiyah dalam mengurusi lembaga pendidikan yang sebesar itu. Mungkin
langsung timbul sebuah jawaban dari pertanyaan tersebut tentu saja idiologi Islam
yang di gunakan karena Muhammadiyah berasaskan Islam (AD/ART
Muhammadiyah)[10].
Di samping itu juga dari berbagai Universitas dan sekolah tinggi
Muhammadiyah di seluruh Indonesia tersebut, setidaknya saat ini tercatat lebih 300
ribu orang merupakan mahasiswa universitas Muhammadiyah, dan jumlah ini
merupakan 10 persen dari jumlah total keseluruhan Mahasiswa Indonesia. Ini
artinya, Perguruan Tinggi Muhammadiyah sudah dipercaya oleh masyarakat luas dan
tentunya dinilai berkualitas, katanya.
Bahkan menurut Khairul saat ini ada lima Universitas Muhammadiyah di
Indonesia yang jumlah mahasiswanya di atas 10 ribu orang, dan untuk Sumatera
terdapat di Sumatera Utara dan Sumatera Barat dengan jumlah mahasiswa masingmasing 12 ribu dan 10 ribu orang. Sementara untuk pulau jawa terdapat di universitas
Muhammadiyah Jogjakarta dan lainnya.
Kharul menambahkan, meski Muhammadiyah oraganisasi Islam, Universitas
Muhammadiyah di Indonesia ini tidak hanya menerima orang-orang yang beragama

Islam saja, melainkan juga dari Agama lain. Sebagai contoh di Universitas
Muhamamadiyah Kupang, ini jumlah mahasiswa non muslim mencapai 75 persen
lebih, ujarnya[11].
Dalam bidang kesehatan, hingga tahun 2000 Muhammadiyah memiliki 30
Rumah Sakit Umum, 13 rumah Sakit Bersalin, 80 Rumah Bersalin, 35 Balai
Kesehatan Ibu dan Anak, 63 Balai Pengobatan, 20 Poliklinik, Balkesmas, dan layanan
kesehatan lain. Lalu, dalam bidang kesejahteraan sosial, hingga tahun 2000
Muhammadiyah telah memiliki 228 panti asuhan yatim, 18 panti jompo, 22 Bakesos,
161 Santunan keluarga, 5 panti wreda manula, 13 santunan wreda/manula, 1 panti
cacat netra, 38 santunan kematian, serta 15 BPKM. Dalam bidang ekonomi, hingga
tahun 2000 Muhammadiyah memiliki 5 Bank Perkreditan Rakyat

Muhammadiah dan Kebudayaan


Pembahasan ini mengkaji dialektika antara seni budaya dalam Muhammadiyah.
Didalam Muhammadiyah, agama memberikan warna, spirit pada seni budaya,
sedangkan seni budaya memberikan kekayaan terhadap agama yang selama ini
memisahkan antara agama dan seni budaya. Sebelum mengetahui dengan jelas
mengenai Seni Budaya dalam Muhammadiyah harus dipahami terlebih dahulu apa
itu Seni dan apa itu Budaya. Dalam konteks ini Seni adalah usaha untuk menciptakan
bentuk-bentuk yang menyenangkan,karena kesenian berkaitan kemanusiaan,
sedangkan Budaya adalah hal-hal yang berkenaan dengan akal.
Didalam kehidupan Muhammadiyah Seni Budaya dapat merespon terhadap
perkembangan seni budaya yang kontemporer.Seni dan Budaya merupakan
penjelmaan rasa keindahan dalam diri manusia yang merupakan salah satu fitrah yang
harus dipelihara dan disalurkan dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran Islam.
Perkembangan Seni Budaya ini memiliki kepedulian yang cukup banyak
mendapatkan perhatian dari berbagai aspek kehidupan.
Mengetahui Seni Budaya dalam kehidupan Muhammadiyah dengan tujuan
Mempelajari kembali aspek-aspek kehidupan yang terkait dan berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari, kemudian dengan diperhatikan kembali perkembangan
kehidupan dalam Seni Budaya itu sendiri, maka dapat juga dipahami kemajuan dari
Seni Budaya dalam Muhammadiyah itu sendiri.
Berbagai pemikiran yang tumbuh dan berkembang yang menjadi faktor
pendorong sehingga Seni Budaya dalam Muhammadiyah menjadi gerakan
pembaharuan yang mendapat perhatian , dimana cita-cita kemajuan ini adalah suatu
gerakan yang rasional. Pembaharuan yang dipelopori Muhammadiyah dalam bidang
Seni Budaya sebenarnya menghadapi konteks kehidupan beragama,dimana bertujuan
memurnikan agama dari syirik, bidah, khurafatyang merupakan rasionalisasi
berhubungan dengan pembaharuan Masyarakat tradisional ke masyarakat modern.

