You are on page 1of 13

A.

Definisi
Afasia merupakan gangguan berbahasa. Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam
memproduksi dan / atau memahami bahasa. Defek dasar pada afasia ialah pada pemrosesan bahasa
tingkat integratif yang lebih tinggi. Gangguan artikulasi dan praksis mungkin ada sebagai gejala
yang menyertai.
Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovaskuler hemisfer dominan, trauma kepala,
atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe afasia, biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua
penderita afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan
menulis dalam derajat berbeda-beda.
B. Etiologi
Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak. Kata
afasia perkembangan (sering disebut sebagai disfasia) digunakan bila anak mempunyai keterlambatan
spesifik dalam memperoleh kemampuan berbahasa. Dalam hal ini, perkembangan kemampuan
berbahasa yang tidak sebanding dengan perkembangan kognitif umumnya.
Strok, tumor di otak, cedera otak, demensi dan penyakit lainnya dapat mengakibatkan gangguan
berbahasa.
Tabel Algoritma Klasifikasi Afasia Kortika
Kelancaran

Pemahaman
(Komprehensi)

Mengulang
(Repetisi)

Jenis Afasia

. Membaca dan menulis juga terganggu berat.lagi.. iiya.. Repetisi (mengulangi) juga sama berat gangguannya seperti bicara spontan. baaaah.ya.... baaaaah" atau: "amaaang.rumah. dan disartria. misalnya : "iiya. banyak.. amaaang. iiya".. Bentuk afasia ini sering kita lihat di klinik dan ditandai oleh bicara yang tidak lancar. Afasia Broca. Manifestasi Klinis Gejala dan Gambaran klinik Afasia Afasia global. berulang).trol... Afasia global disebabkan oleh lesi luas yang merusak sebagian besar atau semua daerah bahasa..kontrol.. amaaang".sembuh.... Contoh: "Saya. Koadaan ini ditandai oleh tidak adanya lagi bahasa spontan atau berkurang sekali dan menjadi beberapa patah kata yang diucapkan secara stereotip (itu-itu saja.kon." Mengulang (repetisi) dan membaca kuat-kuat sama terganggunya seperti berbicara spontan. serta tampak melakukan upaya bila berbicara.. Afasia global ialah bentuk afasia yang paling berat.C. bagaimana rencana anda untuk maksud ini"). Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau hemiplegia yang menyebabkan invaliditas khronis yang parah. Bicaranya bergaya telegram atau tanpa tata-bahasa (tanpa grammar).makan. namun pemahaman kalimat dengan tatabahasa yang kompleks sering terganggu (misalnya memahami kalimat: "Seandainya anda berupaya untuk tidak gagal.. Komprehensi menghilang atau sangat terbatas.... misalnya hanya mengenal namanya saja atau satu atau dua patah kata. Pemahaman auditif dan pemahaman membaca tampaknya tidak terganggu." "Periksa. Pasien sering atau paling banyak mengucapkan kata-benda dan kata-kerja. Ciri klinik afasia Broca:  bicara tidak lancar .. atau: "baaah. Kemungkinan pulih ialah buruk. Penyebab lesi yang paling sering ialah oklusi arteri karotis interna atau arteri serebri media pada pangkalnya.

