Вы находитесь на странице: 1из 26

LKM 2

Nilai

(Lembar Kerja Mahasiswa)

Sistem Indra
Kelompok

:3

Anggota

: Chepy Tri Cita

Pengampu

112310101007

Devintania K.N.H

112310101017

M. Rifqi Wibowo

112310101040

Riana Vera Andantika

122310101006

Putri Mareta Hertika

122310101014

Robby Prihadi Aulia E.

122310101066

: Ns. Retno Purwandari, M.Kep

No
Soal
1. Gambarkan dan jelaskan fungsi dari sistem indra penglihatan!

Gambar 1. Struktur Bola Mata


A. Struktur Mata
1. Kavum orbita merupakan rongga mata yang bentuknya seperti kerucut
Terdiri : Os Frontalis, Os Zigomatikum, Os Slenoidal, Os Etmoidalis, Os Palatum, Os
Lakrimal
2. Supersilium (Alis Mata) merupakan dua potong kulit tebal yang melengkung ditumbuhi

oleh bulu yang berfungsi sebagai pelindung mata & kecantikan


3. Palpebra (Kelopak Mata)
Terdiri dari kelopak mata atas & bawah dan berfungsi pelindung mata apabila ada
gangguan pada mata (menutup & membuka mata). Kelopak mata atas terdiri dari
muskulus levator palpebra superior. Bagian kelopak yang berlipat (tarsus) pada
kedua tarsus terdapat kelenjar tarsalia, sebasea & keringat
4. Aparatus Lakrimaris (Air Mata)
a. Dihasilkan oleh kelenjar lakrimalis superior & inferior
b. Proses melalui Duktus Ekskretorius Lakrimaris Sakus Konjungtiva Melalui
Bagian Depan Bola Mata Sudut Tengah Bola Mata Kanalis Lakrimalis
Duktus Nasolakrimaris Meatus Nasalis Inferior
c. Muskulus okuli (otot mata)
a) M. Levator palpebralis superior inferior (mengangkat kelopak mata)
b) M. Orbikularis okuli lingkar mata (menutup mata)
c) M. Rektus okuli inferior disekitar mata (menutup mata)
d) M. Rektus okuli medial disekitar mata (menggerakan mata dalam /bola mata)
e) M. Obliques okuli inferior (menggerakan bola mata ke bawah ke dalam)
f) M. Obliques okuli superior (memutar mata ke atas, ke bawah dan keluar)
d. Konjungtiva
Selaput bening halus yang melapisi permukaan dalam kelopak mata (konjungtiva
palpebra) dan kemudian membalik keluar pada bagian depan bola mata (konjungiva
bulbi /okuler)
e. Bola Mata
Bola mata dilapisi oleh tiga lapisan primer : sklera, uvea (yang mengandung koroid),
dan retina. Tiap lapisan mempunyai struktur dan fungsinya sendiri. Ketiga lapisan
tersebut berperan dalam bentuk mata yang bulat ketika terisi humor vitreus (subtansi
seperti gelatin antara lensa dan retina).
1) Sklera
Lapisan paling luar dan kuat dinamakan sklera-bagian putih mata. Bila sklera
mengalami penipisan warnanya akan menjadi kebiruan. Di bagian posterior, sklera
mempunyai lubang yang dilalui saraf optikus dan pembuluh darah retina sentralis.
Di bagian anterior berlanjut menjadi kornea. Permukaan anterior sklera
diselubungi secara longgar dengan konjungtiva, suatu membran mukosa tipis yang

mengandung berbagai kelenjar yang bertanggung jawab untuk lapisan air mata.
Konjungtiva palpebra melapisi sisi bawah kelopak mata dan merupakan
kelanjutan dari konjungtiva bulbaris yang menyelubungi sklera anterior. (Hal ini
sangat menguntungkan sehingga lensa kontak tidak mungkin terselip ke dalam
mata). Konjungtiva berakhir pada limbus korneosklera. Biasanya mengandung
jaringan pembuluh darah yang rapat.
2) Uvea
Lapisan tengah yang mengandung pigmen adalah traktus uvea, yang tersusun atas
koroid, iris, dan badan silier. Koroid merupakan lapisan vaskuler yang
memberikan darah ke lapisan epitel berpigmen retina dan retina sensoris perifer.
Koroid melapisi kamera posterior mata dan membentang dari badan silier, di
bagian anterior dan saraf optikus di bagian posterior.
3) Retina
Lapisan dalam bola mata adalah retina, jaringan delapan lapis, semitransparan,
tipis yang melapisi bagian dalam bola mata. Bagian terdalam dalam retina
mengandung sel ganglionik dan fotosensitif retina sensoris. Lapisan luar, bagian
satu lapis retina adalah epitelium berpigmen. Bila dilihat melalui oftalmoskop,
retina memperlihatkan refleks merah khas, sebenarnya pendaran jingga. Retina
mengandung arteri dan vena yang memberi asupan darah. Terentang mulai dari
saraf optikus, di bagian posterior sampai bagian batas anterior berigi (ora serrata)
dekat badan silier.
Batang dan kerucut. Retina mengandung dua jenis sel fotosensitif dikenal sebagai
batang dan kerucut. Batang bertanggung jawab untuk penglihatan perifer,
ketajaman pandangan pencahayaan rendah, dan membedakan bentuk dan batas
benda. Batang terletak terutama di aspek perifer retina.
Kerucut bertanggung jawab terhadap pembedaan warna dan penglihatan tajam.
Terletak lebih ke sentral dengan konsentrasi tertinggi pada makula lutea. Makula
sentral mempunyai cekungan dangkal yang dinamakan fovea sentralis, yang hanya
mengandung kerucut. Mata biasanya berusaha memfokuskan cahaya ke daerah ini.
Bila dilihat melalui oftalmoskop, makula nampak lebih gelap dibanding bagian
lain retina. Asupan darah ke makula secara ekslusif melalui koroid. Retina melekat
secara longgar pada epitel berpigmen dan disokong oleh humor vitreus seperti jel
yang mengisi bola mata. Bila humor vitreus mengkerut atau bertraksi, seperti pada