MUHAMMADIYAH DAN SENI BUDAYA


A. Seni-Budaya dalam Muhammadiyah
Untuk mengetahui dengan jelas dakwah Muhammadiyah dalam bidang seni dan
budaya , perlu dipahami terlebih dahulu Apa itu seni dan apa itu budaya. Banyak
definisi yang telah dirumuskan mengenai seni dan budaya . Drs. Sidi gazalba
( 1977:20,1978:299-301 ) mendefinisikan seni adalah usaha untuk menciptakan
bentuk bentuk yang menyenangkan, kesenangan adalah salah satu naluri asasi atau
kebutuhan manusia. Dengan demikian kesenian terkait dengan kemanusiaan. Jika
kesenian terkait kemanusiaan, maka dapat ditemukan hubungan nya dengan islam.
Islam diturunkan untuk memberi petunjuk dan menuntun manusia untuk mewujudkan
keselamatan dan kesenangan dunia dan akhirat.
Sedangkan budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta Buddhayah,
jamak dari kata Buddhi yang berarti budi atau akal. Budaya berbeda dengan
kebudayaan, yang pertama adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa
( mufrodi, 1997: 1). Jadi kebudayaan atau cultur (inggris) atau ats-Tsaqafah (arab)
adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan
manusia yang membentuk kesatuan sosial ( masyarakat ) dalam suatu ruang dan
waktu (op. Cit, 1978:166).
Kebudayaan islam berubah bukan saja karena jarak giografis antar Indonesia
dan Arabia, melainkan jarak cultural.
Dari kebudayaan kota yang pluralistik ke kebudayaan desa yang homogen.
Orang yang kaya di desa diharapkan akan sering mengadakan selamatan, kalau tidak
akan ada sanksi sosial. Penduduk desa tidak membiarkan seseorang lebih dari yang
lain. Di desa juga menghendaki supaya ada kesamaan dalam agama, adat istiadat,
kebudayaan dan tingkah laku. Orang desa tidak akan kerasan tinggal berdekatan
dengan orang lain yang berlainan agama, adat, kebudayaan dan tingkah laku.Dari
kebudayaan pedagang yang mobile ke kebudayaan petani yang menetap. Kebudayaan
petani yang menetap sebenar nya lebih cocok untuk menggambarkan perkembangan
Islam di pulau Jawa khususnya daerah pedalaman. Tradisi merantau yang dilestarikan
oleh para pedagang, barangkali tradisi ini yang diteruskan dalam tabligh
Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan dari kauman, Yogyakarta juga merupakan
kenyataan sejarah yang mempengaruhi pembentukan kebudayaan Islam sampai
sekarang. Gejala ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan perubahan itu.Dari
sebuah tradisi besar (great tradision) ke tradisi kecil (little tradision). Keadaan ini
9

mirip dengan masuknya Islam ke Indonesia. Pada saat itu Islam menjadi tradisi kecil
ditengah-tengah Hinduisme, Budhisme yang juga menjadi tradisi kecil di Indonesia.
Tradisi-tradisi kecil inilah yang bersaing untuk survie. Sementara tradisi besar ada di
Timur Tengah, Islam dalam hal ini lebih beruntung dibandingkan dengan Hinduisme
dan Budhisme karena ada ibadah Haji dan Umroh sehingga ada hubungan yang
kontinyu. Pembaharuan Muhammadiyah, Pan Islamisme dan Rabithah Alam Islamy
adalah hasil dari pertemuan antara tradisi kecil dengan tradisi besar.Dari sebuah civil
society ke peasant society. Ini berarti bahwa kebudayaan Islam semula mengenal
system kenegaraan, tetapi dibeberapa tempat khususnya Jawa, kebudayaan Islam
kemudian mengalami dikotomi antara abangan dengan santri. Dalam kebudayaan
Islam perangkat yang bernama Negara sudah ada, ilmu politik juga berkembang.
Sebagian Islam yang dating di Indonesia memang berhasil mempertahankan civil
society, tetapi sebagian lain terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi peasant
society.
Kredo Muhammadiyah untuk kembali kepada Al-Quran dan Hadits seolaholah menunjukkan bahwa Muhammadiyah gerakan anti kebudayaan (Kuntowijoyo
dalam Maruf, 1995:2). Semboyan kembalikepada ajaran Islam yang otentik tidak
hanya terbatas masalah ritual saja, melainkan yang lebih penting adalah sikap kita
mengamalkan ajaran yang otentik itu dalam kehidupan yang bermasyarakat,
berbangsa dan benegara. Memang Muhammadiyah menghindari acara-acara yang
sangat popular seperti puji-pujian, khol dan bejanjen.
Pembaharuan yang dipelopori oleh Muhammadiyah sebenarnya menghadapi
konteks kehidupan beragama yang bercorak ganda, yaitu sinkretik dan tradisional.
Berdirinya Muhammadiyah ditengah-tengah dua lingkungan itu. Di satu pihak
Muhammadiyah menghadapi Islam-sinkretik yang diwakili oleh kebudayaan Jawa,
dengan kraton dan golongan Priyayi sebagai pendukungnya. Sedangkan dipihak lain
Muhammadiyah menghadapi Islam-tradisional yang tersebar didaerah pedesaan
dengan kiai dan pesantren-pesantrennya.
Gagasan pembaharuan untuk memurnikan agama dari syirik, bidah dan
khurafat, pada dasarnya merupakan rasionalisasi yang berhubungan dengan ide
mengenai perubahan social dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
Tampaknya Muhammadiyah memang mengidentifikasi diri untuk cita-cita semacam
itu. Upaya yang dilakukan misalnya dengan melepaskan beban-beban cultural yang
dianggap dapat menghambat kemajuan. Dari sini dapat dilihat bahwa Muhammadiyah
berusaha membongkar budaya Islam-sinkretik dan Islam-tradisional sekaligus dengan
menawarkan sikap keagamaan yang lebih baik.
Dalam konteks ini, maka Muhammadiyah sebagai gerakan puritanisme sering
dituding sebagai kekuatan dibelakang menyusutnya symbol-simbol budaya, yang
berusaha menghapuskan sumber-sumber budaya lama untuk digantikan dengan
budaya baru. Simbol-simbol agama disesuaikan oleh Muhammadiyah. Misalnya
kesenian, pendidikan, mitologi yang semuanya disesuaikan dengan perkembangan
dan diganti yang baru. berjajen, salawatan dan pujian dihilangkan untuk diganti
dengan sandiwara, nyanyian dan olah raga. Pesantren diganti sekolah. Sinoman
10