Di klinik. Misalnya menjawab pertanyaan: Bagaimana keadaan ibu sekarang ? Pasien mungkin menjawab: "Anal saya lalu sana sakit tanding tak berabir". tidak kompleks  Irama kalimat dan irama bicara terganggu Menamai (naming) dapat menunjukkan jawaban yang parafasik. ada pula yang terganggu di daerah perirolandik dengan kerusakan massa alba yang ekstensif. la tidak mampu memahami kata yahg diucapkannya. Pemulihan terhadap berbahasa (prognosis) umumnya lebih baik daripada afasia global. Ada pakar yang menyatakan bahwa bila kerusakan terjadi hanya di area Broca di korteks. apakah benar atau salah. Pada kelainan ini pemahaman bahasa terganggu. ada pasien dengan lesi dikorteks peri-rolandik. Lesi yang menyebabkan afasia Broca mencakup daerah Brodmann 44 dan sekitarnya. Apakah hal ini disebabkan oleh gangguan berbahasanya atau merupakan gejala yang menyertai lesi di lobus frontal kiri belum dapat dipastikan. dan tidak mampu mengetahui kata yang diucapkannya. tampak sulit memulai bicara  kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat)  pengulangan (repetisi) buruk  kemampuan menamai buruk  Kesalahan parafasia  Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan memahami kalimat yang sintaktis kompleks)  Gramatika bahasa kurang. dan neologisme. tanpa melibatkan jaringan di sekitarnya. Afasia Wernicke. Membaca dan menulis juga terganggu berat. seperti frustasi dan depresi. Selain itu. Menamai {naming) umumnya parafasik. Maka terjadilah kalimat yang isinya kosong. berisi parafasia. Lesi yang mengakibatkan afasia Broca biasanya melibatkan operkulum frontal (area Brodmann 45 dan 44) dan massa alba frontal dalam (tidak melibatkan korteks motorik bawah dan massa alba paraventrikular tengah). dan bila ia menjawab iapun tidak mampu mengetahui apakah jawabannya salah. Karena pemahaman relatif baik. pasien afasia Wernicke ditandai oleh ketidakmampuan memahami bahasa lisan. pasien dapat lebih baik beradaptasi dengan keadaannya. terutama daerah Brodmann 4. Penderita afasia Broca sering mengalami perubahan emosional. Pengulangan (repetisi) terganggu berat. maka tidak akan terjadi afasia.  Gambaran klinik afasia Wernicke: Keluaran afasik yang lancar  Panjang kalimat normal  Artikulasi baik  Prosodi baik  Anomia (tidak dapat menamai)  Parafasia fonemik dan semantik  Komprehensi auditif dan membaca buruk  Repetisi terganggu .

namun tidak memahami apa yang didengarnya atau yang diulanginya. Lesi yang menyebabkan afasia jenis Wernicke terletak di daerah bahasa bagian posterior. tetapi parafasik seperti afasia jenis Wernicke. namun dalam bicara -spontan terbatas. Sesekali ada pasien yang menderita kombinasi dari afasia transkortikal motorik dan sensorik. Bicara spontannya dan menamai lancar. lesi cenderung mengenai daerah lobus parietal. Terlibatnya girus supramarginal diimplikasikan pada beberapa pasien. Penderita yang tanpa hemiparese. namun kata kompleks terganggu. yaitu bicara yang kacau disertai banyak parafasia. dan mereka cenderung menjadi ekholalia (mengulang apa yang didengarnya). bisa-bisa disangka menderita psikosis. Ini merupakan gangguan berbahasa yang lancar (fluent) yang ditandai oleh gangguan yang berat pada repetisi. namun komprehensinya lumayan. Ada pula pasien yang produksi bahasanya lancar. Sering lesi ada di massa alba subkortikal .   Gambaran klinik afasia motorik transkortikal: Keluaran tidak lancar (non fluent) Pemahaman (komprehensi) baik .dalam di korteks parietal inferior. Penderita dengan defisit komprehensi yang berat. Semakin berat defek dalam komprehensi auditif. ketimbang lobus temporal superior. dan neologisme. Afasia transkortikal ditandai oleh repetisi bahasa lisan yang baik (terpelihara). pronosis penyembuhannya buruk. semakin besar kemungkinan lesi mencakup bagian posterior dari girus temporal superior. Mudah mencetuskan repetisi pada pasien ini. dengan tepat. ada pula yang tidak. karena kelainannya hanya atau terutama pada berbahasa. kesulitan dalam membaca kuat-kuat (namun pemahaman dalam membaca baik). seperti pasien dengan afasia Broca. Terputusnya hubungan antara area Wernicke dan Broca diduga menyebabkan manifestasi klinik kelainan ini. memahami dan membaca. namun umumnya pemahaman bahasa lisan terpelihara. Bila pemahaman kata tunggal terpelihara. Pasien dengan afasia motorik transkortikal mampu mengulang (repetisi). walaupun diberikan terapi bicara yang intensif. Sebaliknya. Anomianya berat. Afasia konduksi. Afasia jenis Wernicke dapat juga dijumpai pada lesi subkortikal yang merusak isthmus temporal memblokir signal aferen inferior ke korteks temporal. dan mengenai fasikulus arkuatus yang menghubungkan korteks temporal dan frontal. namun fungsi bahasa lainnya terganggu. Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal: Keluaran (output) lancar (fluent)  Pemahaman buruk  Repetisi baik  Ekholalia  Komprehensi auditif dan membaca terganggu  Defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai  Didapatkan defisit lapangan pandang di sebelah kanan. pasien dengan afasia sensorik transkortikal dapat mengulang (repetisi) dengan baik. gangguan dalam menulis. namun komprehensinya buruk. juga dalam bahasa asing. parafasia yang jelas. Ada pasien yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa.  Menulis lancar tapi isinya "kosong" Penderita afasia jenis Wernicke ada yang menderita hemiparese. Afasia transkortikal. Pasien ini mampu mengulangi kalimat yang panjang.