lansia, retina sensoris dapat tertarik dari epitel berpigmen. Terbentuknya lubang
kecil atau robekan pada retina akan memutuskan pula persatuan tersebut, sehingga
cairan dapat bocor ke belakang retina dan melepaskannya.
f. Iris mata
Posisi iris mata terlindung di belakang kornea dan di depan lensa, iris mata adalah
lingkaran berwarna yang terletak di sekeliling biji mata. Retina adalah garis mata
bagian belakang di mana penglihatan diproses.
g. Kornea
Memiliki fungsi untuk memungkinkan lewatnya cahaya dan merefrasi cahaya.
Kornea sangat penting bagi ketajaman penglihatan kita. Fungsi utama kornea
mata adalah menerima cahaya yang masuk ke mata. Cahaya tersebut diteruskan ke
bagian mata yang lebih dalam dan berakhir di retina. Kerena fungsinya itu, maka
kornea memiliki beberapa sifat yaitu tidak berwarna ( bening) dan tidak
mempunyai pembuluh darah. Kerusakan pada kornea dapat menyebabkan
kebutaan. Kornea mata orang yang sudah meninggal dapat disumbangkan untuk
menyembuhkan orang lain dari kebutaan.
h. Koroid
Memiliki fungsi untuk penyuplai pembuluh darah bagi retina dan melindungi
refleksi cahaya dalam mata.
i. Badan siliaris
Memiliki fungsi untuk menyokong lensa,mengandung otot yang memungkinkan
lensa berubah bentuk , dan mensekresikan humor berair.
j. Lensa
Memiliki fungsi untuk memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
B. Fungsi Sistem Indera Penglihatan
Fungsi system penglihatan secara umum yaitu menerima rangsangan berkas cahaya
pada retina dengan perantaraan serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini
kepusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.
a. Sebagai Pengaturan Cahaya
Pupil tempat masuknya cahaya ke bagian mata yang dikontrol saraf otonom
1) cahaya terang (pupil mengecil apabila otot sirkuler /konstriktor berkontraksi &
membentuk cincin yang lebih kecil) simpatis
2) cahaya gelap (otot radialis memendek menyebabkan ukuran pupil meningkat)
parasimpatis

b. Pemfokusan Berkas Cahaya


Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) adalah ketika suatu berkas cahaya
mengenai permukaan lengkung dengan densitas lebih besar, arah refraksi tergantung
pada sudut kelengkungan.
1) lensa konveks (cembung) menyebabkan konvergensi / penyatuan berkas cahaya
2) lensa konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas cahaya
c. Fungsi Refraksi Mata
Cahaya jatuh di atas mata bayangan letaknya difokuskan pada retina menembus
dan diubah korne alensa badan aques & vitrous membiaskan & memfokuskan
bayangan pada retina bersatu menangkap sebuah titik bayangan yang difokuskan,
(Syaifuddin, 2006).

d. Fungsi Akomodasi
Akomodasi adalah kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber
cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina. Kontraksi otot siliaris,
ligamentum suspensorium melemas dan tegangan pada lensa berkurang (lensa
membulat dan menguat)

Sumber:
Biologi Umum. 2014. Bagian-Bagian Indra Penglihatan serta Fungsinya.
http://biologiumum.com/bagian-bagian-indra-penglihatan-serta-fungsinya/ Diakses
pada tanggal 25 Januari 2015 pukul 14.47 WIB
Pusat Biologi. 2013. Bagian-Bagian dan Fungsi Alat Indera.
http://www.pusatbiologi.com/2013/01/bagian-bagian-dan-fungsi-alat-indera.html
Diakses pada tanggal 25 Januari 2015 pukul 15.00 WIB
2.

Gambarkan dan jelaskan fungsi dari sistem indra penghidu dan pengecap!

1. Indra Penghidu
A. Bagian-Bagian Indra Pengidu

Organ penciuman berupa epitel penciuman, letaknya pada langit-langit rongga hidung.
Tiap epitel penciuman mengandung 5 juta sel-sel reseptor penciuman yang dikelilingi
oleh sel-sel penyangga. Ujung reseptor penciuman berupa rambut penciuman yang
dilapisi mucus. Fungsi mukus adalah melarutkan aroma yang masuk ke hidung dan
melembabkan membran penciuman. Akson-akson sel reseptor penciuman menyusun NI
dan bersinaps ke bulbus olfaktorius, (Sloane, 2003).
a.