diganti kepanduan. Tanpa penggantian symbol itu Islam tidak akan survive
menghadapi perubahan. Hal ini dilakukan karena :
a. Muhammadiyah betul-betul harus membersihkan diri dari syirik sekecil
apapun sehingga sangat berhati-hati dengan symbol.
b. Sebagai akibat modernisasi yang menginginkan efisiensi dan efektifitas
sehingga banyak symbol lama diganti.

Kehati-hatian Muhammadiyah menggunakan symbol telah menghilangkan


bebas cultural dari umat Islam. Segi positifnya, Islam menjadi agama yang sederhana,
mudah dan praktis, kemajuan-kemajuan hanya mungkin terjadi bila belenggu masa
lalu dilepaskan. Sedangkan segi negatifnya adalah Islam kehilangan kebudayaan,
agama menjadi kering, simbol-simbol menyusut dan Islam menjadi miskin. Misalnya,
berzanji, salawatan dan puji-pujian dari kebudayaan Islam-tradisional yang berisi
puisi pujian untuk Nabi saw, yang biasa dinyanyikan secara kolektif sudah kehilangan
sifat semi-sakralnya ketika mengalami desakralisasi, berubah menjadi teater, tarian,
nyanyian atau puisi. Harus diakui bahwa kebudayaan yang demikian itu meskipun
tidak jauh menyimpang dari ajaran-ajaran Islam bahkan bertentangan dengan alQuran dan Hadits perlu dilestarikan walaupun dalam bentuk dan warna baru.
Setiap gerakan social, gerakan agama maupun politik selalu mendasarkan diri
kepada pengertian dasarnya. Dr. Kuntowijoyo (1993:265-6) mengemukakan sebagai
gerakan social keagamaan Muhammdiyah telah mampu menyelenggarakan kegiatan
yang cukup bermamfaat untuk pembinaan individu maupun social masyarakat Islam
di Indonesia. Pada tingkat individu, cita-cita pembentukan pribadi Muslim dengan
kualifikasi moral dan akhlak Islam, terasa sangat khas. Gerakan membentuk keluarga
sakinah, membentuk jamaah dan akhirnya membentuk ummah juga mendominasi
gerakan Muhammdiyah. Tetapi dalam perspektif transformasi social (commuty
development), Muhammadiyah belum memiliki konsep gerakan social yang jelas.
Gerakan social yang ada selama ini masih terbatas pada pengelompokanpengelompokan primordial berdasarkan gender (jenis kelamin) dan usia. Missalnya
Aisyiyyah, Gerakan Pemuda Muhammdiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan
sejenisnya. Yang terjadi kemudian adalah Muhammadiyah cenderung mengabaikan
dan membiarkan kelompok-kelompok buruh, petani, pedagang,dan sebagainya. Ini
merupakan kemunduran, sebab gerakan social yang mendasarkan diri pada gender
dan usia ini justru bersifat anti-sosial dan cenderung mengabaikan adanya realitas
stratifikasi dan diferensiasi social. Dengan demikian maka Muhammdiyah harus
merumuskan kembali konsep gerakan socialnya.
Ditinjau dari segi sejarah, Muhammadiyah sesungguhnya terbentuk dari
budaya kampung. Saat Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta, kehidupan kota
sesungguhnya lebih dikuasai oleh kaum priyayi dengan hegemoni cultural keratonnya.