Prognosis untuk penyembuhan bergantung kepada beratnya defek inisial. Anomia dapat demikian ringannya sehingga hampir tidak terdeteksi pada percakapan biasa atau dapat pula demikian beratnya sehingga keluaran spontan tidak lancar dan isinya kosong. Afasia transkortikal motorik terlihat pada lesi di perbatasan anterior yang menyerupai huruf C terbalik (gambar 9-1). Karena output bahasa relatif terpelihara dan komprehensi lumayan utuh. namun sering tertegun mencari kata dan terdapat parafasia mengenai nama objek. Afasia anomik. Banyak tempat lesi di hemisfer dominan yang dapat menyebabkan afasia anomik.  Demensia. Berbicara spontan biasanya lancar dan kaya dengan gramatika.  Oklusi atau stenosis berat arteri karotis.  Gambaran klinik alasia anomik: Keluaran lancar  Komprehensi baik  Repetisi baik  Gangguan (defisit) dalam menemukan kata. pasien demikian dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik daripada jenis afasia lain yang lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai afasia anomik. Korteks peri sylvian yang utuh ini dibutuhkan untuk kemampuan mengulang yang baik. di dalam zona perbatasan antara pembuluh darah serebral mayor (misalnya di lobus frontal antara daerah arteri serebri anterior dan media).  Anoksia oleh keracunan karbon monoksida.  Penyebab yang paling sering dari afasia transkortikal ialah: Anoksia sekunder terhadap sirkulasi darah yang menurun. dengan demikian nilai lokalisasi jenis afasia ini terbatas. Repetisi baik  Inisiasi ot/fpunerlambat  Ungkapan-ungkapan singkat  Parafasia semantik  Ekholalia  Gambaran klinik afasia transkortikal campuran: Tidak lancar (nonfluent)  Komprehensi buruk  Repetisi baik  Ekholalia mencolok Afasia transkortikal disebabkan oleh lesi yang luas. nominal atau amnestik. Lesi ini tidak mengenai atau tidak melibatkan korteks temporal superior dan frontal inferior (area 22 dan 44 dan lingkungan sekitar) dan korteks peri sylvian parietal. berupa infark berbentuk bulan sabit. seperti yang dijumpai pada henti-jantung (cardiac arrest). . Ada pasien afasia yang defek berbahasanya berupa kesulitan dalam menemukan kata dan tidak mampu menamai benda yang dihadapkan kepadanya.