Kavum

Rongga berupa ruang kosong pada bagian luar hidung


b. Nares
Nares anterior barada di permukaan hidung dan nares anterior berada di dalam
hidung.
c. Vibrae
Rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai penyaring kotoran yang berasal dari
luar hidung.
d. Membran mukosa
Berada di seluruh lapisan dalam hidung berfungsi untuk menjaga kelembaban
hidung.
e. Dinding lateral
Bentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka
superior, konka media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum dan
lamina pterigoideus medial

B. Fungsi Sistem Penghidu


a) Menerima rangsang bau
b) Menyampaikan impuls ke otak
2. Indra Pengecap

A. Bagian-Bagian Indera Pengecap


Indera pengecapan merupakan khemoreseptor (reseptor kecap, sel kecap).
Khemoreseptor adalah sel saraf khusus yang peka terhadap zat-zat kimia. Reseptor
kecap merespon zat-zat yang terlarut dalam saliva. Reseptor kecap (sensorik)

terutama terdapat di rongga mulut. Distribusi keseluruhan reseptor kecap (sekitar


10.000) terdiri dri lidah (paling banyak), langit-langit lunak, permukaan dalam pipi,
faring, epiglotis, laring. Fungsi utama lidah adalah sebagi pengecap atau perasa.
Bagian yang paling sensitif dari sel-sel kecap adalah rambut-rambut kecap
(mikrovilli). Sel-sel kecap merupakan sel-sel yang dinamis, berganti tiap 7-10 hari.
Sensasi pengecapan dasar merupakan campuran dari 4 rasa dasar yaitu manis (ujung
lidah), asam (tepi lidah bagian belakang), asin (tepi lidah bagian depan), pahit
(pangkal lidah) (Sloane, 2003).
B. Aktivitas Reseptor Pengecap
1) Suatu zat untuk dapat dikecap harus terlarut dalam saliva berdifusi
berkontak dengan mikrovilli dari sel-sel kecap.
2) Kontak : menimbulkan perubahan potensialnya sebanding dengan log (zat
terlarut)
C. Faktor yang ikut berperan dalam pengecapan
1) Sisi afektif dalam pengecapan yang membedakan rasa menjadi enak dan tidak
enak tergantung dari konsentrasi zat dikecap .
2) Sensasi kecap sangat tergantung dari reseptor penciuman (80% dari pengecapan
adalah penciuman) (Sloane, 2003).
Sumber:
Pearce, Evelyn C. 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
3.

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC
Gambarkan dan jelaskan fungsi dari sistem indra pendengaran !

Gambar 3. Struktur Telinga


A. Bagian-Bagian Telinga
1. Telinga luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga (auricle/pinna), liang telinga luar (meatus
accus-ticus externus) dan gendang telinga (membran timpani). Daun telinga /aurikula
disusun oleh tulang rawan elastin yang ditutupi oleh kulit tipis yang melekat erat pada
tulang rawan. Dalam lapisan subkutis terdapat beberapa lembar otot lurik yang pada
manusia rudimenter (sisa perkembangan), akan tetapi pada binatang yang lebih rendah
yang mampu menggerakan daun telinganya, otot lurik ini lebih menonjol.
Daun telinga manusia mempunyai bentuk yang khas, tetapi bentuk ini kurang
mendukung fungsinya sebagai penangkap dan pengumpul getaran suara. Liang telinga
luar (meatus auditori eksterna) merupakan suatu saluran yang terbentang dari daun
telinga melintasi tulang timpani hingga permukaan luar membran timpani. Bagian
permukaannya mengandung tulang rawan elastin dan ditutupi oleh kulit yang
mengandung folikel rambut, kelenjar sebasea dan modifikasi kelenjar keringat yang
dikenal sebagai kelenjar serumen. Sekret kelenjar sebacea bersama sekret kelenjar
serumen merupakan komponen penyusun serumen. Serumen merupakan materi
bewarna coklat seperti lilin dengan rasa pahit dan berfungsi sebagai pelindung.
Membran timpani menutup ujung dalam meatus akustiskus eksterna. Permukaan
luarnya ditutupi oleh lapisan tipis epidermis yang berasal dari ectoderm, sedangkan
lapisan sebelah dalam disusun oleh epitel selapis gepeng atau kuboid rendah turunan
dari endoderm. Di antara keduanya terdapat serat-serat kolagen, elastis dan fibroblas.

Gendang telinga menerima gelombang suara yang di sampaikan lewat udara lewat liang
telinga luar. Gelombang suara ini akan menggetarkan membran timpani. Gelombang
suara lalu diubah menjadi energi mekanik yang diteruskan ke tulang-tulang
pendengaran di telinga tengah.
2. Telinga tengah
Telinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang terletak
di bagian petrosum tulang pendengaran, telinga tengah tersusun atas membran timpani
(gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga
tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius
eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis
normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga
berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan
tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian
mastoid tulang temporal.
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes.
Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu
hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah,
yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak
pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan
ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki
stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat
maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat
mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba
eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telingah
ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi
otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba
berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga
tengah dengan tekanan atmosfer.
3. Telinga Dalam
Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars
petrosum tulang temporalis. Telinga dalam di bentuk oleh labirin tulang (labirin oseosa)