11

Ini jelas berbeda bila dibandingkan latar belakang kelahiran NU yang berbasis kepada
cultural agrasir-desa. Pada awal abad ke 20 terjadi perubahan-perubahan penting
dalam masyarakat. Keberhasilan pendidikan kolonial secara parsial di masyarakat
muncul lapisan sosial baru yaitu kaum priyayi yang bekerja dilembaga pendidikan
pemerintah ataupun swasta. Kaum priyayi inilah yang mempelopori gerakan
kebudayaan dengan semboyan kemajuan (the idea of progress).
Cita-cita kemajuan dan gerakan kebudayaan rasional, tumbuh menjadi gerakan
kebudayaan kritis menggantikan kebudayaan yang konformis. Misalnya ketika KH.
Ahmad Dahlan menyatakan bahwa meminta berkah dari orang yang telah meninggal
itu merupakan syirik, sebenarnya beliau sudah membebaskan masyarakatnya dari
takhayul dan menggantikannya dengan tata cara agama yang lebih rasional. Gerakan
keagamaan semacam ini memakai semboyan lain yaitu gerakan tajdid, tetapi yang
dikerjakannya sebenarnya ialah gerakan kemajuan.
Dakwah adalah menggarami kehidupan umat manusia dengan nilai-nilai iman,
Islam dan taqwa demi kebahagiaan hidup di akhirat (maarif, 1995:101). Selama
denyut nadi manusia masih berlangsung maka merupakan suatu kewajiban
menyampaikan pesan risalah kenabian dalam kondisi dan situasi yang bagiamanapun
coraknya. Dari segi ini Muhammadiyah sangat puritan dalam bidang aqidah dan
ibadah mahdlah, tetapi sangat modern dalam muamalah. Dengan kata lain
modernisme berdasarkan rasionalitas yang terbuka. Apabila ini tidak dipahami akan
terjadi pergeseran.
B. Kehidupan dalam Seni dan Budaya
Islam adalah agama fitrah, yaitu agama yang berisi ajaran yang tidak
bertentangan dengan fitrah manusia, Islam bahkan menyalurkan, mengatur dan
mengarahkan fitrah itu untuk kemuliaan dan kehormatan manusia sebagai makhluk
Allah.Rasa seni sebagai penjelmaan rasa keindahan dalam diri manusia merupakan
salah satu fitrah yang dianugrahkan Allah SWT yang harus dipelihara dan disalurkan
dengan baik dan benar sesuai dengan jiwa dan ajaran Islam.Berdasarkan keputusan
Munas Tarjih ke 22 tahun 1995 ditetapkan bahwa karya seni hukumnya mubah
(boleh) selama tidak mengarah atau mengakibatkan pasat (kerusakan), dlarar
(bahaya), isyyan (kedurhakaan), dan baid anillah (terjauhkan dari Allah), maka
pengembangan kehidupan seni dan budaya dikalangan Muhammadiyah harus sejalan
dengan etika atau norma-norma Islam sebagaimana dituntunkan Tarjih tersebut.Seni
rupa yang objeknya makhluk bernyawa seperti patung hukumnya mubah bila untuk
kepentingan sarana pengajaran, ilmu pengetahuan dan sejarah serta menjadi haram
bila mengandung unsur yang membawa isyyan (kedurhakaan) dan kemusyikan.Seni
suara baik vocal maupun instrumental, seni sastra dan seni pertunjukkan pada
dasarnya mubah (boleh) serta menjadi terlarang manakalah seni tersebut menjurus
pada pelanggaran norma-norma agama dalam ekspresinya baik dalam wujud
penandaan tekstual maupuan visual.Setiap warga Muhammadiyah baik dalam
menciptakan maupun menikmati seni dan budaya selain dapat menumbuhkan
12