Stimuli dapat berupa verbal. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain. 3. mungkin antara lain oleh berubahnya input ke serta fungsi korteks di sekitarnya. Program terapi berlandaskan pada penurnbuhan motivasi pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hilang. . Penatalaksanaan Medis DASAR-DASAR REHABIL1TASI Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada : 1. Segera diberikan bila keadaan umum pasien sudah memungkinkan pada fase akut penyakitnya. dapat menyebabkan afasia anomik. atau di kapsula interna. Dimulai seawal mungkin. 5. Lesi di talamus. diberikan pada bulan Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti isyarat). 2. Beberapa bentuk afasia mayor Bentuk Afasia Ekspres i Komprehen si verbal Menama i Komprehen si membaca Ekspresi (Broca) Tak lancar Relatif terpelihara Terganggu Tergangg u Bervariasi Reseptif (Wermicke) Lancar Terganggu Terganggu Tergangg u Terganggu Global Tak lancar Terganggu Terganggu Tergangg u Terganggu Konduksi Lancar Relatif terpelihara Terganggu Tergangg u Bervariasi Nominal Lancar Relatif terpelihara Terpelihar a Tergangg u Transkortik al motor Tak lancar Relatif terpelihara Terpelihar a Transkortik al sensorik Lancar Terganggu Terpelihar a Repetisi Menulis Lesi Tergangg u Tergangg u Frontal Inferior posterior Tergangg u Tergangg u Fronto temporal Bervariasi Bervariasi Girus angular. girus supramarginal sylvian D. Dikatakan bahwa bina wicara yang pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik. Materi yang teiah dikuasai pasien perlu diulangulang(repetisi). 6. Program terapi yang dibuat oieh terapis sangat individual dan tergantung dari latar belakang pendidikan.Afasia dapat juga terjadi oleh lesi subkortikal. temporal superior posterior Tergangg u Bervariasi Terganggu Peri anterior Tergangg u Terganggu Terganggu PerisylvianPosteri or Temporal Superior Posterior (Area Wernicke) Fasikulus arkualtus. Mekanisme terjadinya afasia dalam hal ini belum jelas. 4. status sosial dan kebiasaan pasien. bukan oleh lesi kortikal saja. tulisan atau pun taktil. Memberikan stimulasi supaya pasien metnberikan tanggapan verbal. putamen-kaudatus. misalnya oleh perdarahan atau infark.

Suruhan. tanpa tertegun-tegun untuk mencari Kata yang diinginkan. Dengan mengajak pasien bercakap-cakap dapat dinilai kemampuannya memahami pertanyaan dan suruhan yang diberikan oleh pemeriksa. Langkah terakhir dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman (komprehensi) secara klinis. Namun kita harus hati-hati monginterpretasi tes ini pada pasien dengan tingkat pendidikan tidak melebihi tingkat Sekolah Menengah Pertama. Tidak termasuk nama orang atau nama kota. Kemampuan yang hanya sampai 12 kata atau kurang untuk tiap huruf di atas merupakan petunjuk adanya penurunan kelancaran berbicara verbal. Kemudian suruhan dapat dlpermilit. Usia merupakan faktor yang berpengaruh secara bermakna dalam tugas ini. A atau P. arloji. duit.8) pada usia 70-an.5. kemudian vulpen. dan menjadi 15. Skor: Orang normal umumnya dapat menyebutkan sebanyak 36 . mulai dari yang sederhana (Satu langkah) sampai pada yang sulit (banyak langkah) dapat digunakan untuk menilai kemampuan pasien memahami. Konversasi. Skor yang dibawah 10 pada usia dibawah 80 tahun. dengan variasi I 5 . Menyebutkan nama hewan : Pasien disuruh menyebutkan sebanyak mungkin nama hewan dalam waktu 60 detik. sugestif bagi masalah penemuan kata. perlu dicurigai adanya gangguan dalam kelancaran berbicara verbal. suruhan. Misalnya menyebutkan sebanyak-banyaknya nama jenis hewan selama jangka waktu satu menit. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak. Menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu: Kepada pasien dapat juga diberikan tugas menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu. misalnya huruf S. vulpen. Orang normal yang berusia di bawah 69 tahun akan mampu menyebutkan 20 nama hewan dengan simpang baku 4. misalnya: mengambil pinsil. misalnya kunci. Suruh pasien menunjukkan salah sntu benda tersebut. walaupun pemahamannya baik. misalnya arloji.7. misalnya: tunjukkan jendela. letakkan di kotak dan taruh kotak di atas kursi (suruhan ini dapat gagal pada pasien dengan apraksia dan gangguan motorik. misalnya huruf S atau huruf B dalam satu menit. ulnu menyebutkan kata-kata yang mulai dengan huruf tertentu.60 kata. hal ini harus diperhatikan oleh pemeriksa). lancar bila bicara spontannya lancar. Bila skor kurang dari 13 pada orang normal di bawah usia 70 tahun. Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa lisan Kemampuan pasien yang afasia untuk memahami sering sulit dlnllal Pemeriksaan klinis disisi-ranjang dan tes yang baku cenderung kurang cukup dan dapat memberikan hasil yang menyesatkan. tergantung pada usia. yaitu dengan cara konversasi. Bila kemampuan ini diperiksa secara khusus ilnpat dideteksi masalah berbahasa yang ringan pada lesi otak yang ringan iiImii pada demensia dini. Skor : Orang normal umumnya mampu menyebutkan 18 .5 (± 4. inteligensi dan tingkat pendidikan. menemukan kata yaitu jumlah kata tertentu yang dapat dlproduksi selama jangka waktu yang terbatas. kemudian tingkatkan kesulitannya. geretan. Kita catat jumlahnya serta kesalahan yang ada.8) pada usia 80-an. misalnya parafasia. Kelancaran berbicara verbal merupakan refleksi dari efisiensi menemukan kata.7.20 nama hewan selama 60 detik. setelah itu arloji. E. Defek yang ringan dapat dideteksi melalui tes knlnncaran. Serentetan suruhan. pilihan (ya atau tidak). dan menunjuk. Pemeriksa dapat pula mengeluarkan beberapa benda. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan kelancaran berbicara. Kemampuan ini menurun menjadi 17 (+ 2. Seseorang disebut berbicara . Mula-mula suruh pasien bertepuk tangan. Pada usia 85 tahun skor 10 mungkin merupakan batas normal bawah. Pasion tanpa afasia dengan .