yang didalamnya terdapat labirin membranasea. Labirin tulang berisi cairan perilimf
sedangkan labirin membranasea berisi cairan endolimf.
a. Labirin Tulang
Labirin tulang terdiri atas 3 komponen yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum,
dan koklea tulang. Labirin tulang ini di sebelah luar berbatasan dengan endosteum,
sedangkan di bagian dalam dipisahkan dari labirin membranasea yang terdapat di
dalam labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan endolimf. Kanalis
semisirkularis menonjol dari bagian posterior vestibula.
a. Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada bidang vertikal,
disetiap sudut kanannya.
b. Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua
saluran diatas.
Vestibulum merupakan bagian tengah labirin tulang, yang berhubungan dengan
rongga timpani melalui suatu membran yang dikenal sebagai tingkap oval (fenestra
ovale). Ke dalam vestibulum bermuara 3 buah kanalis semisirkularis yaitu kanalis
semisirkularis anterior, posterior dan lateral yang masing-masing saling tegak lurus.
Setiap saluran semisirkularis mempunyai pelebaran atau ampula. Walaupun ada 3
saluran tetapi muaranya hanya lima dan bukan enam, karena ujung posterior saluran
posterior yang tidak berampula menyatu dengan ujung medial saluran anterior yang
tidak bermapula dan bermuara ke dalam bagian medial vestibulum oleh krus
kommune. Ke arah anterior rongga vestibulum berhubungan dengan koklea tulang
dan tingkap bulat (fenestra rotundum). Koklea merupakan tabung berpilin mirip
rumah siput. Bentuk keseluruhannya mirip kerucut dengan dua tiga-perempat
putaran. Sumbu koklea tulang di sebut mediolus. Tonjolan tulang yang terjulur dari
modiolus membentuk rabung spiral dengan suatu tumpukan tulang yang disebut
lamina spiralis. Lamina spiralis ini terdapat pembuluh darah dan ganglion spiralis,
yang merupakan bagian koklear nervus akustikus.
b. Labirin Membranasea
Labirin membransea terletak di dalam labirin tulang, merupakan suatu sistem
saluran yang saling berhubungan dilapisi epitel dan mengandung endolimf. Labirin
ini dipisahkan dari labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan perilimf.

Pada beberapa tempat terdapat lembaran-lembaran jaringan ikat yang mengandung


pembuluh darah melintasi ruang perilimf untuk menggantung labirin membranasea.
Labirin membranasea terdiri atas:
1. Kanalis semisirkularis membranasea
2. Ultrikulus
3. Sakulus
4. Duktus endolimfatikus merupakan gabungan duktus ultrikularis dan duktus
sakularis.
5. Sakus endolimfatikus merupakan ujung buntu duktus endolimfatikus
6. Duktus reuniens, saluran kecil penghubung antara sakulus dengan duktus
koklearis
7. Duktus koklearis mengandung organ Corti yang merupakan organ pendengaran.
Organ Corti, terdiri atas sel-sel penyokong dan sel-sel rambut. Sel-sel yang
terdapat di organ Corti adalah
a. Sel tiang dalam merupakan sel berbentuk kerucut yang ramping dengan
bagian basal yang lebar mengandung inti, berdiri di atas membran basilaris
serta bagian leher yang sempit dan agak melebar di bagian apeks.
b. Sel tiang luar mempunyai bentuk yang serupa dengan sel tiang dalam hanya
lebih panjang. Di antara sel tiang dalam dan luar terdapat terowongan
dalam.
c. Sel falangs luar merupakan sel berbentuk silindris yang melekat pada
membrana basilaris. Bagian puncaknya berbentuk mangkuk untuk
menopang bagaian basal sel rambut luar yang mengandung serat-serat saraf
aferen dan eferen pada bagian basalnya yang melintas di antara sel-sel
falangs dalam untuk menuju ke sel-sel rambut luar. Sel-sel falangs luar dan
sel rambut luar terdapat dalam suatu ruang yaitu terowongan Nuel. Ruang
ini akan berhubungan dengan terowongan dalam.
d. Sel falangs dalam terletak berdampingan dengan sel tiang dalam. Seperti sel
falangs luar sel ini juga menyanggah sel rambut dalam.
e. Sel batas membatasi sisi dalam organ corti
f. Sel Hansen membatasi sisi luar organ Corti. Sel ini berbentuk silindris

terletak antara sel falangs luar dengan sel-sel Claudius yang berbentuk
kuboid. Sel-sel Claudius ter- letak di atas sel-sel Boettcher yang berbentuk
kuboid rendah.
B. Fisiologi Pendengaran
1. Cara Kerja Organ Pendengaran
Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga.
Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela oval. Getaran Struktur
koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran
vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissmer dan
menggetarkan cairan limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di
dalam saluran tengah menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan
menggetarkan cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya
membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan
selaput-selaput basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah.
Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan
(impuls). Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori
pada organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat
pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.
2. Mekanisme Keseimbangan
Bagian dari alat vestibulum atau alat keseimbangan berupa tiga saluran setengah
lingkaran yang dilengkapi dengan organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang
ada di dalam utrikulus dan sakulus. Ujung dari setup saluran setengah lingkaran
membesar dan disebut ampula yang berisi reseptor, sedangkan pangkalnya berhubungan
dengan utrikulus yang menuju ke sakulus. Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor
keseimbangan. Alat keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel
saraf sensori yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat
ini disebut kupula. Saluran semisirkular (saluran setengah lingkaran) peka terhadap
gerakan kepala. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus terdiri dari
sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada otolith,
yaitu butiran natrium karbonat. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada
rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak.

3. Fungsi Sistem Indera Pendengaran


a. Daun telinga, lubang telinga dan liang pendengaran berfungsi menangkap dan
mengumpulkan gelombang bunyi.
b. Gendang telinga berfungsi menerima rangsang bunyi dan meneruskannya ke bagian
yang lebih dalam.
c. Tiga tulang pendengaran ( tulang martil, landasan dan sanggurdi) berfungsi
memperkuat getaran dan meneruskannya ke koklea atau rumah siput.
d. Tingkap jorong, tingkap bundar, tiga saluran setengah lingkaran dan koklea (rumah
siput) berfungsi mengubah impuls dan diteruskan ke otak. Tga saluran setengah
lingkaran juga berfungsi menjaga keseimbangan tubuh.
e. Saluran eustachius menghubungkan rongga mulut dengan telinga bagian luar.
Sumber:
Evelyn C. Pearce. 2006. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: PT Gramedia
Ganong. Willian F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran-Ed.20. Jakarta: EGC
4.

Gambarkan dan jelaskan fungsi dari sistem indra peraba!