perasaan halus dan keindahan juga menjadikan seni dan budaya sebagai sarana
mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai media atau sarana dakwah untuk
membangun kehidupan yang berkeadaban.Menghidupkan sastra Islam sebagai bagian
dari strategi membangun peradaban dan kebudayaan muslim.
C. Mengembangkan Seni Budaya
Muhammadiyah memiliki kepudulian yang cukup terhadap kebudayaan
khususnya tentang seni, sehingga pernah memiliki lembaga yang di sebut ISBM
(Ikatan Seniman dan Budayawan Muhammadiyah). Lembaga ini tidak bisa
berkembang seperti yang diharapkan, karena masih ada saja kendala-kendala yang
dihadapi, baik dari dalam diri Muhammadiyah yaitu kurangnya dukungan dari ulamaulama, maupun dari luar yaitu kondisi politik yang belum kondusif. Baru menjelang
Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta gairah seni Muhammadiyah muncul
kembali, dengan ditampilkan berbagai macam kesenian untuk menyemarakan
Muktamar, salah satunya adalah Lautan Jilbab karya Emha Ainum Najib.
Pada Muktamar ke-42 tahun 1990 di Yogyakarta tersebut, masalah kebudayaan
mendapatkan porsi perhatian yang memadai dari peserta Muktamar, dan akhirnya
masuk dalam keputusan Muktamar. Hal ini bisa dilihat dalam Program
Muhammadiyah periode 1990-1995 pada sub E tentang Kebudayaan, yaitu ;
Meningkatkan perhatian terhadap masalah-masalah sosial budaya seperti;
kesenian, perkembangan dan perubahan masyarakat termasuk budaya tradisional,
gaya hidup masyarakat, kepariwisataan, olahraga, dan aspek-aspek sosial budaya
lainnya yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, disertai upaya-upaya
pengembangan khazanah budaya Islam, sehingga kehadiran Muhammadiyah mampu
memberikan supremasi kebudayaan ditengah perbenturan budaya-budaya duniawi
dewasa ini.Mengembangkan seni budaya profetik dan religius yang mampu
mendorong dan membangkitkan fitrah kemanusiaandan mendekatkan manusia kepada
Allah dengan simbol-simbol yang mudah diterima masyarakat dalam kerangka
dakwah Islam.Memberikan panduan terhadap gaya hidup masyarakat yang makin
modern dengan kecenderunganya yang pragmatis, konsumtif, materialistis, dan
hedonistik, dengan pendekatan dan mengunakan simbol-simbol budaya alternatif
dalam keranga kebudayaan sesuai ajaran Islam. Untuk menangani program ini
dibentuklah sebuah Majlis Kebudayaan.
Cukup menggembirakan ketika kalangan Muhammadiyah makin sadar dan
makin ramah budaya. Ini menunjukkan kalau apa yang disebut sebagai dakwah
kultural mulai sedikit demi sedikit dipraktikkan dan dikembangkan. Misalnya, apa
yang dilakukan oleh Panitia Penerima Muktamar Satu Abad Muhammadiyah atau
Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta. Seksi Pembukaan, dalam kegiatan
menyongsong dan mencanangkan gema Muktamar telah menyelenggarakan kegiatan
pra Muktamar.
Paket acaranya adalah, peluncuran logo Muktamar Satu Abad Muhammadiyah,

13

theme song Muktamar, Countdown atau penghitungan mundur menuju hari H


pelaksanaan Muktamar, launching TV Muhammadiyah bernama AdiTV dan pagelaran
kolosal berjudul Langen Carito Sumunaring Suryo Cahyaning Nagari. Kegiatan ini
berlangsung pada 18 Juli 2009 di Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Hadir dalam
acara ini Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. DR. Din Syamsuddin, Ketua PP
Aisyiyah Prof. DR. Chamamah Soeratno, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua
Umum Panitia Penerima Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, Herry Zudianto, SE,
MM, Akt. dan puluhan ribu warga dan simpatisan Muhammadiyah DIY dan Jawa
Tengah.
Khusus untuk pentas Langen Carito ada catatan khusus yang ingin penulis
sampaikan. Sebab sehabis pentas banyak sekali pesan pendek omongan lisan
langsung, lalu ada dua tulisan sampai pada penulis yang isinya adalah mengritik dan
ingin memberi masukan. Sebab, kalau pentas Langen Carito itu dijadikan ukuran dan
akan dipentaskan lagi pada Pembukaan Muktamar ke-46 nanti di Yogyakarta, banyak
yang keberatan. Ada yang mengatakan, kalau pentas seperti itu ditampilkan di
pembukaan nanti, maka sebagai warga Yogyakarta dan sebagai warga
Muhammadiyah dia merasa malu. Maksudnya memalukan Yogyakarta sebagai kota
budaya dan gudang para budayawan dan seniman unggul di Indonesia.
Dalam kenyataan, potensi seni budaya Muhammadiyah yang dalam hal ini yang
dikoordinasi oleh Lembaga Seni Budaya (LSB) Muhammadiyah baik di tingkat PP,
PWM, PDM ke bawah tidak dilibatkan sama sekali sejak awal. LSB Muhammadiyah
sepertinya dianggap tidak ada. Padahal LSB Muhammadiyah itu jelas ada dan selama
ini aktif menghimpun potensi yang akan disumbangkan pada Muktamar Satu Abad
Muhammadiyah. Sejak awal sepertinya sudah ada penunjukan kepada Event
Organizer dan penentu pertunjukan yang bukan kader Muhammadiyah. Dengan
demikian kalau dalam Langen Carito itu ada isinya yang kurang sesuai dengan
ideologi dan pemaknaan terhadap spirit perjuangan KHA Dahlan dapat dimaklumi,
tetapi tidak boleh terjadi lagi dalam Pembukaan Muktamar nanti. Kebesaran KHA
Dahlan dan kebesaran Muhammadiyah tidak boleh dikerdilkan hanya karena ada
sekian kesalahan teknis atau kesalahan kebijakan seperti di atas.
D. Kesenian Tradisional Islami Perlu Direvitalisasi
Sebagai organisasi kemasyarakatan, Muhammadiyah telah menunjukkan
keseriusannya menggarap aspek pendidikan dan bidang sosial. Hal ini bisa dilihat dari
banyaknya lembaga pendidikan, panti asuhan, dan berbagai balai kesehatan yang
dimilikinya di berbagai daerah di Indonesia. Namun dalam aspek budaya,
Muhammadiyah belum maksimal menggarapnya. Aspek kebudayaan sangat penting
diperhatikan Muhammadiyah. Melalui kebudayaan, dakwah yang dilakukan
Muhammadiyah akan mudah diterima masyarakat Indonesia. Sebenarnya tidak hanya
Muhammadiyah, tapi juga ormas Islam secara umum kurang memperhatikan aspek
kebudayaan. Ini bisa dilihat dari tidak adanya respon dari ormas Islam terhadap
berbagai klaim kepemilikan budaya dan kesenian Indonesia oleh negara tetangga.
14