Jadi. Pemeriksaan sederhana ini. Contoh: Map  Bola  Kereta  Rumah Sakit  Sungai Barito  Lapangan Latihan  Kereta api malam  Besok aku pergi dinas  Rumah ini selalu rapi  Sukur anak itu naik kelas  Seandainya si Amat tidak kena influensa Pemeriksa harus memperhatikan apakah pada tes repetisi ini didapatkan parafasia. kita ucapkan kata atau angka. Korelasi anatomis dengan komprehensi adalah kompleks. kurang mampu menilai kemampuan pemahaman dengan baik sekali. Orang normal umumnya mampu mengulang kalimat yang mengandung 19 suku-kata. Jadi. . Kita mulai dengan suruhan yang mudah difahami dan kemudian meningkat pada yang lebih sulit. Cara pemeriksaan Pasien disuruh mengulang apa yang diucapkan oleh pemeriksa.  Pemeriksaan repetisi (mengulang) Kemampuan mengulang dinilai dengan menyuruh pasien mengulang. Pasien dengan Afasia mungkin hanya mampu menunjuk sampai 1 atau 2 objek saja. namun dapat memberikan gambaran kasar mengenai gangguan serta beratnya. Ya atau tidak. Kepada pasien dapat juga diberikan tugas berbentuk pertanyaan yang dijawab dengan "ya" atau "tidak". salah tatabahasa.tingkat inteligensi yang rata-rata mampu menunjukkan 4 atau lebih objek pada suruhan yang beruntun. yang dapat dilakukan di sisi-ranjang. pada pemeriksaan ini pemeriksa (dokter) menambah jumlah objek yang hams ditunjuk. jumlah pertanyaan harus banyak. kemudian ditingkatkan menjadi banyak (satu kalimat). paling sedikit 6 pertanyaan. dan kemudian pasien disuruh mengulanginya. mula-mula kata yang sederhana (satu patah kata). Mengingat kemungkinan salah ialah 50%. Misalnya: "tunjukkan lampu". sampai jumlah berapa pasien selalu gagal. kelupaan dan penambahan. Mula-mula sederhana kemudian lebih sulit. misalnya : "Andakah yang bernama Santoso?" "Apakah AC dalam ruangan ini mati ?" "Apakah ruangan ini kamar di hotel ?" "Apakah diluar sedang hujan?" "Apakah saat ini malam hari?" Menunjuk. kemudian "tunjukkan gelas yang ada disamping televisi".