Gambar 4. Struktur Kulit


A. Struktur Pada Indera Peraba
Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan
dermis. Pada lapisan epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf.

Stratum Corneum
Stratum Lusidum

Epidermis

Stratum Granulosum

Stratum Spinosum

Stratum Basalis
Kelenjar sebasea
Kelenjar keringat
Kulit
Saraf (nervus)
Demis

Musculus efektor pili

Ujung saraf bebas


Pembuluh kapiler

sensori
Subcutis
(hypodermic)

lemak
Pembuluh arteri vena

B. Bagian- Bagian Indera Peraba


a. Epidermis
Merupakan bagian terluar kulit. Bagian ini terdiri dari jaringan epitel skuamosa
bertingkat yang mengalami keratinisasi. Jaringan ini tidak memiliki pembuluh
darah, dan sel-selnya sangat rapat.
a)

Stratum germinativum (basalis) berfungsi membentuk lapisan di sebelah

atasnya.
b) Stratum spinosum adalah lapisan spina atau tanduk, disebut demikian karena
disatukan oleh tonjolan yang menerupai spina. Spina adalah bagian
penghubung intraselular yang disebut desmosom.
c) Stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit
menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya
menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan
derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan.
d) Stratum lusidum merupakan lapisan yang transparan.
Stratum korneum merupakan lapisan yang paling luar. Permukaan terbuka dari
stratum korneum mengalami proses pergantian ulang yang konstam dan
deskuamasi. Keseluruhan lapisan epidermis akan diganti dari dasar ke atas
setiap 15 sampai 30 hari. Epidermis tipis melapisi seluruh tubuh, kecuali
telapak tangan dan telapak kaki, tersusun hanya lapisan basalis dan korneum
b. Dermis
Dipisahkan dari lapisan epidermis dengan adanya membrane dasar atau lamina,
dimana membrane ini disusun dari dua lapisan yaitu: lapisan papilar dam lapisan
reticular. Pada permukaan dermis terdapat papil-papil kecil yang berisi rantingranting pembuluh darah kapiler, (Pearce, 2011).
c. Lapisan subkutan atau hypodermis
Subkutis terdiri dari kumpulan sel-sel lemak dan diantaranya terdapat jaringan ikat

dermis. Sel-sel lemak ini bentuknya bulat dan inti terletak ditepi sehingga
membentuk seperti cincin. Lapisan ini berisi sejumlah sel lemak juga banyak
mengandung pembuluh darah ujung saraf, (Sloane, 2004).
Selain lapisan kulit diatas terdapat pula organ pelengkap kulit antara lain:
1. Rambut
Rambut pada seluruh bagian tubuh, tetapi sebagian besar berupa rambut vellus yang
kecil da tidak berwarna atau samar. Rambut tumbuh dari folikel rambut di dalam
epidermis.
2. Kuku
Kuku adalah sel epidermis, kulit yang mengalami keratinisasi yang telah berubah
tertanam dalam palung kuku mendapatkan persarafan dan pembuluh darah yang
banyak;
3. Kelenjar sebasea
Kelenjar kulit mempunyai lobus yang bergulung-gulung dengan saluran keluar lurus
untuk mengeluarkan berbagai zat dari badan;
C. Fungsi Indera Peraba
1. Sebagai alat pelindung
Kulit melindungi tubuh dari mikroorganisme, penarikan atau kehilangan cairan, dan
zat iritan kimia maupun mekanik. Pigmen melanin memberikan perlindungan
terhadap sinar ultraviolet matahari.
2. Sebagai pengatur suhu tubuh
Pembuluh darah dan kelenjar keringat dalam kulit berfungsi untuk mempertahankan
dan mengatur suhu tubuh. Dengan cara melakukan vasokontriksi maupun
vasodilatasi.
3. Ekskresi
Zat berlemak, air, dan ion-ion, seperti Na+ diekskresi melalui kelenjar-kelenjar pada
kulit
4. Metabolisme
Dengan bantuan radiasi sinar matahari atau sinar ultraviolet, proses sintesis vitamin
D yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang, dimulai dari sebuah
molekul prekusor (dehidrokolesterol- ) yang ditemukan di kulit.
5. Komunikasi
a). Semua stimulus dari lingkungan diterima oleh kulit melalui sejumlah reseptor
khusus yang mendeteksi sensasi ang berkaitan dengan suhu, sentuhan, dan nyeri.
b). Kulit merupakan media ekspresi wajah dan refleks vaskular yang penting dalam

komunikasi.
Sumber:
Pearce C. Evelyn. 1985. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Penerbit PT
5.