Muhammadiyah harus bisa meramu bentuk kesenian yang layak ditonton


masyarakat muslim. Keberadaan seni dan budaya dalam struktur kepengurusan
Muhammadiyah hanya setingkat lembaga pembantu pimpinan yang tidak memiliki
struktur sampai ke tingkat ranting. Karena setiap daerah memiliki perbedaan budaya
dan kesenian.
Khazanah kesenian tradisional yang Islami perlu direposisi dan direvitalisasi
karena bisa menjadi pendukung syiar Islam, kesenian tersebut sama sekali tidak
bertentangan dengan Islam, malah dapat dijadikan media dakwah kultural atau
dakwah melalui kesenian, khususnya bagi Muhammadiyah. Ia mengatakan
Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan Islam
terbesar di Indonesia. Namun dalam perjalanan dakwahnya, Muhammadiyah melalui
program atau gerakan pemurnian ajaran Islam pernah dituduh sebagai organisasi yang
tidak ramah terhadap seni.
Banyak kritikan yang menyatakan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi
yang tidak `bersahabat` terhadap kebudayaan, khususnya budaya lokal termasuk
kesenian tradisional. Kondisi itu, menurut dia, menumbuhkan sikap ketidaktertarikan
warga Muhammadiyah terhadap kesenian terutama kesenian tradisional. Mereka
terlalu khawatir kebudayaan lokal akan menodai agama Islam. Padahal, jika kita
menengok perjalanan Islam di Jawa pada masa lalu telah terbukti betapa dekatnya
Islam dengan kebudayaan. Dalam konteks itu selama ini telah terjadi peminggiran
terhadap khazanah budaya lokal yang dilakukan masyarakat Islam termasuk
Muhammadiyah, apriorinya terhadap kesenian, sehingga kesenian tradisional yang
bernuansakan Islam seperti shalawatan, angguk, kubrasiswa, dan hadrah juga ikut
terpinggirkan. Padahal kesenian tradisional tersebut bukan semata-mata hanya
berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki muatan pendidikan atau dakwah yang
cukup signifikan.

E. Perbedaan antara Sekolah atau Perguruan Muhammadiyah dengan Sekolah atau


Perguruan Lain dalam Bidang Seni
Di sekolah Muhammadiyah hampir dipastikan pendidikan musik, drum band,
dan seni beladiri (Tapak Suci)-nya maju. DR. Kuntowijoyo banyak menjelaskan,
mengapa Muhammadiyah memilih seni musik, drum band, dan seni beladiri untuk
diajarkan di sekolah dan komunitasnya. Menurut beliau, karena cabang seni tersebut
memiliki kadar rasionalitas yang cukup tinggi. Maksudnya, dikaitkan dengan pilihan
dakwah Muhammadiyah yang meneguhkan tauhid dan mencerahkan kehidupan
masyarakat, cabang seni tersebut paling efektif untuk mencapai tujuan. Hal ini
disebabkan dalam kehidupan sehari-hari, seni musik, drum band, dan seni beladiri
dapat dikatakan paling fungsional. Fungsional dalam membentuk watak dan
fungsional dalam mengatasi persoalan hidup manusia. Atau istilah pendidikannya,
Muhammadiyah dengan pilihan seni tersebut dapat membentuk anak didiknya
menjadi lebih cakap, terampil, dan berani bertindak. Ini dapat dibuktikan misalnya,
15