kemudian bagian dari arloji (jarum menit.. Umumnya daerah ekstra-sylvian yang terlibat dalam kasus afasia tanpa defek repetisi terletak di daerah perbatasan vaskuler (area water-shed). Dengan demikian. perlu digunakan aitem yang sering digunakan (misalnya sisir. semua tes yang digunakan untuk menilai afasia mencakup penilaian terhadap kemampuan ini. lampu. Hal ini sedikit-banyak terganggu pada semua penderita afasia. Bila pasien tidak mampu atau sulit menamai. dan sering lebih baik daripada berbicara spontan. Ada pula pasien yang mengenal objek dan mampu melukiskan kegunaannya (sirkumlokusi) namun tidak dapat menamainya. bolpoin. Disamping menggunakan objek. maka daerah -sylvian bebas dari kelainan patologis. melukiskan kegunaannya) atau parafasia pada objek yang jarang dijumpainya. bagian tubuh.. Perhatikanlah apakah pasien dapat menyebutkan nama objek dengan cepat atau lamban atau tertegun atau menggunakan sirkumlokusi. kaca mata. dengan sirkumlokusi (misalnya. Terangkan kepada pasien bahwa ia akan disuruh menyebutkan nama beberapa objek juga warna dan bagian dari objek tersebut. kemampuannya (memberi nama objek). sol sepatu.Banyak pasien afasia yang mengalami kesulitan dalam mengulang (repetisi). biru. lensa kaca mata. Dalam hal ini.untuk masuk rumah. bagian dari objek. Umumnya dapat dikatakan bahwa pasien afasia dengan gangguan kemampuan mengulang mempunyai kelainan patologis yang melibatkan daerah peri-sylvian. gigi. ibu jari. jendela. kelabu. Yang penting kita nilai ialah sampainya pasien pada kata yang dibutuhkan. bingkai kaca mata. Bila pasien tidak mampu menyebutkan nama objek. kepala ikat pinggang.. hijau. dapatkah ia memilih nama objek tersebut dari antara beberapa nama objek. dan bila perlu gambar geometrik. kuning.. detik).. lutut Warna: merah. parafasia.. Bagian dari objek: jarum jam. Penilaian harus mencakup kemampuan pasien menyebutkan nama objek. namun ada juga yang menunjukkan kemampuan yang baik dalam hal mengulang. arloji) dan yang jarang ditemui atau digunakan (misalnya pedang). Cara pemeriksaan. Banyak penderita afasia yang masih mampu menamai objek yang sering ditemui atau digunakan dengan cepat dan tepat. simbol matematik atau nama suatu tindakan. warna. Kita dapat menilai dengan memperlihatkan misalnya arloji. Kesulitan menemukan kata erat kaitannya dengan kemampuan menyebut nama (menamai) dan hal ini disebut anomia. Misalnya: pisau. ia dapat dibantu dengan memberikan suku kata pemula atau dengan menggunakan kalimat penuntun. . Misalnya bila ditunjukkan kunci ia mengatakan : "Anu . kursi. itu. namun lamban dan tertegun. Pemeriksaan menamai dan menemukan kata Kemampuan menamai objek merupakan salah satu dasar fungsi herbahasa. dapat pula digunakan gambar objek.kita putar". Bagian dari tubuh: mata. pintu. Kita dapat membantu dengan suku kata pi Atau dengan kalimat: "kita memotong daging dengan ". neologisme dan apakah ada perseverasi. Objek atau gambar objek berikut dapat digunakan: Objek yang ada di ruangan: meja. Bila kemampuan mengulang terpelihara. lensa kaca mata. hidung. Gunakanlah sekitar 20 objek sebelum menentukan bahwa tidak didapatkan gangguan.