Gramedia.
Sebutkan kelainan pada masing-masing sistem indra!
1. Kelainan pada Indera Penglihat
Kelainan yang terjadi pada indera penglihat manusia adalah sebagai berikut.
a. Mata miopi
Miopi merupakan kelainan dimana hanya mampu melihat jelas jarak dekat,
sedangkan benda-benda jauh tidak tampak jelas. Miopi sering juga disebut rabun
dekat. Hal ini terjadi karena ukuran biji mata dari belakang sampai ke depan melebihi
ukuran yang normal, sehingga lensa memfokuskan bayangan di depan retina.
b. Mata hipermetropi
Hipermetropi merupakana kelainan dimana hanya mampu melihat jelas jarak jauh,
sedangkan benda-benda dekat tidak tampak jelas. Hipermetropi atau rabun jauh
terjadi karena ukuran biji mata dari belakang sampai ke depan adalah pendek atau
kecil, sehingga lensa memfokuskan bayangan di belakang retina.
c. Presbiopi
Presbiopi yaitu kesalahan akomodasi yang terjadi pada orang tua atau orang yang
sudah menginjak usia lanjut. Lensa mata kehilangan elastisitasnya, daya lenting
berkurang, sehingga tidak dapat memfokuskan bayangan sebuah benda yang berada
dekat dengan mata. Penampakan mata presbiop sama dengan penampakan
hipermetropi.
d. Astigmatisme
Astigmatisme yaitu kesalahan refraksi yang terjadi karena berkas-berkas cahaya jatuh
pada garis-garis di atas retina, bukan pada titik-titik tajam. Hal ini disebabkan adanya
perubahan bentuk lengkungan lensa. Mata astigmatisme hanya mampu melihat barisbaris tertentu. Di sini, garis-garis vertikal lebih jelas daripada garis-garis horizontal.
Keadaan ini dapat ditolong dengan mengenakan kaca mata silindris jika bukan
astigmatisme sejak lahir, untuk menambahkan bagian yang kurang cembung pada
lensa mata yang abnormal tersebut.
e. Konjungtivitis
Konjungtivitis yaitu peradangan pada konjungtiva atau selaput lendir yang melapisi
sisi dalam kelopak mata. Gejalanya adalah salah sebuah atau kedua mata terasa panas

dan seolah-olah terasa ada pasir, sehingga kelopak mata membengkak, konjungtiva
berwarna merah, mata berair dan tidak tahan cahaya.
f. Trakhoma
Trakoma yaitu salah satu bentuk peradangan konjungtivitis sebagai akibat infeksi
virus pada konjungtiva.
g. Katarak
Katarak merupakan suatu keadaan patologik lensa di mana lensa menjadi keruh akibat
hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat
gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.
Data subyektif :Visus menurun, silau
Data objektif : Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil, pandangan kabur
atau redup, silau dan susah melihat pd malam hari, pupil tampak
kekuningan, abu-abu dan putih
h. Hemeralopia
Hemeralopia yaitu rabun ayam dimana kurang awas di waktu senja. Hal ini terjadi
akibat kekurangan vitamin A atau avitaminosis A.
i. Buta warna
Buta warna yaitu penyakit keturunan yang tidak dapat membedakan macam-macam
warna. Hal ini dapat terjadi ada yang buta warna total, hanya mengetahui warna hitam
dan putih (black and white).Selain itu, ada juga buta warna sebagian, yaitu hanya
mengetahui warna merah atau biru.
2. Kelainan pada Indera Pendengar
Kelainan yang terjadi pada alat indera pendengar pada manusia adalah sebagai berikut.
a. Infeksi telinga tengah
Kelainan telinga tengah dapat terjadi setelah seseorang influensa, campak, atau
peradangan di rongga hidung. Di samping itu, infeksi telinga tengah dapat terjadi
disebabkan oleh tusukan benda tajam atau kemasukan air.
b. Labirintis
Labirintis biasanya disebabkan akibat menjalarnya infeksi dari telinga tengah.
Gejalanya adalah kepala pening-pening, muntah-muntah, dan akhirnya menjadi tuli.
c. Kerusakan gendang telinga
Kerusakan gendang telinga. Pecahnya gendang telinga bisa disebabkan oleh dua hal,
yaitu kapasitas suara yang didengar terlalu kuat dan terkena suatu benda yang tajam,
misalnya membersihkan telinga dengan peniti atau lidi sehingga menyentuh gendang
telinga dan menyebabkan gendang telinga menjadi sobek. Gendang telinga sangat
tipis sekali.
d. Otosklerosis

Otosklerosis adalah kelainan pada tulang sanggurdi yang ditandai dengan gejala
tinitus dering pada telinga ketika masih kecil.
e. Presbikusis
Presbikusis adalah perusakan pada sel saraf telinga yang terjadi pada usia manula.
f. Hilangnya keseimbangan
Hilangnya keseimbangan yaitu gangguan sementara akibat setelah operasi atau
mabuk perjalanan.
g. Ketulian
Ketulian memiliki penyebabnya bermacam-macam. Misalnya, akibat pecahnya
gendang telinga atau rusaknya saraf pendengar sehingga menjadi tuli.
h. Pengaruh kegaduhan
Dapat mengakibatkan bertambah cepatnya denyut nadi sehingga dapat terjadi
hipertensi. Beberapa contoh tingkat kegaduhan: suara le-mah antara 60-70 db
(desibel); pembicaraan biasa antara 80-90 db; lalu lintas ramai antara 100-110 db; dan
suara mesin jet antara 140-150 db.
3. Kelainan Indera Penghidu
Kelainan yang terjadi pada indera pembau manusia adalah sebagai berikut.
a. Peradangan rongga hidung
Peradangan rongga hidung yaitu peradangan di sebelah atas rongga hidung (sinusitis)
dan peradangan pada bagian hidung (rinitis). Kedua macam peradangan ini
mengganggu indera pembau.
b. Influensa
Influensa yaitu infeksi saluran pernapasan atas, sehingga kurang mampu menerima
rangsang bau dan selera makan berkurang.
c. Anosmia
Anosmia merupakan tidak dapat mencium bau. Dapat disebabkan oleh penyumbatan
rongga hidung karena polip atau tumor, atau reseptor pembau rusak karena infeksi
virus.
4. Kelainan Indera Pengecap
Kelainan yang terjadi pada indera pengecap manusia adalah sebagai
berikut.
a. Peradangan lidah
Glositis yaitu peradangan lidah yang kronis. Gejalanya adalah terdapat benjolanbenjolan dan lendir yang menutupi lidah. Peradangan ini timbul biasanya pada
seseorang yang mengalami gangguan pencernaan atau infeksi gigi. Gejala lainnya
adalahlidah lembek dan pucat dengan dengan bekas-bekas gigitan bagian