ketika mereka dewasa. Jika di sebuah perumahan ada tiga atau lima orang yang
pernah dididik di lingkungan Muhammadiyah bertemu dan berkumpul maka ada
kemungkinan mereka akan sepakat mendirikan jamaah, atau kemudian mendirikan
Ranting.
Ketika seorang anak dididik dalam seni musik, atau dilatih bermain drum band
atau dilatih memainkan jurus-jurus Tapak Suci tentu saja maksud utamanya bukan
untuk menjadikan si anak didik menjadi pemusik, ahli drum band atau menjadi
pendekar pencak silat yang ditakuti orang. Maksud utamanya adalah agar substansi
dari nilai-nilai utama kehidupan yang tersembunyi di balik kegiatan seni itu dapat
tertanam dan menjadi bagian utama bagi pembentukan watak si anak didik. Yaitu,
watak sebagai pejuang dakwah. Pejuang dakwah yang tangguh, luwes, cerdas, dan
mampu memberi arah kepada masyarakat di tempat dia bertugas.
Dengan demikian, adalah salah besar jika di lingkungan Muhammadiyah
Majelis Dikdasmennya menyepelekan pendidikan seni, salah besar jika orang-orang
yang duduk di Majelis Dikdasmen misalnya tidak tahu seni atau malahan anti
kesenian. Sebab, ini berarti mereka mengingkari hakikat dan keputusan
Muhammadiyah sendiri tentang dakwah kultural. Mereka juga mengingkari pilihan
awal Muhammadiyah yang ketika berdakwah dan mengembangkan amal usahanya
sangat menghargai pendidikan seni. Demikian juga, adalah salah besar jika ada
seorang atau banyak kepala sekolah di Muhammadiyah yang mengabaikan atau
menganggap remeh pendidikan seni di sekolahnya. Sebab ini berarti dia telah
meninggalkan atau menanggalkan ciri khas dari sekolah Muhammadiyah yang
membedakannya dengan sekolah bukan Muhammadiyah, ada sekolah menengah atas
yang dikenal mampu menghasilkan murid yang pro kesenian, pro dakwah, dan
memunculkan tokoh seni kelas satu di tingkat nasional.
F. Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah
Program kerja:
1. Terbentuknya kepengurusan Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah (LSBM)
di Daerah, Cabang, dan Ranting, terorganisasi dan ada kegiatan yang
terkoordinasi dengan baik.
2. Mempunyai program dari Wilayah secara berkesinambungan pada setiap
jenjang dan level kepemimpinan sampai ke Ranting, sehingga tercipta
rangkaian kegiatan terkendali, sistematis, terstruktur, dan bermanfaat bagi
masyarakat luas.
3. Penataran guru-guru kesenian di sekolah Muhammadiyah untuk memahami
lagu-lagu persyarikatan, sehingga memiliki sanggar-sanggar seni.

16

4. Penetapan jadwal lomba-lomba terkait dengan seni dan kebudayaan.


5. Mampu mengisi acara pada moment-moment persyarikatan seperti Upacara
Hari-Hari Besar Islam, Musda, Muscab, Musran, dll.

Macam-macam kegiatan:
Seni musik (kasidah /paduan suara /vocal group /solo song /garapan budaya dan
tradisi daerah.Seni teater /drama /sandiwara /sinetron /baca puisi /pantomim (acara
panggung).Berbagai macam tarian adat, misalnya; Tari Syech Saman Ala Aceh /Sigeh
Pengunten (Tari Adat Lampung), Tari Bedana, Tari Payung, dll (Adat Minang) dan
berbagai hasil kreasi baru yang Islami.Seni rupa /melukis /menggambar / seni terapan
(terpakai) /seni kriya / kaligrafi /menyulam /sablon /percetakan.

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa definisi dari seni adalah usaha
untuk menciptakan bentuk bentuk yang menyenangkan, kesenangan adalah salah
satu naluri asasi atau kebutuhan manusia, sedangkan Kebudayaan adalah cara berpikir
dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan manusia yang
membentuk kesatuan sosial ( masyarakat ) dalam suatu ruang dan waktu. Ditinjau dari
segi sejarah, Muhammadiyah sesungguhnya terbentuk dari budaya kampung. Saat
Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta, kehidupan kota sesungguhnya lebih
dikuasai oleh kaum priyayi dengan hegemoni cultural keratonnya. Dalam kenyataan,
potensi seni budaya Muhammadiyah yang dalam hal ini yang dikoordinasi oleh
Lembaga Seni Budaya (LSB) Muhammadiyah baik di tingkat PP, PWM, PDM ke
bawah tidak dilibatkan sama sekali sejak awal. LSB Muhammadiyah sepertinya
dianggap tidak ada.
Kehidupan dalam Seni Budaya;
Setiap warga Muhammadiyah baik dalam menciptakan maupun menikmati seni dan
budaya selain dapat menumbuhkan perasaan halus dan keindahan juga menjadikan
seni dan budaya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai media
atau sarana dakwah untuk membangun kehidupan yang berkeadaban.Menghidupkan
sastra Islam sebagai bagian dari strategi membangun peradaban dan kebudayaan
muslim.

17

Muhammadiyah dan Politik


Secara organisasional Muhammadiyah memang menyatakan dirinya sebagai
tidak memiliki afiliasi politik dengan partai politik manapun, tidak berpolitik praktis,
dan membebaskan warganya untuk memilih dalam pemilihan umum (baik pemilu
legislatif, pemilu presiden, dan pemilukada).
Pemilihan umum tahun 2004 telah
menjadi sebuah pengalaman politik tersendiri bagi Muhammadiyah. Ada banyak
hikmah politik yang dapat dipelajari oleh Muhammadiyah, di luar konteks apa hasil
dari eksperimen politik Muhammadiyah dalam pemilu 2004 ini, telah banyak cerita
yang terlahir, ada yang kecewa, ada yang biasa-biasa saja dan ada yang tetap tak
peduli. Memang begitulah muhammadiyah selalu kaya warna. Pemuda
Muhammadiyah (PM) khususnya dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)
umumnya bisa jadi mejadi pihak yang kecewa dengan proses dan hasil pemilu 2004.
Hal ini coba dipararelkan dengan keadaan ketiadaan tangan politik Muhammadiyah
yang dengan konsisten memperjuangkan aspirasi politik Muhammadiyah, maka
kemudian Tanwir Pemuda Muhammadiyah di Banjarbaru Kalimantas Selatan
memutuskan untuk mencoba membentuk partai politik alternative bagi anggota
persyarikatan Muhammadiyah.
Bila dilihat dari kacamata historis garis perjuangan Muhammadiyah sedari
lahir adalah sebagai gerakan agama dengan tekanan besar sebagai gerakan social.
Meski demikian Muhammadiyah bukanlah gerakan yang alergi dengan aktivitas
politik baik yang bersifat low politics dalam bentuk struggle of power atau juga yang
bersifat high politics dalam bentuk pejuangan politik yang berorientasi pada tujuantujuan moral (Syafii Maarif; 200). Dalam konteks struggle of power menurut Haedar
18