dengan melihat penggunaan tangan. repetisi (mengulang) dan menamai (naming). Suruh pasien memperagakan tangan mana yang digunakannya untuk memegang pisau. menyokong spesialisasi regional tugas ini. Area ini biasa disebut area Wernicke. Banyak orang kidal telah illnjarkan sejak kecil untuk menulis dengan tangan kanan. Pemeriksaan sistem bahasa Evaluasi sistem bahasa harus dilakukan secara sistematis. komprehensi (pemahaman). Penelitian dengan PET (positron emission tomography) tentang meta-bolisme glukosa pada penderita afasia. Area bahasa bagian frontal berfungsi untuk produksi bahasa. Membaca dan menulis harus dinilai pula setelah evaluasi bahasa lisan. pada pasien yang tidak afasia. Mula-mula tanyakan kepadn p irsion apakah ia kandal (right handed) atau kidal. didapat pula bukti adanya hipometabolisme di daerah temporal kiri. Namun demikian. Spektrum penggunaan tangan bervariasi dari kandal yang kuat. kanan sedikit lebih kuat dari kiri. Area Brodmann 44 merupakan area Broca. dengan demikian pengetesan membaca dan menulis dapat dipersingkat. Coba ceritakan mengenai pekerjaan anda serta hobi anda. Dengan ilcmikian. Dengan mendengnrknn pasien berbicara spontan atau bercerita. Pemeriksaan penggunaan tangan (kidal atau kandal) Penggunaan tangan dan sisi otak yang dominan mempunyai kaitan yang erat Sebelum menilai bahasa perlu ditentukan sisi otak mana yang dominan. pemeriksaan membaca dan menulis harus dilakukan sepenuhnya. mengenai batasnya belum ada kesepakatan. Bila mendengarkan pasien berbicara spontan atau bercerita. mengobservasi cara menulis saja tidak cukup untuk menentukan npakah seseorang kandal atau kidal. dsb. dengan melihat penggunaan tangan (kidal atau kandal). Perlu diperhatikan bagaimana pasien berbicara spontan. Tanyakan pula apakah ada juga kecenderungannya menggunakan tangan yang lainnya. Penelitian ini memberi kesan bahwa sistem bahasa sangat kompleks secara anatomi-fisiologi. Pasien yang afasia selalu agrafia dan sering aleksia.Area bahasa di posterior ialah area kortikal yang terutama bertugas memahami bahasa lisan. melempar bola. kita dapat memperoleh data yang sangat berharga mengenai kemampuan pasien berbahasa. Namun demikian. Ada individu yang kecenderungan kandal dan kidalnya hampir sama (ambi-dextrous) Pemeriksaan berbicara .spontan Langkah pertama dalam menilai berbahasa ialah mendengarkan bagaimana pasien berbicara spontan atau bercerita. perlu pula diperiksa sisi otak mana yang dominan. dan bukan merupakan kumpulan dari pusat-pusat kortikal dengan tugas-tugas terbatas atau terpisah-pisah atau sendiri-sendiri. perhatikan: . karena aleksa atau agrafia atau keduanya dapat terjadi terpisah (tanpa afasia). tidak tergantung pada jenisnya. Kita dapat mengajak pasien berbicara spontan atau berceritera melalui pertanyaan berikut : Coba ceriterakan kenapa anda sampai dirawat di rumah sakit. Cara Ini tidak kalah pentingnya dari tes-tes bahasa yang formal. kiri sedikit lebih kuat dan kanan dan kidal yang kuat. pada hampir semua bentuk afasia. Selain itu. Dengan melakukan penilaian yang sistematis biasanya dalam waktu yang singkat dapat diidentifikasi adanya afasia serta jenisnya.