pinggirannya.
b. Lekopalakia
Gejalanya ditandai dengan bercak-bercak putih yang tebal pada permukaan lidah.
Kejadian ini biasanya pada perokok berat.
c. Oral Candidiasis
Penyebabnya adalah jamur yang disebut candida albicans.. gejalanya lidah akan
tampak tertutup lapisan putih
5. Kelainan Indera Peraba
Kelainan yang biasa terjadi pada indera peraba manusia adalah sebagai berikut.
a. Alergi
Alergi yaitu kulit terasa gatal-gatal dan panas. Hal ini terjadi kerena pengaruh
beberapa jenis makanan, obat-obatan, atau bahan kimia tertentu.
b. Panu
Panu yaitu disebabkan oleh infeksi jamur pada kulit. Gejalanya timbul bercak-bercak
putih yang tersebar di seluruh permukaan kulit yang tidak enak dipandang mata, dapat
berwarna merah jambu terutama saat udara panas dan sedang berkeringat atau pada
beberapa orang merasa terganggu oleh rasa gatal-gatal setelah berkeringat.
c. Kudis
Kudis merupakan sejenis penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit tungau kudis.
Gejalanya adalah terdapat bintil kecil berwarna merah pada kulit. Biasanya pada
tangan dan siku, sekitar alat kelamin dan lipatan tubuh lainnya. Garis berwarna putih
atau merah di kulit yang merupakan lubang pada kulit yang dibuat oleh tungau untuk
meletakkan telur timbul rasa gatal yang hebat serta terjadinya luka yang disebabkan
oleh garukan.
d. Herpes simpleks
Herpes Simpleks merupakan penyakit kulit di mana terjadi kumpulan lepuhan di kulit
wajah yang disebabkan oleh sejenis virus tertentu. Keadaan yang hampir sama terjadi
di daerah alat kelamin luar (genital herpes) yang dapat menular melalui hubungan
seksual. Gejala herpes simpleks adalah lepuhan kecil di sekitar hidung, mulut, dan
bagian muka lainnya, timbul rasa nyeri, panas atau rasa kesemutan dan akhirnya
terasa gatal-gatal.
e. Kanker kulit
Kanker kulit merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh virus, atau pengaruh
sinar ultra violet yang berlebihan, dan atau bahan-bahan kimia tertentu. Gejalanya
adalah timbul bintik-bintik lebar berwarna keputihan pada daerah kulit yang terkena
disertai adanya benjolan yang menonjol pada permukaan kulit dengan lingkaran yang

tidak teratur (perubahan yang nyata pada tahi lalat) serta adanya pemborokan kulit
pada luka yang lama.
f. Kadas
Kadas merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jenis jamur tertentu. Gejalanya
adalah kulit terasa sangat gatal sehingga menimbulkan peradangan kulit akibat
garukan.
g. Pengaruh luka bakar, yaitu cedera pada jaringan kulit yang disebabkan oleh panas api
atau cairan panas. Biasanya akibat luka bakar ini akan berpengaruh terhadap kulit
yang berfungsi sebagai indera peraba.
h. Albino
Merupakan penyakit keturunan dimana dalam kulit tidak terdapat zat warna (pigmen).
Ciri-ciri penderita albino adalah warna kulit putih, tidak ditum-buhi rambut pada
seluruh permukaan kulit, dan tidak tahan terhadap cahaya.
Sumber:
Anderson silvia. Price. 1996. Patofisiologi:Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit: Jakarta:
EGC
Pearce C. Evelyn. 2010. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Penerbit PT
6.

Gramedia.
Jelaskan pemeriksaan pada masing-masing sistem indra!
Pemeriksaan fisik sistem sensori dilakukan dengan pemeriksaan pada tiap indera.
Aspek-aspek yang dikaji dalam pengkajian sensasi meliputi pengkajian sensasi khusus
(penglihatan, penciuman, dan pendengaran), sensasi somatis (perasaan), sensasi kortikal.
a. Pemeriksaan fisik sistem sensori pada indera penciuman
Orang yang normal harus dapat membedakan bau-bauan yang lazim berada di
sekitarnya. Pada keadaan tertentu, misalnya tumor otak, sensasi dapat mengalami
gangguan atau hilang sama sekali. Pengkajian ini dapat dilakukan secara sederhana
dengan cara pasien diminta memejamkan mata. Kedua lubang hidung diuji satu per satu.
Kemampuan mengenal bau dapat menurun pada perokok berat, penderita flu, atau
deviasi sputum.
b. Pemeriksaan fisik sistem sensori pada indera penglihatan
Pengkajian penglihatan (saraf kranial II, optikus) biasanya dilakukan pada saat mengkaji
mata. Pengkajian ini meliputi ketajaman penglihatan dan uji lapang. Penglihatan sentral

diperiksa dengan kartu snellen, jari tangan, dan gerakan tangan.


1. Kartu snellen
Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel,
jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas, pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan
cermin. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca
dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6)
2. Jari tangan
Normalnya jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi bisa melihat pada jarak
2 meter, maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60.
3. Gerakan tangan
Normalnya gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada
jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/310.
Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf
optikus dan lintasan penglihatan mulai dari mata hingga korteks oksipitalis.
Penglihatan

perifer

diperiksa

dengan

tes

konfrontasi

atau

dengan

perimetri/kompimetri.
a. Tes Konfrontasi
1) Jarak antara pemeriksa-pasien : 60 100 cm
2) Objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak

tersebut.