Nashir (2000) ada tiga pola perjuangan politik Muhammadiyah; pertama, adalah
secara langsung membidani kelahiran partai-partai politik, dalam pola ini
Muhammadiyah secara kelembagaan ikut serta secara aktif dalam membidani
kelahiran partai politik dan juga menggerakkan roda partai politik. Hal ini pernah
terjadi ketika mas kepemimpinan KH. Mas Mansyur, ketika Muhammadiyah menjadi
anggota istimewa Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi), begitu juga ketika
Muhammadiyah ikut membidani kelahiran Partai Muslim Indonesia (Parmusi). Pola
kedua, adalah keterlibatan secara personal dari tokoh-tokoh Muhammadiyah,
hubungan yang terbangun adalah hubungan emosional. Pola kedua ini yang paling
sering terjadi dalam persyarikatan Muhammadiyah, mulai dari generasi awal
Muhammadiyah yang terlibat aktif di MIAI, PII dan sebagainya sampai masa Amien
Rais, yang telah mengokohkan hubungan emosional antara warga Muhammadiyah
dengan Partai Amanat nasional PAN. Pola ketiga, adalah hubungan yang betul-betul
netral, dimana semua unsure persyarikatan harus menjaga jarak yang sama dengan
kelompok-kelompok kepentingan politik yang ada. Pola ketiga in muncul dalam
Muktamar Muhammadiyah tahun 1971 di Ujung Pandang.
Ketiga pola di atas sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awal untuk
memetakan seperti apa politik muhammadiyah dalam pandangan warga persyarikatan.
Kelompok yang berusaha menjaga jarak sedemikian rupa dengan proses low
politics ini kemudian mengentitas dalam kelompok Muhammadiyah cultural, yang di
dalamnnya bercokol tokoh-tokoh intelektual dan budayawan Muhammadiyah,
Kelompok ini melihat Muhammadiyah akan kehilangan vitalitasnya dalam peran
social kemasyarakatan jika harus memaksakan diri untuk melakukan struggle of
power.Kelompok kedua merupakan kelompok yang berusaha mencari jalan tengah,
yaitu kelompok yang merasa Muhammadiyah sangat perlu memiliki saluran aspirasi
politik, tapi tidak dengan serta merta menempatkan Muhammadiyah terikat dengan
satu atau beberapa kelompok kepentingan. Kelompok inilah yang kemudian
menganggap aspirasi politik Muhammadiyah bisa disalurkan melalui kader-kadernya
yang ada di partai-partia politik. Kelompok yang ketiga adalah kelompok yang
menginginkan Muhammadiyah aktif melakukan perjuangan politik pada tingkat low
politics untuk kepentingan mewujudkan aspirasi politik persyarikatan. Kelompok
ketiga ini beranggapan Muhammadiyah akan sulit merealisasikan aspirasi politik jika
hanya mengandalkan hubungan emosional dengan partai politik, Muhammadiyah
harus berani membentuk partia politik.
Arah politik Muhammadiyah akan sangat dipengaruhi oleh tiga kelompok
pemikiran di atas di dalam tubuh Muhammadiyah. Hasil tanwir Pemuda
Muhammadiyah di Banjarbaru beberapa waktu yang lalu sebenarnya sangat
mengejutkan, karena secara pelan namun pasti kelompok muda muhammadiyah yang
direpresentasikan oleh pemuda muhammadiyah mulai mengentitas dalam kelompok
ketiga di atas, karena pemikiran ini lahir dari kelompok muda yang dalam sejarah
Muhammadiyah justru selalu berusaha menjaga jarak dengan kepentingan politik
praktis.[4]

19

DAFTAR PUSTAKA
Hambali, Hamdan.2006.Ideologi dan Strategi Muhammadiyah(Yogyakarta : Suara
Muhammadiyah).
Baidhawy, Zakiyuddin, dkk.1996.Studi Kemuhammadiyahan(Surakarta :Lembaga
Studi Islam).
Syaukani, Imam dan Khozin. 2000. Pembaharuan Islam (Malang : AIK).
Kuntowijoyo. 1994. Dinamika Sejarah Umat Islam(yogyakarta : Pustaka Pelajar)
http:WWW. Muhammadiyah dan Seni budaya.Com

20