Selain itu gramatikanya miskin (sedikit) dan menyisipkan atau mengimbuh huruf atau bunyi yang salah. Parafasia ialah men-substitusi kata. Lesi biasanya melibatkan semua daerah bahasa di sekitar fisura sylvii. baik motorik menulis maupun isi tulisan. yaitu parafasia semantik (verbal) dan parafasia fonomik (literal). cadel. bila kita berbincang dengan pasien serta melakukan beberapa tes sederhana. ayaa. namun isi tulisan tak menentu. ialah mensubstitusi suatu bunyi dengan bunyi yang lain. Kita mengenai 2 jenis parafasia. Afasia jenis ke dua disebut jenis Wernicke atau sensorik atau reseptif. neologisme). dan mengalami kesulitan atau memerlukan banyak upaya dalam berbicara. Pasien sama sekali tidak bicara atau hanya bicara sepatah kata atau frasa. Pemahaman terhadap bahasa lisan dan tulisan kurang terganggu dibandingkan dengan kemampuan mengemukakan isi pikiran. penyakit) yang melibatkan hemisfer otak. Sesekali ditemukan kasus dimana pasien sangat terbatas kemampuan bicaranya. Parafasia semantik ialah mensubstitusi satu kata dengan kata yang lain misalnya: "kucing" dengan "anjing". yang selalu diulang-ulang. Kadang dijumpai pasien dengan gangguan yang berat pada semua modalitas bahasa. serta terdapat perseverasi. Pasien berbicaranya sangat terbatas atau hampir tidak ada. dan menulis secara motorik terpelihara. yaitu bicara spontan. disprosodik (irama. Afasia jenis yang disebutkan pertama disebut afasia Broca. dan dijumpai Parafasia. Pada afasia sering ada gangguan ritme irama (disprosodi). 2. Afasia motorik yang berat biasanya mudah dideteksi. namun didapat gangguan berat pada. salah menggunakan kata dan perseverasi. mungkin ia hanya mengucapkan: "ayaa. Bahasa fisan dan tulisan tidak atau kurang difahami. misalnya bir dengan kir. Perseverasi sering ritme. intonasi bicara terganggu). pemahaman bahasa. cara mengucapkan baik dan irama kalimat juga baik. membaca dan menulis. Pada lesi di temporo-parietal pasien justru bicara terlalu banyak. namun bila ia marah. keluar ucapan makian yang cara mengucapkannya cukup baik. Didapatkan berbagai jenis afasia. masing-masing mempunyai pola abnormalitas yang dapat dikenali. Pasien sadar akan kekurangan atau kelemahannya. Menulis sering tidak mungkin atau sangat terganggu. balon dengan galon. Apakah bicaranya pelo. beremosi tinggi. aaai. atau afasia motorik atau afasia ekspresif. namai (naming). tertegun-tegun. pasien tidak bicara atau sangat sedikit bicara. mem-formulasi dan menamai sehingga kalimat yang diucapkan tidak mempunyai arti. Afasia ialah kesulitan dalam memahami dan/atau memproduksi bahasa yang disebabkan oleh gangguan (kelainan. pada afasia. Hi". Apakah ada afasia. Pasien tidak begitu sadar akan kekurangannya.1. (parafasia. kesalahan sintaks. Hal ini disebut afasia global. dengan artikulasi (pengucapan) dan irama yang buruk dan tidak bermakna. Pada lesi di frontal. Pada semua pasien dengan afasia didapatkan juga gangguan membaca dan menulis (aleksia dan agrafia) Pada afasia semua modalitas berbahasa sedikit-banyak terganggu. Parafasia fonemik. . mengulang (repetisi).

karena di klinik semua jenis afasia adalah campuran. dan tinggal dicocokkan dengan pemeriksaan CT-Scan pada otak. Sebetulnya kata ini kurang tepat. Berbagai tes wawabcara. Pasien mengalami kesulitan menamai sesuatu benda. pada afasia yang tersebut terdahulu. itu. hanya bidang tertentu lebih menonjol atau lebih berat. menulis.Kadang afasia ditandai oleh kesulitan menemukan nama. ya anu itu". kau tahu kan. Pada pasien demikian kita dengar ungkapan seperti : "anu. ataupun melakukan tugas-tugas tertentu bias digunakan untuk mengetahui terjadinya kerusakan otak. . Afasia amnestik mempunyai nilai lokalisasi yang kecil. membaca. menggambar. namun dapat juga dijumpai pada berbagai gangguan otak yang difus. Adakalanya digunakan kata afasia campuran. sedangkan modalitas lainnya relatif utuh. Pemeriksaan ini sangat penting untuk terapi dan rehabilitasi pasien. kau. Afasia amnestik ini sering merupakan sisa afasia yang hampir pulih.

Asuhan Keperawatan 1. Harga diri rendah kronik yang berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat kehilangan fungsi bicara 4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan lesi area bicara otak (Afasia) 2. Kerusakan interaksi sosial yang berhubungan dengan gangguan bicara atau penurunan fungsi . Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan dasar-dasar terapi rehabilitasi 3.F.