3) Objek yang digunakan (2 jari pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari


lapang pandang kahardan kiri (lateral dan medial), atas dan bawah

dimana

mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus

menatap

lururs kedepan dan tidak boleh melirik kearah objek tersebut.


4) Syarat pemeriksaan lapang pandang pemeriksa harus normal.
b. Perimetri / kompimetri
1) Lebih teliti dari tes konfrontasi
2) Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu
Pada pemeriksaan refleks pupil saraf aferen berasal dari saraf optikal sedangkan saraf
aferennya dari saraf occulomotorius. Ada dua macam refleks pupil.
1. Respon cahaya langsung
Pakailah senter kecil, arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus

pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat
reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi
lainnya. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil.
2. Respon cahaya konsensual
Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil
dengan ukuran yang sama.
c. Pemeriksaan fisik sistem sensori pada indera pendengaran
Vestibulokoklearis mengoordinasi dua sensasi. Bagian koklear mengoordinasi
keseimbangan. Pendengaran dapat diuji dengan bisikan atau dengan menggunakan
garputala. Pengkajian pendengaran biasanya dilakukan pada saat mengkaji telinga.
Bagian vestibulum berperan dalam menjaga keseimbangan atau ekuilibrium. Pada
dasarnya bagian ini berkaitan dengan serebelum, sistem motor, dan sistem okular.
Sistem vestibulum mempuyai fungsi yang rumit, seperti memberikan informasi
berdasarkan hasil orientasi seseorang, refleks yang benar dan refleks okular, fiksasi
okular, dan gerakan konjugasi mata dan gerakan konjugasi mata dan kepala yang
memungkinkan seseorang tetap menatap ke suatu objek walaupun kepala dan tubuh
bergerak.
Inspeksi meatus akustikus akternus dari pasien untuk mencari adanya serumen atau
obstruksi lainnya dan membrana timpani untuk menentukan adanya inflamasi atau
perforasi kemudian lakukan tes pendengaran dengan menggunakan gesekan jari, detik
arloji, dan audiogram. Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan tuli
konduksi dipakai tes Rinne dan tes Weber.
1. Tes Rinne
Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus
mastoideus, dibelakang telinga, dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu
tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. Dalam keadaan norma anda
masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Pada tuli saraf anda masih
terdengar pada meatus akustikus eksternus. Keadaan ini disebut Rinne negatif.
2. Tes Weber
Garpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi
akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga
yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang
abnormal

d. Pemeriksaan fisik sistem sensori pada indera pengecap


Sensasi pengecap diuji dengan meminta pasien membedakan rasa beberapa bahan
yang ditaruh dilidah. Pengecapan rasa manis dan asin diatur oleh saraf fasialis yang
menginervasi sepertiga bagian anterior lidah. Bagian posterior lidah yang diinervasi
oleh saraf glosofaringeus dan saraf vagus dapat merasakan pahit dan asam. Kerusakan
pada nervus fasialis, sebelum percabangan khorda timpani, dapat menyebabkan ageusi
(hilangnya pengecapan) pada 2/3 lidah depan. Defisiensi vitamin B12 dan vitamin A
juga dapat menjadi penyebab gangguan pengecapan (Pearce, 2010).
e. Pengkajian sensasi somatis
Sensasi somatis meliputi sentuhan ringan, sentuhan dalam (tekanan), nyeri dan suhu,
sensasi posisi dan vibrasi. Tiap-tiap kelompok ini mempunyai suatu sambungan khusus
dalam medula spinalis (serabut saraf tulang belakang). Sentuhan ringan dikoordinasi
oleh kolumna bagian anterior dan posterior, nyeri dan suhu oleh traktus spinotalamik
lateral, dan tekanan dalam oleh kolumna posterior dan dorsal. Bila dalam riwayat
kesehatan tidak dinyatakan adanya keluhan, pengkajian sensasi somatis dapat dilakukan
secara cepat. Sentuhan ringan dikaji dengan cara mengusapkan kapas secara halus pada
kulit dan pasien dianjurkan memberi tahu bila merasakan sentuhan serta menyebutkan
lokasi sentuhan.
Nyeri dan suhu dihantarkan oleh serabut saraf yang sama sehingga dalam
pengkajian hanya nyeri saja yang dikaji. Pengkajian lain yang dapat menguji sensasi
posisi yaitu tes romberg. Tes yang positif menunjukkan adanya gangguan pada kolumna
posterior. Tes ini dilakukan dengan cara menyuruh pasien berdiri tegak dengan kaki
diletakkan bersama, melihat ke depan, lalu menutup kedua mata. Tes positif apabila
pasien sempoyongan atau jatuh setelah menutup kedua mata. Berbagai jenis sensasi
(yang biasanya merupakan suatu kombinasi dari sensasi-sensasi somatis) memerlukan
interpretasi kortikal sebagai persepsi akhir. Sensasi ini dapar diuji dengan pengujian
stereognosis, yaitu kemampuan mengenal bentuk dan sifat benda dengan menyentuh.
Stereognosis diuji dengan menaruh benda, seperti peniti, penjepit kertas, uang logam di
tangan pasien, dan menyuruh pasien untuk menyebutkan nama benda tersebut. Uji
sensasi kortikal yang lain adalah topognosia (kemampuan mengenal lokasi sensasi
raba), dan grafestesia (kemampuan mengenal bilangan yang ditulis di telapak tangan).

Sumber:
Pearce C. Evelyn. 2010. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Penerbit PT
Gramedia.
Jember,
Dilaporkan oleh,

(
NIM

2015

Diperiksa oleh,

(
NIP

Вам также может понравиться